Mari Namai Emosi

Beberapa minggu yang lalu di awal Easter Holiday, saya bersama keluarga-keluarga Indonesia yang ada di Birmingham berwisata ke Wales. Perjalanan yang ditempuh dari Birmingham hingga sampai ke tempat tujuan cukup jauh dan berliku. Yah, mirip-mirip jalan di Puncak lah. Kami mengendarai bus dan masing-masing keluarga kemudian sibuk dengan obrolan masing-masing. Kebetulan, saya dan suami duduk di depan bangku paling belakang yang berisi sebuah keluarga. Saat itu, saya mendengar sebuah percakapan menarik.

Pemandangan sepanjang perjalanan memang sangat indah. Kami melewati banyak pertanian-pertanian kecil. Anak perempuan yang duduk dibelakang kami asik bernyanyi sambil sesekali mengobrol dengan ibunya. Di salah satu kesempatan, ia sempat berkata “I am happy, mom”. Saya bahagia. Lucu rasanya mendengar seorang anak dapat dengan begitu mudahnya mengelaborasi perasaan dalam ucapan dan tindakannya. Ia menamai emosi yang ia rasakan dengan ‘bahagia’ dan mengekspresikannya dalam nyanyian sepanjang perjalanan.

Lalu seperti biasa, saya yang hobinya terbang ke angan-angan ini langsung berpikir… bisa ya, anak-anak ini menyebutkan nama emosi dengan tepat, sementara orang dewasa saja kadang-kadang kesulitan mengidentifikasi perasaannya. Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu seorang kerabat saya meninggal dunia. Pada saat itu, anaknya yang masih kecil menangis tersedu-sedu. Semua orang kebingungan menghadapi sang anak dan meminta saya untuk ‘mendiamkan’ anak tersebut. Pertanyaan saya, kenapa harus didiamkan? Kalau saya berada di posisi anak tersebut, mungkin saya akan menangis lebih kencang. Tangisan itu adalah refleksi dari perasaannya, bukan? Apa tidak perlu kita mencoba mengerti lebih jauh mengenai perasaan si anak sebelum ‘memaksa’nya untuk berhenti menangis?

Understanding emotion is surely a difficult thing. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa menghayati perasaan, mungkin setiap emosi yang ada langsung diekspresikan lalu kemudian hilang terganti oleh emosi lain atau dihiraukan sampai tidak terasa lagi. Betul kah? Saya mengalami sih, masa-masa saat saya secara impulsif mengekspresikan emosi saya tanpa paham apa sih yang sebetulnya saya rasakan atau tanpa tahu penyebab munculnya emosi tersebut. Sebagai orang Indonesia yang mungkin kebanyakan dididik untuk tidak menunjukkan emosi ekstrim, terutama ekstrim negatif, saya juga mengalami masa-masa saat saya terbiasa menghiraukan emosi saya hingga akhirnya menumpuk dan meledak. Pada akhirnya, saya tidak tahu apa yang saya rasakan dan tidak juga paham apa yang menyebabkan saya merasakan emosi tersebut. Indeed, saya menyadari bahwa kedua cara me-manage emosi tersebut tidak sehat. At least menurut persepsi saya.

Kenapa Za, tergoda menulis tentang hal ini? Karena pada akhirnya saya menyadari bahwa emosi adalah bagian dari hidup manusia yang harus juga loh diberi perhatian. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat untuk menghiraukan atau melebih-lebihkan emosi harus diperbaiki sehingga emosi dan perasaan berada di posisi mereka yang seharusnya. Banyak sekali penelitian yang telah menemukan dampak positif dari kemampuan regulasi emosi? Misalnya, seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang baik memiliki kecenderungan untuk dapat mengontrol diri, fokus pada tujuan, memiliki ketahanan yang baik, dapat menjalin hubungan sosial yang sehat, dan dapat beradaptasi dengan lebih baik di lingkungan. In the long run, kemampuan-kemampuan tersebut bisa memprediksi kesuksesan karir, hubungan sosial yang sehat, dan overall well-being.

Melihat dampak-dampak positif tersebut, saya jadi termotivasi untuk mengeksplor kembali mengenai emosi. Bagi saya yang sudah dewasa (katanya) ini, mencoba berefleksi dan mengerti mengenai emosi semakin penting lagi karena kemampuan orang tua dalam meregulasi emosi akan terlihat oleh anak dan mempengaruhi kemampuan anak dalam meregulasi emosi mereka. Nah, kalau sekarang saja masih kesulitan, bagaimana saya mendidik anak-anak saya nanti? Saya mencoba untuk mulai menghayati emosi dengan satu langkah kecil yang cukup mudah: Mari namai emosi!

Siapa yang bisa menyebutkan sebanyak-banyaknya nama emosi? Semua yang punya HP pasti tau feature emoticon. Ada berpuluh-puluh jenis emoticon, kan? Menggambarkan apa saja ya, mereka? Mungkin mengidentifikasi nama-nama emoticon adalah cara yang bisa dilakukan untuk mulai tahu berbagai jenis emosi. Pada umumnya, ilmuan mengacu pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an dalam menjelaskan emosi dasar manusia. Emosi-emosi tersebut adalah bahagia, terkejut, takut, sedih, marah, dan jijik. Jenis-jenis emosi tersebut kemudian dipopulerkan dalam sebuah film Pixar yang banyak dibicarakan, Inside Out. Saya senang sekali menonton film ini karena insight yang didapat cukup dalam. Selain ngena bagi anak-anak, isi film ini juga bagus sekali untuk ditonton oleh orang dewasa. Anyway, selain emosi dasar, ada juga berpuluh-puluh jenis kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan emosi.

Selesai? Mengetahui nama-nama emosi tentu tidak berarti kita bisa menamai emosi yang kita rasakan. Ekspresi emosi manusia kadang-kadang tercampur, ambigu, dan sulit diidentifikasi. Misalnya, seseorang yang menangis belum tentu sedih, kan? Saya kenal orang-orang yang kalau sedang merasa sangat bahagia juga menangis. Berteriak belum tentu marah, kan? Kadang, teriakan juga bisa berarti takut. Maka, langkah menamai emosi selanjutnya adalah menyadari emosi yang dirasakan lalu menamainya dengan perbendaharaan kata emosi yang sudah dimiliki. Then, penjelasan ‘yaa… gitu deh’ bisa sedikit demi sedikit diganti dengan penjelasan mengenai emosi yang kita rasakan.

Mari namai emosi sehingga kita dapat lebih baik mengenali diri, dapat menjalin hubungan sosial yang sehat, dapat beradaptasi dengan lebih baik, dan tentunya dapat menjadi contoh bagi anak-anak kita nanti. Simple step counts.

Advertisements

What is this feeling?

This is NOT an affectionate text. If you know me well then you might have guessed. Haha!

I talked to my friend, Chysa, a few weeks ago. We were basically in the same situation and we felt the same thing. WE WERE BORED! Yes, we live in a small city in Yorkshire area and for city girls like us, it is different from the life we lived before. But still… we shouldn’t feel that bored.

It was not that we were bored because we have nothing to do. Believe me, we have loads to do. It was more emotional. We both felt like we didn’t feel enough emotion (if there is such a thing). See, if we are happy then we’re not that happy. If we are sad then we’re not that sad. If we’re angry then we’re not that angry. Why??

I suppose balance is the key for everything, right? And what I described before suppose to be balance, am I correct? Happy but not that happy; sad but not that sad… But is there such a thing called balance in terms of emotion? Can we be partially stimulated in our limbic system? Any neuropsychologist?? I wonder… (*brb reading neuro books)

Well, then a few days ago I read this article in the guardian. The writer described differences of the situation in the tube in London and New York. And guess what, the writer found that it is busier, louder, and I suppose more dynamic in New York. The tube is quiet, people are more self-absorbed with their own activities, and there were only a little human interaction in London.

Maybe it is a cultural thing, then? I mean, here in the UK people are more self-conscious, quiet, mannered (?) and therefore those who live in UK may not feel extreme emotion. It is my assumption, really. But hey, which one would you choose? Would you rather feel more extreme emotion even though it may not be always pleasant OR would you choose the so so situation?

I will definitely choose the one where I wouldn’t get bored.

May 21, 2013

Mad at Drunk People

This is a short unimportant blabber.

I was awake at 3 am today. Maybe it was the weather which is getting colder and colder every time or the noise. Yes, the noise. Last night was Saturday night and almost all young people in here went to bars or clubs. As usual, they got drunk and make a lot of noise.

Because I have nothing to do, I text my friend, Tony. He just woke up, which was veeeeery late in Indonesia. Haha. I told him about the noise and how I hate those people. It was like I want to tell them to shut up. His reply surprised me and got me thinking. He said, well, I can’t really translate it in English. He said ‘namanya juga mabok’. Well, in English maybe it can be translated as ‘they ARE drunk and that’s how people behave when they are drunk’.

It wouldn’t made sense if I am mad at those drunk people. They wouldn’t made sense of why people hate them when they made such noise. Then why should I mad at them? This whole thing makes me remember one of my lectures which talked about rights. Yes, rights come with responsibilities and obligations. It is your right to be drunk and it is my right to be able to sleep at night. It is an unending debate though.

I remembered one line in AADC movie (such an old movie) ‘one of us should have more logic or conscience’. Maybe, just maybe, those drunk people should have more conscience not to disturb other people. And maybe, just maybe, I should stop complaining and being mad at them because as Tony said, ‘namanya juga mabok’. And the question now is ‘who’s dumb, then, in this situation?’

See, it is an unimportant short – rather long – blabber.

Dec 02, 2012