Yuk, Berhenti Bercanda tentang Kekerasan pada Anak!

Tulisan kali ini memang agak antimainstream. Di saat orang-orang masih heboh dengan aksi pemboman di beberapa negara, saya memilih topik yang sangat jauh melenceng. Bukan, ini bukan pengalihan isu. Ini juga bukan karena saya tidak peduli pada berita-berita tersebut. My prayer goes to all Muslim brothers and sisters around the world. May Allah always keep you safe. Masalahnya, kok ya saya merasa nggak kompeten untuk menulis tentang isu ini. Sepertinya perlu belajar lebih banyak nih ke Teh Heggy. Hehehe…

Panjang amat ya introductionnya. Anyway… sambil lihat-lihat timeline di media sosial tadi pagi, tiba-tiba diantara banyak berita tentang isu di atas, muncullah satu gambar mengenai kekerasan pada anak yang di-meme-kan. Yah, yang namanya meme kan memang untuk lucu-lucuan, yaa.. Saya tidak punya masalah dengan meme, apalagi kalau memang lucu dan tidak menyinggung golongan tertentu. Nah, kenapa bagi saya si meme pagi tadi jadi masalah? Karena bagi saya, perkara kekerasan pada anak bukanlah hal yang patut dibuat bahan bercanda, apalagi di media sosial. Sama halnya dengan isu pemerkosaan atau sexual abuse/harassment. Ya, kalau ada aktivis perempuan pastinya mereka marah kalau korban pemerkosaan atau korban sexual harassment lalu digadang-gadang di media sosial untuk ditertawakan, kan? Lalu…. Kenapa kekerasan pada anak boleh dijadikan lucu-lucuan?

First of all, isu kekerasan pada anak ini secara spesifik kasusnya adalah siswa yang dicubit atau mengalami hukuman fisik dari para guru di sekolah. Where do I stand? I am not into corporal punishment. Bagi saya, hukuman fisik apapun ya namanya kekerasan pada anak (kecuali kalau siswanya lalu cengengesan dan malah kesenengan dihukum, macam dulu dijemur di lapangan sekelas). Ya memang batas toleransi seorang anak terhadap kekerasan berbeda-beda, tapi kalau mau buat standar individualis macam itu pasti susah lah. So, no corporal punishment, baik yang dilakukan oleh guru dan orang tua. Ya, jangan mentang-mentang ‘itu anak saya’ jadi boleh seenaknya. Perlu diingat juga ‘anak itu titipan Allah’ jadi ya mosok udah dikasih hadiah yang tak ternilai harganya oleh Sang Pencipta lalu mau disia-siakan juga?

Second of all, bukan berarti kita boleh memperbolehkan anak melakukan apa pun yang ia mau tanpa memperhatikan rambu-rambu peraturan, norma, dan budaya yang berlaku. Jadi, pendidikan mengenai disiplin juga perlu. Anak juga ya harus tahu bahwa apa yang ia lakukan itu benar atau salah. Nggak dipukul bukan berarti nggak disiplin, kan? Saya rasa sih, asalkan dari kecil sudah ditanamkan, baik dengan perkataan maupun contoh (dan yang paling penting adalah contoh), harusnya kedisiplinan tidak menjadi masalah.

Third of all, saya tidak lalu mengecilkan profesi guru. Gini-gini saya juga (mantan) guru loh. Jadi, saya pun mengerti kesalnya, gemesnya, bahkan geramnya perasaan guru yang muridnya agak-agak nyeleneh. Saya nggak terlalu setuju kalau si guru yang melakukan tindakan kekerasan itu lalu langsung dilaporkan ke polisi. Mungkin orang tuanya bisa bertemu dulu dengan guru? Lalu, menurut saya sih, guru itu harus dihormati, baik oleh siswa maupun oleh orang tua murid. Jadi, perlawanan-perlawanan dari siswa yang mengalami kekerasan fisik harusnya tidak menurunkan hormat kita pada bapak dan ibu guru. Ingat saja bahwa perilaku mereka (yang melakukan kekerasan) itu salah, tapi mereka juga manusia yang bisa salah dan khilaf (ciee kaya Mamah Dedeh gw…).

Terus solusinya apa? Disclaimer: ini solusi ala-ala saya, berdasarkan ilmu yang cimit dan pengalaman yang juga cimit.

Pertama, pendidikan disiplin berasal dari rumah. Intinya sih, jangan serahkan pendidikan pertama anak pada guru. Lagi-lagi, guru juga manusia yang anaknya super banyak di kelas. Mana ibu-ibu yang anaknya 3 dan kadang-kadang mau melambaikan bendera putih??? 3 anak saja kadang-kadang rempong, gimana ibu bapak guru yang setiap hari (kecuali weekend dan libur) anaknya minimal 25? Jadi, penanaman disiplin pertama dan paling efektif ya harus dilakukan oleh orang tua. Gimana cara mendidiknya? Sok di googling aja yaa… Sudah banyak sekali ahli yang bicara tentang hal ini (ngasih solusinya setengah-setengah ya, gw…). Namun, bagi saya, yang paling penting sih mendidik melalui contoh. Suka lucu kalau orang tua marah-marah karena lagi-lagi dipanggil ke sekolah karena anaknya sering telat, tapi mereka sendiri datang ke pertemuan pun telat. Hehehe… Yah no wonder lah anaknya begitu…

Kedua, sepertinya bapak ibu guru pun harus belajar banyak. Pertama, belajar mengelola emosi. Ih, nggak enak banget mengajar pada saat sedang sangat marah atau sedang sangat kesal. Lelah hayati! Jadi, supaya si emosi ini tidak diekspresikan dengan salah atau malah ditujukan ke orang yang salah (pernah nggak sih, ada orang yang marahnya sama siapa tapi malah bentak-bentak kita? Bete, kan?), bapak dan ibu guru (juga orang tua) perlu tahu bagaimana diri mereka bisa menangani emosi. Pendekatan bagi masing-masing orang pasti berbeda-beda. Saya misalnya, biasanya mencoba untuk sendiri dulu, atau mencoba untuk menulis atau mengerjakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Atau justru, saya berusaha fokus pada materi pembelajaran sehingga terlupakan lah dulu si emosi mengganggu pada saat bertemu dengan anak. Kedua, guru juga harus belajar alternatif disiplin lain, selain hukuman fisik. Saya masih ingat diajarkan oleh tempat saya dulu bekerja mengenai disiplin positif. Intinya sih, mengenalkan anak pada konsekuensi logis dari suatu tindakan. Misalnya, tidak mengerjakan PR ya berarti kehilangan nilai. Guru hanya mengingatkan, tapi kalau si anak tidak mengerjakan maka itu adalah tanggung jawab si anak. Hukumannya apa? Hukumannya nilai yang tidak maksimal. Dalam hal ini, intervensi guru sangat sedikit. Fungsi guru hanya mengingatkan dan menegaskan. Berhasil? Pada kasus guru-guru yang tegas dan konsisten, cara ini berhasil. Siswa belajar dengan tenang, tugas dikumpulkan, ujian pun nilainya memuaskan. Gurunya di awal memang ‘dicap’ galak dan menakutkan, tapi setelah sama-sama mengerti, siswa bisa berinteraksi dengan baik dengan guru sambil tetap menghormati guru tersebut. Oh ya, di sekolah ini pun, orang tua juga tahu betul mengenai praktik disiplin positif yang diterapkan sehingga diharapkan mereka juga bisa menerapkannya di rumah. Jadi, ada semacam kesepakatan antara sekolah dan orang tua sehingga pendidikan anak bisa sejalan.

Ketiga, ini sih untuk orang-orang semacam saya dan mungkin Anda yang jadi latar belakang tim hore-hore isu ini. Bukan pelaku langsung dan tidak terkait langsung. Namun, kita juga bisa punya andil besar untuk membawa perubahan dalam hal kekerasan pada anak. Mudah-mudahan, perubahannya pun yang positif, ya… Nah, sebagai tim hore-hore, biasanya yang dilakukan adalah berkomentar. Komentar apapun yang dikeluarkan, semoga melalui proses pemikiran yang matang sehingga tidak menyinggung salah satu pihak dan tidak memperkeruh suasana. Termasuk halnya dengan bercanda. Rasanya, tipe kasus seperti kekerasan pada anak ini tidak patut dibercandai. Menurut saya, melecehkan profesi guru dan membahayakan luasnya pemikiran bahwa ‘ah, kekerasan itu hal yang biasa dan bisa dibuat bercanda’. Bahaya juga apabila diterima oleh anak tanpa ada penjelasan yang memadai. Nanti kasusnya seperti di UK ini, dimana anak bisa seenaknya melaporkan orang tuanya (ya, bahkan orang tuanya) ke social service karena ia tidak suka. Ya memang sih, si generasi 90an ke atas yang mengalami hukuman fisik lalu berpikir ‘kayaknya dulu gw begitu tapi nggak segitunya, manja amat sih itu anak dan orang tua’. Tapi, bukankah yang salah ya tetap salah walaupun dulu kita ‘terima-terima saja’ diperlakukan seperti itu? Lagi pula, ketahanan fisik dan mental kan tidak diukur oleh banyaknya hukuman fisik yang diterima?

Yah, ini tulisan sekedar mengingatkan saja bahwa apa-apa yang kita ucapkan dan lakukan bisa berdampak sesuatu. Daripada memperkeruh atau memperburuk suasana, yuk coba pikirkan dulu apa yang akan kita ucapkan atau tuliskan, dan juga apa yang kita jadikan bahan bercanda. Kalau kita bisa teriak-teriak ‘tidak etis itu menertawakan dan membuat korban pemerkosaan jadi bahan bercanda’, kenapa kita tidak mengingatkan juga bahwa perilaku menertawakan dan membuat kasus kekerasan terhadap anak jadi bahan bercandaan juga tidak etis.

Baiklah! Sambil di ujung bulan Ramadhan ini, saya mau libur menulis sebentar. Semoga bisa kembali lagi dengan tulisan-tulisan lain. Eid Mubarak! Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Ramadhan kali ini bisa menambah kualitas keimanan kita dan semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan di tahun depan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

 

Photo Source: http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1425390169.jpg

Advertisements

Menjadi Advokat bagi Anak

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman SMP sempat dihebohkan oleh pemberitaan mengenai kelas akselerasi di SMP kami yang akan ditutup pada tahun ajaran mendatang. Sebagai mantan siswa kelas akselerasi, kami merasa tidak nyaman. Muncul banyak pertanyaan mengenai pertimbangan penutupan kelas ini. Yah, bagi kami yang memiliki ikatan emosional dengan kelas akselerasi, tentu inginnya program ini tetap ada. Namun, bagaimana sih sebenarnya program akselerasi ini? Benarkah berdampak negatif? Atau benarkah berdampak positif?

Siswa yang menjalani program akselerasi biasanya tergolong sebagai anak berbakat. Konsep anak berbakat ini sendiri masih juga cukup problematik karena pengukuran bakat dan inteligensi sendiri ada banyak sekali jenisnya. Selain itu, keberbakatan seseorang ternyata belum tentu berbanding lurus denga kesuksesannya di masa depan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak yang mengikuti program akselerasi memiliki kebutuhan khusus. Salah satu teman SMP saya bahkan sampai bilang, ‘wah, aksel aja kita sempet nakal yaa.. kaya nggak ada kerjaan aja isengnya. apalagi kalau nggak aksel? gabut banget kayanya deh’. Bukan sombong, tapi memang begitulah keadaan saya dan teman-teman sekelas saya di akselerasi SMP. Kami belajar, kami sibuk dengan tugas dan ujian, tapi kami juga sempat bermain dan berkreasi (alias kadang-kadang nakal dan iseng juga). Bagaimana jadinya anak-anak yang memiliki kebutuhan ekstra untuk distimulasi secara kognitif ini terpenuhi kebutuhannya di kelas reguler?

Opini yang cukup populer saat ini, termasuk juga yang sependapat dengan saya, adalah mengenai sekolah dan kelas inklusi. What? Bukannya inklusi itu untuk anak-anak berkebutuhan khusus? Nah, disinilah letak kesalahan pandangan mengenai arti konsep inklusi dalam pendidikan yang umumnya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Sekolah inklusi berarti sekolah yang dapat memberikan pelayanan sesuai kebutuhan siswa, bagaimana pun karakteristik siswa tersebut. Jadi, inklusi tidak hanya ditujukan bagi anak berkebutuhan khusus (ya toh anak berbakat juga termasuk dalam golongan anak berkebutuhan khusus), tapi juga bagi anak-anak dengan kondisi tertentu, seperti anak-anak dari golongan menengah ke bawah, pekerja anak, anak jalanan, anak bilingual, dan lain-lain.

Adanya sekolah inklusi dapat menggantikan segala program akselerasi, SLB, dan sekolah singgah karena pelayanan pendidikan yang diberikan akan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu. Masalahnya, menjalankan pendidikan inklusi ini tidak mudah. Rasanya, Indonesia masih harus banyak melakukan improvement agar dapat menjalankan pendidikan inklusi yang menyeluruh. Selama ini belum bisa dilakukan? PR bagi orang tua dan guru untuk dapat memenuhi kebutuhan anak.

Nah,itu baru pendahuluannya. Iyaaakk panjang kali itu pendahuluan. Sekali-sekali lah ya… Masih berhubungan dengan akselerasi juga, beberapa bulan yang lalu saya juga sempat membaca tulisan salah satu orang tua yang mengimbau orang tua lain untuk tidak menyertakan anak-anak mereka di program akselerasi karena dianggap merusak masa kecil anak demi memenuhi kebutuhan prestis orang tua. Hehehe… Saya cukup tertawa saja membaca ini. Selain cerita saya dan teman-teman SMP yang bahagia-bahagia saja meskipun menjalani program akselerasi, saya dan suami datang dari keluarga akselerasi yang juga baik-baik saja. Kami ikut program tersebut bukan karena paksaan dari orang tua melainkan karena motivasi pribadi. Salahkah jika anak yang ingin ikut program akselerasi kemudian dilarang oleh orang tua?

Hmmmm… Saya belum menjadi orang tua. However, I’ve learnt a great deal of parenting, how to be a parent, child development, dan tentang pendidikan anak. Yang membaca artikel ini boleh kok berkomentar ‘Ya situ belum jadi orang tua, nggak tau susahnya sih’. Hehe… Pengalaman saya memang pastinya minim, tapi saya pernah mengajar anak yang sungguh sangat kecil hingga remaja-remaja galau. Jadi, saya menulis ini berdasarkan pengalaman saya yang seadanya itu.

Berkaitan dengan topik di atas, rasanya kita perlu mengingat kembali salah satu peran dari guru dan orang tua, yaitu sebagai advokat bagi anak. What kind of thing is that?

Peran orang tua dan guru sebagai advokat berarti mereka berfungsi sebagai penjembatan antara kebutuhan anak dengan hal yang dapat memenuhi kebutuhan anak. Misalnya, anak membutuhkan stimulasi kegiatan fisik karena ia memiliki energi yang cukup banyak dan senang berkegiatan fisik. Orang tua sebagai advokat bertugas untuk ‘membaca’ dan ‘mengerti’ kebutuhan anak tersebut. Hal ini tidak mudah dilakukan karena anak-anak masih perlu bantuan dalam menyampaikan keinginannya. Bagi anak-anak yang belum bisa berbicara, maka orang tua perlu jeli memperhatikan perilaku dan tanda-tanda yang diberikan oleh anak. Setelah orang tua mengetahui kebutuhan tersebut, tugasnya adalah mencari sumber pemenuhan kebutuhan anak. Dalam contoh ini, orang tua dapat mengajak anak ke taman untuk bermain, mengikutkan anak ke kegiatan olah raga, atau mengajak anak berenang. Bebas, tergantung minat anak dan orang tua serta kemampuan orang tua.

Wah, jadi seluruh kemauan anak perlu dipenuhi? No. Kebutuhan anak perlu dipenuhi. Ingat, orang tua dan guru juga memiliki peran sebagai pendidik. Oleh karena itu, jangan lupakan juga fungsi sebagai ‘penyaring’ norma, nilai, dan moral. Hal tersebut tentunya disesuaikan dengan keyakinan yang dianut oleh orang tua, sekolah, serta masyarakat sekitar.

Kok kelihatannya anak jadi ‘raja’ ya, disini? Hmmm… sebenarnya tidak juga. Disini, anak berada di pusat pengasuhan. Bukankah begitu ibu-ibu? Parenting is about the child, not about the parents, right? Kalau kita mau yang terbaik bagi anak, jangan lupakan bahwa yang menjalankan keinginan-keinginan orang tua adalah anak. Ya, harus menyadari juga bahwa kita (orang tua dan guru) dan anak adalah entitas yang berbeda. Yang kita mau, belum tentu mereka mau. Yang menurut kita baik, belum tentu menurut mereka baik. Tentunya, ini tidak diterapkan dalam hal-hal prinsip bagi masing-masing orang tua, seperti misalnya agama bagi saya.

Jadi, instead of ‘saya melakukan semua ini demi anak’ tapi apa-apa yang dilakukan dan yang diputuskan berasal dari pemikiran, pendapat, dan kehendak orang tua, mengapa tidak kita coba dengarkan apa sih pendapat anak-anak kita? Mereka juga punya suara, pemikiran, dan pendapat, loh! Mereka punya kebutuhan yang mungkin berbeda dengan kebutuhan kita.

Hiyah, panjang banget ya tulisan ini. Tapi semoga dimengerti. I am far from an expert, this is merely what I know. Semoga kita bisa menjadi orang tua dan guru yang lebih baik bagi anak-anak kita!

Lelaki Ber-stroller

Beberapa waktu belakangan ini saya rutin membantu seorang teman Indonesia mengantar-jemput anaknya sekolah. Salah satu hal yang saya sadari adalah it’s a common thing to see bapak-bapak dorong stroller berisi anak dibawah 3 tahun tanpa istrinya. Menarik ya? Kadang mereka terlihat pagi-pagi dengan baju kantor rapi. Those yummy daddies. Kadang-kadang, mereka terlihat menjemput anaknya dari sekolah atau di jalan entahlah kemana. Pemandangan ini menjadi semakin biasa di mata saya. Sepertinya, fenomena para lelaki ber-stroller ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran mengenai peran ayah dalam pengasuhan anak. Indeed, di banyak negara maju, penekanan dan sosialisasi mengenai peran ayah gencar dilakukan melalui berbagai media. Sudah menjadi hal yang umum, para ayah dilibatkan dalam kelas-kelas yang diberikan bagi ibu hamil, diberikan hak cuti pada saat istrinya melahirkan, dan berbagi peran dalam mengurus anak di dalam keluarga. Pergeseran pandangan pun mulai terjadi sehingga tidak ada juga komentar ‘ibunya kemana? Kok anaknya nggak diurus?’ karena ayah juga dianggap memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik dan mengasuh anak.

How about Indonesia? Sepanjang ingatan dan pengamatan saya, pemandangan lelaki ber-stroller jarang saya temui. Beberapa kali saya melihat bapak-bapak mendorong stroller anak mereka saat berjalan-jalan dengan istri di pusat perbelanjaan atau di tempat rekreasi. Namun, sepertinya sebatas itu saja. Sehari-hari, kegiatan mengasuh anak ada di tangan para istri. Sungguh berbeda dengan keadaan disini, dimana para ayah pun naik-turun bus dan berjalan kaki dengan mendorong-dorong stroller. Rasanya, semua hal tentang mengasuh dan mendidik anak adalah urusan ibu di Indonesia. Entahlah… mungkin juga karena ada anggapan dan beliefs mengenai maskulinitas, bahwa laki-laki memiliki peran tertentu, ada kegiatan-kegiatan yang ‘tabu’ untuk dilakukan oleh laki-laki, sampai ada warna-warna tertentu yang tidak lazim digunakan oleh laki-laki. Keyakinan ini jugalah yang menampar para wanita, para ibu untuk tidak membagi tanggung jawab pengasuhan anak kepada suami mereka. Nanti, apa kata masyarakat? Bisa-bisa saya dianggap sebagai ibu dan istri yang bossy karena suami saya yang bertugas menyuapi anak. Well, ini semua hanya asumsi dari hasil observasi saya. Sungguh, hanya opini pribadi. Bisa saja yang saya lihat salah, bisa saja ternyata banyak sekali suami-suami yang sangat suportif membantu istri mengasuh dan mendidik anak.

I sound like I’m a feminist. Well, I don’t say that men and women are the same. Saya sadar bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran masing-masing. Misalnya, laki-laki adalah kepala keluarga dan perempuan adalah sekolah pertama bagi anak. Pun, hak dan kewajiban suami dan istri masing-masing berbeda. Tapi, bukankah to some extent laki-laki dan perempuan harusnya memiliki kemampuan yang sama, tanggung jawab yang sama, dan harus saling membantu?

Lalu, apa akibatnya apabila tidak ada sosok ayah dalam pengasuhan anak? Disini saya berbicara dari sudut pandang keluarga dengan orang tua lengkap (ayah dan ibu masih hidup, regardless of their status). Saya rasa sebagian besar orang akan setuju bahwa anak belajar sangat banyak melalui contoh. Mereka belajar sangat banyak dengan cara melihat. Keabsenan ayah dalam pengasuhan, perbedaan ‘status’ yang mencolok antara ibu dan ayah, serta mungkin perlakuan yang berbeda kepada anak perempuan dan anak laki-laki, pada akhirnya mengarahkan anak untuk berpikir bahwa laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari perempuan, memiliki hak yang lebih dari perempuan. Tidak dapat dipungkiri, budaya patriarki masih sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Then, what’s wrong with that?

Ingatkah kita tentang kasus Yuyun? Seorang remaja wanita yang dilecehkan secara seksual dan kemudian dibunuh. Banyak orang berargumen bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh pengaruh alkohol. Namun, saya sebagai mantan mahasiswa psikologi tahu bahwa hal yang mempengaruhi perilaku seseorang ada banyak sekali. Untuk kasus tersebut, saya juga melihat ada faktor minimnya pendidikan seksualitas dan pengasuhan orang tua, terutama ayah.

I go way back when talking about fatherhood. Entah mengapa, topik ini selalu menggelitik saya. Indeed, penelitian skripsi saya pun membahas mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Anak-anak yang memiliki kedekatan dengan ayah dan merasakan dididik dan diasuh ayah ternyata terbukti menunjukkan prestasi akademis yang baik. Mereka memiliki hubungan sosial yang baik, percaya diri, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan menerima tantangan. Selain itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan pun berhubungan dengan moralitas yang baik pada anak, seperti dalam hal pengembangan empati dan dorongan untuk menolong orang lain. Khususnya pada anak laki-laki, mereka banyak mencontoh perilaku baik ayah dan memiliki karakter personal yang lebih baik. Berbagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa peran laki-laki dalam pengasuhan dan pendidikan anak tidak kecil, tidak seperti yang pada umumnya dipahami oleh masyarakat. Indeed, ayah memiliki peran penting dalam kehidupan anak.

Oleh karena itu, mungkin harus ada lebih banyak laki-laki ber-stroller di Indonesia. Laki-laki yang sadar bahwa perannya bukan sekedar ‘dilayani’ oleh perempuan. Laki-laki yang mengerti bahwa mereka sebaiknya dapat mendampingi istri saat harus mengurus kebutuhan yang berhubungan dengan anak, entah itu memandikan anak atau menghadiri pertemuan orang tua di sekolah. Laki-laki yang sadar bahwa ia juga memiliki peran dalam mendidik dan mengasuh anak. Laki-laki yang tidak sombong sehingga tidak mau ‘merendah’ untuk perempuan just because dia laki-laki. At the end, bukankah semua manusia sama dihadapan Tuhan dan yang membedakan adalah amal ibadah?

Mari Namai Emosi

Beberapa minggu yang lalu di awal Easter Holiday, saya bersama keluarga-keluarga Indonesia yang ada di Birmingham berwisata ke Wales. Perjalanan yang ditempuh dari Birmingham hingga sampai ke tempat tujuan cukup jauh dan berliku. Yah, mirip-mirip jalan di Puncak lah. Kami mengendarai bus dan masing-masing keluarga kemudian sibuk dengan obrolan masing-masing. Kebetulan, saya dan suami duduk di depan bangku paling belakang yang berisi sebuah keluarga. Saat itu, saya mendengar sebuah percakapan menarik.

Pemandangan sepanjang perjalanan memang sangat indah. Kami melewati banyak pertanian-pertanian kecil. Anak perempuan yang duduk dibelakang kami asik bernyanyi sambil sesekali mengobrol dengan ibunya. Di salah satu kesempatan, ia sempat berkata “I am happy, mom”. Saya bahagia. Lucu rasanya mendengar seorang anak dapat dengan begitu mudahnya mengelaborasi perasaan dalam ucapan dan tindakannya. Ia menamai emosi yang ia rasakan dengan ‘bahagia’ dan mengekspresikannya dalam nyanyian sepanjang perjalanan.

Lalu seperti biasa, saya yang hobinya terbang ke angan-angan ini langsung berpikir… bisa ya, anak-anak ini menyebutkan nama emosi dengan tepat, sementara orang dewasa saja kadang-kadang kesulitan mengidentifikasi perasaannya. Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu seorang kerabat saya meninggal dunia. Pada saat itu, anaknya yang masih kecil menangis tersedu-sedu. Semua orang kebingungan menghadapi sang anak dan meminta saya untuk ‘mendiamkan’ anak tersebut. Pertanyaan saya, kenapa harus didiamkan? Kalau saya berada di posisi anak tersebut, mungkin saya akan menangis lebih kencang. Tangisan itu adalah refleksi dari perasaannya, bukan? Apa tidak perlu kita mencoba mengerti lebih jauh mengenai perasaan si anak sebelum ‘memaksa’nya untuk berhenti menangis?

Understanding emotion is surely a difficult thing. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa menghayati perasaan, mungkin setiap emosi yang ada langsung diekspresikan lalu kemudian hilang terganti oleh emosi lain atau dihiraukan sampai tidak terasa lagi. Betul kah? Saya mengalami sih, masa-masa saat saya secara impulsif mengekspresikan emosi saya tanpa paham apa sih yang sebetulnya saya rasakan atau tanpa tahu penyebab munculnya emosi tersebut. Sebagai orang Indonesia yang mungkin kebanyakan dididik untuk tidak menunjukkan emosi ekstrim, terutama ekstrim negatif, saya juga mengalami masa-masa saat saya terbiasa menghiraukan emosi saya hingga akhirnya menumpuk dan meledak. Pada akhirnya, saya tidak tahu apa yang saya rasakan dan tidak juga paham apa yang menyebabkan saya merasakan emosi tersebut. Indeed, saya menyadari bahwa kedua cara me-manage emosi tersebut tidak sehat. At least menurut persepsi saya.

Kenapa Za, tergoda menulis tentang hal ini? Karena pada akhirnya saya menyadari bahwa emosi adalah bagian dari hidup manusia yang harus juga loh diberi perhatian. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat untuk menghiraukan atau melebih-lebihkan emosi harus diperbaiki sehingga emosi dan perasaan berada di posisi mereka yang seharusnya. Banyak sekali penelitian yang telah menemukan dampak positif dari kemampuan regulasi emosi? Misalnya, seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang baik memiliki kecenderungan untuk dapat mengontrol diri, fokus pada tujuan, memiliki ketahanan yang baik, dapat menjalin hubungan sosial yang sehat, dan dapat beradaptasi dengan lebih baik di lingkungan. In the long run, kemampuan-kemampuan tersebut bisa memprediksi kesuksesan karir, hubungan sosial yang sehat, dan overall well-being.

Melihat dampak-dampak positif tersebut, saya jadi termotivasi untuk mengeksplor kembali mengenai emosi. Bagi saya yang sudah dewasa (katanya) ini, mencoba berefleksi dan mengerti mengenai emosi semakin penting lagi karena kemampuan orang tua dalam meregulasi emosi akan terlihat oleh anak dan mempengaruhi kemampuan anak dalam meregulasi emosi mereka. Nah, kalau sekarang saja masih kesulitan, bagaimana saya mendidik anak-anak saya nanti? Saya mencoba untuk mulai menghayati emosi dengan satu langkah kecil yang cukup mudah: Mari namai emosi!

Siapa yang bisa menyebutkan sebanyak-banyaknya nama emosi? Semua yang punya HP pasti tau feature emoticon. Ada berpuluh-puluh jenis emoticon, kan? Menggambarkan apa saja ya, mereka? Mungkin mengidentifikasi nama-nama emoticon adalah cara yang bisa dilakukan untuk mulai tahu berbagai jenis emosi. Pada umumnya, ilmuan mengacu pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an dalam menjelaskan emosi dasar manusia. Emosi-emosi tersebut adalah bahagia, terkejut, takut, sedih, marah, dan jijik. Jenis-jenis emosi tersebut kemudian dipopulerkan dalam sebuah film Pixar yang banyak dibicarakan, Inside Out. Saya senang sekali menonton film ini karena insight yang didapat cukup dalam. Selain ngena bagi anak-anak, isi film ini juga bagus sekali untuk ditonton oleh orang dewasa. Anyway, selain emosi dasar, ada juga berpuluh-puluh jenis kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan emosi.

Selesai? Mengetahui nama-nama emosi tentu tidak berarti kita bisa menamai emosi yang kita rasakan. Ekspresi emosi manusia kadang-kadang tercampur, ambigu, dan sulit diidentifikasi. Misalnya, seseorang yang menangis belum tentu sedih, kan? Saya kenal orang-orang yang kalau sedang merasa sangat bahagia juga menangis. Berteriak belum tentu marah, kan? Kadang, teriakan juga bisa berarti takut. Maka, langkah menamai emosi selanjutnya adalah menyadari emosi yang dirasakan lalu menamainya dengan perbendaharaan kata emosi yang sudah dimiliki. Then, penjelasan ‘yaa… gitu deh’ bisa sedikit demi sedikit diganti dengan penjelasan mengenai emosi yang kita rasakan.

Mari namai emosi sehingga kita dapat lebih baik mengenali diri, dapat menjalin hubungan sosial yang sehat, dapat beradaptasi dengan lebih baik, dan tentunya dapat menjadi contoh bagi anak-anak kita nanti. Simple step counts.

Live the Life

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah acara jalan-jalan bersama warga Indonesia di Birmingham. Kami mengunjungi beberapa tempat di Wales sebagai pembuka liburan paskah kami. Di Britania Raya ini, liburan paskah memang menjadi salah satu liburan panjang selain libur musim panas dan libur natal. Biasanya, sekolah dan universitas menghentikan kegiatan mereka selama dua minggu untuk merayakan paskah. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat tujuan dari Birmingham cukup lama, yaitu sekitar 3.5 sampai 4 jam. Dengan dua bus, kami berkendara menuju Wales.

Jumlah warga yang mengikuti acara jalan-jalan ini cukup banyak. Terlebih lagi, kebanyakan peserta membawa seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak dan bayi. Terbayang kan, perjalanan cukup jauh, satu hari saja, dan membawa anak-anak. Sebelum pergi, saya mengira bahwa perjalanan akan heboh, ramai dengan tangisan atau keluhan anak-anak yang merasa bahwa mereka terlalu lama di dalam bus. Siap-siap bersabar. Ternyata? Semua itu tidak terbukti. Berdasarkan hasil pengamatan, anak-anak cukup tenang dan bisa ‘menikmati’ perjalanan, walaupun ada juga yang mabuk dan sesekali menangis. Kalau kata orang Indonesia, anak-anak ini nggak ribet lah saat dibawa ke perjalanan jauh. Disogok apa ya, mereka sampai nggak rewel? Well, sepanjang perjalanan, mereka mengobrol, bernyanyi, main, melihat pemandangan, membaca buku, dan tidur. Bosan kegiatan yang satu, pindah ke yang lain, lalu pindah lagi ke yang lain. Yang jelas, mereka tidak mengganggu.

Setelah dipikir-pikir lagi, iya juga ya… sebagian besar anak-anak Indonesia disini memang tidak rewel dan tidak ribet. Mereka seperti mengerti bahwa keadaan menuntut mereka untuk mandiri dan tidak banyak mau. Jadi malu karena saya sendiri sering BM (banyak mau). Kemudian, saya membandingkan hal tersebut dengan pengalaman saya di Indonesia. Bekerja beberapa tahun sebagai guru di berbagai tingkat pendidikan, saya merasa kok ya beberapa anak-anak ini cukup ribet untuk diurus. Seperintilan kecil-kecil macam nangis-nangis saat di makanannya ada sayur yang ‘nyelip’ seringkali saya lihat. Ada lagi urusan jemput menjemput yang repot karena harus naik mobil ini, harus dijemput sama dia, mau pulang mampir kemana dulu. Lalu, saya jadi penasaran. Apa sih yang membuat perilaku merek bisa berbeda? Well, menjelaskan perbedaan perilaku itu ribet, seribet-ribetnya. Sebagai mantan mahasiswa psikologi, saya mengerti betul bahwa satu hal tidak dapat menjelaskan perilaku seseorang. Banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Tapi, saya mencoba melakukan refleksi dan berpikir logis dengan mengambil sebuah contoh. Anyway, seperti biasa ya, tulisan saya ini berdasarkan hasil observasi pribadi dan persepsi saya, sehingga tidak bisa di-generalisasi.

Selama beberapa bulan ke depan, saya memiliki tugas untuk mengantar dan menjemput anak sekolah. Mengamati berbagai hal yang terjadi pada saat saya mengantar-jemput anak sekolah disini, saya mengambil contoh tentang naik kendaraan umum di Inggris dan di Indonesia. Saya tanya, berapa banyak dari Anda yang berkendaraan umum pada saat sekolah? Dari SD? Apakah menyuruh anak untuk naik kendaraan umum untuk pergi dan pulang sekolah atau mengantar-jemput anak dengan kendaraan umum menjadi pilihan Anda? Mungkin tidak. Kalau punya kendaraan pribadi, kenapa harus susah-susah naik kendaraan umum? Kasusnya tentu berbeda disini. Anak-anak cukup terbiasa kemana-mana jalan kaki atau naik bus. Setiap pagi, bus penuh dengan anak sekolah, orang tua yang mengantar, lengkap dengan kereta bayi bagi para orang tua yang masih memiliki anak kecil.

Berdasarkan pengalaman pribadi, naik kendaraan umum di Jakarta selalu menarik. Selalu ada cerita yang dibawa saat mengamati perilaku orang-orang di dalam kendaraan umum. Satu hal yang cukup mencolok dan saya ingat adalah bagaimana perilaku orang tua dan anak saat berada di kendaraan umum. Tidak hanya satu dua kali saya mendengar ‘omelan’ para ibu mengenai repot dan susahnya naik kendaraan umum. Harus pindah, bawa barang, ada anak, dan lain-lain. Keluhan itu seperti tidak ada hentinya, hingga sampailah pada kesimpulan bahwa ‘enak jadi orang kaya, bisa naik mobil atau motor kemana-mana’. Sadarkah para orang tua ini bahwa omelan dan keluhan mereka didengar oleh para anak? Saya percaya bahwa pesan yang terdengar terus menerus dari significant others pasti sedikit atau banyak akan membekas dan membentuk pola pikir seorang anak. Kalau setiap hari diomeli tentang sesuatu yang bukan salahnya juga harus naik kendaran umum, bagaimana pola pikir anak-anak tersebut, ya? Mungkin mereka akhirnya memiliki keyakinan bahwa saya miskin, naik kendaraan umum tidak menyenangkan, dunia tidak adil karena saya terpaksa susah-susah di jalan, boleh mengeluh dan marah pada keadaan, dan segala hal yang berhubungan dengan hidup yang tidak menyenangkan. Mungkin, ini juga yang membuat angka penjualan motor, sebagai kendaraan pribadi yang cukup murah, selalu meningkat di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan naik angkutan umum di Inggris? Saya sendiri melihat bahwa anak-anak dan para orang tua yang harus setiap hari naik angkutan umum tidak banyak protes. Mereka menjalani rutinitas dengan flat. Harus naik bus? Yasudah naik saja. Harus jalan kaki? Ya memang kok tidak ada kendaraan umum yang berhenti di depan rumah. Sepertinya, perkara naik kendaraan umum tidak serta merta berhubungan dengan keadilan sosial. Toh, banyak juga bapak-bapak mapan berjas yang juga naik bus. Tentunya, komentar ‘hidup tidak adil’ dan ‘enak jadi orang kaya’ tidak terdengar. Well, terdengar sih ‘hidup tidak adil’ di kalangan remaja yang memang kerjaannya protes terhadap hal-hal sekecil apapun. The point is, saya tidak pernah mendengar orang mengeluh karena kondisi hidupnya yang terbatas saat berada di angkutan umum. Hasilnya? Anak-anak sepertinya cukup menikmati harus pergi dan pulang sekolah dengan bus. Lagi-lagi ya, argumen ini saya kemukakan dengan mengabaikan perbedaan kondisi kendaraan umum di dua negara yang saya bandingkan.

Kasus yang saya ceritakan di atas adalah pengamatan saya terhadap orang-orang lokal. Bagaimana dengan keluarga Indonesia yang ada disini? Lebih hebat lagi. Saya rasa anak-anak orang Indonesia yang tinggal disini sudah didoktrin dulu. Haha… Entah kenapa, saya merasa bahwa anak-anak orang Indonesia disini jauh lebih dewasa dan pengertian. Mereka tidak banyak protes, tidak terlalu banyak minta ini-itu, dan mengerti kondisi orang tuanya yang… mungkin kondisi hidupnya tidak sebaik saat masih tinggal di Indonesia. Bagi banyak keluarga, mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada mobil pribadi. Tapi toh, anak-anak ini tidak merasa miskin dan tidak menuntut orang tuanya untuk membeli mobil baru. Bahkan, beberapa waktu lalu, seorang anak Indonesia yang masih SD sempat bercerita, ‘Kata Bunda, beli mainannya nanti aja kalau sudah di Indonesia. Disini nggak beli-beli dulu.’ And again, mungkin yang terdengar di telinga para anak juga berbeda. Mereka mendengar orang tuanya berterima kasih karena mereka tidak banyak menuntut, mereka mendengar penjelasan orang tua mereka mengenai kondisi hidup mereka. All in positive light.

Mengamati dan melakukan refleksi terhadap hal-hal tersebut, saya jadi tersadar kembali. All in positive light. Hidup ini tidak mudah, kenapa harus ditambah lagi dengan pandangan-pandangan negatif? Saya melihat bahwa disini, hidup ya dijalani saja. Sebagai manusia, tentu pernah mengeluh dan merasa tidak suka dengan kondisi yang dialami. Tapi, ya itulah hidup. Live the life. Memangnya dengan mengeluh dan marah-marah lalu kondisi hidup kita bisa berubah? Menurut saya, justru dengan begitu malah meracuni pikiran orang-orang di sekitar. Hal ini tentu lebih ditekankan pada orang tua, seperti contoh saya di atas. Sadarkah bahwa perkataan yang didengar anak mengenai bagaimana orang tua memaknai hidup mereka bisa membentuk pola pikir anak mengenai dunia? Sepertinya manusia memang perlu lebih banyak bersyukur, termasuk saya… terutama saya.

The Dead of Death

I had an interesting lecture this evening. It’s about death, loss, and bereavement. In the beginning, I was thinking – how is it going to have something to do with education? Well, that is why it’s interesting.

Talking about death from different cultural points of view is interesting. And it is almost unbelievable how the concept of death, loss, and bereavement change historically. It was just never occurred to me, really. But how it is then connected to education is almost as bizarre. But then, hey, it’s not learning when you don’t have any cognitive dissonance, isn’t it?

However, here is my thought..

As any other concepts in the world, death concept is highly cultural. Looking back at my own culture and my experience, it is difficult to find the real conception of death explicitly explained. It is avoided as in taboo. Talking about death, especially to children is regarded inappropriate. Parents specifically ask teachers not to talk about death, especially to children who experience bereavement. WHY?

Yes, why? While on the other hand, other kind of loss which isn’t death, such as divorce, is often explained to children as death. Why is it? Is divorce then regarded worse than death so that children should not know about it and they better of with explanation about death?

Maybe, death is a simple answer. It doesn’t have any moral implication – right or wrong questions following it. Death is just.. death. Especially when then it is linked into religious explanation. Well maybe then.. death is an easy out.

What is going to happen then, if children are exposed with the idea that death is an easy out? They will find death as a solution for their problem. It’s easy – without thinking about the implication of it. There was this news about a primary school boy who attempted to commit suicide because his love was rejected by a girl he liked. This is a really good example about how death is seen as a quick fix to a problem.

This thought was just occurred to me during the class. Well then maybe, maybe.. it is the fact that the concept of death, loss, and bereavement is not thoroughly explained to children that they not only don’t understand about death and its friend but they also don’t understand about the meaning of being alive. When the concept of death is dead, how are children going to understand about being alive?

Mar 15, 2013

Mata Hati Telinga

I’ve thought about writing about this song for quite a long time. When I heard it the first time, I didn’t really notice about the lyrics. However, when I noticed the lyrics, I realized that the song is very meaningful. Here are the lyrics:

Satu cerita tentang manusia
Coba ‘tuk memahami arti cinta
Benarkah cinta diatas segalanya
Hanyakah itu satu-satunya

Yang menjadi alasan untuk menutup mata
Tak melihat dunia yang sesungguhnya
Dan menjadi jawaban atas semua tanya
Yang kita harap mampu mewujudkan sebuah akhir bahagia

Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta ooo..
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga

Adakah kau rasakan kadang hati dan fikiran
Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak terpecahkan

 

There are two thing caught in my mind when I listen to this song: my student’s field experiment and my family gathering event.

Last week, my class had an outing event. It was a field experiment for science subject. We went to a dirty river near Menteng area. Well, the river is super dirty. The color of the water is black and it is stinky. While I was planning the field experiment, I only thought that it will help my students to understand about water pollution. It turned out that my students can learn much more than that. When we got there, my students were amazed by how dirty the water is, how bad the pollution is. They could actually see and smell the pollution. But then, some of my students couldn’t stand the smell and the view. One of them even vomited during the field experiment. I didn’t anticipate it. Luckily my partner could handle it while I continued the whole field experiment. That was not the only thing that happened during the field experiment. I also saw that some of my students were curious and friendly. They tried to have a conversation with some garbage men who were cleaning the river; they thanked them, and did some nice behaviors during our trip.

Half of the field trip shows how pampered and spoiled these rich children are. They can be rich, they should be rich; but they also have to be sensitive to their surroundings. Half of it shows that some of my students have a high social awareness. They care about other people and not scared to blend with others who come from different background. I am so glad. It is stated in the lyrics that we have to open out eyes, heart, and ears. This experience shows me that observing our surroundings, looking and listening to other people is important. Not just that, we should also include our heart in our observation. We need our heart to move our observation to the next level. We need it to care. I am really glad that I took my students to the field experiment. That way, they can learn how to open their eyes, ears, and heart.

As I said, the second thing that I remember when I hear the song is my family gathering. In my family gathering last Sunday, my uncle gave a speech. In that speech, he said that when we tired of thinking, we should do dzikr and when we tired of trying, we should be grateful. Yup! That’s because we can’t always get what we want, even after we tried very hard. That’s why gratefulness is important. It allows us to think about what we have, what we had, and be thankful that we have those. In spite of that, we should actually believe that God always gives what’s best for us.

This is such a long blabbering from me. Yeah, because I spent such a long time before I write this and I am kind of want to express what I have in mind. But the thing that I will always have in mind is that I have to keep my eyes, heart, and ears open.

Apr 26, 2012