Belajar untuk…. Belajar (?)

Untuk apa sih kita belajar? Tiba-tiba kepikiran pertanyaan ini karena pada awal-awal tahun ajaran baru ini, saya cukup banyak bertemu dengan orang tua murid dan para murid dengan berbagai cerita mereka. Ada yang khawatir mendapatkan nilai jelek, ada yang khawatir tidak diterima di perguruan tinggi, ada lagi yang mempertanyakan untuk apa mereka belajar dan bersekolah.

Saat berdiskusi dengan seseorang, ada satu pernyataan yang saya ungkapkan… lalu saya revisi… lalu saya pertanyakan. Saya bilang “Yah, belajar kan bukan untuk nilai…”. Sebagai pendidik dan konselor yang berkata seperti itu, langsung dong saya diprotes oleh orang tua murid. Langsung pula saya revisi “Maksudnya, nilai itu tetap dikejar, tetapi kalau memang siswa memiliki ketertarikan, belajar seharusnya jadi menyenangkan tanpa harus ‘didorong’ oleh motivasi mendapatkan nilai bagus’. Yah, begitulah kira-kira. Tapi nih, saya jadi berpikir dan bertanya lagi. Belajar untuk apa?

Mohon maaf lahir batin kalau apa yang saya pahami dan yakini berbeda dengan pemahaman banyak netijen, hehe. Bagi saya, belajar ya untuk belajar. Mendapatkan pengetahuan dan informasi, mendapatkan kesempatan untuk melakukan refleksi, mendapatkan kesempatan untuk berpikir. Cukupkah hal-hal tersebut menjadi motivasi yang membuat kita belajar? Bagi saya, pengalaman belajar itu lah yang harus bermakna dan menjadi inti dari belajar – bukan lalu mendapat nilai berapa. Kalau semua diukur dengan nilai, kapan mau jadi pembelajar sepanjang hayat?

Saya juga percaya bahwa menempuh pendidikan dan belajar bukanlah persiapan untuk hidup. It is life itself. Ya masa ketika kita belajar, kehidupan kita di-freeze, gitu? No, right? Makanya, belajar bisa dilakukan dimana saja. Institusi, organisasi, atau situasi hanyalah alat belajar. Esensi dari belajar sendiri menjadi proses yang dijalani dan dimaknai secara sangat individual. Banyak juga kok, orang-orang yang bersekolah dan berpendidikan tinggi, tetapi pada prosesnya tidak belajar. Hal ini juga yang membuat saya percaya bahwa belajar tidak terbatas ruang dan waktu.

Yah, intinya, belajar itu proses yang dimaknai sendiri oleh individu yang kemudian membuat si individu tersebut berubah. Berubahnya bisa dalam hal kognitif, afektif, perilaku, apa saja. Hasil berupa sesuatu yang terukur ini tentunya akan mengikuti proses yang dilakukan. Pastinya, hasil tersebut juga dipengaruhi oleh hal-hal lain seperti stimulus yang diterima, bagaimana individu memproses informasi, dan lain-lain. Namun, bagi saya, belajar dilakukan bukan melulu karena hasil yang harus atau akan diperoleh. Toh, ilmu dan pengalaman pasti akan ada manfaatnya. Bagi saya, belajar ya untuk belajar.

Advertisements

Moments that Change My Life 4: Say Yes to Kindness

I am the first child of two. I have a sister who is 3 years younger than me. As other sibling relationship, we are not always in sync. When we were kids, we fought, we argued, etc. However, as we grow older, we’ve become closer. And, to be honest, I learned a lot from her.

12923224_10154093071703679_5743275706847896219_n

One of the things that I admire from her is her life moto. I found out about this a few years ago, I don’t know, probably through her social media or new year’s resolution. So she said that she will try to live her life with this principle: Say yes to kindness. When I heard that, I was like, WOW. It is such a simple principle, but it’s going to be difficult to be applied.

After that moment, I notice that my sister changes and she is being a kinder person. I think, as her principle, she always tries to help others in need. She is willing to sacrifice things for others’ sake. She does not count what she has done for others. I see her give and give and give. I see her change that I also want to adopt this value.

Say yes to kindness. It is such a simple, yet powerful phrase. If we all say yes to kindness, maybe the world can actually become a nicer, nicer place. Yes, instead of having such a long list of resolutions or targets that we want to achieve, why don’t we start with one? Let’s say yes to kindness.

Moments that Change My Life 3: About Faith

Sepertinya kuliah jurusan psikologi membuat gw banyak belajar mengenai hal-hal baru. Lots of my reflection and “awakening” dimulai dari teori-teori atau prinsip yang gw pelajari di kelas psikologi. Ada satu kelas yang bagi gw sulit tapi ternyata meaningful, yaitu kelas psikologi kognitif. Why?

Jadi, beberapa hari yang lalu di jalan pulang, gw sempat ngobrol dengan salah satu teman gw yang merupakan guru senior di sekolah tempat gw kerja. Kami awalnya bicara mengenai banyak hal, lalu menyempitlah pada satu peraturan yang pernah diterapkan di sekolah kami, yaitu mengenai kewajiban untuk solat Dzuhur berjamaah di kelas. We both agree that the essential of that rule is good. Ya, siapa yang tidak setuju bahwa praktik beragama itu tidak baik? Pada kenyataannya, murid-murid di sekolah kami ternyata banyak yang memprotes peraturan ini. Banyak sekali alasan mereka, termasuk mengenai kebebasan beragama dan memilih untuk tidak menjalankan praktik agama. Well, well…. Kalau sudah bicara mengenai hak seperti ini, memang akhirnya menjadi sulit. They have a valid opinion. I’m not saying that it’s right or wrong, I’m saying that it’s valid. Ya betul kan, mau beribadah atau tidak merupakan hak masing-masing orang. Bahkan, mau percaya Tuhan dan agama atau tidak, juga hak masing-masing orang. Nah, melawan argumen-argumen ini lah yang sulit bagi gw. Bukan karena gw tidak percaya atau karena gw tidak beribadah. Not at all. Sulit karena ketuhanan dan kepercayaan terhadap agama asalnya dari faith dimana tidak ada orang yang bisa membuat seseorang punya faith terhadap sesuatu. Sesungguhnya, Allah-lah yang dapat membolak-balikkan hati. Pada akhirnya, Rasulullah SAW meskipun sangat menyayangi pamannya dan telah berdakwah kepada pamannya, pun tidak dapat membuat Abu Thalib masuk Islam.

Nah, di dalam percakapan gw dan teman gw ini, kita melakukan refleksi lah (yekan gw sukanya emang refleksi diri). Yang kami temukan bersama adalah bagaimana seseorang dididik dalam keluarga sangat penting untuk menumbuhkan yang namanya faith ini. Kalau menurut Cambridge Dictionary, faith diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan tingkat tinggi terhadap sesuatu atau seseorang – bahkan ketika tidak ada alasan atau hal yang mendasarinya. Oleh karena itu, bagi saya, tampaknya sangat sulit sekali untuk memunculkan faith dalam diri seseorang. Kalau tidak dari kecil, kalau tidak dengan keyakinan yang sangat kuat, tampaknya tidak mungkin. Kembali lagi, hanya Allah yang dapat membolak-balik hati.

Cerita gw tentang faith mungkin agak sedikit berbeda. Mungkin apa yang gw pahami salah, tapi ini adalah persepsi, pemahaman, dan pengalaman gw. Alhamdulillah, gw tidak pernah menjadi orang yang tidak percaya pada Allah dan agama. Gw lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat taat sehingga pendidikan agama gw dapat sejak sangat kecil. It kind of grows in me. Tapi gw pun tidak pernah mempertanyakan. Ya, ada lah ya, pertanyaan-pertanyaan seperti: kenapa Allah menciptakan orang jahat, dll saat gw menginjak remaja. So and so, gw tidak pernah lalu meragukan keislaman gw. I have a complete faith sampai akhirnya gw menemukan jawabannya sendiri.

Jadi, gw dulu adalah mahasiswa psikologi. Salah satu mata kuliah yang wajib kami ambil adalah psikologi kognitif. Dalam pelajaran tersebut, kami belajar mengenai bagaimana manusia berpikir, fungsi otak, dll. Intinya, otak adalah organ tubuh inti yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya dan membuat manusia menjadi “manusia”. Susah kali bahasanya yaa… Suatu hari, kami belajar lah mengenai persepsi. Tubuh manusia itu punya reseptor sensasi, yang biasanya kita sebut indera. Nah, si indera manusia ini menyampaikan lah informasi melalui saraf ke otak. Lalu, otak menerjemahkan sensasi ini dan akhirnya kita tahu apa yang ada di sekitar kita. Sama lah, seperti input di komputer yang lalu ada output-nya. Nah, masalahnya…. Saking si otak kita ini sangat kompleks, we may not know how it translates information. And we have no way of knowing bahwa apa yang diterjemahkan otak kita itu benar atau salah. Biasanya, we come to other people to convince us that what we perceive is true. Masalahnya lagi, orang lain kan belum tentu juga otaknya “benar”. Masalahnya lagi, bagaimana kalau otak kita salah menerjemahkan input, dan ternyata orang lain itu hanya ilusi?

925187_227890820751964_263901659_n.jpg
And that’s when I realized: gila! Dunia ini beneran fana ya. Gimana kalau otak kita berbohong pada kita? Bagaimana kalau realita yang selama ini kita percaya, ternyata bukan realita. Maaaaaannnn…. And that time I completely believe that I need something beyond. Bahwa ada suatu zat di atas manusia yang Maha. Bahwa sesungguhnya gw butuh sesuatu yang membuat gw “sane”. Bahwa gw butuh bergantung pada janji yang diberikan sama Allah, bahwa ada dunia, nanti, yang tidak fana. Gw sangat bersyukur sih bahwa gw mendapatkan pencerahan ini. Buat gw, inilah yang membuat gw memiliki (mudah-mudahan) complete faith. Mungkin buat orang lain ini tidak logis, mungkin buat orang lain pengalaman dan pemahaman ini belum bisa membuat mereka percaya. But then again, balik lagi lagi dan lagi, hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati. And at the end, memang manusia tugasnya berdoa dan memohon supaya selalu dibukakan hatinya terhadap hidayah dan cahaya. Aamiin.

Photo credit: https://www.instagram.com/ryantoanugroho/?hl=en

Moments that Change My Life 2: Getting Out of My Comfort Zone

I always believe that discomfort is the key of learning. I’ve started believing this since I was in college, studying cognitive psychology. In that class, I learned that when new information is absorbed by our brain, we try to match the information with the schema that we’ve had. The new information may fit well, or we need to adjust our schemas to receive the information, integrating it with the knowledge we’ve had. And this process causes change. This process causes discomfort. This is called cognitive dissonance.

I believe that this cognitive dissonance is actually good, which makes me think that the whole discomfort feeling may actually be the sign of change and improvements. Getting more and more aware of ourselves, sometimes it is inevitable to feel that change and learning is not fun because of this uncomfortable feeling, which makes people not willing to learn. Working in an education setting, I see a lot of students with great potential, but lack of the ability to feel uncomfortable, the humility, and the curiosity. The first one I’ve discussed in the previous paragraph. The second one, humility, is a very interesting topic.

The know-it-all person. With the height of technology use and wide access of information, our generation is very susceptible to be the know-it-all people. Without critical thinking ability and humility, I think everyone may eventually stop learning. Why? Because they think that they know everything. I truly believe that another aspect that can support one’s improvement and learning is humility; knowing that we don’t know everything. I’d discussed this too in one of my writing: https://theadventureofizzao.com/2016/10/21/ada-langit-di-atas-langit/. And arrogance is a very dangerous thing for students that hinders them from actually learning. I saw this a lot, especially with the more advanced and intelligent students. Being humble doesn’t only mean that we seek for further knowledge, but also that we are open to feedback and other people’s perspectives.

The second aspect leads to the third one, which is curiosity. I think curiosity is human nature. Everyone is born with curiosity and the ability to explore the world. One thing, back to square one again; is that one may diminish his curiosity because he is not willing to be uncomfortable. Trial and error requires someone to fail, which is not fun! Getting to know new people may exhaust us, which may also not fun! And all those “negative” consequences of trying new things sometimes prevent us from learning and from improving ourselves.

Getting out of my comfort zone is actually the key of my learning. I don’t know with other people, but I am always aware that learning and improving are not always fun. I try to think the challenges as something that can increase my capacity, and when I fail, better try next time. I am also very aware that getting out of the comfort zone is not easy. I need to push myself to do it, even if it is only online courses or trying new food recipe. However, the biggest opportunity to get out of my comfort zone was when I had to live far away from home, alone. “Merantau”, Indonesian people said. It has become a philosophy for some Indonesian people, which actually teaches a lot of life lessons.

How do I feel right now? Am I comfortable enough that I stop learning? Hmmm… maybe I am too used to this environment that I am living in? I don’t know. I still feel that I have a little bit room to explore, but maybe not for long. Maybe I need to find another area to pursue? Maybe I need to get out of my comfort zone, soon.

Moments that Change My Life 1: Thinking about Others

When asked about a moment that changes my life or myself, I would answer it with a super short story when I was in high school. At that time, I was a 10th grader in my high school. My schoolmates (who I did not really know at that time) and I joined this leadership activity. During the course of that program, we were given several demanding tasks that required us to collaborate with each other. I was not the way I am now. I had very limited exposure to such activity and I would even say that my leadership and collaborative skills are 0.

One of the tasks given to us was that we had to wear a red ribbon on our school uniform. We agreed about the size of the ribbon, etc. We were also given other tasks, which consume my time at home so that I forgot to prepare my ribbon. On the next morning when I arrived at school, I remembered that I had to wear a ribbon. I panicked. Then, I met this friend of mine whom at that time I didn’t even know her name. I think she realized that I forgot to bring my ribbon and she happened to have a spare ribbon. She just gave it to me like that, saving me from punishments that will be given by our seniors if we didn’t wear one.

I always remember that moment because for me, it changes the way I approach life and the way I think. I was a very individualistic person. I couldn’t care much about other people. That moment when I friend gave me this ribbon made me think how a person can think about other people and be unselfish. What she did didn’t benefit her, but she did it anyway. From that moment on, I always try and try to think about other people’s position, condition, and perspective. Then, I try to do whatever I can to help others. What my friend did was merely giving a ribbon, maybe an extra one when she made it for herself. It didn’t take a lot of effort. And I now believe that kindness shouldn’t always take a lot of effort.

As I said, I try and try to be a better version of myself. Sometimes I forgot, sometimes I slip. Recently, I was reminded again of how I should not be selfish. So I work as a school counselor in a private school in Jakarta. There’s this new regulation from the government that will give a certain amount of money in monthly basis for private school teachers. I knew this as I saw a colleague opening a document about this matter. Then, in a Whatsapp Group, another person shared the document. I knew this, but I disregarded it. What I thought at that moment was that “ah… maybe I am not qualified. I don’t want the extra load that I have to do to obtain that”. A few days later, a friend also talked about this, sharing the information that she knows to me about this endowment fund. Again, I simply thought that it is unimportant for me.

Can you see what’s wrong in the way I think about this matter?

Yes, I only think about myself. I didn’t care that maybe my other fellow teachers may need it. I didn’t think that probably there are teachers who really really deserve this endowment fund. And when this matter was blown up because most of my colleagues are informed about the fund when it is too late, causing a rather chaotic situation; just then that I realized “maaaan… what did I do?”. The answer is: I didn’t. I didn’t do anything because I was so self-centred that I didn’t think about other people. What I could have done was so simple, as simple as sharing the information that I knew.

As usual, what I do after this kind of thing happen is to think of what I could have done better. And I realize that I have been so busy with myself that I care less about other people around me. This situation reminds me that I have to reflect and evaluate. I have to practice my belief to not only think about myself, to not being selfish.

Mental Health and Stuff

Okay, I don’t have time to write and this is the last thing that I wrote. It is actually an assignment for my online course about Mental Health and Well-being that I join through FutureLearn. You can go to futurelearn.com to check other online courses that are free (if you don’t want certificate). The course has been very helpful!

Here it goes…

There are many things that can negatively influence mental health. This is based on entirely my opinion, shaped by my experience and observation throughout my years as a school counselor and even before that, at the time I had difficult experience related to my mental health. In my opinion, the three factors that can negatively influence our mental health are inability to cope with changes, non acceptance of life situation, and negative mindset.

Human life is full of changes. Since the theory of evolution emerges, many people believe that existence is based on one’s ability to survive and to cope with changes. Somehow I agree that people with a better quality of life is those who can adapt with the ever-changing life situation. Inability to do so may make a person feels left behind, angry, or frustrated. A small example of change is loss. I categorize many aspects of life in change, but I think almost all people may have difficulty in coping with loss. The passing of closest family member, the devastation from disaster, and so on. Those events are negative, creating a feeling of uncertainty, insecurity, etc. However, change is not always negative – but even positive changes can also negatively influence mental health. It is evident in cases where people with newly coming wealth, power, and popularity cannot cope with the change. This, again, leads to negative affect and disturbed mental health.

I believe that how we live and how we keep our mental health entirely depends on how we see the world and ourselves. Therefore, the non acceptance of our life situation will definitely negatively impact our mental health. Once we cannot make peace with what happens to us, we will have this thought that the world is unfair, that we deserve more (or less), that someone does this to us and needs to be blamed. Again, these negative affect and thought can negatively influence our mental health.

My second point is actually related to my third point, which is negative mindset. Seeing the world and our own situation as negative can diminish our motivation and spirit. This can also affect how we as human interact with other people. Expecting the worst, assuming negative events will happen, and seeing ourselves as a negative being are all evidence of negative mindset. For example, a person who has the tendency to distrust other people may approach a relationship with the feelings of cautiousness, anxiety, and distrust. He may also think that other people may take advantage of him, etc. Therefore, he builds this wall between him and others, which hinders him to create a meaningful relationship. The feeling of loneliness may come, which then may lead to worsen mental health.

In order to alleviate these factors, I think the best way is to start being aware of ourselves. This includes our emotion, thought, and behavior. By being aware of ourselves, we can also adjust our mindset and reflect on how we want to make meaning of the things around us, of the events that we experience, and of other people’s perspective. It is expected that after we’ve done this, we will have a positive mindset and the acceptance on our life situation. We can then start taking charge of ourselves, being able to help our own self in difficult situations that may threaten our mental health. After that, we can build a healthy and supportive relationship to help us go through life changes.

Yuk, Berhenti Bercanda tentang Kekerasan pada Anak!

Tulisan kali ini memang agak antimainstream. Di saat orang-orang masih heboh dengan aksi pemboman di beberapa negara, saya memilih topik yang sangat jauh melenceng. Bukan, ini bukan pengalihan isu. Ini juga bukan karena saya tidak peduli pada berita-berita tersebut. My prayer goes to all Muslim brothers and sisters around the world. May Allah always keep you safe. Masalahnya, kok ya saya merasa nggak kompeten untuk menulis tentang isu ini. Sepertinya perlu belajar lebih banyak nih ke Teh Heggy. Hehehe…

Panjang amat ya introductionnya. Anyway… sambil lihat-lihat timeline di media sosial tadi pagi, tiba-tiba diantara banyak berita tentang isu di atas, muncullah satu gambar mengenai kekerasan pada anak yang di-meme-kan. Yah, yang namanya meme kan memang untuk lucu-lucuan, yaa.. Saya tidak punya masalah dengan meme, apalagi kalau memang lucu dan tidak menyinggung golongan tertentu. Nah, kenapa bagi saya si meme pagi tadi jadi masalah? Karena bagi saya, perkara kekerasan pada anak bukanlah hal yang patut dibuat bahan bercanda, apalagi di media sosial. Sama halnya dengan isu pemerkosaan atau sexual abuse/harassment. Ya, kalau ada aktivis perempuan pastinya mereka marah kalau korban pemerkosaan atau korban sexual harassment lalu digadang-gadang di media sosial untuk ditertawakan, kan? Lalu…. Kenapa kekerasan pada anak boleh dijadikan lucu-lucuan?

First of all, isu kekerasan pada anak ini secara spesifik kasusnya adalah siswa yang dicubit atau mengalami hukuman fisik dari para guru di sekolah. Where do I stand? I am not into corporal punishment. Bagi saya, hukuman fisik apapun ya namanya kekerasan pada anak (kecuali kalau siswanya lalu cengengesan dan malah kesenengan dihukum, macam dulu dijemur di lapangan sekelas). Ya memang batas toleransi seorang anak terhadap kekerasan berbeda-beda, tapi kalau mau buat standar individualis macam itu pasti susah lah. So, no corporal punishment, baik yang dilakukan oleh guru dan orang tua. Ya, jangan mentang-mentang ‘itu anak saya’ jadi boleh seenaknya. Perlu diingat juga ‘anak itu titipan Allah’ jadi ya mosok udah dikasih hadiah yang tak ternilai harganya oleh Sang Pencipta lalu mau disia-siakan juga?

Second of all, bukan berarti kita boleh memperbolehkan anak melakukan apa pun yang ia mau tanpa memperhatikan rambu-rambu peraturan, norma, dan budaya yang berlaku. Jadi, pendidikan mengenai disiplin juga perlu. Anak juga ya harus tahu bahwa apa yang ia lakukan itu benar atau salah. Nggak dipukul bukan berarti nggak disiplin, kan? Saya rasa sih, asalkan dari kecil sudah ditanamkan, baik dengan perkataan maupun contoh (dan yang paling penting adalah contoh), harusnya kedisiplinan tidak menjadi masalah.

Third of all, saya tidak lalu mengecilkan profesi guru. Gini-gini saya juga (mantan) guru loh. Jadi, saya pun mengerti kesalnya, gemesnya, bahkan geramnya perasaan guru yang muridnya agak-agak nyeleneh. Saya nggak terlalu setuju kalau si guru yang melakukan tindakan kekerasan itu lalu langsung dilaporkan ke polisi. Mungkin orang tuanya bisa bertemu dulu dengan guru? Lalu, menurut saya sih, guru itu harus dihormati, baik oleh siswa maupun oleh orang tua murid. Jadi, perlawanan-perlawanan dari siswa yang mengalami kekerasan fisik harusnya tidak menurunkan hormat kita pada bapak dan ibu guru. Ingat saja bahwa perilaku mereka (yang melakukan kekerasan) itu salah, tapi mereka juga manusia yang bisa salah dan khilaf (ciee kaya Mamah Dedeh gw…).

Terus solusinya apa? Disclaimer: ini solusi ala-ala saya, berdasarkan ilmu yang cimit dan pengalaman yang juga cimit.

Pertama, pendidikan disiplin berasal dari rumah. Intinya sih, jangan serahkan pendidikan pertama anak pada guru. Lagi-lagi, guru juga manusia yang anaknya super banyak di kelas. Mana ibu-ibu yang anaknya 3 dan kadang-kadang mau melambaikan bendera putih??? 3 anak saja kadang-kadang rempong, gimana ibu bapak guru yang setiap hari (kecuali weekend dan libur) anaknya minimal 25? Jadi, penanaman disiplin pertama dan paling efektif ya harus dilakukan oleh orang tua. Gimana cara mendidiknya? Sok di googling aja yaa… Sudah banyak sekali ahli yang bicara tentang hal ini (ngasih solusinya setengah-setengah ya, gw…). Namun, bagi saya, yang paling penting sih mendidik melalui contoh. Suka lucu kalau orang tua marah-marah karena lagi-lagi dipanggil ke sekolah karena anaknya sering telat, tapi mereka sendiri datang ke pertemuan pun telat. Hehehe… Yah no wonder lah anaknya begitu…

Kedua, sepertinya bapak ibu guru pun harus belajar banyak. Pertama, belajar mengelola emosi. Ih, nggak enak banget mengajar pada saat sedang sangat marah atau sedang sangat kesal. Lelah hayati! Jadi, supaya si emosi ini tidak diekspresikan dengan salah atau malah ditujukan ke orang yang salah (pernah nggak sih, ada orang yang marahnya sama siapa tapi malah bentak-bentak kita? Bete, kan?), bapak dan ibu guru (juga orang tua) perlu tahu bagaimana diri mereka bisa menangani emosi. Pendekatan bagi masing-masing orang pasti berbeda-beda. Saya misalnya, biasanya mencoba untuk sendiri dulu, atau mencoba untuk menulis atau mengerjakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Atau justru, saya berusaha fokus pada materi pembelajaran sehingga terlupakan lah dulu si emosi mengganggu pada saat bertemu dengan anak. Kedua, guru juga harus belajar alternatif disiplin lain, selain hukuman fisik. Saya masih ingat diajarkan oleh tempat saya dulu bekerja mengenai disiplin positif. Intinya sih, mengenalkan anak pada konsekuensi logis dari suatu tindakan. Misalnya, tidak mengerjakan PR ya berarti kehilangan nilai. Guru hanya mengingatkan, tapi kalau si anak tidak mengerjakan maka itu adalah tanggung jawab si anak. Hukumannya apa? Hukumannya nilai yang tidak maksimal. Dalam hal ini, intervensi guru sangat sedikit. Fungsi guru hanya mengingatkan dan menegaskan. Berhasil? Pada kasus guru-guru yang tegas dan konsisten, cara ini berhasil. Siswa belajar dengan tenang, tugas dikumpulkan, ujian pun nilainya memuaskan. Gurunya di awal memang ‘dicap’ galak dan menakutkan, tapi setelah sama-sama mengerti, siswa bisa berinteraksi dengan baik dengan guru sambil tetap menghormati guru tersebut. Oh ya, di sekolah ini pun, orang tua juga tahu betul mengenai praktik disiplin positif yang diterapkan sehingga diharapkan mereka juga bisa menerapkannya di rumah. Jadi, ada semacam kesepakatan antara sekolah dan orang tua sehingga pendidikan anak bisa sejalan.

Ketiga, ini sih untuk orang-orang semacam saya dan mungkin Anda yang jadi latar belakang tim hore-hore isu ini. Bukan pelaku langsung dan tidak terkait langsung. Namun, kita juga bisa punya andil besar untuk membawa perubahan dalam hal kekerasan pada anak. Mudah-mudahan, perubahannya pun yang positif, ya… Nah, sebagai tim hore-hore, biasanya yang dilakukan adalah berkomentar. Komentar apapun yang dikeluarkan, semoga melalui proses pemikiran yang matang sehingga tidak menyinggung salah satu pihak dan tidak memperkeruh suasana. Termasuk halnya dengan bercanda. Rasanya, tipe kasus seperti kekerasan pada anak ini tidak patut dibercandai. Menurut saya, melecehkan profesi guru dan membahayakan luasnya pemikiran bahwa ‘ah, kekerasan itu hal yang biasa dan bisa dibuat bercanda’. Bahaya juga apabila diterima oleh anak tanpa ada penjelasan yang memadai. Nanti kasusnya seperti di UK ini, dimana anak bisa seenaknya melaporkan orang tuanya (ya, bahkan orang tuanya) ke social service karena ia tidak suka. Ya memang sih, si generasi 90an ke atas yang mengalami hukuman fisik lalu berpikir ‘kayaknya dulu gw begitu tapi nggak segitunya, manja amat sih itu anak dan orang tua’. Tapi, bukankah yang salah ya tetap salah walaupun dulu kita ‘terima-terima saja’ diperlakukan seperti itu? Lagi pula, ketahanan fisik dan mental kan tidak diukur oleh banyaknya hukuman fisik yang diterima?

Yah, ini tulisan sekedar mengingatkan saja bahwa apa-apa yang kita ucapkan dan lakukan bisa berdampak sesuatu. Daripada memperkeruh atau memperburuk suasana, yuk coba pikirkan dulu apa yang akan kita ucapkan atau tuliskan, dan juga apa yang kita jadikan bahan bercanda. Kalau kita bisa teriak-teriak ‘tidak etis itu menertawakan dan membuat korban pemerkosaan jadi bahan bercanda’, kenapa kita tidak mengingatkan juga bahwa perilaku menertawakan dan membuat kasus kekerasan terhadap anak jadi bahan bercandaan juga tidak etis.

Baiklah! Sambil di ujung bulan Ramadhan ini, saya mau libur menulis sebentar. Semoga bisa kembali lagi dengan tulisan-tulisan lain. Eid Mubarak! Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Ramadhan kali ini bisa menambah kualitas keimanan kita dan semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan di tahun depan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

 

Photo Source: http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1425390169.jpg

University 101: The Art of Asking Questions (1)

Yay! Akhirnya dapat semangat untuk menulis sesuatu yang ‘berbau’ akademis. Kali ini, ‘baunya’ agak jauh sih, tapi yaa gapapa lah yaa..

Baru-baru ini saya mengikuti online course yang diselenggarakan oleh FutureLearn tentang menyiapkan diri untuk berkuliah. Sejujurnya sih, course ini ditujukan bagi orang-orang yang akan mulai kuliah S1. Tapi, sepertinya penjelasan yang diberikan pun cukup relevan bagi seluruh jenjang perkuliahan. Yah, mungkin untuk me-refresh lagi ingatan mengenai study skills yang dibutuhkan pada saat berkuliah bagi teman-teman yang akan lanjut S2 atau S3.

Saya akan menulis seri artikel ini berdasarkan isi dari online course tersebut serta tambahan pengalaman pribadi saya. Pada masing-masing bagian, ada highlight study skills tertentu yang penting untuk diketahui, dipelajari, diasah, dan dipraktikkan agar dapat menjalankan kuliah dengan lancar. Semoga bermanfaat!

 

Pendahuluan

Menurut teman-teman, apa sih hal yang penting dimiliki oleh seorang mahasiswa? Apa bedanya mahasiswa dan siswa? Dulu waktu S1, rasanya dosen-dosen saya senang sekali meng-highlight perbedaan antara siswa dan mahasiswa. Mungkin karena kesal dengan kelakuan mahasiswa yang mirip anak SMA? Mungkin juga untuk selalu mengingatkan bahwa kami sudah besar, sudah harus bertanggung jawab. Kalau dulu saya sempat mengajar sebagai dosen, sih, gemes banget rasanya melihat mahasiswa yang kurang bertanggung jawab, tidak mau berusaha, dan yang paling penting, tidak mau membaca!

Bagi saya, dan mungkin banyak akademisi lain di luar sana, iklim universitas adalah iklim ilmiah, dimana semua orang seharusnya memiliki semangat yang sama untuk tahu lebih banyak tentang bidang ilmu yang diminati. Yah, seharusnya kan kita memang berkuliah di jurusan yang kita minati. Apalagi kalau sudah di level S2 atau S3. Wah, bisa keteteran juga kalau ternyata kita tidak suka dengan apa yang dipelajari. Nah, karena adanya motivasi internal dan minat terhadap bidang ilmu tertentu, harusnya semangat dong, ya? Oleh karena itu, tentunya ekspektasi para dosen cukup tinggi mengenai performa akademis mahasiswa. Setidaknya, diharapkan para mahasiswa menunjukkan usaha untuk memperkaya wawasan dan mendalami bidang ilmu. Setidaknya, mereka menunjukkan ketertarikan dan semangat saat berkuliah.

Ada lagi kah perbedaan mahasiswa dan siswa? Salah satu perbedaan yang cukup mencolok adalah mengenai kemandirian. Mahasiswa dituntut untuk dapat bertanggung jawab terhadap kemajuan akademisnya. Jam belajar, pengerjaan tugas, dan segala hal yang berhubungan dengan akademis harus ditentukan sendiri oleh mahasiswa. Dosen tidak lagi berfungsi sebagai guru yang harus ‘mengejar-ngejar’ mahasiswa untuk mengumpulkan tugas atau memberikan remedial ketika nilai kita jelek. Semua adalah tanggung jawab pribadi.

Dalam online course yang saya ikuti, ada beberapa kata yang disebutkan oleh para dosen di UK tentang apa saja ekspektasi mereka terhadap mahasiswa. Kata-kata tersebut diantaranya adalah curiosity, enthusiasm, self-determination, willingness to take risk, critical ability, synthesizing information, learning fast, discipline, dan teamwork. Karakteristik tersebut dianggap penting untuk dimiliki oleh mahasiswa. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk melakukan refleksi kembali, meninjau kembali, apakah kita yang akan berkuliah, apapun jenjangnya, telah memiliki karakterstik tersebut.

 

Rasa Ingin Tahu

Karaktersitik pertama yang akan saya bahas adalah rasa ingin tahu atau curiosity. Selain karena hal ini adalah pembahasan pertama di dalam online course mengenai Preparing for University, saya pribadi juga berpendapat bahwa rasa ingin tahu adalah hal yang krusial dalam menuntut ilmu. Tanpa rasa ingin tahu, tidak akan ada dorongan dan motivasi internal untuk memperkaya wawasan, untuk mendalami, dan untuk bertanya mengenai suatu hal.

Studying means asking questions. Studying means exploring. Belajar berarti mengakui bahwa kita belum sepenuhnya tahu. Belajar berarti berani meraba, mencari, mengeksplorasi sesuatu yang kita baru tahu sekelumit saja. Ya, bahkan para ahli pun masih terus menerus mencari. Itu sebabnya, penelitian adalah inti dari semua ilmu. Karena manusia hanya tahu sedikit saja. Kalau teman-teman segan untuk bertanya, merasa sudah tahu, tidak mau berusaha untuk mencari tahu, lalu untuk apa belajar? Untuk apa berkuliah? Sepertinya, sayang ya, waktu dan uang yang dihabiskan. Lebih baik bekerja saja atau mengisi waktu dengan hal lain yang juga berguna. Bagi saya, iklim akademis ditujukan bagi orang-orang yang ingin belajar dan orang-orang yang menyadari bahwa wawasan yang ia miliki hanyalah sekelumit dari yang ada – orang-orang yang humble enough untuk mengakui bahwa ia butuh lebih, ia punya banyak pertanyaan, ia tidak mengerti mengenai satu atau banyak hal.

Gampang lah…. Semua manusia sebenarnya memiliki rasa ingin tahu. Yah, kalau tidak, bagaimana kita dari bayi lalu bisa belajar banyak hal? Semua pasti karena ada rasa ingin tahu. Sayangnya, rasa ingin tahu pun bisa menurun intensitasnya apabila tidak dipupuk. Dalam hal ini, lingkungan eksternal sangat berpengaruh. Saya ingat sekali, waktu SD dulu, anak-anak yang dianggap baik dan pintar adalah anak yang mengangkat tangannya untuk menjawab, bukan untuk bertanya. Saya juga ingat, ada murid saya dulu yang sangat takut bertanya karena saat kelas 2 SD, seorang gurunya pernah berkomentar ‘yah, masa gitu aja nggak tahu?’ saat ia bertanya tentang sesuatu. Lalu kemudian, komentar gurunya pun disambung oleh tawa dari teman-temannya. The culture of shaming those who ask. Siapa lagi yang pernah punya pengalaman serupa? Pantas saja di jenjang universitas para dosen kewalahan memotivasi mahasiswa mereka untuk bertanya. Wong dari kecil dididik bahwa bertanya adalah hal yang memalukan.

Ketika para dosen di Indonesia bisa bertoleransi dengan gerakan tutup mulut mahasiswa untuk bertanya dan kemudian menyesuaikan approach mereka menjadi ala-ala guru sekolah, lain halnya dengan di luar negeri. Nah, ini khusus yang akan melanjutkan belajar di jenjang pendidikan tinggi di luar Indonesia, ya. Dosen-dosen disini tidak akan menoleransi gerakan tidak mau bertanya yang kita lakukan. Lalu? Lalu, either kita dipaksa untuk mengungkapkan sesuatu (bertanya, berpendapat) di kelas atau kita benar-benar akan jadi mahasiswa tidak terlihat. Maksudnya? Bahkan teman-teman pun tidak menyadari keberadaan kita di kelas saking pasifnya kita. Hasilnya apa? Kemajuan belajar kita terhambat, keterampilan belajar kita tidak terasah, dan hasil belajar pun bisa jadi tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebagai gambaran, perkuliahan di UK, dan mungkin berbagai negara lain, menempatkan diskusi ilmiah pada pusat pembelajaran. Jadi, duduk dan mendengarkan dosen menjelaskan adalah hal yang jarang dilakukan. Mungkin hanya sekitar 40% dari kegiatan perkuliahan yang diisi oleh kegiatan ini. Sisanya? Diskusi kelompok, presentasi, debat, dan lain-lain. Semuanya menuntut partisipasi aktif dari para mahasiswa. Dari sini dapat terlihat bahwa rasa ingin tahu adalah hal yang penting dan kemampuan untuk bertanya adalah salah satu study skills yang utama.

Saya ingat ketika berkuliah S2, saya pernah mendapatkan satu kelas yang di setiap pertemuan selama satu tahun, si dosen hanya datang dengan satu bahan bacaan atau video dan satu pertanyaan. Pertanyaan tersebut ia gunakan untuk menstimulasi diskusi sehingga saya dan teman-teman harus aktif. Mengapa? Karena kalau tidak, kelas akan krik-krik. Bayangkan, kelas berdurasi 2.5 jam digunakan hanya untuk berdiskusi tentang satu tema yang diperkenalkan melalui pertanyaan. Awal bergabung di kelas ini, saya bingung se-bingung-bingungnya. Saya tidak mengerti apa yang dipelajari, saya tidak paham tujuan dari pembelajaran yang ada di kelas tersebut. Namun, saya akhirnya dapat beradaptasi dan terbiasa mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan dan berdiskusi. It turns out that dari kelas tersebut lah saya belajar paling banyak. Ya, melalui satu pertanyaan saja setiap pertemuan, saya bisa belajar sangat banyak sekali.

Dalam perkuliahan, dapat terlihat bahwa pertanyaan berfungsi sebagai trigger, pemicu diskusi. Melalui diskusi tersebut, informasi dari berbagai sudut pandang dapat terkumpul dan disintesis oleh masing-masing individu sehingga membentuk personal knowledge. Pertanyaan juga dapat berujung pada banyak pertanyaan lain. Hal ini kemudian memotivasi mahasiswa untuk mencari tahu lebih dalam mengenai topik tertentu. Mencari darimana? Dari mana saja. Dosen bukanlah sumber utama ilmu dan pengetahuan. Bisa dibilang, saat bertanya pada dosen, mungkin ia akan menjawab secara umum atau merujuk kita pada buku atau jurnal tertentu, atau – yang paling menyebalkan (eh?) – menjawab dengan pertanyaan lain. Hahaha… Therefore, don’t ask silly questions.

Malu bertanya sesat di jalan. Betul. Tapi bagi saya, kebanyakan bertanya menunjukkan tidak ada usaha. Sorry to say, tapi saya sangat tidak terkesan pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sangat mudah didapat hanya dengan googling atau membaca buku rujukan. Rasanya kok ya, orang ini bertanya hanya untuk iseng, menguji pengetahuan dosen, atau memang plainly tidak mau usaha membaca atau mencari tahu. Nah, kalau sudah begini, untuk apa berkuliah? S1 masih begini, mungkin masih bisa dimaklumi karena baru beradaptasi. S2 begini? Wah, ke laut aja. Sudah berani memutuskan untuk sekolah tinggi-tinggi, seharusnya sudah ada motivasi untuk belajar dan tahu lebih banyak. Indeed, S2 itu berat! Jangan bayangkan seperti kuliah S1, apalagi kalau teman-teman berkesempatan untuk kuliah di luar negeri. Model-model pertanyaan yang ‘konyol’ paling hanya mendapat tanggapan pertanyaan balik dari dosen ‘Have you read the reading material?’. Hiyaaahhh… mati kutu deh kalau dosen sudah bilang begitu.

Terus bagaimana dong? Bagaimana saya mau belajar, bertanya saja sulit? Hihi… tenang… Preparation is key. Kunci dari pertanyaan yang baik adalah persiapan. Sebelum masuk kelas, biasakanlah untuk membaca dan mencari informasi seputar topik yang akan dibahasi di kelas. Setiap dosen pasti sudah memberikan reading list, buku referensi, bahkan presentasi yang akan digunakan di kelas. Jangan malas membaca karena nanti hanya bisa diam, bengong, dan meratapi nasib di kelas. Saat membaca materi sebelum kelas, mulailah mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti. Saat berkuliah S2, buku catatan saya tidak penuh dengan catatan, tapi penuh dengan pertanyaan. Ya, bukan anak SD lagi yang harus menyalin catatan dari papan tulis, kan? Materi sudah dengan mudah didapat dari internet dan tinggal di-save, buku catatan pun beralih fungsi menjadi buku pertanyaan. Selain itu, selama di kelas pun kita bisa berlatih bertanya. Setiap ada isu yang menarik, cobalah buat pertanyaan mengenai isu tersebut, lalu tanyakan.
Mari berlatih bertanya. Salah satu study skill yang penting dimiliki bagi mahasiswa ini adalah pintu gerbang wawasan. Pertanyaan juga dapat membangun rasa ingin tahu sehingga kita selalu ‘haus’ akan ilmu dan terus termotivasi untuk belajar.

Menjadi Advokat bagi Anak

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman SMP sempat dihebohkan oleh pemberitaan mengenai kelas akselerasi di SMP kami yang akan ditutup pada tahun ajaran mendatang. Sebagai mantan siswa kelas akselerasi, kami merasa tidak nyaman. Muncul banyak pertanyaan mengenai pertimbangan penutupan kelas ini. Yah, bagi kami yang memiliki ikatan emosional dengan kelas akselerasi, tentu inginnya program ini tetap ada. Namun, bagaimana sih sebenarnya program akselerasi ini? Benarkah berdampak negatif? Atau benarkah berdampak positif?

Siswa yang menjalani program akselerasi biasanya tergolong sebagai anak berbakat. Konsep anak berbakat ini sendiri masih juga cukup problematik karena pengukuran bakat dan inteligensi sendiri ada banyak sekali jenisnya. Selain itu, keberbakatan seseorang ternyata belum tentu berbanding lurus denga kesuksesannya di masa depan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak yang mengikuti program akselerasi memiliki kebutuhan khusus. Salah satu teman SMP saya bahkan sampai bilang, ‘wah, aksel aja kita sempet nakal yaa.. kaya nggak ada kerjaan aja isengnya. apalagi kalau nggak aksel? gabut banget kayanya deh’. Bukan sombong, tapi memang begitulah keadaan saya dan teman-teman sekelas saya di akselerasi SMP. Kami belajar, kami sibuk dengan tugas dan ujian, tapi kami juga sempat bermain dan berkreasi (alias kadang-kadang nakal dan iseng juga). Bagaimana jadinya anak-anak yang memiliki kebutuhan ekstra untuk distimulasi secara kognitif ini terpenuhi kebutuhannya di kelas reguler?

Opini yang cukup populer saat ini, termasuk juga yang sependapat dengan saya, adalah mengenai sekolah dan kelas inklusi. What? Bukannya inklusi itu untuk anak-anak berkebutuhan khusus? Nah, disinilah letak kesalahan pandangan mengenai arti konsep inklusi dalam pendidikan yang umumnya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Sekolah inklusi berarti sekolah yang dapat memberikan pelayanan sesuai kebutuhan siswa, bagaimana pun karakteristik siswa tersebut. Jadi, inklusi tidak hanya ditujukan bagi anak berkebutuhan khusus (ya toh anak berbakat juga termasuk dalam golongan anak berkebutuhan khusus), tapi juga bagi anak-anak dengan kondisi tertentu, seperti anak-anak dari golongan menengah ke bawah, pekerja anak, anak jalanan, anak bilingual, dan lain-lain.

Adanya sekolah inklusi dapat menggantikan segala program akselerasi, SLB, dan sekolah singgah karena pelayanan pendidikan yang diberikan akan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu. Masalahnya, menjalankan pendidikan inklusi ini tidak mudah. Rasanya, Indonesia masih harus banyak melakukan improvement agar dapat menjalankan pendidikan inklusi yang menyeluruh. Selama ini belum bisa dilakukan? PR bagi orang tua dan guru untuk dapat memenuhi kebutuhan anak.

Nah,itu baru pendahuluannya. Iyaaakk panjang kali itu pendahuluan. Sekali-sekali lah ya… Masih berhubungan dengan akselerasi juga, beberapa bulan yang lalu saya juga sempat membaca tulisan salah satu orang tua yang mengimbau orang tua lain untuk tidak menyertakan anak-anak mereka di program akselerasi karena dianggap merusak masa kecil anak demi memenuhi kebutuhan prestis orang tua. Hehehe… Saya cukup tertawa saja membaca ini. Selain cerita saya dan teman-teman SMP yang bahagia-bahagia saja meskipun menjalani program akselerasi, saya dan suami datang dari keluarga akselerasi yang juga baik-baik saja. Kami ikut program tersebut bukan karena paksaan dari orang tua melainkan karena motivasi pribadi. Salahkah jika anak yang ingin ikut program akselerasi kemudian dilarang oleh orang tua?

Hmmmm… Saya belum menjadi orang tua. However, I’ve learnt a great deal of parenting, how to be a parent, child development, dan tentang pendidikan anak. Yang membaca artikel ini boleh kok berkomentar ‘Ya situ belum jadi orang tua, nggak tau susahnya sih’. Hehe… Pengalaman saya memang pastinya minim, tapi saya pernah mengajar anak yang sungguh sangat kecil hingga remaja-remaja galau. Jadi, saya menulis ini berdasarkan pengalaman saya yang seadanya itu.

Berkaitan dengan topik di atas, rasanya kita perlu mengingat kembali salah satu peran dari guru dan orang tua, yaitu sebagai advokat bagi anak. What kind of thing is that?

Peran orang tua dan guru sebagai advokat berarti mereka berfungsi sebagai penjembatan antara kebutuhan anak dengan hal yang dapat memenuhi kebutuhan anak. Misalnya, anak membutuhkan stimulasi kegiatan fisik karena ia memiliki energi yang cukup banyak dan senang berkegiatan fisik. Orang tua sebagai advokat bertugas untuk ‘membaca’ dan ‘mengerti’ kebutuhan anak tersebut. Hal ini tidak mudah dilakukan karena anak-anak masih perlu bantuan dalam menyampaikan keinginannya. Bagi anak-anak yang belum bisa berbicara, maka orang tua perlu jeli memperhatikan perilaku dan tanda-tanda yang diberikan oleh anak. Setelah orang tua mengetahui kebutuhan tersebut, tugasnya adalah mencari sumber pemenuhan kebutuhan anak. Dalam contoh ini, orang tua dapat mengajak anak ke taman untuk bermain, mengikutkan anak ke kegiatan olah raga, atau mengajak anak berenang. Bebas, tergantung minat anak dan orang tua serta kemampuan orang tua.

Wah, jadi seluruh kemauan anak perlu dipenuhi? No. Kebutuhan anak perlu dipenuhi. Ingat, orang tua dan guru juga memiliki peran sebagai pendidik. Oleh karena itu, jangan lupakan juga fungsi sebagai ‘penyaring’ norma, nilai, dan moral. Hal tersebut tentunya disesuaikan dengan keyakinan yang dianut oleh orang tua, sekolah, serta masyarakat sekitar.

Kok kelihatannya anak jadi ‘raja’ ya, disini? Hmmm… sebenarnya tidak juga. Disini, anak berada di pusat pengasuhan. Bukankah begitu ibu-ibu? Parenting is about the child, not about the parents, right? Kalau kita mau yang terbaik bagi anak, jangan lupakan bahwa yang menjalankan keinginan-keinginan orang tua adalah anak. Ya, harus menyadari juga bahwa kita (orang tua dan guru) dan anak adalah entitas yang berbeda. Yang kita mau, belum tentu mereka mau. Yang menurut kita baik, belum tentu menurut mereka baik. Tentunya, ini tidak diterapkan dalam hal-hal prinsip bagi masing-masing orang tua, seperti misalnya agama bagi saya.

Jadi, instead of ‘saya melakukan semua ini demi anak’ tapi apa-apa yang dilakukan dan yang diputuskan berasal dari pemikiran, pendapat, dan kehendak orang tua, mengapa tidak kita coba dengarkan apa sih pendapat anak-anak kita? Mereka juga punya suara, pemikiran, dan pendapat, loh! Mereka punya kebutuhan yang mungkin berbeda dengan kebutuhan kita.

Hiyah, panjang banget ya tulisan ini. Tapi semoga dimengerti. I am far from an expert, this is merely what I know. Semoga kita bisa menjadi orang tua dan guru yang lebih baik bagi anak-anak kita!

Lelaki Ber-stroller

Beberapa waktu belakangan ini saya rutin membantu seorang teman Indonesia mengantar-jemput anaknya sekolah. Salah satu hal yang saya sadari adalah it’s a common thing to see bapak-bapak dorong stroller berisi anak dibawah 3 tahun tanpa istrinya. Menarik ya? Kadang mereka terlihat pagi-pagi dengan baju kantor rapi. Those yummy daddies. Kadang-kadang, mereka terlihat menjemput anaknya dari sekolah atau di jalan entahlah kemana. Pemandangan ini menjadi semakin biasa di mata saya. Sepertinya, fenomena para lelaki ber-stroller ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran mengenai peran ayah dalam pengasuhan anak. Indeed, di banyak negara maju, penekanan dan sosialisasi mengenai peran ayah gencar dilakukan melalui berbagai media. Sudah menjadi hal yang umum, para ayah dilibatkan dalam kelas-kelas yang diberikan bagi ibu hamil, diberikan hak cuti pada saat istrinya melahirkan, dan berbagi peran dalam mengurus anak di dalam keluarga. Pergeseran pandangan pun mulai terjadi sehingga tidak ada juga komentar ‘ibunya kemana? Kok anaknya nggak diurus?’ karena ayah juga dianggap memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik dan mengasuh anak.

How about Indonesia? Sepanjang ingatan dan pengamatan saya, pemandangan lelaki ber-stroller jarang saya temui. Beberapa kali saya melihat bapak-bapak mendorong stroller anak mereka saat berjalan-jalan dengan istri di pusat perbelanjaan atau di tempat rekreasi. Namun, sepertinya sebatas itu saja. Sehari-hari, kegiatan mengasuh anak ada di tangan para istri. Sungguh berbeda dengan keadaan disini, dimana para ayah pun naik-turun bus dan berjalan kaki dengan mendorong-dorong stroller. Rasanya, semua hal tentang mengasuh dan mendidik anak adalah urusan ibu di Indonesia. Entahlah… mungkin juga karena ada anggapan dan beliefs mengenai maskulinitas, bahwa laki-laki memiliki peran tertentu, ada kegiatan-kegiatan yang ‘tabu’ untuk dilakukan oleh laki-laki, sampai ada warna-warna tertentu yang tidak lazim digunakan oleh laki-laki. Keyakinan ini jugalah yang menampar para wanita, para ibu untuk tidak membagi tanggung jawab pengasuhan anak kepada suami mereka. Nanti, apa kata masyarakat? Bisa-bisa saya dianggap sebagai ibu dan istri yang bossy karena suami saya yang bertugas menyuapi anak. Well, ini semua hanya asumsi dari hasil observasi saya. Sungguh, hanya opini pribadi. Bisa saja yang saya lihat salah, bisa saja ternyata banyak sekali suami-suami yang sangat suportif membantu istri mengasuh dan mendidik anak.

I sound like I’m a feminist. Well, I don’t say that men and women are the same. Saya sadar bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran masing-masing. Misalnya, laki-laki adalah kepala keluarga dan perempuan adalah sekolah pertama bagi anak. Pun, hak dan kewajiban suami dan istri masing-masing berbeda. Tapi, bukankah to some extent laki-laki dan perempuan harusnya memiliki kemampuan yang sama, tanggung jawab yang sama, dan harus saling membantu?

Lalu, apa akibatnya apabila tidak ada sosok ayah dalam pengasuhan anak? Disini saya berbicara dari sudut pandang keluarga dengan orang tua lengkap (ayah dan ibu masih hidup, regardless of their status). Saya rasa sebagian besar orang akan setuju bahwa anak belajar sangat banyak melalui contoh. Mereka belajar sangat banyak dengan cara melihat. Keabsenan ayah dalam pengasuhan, perbedaan ‘status’ yang mencolok antara ibu dan ayah, serta mungkin perlakuan yang berbeda kepada anak perempuan dan anak laki-laki, pada akhirnya mengarahkan anak untuk berpikir bahwa laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari perempuan, memiliki hak yang lebih dari perempuan. Tidak dapat dipungkiri, budaya patriarki masih sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Then, what’s wrong with that?

Ingatkah kita tentang kasus Yuyun? Seorang remaja wanita yang dilecehkan secara seksual dan kemudian dibunuh. Banyak orang berargumen bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh pengaruh alkohol. Namun, saya sebagai mantan mahasiswa psikologi tahu bahwa hal yang mempengaruhi perilaku seseorang ada banyak sekali. Untuk kasus tersebut, saya juga melihat ada faktor minimnya pendidikan seksualitas dan pengasuhan orang tua, terutama ayah.

I go way back when talking about fatherhood. Entah mengapa, topik ini selalu menggelitik saya. Indeed, penelitian skripsi saya pun membahas mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Anak-anak yang memiliki kedekatan dengan ayah dan merasakan dididik dan diasuh ayah ternyata terbukti menunjukkan prestasi akademis yang baik. Mereka memiliki hubungan sosial yang baik, percaya diri, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan menerima tantangan. Selain itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan pun berhubungan dengan moralitas yang baik pada anak, seperti dalam hal pengembangan empati dan dorongan untuk menolong orang lain. Khususnya pada anak laki-laki, mereka banyak mencontoh perilaku baik ayah dan memiliki karakter personal yang lebih baik. Berbagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa peran laki-laki dalam pengasuhan dan pendidikan anak tidak kecil, tidak seperti yang pada umumnya dipahami oleh masyarakat. Indeed, ayah memiliki peran penting dalam kehidupan anak.

Oleh karena itu, mungkin harus ada lebih banyak laki-laki ber-stroller di Indonesia. Laki-laki yang sadar bahwa perannya bukan sekedar ‘dilayani’ oleh perempuan. Laki-laki yang mengerti bahwa mereka sebaiknya dapat mendampingi istri saat harus mengurus kebutuhan yang berhubungan dengan anak, entah itu memandikan anak atau menghadiri pertemuan orang tua di sekolah. Laki-laki yang sadar bahwa ia juga memiliki peran dalam mendidik dan mengasuh anak. Laki-laki yang tidak sombong sehingga tidak mau ‘merendah’ untuk perempuan just because dia laki-laki. At the end, bukankah semua manusia sama dihadapan Tuhan dan yang membedakan adalah amal ibadah?