Belajar untuk…. Belajar (?)

Untuk apa sih kita belajar? Tiba-tiba kepikiran pertanyaan ini karena pada awal-awal tahun ajaran baru ini, saya cukup banyak bertemu dengan orang tua murid dan para murid dengan berbagai cerita mereka. Ada yang khawatir mendapatkan nilai jelek, ada yang khawatir tidak diterima di perguruan tinggi, ada lagi yang mempertanyakan untuk apa mereka belajar dan bersekolah.

Saat berdiskusi dengan seseorang, ada satu pernyataan yang saya ungkapkan… lalu saya revisi… lalu saya pertanyakan. Saya bilang “Yah, belajar kan bukan untuk nilai…”. Sebagai pendidik dan konselor yang berkata seperti itu, langsung dong saya diprotes oleh orang tua murid. Langsung pula saya revisi “Maksudnya, nilai itu tetap dikejar, tetapi kalau memang siswa memiliki ketertarikan, belajar seharusnya jadi menyenangkan tanpa harus ‘didorong’ oleh motivasi mendapatkan nilai bagus’. Yah, begitulah kira-kira. Tapi nih, saya jadi berpikir dan bertanya lagi. Belajar untuk apa?

Mohon maaf lahir batin kalau apa yang saya pahami dan yakini berbeda dengan pemahaman banyak netijen, hehe. Bagi saya, belajar ya untuk belajar. Mendapatkan pengetahuan dan informasi, mendapatkan kesempatan untuk melakukan refleksi, mendapatkan kesempatan untuk berpikir. Cukupkah hal-hal tersebut menjadi motivasi yang membuat kita belajar? Bagi saya, pengalaman belajar itu lah yang harus bermakna dan menjadi inti dari belajar – bukan lalu mendapat nilai berapa. Kalau semua diukur dengan nilai, kapan mau jadi pembelajar sepanjang hayat?

Saya juga percaya bahwa menempuh pendidikan dan belajar bukanlah persiapan untuk hidup. It is life itself. Ya masa ketika kita belajar, kehidupan kita di-freeze, gitu? No, right? Makanya, belajar bisa dilakukan dimana saja. Institusi, organisasi, atau situasi hanyalah alat belajar. Esensi dari belajar sendiri menjadi proses yang dijalani dan dimaknai secara sangat individual. Banyak juga kok, orang-orang yang bersekolah dan berpendidikan tinggi, tetapi pada prosesnya tidak belajar. Hal ini juga yang membuat saya percaya bahwa belajar tidak terbatas ruang dan waktu.

Yah, intinya, belajar itu proses yang dimaknai sendiri oleh individu yang kemudian membuat si individu tersebut berubah. Berubahnya bisa dalam hal kognitif, afektif, perilaku, apa saja. Hasil berupa sesuatu yang terukur ini tentunya akan mengikuti proses yang dilakukan. Pastinya, hasil tersebut juga dipengaruhi oleh hal-hal lain seperti stimulus yang diterima, bagaimana individu memproses informasi, dan lain-lain. Namun, bagi saya, belajar dilakukan bukan melulu karena hasil yang harus atau akan diperoleh. Toh, ilmu dan pengalaman pasti akan ada manfaatnya. Bagi saya, belajar ya untuk belajar.

Advertisements

Moments that Change My Life 4: Say Yes to Kindness

I am the first child of two. I have a sister who is 3 years younger than me. As other sibling relationship, we are not always in sync. When we were kids, we fought, we argued, etc. However, as we grow older, we’ve become closer. And, to be honest, I learned a lot from her.

12923224_10154093071703679_5743275706847896219_n

One of the things that I admire from her is her life moto. I found out about this a few years ago, I don’t know, probably through her social media or new year’s resolution. So she said that she will try to live her life with this principle: Say yes to kindness. When I heard that, I was like, WOW. It is such a simple principle, but it’s going to be difficult to be applied.

After that moment, I notice that my sister changes and she is being a kinder person. I think, as her principle, she always tries to help others in need. She is willing to sacrifice things for others’ sake. She does not count what she has done for others. I see her give and give and give. I see her change that I also want to adopt this value.

Say yes to kindness. It is such a simple, yet powerful phrase. If we all say yes to kindness, maybe the world can actually become a nicer, nicer place. Yes, instead of having such a long list of resolutions or targets that we want to achieve, why don’t we start with one? Let’s say yes to kindness.

Moments that Change My Life 3: About Faith

Sepertinya kuliah jurusan psikologi membuat gw banyak belajar mengenai hal-hal baru. Lots of my reflection and “awakening” dimulai dari teori-teori atau prinsip yang gw pelajari di kelas psikologi. Ada satu kelas yang bagi gw sulit tapi ternyata meaningful, yaitu kelas psikologi kognitif. Why?

Jadi, beberapa hari yang lalu di jalan pulang, gw sempat ngobrol dengan salah satu teman gw yang merupakan guru senior di sekolah tempat gw kerja. Kami awalnya bicara mengenai banyak hal, lalu menyempitlah pada satu peraturan yang pernah diterapkan di sekolah kami, yaitu mengenai kewajiban untuk solat Dzuhur berjamaah di kelas. We both agree that the essential of that rule is good. Ya, siapa yang tidak setuju bahwa praktik beragama itu tidak baik? Pada kenyataannya, murid-murid di sekolah kami ternyata banyak yang memprotes peraturan ini. Banyak sekali alasan mereka, termasuk mengenai kebebasan beragama dan memilih untuk tidak menjalankan praktik agama. Well, well…. Kalau sudah bicara mengenai hak seperti ini, memang akhirnya menjadi sulit. They have a valid opinion. I’m not saying that it’s right or wrong, I’m saying that it’s valid. Ya betul kan, mau beribadah atau tidak merupakan hak masing-masing orang. Bahkan, mau percaya Tuhan dan agama atau tidak, juga hak masing-masing orang. Nah, melawan argumen-argumen ini lah yang sulit bagi gw. Bukan karena gw tidak percaya atau karena gw tidak beribadah. Not at all. Sulit karena ketuhanan dan kepercayaan terhadap agama asalnya dari faith dimana tidak ada orang yang bisa membuat seseorang punya faith terhadap sesuatu. Sesungguhnya, Allah-lah yang dapat membolak-balikkan hati. Pada akhirnya, Rasulullah SAW meskipun sangat menyayangi pamannya dan telah berdakwah kepada pamannya, pun tidak dapat membuat Abu Thalib masuk Islam.

Nah, di dalam percakapan gw dan teman gw ini, kita melakukan refleksi lah (yekan gw sukanya emang refleksi diri). Yang kami temukan bersama adalah bagaimana seseorang dididik dalam keluarga sangat penting untuk menumbuhkan yang namanya faith ini. Kalau menurut Cambridge Dictionary, faith diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan tingkat tinggi terhadap sesuatu atau seseorang – bahkan ketika tidak ada alasan atau hal yang mendasarinya. Oleh karena itu, bagi saya, tampaknya sangat sulit sekali untuk memunculkan faith dalam diri seseorang. Kalau tidak dari kecil, kalau tidak dengan keyakinan yang sangat kuat, tampaknya tidak mungkin. Kembali lagi, hanya Allah yang dapat membolak-balik hati.

Cerita gw tentang faith mungkin agak sedikit berbeda. Mungkin apa yang gw pahami salah, tapi ini adalah persepsi, pemahaman, dan pengalaman gw. Alhamdulillah, gw tidak pernah menjadi orang yang tidak percaya pada Allah dan agama. Gw lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat taat sehingga pendidikan agama gw dapat sejak sangat kecil. It kind of grows in me. Tapi gw pun tidak pernah mempertanyakan. Ya, ada lah ya, pertanyaan-pertanyaan seperti: kenapa Allah menciptakan orang jahat, dll saat gw menginjak remaja. So and so, gw tidak pernah lalu meragukan keislaman gw. I have a complete faith sampai akhirnya gw menemukan jawabannya sendiri.

Jadi, gw dulu adalah mahasiswa psikologi. Salah satu mata kuliah yang wajib kami ambil adalah psikologi kognitif. Dalam pelajaran tersebut, kami belajar mengenai bagaimana manusia berpikir, fungsi otak, dll. Intinya, otak adalah organ tubuh inti yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya dan membuat manusia menjadi “manusia”. Susah kali bahasanya yaa… Suatu hari, kami belajar lah mengenai persepsi. Tubuh manusia itu punya reseptor sensasi, yang biasanya kita sebut indera. Nah, si indera manusia ini menyampaikan lah informasi melalui saraf ke otak. Lalu, otak menerjemahkan sensasi ini dan akhirnya kita tahu apa yang ada di sekitar kita. Sama lah, seperti input di komputer yang lalu ada output-nya. Nah, masalahnya…. Saking si otak kita ini sangat kompleks, we may not know how it translates information. And we have no way of knowing bahwa apa yang diterjemahkan otak kita itu benar atau salah. Biasanya, we come to other people to convince us that what we perceive is true. Masalahnya lagi, orang lain kan belum tentu juga otaknya “benar”. Masalahnya lagi, bagaimana kalau otak kita salah menerjemahkan input, dan ternyata orang lain itu hanya ilusi?

925187_227890820751964_263901659_n.jpg
And that’s when I realized: gila! Dunia ini beneran fana ya. Gimana kalau otak kita berbohong pada kita? Bagaimana kalau realita yang selama ini kita percaya, ternyata bukan realita. Maaaaaannnn…. And that time I completely believe that I need something beyond. Bahwa ada suatu zat di atas manusia yang Maha. Bahwa sesungguhnya gw butuh sesuatu yang membuat gw “sane”. Bahwa gw butuh bergantung pada janji yang diberikan sama Allah, bahwa ada dunia, nanti, yang tidak fana. Gw sangat bersyukur sih bahwa gw mendapatkan pencerahan ini. Buat gw, inilah yang membuat gw memiliki (mudah-mudahan) complete faith. Mungkin buat orang lain ini tidak logis, mungkin buat orang lain pengalaman dan pemahaman ini belum bisa membuat mereka percaya. But then again, balik lagi lagi dan lagi, hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati. And at the end, memang manusia tugasnya berdoa dan memohon supaya selalu dibukakan hatinya terhadap hidayah dan cahaya. Aamiin.

Photo credit: https://www.instagram.com/ryantoanugroho/?hl=en

Moments that Change My Life 2: Getting Out of My Comfort Zone

I always believe that discomfort is the key of learning. I’ve started believing this since I was in college, studying cognitive psychology. In that class, I learned that when new information is absorbed by our brain, we try to match the information with the schema that we’ve had. The new information may fit well, or we need to adjust our schemas to receive the information, integrating it with the knowledge we’ve had. And this process causes change. This process causes discomfort. This is called cognitive dissonance.

I believe that this cognitive dissonance is actually good, which makes me think that the whole discomfort feeling may actually be the sign of change and improvements. Getting more and more aware of ourselves, sometimes it is inevitable to feel that change and learning is not fun because of this uncomfortable feeling, which makes people not willing to learn. Working in an education setting, I see a lot of students with great potential, but lack of the ability to feel uncomfortable, the humility, and the curiosity. The first one I’ve discussed in the previous paragraph. The second one, humility, is a very interesting topic.

The know-it-all person. With the height of technology use and wide access of information, our generation is very susceptible to be the know-it-all people. Without critical thinking ability and humility, I think everyone may eventually stop learning. Why? Because they think that they know everything. I truly believe that another aspect that can support one’s improvement and learning is humility; knowing that we don’t know everything. I’d discussed this too in one of my writing: https://theadventureofizzao.com/2016/10/21/ada-langit-di-atas-langit/. And arrogance is a very dangerous thing for students that hinders them from actually learning. I saw this a lot, especially with the more advanced and intelligent students. Being humble doesn’t only mean that we seek for further knowledge, but also that we are open to feedback and other people’s perspectives.

The second aspect leads to the third one, which is curiosity. I think curiosity is human nature. Everyone is born with curiosity and the ability to explore the world. One thing, back to square one again; is that one may diminish his curiosity because he is not willing to be uncomfortable. Trial and error requires someone to fail, which is not fun! Getting to know new people may exhaust us, which may also not fun! And all those “negative” consequences of trying new things sometimes prevent us from learning and from improving ourselves.

Getting out of my comfort zone is actually the key of my learning. I don’t know with other people, but I am always aware that learning and improving are not always fun. I try to think the challenges as something that can increase my capacity, and when I fail, better try next time. I am also very aware that getting out of the comfort zone is not easy. I need to push myself to do it, even if it is only online courses or trying new food recipe. However, the biggest opportunity to get out of my comfort zone was when I had to live far away from home, alone. “Merantau”, Indonesian people said. It has become a philosophy for some Indonesian people, which actually teaches a lot of life lessons.

How do I feel right now? Am I comfortable enough that I stop learning? Hmmm… maybe I am too used to this environment that I am living in? I don’t know. I still feel that I have a little bit room to explore, but maybe not for long. Maybe I need to find another area to pursue? Maybe I need to get out of my comfort zone, soon.

Moments that Change My Life 1: Thinking about Others

When asked about a moment that changes my life or myself, I would answer it with a super short story when I was in high school. At that time, I was a 10th grader in my high school. My schoolmates (who I did not really know at that time) and I joined this leadership activity. During the course of that program, we were given several demanding tasks that required us to collaborate with each other. I was not the way I am now. I had very limited exposure to such activity and I would even say that my leadership and collaborative skills are 0.

One of the tasks given to us was that we had to wear a red ribbon on our school uniform. We agreed about the size of the ribbon, etc. We were also given other tasks, which consume my time at home so that I forgot to prepare my ribbon. On the next morning when I arrived at school, I remembered that I had to wear a ribbon. I panicked. Then, I met this friend of mine whom at that time I didn’t even know her name. I think she realized that I forgot to bring my ribbon and she happened to have a spare ribbon. She just gave it to me like that, saving me from punishments that will be given by our seniors if we didn’t wear one.

I always remember that moment because for me, it changes the way I approach life and the way I think. I was a very individualistic person. I couldn’t care much about other people. That moment when I friend gave me this ribbon made me think how a person can think about other people and be unselfish. What she did didn’t benefit her, but she did it anyway. From that moment on, I always try and try to think about other people’s position, condition, and perspective. Then, I try to do whatever I can to help others. What my friend did was merely giving a ribbon, maybe an extra one when she made it for herself. It didn’t take a lot of effort. And I now believe that kindness shouldn’t always take a lot of effort.

As I said, I try and try to be a better version of myself. Sometimes I forgot, sometimes I slip. Recently, I was reminded again of how I should not be selfish. So I work as a school counselor in a private school in Jakarta. There’s this new regulation from the government that will give a certain amount of money in monthly basis for private school teachers. I knew this as I saw a colleague opening a document about this matter. Then, in a Whatsapp Group, another person shared the document. I knew this, but I disregarded it. What I thought at that moment was that “ah… maybe I am not qualified. I don’t want the extra load that I have to do to obtain that”. A few days later, a friend also talked about this, sharing the information that she knows to me about this endowment fund. Again, I simply thought that it is unimportant for me.

Can you see what’s wrong in the way I think about this matter?

Yes, I only think about myself. I didn’t care that maybe my other fellow teachers may need it. I didn’t think that probably there are teachers who really really deserve this endowment fund. And when this matter was blown up because most of my colleagues are informed about the fund when it is too late, causing a rather chaotic situation; just then that I realized “maaaan… what did I do?”. The answer is: I didn’t. I didn’t do anything because I was so self-centred that I didn’t think about other people. What I could have done was so simple, as simple as sharing the information that I knew.

As usual, what I do after this kind of thing happen is to think of what I could have done better. And I realize that I have been so busy with myself that I care less about other people around me. This situation reminds me that I have to reflect and evaluate. I have to practice my belief to not only think about myself, to not being selfish.

Ada Langit di Atas Langit

10499096_310567115790904_1532127187_n

Dua artikel berturut-turut dan judulnya berhubungan dengan langit. Tenang, tenang… isinya beda kok! Berbeda dengan artikel sebelumnya yang membahas tentang langit biru, kali ini ingin membahas sebuah fenomena yang sepertinya kok sering saya lihat akhir-akhir ini. Maklum, I am a people observer. Kegiatan people-watching bagi saya terasa menyenangkan! Hehehe…

As an intro, ada yang sudah baca artikel ini: https://brightside.me/article/why-generation-y-is-unhappy-11105/? Saya sudah, dan saya suka. Saya suka dengan sudut pandang si penulis yang tidak lagi-lagi membahas karakter generasi Y saja – tetapi mencoba mengelaborasi dengan pengalaman nyata para anggota generasi Y. Intinya sih, ada sesuatu yang menyebabkan si generasi Y ini tidak bahagia: kepercayaan bahwa dunia seindah surga dan bahwa mereka (kita) pantas untuk mendapatkan si surga ini. Intinya yaa… perasaan ke-aku-an yang sungguh besar sehingga menganggap diri sendiri spesial.

Padahal, selalu ada langit di atas langit. Naaah… yang perlu disadari adalah langit di atas langit ini tidak hanya dalam arti positif loh, tapi juga dalam arti negatif. Misalnya nih, ada si X yang punya pengalaman bertahun-tahun, pintar, dan latar belakang pendidikannya baik. Dia merasa sebagai orang yang paling ekspert di bidangnya. Hal ini membuat dia merasa lalu harus di “servis” saat diminta berbagi ilmu atau merasa harus mendapatkan gaji super besar saat diminta bekerja di suatu perusahaan. Betul kah? Yhaaa… ada langit di atas langit, Pak! Dalam lingkungannya, mungkin ia yang paling hebat. Tapi, sudahkah mencoba untuk lihat keluar? Sudahkan mencoba untuk bertemu orang-orang baru di lingkungan baru? Mungkin – mungkin yaa – di luar sana ada orang yang jauh lebih hebat daripada si X.

Sebaliknya, ada langit di atas langit bisa juga terjadi dalam arti negatif. Pernah punya teman yang sepertinya hidupnya selalu susah (suka mengeluh maksudnyaa…)? Seberapa parah sih keluhannya dan korelasinya dengan realita? “Duh, males banget bawa anak kecil naik angkot panas-panas. Coba ya kalau ada motor kan lebih enak.” Buk, ada loh orang yang anaknya lebih dari dua dan memilih untuk jalan kaki kemana-mana karena ingin menabung agar anaknya bisa masuk sekolah yang bagus (walaupun ya, harusnya sih sekolah bagus harus bisa diakses oleh semua orang). Atau mungkin juga, ada orang lain yang kemana-mana harus naik sepeda karena harus berhemat uang yang pas-pasan.

Self-centered. Sifat ini seharusnya sudah bisa diminimalisir pada masa anak-anak awal, sekitar usia 3-6 tahun. Tapi memang, manusia pada dasarnya adalah mahluk yang self-centered. Setelah dilatih dan melihat orang lain, barulah kita semua belajar untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Selain itu, kalau seperti yang dijelaskan oleh artikel yang saya sebutkan di atas, sosialisasi dari orang tua dan orang-orang di sekitar juga merupakan pembentuk karakter generasi Y yang utama. Isi sosialisasi inilah yang membuat para generasi Y (termasuk saya juga, mungkin) merasa paling spesial pake telor. Hasilnya, terpupuk lagi deh, sifat self-centered yang seharusnya sudah bisa diminimalisir.

Jujur, saya suka risih. Tidak terlalu suka dengan orang-orang yang tidak menyadari bahwa ada langit di atas langit. Tapi, gajah di pelupuk mata seringnya tidak terlihat. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri bahwa masih ada orang-orang yang lebih lebih hebat dari saya – dalam hal perjuangan (atau mungkin penderitaan), talenta, keahlian, dan lain-lain. Semoga tidak ada orang yang risih dengan saya karena hal ini. Semoga, semogaaa ya Allah, saya dijauhkan dari sifat “merasa yang paling …” supaya bisa lebih banyak belajar dan memperbaiki diri dan supaya bisa lebih banyak lagi bersyukur.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

 

Photo Source: https://www.instagram.com/ryantoanugroho/?hl=en

No Blue Sky for You No More

Beberapa minggu kembali tinggal di Jakarta (baca: Bekasi), salah satu hal yang sangat saya rindukan dari Birmingham adalah langit biru.

Kata orang, warna biru langit di setiap daerah itu berbeda. Well, mungkin. Saya adalah salah satu penggemar kegiatan mengamati langit. Kalau berdasarkan pengamatan saya, memang sih, warna langit setiap tempat memiliki “pesona”nya sendiri. Favorit saya? Birunya langit Liverpool di musim panas, birunya langit York saat musim semi, semburat jingga saat matahari terbit di Borobudur, dan… yang paling dahsyat menurut saya adalah warna warni langit saat matahari tenggelam di Sumbawa Barat. Magical!

Pink Sky

Nah tapi, setelah beberapa minggu di Jakarta-Bekasi, ternyata kok langitnya abu-abu? Yhaa… disamping akhir-akhir ini sering mendung, sepertinya, berdasarkan pengamatan subjektif saya, polusi di ibu kota tampaknya semakin parah, ya? I don’t mind with non-blue sky. Saya suka hawa-hawa mendung gloomy yang kalau di UK sana sedang sangat dominan karena sudah autumn saat ini. Di Jakarta pun, hawa mendung bagi saya membawa perasaan menenangkan.

Masalahnya, meskipun sama-sama abu-abu, langit tertutup polusi tuh nggak ada indah-indahnya. Malah sumpek dan bikin pengen kabur ke UK lagi #eh. Bahkan saking tebalnya, asap polusi sampai terlihat seperti kabut. Sedih!

Biangnya ya apalagi selain asap kendaraan bermotor? Saya salah satunya. Iya, saya mengaku bersalah jadi salah satu kontributor polusi di Jakarta. Cuy, moda transportasi itu kebutuhan primer warga dunia – terlebih bagi masyarakat penglaju seperti saya yang jarak tempuh setiap hari bisa lebih dari 20 km. Jarak tersebut tentu tidak bisa (tidak efektif) bila dipaksa ditempuh dengan cara berjalan kaki. So, what should I do?

Setidaknya, saya berusaha (superduper sekuat tenaga karena terbiasa dimanja dengan kendaraan pribadi) untuk meminimalisir penggunaan mobil pribadi sendiri. Kalau bisa, carpool (lebih populer dikenal dengan tebeng menebeng) lebih baik. Disamping kondisi lalu lintas Jakarta yang makin lama makin parah dan membuat malas menyetir sendiri, naik kendaraan umum atau ber-carpool bisa jadi alternatif yang lebih hemat.

Well, semoga saya bisa dengan istiqomah menjalankan sharing kendaraan ini, setidaknya dengan suami dan orang-orang terdekat) dan semakin banyak juga orang-orang yang berusaha dan punya solusi untuk mengurangi polusi Jakarta sehingga langit biru pun tampak kembali di kota tercinta ini. Ya, supaya there’s no more no blue sky for you no more.

Ada Banyak Orang Baik di Dunia

Kata banyak orang bijak, merantau bisa meningkatkan kapasitas seseorang. Yah, namanya juga merantau jauh dari keluarga dan teman-teman, seseorang pasti sedikit banyak belajar tentang kemandirian, keberanian, dan… mungkin (semoga) belajar mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik. Belajar-belajar tersebut mungkin saya dapatkan penuh ketika pergi seorang diri untuk menuntut ilmu beberapa tahun yang lalu. Kali ini, ceritanya tentu berbeda.

Setahun yang lalu, saya merantau untuk mendampingi suami melanjutkan studi-nya. Dengan peran yang berbeda, saya banting setir menjadi ibu rumah tangga. Saya belajar mengurus “rumah”, menjadi kreatif (terutama dalam hal masak-memasak), dan bersosialisasi dengan teman-teman senasib sepenanggungan – para dependent. Namun, kali ini saya tidak akan membahas mengenai belajar-belajar saya yang itu. Justru, hal yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa selama merantau ini, saya menemukan ada banyak orang baik di dunia.

Ada banyak orang baik di dunia. Saya sering mendengar kalimat ini dari seorang teman saya, Jayaning Hartami, yang selalu berusaha untuk menanamkan keyakinan pada anak-anaknya bahwa dunia ini masih diisi oleh orang-orang yang baik, yang suka menolong. Faith in humanity lah, istilah kerennya. BUT, that is actually true. Perjalanan saya selama setahun ini membuktikan bahwa masih banyak orang-orang ikhlas, empatik, baik hati, dan tidak sombong yang ada di sekitar kita.

Mulai dari yang simpel saja. Merantau tentunya tidak lepas dari mencari jalan. Di lingkungan baru, kita biasanya masih harus bergantung pada peta (atau Google Maps – hari gini nggak tau GMaps, mau jadi apa?) atau bantuan petunjuk arah dari orang lain. Saat saya dan suami sempat pergi ke Barcelona untuk berlibur, wajah kebingungan kami membuat seorang kakek akhirnya menyapa – dengan bahasa Spanyol yang kami tidak mengerti – dan berisyarat apakah kami butuh arah ke tujuan wisata tertentu. Lalu, dengan bahasa Tarzan pun ia berusaha menjelaskan. Kami pun mengikuti sarannya dan akhirnya sampai di tempat yang kami tuju. Bagi saya, itu bentuk sederhana dari kepedulian. Lihat dan berusaha membantu. Simpel, dan pastinya si kakek tidak minta imbalan, tidak minta dibilang baik, tidak juga “sok baik”.

Orang baik berikutnya adalah pak supir Uber yang pagi tadi mengantarkan kami ke bandara. Si supir datang, membantu memasukkan bagasi kami yang super berat ke dalam bagasi mobil, dan ketika kami turun, ia pun membantu menurunkan bagasi kami. Believe me, ini adalah hal yang super-duper jarang ditemui di UK. Budaya individualis dan kehati-hatian agar tidak menyinggung orang lain mungkin adalah alasan mengapa bahkan orang yang tampak kesulitan pun jarang-jarang dibantu. Kebanyakan masyarakat lokal sangat sopan sehingga mereka tidak ingin “asal” bantu tanpa diminta. Yah, mungkin saja kan, orang tersebut tersinggung karena dikira dianggap “helpless”. Anyway, saat masuk bandara, mobil harus membayar 1 poundsterling sebagai biaya masuk dan parkir 10  menit (hiyakkkk mahal yaaa 10 menit aja 1 pounds). Saya yang belum pernah menggunakan servis Uber ke bandara pun bertanya apakah saya harus mengganti biaya parkir tersebut. Si supir lalu menjawab bahwa biayanya sudah include di dalam ongkos. Wiiw, jujur yah. Padahal kalau dia mau pun, dia bisa bilang bahwa saya harus membayar parkir padahal uangnya dikantongi oleh si supir.

Pun juga para waitress di restoran yang selalu mengecek dietary requirements kami (karena jilbab saya menunjukkan bahwa kami harus makan makanan halal), kasir di supermarket yang kadang-kadang random dan mengajak bercakap-cakap, atau mungkin sekedar orang bertemu di jalan yang tanpa disangka-sangka membuat hari saya lebih berwarna cerah. Semua saya temukan saat merantau ini.

Kalau disebutkan satu per satu, tentu tidak cukup berpuluh-puluh halaman untuk mendeskripsikan orang-orang baik di dunia. Namun, satu kelompok orang baik yang sangat berkesan dan berarti bagi saya sepanjang kehidupan saya di Birmingham adalah para warga Indonesia yang tinggal di Birmingham. Yah, namanya juga merantau, pasti mencari orang-orang yang bisa mengobati rindu pada tanah air. Alhamdulillah, di Birmingham ada banyaak sekali orang Indonesia dan, menurut saya, semuanya super baik. Eh, ini bukan berarti bahwa teman-teman di kota lain tidak baik atau kurang baik dibandingkan teman-teman di Birmingham, ya. Namun, saking banyaknya orang baik di sana, ada multiplier effect dong ya…

Rasanya tidak akan habis-habis kalau saya berterima kasih pada semua warga Indonesia di Birmingham. Mulai dari sebelum berangkat hingga detik-detik terakhir kami akan pulang ke Indonesia, bantuan yang saya dan suami terima tidak ada putusnya. Baiknya para warga ini tidak hanya ke saya. Baiknya ke semua orang. Belum pernah saya menemukan ada satu komunitas yang kalau ada salah satu anggotanya sakit, semua orang lalu berduyun-duyun menjenguk, membantu menyediakan kebutuhan dasar bagi keluarganya, atau bahkan jadi “tukang urut dadakan”. Pinjam meminjam uang dari satu orang ke orang lain, pinjam meminjam alat masak, sampai pinjam meminjam bumbu makanan – semua ada! This is actually my first experience having a community that good, that cohesive, that kind. Pengalaman berada dalam sekumpulan orang-orang baik ini yang membuat kembali pulang ke tanah air menjadi berat sekali.

Melihat ada banyak orang baik di dunia membuat saya belajar. Belajar seperti mereka. Belajar berempati, belajar berkontribusi, dan belajar ikhlas. Semua yang saya sebut tadi, semua aksi kebaikan tadi, tidak dibayar, loh. Semua for free. Saya lalu belajar – dari Mbak Binar dan Mbak Dini – tentang bagaimana memperlakukan tamu. Iya, saudara saya yang numpang tinggal for free pun dapat makan pagi gratis! Saya belajar bahwa kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Saat ada teman yang sakit, sampai berebutan memilih jadwal masak untuk memenuhi kebutuhan si teman. Saya belajar bahwa there shouldn’t be any strings attached dalam berbuat baik. Jangan harap imbalan, nanti imbalan pun akan datang dengan sendirinya. Ibu-ibu Selly Oak Moms baik sekali memberikan saya kesempatan untuk berbagi ilmu plus dapat bonus hadiah-hadiah yang super sweet.

Ada banyak orang baik di dunia. Saat ini, saya terus berusaha untuk menjadi salah satunya. Yah, setelah menerima begitu banyak kebaikan, bukankah sudah selayaknya kita pun menjadi baik dan ikut menebar kebaikan-kebaikan? Bukan, bukan untuk dibilang “angel” atau supaya menjadi orang terfavorit. Salah kah kalau berbuat baik just for the sake of it? Atau hanya karena dulu ada orang yang juga membantu saya seperti itu sehingga saya pun harus berkontribusi yang sama. Selamat menebar kebaikan.

 

Photo Source: http://eforevent.pl/wp-content/uploads/2014/12/helping-hands.png

 

Tentang Mata (dan Otak

Ya, beberapa minggu ini saya ‘libur’ menulis karena sedang menghabiskan waktu bersama keluarga untuk berlibur. Jalan-jalan. Agak unik juga liburan kali ini karena biasanya saya hanya off 1 minggu. Sekarang, sudah hampir 3 minggu saya banyak kesana kemari, mulai dari pergi berwisata dengan suami hingga menemani orang tua menjelajah kota-kota di UK. Tulisan ini adalah refleksi saya selama berjalan-jalan. Bukan review jalan-jalan yaaa.. Silahkan cek edisi AdventureNotes berikutnya untuk tahu cerita jalan-jalan saya.

Ini cerita tentang mata. Mata yang membantu saya melihat segala sesuatu. Yang saat saya jalan-jalan kemarin telah dimanjakan. Liburan kali ini saya gunakan untuk pergi ke Spanyol. Negara di Eropa Barat yang juga terkenal karena ada sekelumit sejarah Islam-nya. Dulu, bahkan sebelum menikah, saya dan suami sama-sama punya mimpi ingin mengunjungi tiga kota dengan sejarah dan peninggalan Islam di Spanyol, yaitu Cordoba, Granada, dan Sevilla. Alhamdulillah kami diberikan kesempatan untuk mewujudkan mimpi kami. Selama 10 hari kami berkeliling kota-kota tersebut (ditambah Barcelona dan Malaga). Setelah itu, orang tua saya datang mengunjungi, membuat saya (dan kadang-kadang suami) harus mengantar mereka berkeliling. Kami mengunjungi beberapa kota di sekitar Birmingham, Bath, daerah Costwold, dan Liverpool. Setiap kota memiliki cerita sendiri. Setiap kota pun memiliki keunikan. Namun, ada satu kata yang bisa menggambarkan semua: INDAH.

Karena saya dan suami memang suka fotografi, setiap pengalaman perjalanan kami pun berusaha kami abadikan melalui foto, dan kadang-kadang video. Kami berusaha untuk ‘membawa’ sesuatu dari tempat yang pernah kami kunjungi, sesuatu yang tidak perlu bayar mahal untuk membawanya. Seperti slogan yang dulu sering saya dengar, “kill nothing but time, leave nothing but footprint, and take nothing but picture”. Jadi, satu-satunya yang harus saya dan suami bela-belain untuk lakukan adalah foto-foto sampai lelah dan ngantuk-ngantuk. Kami berusaha untuk merekam semua hal yang indah-indah tadi.

TAPI, what is captured by the eyes can’t be captured by camera. Rasanya meskipun beratus-ratus kali foto, masih tidak bisa merepresentasikan apa yang dilihat mata. Jadi mengingat-ingat lagi, dan juga membayangkan apa yang dulu saya pelajari di kuliah Psikologi Kognitif dan Psikologi Faal. How complicated it is for our eyes and our brain to process those light signals to produce images and to make us understand what we see. Amazing. Segitu canggihnya organ-organ tubuh kita bekerja sampai bisa menikmati keindahan yang amat sangat. Dan semua itu, yang ingin saya ingat-ingat itu, tidak bisa tertangkap oleh mesin buatan manusia yang katanya merupakan alat yang punya kemampuan seperti mata kita. Nyatanya, kamera memang bisa menangkap, tetapi tidak bisa mem-preserve keindahan seperti aslinya. Yak, meskipun katanya kamera itu bagus banget, meskipun harganya mahal banget, atau meskipun fotonya sudah diedit segitunya.

Dan kemudian, diingatkan lagi untuk bersyukur. Satu hal kecil, kemampuan melihat, tapi tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Saya merasa seringkali menyepelekan apa-apa yang biasa. Bisa melihat? Ya biasa. Wong dari lahir saya Alhamdulillah dikaruniai kemampuan melihat. Tapi, seringkali saya lupa bahwa apa yang saya bisa harus disyukuri. Ya toh, nggak perlu belajar untuk bisa melihat yang indah-indah. Allah langsung berikan tanpa saya harus minta-minta. Nikmat melihat baru satu. Masih sungguh banyak lagi nikmat-nikmat yang Allah berikan bagi saya, bagi kita sebagai manusia, yang sering sekali lupa saya syukuri.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Jalan-jalan setitik ini mengingatkan bahwa banyak tempat indah di dunia. Namun, yang lebih penting, juga mengingatkan saya bahwa saya perlu lebih-lebih banyak bersyukur lagi.

 

Photo Source:

http://i0.wp.com/santri.net/wp-content/uploads/2016/01/ar-rahman.jpg?resize=500%2C200

http://www.sciencephoto.com/image/308503/530wm/P4200486-Human_vision-SPL.jpg

When there is a will; there is a way, but….

…. Kalau nggak usaha sih sama aja. Akhir-akhir ini lagi sering ngobrol dengan suami tentang bermacam-macam hal. Lalu, suami cerita bahwa diantara teman-temannya sedang heboh tentang kesungguhan niat dan hasil yang dicapai – dalam konteks kuliah S2. Alhamdulillah saya dan suami diberi kesempatan untuk bisa ke Inggris dalam rangka berkuliah. Mungkin kalau terlihat oleh orang lain, wah kehidupan saya dan suami kok rasanya enak sekali. Menikah di usia muda, lalu bisa tinggal di luar negeri. Tapi, seperti rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau, kita nggak pernah tahu perjuangan apa yang dilakukan oleh si tetangga supaya rumputnya bisa hijau, kan? Bisa jadi dia pakai pupuk yang harganya mahal, atau harus rela menyisihkan waktu lebih lama untuk merawat rumputnya. Yup, instead of judging, why don’t we try to understand?

Kali ini, saya mau sharing sedikit saja tentang kehidupan dan usaha yang saya dan suami lakukan hingga sampai di sini. Pencapaian kami masih super cetek kalau dibandingkan dengan orang lain. Namun, saya ingin berbagi untuk teman-teman yang sedang galau dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya (sok tuaaa bgt guee…). Jadinya, tulisan ini akan ‘sedikit’ curhat tentang diri saya sendiri, hihi. Nggak apa-apa lah yaa sekali-sekali.

Sepertinya untuk memulai cerita ini, saya harus throwback agak jauh ke belakang, ke saat saya belum menikah dengan suami. Saya pertama kali bertemu lagi dengan suami (ya, kami teman SD dan SMP) setelah bertahun-tahun tidak bertemu di bulan Oktober 2013. Saat itu, saya baru saja pulang dari UK setelah menempuh pendidikan S2. Setelah pertemuan itu, kami semakin dekat. Namun, wacana untuk menikah masih ada di angan-angan karena pada saat itu saya baru saja menandatangani kontrak untuk bekerja di Jakarta selama 2 tahun dan (calon) suami saya saat itu bertugas di Batam. Angan-angan hanyalah angan-angan karena keluarga kami sudah saling tahu dan ingin kami segera menikah. Nah loh? Akhirnya, pada bulan Juli 2014 kami memutuskan untuk menikah. Dalam waktu 2 minggu saja, gedung sudah di booking dan persiapan pernikahan langsung dimulai. Proses lamaran dilakukan di awal Agustus dan kami menikah di bulan November. Ngebut? Bagi kami ini adalah proses yang cukup ngebut, walaupun ada banyak sekali orang yang juga mempersiapkan pernikahan dalam waktu sangat singkat. Apa yang terjadi selama persiapan? Lumayan grabak grubuk juga sih. Kondisi saya yang bekerja full time, (calon) suami yang tinggal di luar kota, semua membuat kami sangat-sangat terbantu oleh orang tua. Long weekend jadi media agar kami bisa test food, melihat gedung, memilih fotografer, dan membuat undangan. Pusing? Pusing… Tapi kami bersyukur bahwa semua proses yang dijalani lancar.

Pada saat memutuskan untuk menikah, kami tahu betul konsekuensi dari keputusan kami. Kondisi pekerjaan mengharuskan saya dan suami menjalani LDM – long distance marriage. Ada yang pernah putus karena LDR? Menjalani LDM pun berbeda dengan menjalani pernikahan bersama di satu tempat. Kami harus berusaha meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan mau tidak mau juga harus terus memperbaiki komunikasi kami. Mengapa? Karena hanya itu andalan kami. Hidup berjauhan, saya dan suami tidak bisa benar-benar tahu kondisi masing-masing. Hanya dengan komunikasi lah kami bisa terus memperkuat hubungan kami. Usahanya lebih besar? Tidak bisa dibilang seperti itu juga, sih. Tapi, usahanya terlihat lebih jelas. Yang jelas, saya dan suami sih kalau bisa memilih, tidak mau lagi kalau disuruh untuk LDM. Untuk bersamamu, gunung dan lautan pun akan kusebrangi (cieilaaaahh..).

Nah, untuk keluar dari situasi LDM, kami punya beberapa pilihan. Yang jelas, pilihan untuk saya pindah ke Batam, tempat dinas suami, sudah dicoret karena suami ingin pindah ke pulau Jawa, mendekat ke keluarga besar dan teman-teman. Mau tidak mau, suami lah yang harus berusaha pindah. Alternatifnya ada dua: pindah kerja atau sekolah. Akhirnya, suami pun paralel melamar kerja sambil juga daftar kuliah. Saya ingat sekali di bulan Januari 2015 kami sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pendaftaran kuliah. Saat itu, suami fokus untuk mendaftar di universitas-universitas di UK. Selain kesibukan mendaftar kuliah, suami juga mulai mendaftar beasiswa. Kami sadar betul bahwa kami tidak punya uang (dan tidak punya sponsor) untuk bisa berkuliah dan hidup di UK tanpa bantuan beasiswa. Oleh karena itu, kami tahu bahwa apabila suami mendapatkan offer dari universitas tapi tidak mendapatkan beasiswa, maka suami harus menunda kuliah hingga ada yang mau membiayai. Usahanya apa untuk mendaftar kuliah dan beasiswa? Suami saya harus membuat esai dan tes bahasa Inggris. Saat itu tes bahasa Inggris dilakukan tanpa persiapan yang berarti. Saya hanya mengirimkan buku bekas latihan saya dari Jakarta agar suami bisa belajar di Batam. Kami juga saling email-email-an esai dan feedback esai hingga dirasa ‘pas’ untuk di-submit sebagai syarat pendaftaran kuliah dan beasiswa. Dari periode Januari hingga April 2015, suami mendaftar di hampir 10 universitas berbeda dan akhirnya, alhamdulillah, mendapatkan offer dari universitas yang diincar (walaupun belum rezeki untuk dapat offer dari University of Manchester). Suami pun memilih universitas idamannya dan segera men-submit aplikasi beasiswanya.

Rasanya di tahun 2015, waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saja di bulan Juni, suami saya mendapatkan kabar bahwa ia mendapatkan beasiswa. Kami langsung berpikir cepat tentang apa yang harus dilakukan. Pada saat itu, masih ada kabar bahwa ada kemungkinan suami baru bisa berangkat di tahun akademik berikutnya. Lagi-lagi kami harus bersiap dengan alternatif lain. Pilihan pertama adalah berangkat di bulan September tahun yang sama. Saya jelas harus ikut (disamping ingin jalan-jalan juga, alasan utama kami adalah tidak mau LDM). Namun, saya masih terikat kontrak kerja yang sisa 1 tahun lagi – dan harus membayar penalti apabila melanggar kontrak tersebut. Kami mulai berpikir: dari mana uang sebanyak itu? Selain itu, persiapan untuk berangkat di bulan September juga berkaitan dengan urusan visa dan kepindahan ke kota Birmingham. Kami pun jadi rajin membaca aturan visa (bahkan sampai kami print si buku petunjuk visa dari UKVI dan kami baca sampai khatam – berkali-kali khatam). Kami sadar betul bahwa urusan visa ini memiliki resiko yang besar apabila sampai ditolak. Jadi, kami harus mempersiapkan diri. Pada saat itu kami mulai menghitung uang yang ada di tabungan serta aset lain yang kami miliki. Opsi kedua adalah menunda keberangkatan hingga September 2016. Less risk, lebih sedikit biayanya (dan bisa menabung dulu selama 1 tahun), tetapi berarti kami harus bersabar karena masih satu tahun lagi harus LDM.

Suami kemudian mendapatkan kabar bahwa ia bisa berangkat (kemungkinan besar) di tahun 2015. Kami langsung menjalankan rencana kami. Pertama, kami harus meminjam uang untuk deposit persyaratan visa saya (karena finansial suami ditanggung oleh pemberi beasiswa). Sebagai bocoran, saat itu kami meminjam uang sejumlah hampir 150 juta untuk jaga-jaga konversi kurs rupiah ke poundsterling. Uang pinjaman itu kami endapkan dari akhir Juni untuk aplikasi visa di pertengahan Agustus. Ya, kami sudah ancang-ancang akan membuat appointment visa di pertengahan Agustus setelah menghitung-hitung jadwal serta persiapan kami (note: kami baru resign per 1 September, jadi suami pun harus nglaju Batam-Jakarta selama persiapan). Kedua, saya harus PDKT dengan kepala sekolah serta HR di sekolah tempat saya bekerja agar bisa cuti tak berbayar atau resign tanpa harus membayar penalti. Ihiks, seram juga kalau harus bayar. Ketiga, kami harus mempersiapkan segala dokumen untuk aplikasi visa, termasuk juga uang untuk membayar IHS (asuransi) serta visa. Anak piyik seperti kami hanya punya 1 kartu kredit yang limitnya pun terbatas. Jadilah kami harus lagi meminjam kartu kredit orang lain untuk membayar ini itu. Keempat, kami harus mulai hunting akomodasi di UK. Kami rajin membuka website pencarian akomodasi dan rajin juga email agen rumah dan landlord. Kami pun bersiap uang (lagi) untuk membayar deposit dan booking fee. Rasanya gaji di bulan-bulan itu ‘terbang’ hilang sekejap, belum lagi ditambah ongkos pesawat suami bolak-balik Batam-Jakarta.

Selesai urusan beasiswa dan visa, kami pun giat bekerja untuk menambal si tabungan yang bolong karena harus bayar ini itu. Kami juga memutuskan untuk bekerja hingga sesaat sebelum berangkat. Oh ya, kami berangkat di pertengahan September. Jadi, kami masih bekerja hingga akhir Agustus. Suami harus pindahan dari Batam ke Jakarta juga. Untungnya, barang yang dibawa tidak terlalu banyak sehingga biaya pindahan pun tidak terlalu besar. Segera setelah visa keluar, kami pun berburu tiket. Suami yang mendapatkan tiket dari pihak pemberi beasiswa segera mengabarkan informasi flight dan saya harus berburu tiket dengan jadwal yang sama ke berbagai travel agent. Cara ini saya lakukan agar dapat tiket dengan harga se-ekonomis mungkin. Hahaha… bukannya pelit, tapi beli tiket ini harus pakai acara jual-jual perhiasan (yang cuma segitu-gitunya) segala. Mahal cuy, apalagi belinya sudah mepet dengan tanggal keberangkatan.

Setelah heboh-heboh di Indonesia, sampailah kami di Birmingham. Selesai heboh-nya? Belum. Rasanya, masalah finansial ini masih terus heboh hingga sekitar bulan November. Kenapa begitu? Karena di masa awal adaptasi kok ya rasanya mengatur uang belum paham betul. Masih terkaget-kaget dengan pengeluaran dan akhirnya harus terus evaluasi hingga rekening bank kami stabil. Yang jelas, di awal datang, pengeluaran kami cukup banyak karena harus mengisi rumah. Tidak full mengisi sih, karena alat-alat basic sudah ada. Hanya saja, kami harus beli alat masak dan beberapa kebutuhan rumah tangga agar studio yang kami sewa bisa lebih homey. Di bulan berikutnya, kami harus menyesuaikan pola belanja bahan makanan agar bisa berhemat uang transportasi dan uang belanja. Nggak rela juga kalau setiap bulan hampir 100 pounds dikeluarkan untuk biaya transportasi. Kami pun evaluasi lagi dan merancang strategi lagi. Baru di bulan ketiga atau keempat lah kami bisa mulai ‘enak’ mengatur keuangan. Saya sih terbayang, berdua saja masih harus berpikir strategis supaya uang cukup dan berlebih untuk ditabung, bagaimana yang punya anak dua atau tiga? Huaaah harus putar otak agar dapur terus mengebul.

Berhemat adalah hal yang terus menerus saya dan suami lakukan. Saat bisa berhemat, kenapa tidak? Namun, ada satu hal yang tidak boleh dihemat: sedekah. Sesempit apapun kita, ibu saya selalu mengingatkan ‘Jangan pelit bersedekah’. Berikanlah yang terbaik untuk membantu orang lain. Sedekah ini tidak hanya dalam bentuk uang, ya… bisa juga dalam bentuk tenaga, ilmu, bahkan senyum. Percayalah bahwa Allah itu Maha Pemberi. Kalau kita sudah berusaha plus melakukan amal-amal baik, maka Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik.

Saya jadi ingat potongan status dari senior kuliah saya. Ia bercerita tentang kondisinya dan di akhir, ia menulis ‘stop merasa jadi orang paling nelangsa di dunia karena masih banyak orang yang kondisinya lebih buruk di luar sana’. Yap, saya harus banyak-banyak bersyukur karena telah banyak diberi kemudahan. Keinginan saya dan suami banyak yang sudah bisa terwujud. Saya kadang-kadang juga masih takjub bagaimana dalam waktu sangat singkat saya dan suami bisa sampai di sini. Seperti miracle, tapi juga bukan miracle 100% karena kami menyusun rencana, kami berusaha, kami memutar otak agar dapat bertahan. Dan yang terpenting, ya…. Banyak sekali orang-orang lain yang lebih hebat bisa mengatur uang dan kehidupan sedemikian rupa hingga bisa sukses dan bertahan hidup. Ada keluarga dengan tiga anak yang tetap bahagia dengan uang tunjangan beasiswa yang sama jumlahnya dengan mahasiswa single, ada keluarga-keluarga yang tinggal di London (yang amit-amit mahalnya) tapi tetap bisa piknik, ada juga teman yang harus berjuang mengulang ujian tapi akhirnya lulus setelah belajar di kampus hingga larut malam setiap hari, ada juga teman yang ditinggal oleh suaminya tapi tetap tegar menjalani hidup, ada ibu-ibu mahasiswa yang selain harus mengurus anak dan suami (dan mungkin juga harus bekerja) harus belajar dan menulis esai. Semua tergantung tujuan sih. Maunya apa? Tujuannya apa? When there is a will; there is a way, but…. Saya akan coba mengutip kata-kata dari novel yang menurut saya sangat bagus untuk memberi semangat:

“Kemudian yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras serta mulut yang selalu berdoa.” (Donny Dhirgantoro)
Selamat bermimpi dan selamat berusaha!