Home Away from Home: Pendidikan Anak (Preschool)

Tahapan pertama pendidikan anak di Inggris adalah preschool atau biasa juga disebut dengan nursery. Well, sebenarnya ini bukan pendidikan atau sekolah yang official untuk anak-anak, melainkan ditujukan sebagai tempat memperkenalkan anak tentang suasana dan dunia sekolah, bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, dan lebih mengasah kemampuan dan nilai interpersonal anak. Pendidikan dasar anak dimulai pada umur 5 tahun, tetapi orang tua dapat memutuskan untuk memasukkan anak mereka pada jenjang ini. Nah, minggu ini kami akan membahas lebih dalam tentang preschool. Informasi yang kami sajikan kali ini, merupakan gabungan dari hasil research kami dan hasil wawancara dengan Kak Sondang, seorang warga Indonesia yang tinggal di Birmingham.

Sebenarnya sebelum masuk nursery, jika anda memiliki anak dibawah umur 3 tahun, di Inggris sini ada juga lho alternatif aktivitas yang memang dirancang untuk anak-anak, biasanya disebut toddler time yang biasanya digawangi oleh city council bagian children center dan diadakan di hampir semua perpustakaan. Toddler time ini umumnya hanya berlangsung selama 30 menit dan anda bisa langsung datang bersama buah hati tanpa dipungut biaya. Sebagian besar aktivitasnya adalah story telling, bernyanyi bersama dan berlatih membuat prakarya. Ada lagi yang disebut play and stay, dimana programnya berlangsung lebih lama dibandingkan toddler time, ya sekitar 2 jam, satu kali dalam seminggu. Biasanya stay and play ini diadakan oleh yayasan atau local club dan kegiatannya juga dilengkapi dengan makan bersama, membuat craft sederhana dan ada iuran sekitar GBP 1-2 saja setiap kedatangan. Oh iya, di stay and play ini orang tua harus ikut datang dan menunggui anak-anak hingga selesai.

Bagaimana seandainya anda dan pasangan sama-sama tidak bisa menjaga buah hati karena bentrok dengan jadwal kuliah bekerja? Nah, yang ini tetap ada solusinya yaitu child care atau tempat penitipan anak, tetapi hitungan biayanya memang mahal. Anak-anak bisa dititipkan dalam harian, mingguan, maupun bulanan. Bahkan jika ingin menitipkan hanya setengah hari juga bisa, biasanya child care ini buka dari jam 07:30 pagi hingga pukul 18:00 sore. Biaya yang dipatok cukup menguras tabungan yang  rata-rata berkisar GBP 42 per hari, atau GBP 780 per bulan. Ada pula child care yang tarifnya lebih murah yaitu yang dikelola oleh yayasan atau tempat ibadah, tetapi sebaiknya anda tetap survey terlebih dahulu untuk menentukan cocok tidaknya dengan anak anda. Hampir sama dengan sekolah, penitipan anak inipun memiliki jumlah terbatas, sehingga tetap harus mendaftarkan anak sesegera mungkin dan tergantung ada atau tidaknya kuota.

Sejak usia 3 tahun, anak sudah dapat didaftarkan ke nursery school (mungkin kalau di Indonesia semacam playgroup dan PAUD ya) yang ada di sekitar rumah tinggal anda, dengan jatah 15 jam gratis dalam satu minggu. Sedangkan di kota Birmingham sendiri, sejak tahun 2016 ini, ada peraturan baru yaitu usia minimal anak 2 tahun sudah mendapatkan jatah sekolah gratis tersebut. Sayangnya, jatah sekolah gratis mulai dari 2 tahun ini tidak berlaku bagi para imigran seperti kita. Jadi, warga Indonesia yang ada di Birmingham, dan Inggris pada umumnya, dapat mulai bersekolah 15 jam gratis di usia 3 tahun. Jika dalam satu minggu ada 5 hari kerja, maka anak bersekolah selama 3 jam per hari, dong? Tidak juga. Peraturan setiap sekolah berbeda-beda mengenai arrangement waktu sekolah kelas nursery ini. Ada yang pengaturannya 3 hari setiap hari dalam seminggu, ada yang 3 kali dalam seminggu dengan 2 hari full day (9-15) dan 1 hari setengah hari (9-12), dan lain-lain. Pemilihan hari nya pun bisa anda atur sesuai kebutuhan, tetapi tidak ada jaminan juga pilihan hari masuknya mendapat persetujuan langsung dari pihak sekolah karena tetap akan bergantung pada kuota hari yang available. Lalu apakah hanya dibatasi 15 jam saja? Kalau orang tuanya tetap tidak bisa mengawasi anak-anak di rumah karena kesibukan di kampus atau tempat kerja, bolehkah mengambil lebih dari itu? Ya memang 15 jam tersebut adalah jam gratis yang diberikan dan merupakan standar pemerintah. Jika menginginkan jumlah jam lebih dari itu, diperbolehkan tetapi tentu saja harus membayar biaya tambahan, dan tiap nursery memiliki tarif berbeda-beda.

Karena bukan jenjang sekolah yang resmi, maka pemilihan lokasi sekolah pun tidak diwajibkan untuk memilih yang terdekat jaraknya dengan lokasi rumah tinggal, tetapi tetap dianjurkan demikian untuk mempermudah mobilitas orang tua dalam proses antar jemput si anak. Biasanya sebelum mendaftar, para orang tua mencari informasi terlebih dahulu ke nursery-nursery school yang ada yang menjadi incaran mereka, misalnya untuk mengetahui seperti apa suasana ruang belajar dan bermainnya, fasilitas apa saja yang diperoleh, tools ajar dan bermain apa saja yang ada di nursery tersebut, apakah kira-kira para pengajar memiliki karakter yang cocok dan memiliki jiwa penyayang kepada anak-anak, sampai kepada masih adakah biaya tambahan yang perlu dibayar oleh orang tua. Sebaliknya, pihak sekolah pun berusaha untuk tahu mengenai kebiasaan anak. Ada yang melihat melalui kelas trial yang diikuti oleh anak, ada juga yang memberlakukan home visit sebelum anak mulai sekolah. Waduh, apa pula yang dilakukan saat home visit? Biasanya, pihak sekolah akan melihat kebiasaan sehari-hari anak, budaya di rumah, dan juga pola pengasuhan orang tua. Selain itu, sekolah juga akan bertanya mengenai riwayat kesehatan anak.

Kebanyakan warga Inggris, sudah memulai mendaftarkan anaknya pada nursery yang diinginkan sejak bayi mereka lahir. What? Masa iya bayi baru lahir udah didaftarin sekolah? Begitulah, saking banyaknya jumlah anak dan terbatasnya kuota pada nursery tertentu, hal ini memang sering terjadi demi memperoleh kursi di bangku playgroup nya. Sehingga untuk anda yang baru datang juga jangan lupa untuk mendaftarkan segera anak di nursery yang memang sudah menjadi pilihan. Jika tidak punya waktu untuk survey atau mendatangi nursery, sebaiknya bertanya ke sesama warga Indonesia yang lebih dulu tinggal di sini untuk memperoleh informasi dan mencari tahu nursery mana yang direkomendasikan. Setelah mendaftar, tentu saja yang dilakukan adalah menunggu dari pihak nursery apakah masih terdapat kuota.

State nursery biasanya menyediakan meal atau makan siang untuk siswanya. Makan siang ini disediakan oleh sekolah, tetapi tidak gratis. Biaya penyediaan makanan ini bervariasi dalam range GBP15-30 setiap bulan, dan pilihan makanannya sudah ditentukan oleh sekolah. Bagi anak yang muslim, kemungkinan besar menu makanan utamanya ada yang tidak dapat dimakan karena tidak halal, tetapi ada juga option menu vegetarian sehingga anak tetap bisa bersantap bersama teman-temannya di sekolah. Wah, apa saja menu yang ada di sekolah? Jangan bayangkan makanan seperti di Indonesia, ya. Tidak ada menu nasi goreng dan bubur ayam. Di Inggris, anak-anak dibiasakan untuk makan makanan sehat di sekolah. Biasanya, menu vegetarian terdiri dari pasta atau kentang, sayuran rebus, dan buah. What? Anak saya makan seperti biasa saja sayurnya dipisah, bagaimana dia makan seperti itu di sekolah? Tenang saja, lama-lama anak akan terbiasa, kok. Sejauh ini, makanan tidak terlalu menjadi masalah. Bahkan, kadang-kadang anak pun terbawa pola makan di sekolah dan jadi hobi makan wortel mentah. Hihihi. Selain melatih makan sehat, peraturan makan di sekolah juga baik untuk mendidik anak-anak bersosialisasi dan memupuk kebersamaan diantara mereka, sehingga memang sekolah sepertinya tidak memperkenankan si anak membawa bekal sendiri dari rumah.

Selain urusan makanan, anak-anak juga memerlukan seragam sekolah. Untuk seragam, sekolah biasanya akan menunjuk toko tertentu yang menjual seragam ini, khususnya untuk nursery dengan seragam yang berbeda (memiliki ciri khas tersendiri), dan karenanya harga seragam ini kadang menjadi sedikit mahal. Tetapi, untuk seragam sejuta umat (yang biasanya beberapa nursery menggunakan model dan warna seragam yang sama), anda bisa mendapatkannya di departemen store atau supermarket semacam ALDI dan ASDA yang harganya pasti lebih miring, dan tidak ada badge lambang sekolahnya. Masih juga ingin seragam dengan harga lebih murah? Tenang saja, biasanya ada juga charity shop yang menjual seragam secondhand, bahkan beberapa sekolah tertentu menyediakan seragam bekas namun masih layak pakai ini jika ada orang tua yang menginginkan membelinya dengan harga sangat murah.

Bagaimana aktivitas anak-anak di nursery tersebut? Meskipun saat ini di Indonesia semakin banyak PAUD dan playgroup yang dikelola secara profesional, ternyata nursery di Inggris pun digarap secara lebih profesional, dimana dari awal program dan kurikulum ditetapkan dengan jelas, serta adanya manajemen sekolah yang lebih ketat. Mostly aktivitasnya memang pengenalan anak terhadap kemampuan dasar seperti bahasa, matematika, dan sosialisasi mereka dengan teman sebaya dan yang lebih tua yaitu para pengajar. Kegiatan yang ada didesain semenarik mungkin untuk anak-anak dan diseimbangkan  antara indoor dan outdoor. Selain kegiatan bermain dan belajar di dalam kelas, banyak pula aktivitas yang dilakukan di luar sekolah semisal field trip ke public facilities (perpustakaan, kantor polisi, pasar, kebun binatang), berkunjung ke farm, menonton film bersama, dan kegiatan lain yang mendorong anak untuk lebih cinta kepada alam. Anak-anak juga dibiasakan untuk meminjam buku dari perpustakaan sekolah, sehingga hal ini menanamkan budaya membaca bagi mereka.

Dari sisi pengelolaannya, pihak sekolah melibatkan orang tua terhadap banyak hal mulai dari awal hingga akhir term. Salah satu aspek yang menjadi concern adalah kehadiran si anak, karena pihak sekolah selain ingin membiasakan anak untuk berdisiplin dan bersiap diri memasuki tahapan sekolah yang sebenarnya. Di sini, peran orang tua sangat besar karena setiap hari anak-anak diharapkan sudah hadir 15 menit sebelum kelas dimulai, selain itu orang tua juga harus memberikan alasan apabila anak datang terlambat. Jam menjemput pun diatur oleh sekolah lho, sehingga jika ada orang tua yang telat menjemput, guru akan menanyakan dan meminta keterangan dari orang tua. Jumlah ketidakhadiran juga tidak kalah pentingnya diperhatikan; meminta izin untuk tidak masuk sekolah tidak selalu dikabulkan, kecuali dengan alasan yang sangat penting.

Lalu, adakah pertemuan one-by-one antara guru dan orang tua seperti saat terima raport di Indonesia? Biasanya kalau pun ada, sesi ini bertujuan untuk membahas progress anak. Tentu saja, pada tahapan nursery ini anak-anak tidak memiliki raport yang berisi nilai. Namun, guru memiliki catatan tertulis yang juga dapat diakses oleh pihak sekolah untuk melihat kemampuan anak dan kesiapan si anak untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Tenang saja, anak pasti akan naik kelas. Catatan tersebut hanya digunakan untuk merancang pembelajaran yang tepat bagi anak.

Hal yang cukup sering juga ditanyakan adalah mengenai adaptasi anak di sekolah. Ya, namanya juga anak baru pindah dari Indonesia, masih kecil, dan mungkin belum terbiasa berbahasa Inggris. Bagaimana kondisi mereka saat baru masuk sekolah? Pertama-tama, nursery adalah jenjang pendidikan (agak) wajib pertama di Inggris. Oleh karena itu, kemungkinan besar anak-anak lain pun sedang berada dalam tahap adaptasi yang sama. Jadi, anak kita tidak ‘aneh’ sendiri lah, di kelas. Pihak sekolah biasanya mengizinkan orang tua untuk menemani anak di kelas nursery hingga anak siap untuk ditinggal. Berapa lama tuh? Tergantung anak. Ada yang sehari saja sudah bisa ditinggal, ada yang seminggu, ada pula yang sampai tiga bulan masih harus ditemani oleh orang tua. Jangan khawatir, lama-lama anak akan terbiasa dan bisa bermain sendiri. Sedangkan mengenai masalah bahasa, sejauh yang kami lihat, anak-anak yang terhitung masih kecil ini sangat cepat beradaptasi dengan bahasa. Bahkan kadang-kadang, orang tua pun kesulitan menangkap apa yang diucapkan anak – bukan karena tidak jelas, tetapi karena aksennya sudah British banget.

Dengan sekolah yang hanya 15 jam per minggu dan baru bisa masuk sekolah pada usia 3 tahun, lalu apalagi yang bisa dilakukan oleh anak-anak di Inggris? Banyak sekali fasilitas pendidikan yang ada untuk anak di bawah 5 tahun. Salah satu kegiatan yang paling populer adalah berkunjung ke perpustakaan. Nah, jangan bayangkan perpustakaan di Indonesia yang penuh dengan rak buku dan sunyi senyap. Perpustakaan di Inggris didesain dengan sangat baik sehingga tempatnya nyaman untuk anak-anak. Di setiap perpustakaan, ada bagian khusus anak yang menyediakan banyak sekali buku yang dapat dibaca, dipinjam, bahkan dibeli dengan harga sangat murah (10 pence saja! 2000 rupiah untuk satu buku, dimana lagi bisa dapat buku semurah itu?). Selain membaca, anak-anak juga bisa menghadiri sesi pembacaan cerita dan kegiatan anak yang biasanya diadakan 1-2 kali dalam seminggu. Dijamin, anak-anak akan sangat senang dibawa ke perpustakaan karena pada akhir kegiatan mereka bisa mendapatkan sertifikat, oleh-oleh hasil karya mereka, dan kadang-kadang goodybags.
Nah, sudah dapat gambaran kan tentang preschool di Inggris? Semoga anda sebagai orang tua tidak lagi terlalu panik untuk membawa balita untuk tinggal dan bersekolah di sini. Usai sudah pembahasan kami tentang jenjang preschool kali ini, dan minggu depan kami akan lanjutkan sharing mengenai primary school.

 

Photo source: http://www.asquithnurseries.co.uk/uploads/images/Gallery/Nurseries/Bush-Hill-Park/Carousel/day-care-childcare-nurseries-in-england-bush-hill-park.jpg

Yuk, Berhenti Bercanda tentang Kekerasan pada Anak!

Tulisan kali ini memang agak antimainstream. Di saat orang-orang masih heboh dengan aksi pemboman di beberapa negara, saya memilih topik yang sangat jauh melenceng. Bukan, ini bukan pengalihan isu. Ini juga bukan karena saya tidak peduli pada berita-berita tersebut. My prayer goes to all Muslim brothers and sisters around the world. May Allah always keep you safe. Masalahnya, kok ya saya merasa nggak kompeten untuk menulis tentang isu ini. Sepertinya perlu belajar lebih banyak nih ke Teh Heggy. Hehehe…

Panjang amat ya introductionnya. Anyway… sambil lihat-lihat timeline di media sosial tadi pagi, tiba-tiba diantara banyak berita tentang isu di atas, muncullah satu gambar mengenai kekerasan pada anak yang di-meme-kan. Yah, yang namanya meme kan memang untuk lucu-lucuan, yaa.. Saya tidak punya masalah dengan meme, apalagi kalau memang lucu dan tidak menyinggung golongan tertentu. Nah, kenapa bagi saya si meme pagi tadi jadi masalah? Karena bagi saya, perkara kekerasan pada anak bukanlah hal yang patut dibuat bahan bercanda, apalagi di media sosial. Sama halnya dengan isu pemerkosaan atau sexual abuse/harassment. Ya, kalau ada aktivis perempuan pastinya mereka marah kalau korban pemerkosaan atau korban sexual harassment lalu digadang-gadang di media sosial untuk ditertawakan, kan? Lalu…. Kenapa kekerasan pada anak boleh dijadikan lucu-lucuan?

First of all, isu kekerasan pada anak ini secara spesifik kasusnya adalah siswa yang dicubit atau mengalami hukuman fisik dari para guru di sekolah. Where do I stand? I am not into corporal punishment. Bagi saya, hukuman fisik apapun ya namanya kekerasan pada anak (kecuali kalau siswanya lalu cengengesan dan malah kesenengan dihukum, macam dulu dijemur di lapangan sekelas). Ya memang batas toleransi seorang anak terhadap kekerasan berbeda-beda, tapi kalau mau buat standar individualis macam itu pasti susah lah. So, no corporal punishment, baik yang dilakukan oleh guru dan orang tua. Ya, jangan mentang-mentang ‘itu anak saya’ jadi boleh seenaknya. Perlu diingat juga ‘anak itu titipan Allah’ jadi ya mosok udah dikasih hadiah yang tak ternilai harganya oleh Sang Pencipta lalu mau disia-siakan juga?

Second of all, bukan berarti kita boleh memperbolehkan anak melakukan apa pun yang ia mau tanpa memperhatikan rambu-rambu peraturan, norma, dan budaya yang berlaku. Jadi, pendidikan mengenai disiplin juga perlu. Anak juga ya harus tahu bahwa apa yang ia lakukan itu benar atau salah. Nggak dipukul bukan berarti nggak disiplin, kan? Saya rasa sih, asalkan dari kecil sudah ditanamkan, baik dengan perkataan maupun contoh (dan yang paling penting adalah contoh), harusnya kedisiplinan tidak menjadi masalah.

Third of all, saya tidak lalu mengecilkan profesi guru. Gini-gini saya juga (mantan) guru loh. Jadi, saya pun mengerti kesalnya, gemesnya, bahkan geramnya perasaan guru yang muridnya agak-agak nyeleneh. Saya nggak terlalu setuju kalau si guru yang melakukan tindakan kekerasan itu lalu langsung dilaporkan ke polisi. Mungkin orang tuanya bisa bertemu dulu dengan guru? Lalu, menurut saya sih, guru itu harus dihormati, baik oleh siswa maupun oleh orang tua murid. Jadi, perlawanan-perlawanan dari siswa yang mengalami kekerasan fisik harusnya tidak menurunkan hormat kita pada bapak dan ibu guru. Ingat saja bahwa perilaku mereka (yang melakukan kekerasan) itu salah, tapi mereka juga manusia yang bisa salah dan khilaf (ciee kaya Mamah Dedeh gw…).

Terus solusinya apa? Disclaimer: ini solusi ala-ala saya, berdasarkan ilmu yang cimit dan pengalaman yang juga cimit.

Pertama, pendidikan disiplin berasal dari rumah. Intinya sih, jangan serahkan pendidikan pertama anak pada guru. Lagi-lagi, guru juga manusia yang anaknya super banyak di kelas. Mana ibu-ibu yang anaknya 3 dan kadang-kadang mau melambaikan bendera putih??? 3 anak saja kadang-kadang rempong, gimana ibu bapak guru yang setiap hari (kecuali weekend dan libur) anaknya minimal 25? Jadi, penanaman disiplin pertama dan paling efektif ya harus dilakukan oleh orang tua. Gimana cara mendidiknya? Sok di googling aja yaa… Sudah banyak sekali ahli yang bicara tentang hal ini (ngasih solusinya setengah-setengah ya, gw…). Namun, bagi saya, yang paling penting sih mendidik melalui contoh. Suka lucu kalau orang tua marah-marah karena lagi-lagi dipanggil ke sekolah karena anaknya sering telat, tapi mereka sendiri datang ke pertemuan pun telat. Hehehe… Yah no wonder lah anaknya begitu…

Kedua, sepertinya bapak ibu guru pun harus belajar banyak. Pertama, belajar mengelola emosi. Ih, nggak enak banget mengajar pada saat sedang sangat marah atau sedang sangat kesal. Lelah hayati! Jadi, supaya si emosi ini tidak diekspresikan dengan salah atau malah ditujukan ke orang yang salah (pernah nggak sih, ada orang yang marahnya sama siapa tapi malah bentak-bentak kita? Bete, kan?), bapak dan ibu guru (juga orang tua) perlu tahu bagaimana diri mereka bisa menangani emosi. Pendekatan bagi masing-masing orang pasti berbeda-beda. Saya misalnya, biasanya mencoba untuk sendiri dulu, atau mencoba untuk menulis atau mengerjakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Atau justru, saya berusaha fokus pada materi pembelajaran sehingga terlupakan lah dulu si emosi mengganggu pada saat bertemu dengan anak. Kedua, guru juga harus belajar alternatif disiplin lain, selain hukuman fisik. Saya masih ingat diajarkan oleh tempat saya dulu bekerja mengenai disiplin positif. Intinya sih, mengenalkan anak pada konsekuensi logis dari suatu tindakan. Misalnya, tidak mengerjakan PR ya berarti kehilangan nilai. Guru hanya mengingatkan, tapi kalau si anak tidak mengerjakan maka itu adalah tanggung jawab si anak. Hukumannya apa? Hukumannya nilai yang tidak maksimal. Dalam hal ini, intervensi guru sangat sedikit. Fungsi guru hanya mengingatkan dan menegaskan. Berhasil? Pada kasus guru-guru yang tegas dan konsisten, cara ini berhasil. Siswa belajar dengan tenang, tugas dikumpulkan, ujian pun nilainya memuaskan. Gurunya di awal memang ‘dicap’ galak dan menakutkan, tapi setelah sama-sama mengerti, siswa bisa berinteraksi dengan baik dengan guru sambil tetap menghormati guru tersebut. Oh ya, di sekolah ini pun, orang tua juga tahu betul mengenai praktik disiplin positif yang diterapkan sehingga diharapkan mereka juga bisa menerapkannya di rumah. Jadi, ada semacam kesepakatan antara sekolah dan orang tua sehingga pendidikan anak bisa sejalan.

Ketiga, ini sih untuk orang-orang semacam saya dan mungkin Anda yang jadi latar belakang tim hore-hore isu ini. Bukan pelaku langsung dan tidak terkait langsung. Namun, kita juga bisa punya andil besar untuk membawa perubahan dalam hal kekerasan pada anak. Mudah-mudahan, perubahannya pun yang positif, ya… Nah, sebagai tim hore-hore, biasanya yang dilakukan adalah berkomentar. Komentar apapun yang dikeluarkan, semoga melalui proses pemikiran yang matang sehingga tidak menyinggung salah satu pihak dan tidak memperkeruh suasana. Termasuk halnya dengan bercanda. Rasanya, tipe kasus seperti kekerasan pada anak ini tidak patut dibercandai. Menurut saya, melecehkan profesi guru dan membahayakan luasnya pemikiran bahwa ‘ah, kekerasan itu hal yang biasa dan bisa dibuat bercanda’. Bahaya juga apabila diterima oleh anak tanpa ada penjelasan yang memadai. Nanti kasusnya seperti di UK ini, dimana anak bisa seenaknya melaporkan orang tuanya (ya, bahkan orang tuanya) ke social service karena ia tidak suka. Ya memang sih, si generasi 90an ke atas yang mengalami hukuman fisik lalu berpikir ‘kayaknya dulu gw begitu tapi nggak segitunya, manja amat sih itu anak dan orang tua’. Tapi, bukankah yang salah ya tetap salah walaupun dulu kita ‘terima-terima saja’ diperlakukan seperti itu? Lagi pula, ketahanan fisik dan mental kan tidak diukur oleh banyaknya hukuman fisik yang diterima?

Yah, ini tulisan sekedar mengingatkan saja bahwa apa-apa yang kita ucapkan dan lakukan bisa berdampak sesuatu. Daripada memperkeruh atau memperburuk suasana, yuk coba pikirkan dulu apa yang akan kita ucapkan atau tuliskan, dan juga apa yang kita jadikan bahan bercanda. Kalau kita bisa teriak-teriak ‘tidak etis itu menertawakan dan membuat korban pemerkosaan jadi bahan bercanda’, kenapa kita tidak mengingatkan juga bahwa perilaku menertawakan dan membuat kasus kekerasan terhadap anak jadi bahan bercandaan juga tidak etis.

Baiklah! Sambil di ujung bulan Ramadhan ini, saya mau libur menulis sebentar. Semoga bisa kembali lagi dengan tulisan-tulisan lain. Eid Mubarak! Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Ramadhan kali ini bisa menambah kualitas keimanan kita dan semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan di tahun depan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

 

Photo Source: http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1425390169.jpg

Menjadi Advokat bagi Anak

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman SMP sempat dihebohkan oleh pemberitaan mengenai kelas akselerasi di SMP kami yang akan ditutup pada tahun ajaran mendatang. Sebagai mantan siswa kelas akselerasi, kami merasa tidak nyaman. Muncul banyak pertanyaan mengenai pertimbangan penutupan kelas ini. Yah, bagi kami yang memiliki ikatan emosional dengan kelas akselerasi, tentu inginnya program ini tetap ada. Namun, bagaimana sih sebenarnya program akselerasi ini? Benarkah berdampak negatif? Atau benarkah berdampak positif?

Siswa yang menjalani program akselerasi biasanya tergolong sebagai anak berbakat. Konsep anak berbakat ini sendiri masih juga cukup problematik karena pengukuran bakat dan inteligensi sendiri ada banyak sekali jenisnya. Selain itu, keberbakatan seseorang ternyata belum tentu berbanding lurus denga kesuksesannya di masa depan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak yang mengikuti program akselerasi memiliki kebutuhan khusus. Salah satu teman SMP saya bahkan sampai bilang, ‘wah, aksel aja kita sempet nakal yaa.. kaya nggak ada kerjaan aja isengnya. apalagi kalau nggak aksel? gabut banget kayanya deh’. Bukan sombong, tapi memang begitulah keadaan saya dan teman-teman sekelas saya di akselerasi SMP. Kami belajar, kami sibuk dengan tugas dan ujian, tapi kami juga sempat bermain dan berkreasi (alias kadang-kadang nakal dan iseng juga). Bagaimana jadinya anak-anak yang memiliki kebutuhan ekstra untuk distimulasi secara kognitif ini terpenuhi kebutuhannya di kelas reguler?

Opini yang cukup populer saat ini, termasuk juga yang sependapat dengan saya, adalah mengenai sekolah dan kelas inklusi. What? Bukannya inklusi itu untuk anak-anak berkebutuhan khusus? Nah, disinilah letak kesalahan pandangan mengenai arti konsep inklusi dalam pendidikan yang umumnya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Sekolah inklusi berarti sekolah yang dapat memberikan pelayanan sesuai kebutuhan siswa, bagaimana pun karakteristik siswa tersebut. Jadi, inklusi tidak hanya ditujukan bagi anak berkebutuhan khusus (ya toh anak berbakat juga termasuk dalam golongan anak berkebutuhan khusus), tapi juga bagi anak-anak dengan kondisi tertentu, seperti anak-anak dari golongan menengah ke bawah, pekerja anak, anak jalanan, anak bilingual, dan lain-lain.

Adanya sekolah inklusi dapat menggantikan segala program akselerasi, SLB, dan sekolah singgah karena pelayanan pendidikan yang diberikan akan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu. Masalahnya, menjalankan pendidikan inklusi ini tidak mudah. Rasanya, Indonesia masih harus banyak melakukan improvement agar dapat menjalankan pendidikan inklusi yang menyeluruh. Selama ini belum bisa dilakukan? PR bagi orang tua dan guru untuk dapat memenuhi kebutuhan anak.

Nah,itu baru pendahuluannya. Iyaaakk panjang kali itu pendahuluan. Sekali-sekali lah ya… Masih berhubungan dengan akselerasi juga, beberapa bulan yang lalu saya juga sempat membaca tulisan salah satu orang tua yang mengimbau orang tua lain untuk tidak menyertakan anak-anak mereka di program akselerasi karena dianggap merusak masa kecil anak demi memenuhi kebutuhan prestis orang tua. Hehehe… Saya cukup tertawa saja membaca ini. Selain cerita saya dan teman-teman SMP yang bahagia-bahagia saja meskipun menjalani program akselerasi, saya dan suami datang dari keluarga akselerasi yang juga baik-baik saja. Kami ikut program tersebut bukan karena paksaan dari orang tua melainkan karena motivasi pribadi. Salahkah jika anak yang ingin ikut program akselerasi kemudian dilarang oleh orang tua?

Hmmmm… Saya belum menjadi orang tua. However, I’ve learnt a great deal of parenting, how to be a parent, child development, dan tentang pendidikan anak. Yang membaca artikel ini boleh kok berkomentar ‘Ya situ belum jadi orang tua, nggak tau susahnya sih’. Hehe… Pengalaman saya memang pastinya minim, tapi saya pernah mengajar anak yang sungguh sangat kecil hingga remaja-remaja galau. Jadi, saya menulis ini berdasarkan pengalaman saya yang seadanya itu.

Berkaitan dengan topik di atas, rasanya kita perlu mengingat kembali salah satu peran dari guru dan orang tua, yaitu sebagai advokat bagi anak. What kind of thing is that?

Peran orang tua dan guru sebagai advokat berarti mereka berfungsi sebagai penjembatan antara kebutuhan anak dengan hal yang dapat memenuhi kebutuhan anak. Misalnya, anak membutuhkan stimulasi kegiatan fisik karena ia memiliki energi yang cukup banyak dan senang berkegiatan fisik. Orang tua sebagai advokat bertugas untuk ‘membaca’ dan ‘mengerti’ kebutuhan anak tersebut. Hal ini tidak mudah dilakukan karena anak-anak masih perlu bantuan dalam menyampaikan keinginannya. Bagi anak-anak yang belum bisa berbicara, maka orang tua perlu jeli memperhatikan perilaku dan tanda-tanda yang diberikan oleh anak. Setelah orang tua mengetahui kebutuhan tersebut, tugasnya adalah mencari sumber pemenuhan kebutuhan anak. Dalam contoh ini, orang tua dapat mengajak anak ke taman untuk bermain, mengikutkan anak ke kegiatan olah raga, atau mengajak anak berenang. Bebas, tergantung minat anak dan orang tua serta kemampuan orang tua.

Wah, jadi seluruh kemauan anak perlu dipenuhi? No. Kebutuhan anak perlu dipenuhi. Ingat, orang tua dan guru juga memiliki peran sebagai pendidik. Oleh karena itu, jangan lupakan juga fungsi sebagai ‘penyaring’ norma, nilai, dan moral. Hal tersebut tentunya disesuaikan dengan keyakinan yang dianut oleh orang tua, sekolah, serta masyarakat sekitar.

Kok kelihatannya anak jadi ‘raja’ ya, disini? Hmmm… sebenarnya tidak juga. Disini, anak berada di pusat pengasuhan. Bukankah begitu ibu-ibu? Parenting is about the child, not about the parents, right? Kalau kita mau yang terbaik bagi anak, jangan lupakan bahwa yang menjalankan keinginan-keinginan orang tua adalah anak. Ya, harus menyadari juga bahwa kita (orang tua dan guru) dan anak adalah entitas yang berbeda. Yang kita mau, belum tentu mereka mau. Yang menurut kita baik, belum tentu menurut mereka baik. Tentunya, ini tidak diterapkan dalam hal-hal prinsip bagi masing-masing orang tua, seperti misalnya agama bagi saya.

Jadi, instead of ‘saya melakukan semua ini demi anak’ tapi apa-apa yang dilakukan dan yang diputuskan berasal dari pemikiran, pendapat, dan kehendak orang tua, mengapa tidak kita coba dengarkan apa sih pendapat anak-anak kita? Mereka juga punya suara, pemikiran, dan pendapat, loh! Mereka punya kebutuhan yang mungkin berbeda dengan kebutuhan kita.

Hiyah, panjang banget ya tulisan ini. Tapi semoga dimengerti. I am far from an expert, this is merely what I know. Semoga kita bisa menjadi orang tua dan guru yang lebih baik bagi anak-anak kita!