Home Away from Home: Pendidikan (Secondary School & High School)

Minggu ini, giliran pendidikan tingkat menengah yang akan kami bahas, sebagai lanjutan dari seri penjelasan pendidikan anak di Inggris. Seperti edisi sebelumnya, untuk menambah keakuratan informasi yang disajikan, selain melakukan riset sederhana, kami juga melakukan wawancara dengan seorang warga Indonesia yang tinggal di Birmingham dan memiliki putri yang bersekolah di secondary school, yaitu mbak Ari Kristiana. Secondary school ini jika di Indonesia akan setara dengan tingkat SMP dan SMA kelas 7-11, sehingga bagi anda yang memiliki putra-putri dengan rentang umur 11-16 tahun, maka anda bisa menyimak pembahasan yang akan kami paparkan berikut. Bagaimana dengan anak usia 17 tahun? Di Indonesia, anak usia 17-18 masih ada di tingkat kelas 12 SMA. Namun, Inggris memiliki sistem high school yang agak berbeda. Anak lulus SMA pada usia 16 tahun dan pada usia 17 tahun mereka dapat memilih untuk langsung bekerja, masuk ke college (dengan syarat mendapatkan sertifikat A level agar dapat mendaftar ke universitas), atau mengikuti kelas khusus untuk mendapatkan sertifikat tertentu.

Pendaftaran Sekolah

Sistem pendaftaran sekolah, secara umum memang sama saja seperti pada nursery maupun primary school, yaitu memerlukan dokumen berupa akta kelahiran dan bukti alamat tempat tinggal. Eligible atau tidaknya anak untuk masuk ke level secondary ini, tetap akan didasarkan pada sudah cukupkah usia calon murid tersebut sesuai yang disyaratkan. Selain itu, sistem rayon juga berlaku disini, dimana calon murid akan dialokasikan pada sekolah dengan jarak terdekat dari tempat tinggal.

Sama juga dengan primary school, pendaftaran bisa dilakukan online. Bagi Anda yang akan tinggal di Inggris dan Wales, website ini: https://www.gov.uk/apply-for-secondary-school-place bisa digunakan untuk menemukan cara pendaftaran secondary school di area tempat tinggal Anda.

Perlengkapan Sekolah

Lagi-lagi mirip dengan apa yang diterapkan di primary school, perlengkapan sekolah di secondary school pun mirip-mirip. Meskipun buku tulis disediakan oleh masing-masing sekolah, alat-alat tulis yang akan digunakan anak harus dibeli sendiri oleh orang tua. Seperti biasa, buku paket rujukan pun disediakan oleh sekolah dengan sistem ‘pinjaman’. Jadi, anak-anak tidak diharuskan memiliki text book atau buku paket.

Selain itu, seragam juga merupakan perlengkapan sekolah yang cukup penting. Seragam sekolah umumnya bisa didapat di toko-toko atau supermarket, sedangkan sweater atau setelan jas (ya, beberapa SMP di Inggris memiliki seragam berupa setelan jas lengkap dengan dasi) bisa dibeli di sekolah masing-masing. Pada jenjang ini, karena jumlah barang bawaan juga lebih banyak, sekolah membebaskan siswa untuk membawa tas yang sesuai dengan pilihan pribadi. Seluruh jenjang pendidikan wajib di Inggris memberlakukan sistem full day, dimana siswa berada di sekolah mulai dari sekitar pukul 08.45 hingga 15.30. Oleh karena itu, makanan adalah hal yang wajib disediakan, baik oleh sekolah maupun orang tua. Biasanya, siswa SMP bisa membawa bekal dari rumah atau membeli makan di kantin sekolah. Mirip ya, dengan di Indonesia. Tentunya harga setiap jenis makanan berbeda-beda. Bagi Muslim, beberapa sekolah menyediakan pilihan menu halal sehingga tidak perlu khawatir apabila tidak membawa makan siang.

Kurikulum dan Kegiatan Sekolah

Secara umum, kurikulum dibagi menjadi dua yaitu Key Stage 3 untuk sekolah year 7-9, dan Key Stage 4 untuk year 10-11. Mata pelajaran wajib untuk kedua tingkat tersebut adalah Matematika, English (writing dan reading), dan Science.

Jumlah mata pelajaran yang dipelajari di Key Stage 3 adalah yang paling banyak diantara jenjang pendidikan lain. Pelajaran-pelajaran wajib tersebut adalah Art and Design, Citizenship, Design and Technology (misalnya tata boga, tata busana, dan pertukangan), Languages (bahasa asing selain Inggris), Computing, Geography, History, Music, dan Physical Education (olahraga). Seperti biasa, Religious Education adalah mata pelajaran wajib, ditambah dengan Sexual Education bagi siswa SMP-SMA. Mata pelajaran yang kami sebutkan merupakan panduan general yang isinya akan tergantung sekolah masing-masing. Misalnya, ada sekolah yang menentukan tata boga sebagai isi mata pelajaran Design and Technology, atau menentukan bahasa Perancis dan bahasa Spanyol sebagai isi dari mata pelajaran Languages.

Bagaimana dengan Key Stage 4? Pada jenjang ini, selain tiga mata pelajaran wajib di atas, siswa juga akan mendapatkan Religious Education, Sexual Education, Citizenship, Computing, PE, salah satu dari pelajaran Arts (Music, Art and Design, Drama, Media Arts, Dance), Design and Technology, salah satu dari pelajaran Humanities (History, Geography), dan salah satu dari pelajaran Languages (bahasa asing yang ditawarkan oleh masing-masing sekolah).

Biasanya, sekolah akan menetapkan target nilai pada awal term berdasarkan pencapaian anak di akhir studinya di jenjang primary school. Nah, ketika ada siswa yang merupakan non-UK dan baru masuk sekolah Inggris pada level secondary, pihak sekolah akan sedikit kesulitan untuk menentukan target nilai karena tidak memiliki dasar nilai jenjang sekolah sebelumnya, sehingga tidak jarang target yang ditetapkan untuk anak tersebut tergolong cukup rendah.

Sekolah di Inggris berbeda dengan sekolah di Indonesia, dimana sekolah di sini memang lebih banyak menekankan kepada praktek daripada teori. Di level secondary ini, seperti halnya jenjang pendidikan sebelumnya, kegiatan di dalam dan luar sekolah juga di seimbangkan porsinya. Misalnya saat anak sedang diajarkan materi science, maka pihak sekolah akan memberikan jadwal dimana anak akan diajak berkunjung ke museum science untuk lebih mengenalkan mereka terhadap objek yang sedang diajarkan.

Untuk menunjang kelancaran belajar siswa, setiap anak juga diberikan school planner book oleh pihak sekolah yang gunanya untuk mempermudah siswa mengorganisir homework dan juga membantu komunikasi antara orang tua dan pengajar. Melalui school planner book ini, murid juga diajarkan untuk dapat berlatih bertanggung jawab atas aktivitas belajar apa yang mereka kerjakan di sekolah dan di rumah. Setiap hari, anak diharuskan mencatat homework apa saja yang diberikan dan juga memberikan tick mark untuk pe er yang telah selesai dikerjakan. Kemudian, seminggu sekali, orangtua murid harus menandatangani school planner ini sebagai tanda kontrol dan monitoring terhadap belajar anak. Pengajar pun akan melakukan pengecekan berkala terhadap isi dan pemeliharaan buku tersebut oleh siswa.

Selain melalui planner book, orang tua juga dilibatkan dalam monitoring progress perkembangan siswa di sekolah. Orang tua mempunyai hak untuk bertemu dengan guru setidaknya satu kali dalam setahun. Pertemuan ini dilakukan untuk membahas perkembangan anak dan waktunya tidak harus di akhir tahun. Jadi, tidak seperti di Indonesia, report tidak harus diambil oleh orang tua. Terkadang, report diberikan melalui anak atau sudah tersedia online. Disamping satu pertemuan wajib, orang tua bisa saja meminta pertemuan khusus dengan guru untuk membahas hal-hal tertentu. Biasanya, perjanjian dan komunikasi seperti ini dilakukan melalui email.

Evaluasi Belajar

Adapun penilaian yang diberikan oleh sekolah di Inggris sangat lengkap, meliputi bagaimana effort dan attitude siswa terhadap pelajaran tersebut. Dalam report yang diberikan dari sekolah, disajikan urut setiap mata pelajaran dan sangat jelas tertulis pendapat dari masing-masing guru yang mengajar setiap pelajaran tentang bagaimana siswanya melakukan effort untuk bisa mengikuti pelajaran yang ada, termasuk pujian dan masukan untuk perkembangan anak pada term berikutnya. Meskipun begitu, di Inggris, anak-anak akan selalu naik kelas, hanya saja mungkin ada yang hasil nilai akhirnya di bawah atau di atas target yang telah ditentukan.

Tidak seperti di Indonesia dimana ujian dilakukan pada akhir masa SMP (kelas 9) dan akhir masa SMA (kelas 10), di Inggris, ujian dilakukan sepanjang kelas 10-11. Wah, mungkin juga ini alasannya mengapa pelajaran di Key Stage 4 lebih sedikit dibandingkan pelajaran di Key Stage 3. Sistem ujiannya pun berbeda dengan yang dilakukan di Indonesia. Pada akhir masa sekolah wajib, siswa di Inggris akan mengikuti ujian final yang disebut GCSE  (General Certificate of Secondary Education). Ujian ini terdiri dari 9 mata pelajaran dengan Math, English, dan Science sebagai mata pelajaran wajib. Lalu 6 pelajaran sisanya dapat dipilih sendiri oleh siswa pada awal kelas 9. Jadi, di kelas 9 siswa sudah memiliki gambaran mengenai pelajaran apa yang akan ia tempuh ujiannya. Ketiga pelajaran wajib tersebut akan diujikan dalam bentuk exam, ya semacam UAN di Indonesia. Namun, exam ini bukanlah satu-satunya metode yang diberlakukan sebagai dasar pengambilan nilai dalam GCSE. Pelajaran Science, misalnya, memulai ujian GCSE di kelas 10 yang tesnya dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang beragam bentuknya, nah penilaian semacam ini dikenal dengan control assessment. Oh ya, waktu pengambilan GCSE ini juga disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak. Jadi, ada siswa yang mulai ujian GCSE di kelas 10 dan ada juga yang mulai ikut ujian GCSE di kelas 11. Apa gunanya nilai GCSE? Tentunya bukan untuk menentukan kelulusan, ya.. Hehe. Setelah selesai menempuh GCSE ini, usai sudah wajib belajar untuk siswa di Inggris, dan mereka pada tahap ini sudah eligible untuk melamar pekerjaan. Tentu saja semakin baik nilai GCSE nya, semakin terbuka lebar pula kesempatan mencari pekerjaan. Waah.. bisa anda bayangkan bukan jika dalam usia 16 tahun saja anak-anak di Inggris sudah harus mulai menentukan masa depan mereka apakah akan kuliah atau bekerja?

Bagaimana jika setelah lulus GCSE anak ingin melanjutkan kuliah? Nah, ternyata ujian GCSE saja tidak cukup, melainkan harus melanjutkan ke sixth-form atau jenjang A-level selama dua tahun dan terdiri dari year 12 dan 13. Sixth-form ini sudah bukan lagi merupakan wajib belajar ya, tetapi tetap akan gratis dari biaya, untuk yang melanjutkan di state school atau state college. Subject yang dipilih untuk pendidikan A-level ini sebaiknya sudah harus ditentukan dari awal agar sesuai dengan minat atau keinginan mereka akan kuliah di bidang apa di collegenya nanti.

 

Dengan berakhirnya sharing tentang secondary school ini, maka selesai juga pembahasan kami tentang pendidikan anak di Inggris. Dengan semua plus minus yang ada dalam sistem pendidikan di sini, maka kini giliran anda memutuskan apakah akan membawa serta anak dan menyekolahkannya di Inggris. Meskipun terlihat sepele, tidak ada salahnya lho mempersiapkan anak anda terutama dari segi mental dan jika memungkinkan penggunaan bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Harapannya, ketika sampai di sini, anak-anak lebih cepat beradaptasi baik dengan lingkungan, sistem, dan komunikasi di sekolah yang baru. Yakin saja bahwa anak anda pasti mampu kok catch-up dengan sekolahan di sini.

Photo Source: http://images4.content-bc.com/commimg/eduk/article/4070.jpg

Advertisements

Home Away from Home: Pendidikan (Primary School)

Pembahasan minggu ini merupakan postingan lanjutan untuk seri pendidikan anak di Inggris yang akan lebih rinci menjelaskan tentang reception dan primary school. Untuk anda yang membawa serta anak dengan rentang usia 4-11 tahun, maka rasanya perlu untuk mencermati hal-hal terkait dengan jenjang pendidikan dasar ini. Tulisan ini, lagi-lagi, kami sampaikan dengan dasar pencarian dokumen-dokumen terkait pendidikan SD dari pemerintah UK (https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/210969/NC_framework_document_-_FINAL.pdf) dan Birmingham City Council (http://www.birmingham.gov.uk/online-admissions) serta hasil wawancara kami dengan Mbak Lutvi Suroya, seorang warga Indonesia yang tinggal di Birmingham yang memiliki 3 orang anak yang bersekolah di jenjang sekolah dasar. Berikut ini penjelasan kami.

 

Pendahuluan

Sekolah dasar, atau primary school, dimulai dari jenjang kelas Reception hingga Year 6. Reception class mungkin semacam TK B apabila disandingkan dengan sistem pendidikan dasar di Indonesia. Kelas ini berfungsi sebagai kelas transisi antara TK (Nursery) dan SD (Year 1). Ada beberapa sekolah yang menamai fase mulai dari Reception hingga Year 2 sebagai ‘Infant School’. Setelah itu, siswa kelas 3-6 berada pada tahap ‘Junior School’. Nah, perpindahan dari Infant School ke Junior School pun membutuhkan proses ulang pendaftaran sekolah. Ya, jadi anggap saja tahap SD ini dibagi menjadi 2.

 

Mendaftarkan Anak ke Sekolah Dasar

Beberapa state primary school biasanya juga mempunyai nursery dan reception dalam satu manajemen, meskipun terkadang ada pula yang letak bangunannya terpisah. Dalam hal ini, jika putra-putri anda sudah bersekolah di nursery dan ingin melanjutkan di jenjang primary school yang sama, maka anak tidak bisa otomatis masuk dan diakui status kesiswaannya, melainkan tetap harus melakukan pendaftaran ulang dan mengikuti tahapan screening untuk level reception yang ada. Sistem pendaftaran pun menganut siapa cepat dia dapat, alias kuota yang tersedia tetap terbatas dan bergantung kepada siapa yang terlebih dahulu mendaftar. Memang ada kecenderungan adanya prioritas bagi calon murid yang berasal dari nursery yang sama, akan tetapi anda tetap tidak boleh terlalu pede ya, karena kemungkinan tidak diterima juga tetap ada. Apabila anda datang ke Inggris pada tengah-tengah tahun ajaran baru, anda tetap bisa datang ke sekolah dan mencoba mendaftar. Setelah mendaftar, dan apabila diterima, maka pihak sekolah akan memberitahukan via telepon. Beberapa sekolah juga akan mengeset jadwal home visit untuk mengetahui kebenaran keberadaan tinggal anak dengan keluarga, melihat keseharian anak, serta membicarakan tentang peraturan sekolah dan makanan.

Sebaiknya mendaftar sekolah sejak dari Indonesia atau setelah sampai di Inggris? Nah, sebenarnya urusan sekolah anak ini juga tidak terlalu ribet kok ya, asalkan anda sudah mencari informasi sebelumnya. Jadi, saran kami sih, sebaiknya datang dan sampai dulu disini, kemudian setelah mendapat rumah tinggal baru mendaftar sekolah. Dengan begitu, selain anda dan anak bisa sedikit beradaptasi dengan suasana dan lingkungan sekitar, kemungkinan mendapatkan sekolah yang lebih dekat dengan lokasi rumah juga lebih besar. Meskipun demikian, jika anda tetap ingin mendaftar sejak sebelum sampai di Inggris, tidak mengapa. Namun, anda harus siap dengan risiko kehilangan kursi karena sekolah pasti akan mendahulukan calon murid yang mendaftar dan sudah berdomisili di lokasi terdekat.

Seperti yang telah disebutkan di atas, untuk mendaftarkan anak ke sekolah tertentu, Anda bisa langsung datang ke sekolah tersebut dan berbicara dengan pihak sekolah. Namun, beberapa tahun belakangan ini, pendaftaran sekolah sudah bisa dilakukan secara online. Hal ini tentu memudahkan orang tua karena tidak perlu mendatangi satu per satu sekolah tujuan (in case anak tidak diterima di sekolah tujuan utama). Melalui sistem online, anak akan langsung dirujuk ke sekolah terdekat dengan rumah dan apabila kuota sekolah tersebut telah penuh, secara otomatis anak akan dipindahkan ke sekolah lain yang terdekat dengan lokasi rumah.

Dokumen apa saja yang diperlukan pada saat mendaftarkan anak ke sekolah? Sederhana. Tidak seperti sistem pendaftaran sekolah di Indonesia yang mengharuskan orang tua menyiapkan belasan dokumen serta menyiapkan anak untuk ikut tes, di Inggris, mendaftarkan anak ke sekolah hanya membutuhkan akte kelahiran anak serta bukti yang menunjukkan alamat tempat tinggal. Akte kelahiran digunakan untuk mengetahui usia anak, yang berkaitan dengan jenjang kelas anak, sedangkan bukti tempat tinggal digunakan untuk mengetahui apakah benar anak tersebut mendaftar di sekolah yang memang dialokasikan untuk daerah tempat tinggal tersebut. Selain itu, orang tua juga diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dari internet apabila mendaftar online atau dari sekolah langsung apabila langsung mendaftar ke sekolah. Ingat, tidak ada pungutan biaya sepanjang proses pendaftaran ini, ya.

 

Perlengkapan Sekolah

Awal masuk sekolah bagi anak identik dengan berbelanja perlengkapan sekolah, seperti buku, tas, sepatu, dan lain-lain. Di inggris, perlengkapan yang diperlukan diantaranya adalah seragam sekolah. Seragam sekolah, selain melalui online shopping, tersedia juga di toko-toko yang umum seperti ASDA, Tesco, dan sesekali di ALDI dengan harga standar. Selain itu, seragam sekolah dapat juga dibeli di departemen store menengah ke atas seperti di Mark & Spencer, debenhams, dan BHS, tentunya dengan harga yang lebih mahal. Selain itu, siswa sekolah di Inggris juga dianjurkan untuk memakai sepatu hitam yang juga bisa diperoleh di supermarket tersebut di atas. Namun, ada juga perlengkapan sekolah yang harus dibeli di sekolah karena ada badge atau logo sekolah sebagai penanda identitas. Barang-barang tersebut adalah tas sekolah, dan jumper atau cardigan. Cukup sudah acara beli-beli perlengkapan sekolah di Inggris. Bagaimana dengan buku?

Peralatan belajar seperti alat tulis dan buku pelajaran sepenuhnya difasilitasi gratis dari sekolah, dimana siswa akan dipinjami buku ajar sesuai dengan materi yang diajarkan selama di sekolah. Pada akhir kelas, peralatan tersebut akan disimpan di sekolah pada rak yang ditentukan sesuai dengan nama mereka, lalu siswa hanya akan membawa pulang buku untuk homework dan latihan saja. Buku pelajaran yang free ini khusus untuk buku ajar wajib saja. Artinya, jika orang tua merasa perlu untuk mencarikan buku tambahan di luar buku materi utama, maka dipersilahkan untuk membelinya secara bebas di toko buku. Selain buku pelajaran, para siswa akan diberikan pinjaman buku sebagai bahan bacaan selama di rumah, dimana setiap minggunya buku cerita ini akan dikembalikan untuk memperoleh buku yang lain, dan anak-anak bebas memilih judul buku sesuai keinginan mereka. Dengan begitu, diharapkan minat baca anak akan meningkat dan wawasannya bertambah karena mereka dapat membaca beragam judul buku secara kontinyu.

Sama halnya seperti kelompok nursery, siswa primary school juga diwajibkan membawa bekal makanan (meal) untuk makan siang bersama di sekolah. Sebenarnya sekolah menawarkan paket meal gratis untuk year 1-2 saja, sedangkan untuk year 3 dan seterusnya orangtua harus membayar sekitar GBP 11-15 untuk penyediaan makan selama satu minggu. Menu yang disediakan sebenarnya tidak mengandung olahan daging, akan tetapi untuk murid yang muslim, anda bisa menanyakan apakah disediakan opsi menu halal atau vegetarian. Namun, jika tetap kurang yakin dengan kehalalannya dan juga agar bisa lebih berhemat, murid diperkenankan membawa bekal sendiri dari rumah.

 

Kegiatan Sekolah

Kurikulum dan Pelajaran

Mengenai kurikulum, siswa Reception mengikuti kurikulum yang disebut EYFS (Early Years Foundation Stage), siswa kelas 1-2 mengikuti kurikulum yang disebut Key Stage 1, dan siswa kelas 3-6 mengikuti kurikulum yang disebut Key Stage 2. Apa sih yang dipelajari di kurikulum-kurikulum tersebut?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, kelas reception digunakan sebagai jembatan antara TK dan SD. Oleh karena itu, siswa di kelas ini masih “bermain”, tetapi juga mulai serius belajar. Di kelas ini, siswa mulai belajar membaca dan menulis, walaupun porsi-nya masih tergolong sedikit. Di kelas ini, siswa dibebaskan untuk memilih kegiatan yang ia inginkan, meskipun kadang-kadang guru memimpin siswa dalam belajar sesuatu, misalnya matematika. Pada sebagian besar hari, siswa terlihat ‘bermain-main’ saja di dalam kelas. Jadi, tidak ada jadwal pelajaran atau buku tugas bagi siswa. Mereka bisa memilih apa yang ingin mereka lakukan sepanjang hari. Namun,  guru-guru sigap melakukan observasi dan mencatat kemajuan siswa dalam bidang-bidang tertentu, seperti dalam hal sosialisasi dan kemandirian. Catatan hasil observasi ini lah yang digunakan untuk melaporkan kemajuan siswa.

Perbedaan antara Key Stage 1 dan Key Stage 2 terletak pada pendekatan guru dalam proses pembelajaran. Tentunya, karena perbedaan usia anak, guru bisa mengatur seberapa banyak kontrol yang ia berikan di dalam kelas. Anak-anak di jenjang Key Stage 2 diberikan lebih banyak kebebasan untuk mengatur proses pembelajaran mereka sendiri. Tugas-tugas yang diberikan lebih menantang dan menuntut mereka untuk lebih banyak berpikir secara kritis dan kreatif. Namun, dalam hal mata pelajaran, keseluruhan jenjang SD memiliki mata pelajaran wajib yang sama. Ada tiga mata pelajaran wajib yang harus diberikan oleh semua sekolah, yaitu English (membaca dan menulis), Math, dan Science. Selain itu, setiap sekolah wajib memberikan pelajaran Religious Education (RE). Nah, ini bukan pelajaran agama seperti di Indonesia, ya. Dalam RE, siswa belajar semua agama, tapi bukan dari perspektif praktik dan internalisasi nilai, melainkan dari sisi sejarah. Selain pelajaran utama, sekolah dapat memilih beberapa dari pelajaran tambahan yang terdiri dari computing, creative arts, humanities, citizenship, design and technology, languages (bahasa asing), geography, music, dan physical education (pendidikan jasmani). Jadi, mata pelajaran yang didapatkan oleh siswa bisa saja berbeda di setiap sekolah.

Metode Belajar dan PR

Lalu, bagaimana proses pembelajaran di dalam kelas? Di Inggris, metode yang digunakan dalam belajar adalah metode tematik. Jadi, bagi Anda yang sudah merasakan kurikulum 2013, mungkin ini agak-agak mirip. Di setiap term, guru memilih satu tema yang dijadikan acuan untuk mengarahkan pembelajaran. Setiap mata pelajaran juga akan mengacu dan membahas tema tersebut. Meskipun struktur di dalam kelas cukup fleksibel, guru tetap memiliki jadwal pelajaran. Hal ini juga membedakan antara Reception dan Primary. Lagi-lagi, siswa adalah pusat pembelajaran sehingga guru tidak banyak ‘berceramah’ di depan kelas, tetapi siswa banyak melakukan kegiatan dan mengarahkan proses belajar mereka sendiri.

Oh iya, di sini anak tidak banyak mendapatkan pe er (homework), bahkan bisa dibilang sangat jarang. Biasanya saat libur half-term tiba, anak akan diberikan pekerjaan rumah dengan harapan untuk mengisi waktu luang dan tetap menjaga rutinitas belajar selama liburan. Bagi anak-anak yang memiliki bahasa ibu non-Inggris, biasanya pada saat baru saja pindah sekolah, anak diberikan agak lebih banyak PR. Hal ini berguna untuk mengakselerasi adaptasi anak dalam berbahasa Inggris. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu terlalu khawatir anak tidak bisa mengejar ketertinggalan karena mereka juga di-support oleh sekolah.

Kegiatan Sekolah

Kegiatan siswa diseimbangkan antara di dalam maupun luar sekolah, dan pelaksanaanya mengikuti topik yang sedang di sampaikan di dalam kelas. Misalnya, saat materi sains diajarkan, akan ada kegiatan mengunjungi museum sains. Topik tentang geologi dan lingkungan akan dilengkapi dengan kunjungan anak ke taman flora dan fauna atau kebun binatang, dilanjutkan lagi dengan kegiatan menonton film bersama bioskop dengan tema pengetahuan alam. Hal ini cukup menarik bagi siswa, karena dengan begitu mereka memperoleh gambaran secara utuh baik dari sisi materi tertulis maupun penerapan melalui sisi praktikal (teknis). Selain kegiatan di luar sekolah, fasilitas penunjang belajar anak yang disediakan juga sangat bagus, misalnya untuk memperdalam skill bermain alat musik, anak-anak diperbolehkan meminjam dan membawa pulang salah satu instrumen untuk berlatih di rumah. Waah, sungguh menakjubkan mengetahui bahwa sekolah di sini memiliki totalitas yang luar biasa dalam hal penyediaan fasilitas dan pengelolaannya.

Jika di Indonesia terdapat banyak ekstrakurikuler, di Inggris juga ada kegiatan di luar jam sekolah yang biasa disebut after school club. Kegiatan ini tidak wajib, tetapi jika siswa ingin turut serta, biasanya akan dikenai biaya sebesar GBP1-3 setiap event. Anak-anak bisa berlatih gardening, art, musik, dan bisa berlatih drama maupun kegiatan lain yang sifatnya dilakukan mengasah nilai teamwork mereka.

 

Evaluasi Pembelajaran

Sistem penilaian yang diterapkan di sekolah di Inggris sangat fair. Artinya, berimbang antara usaha dan hasil akhir yang dicapai anak didik sehingga apabila ada anak yang hasil akhirnya tidak terlalu tinggi, guru akan melihat sejauh mana effort yang dilakukan dan dari situ akan ada penilaian untuk mengapresiasi proses yang ditempuh oleh siswa. Sebagai contoh, ada anak yang bahasa utama nya bukan bahasa Inggris, biasanya pencapaian untuk reading dan writing akan berada di bawah temannya yang menggunakan English sebagai bahasa utamanya, namun karena sikap dan antusiasme anak yang besar untuk belajar dalam materi ini, maka effort nya bisa jadi akan diapresiasi sangat baik oleh para pengajar. Rapor yang diberikan akan mencakup penjelasan detail untuk masing-masing pelajaran baik wajib maupun tambahan, termasuk bagaimana sikap anak, kekurangan dan kelebihan mereka dalam menghadapi mata pelajaran yang ada.

 

Hubungan Sekolah dan Orang Tua

Sama halnya dengan yang terjadi di Indonesia, sekolah juga berusaha untuk melibatkan orang tua dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Oleh karena itu, keaktifan orang tua dalam menghadiri acara-acara tersebut sangat diharapkan. Gunanya, selain agar terbangun komunikasi antara sekolah dan orang tua juga untuk membuat anak lebih bersemangat karena melihat orang tua terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ia ikuti.

Pertemuan sekolah dan orang tua biasanya terjadi di awal tahun ajaran. Rapat orang tua, atau parent’s meeting, digunakan sebagai sarana pengenalan orang tua dengan sekolah dan sebagai media sosialisasi berbagai kebijakan sekolah. Pada acara ini, orang tua dapat bertanya dan berinteraksi dengan guru serta orang tua lain. Orang tua juga dapat menyatakan concern mereka terhadap suatu isu. Apabila ada keluhan atau aspirasi yang ingin disampaikan diluar rapat orang tua, biasanya orang tua dapat berkomunikasi dengan guru dan sekolah melalui email atau dengan datang langsung ke sekolah. Pertemuan tatap muka antara orang tua dan guru juga terjadi pada saat penerimaan ‘rapor’ anak. Pada sesi ini, guru akan memberikan laporan mengenai perkembangan anak dan orang tua juga dapat bertanya mengenai hal tersebut pada guru.

Keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar juga ditunjukkan melalui kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan anak dan orang tua. Biasanya, orang tua diundang untuk datang menonton pertunjukan musik atau drama yang dilakukan oleh anak-anak. Selain itu, beberapa sekolah juga memiliki waktu khusus ‘assembly’ yang digunakan oleh siswa untuk menunjukkan hal yang telah mereka pelajari di kelas. Penampilan ini dapat dilihat oleh orang tua. Selain itu, ada juga bazaar dan hari olahraga yang juga membutuhkan partisipasi orang tua. Kali ini, orang tua tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga sebagai peserta. Nah, jangan harap kegiatan-kegiatan ini akan sering diadakan di akhir pekan. Seringnya, orang tua harus ‘izin’ dari pekerjaan di siang hari untuk dapat berpartisipasi. Oleh karena itu, siapkan diri untuk meluangkan waktu menghadiri acara-acara ini.

 
Ternyata cukup banyak juga ya, hal baru dan berbeda mengenai pendidikan di sekolah dasar di Inggris. Kami berharap tulisan ini dapat membantu memberikan gambaran bagi Anda yang akan datang membawa anak berusia SD. Minggu depan, kami akan kembali dengan artikel mengenai pendidikan jenjang sekolah menengah atas. Nantikan ya!

 

Photo source: http://www.talklist.co.uk/wp-content/uploads/2014/09/Primary-Schools-in-UK.jpg

Home Away from Home: Pendidikan Anak (Preschool)

Tahapan pertama pendidikan anak di Inggris adalah preschool atau biasa juga disebut dengan nursery. Well, sebenarnya ini bukan pendidikan atau sekolah yang official untuk anak-anak, melainkan ditujukan sebagai tempat memperkenalkan anak tentang suasana dan dunia sekolah, bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, dan lebih mengasah kemampuan dan nilai interpersonal anak. Pendidikan dasar anak dimulai pada umur 5 tahun, tetapi orang tua dapat memutuskan untuk memasukkan anak mereka pada jenjang ini. Nah, minggu ini kami akan membahas lebih dalam tentang preschool. Informasi yang kami sajikan kali ini, merupakan gabungan dari hasil research kami dan hasil wawancara dengan Kak Sondang, seorang warga Indonesia yang tinggal di Birmingham.

Sebenarnya sebelum masuk nursery, jika anda memiliki anak dibawah umur 3 tahun, di Inggris sini ada juga lho alternatif aktivitas yang memang dirancang untuk anak-anak, biasanya disebut toddler time yang biasanya digawangi oleh city council bagian children center dan diadakan di hampir semua perpustakaan. Toddler time ini umumnya hanya berlangsung selama 30 menit dan anda bisa langsung datang bersama buah hati tanpa dipungut biaya. Sebagian besar aktivitasnya adalah story telling, bernyanyi bersama dan berlatih membuat prakarya. Ada lagi yang disebut play and stay, dimana programnya berlangsung lebih lama dibandingkan toddler time, ya sekitar 2 jam, satu kali dalam seminggu. Biasanya stay and play ini diadakan oleh yayasan atau local club dan kegiatannya juga dilengkapi dengan makan bersama, membuat craft sederhana dan ada iuran sekitar GBP 1-2 saja setiap kedatangan. Oh iya, di stay and play ini orang tua harus ikut datang dan menunggui anak-anak hingga selesai.

Bagaimana seandainya anda dan pasangan sama-sama tidak bisa menjaga buah hati karena bentrok dengan jadwal kuliah bekerja? Nah, yang ini tetap ada solusinya yaitu child care atau tempat penitipan anak, tetapi hitungan biayanya memang mahal. Anak-anak bisa dititipkan dalam harian, mingguan, maupun bulanan. Bahkan jika ingin menitipkan hanya setengah hari juga bisa, biasanya child care ini buka dari jam 07:30 pagi hingga pukul 18:00 sore. Biaya yang dipatok cukup menguras tabungan yang  rata-rata berkisar GBP 42 per hari, atau GBP 780 per bulan. Ada pula child care yang tarifnya lebih murah yaitu yang dikelola oleh yayasan atau tempat ibadah, tetapi sebaiknya anda tetap survey terlebih dahulu untuk menentukan cocok tidaknya dengan anak anda. Hampir sama dengan sekolah, penitipan anak inipun memiliki jumlah terbatas, sehingga tetap harus mendaftarkan anak sesegera mungkin dan tergantung ada atau tidaknya kuota.

Sejak usia 3 tahun, anak sudah dapat didaftarkan ke nursery school (mungkin kalau di Indonesia semacam playgroup dan PAUD ya) yang ada di sekitar rumah tinggal anda, dengan jatah 15 jam gratis dalam satu minggu. Sedangkan di kota Birmingham sendiri, sejak tahun 2016 ini, ada peraturan baru yaitu usia minimal anak 2 tahun sudah mendapatkan jatah sekolah gratis tersebut. Sayangnya, jatah sekolah gratis mulai dari 2 tahun ini tidak berlaku bagi para imigran seperti kita. Jadi, warga Indonesia yang ada di Birmingham, dan Inggris pada umumnya, dapat mulai bersekolah 15 jam gratis di usia 3 tahun. Jika dalam satu minggu ada 5 hari kerja, maka anak bersekolah selama 3 jam per hari, dong? Tidak juga. Peraturan setiap sekolah berbeda-beda mengenai arrangement waktu sekolah kelas nursery ini. Ada yang pengaturannya 3 hari setiap hari dalam seminggu, ada yang 3 kali dalam seminggu dengan 2 hari full day (9-15) dan 1 hari setengah hari (9-12), dan lain-lain. Pemilihan hari nya pun bisa anda atur sesuai kebutuhan, tetapi tidak ada jaminan juga pilihan hari masuknya mendapat persetujuan langsung dari pihak sekolah karena tetap akan bergantung pada kuota hari yang available. Lalu apakah hanya dibatasi 15 jam saja? Kalau orang tuanya tetap tidak bisa mengawasi anak-anak di rumah karena kesibukan di kampus atau tempat kerja, bolehkah mengambil lebih dari itu? Ya memang 15 jam tersebut adalah jam gratis yang diberikan dan merupakan standar pemerintah. Jika menginginkan jumlah jam lebih dari itu, diperbolehkan tetapi tentu saja harus membayar biaya tambahan, dan tiap nursery memiliki tarif berbeda-beda.

Karena bukan jenjang sekolah yang resmi, maka pemilihan lokasi sekolah pun tidak diwajibkan untuk memilih yang terdekat jaraknya dengan lokasi rumah tinggal, tetapi tetap dianjurkan demikian untuk mempermudah mobilitas orang tua dalam proses antar jemput si anak. Biasanya sebelum mendaftar, para orang tua mencari informasi terlebih dahulu ke nursery-nursery school yang ada yang menjadi incaran mereka, misalnya untuk mengetahui seperti apa suasana ruang belajar dan bermainnya, fasilitas apa saja yang diperoleh, tools ajar dan bermain apa saja yang ada di nursery tersebut, apakah kira-kira para pengajar memiliki karakter yang cocok dan memiliki jiwa penyayang kepada anak-anak, sampai kepada masih adakah biaya tambahan yang perlu dibayar oleh orang tua. Sebaliknya, pihak sekolah pun berusaha untuk tahu mengenai kebiasaan anak. Ada yang melihat melalui kelas trial yang diikuti oleh anak, ada juga yang memberlakukan home visit sebelum anak mulai sekolah. Waduh, apa pula yang dilakukan saat home visit? Biasanya, pihak sekolah akan melihat kebiasaan sehari-hari anak, budaya di rumah, dan juga pola pengasuhan orang tua. Selain itu, sekolah juga akan bertanya mengenai riwayat kesehatan anak.

Kebanyakan warga Inggris, sudah memulai mendaftarkan anaknya pada nursery yang diinginkan sejak bayi mereka lahir. What? Masa iya bayi baru lahir udah didaftarin sekolah? Begitulah, saking banyaknya jumlah anak dan terbatasnya kuota pada nursery tertentu, hal ini memang sering terjadi demi memperoleh kursi di bangku playgroup nya. Sehingga untuk anda yang baru datang juga jangan lupa untuk mendaftarkan segera anak di nursery yang memang sudah menjadi pilihan. Jika tidak punya waktu untuk survey atau mendatangi nursery, sebaiknya bertanya ke sesama warga Indonesia yang lebih dulu tinggal di sini untuk memperoleh informasi dan mencari tahu nursery mana yang direkomendasikan. Setelah mendaftar, tentu saja yang dilakukan adalah menunggu dari pihak nursery apakah masih terdapat kuota.

State nursery biasanya menyediakan meal atau makan siang untuk siswanya. Makan siang ini disediakan oleh sekolah, tetapi tidak gratis. Biaya penyediaan makanan ini bervariasi dalam range GBP15-30 setiap bulan, dan pilihan makanannya sudah ditentukan oleh sekolah. Bagi anak yang muslim, kemungkinan besar menu makanan utamanya ada yang tidak dapat dimakan karena tidak halal, tetapi ada juga option menu vegetarian sehingga anak tetap bisa bersantap bersama teman-temannya di sekolah. Wah, apa saja menu yang ada di sekolah? Jangan bayangkan makanan seperti di Indonesia, ya. Tidak ada menu nasi goreng dan bubur ayam. Di Inggris, anak-anak dibiasakan untuk makan makanan sehat di sekolah. Biasanya, menu vegetarian terdiri dari pasta atau kentang, sayuran rebus, dan buah. What? Anak saya makan seperti biasa saja sayurnya dipisah, bagaimana dia makan seperti itu di sekolah? Tenang saja, lama-lama anak akan terbiasa, kok. Sejauh ini, makanan tidak terlalu menjadi masalah. Bahkan, kadang-kadang anak pun terbawa pola makan di sekolah dan jadi hobi makan wortel mentah. Hihihi. Selain melatih makan sehat, peraturan makan di sekolah juga baik untuk mendidik anak-anak bersosialisasi dan memupuk kebersamaan diantara mereka, sehingga memang sekolah sepertinya tidak memperkenankan si anak membawa bekal sendiri dari rumah.

Selain urusan makanan, anak-anak juga memerlukan seragam sekolah. Untuk seragam, sekolah biasanya akan menunjuk toko tertentu yang menjual seragam ini, khususnya untuk nursery dengan seragam yang berbeda (memiliki ciri khas tersendiri), dan karenanya harga seragam ini kadang menjadi sedikit mahal. Tetapi, untuk seragam sejuta umat (yang biasanya beberapa nursery menggunakan model dan warna seragam yang sama), anda bisa mendapatkannya di departemen store atau supermarket semacam ALDI dan ASDA yang harganya pasti lebih miring, dan tidak ada badge lambang sekolahnya. Masih juga ingin seragam dengan harga lebih murah? Tenang saja, biasanya ada juga charity shop yang menjual seragam secondhand, bahkan beberapa sekolah tertentu menyediakan seragam bekas namun masih layak pakai ini jika ada orang tua yang menginginkan membelinya dengan harga sangat murah.

Bagaimana aktivitas anak-anak di nursery tersebut? Meskipun saat ini di Indonesia semakin banyak PAUD dan playgroup yang dikelola secara profesional, ternyata nursery di Inggris pun digarap secara lebih profesional, dimana dari awal program dan kurikulum ditetapkan dengan jelas, serta adanya manajemen sekolah yang lebih ketat. Mostly aktivitasnya memang pengenalan anak terhadap kemampuan dasar seperti bahasa, matematika, dan sosialisasi mereka dengan teman sebaya dan yang lebih tua yaitu para pengajar. Kegiatan yang ada didesain semenarik mungkin untuk anak-anak dan diseimbangkan  antara indoor dan outdoor. Selain kegiatan bermain dan belajar di dalam kelas, banyak pula aktivitas yang dilakukan di luar sekolah semisal field trip ke public facilities (perpustakaan, kantor polisi, pasar, kebun binatang), berkunjung ke farm, menonton film bersama, dan kegiatan lain yang mendorong anak untuk lebih cinta kepada alam. Anak-anak juga dibiasakan untuk meminjam buku dari perpustakaan sekolah, sehingga hal ini menanamkan budaya membaca bagi mereka.

Dari sisi pengelolaannya, pihak sekolah melibatkan orang tua terhadap banyak hal mulai dari awal hingga akhir term. Salah satu aspek yang menjadi concern adalah kehadiran si anak, karena pihak sekolah selain ingin membiasakan anak untuk berdisiplin dan bersiap diri memasuki tahapan sekolah yang sebenarnya. Di sini, peran orang tua sangat besar karena setiap hari anak-anak diharapkan sudah hadir 15 menit sebelum kelas dimulai, selain itu orang tua juga harus memberikan alasan apabila anak datang terlambat. Jam menjemput pun diatur oleh sekolah lho, sehingga jika ada orang tua yang telat menjemput, guru akan menanyakan dan meminta keterangan dari orang tua. Jumlah ketidakhadiran juga tidak kalah pentingnya diperhatikan; meminta izin untuk tidak masuk sekolah tidak selalu dikabulkan, kecuali dengan alasan yang sangat penting.

Lalu, adakah pertemuan one-by-one antara guru dan orang tua seperti saat terima raport di Indonesia? Biasanya kalau pun ada, sesi ini bertujuan untuk membahas progress anak. Tentu saja, pada tahapan nursery ini anak-anak tidak memiliki raport yang berisi nilai. Namun, guru memiliki catatan tertulis yang juga dapat diakses oleh pihak sekolah untuk melihat kemampuan anak dan kesiapan si anak untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Tenang saja, anak pasti akan naik kelas. Catatan tersebut hanya digunakan untuk merancang pembelajaran yang tepat bagi anak.

Hal yang cukup sering juga ditanyakan adalah mengenai adaptasi anak di sekolah. Ya, namanya juga anak baru pindah dari Indonesia, masih kecil, dan mungkin belum terbiasa berbahasa Inggris. Bagaimana kondisi mereka saat baru masuk sekolah? Pertama-tama, nursery adalah jenjang pendidikan (agak) wajib pertama di Inggris. Oleh karena itu, kemungkinan besar anak-anak lain pun sedang berada dalam tahap adaptasi yang sama. Jadi, anak kita tidak ‘aneh’ sendiri lah, di kelas. Pihak sekolah biasanya mengizinkan orang tua untuk menemani anak di kelas nursery hingga anak siap untuk ditinggal. Berapa lama tuh? Tergantung anak. Ada yang sehari saja sudah bisa ditinggal, ada yang seminggu, ada pula yang sampai tiga bulan masih harus ditemani oleh orang tua. Jangan khawatir, lama-lama anak akan terbiasa dan bisa bermain sendiri. Sedangkan mengenai masalah bahasa, sejauh yang kami lihat, anak-anak yang terhitung masih kecil ini sangat cepat beradaptasi dengan bahasa. Bahkan kadang-kadang, orang tua pun kesulitan menangkap apa yang diucapkan anak – bukan karena tidak jelas, tetapi karena aksennya sudah British banget.

Dengan sekolah yang hanya 15 jam per minggu dan baru bisa masuk sekolah pada usia 3 tahun, lalu apalagi yang bisa dilakukan oleh anak-anak di Inggris? Banyak sekali fasilitas pendidikan yang ada untuk anak di bawah 5 tahun. Salah satu kegiatan yang paling populer adalah berkunjung ke perpustakaan. Nah, jangan bayangkan perpustakaan di Indonesia yang penuh dengan rak buku dan sunyi senyap. Perpustakaan di Inggris didesain dengan sangat baik sehingga tempatnya nyaman untuk anak-anak. Di setiap perpustakaan, ada bagian khusus anak yang menyediakan banyak sekali buku yang dapat dibaca, dipinjam, bahkan dibeli dengan harga sangat murah (10 pence saja! 2000 rupiah untuk satu buku, dimana lagi bisa dapat buku semurah itu?). Selain membaca, anak-anak juga bisa menghadiri sesi pembacaan cerita dan kegiatan anak yang biasanya diadakan 1-2 kali dalam seminggu. Dijamin, anak-anak akan sangat senang dibawa ke perpustakaan karena pada akhir kegiatan mereka bisa mendapatkan sertifikat, oleh-oleh hasil karya mereka, dan kadang-kadang goodybags.
Nah, sudah dapat gambaran kan tentang preschool di Inggris? Semoga anda sebagai orang tua tidak lagi terlalu panik untuk membawa balita untuk tinggal dan bersekolah di sini. Usai sudah pembahasan kami tentang jenjang preschool kali ini, dan minggu depan kami akan lanjutkan sharing mengenai primary school.

 

Photo source: http://www.asquithnurseries.co.uk/uploads/images/Gallery/Nurseries/Bush-Hill-Park/Carousel/day-care-childcare-nurseries-in-england-bush-hill-park.jpg

University 101: Independent Learning (2)

Setelah bagian pertama feels like a thousand days ago, mari kita lanjutkan seri tulisan tentang University 101 ini. Sekedar mengingatkan, seri ini sengaja saya tulis untuk teman-teman yang akan berkuliah (S1 maupun S2) untuk memberikan gambaran mengenai study skills yang dibutuhkan saat menjadi mahasiswa, terutama di universitas non-Indonesia. Namun, harusnya sih isinya pun relevan bagi teman-teman yang akan berkuliah di universitas di Indonesia. Framework artikel ini didasarkan pada sebuah online course yang saya ikuti mengenai preparing for university.

Beberapa minggu yang lalu, saya membahas mengenai the art of asking questions. Kali ini, salah satu aspek penting dalam kehidupan mahasiswa di universitas adalah independent learning. Ya, sudah besar dan dewasa (harusnya) membuat mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam memastikan keberhasilan studi-nya.

Saya jadi ingat, seminggu lalu sebuah daerah di Birmingham ‘kekeringan’ karena ada water pipe burst. Hal ini menyebabkan ada sekolah yang diliburkan karena tidak ada supply air bersih. Namanya juga musibah, pemberitahuan libur sekolah baru dilakukan oleh pihak sekolah di pagi hari, saat anak-anak sudah bersiap berangkat sekolah. Lucunya, seorang anak kawan saya menangis cukup drama karena ia sedih tidak jadi berangkat sekolah. Dasar anak-anak yaa… Sekolah membuat bahagia. Kalau kita? Hahaha…. Mungkin ada yang merasa sekolah tidak menyenangkan? Libur jadi momen yang ditunggu-tunggu?

Hmmm… harusnya sih kalau kuliah tetap semangat untuk masuk kelas ya? Mengapa? Karena harusnya kan kuliah sesuai dengan topik atau bidang yang diminati. We should be interested in what we learn in the university. Mari dicek artikel saya sebelumnya: https://theadventureofizzao.com/2016/03/27/salah-jurusan/. Kalau semangatnya harus sama dengan si anak kecil yang ingin sekali bersekolah, ada hal yang berbeda tentang libur. Bagi mahasiswa, tidak ada kelas bukan berarti tidak belajar. Whaaaat?

Pertama-tama, saya akan menjelaskan mengenai sistem belajar di universitas di UK (dan mungkin banyak negara lain). Ada isitlah yang disebut sebagai ‘contact time’. Apakah itu? Contact time berarti waktu yang dialokasikan bagi mahasiswa untuk bertemu dengan dosen. Nah, contact time ini dihitung sejumlah jam dalam satu minggu. Contact time di setiap jurusan dan jenjang pendidikan pun berbeda-beda. Ada jurusan-jurusan yang contact time-nya sedikit, seperti jurusan English Literature, Drama, dan Music (8-15 jam per minggu). Namun, ada juga jurusan yang memiliki banyak contact time, seperti International Relation dan jurusan-jurusan Social Science (20-28 jam per minggu). Bagaimana dengan jurusan Science? Biasanya mahasiswa yang mengambil jurusan Science memiliki contact time yang sedang, dengan proporsi lab work yang cukup besar. Misalnya, 15 jam contact time dan 15 jam lab work per minggu. Biasanya, ada 3 jenis pertemuan mahasiswa dengan dosen, yaitu lecture, seminar, dan tutorial. Apa bedanya? Lecture adalah kuliah, seperti kelas kuliah di Indonesia. Mahasiswa dalam satu kelas ada banyak dan biasanya dosen memegang kendali dalam memberikan penjelasan tentang suatu topik. Seminar dilakukan dalam kelompok yang lebih kecil dari lecture, dan biasanya student-based. Jadi, mahasiswa harus aktif berdiskusi, mengerjakan tugas, dan melakukan case study. Project-project pun biasanya dikerjakan selama seminar ini. Terakhir, tutorial adalah pertemuan individual satu mahasiswa dengan dosen. Biasanya, alokasi waktu ini didapatkan pada jenjang tingkat akhir S1 atau pada saat S2. Mahasiswa memiliki hak untuk bertemu dengan dosen selama sekian jam pada masa kuliah berlangsung. Hak, ya, bukan kewajiban. Jadi, mahasiswa lah yang harus menuntut haknya dengan membuat appointment dengan dosen karena dosen tidak akan mengejar-ngejar Anda untuk bertemu. Yekaliii, macam artis aja.

Wah, nggak adil dong? Ada yang kuliahnya banyak tapi ada juga yang sedikit? Nah, keadilan itu ada di independent learning. Teman-teman yang memiliki contact hour sedikit, pasti tugasnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan teman-teman yang contact hour-nya banyak. Sebagai perbandingan, saat S2 saya memiliki contact hour 10 jam per minggu. Tugas saya ada essay 500 kata setiap minggu dan essay 6000 kata x 5 mata kuliah untuk dikumpulkan di akhir term. Suami saya memiliki contact time 20 jam per minggu dengan case study untuk setiap mata kuliah dan essay 2500 kata x 6 mata kuliah untuk dikumpulkan di akhir term. Otomatis, waktu yang saya sisihkan untuk independent learning (mengerjakan tugas) pun jadi bisa make up the difference antara contact hour saya dan contact hour suami saya. Intinya sih, sama-sama belajar!

Oke, lalu apa yang dilakukan di waktu kosong tersebut? Seperti yang sudah dijelaskan, kita bisa mengerjakan tugas, membaca bahan kuliah (reading list), dan melakukan revision. Jangan dikira hal-hal tersebut memakan waktu singkat, ya. Ini bukan SMA yang bisa ngerjain PR sebelum bel di sekolah. Hihi. semua hal tersebut memakan considerable amount of time. Jadi, alokasikan lah waktumu dengan baik. Mari kita bahas masing-masing kegiatan tersebut!

Mengerjakan tugas

Apa sih tugasnya mahasiswa? Ada banyak sekali jenis tugas yang diberikan pada mahasiswa. Kita bisa diminta untuk menulis essay, merancang dan membuat project, atau lab work. Jenis tugas biasanya tergantung jurusan yang dipilih. Biasanya, kita sudah bisa tahu tugas apa saja yang akan kita kerjakan di pertemuan kuliah pertama. Jadi, tidak seperti PR di sekolah yang ‘ujug-ujug’ diberikan, saat kuliah ini kita bisa ancang-ancang untuk mengerjakan tugas di awal masa perkuliahan. Tugas yang diberikan pun bisa berupa tugas individu atau tugas kelompok. Keduanya membutuhkan effort yang besar. Misalnya, tugas kelompok butuh kekompakan, kerja sama, dan kolaborasi dengan teman-teman sekelompok. Saat berkuliah di tempat dengan mahasiswa yang background budaya-nya berbeda, kita pun harus bisa fleksibel dan bertoleransi. Ini PR yang besar dan cukup menantang untuk dijalani. Kalau tidak mampu bekerja sama dengan baik, maka nilai kita lah yang dikorbankan. Berbeda dengan tantangan pada tugas kelompok, tugas individu membuat kita harus bersusah-susah sendiri. Jadi, banyak waktu dihabiskan di perpustakaan atau di kamar untuk membaca dan menulis. Kebosanan, godaan untuk bermain, dan kecenderungan prokrastinasi adalah tantangannya. Oleh karena itu, motivasi dan time management skills sangat dibutuhkan, terutama apabila ada banyak tugas yang harus diselesaikan dalam satu waktu.

Membaca bahan kuliah

Kegiatan lain yang bisa dilakukan saat kita tidak harus masuk kelas adalah membaca bahan kuliah. Biasanya, mahasiswa telah diberikan reading list di awal masa kuliah. Reading list ini ada yang wajib dan ada juga yang sunnah (additional). Nah, kalau yang wajib saja sudah sebareg, gimana dengan yang sunnah? Oleh karena itu, saya biasanya menyisihkan waktu khusus untuk membaca reading list dan bahan kuliah. Oh ya, kalau kuliah di luar negeri, tidak bisa lagi seperti kuliah di Indonesia yang cukup membaca slide dari dosen, ya. Hahaha… Nilai kita bisa berantakan kalau mengandalkan slide kuliah dosen. Biasanya, slide kuliah dijadikan panduan mengenai topik apa yang wajib dibaca di buku. Jadi, bahkan sebelum masuk kuliah pun si slide kuliah sudah penuh dengan coretan-coretan. Selain untuk bisa mengerti materi kuliah agar tidak cengo’ saat di dalam kelas, membaca reading list juga sangat berguna untuk menambah wawasan dan membantu dalam mengerjakan tugas. Jadi, usahakanlah untuk selalu mencoba membaca additional reading material yang bisa berupa text book, jurnal terkini, dan usahakanlah untuk selalu update informasi terkait dengan apa yang kita pelajari dari berita terkini. Saat kuliah S2 dulu, saya mengalokasikan 1 jam di pagi hari untuk membaca berita yang ada serta jurnal terbaru tentang topik yang saya pelajari.

Mengerjakan revision

Aktivitas terakhir yang bisa dilakukan di waktu kosong adalah mengerjakan revision. Apakah itu revision? Revision berarti mengulang pelajaran atau latihan. Mungkin ini bentuknya macam kita belajar di SD, saat harus membaca lagi apa yang telah dipelajari di sekolah dan mengerjakan latihan soal. Nah, si revision ini biasanya tidak lagi dilakukan saat S2 karena tugas dan pelajarannya sudah lebih banyak ke arah developing ideas, bukan memahami konsep dasar. Nah, apa yang dibutuhkan saat revision? Tentunya materi yang telah dipelajari (bisa berupa catatan, slide kuliah, atau video) dan latihan soal. Untuk lebih baik lagi dalam melakukan revision, kita perlu tahu metode belajar yang paling nyaman bagi diri kita sendiri. Dengan begitu, revision bisa dilakukan dengan efektif dan hasil belajar pun lebih baik.

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, independent learning ini sangat penting pada jenjang universitas karena mahasiswa tidak lagi ‘disuapi’ oleh dosen. Kemajuan belajar kita akan tergantung pada diri kita sendiri, tergantung usaha yang kita keluarkan. Selain itu, latihan independent learning pada saat berkuliah dapat melatih diri kita agar menjadi life-long learner, pembelajar seumur hidup. Skill ini sangat dibutuhkan terutama saat kita bekerja karena progress karir pun akan sebanding dengan luasnya pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, ada atau tidak sarananya, kita harus bisa meng-upgrade pengetahuan dan kemampuan kita tanpa harus didorong oleh orang lain atau ‘dipaksa’ oleh pihak eksternal.

Independent learning is a skill. Tapi, di dalamnya ada berbagai keterampilan yang juga dibutuhkan dan terkait, seperti kemampuan mengatur waktu, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan kolaborasi, motivasi internal dan eksternal, serta kemampuan untuk memahami diri sendiri. Yuk, tingkatkan kemampuan kita dan mulai membiasakan diri untuk menjadi pembelajar mandiri.
Nantikan artikel berikutnya masih dalam topik University 101, yaa. Terima kasih sudah membaca.

When there is a will; there is a way, but….

…. Kalau nggak usaha sih sama aja. Akhir-akhir ini lagi sering ngobrol dengan suami tentang bermacam-macam hal. Lalu, suami cerita bahwa diantara teman-temannya sedang heboh tentang kesungguhan niat dan hasil yang dicapai – dalam konteks kuliah S2. Alhamdulillah saya dan suami diberi kesempatan untuk bisa ke Inggris dalam rangka berkuliah. Mungkin kalau terlihat oleh orang lain, wah kehidupan saya dan suami kok rasanya enak sekali. Menikah di usia muda, lalu bisa tinggal di luar negeri. Tapi, seperti rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau, kita nggak pernah tahu perjuangan apa yang dilakukan oleh si tetangga supaya rumputnya bisa hijau, kan? Bisa jadi dia pakai pupuk yang harganya mahal, atau harus rela menyisihkan waktu lebih lama untuk merawat rumputnya. Yup, instead of judging, why don’t we try to understand?

Kali ini, saya mau sharing sedikit saja tentang kehidupan dan usaha yang saya dan suami lakukan hingga sampai di sini. Pencapaian kami masih super cetek kalau dibandingkan dengan orang lain. Namun, saya ingin berbagi untuk teman-teman yang sedang galau dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya (sok tuaaa bgt guee…). Jadinya, tulisan ini akan ‘sedikit’ curhat tentang diri saya sendiri, hihi. Nggak apa-apa lah yaa sekali-sekali.

Sepertinya untuk memulai cerita ini, saya harus throwback agak jauh ke belakang, ke saat saya belum menikah dengan suami. Saya pertama kali bertemu lagi dengan suami (ya, kami teman SD dan SMP) setelah bertahun-tahun tidak bertemu di bulan Oktober 2013. Saat itu, saya baru saja pulang dari UK setelah menempuh pendidikan S2. Setelah pertemuan itu, kami semakin dekat. Namun, wacana untuk menikah masih ada di angan-angan karena pada saat itu saya baru saja menandatangani kontrak untuk bekerja di Jakarta selama 2 tahun dan (calon) suami saya saat itu bertugas di Batam. Angan-angan hanyalah angan-angan karena keluarga kami sudah saling tahu dan ingin kami segera menikah. Nah loh? Akhirnya, pada bulan Juli 2014 kami memutuskan untuk menikah. Dalam waktu 2 minggu saja, gedung sudah di booking dan persiapan pernikahan langsung dimulai. Proses lamaran dilakukan di awal Agustus dan kami menikah di bulan November. Ngebut? Bagi kami ini adalah proses yang cukup ngebut, walaupun ada banyak sekali orang yang juga mempersiapkan pernikahan dalam waktu sangat singkat. Apa yang terjadi selama persiapan? Lumayan grabak grubuk juga sih. Kondisi saya yang bekerja full time, (calon) suami yang tinggal di luar kota, semua membuat kami sangat-sangat terbantu oleh orang tua. Long weekend jadi media agar kami bisa test food, melihat gedung, memilih fotografer, dan membuat undangan. Pusing? Pusing… Tapi kami bersyukur bahwa semua proses yang dijalani lancar.

Pada saat memutuskan untuk menikah, kami tahu betul konsekuensi dari keputusan kami. Kondisi pekerjaan mengharuskan saya dan suami menjalani LDM – long distance marriage. Ada yang pernah putus karena LDR? Menjalani LDM pun berbeda dengan menjalani pernikahan bersama di satu tempat. Kami harus berusaha meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan mau tidak mau juga harus terus memperbaiki komunikasi kami. Mengapa? Karena hanya itu andalan kami. Hidup berjauhan, saya dan suami tidak bisa benar-benar tahu kondisi masing-masing. Hanya dengan komunikasi lah kami bisa terus memperkuat hubungan kami. Usahanya lebih besar? Tidak bisa dibilang seperti itu juga, sih. Tapi, usahanya terlihat lebih jelas. Yang jelas, saya dan suami sih kalau bisa memilih, tidak mau lagi kalau disuruh untuk LDM. Untuk bersamamu, gunung dan lautan pun akan kusebrangi (cieilaaaahh..).

Nah, untuk keluar dari situasi LDM, kami punya beberapa pilihan. Yang jelas, pilihan untuk saya pindah ke Batam, tempat dinas suami, sudah dicoret karena suami ingin pindah ke pulau Jawa, mendekat ke keluarga besar dan teman-teman. Mau tidak mau, suami lah yang harus berusaha pindah. Alternatifnya ada dua: pindah kerja atau sekolah. Akhirnya, suami pun paralel melamar kerja sambil juga daftar kuliah. Saya ingat sekali di bulan Januari 2015 kami sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pendaftaran kuliah. Saat itu, suami fokus untuk mendaftar di universitas-universitas di UK. Selain kesibukan mendaftar kuliah, suami juga mulai mendaftar beasiswa. Kami sadar betul bahwa kami tidak punya uang (dan tidak punya sponsor) untuk bisa berkuliah dan hidup di UK tanpa bantuan beasiswa. Oleh karena itu, kami tahu bahwa apabila suami mendapatkan offer dari universitas tapi tidak mendapatkan beasiswa, maka suami harus menunda kuliah hingga ada yang mau membiayai. Usahanya apa untuk mendaftar kuliah dan beasiswa? Suami saya harus membuat esai dan tes bahasa Inggris. Saat itu tes bahasa Inggris dilakukan tanpa persiapan yang berarti. Saya hanya mengirimkan buku bekas latihan saya dari Jakarta agar suami bisa belajar di Batam. Kami juga saling email-email-an esai dan feedback esai hingga dirasa ‘pas’ untuk di-submit sebagai syarat pendaftaran kuliah dan beasiswa. Dari periode Januari hingga April 2015, suami mendaftar di hampir 10 universitas berbeda dan akhirnya, alhamdulillah, mendapatkan offer dari universitas yang diincar (walaupun belum rezeki untuk dapat offer dari University of Manchester). Suami pun memilih universitas idamannya dan segera men-submit aplikasi beasiswanya.

Rasanya di tahun 2015, waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saja di bulan Juni, suami saya mendapatkan kabar bahwa ia mendapatkan beasiswa. Kami langsung berpikir cepat tentang apa yang harus dilakukan. Pada saat itu, masih ada kabar bahwa ada kemungkinan suami baru bisa berangkat di tahun akademik berikutnya. Lagi-lagi kami harus bersiap dengan alternatif lain. Pilihan pertama adalah berangkat di bulan September tahun yang sama. Saya jelas harus ikut (disamping ingin jalan-jalan juga, alasan utama kami adalah tidak mau LDM). Namun, saya masih terikat kontrak kerja yang sisa 1 tahun lagi – dan harus membayar penalti apabila melanggar kontrak tersebut. Kami mulai berpikir: dari mana uang sebanyak itu? Selain itu, persiapan untuk berangkat di bulan September juga berkaitan dengan urusan visa dan kepindahan ke kota Birmingham. Kami pun jadi rajin membaca aturan visa (bahkan sampai kami print si buku petunjuk visa dari UKVI dan kami baca sampai khatam – berkali-kali khatam). Kami sadar betul bahwa urusan visa ini memiliki resiko yang besar apabila sampai ditolak. Jadi, kami harus mempersiapkan diri. Pada saat itu kami mulai menghitung uang yang ada di tabungan serta aset lain yang kami miliki. Opsi kedua adalah menunda keberangkatan hingga September 2016. Less risk, lebih sedikit biayanya (dan bisa menabung dulu selama 1 tahun), tetapi berarti kami harus bersabar karena masih satu tahun lagi harus LDM.

Suami kemudian mendapatkan kabar bahwa ia bisa berangkat (kemungkinan besar) di tahun 2015. Kami langsung menjalankan rencana kami. Pertama, kami harus meminjam uang untuk deposit persyaratan visa saya (karena finansial suami ditanggung oleh pemberi beasiswa). Sebagai bocoran, saat itu kami meminjam uang sejumlah hampir 150 juta untuk jaga-jaga konversi kurs rupiah ke poundsterling. Uang pinjaman itu kami endapkan dari akhir Juni untuk aplikasi visa di pertengahan Agustus. Ya, kami sudah ancang-ancang akan membuat appointment visa di pertengahan Agustus setelah menghitung-hitung jadwal serta persiapan kami (note: kami baru resign per 1 September, jadi suami pun harus nglaju Batam-Jakarta selama persiapan). Kedua, saya harus PDKT dengan kepala sekolah serta HR di sekolah tempat saya bekerja agar bisa cuti tak berbayar atau resign tanpa harus membayar penalti. Ihiks, seram juga kalau harus bayar. Ketiga, kami harus mempersiapkan segala dokumen untuk aplikasi visa, termasuk juga uang untuk membayar IHS (asuransi) serta visa. Anak piyik seperti kami hanya punya 1 kartu kredit yang limitnya pun terbatas. Jadilah kami harus lagi meminjam kartu kredit orang lain untuk membayar ini itu. Keempat, kami harus mulai hunting akomodasi di UK. Kami rajin membuka website pencarian akomodasi dan rajin juga email agen rumah dan landlord. Kami pun bersiap uang (lagi) untuk membayar deposit dan booking fee. Rasanya gaji di bulan-bulan itu ‘terbang’ hilang sekejap, belum lagi ditambah ongkos pesawat suami bolak-balik Batam-Jakarta.

Selesai urusan beasiswa dan visa, kami pun giat bekerja untuk menambal si tabungan yang bolong karena harus bayar ini itu. Kami juga memutuskan untuk bekerja hingga sesaat sebelum berangkat. Oh ya, kami berangkat di pertengahan September. Jadi, kami masih bekerja hingga akhir Agustus. Suami harus pindahan dari Batam ke Jakarta juga. Untungnya, barang yang dibawa tidak terlalu banyak sehingga biaya pindahan pun tidak terlalu besar. Segera setelah visa keluar, kami pun berburu tiket. Suami yang mendapatkan tiket dari pihak pemberi beasiswa segera mengabarkan informasi flight dan saya harus berburu tiket dengan jadwal yang sama ke berbagai travel agent. Cara ini saya lakukan agar dapat tiket dengan harga se-ekonomis mungkin. Hahaha… bukannya pelit, tapi beli tiket ini harus pakai acara jual-jual perhiasan (yang cuma segitu-gitunya) segala. Mahal cuy, apalagi belinya sudah mepet dengan tanggal keberangkatan.

Setelah heboh-heboh di Indonesia, sampailah kami di Birmingham. Selesai heboh-nya? Belum. Rasanya, masalah finansial ini masih terus heboh hingga sekitar bulan November. Kenapa begitu? Karena di masa awal adaptasi kok ya rasanya mengatur uang belum paham betul. Masih terkaget-kaget dengan pengeluaran dan akhirnya harus terus evaluasi hingga rekening bank kami stabil. Yang jelas, di awal datang, pengeluaran kami cukup banyak karena harus mengisi rumah. Tidak full mengisi sih, karena alat-alat basic sudah ada. Hanya saja, kami harus beli alat masak dan beberapa kebutuhan rumah tangga agar studio yang kami sewa bisa lebih homey. Di bulan berikutnya, kami harus menyesuaikan pola belanja bahan makanan agar bisa berhemat uang transportasi dan uang belanja. Nggak rela juga kalau setiap bulan hampir 100 pounds dikeluarkan untuk biaya transportasi. Kami pun evaluasi lagi dan merancang strategi lagi. Baru di bulan ketiga atau keempat lah kami bisa mulai ‘enak’ mengatur keuangan. Saya sih terbayang, berdua saja masih harus berpikir strategis supaya uang cukup dan berlebih untuk ditabung, bagaimana yang punya anak dua atau tiga? Huaaah harus putar otak agar dapur terus mengebul.

Berhemat adalah hal yang terus menerus saya dan suami lakukan. Saat bisa berhemat, kenapa tidak? Namun, ada satu hal yang tidak boleh dihemat: sedekah. Sesempit apapun kita, ibu saya selalu mengingatkan ‘Jangan pelit bersedekah’. Berikanlah yang terbaik untuk membantu orang lain. Sedekah ini tidak hanya dalam bentuk uang, ya… bisa juga dalam bentuk tenaga, ilmu, bahkan senyum. Percayalah bahwa Allah itu Maha Pemberi. Kalau kita sudah berusaha plus melakukan amal-amal baik, maka Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik.

Saya jadi ingat potongan status dari senior kuliah saya. Ia bercerita tentang kondisinya dan di akhir, ia menulis ‘stop merasa jadi orang paling nelangsa di dunia karena masih banyak orang yang kondisinya lebih buruk di luar sana’. Yap, saya harus banyak-banyak bersyukur karena telah banyak diberi kemudahan. Keinginan saya dan suami banyak yang sudah bisa terwujud. Saya kadang-kadang juga masih takjub bagaimana dalam waktu sangat singkat saya dan suami bisa sampai di sini. Seperti miracle, tapi juga bukan miracle 100% karena kami menyusun rencana, kami berusaha, kami memutar otak agar dapat bertahan. Dan yang terpenting, ya…. Banyak sekali orang-orang lain yang lebih hebat bisa mengatur uang dan kehidupan sedemikian rupa hingga bisa sukses dan bertahan hidup. Ada keluarga dengan tiga anak yang tetap bahagia dengan uang tunjangan beasiswa yang sama jumlahnya dengan mahasiswa single, ada keluarga-keluarga yang tinggal di London (yang amit-amit mahalnya) tapi tetap bisa piknik, ada juga teman yang harus berjuang mengulang ujian tapi akhirnya lulus setelah belajar di kampus hingga larut malam setiap hari, ada juga teman yang ditinggal oleh suaminya tapi tetap tegar menjalani hidup, ada ibu-ibu mahasiswa yang selain harus mengurus anak dan suami (dan mungkin juga harus bekerja) harus belajar dan menulis esai. Semua tergantung tujuan sih. Maunya apa? Tujuannya apa? When there is a will; there is a way, but…. Saya akan coba mengutip kata-kata dari novel yang menurut saya sangat bagus untuk memberi semangat:

“Kemudian yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras serta mulut yang selalu berdoa.” (Donny Dhirgantoro)
Selamat bermimpi dan selamat berusaha!

Yuk, Berhenti Bercanda tentang Kekerasan pada Anak!

Tulisan kali ini memang agak antimainstream. Di saat orang-orang masih heboh dengan aksi pemboman di beberapa negara, saya memilih topik yang sangat jauh melenceng. Bukan, ini bukan pengalihan isu. Ini juga bukan karena saya tidak peduli pada berita-berita tersebut. My prayer goes to all Muslim brothers and sisters around the world. May Allah always keep you safe. Masalahnya, kok ya saya merasa nggak kompeten untuk menulis tentang isu ini. Sepertinya perlu belajar lebih banyak nih ke Teh Heggy. Hehehe…

Panjang amat ya introductionnya. Anyway… sambil lihat-lihat timeline di media sosial tadi pagi, tiba-tiba diantara banyak berita tentang isu di atas, muncullah satu gambar mengenai kekerasan pada anak yang di-meme-kan. Yah, yang namanya meme kan memang untuk lucu-lucuan, yaa.. Saya tidak punya masalah dengan meme, apalagi kalau memang lucu dan tidak menyinggung golongan tertentu. Nah, kenapa bagi saya si meme pagi tadi jadi masalah? Karena bagi saya, perkara kekerasan pada anak bukanlah hal yang patut dibuat bahan bercanda, apalagi di media sosial. Sama halnya dengan isu pemerkosaan atau sexual abuse/harassment. Ya, kalau ada aktivis perempuan pastinya mereka marah kalau korban pemerkosaan atau korban sexual harassment lalu digadang-gadang di media sosial untuk ditertawakan, kan? Lalu…. Kenapa kekerasan pada anak boleh dijadikan lucu-lucuan?

First of all, isu kekerasan pada anak ini secara spesifik kasusnya adalah siswa yang dicubit atau mengalami hukuman fisik dari para guru di sekolah. Where do I stand? I am not into corporal punishment. Bagi saya, hukuman fisik apapun ya namanya kekerasan pada anak (kecuali kalau siswanya lalu cengengesan dan malah kesenengan dihukum, macam dulu dijemur di lapangan sekelas). Ya memang batas toleransi seorang anak terhadap kekerasan berbeda-beda, tapi kalau mau buat standar individualis macam itu pasti susah lah. So, no corporal punishment, baik yang dilakukan oleh guru dan orang tua. Ya, jangan mentang-mentang ‘itu anak saya’ jadi boleh seenaknya. Perlu diingat juga ‘anak itu titipan Allah’ jadi ya mosok udah dikasih hadiah yang tak ternilai harganya oleh Sang Pencipta lalu mau disia-siakan juga?

Second of all, bukan berarti kita boleh memperbolehkan anak melakukan apa pun yang ia mau tanpa memperhatikan rambu-rambu peraturan, norma, dan budaya yang berlaku. Jadi, pendidikan mengenai disiplin juga perlu. Anak juga ya harus tahu bahwa apa yang ia lakukan itu benar atau salah. Nggak dipukul bukan berarti nggak disiplin, kan? Saya rasa sih, asalkan dari kecil sudah ditanamkan, baik dengan perkataan maupun contoh (dan yang paling penting adalah contoh), harusnya kedisiplinan tidak menjadi masalah.

Third of all, saya tidak lalu mengecilkan profesi guru. Gini-gini saya juga (mantan) guru loh. Jadi, saya pun mengerti kesalnya, gemesnya, bahkan geramnya perasaan guru yang muridnya agak-agak nyeleneh. Saya nggak terlalu setuju kalau si guru yang melakukan tindakan kekerasan itu lalu langsung dilaporkan ke polisi. Mungkin orang tuanya bisa bertemu dulu dengan guru? Lalu, menurut saya sih, guru itu harus dihormati, baik oleh siswa maupun oleh orang tua murid. Jadi, perlawanan-perlawanan dari siswa yang mengalami kekerasan fisik harusnya tidak menurunkan hormat kita pada bapak dan ibu guru. Ingat saja bahwa perilaku mereka (yang melakukan kekerasan) itu salah, tapi mereka juga manusia yang bisa salah dan khilaf (ciee kaya Mamah Dedeh gw…).

Terus solusinya apa? Disclaimer: ini solusi ala-ala saya, berdasarkan ilmu yang cimit dan pengalaman yang juga cimit.

Pertama, pendidikan disiplin berasal dari rumah. Intinya sih, jangan serahkan pendidikan pertama anak pada guru. Lagi-lagi, guru juga manusia yang anaknya super banyak di kelas. Mana ibu-ibu yang anaknya 3 dan kadang-kadang mau melambaikan bendera putih??? 3 anak saja kadang-kadang rempong, gimana ibu bapak guru yang setiap hari (kecuali weekend dan libur) anaknya minimal 25? Jadi, penanaman disiplin pertama dan paling efektif ya harus dilakukan oleh orang tua. Gimana cara mendidiknya? Sok di googling aja yaa… Sudah banyak sekali ahli yang bicara tentang hal ini (ngasih solusinya setengah-setengah ya, gw…). Namun, bagi saya, yang paling penting sih mendidik melalui contoh. Suka lucu kalau orang tua marah-marah karena lagi-lagi dipanggil ke sekolah karena anaknya sering telat, tapi mereka sendiri datang ke pertemuan pun telat. Hehehe… Yah no wonder lah anaknya begitu…

Kedua, sepertinya bapak ibu guru pun harus belajar banyak. Pertama, belajar mengelola emosi. Ih, nggak enak banget mengajar pada saat sedang sangat marah atau sedang sangat kesal. Lelah hayati! Jadi, supaya si emosi ini tidak diekspresikan dengan salah atau malah ditujukan ke orang yang salah (pernah nggak sih, ada orang yang marahnya sama siapa tapi malah bentak-bentak kita? Bete, kan?), bapak dan ibu guru (juga orang tua) perlu tahu bagaimana diri mereka bisa menangani emosi. Pendekatan bagi masing-masing orang pasti berbeda-beda. Saya misalnya, biasanya mencoba untuk sendiri dulu, atau mencoba untuk menulis atau mengerjakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Atau justru, saya berusaha fokus pada materi pembelajaran sehingga terlupakan lah dulu si emosi mengganggu pada saat bertemu dengan anak. Kedua, guru juga harus belajar alternatif disiplin lain, selain hukuman fisik. Saya masih ingat diajarkan oleh tempat saya dulu bekerja mengenai disiplin positif. Intinya sih, mengenalkan anak pada konsekuensi logis dari suatu tindakan. Misalnya, tidak mengerjakan PR ya berarti kehilangan nilai. Guru hanya mengingatkan, tapi kalau si anak tidak mengerjakan maka itu adalah tanggung jawab si anak. Hukumannya apa? Hukumannya nilai yang tidak maksimal. Dalam hal ini, intervensi guru sangat sedikit. Fungsi guru hanya mengingatkan dan menegaskan. Berhasil? Pada kasus guru-guru yang tegas dan konsisten, cara ini berhasil. Siswa belajar dengan tenang, tugas dikumpulkan, ujian pun nilainya memuaskan. Gurunya di awal memang ‘dicap’ galak dan menakutkan, tapi setelah sama-sama mengerti, siswa bisa berinteraksi dengan baik dengan guru sambil tetap menghormati guru tersebut. Oh ya, di sekolah ini pun, orang tua juga tahu betul mengenai praktik disiplin positif yang diterapkan sehingga diharapkan mereka juga bisa menerapkannya di rumah. Jadi, ada semacam kesepakatan antara sekolah dan orang tua sehingga pendidikan anak bisa sejalan.

Ketiga, ini sih untuk orang-orang semacam saya dan mungkin Anda yang jadi latar belakang tim hore-hore isu ini. Bukan pelaku langsung dan tidak terkait langsung. Namun, kita juga bisa punya andil besar untuk membawa perubahan dalam hal kekerasan pada anak. Mudah-mudahan, perubahannya pun yang positif, ya… Nah, sebagai tim hore-hore, biasanya yang dilakukan adalah berkomentar. Komentar apapun yang dikeluarkan, semoga melalui proses pemikiran yang matang sehingga tidak menyinggung salah satu pihak dan tidak memperkeruh suasana. Termasuk halnya dengan bercanda. Rasanya, tipe kasus seperti kekerasan pada anak ini tidak patut dibercandai. Menurut saya, melecehkan profesi guru dan membahayakan luasnya pemikiran bahwa ‘ah, kekerasan itu hal yang biasa dan bisa dibuat bercanda’. Bahaya juga apabila diterima oleh anak tanpa ada penjelasan yang memadai. Nanti kasusnya seperti di UK ini, dimana anak bisa seenaknya melaporkan orang tuanya (ya, bahkan orang tuanya) ke social service karena ia tidak suka. Ya memang sih, si generasi 90an ke atas yang mengalami hukuman fisik lalu berpikir ‘kayaknya dulu gw begitu tapi nggak segitunya, manja amat sih itu anak dan orang tua’. Tapi, bukankah yang salah ya tetap salah walaupun dulu kita ‘terima-terima saja’ diperlakukan seperti itu? Lagi pula, ketahanan fisik dan mental kan tidak diukur oleh banyaknya hukuman fisik yang diterima?

Yah, ini tulisan sekedar mengingatkan saja bahwa apa-apa yang kita ucapkan dan lakukan bisa berdampak sesuatu. Daripada memperkeruh atau memperburuk suasana, yuk coba pikirkan dulu apa yang akan kita ucapkan atau tuliskan, dan juga apa yang kita jadikan bahan bercanda. Kalau kita bisa teriak-teriak ‘tidak etis itu menertawakan dan membuat korban pemerkosaan jadi bahan bercanda’, kenapa kita tidak mengingatkan juga bahwa perilaku menertawakan dan membuat kasus kekerasan terhadap anak jadi bahan bercandaan juga tidak etis.

Baiklah! Sambil di ujung bulan Ramadhan ini, saya mau libur menulis sebentar. Semoga bisa kembali lagi dengan tulisan-tulisan lain. Eid Mubarak! Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Ramadhan kali ini bisa menambah kualitas keimanan kita dan semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan di tahun depan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

 

Photo Source: http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1425390169.jpg

Home Away from Home: Pendidikan Anak (Introduction)

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan saat memutuskan untuk ikut dengan pasangan yang melanjutkan studi di UK adalah mengenai pendidikan anak. Ya, bagi keluarga-keluarga yang sudah memiliki anak, aspek ini sangat krusial. Bagaimana tidak? Menyekolahkan anak di Indonesia saja, meskipun sudah banyak juga sekolah yang gratis, cukup menguras kantong. Lalu, apa jadinya saat pindah ke negara yang kurs mata uangnya berkali-kali lipat dibandingkan di Indonesia (well, alhamdulillah yaa berkah Brexit ada juga, terutama karena melemahnya Poundsterling terhadap Rupiah sehingga Anda bisa cukup lega menukar uang). Pada beberapa sesi ke depan, kami akan membahas mengenai pendidikan anak di Inggris. Catat, Inggris ya, bukan UK. Lah, apa bedanya?

Bagi masyarakat awam, terutama orang Indonesia, Inggris dan UK tampak tidak ada bedanya. Pokoknya, negeri nun jauh disana yang ada Big Ben-nya dan dikepalai oleh ratu. Hiyah… overall boleh lah memakai deskripsi seperti itu. Namun, England (Inggris) dan UK (agak sulit ya menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia) itu berbeda. Beda juga dengan istilah Great Britain atau Britania Raya. Sebagai sedikit gambaran, UK adalah United Kingdom yang terdiri dari 4 negara berbeda, yaitu England (Inggris), Wales, Scotland (Skotlandia), dan Northern Ireland (Irlandia Utara – ini beda dengan Irlandia). Sedangkan Britania Raya adalah negara-negara yang terletak di satu pulau utama UK, yaitu Inggris, Wales, dan Skotlandia. Pusing? Ya, untuk saat ini terima saja lah ya, penjelasan itu. Kami juga agak-agak blur tentang riwayat pembagian nama tersebut. Intinya, di dalam UK ada 4 negara terpisah yang memiliki sistem pelayanan pendidikan masing-masing. Dampaknya, pengalaman bersekolah (pendidikan dasar, menengah, dan tinggi) di negara berbeda di UK juga berbeda, dengan aturan yang berbeda, kurikulum yang berbeda, dan sistem yang berbeda.

Dalam artikel ini dan beberapa artikel setelah ini, kami akan memfokuskan pembahasan pada sistem pendidikan di Inggris. Mengapa? Karena kami tinggal di Inggris sehingga narasumber, pengalaman, serta sumber informasi yang mudah kami akses adalah mengenai pendidikan anak di Inggris. Bagi Anda yang akan tinggal di negara-negara lain di UK, silahkan juga membaca (seharusnya tidak sangat jauh berbeda) dan mencari tahu sendiri dari website-website city council kota tujuan Anda. Secara umum, banyak informasi yang kami jabarkan di tulisan ini berasal dari:

https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/219167/v01-2012ukes.pdf.

Secara umum, hal yang cukup berbeda antara pendidikan di Inggris dan di Indonesia berkaitan dengan usia sekolah anak dan jenjang pendidikan. Jika di Indonesia kita biasa dengan slogan wajib belajar 9 tahun dan anak-anak mulai bersekolah wajib di kelas 1 SD pada usia 7 tahun, lain halnya dengan yang terjadi di Inggris. Saat ini, pendidikan wajib di Inggris dimulai saat anak berusia 4 atau 5 tahun hingga 16 tahun. Biasanya, disebut sebagai under 16 education. Sisanya, pendidikan bersifat tidak wajib.

Berkaitan dengan jenjang pendidikan, kami akan coba jelaskan dengan mengikutsertakan jenjang pendidikan tidak wajib juga ya. Tidak seperti di Indonesia dimana anak usia sekian bulan sudah biasa disekolahkan, atau diikutkan ke dalam program baby gym, di Inggris anak-anak biasanya baru boleh masuk sekolah mulai usia 3 tahun ke kelas nursery. Anak-anak berusia 3 tahun ini mendapatkan fasilitas 15 jam gratis bersekolah per minggu. Anak-anak (atau orang tua) yang ingin (anaknya) sekolah sebelum usia 3 tahun bisa masuk ke nursery dengan biaya tertentu (ada aturan baru yang memberikan fasilitas nursery gratis bagi anak 2 tahun, tunggu di tulisan kami berikutnya). Oh ya, hitungan usia 3 tahun pada saat masuk nursery ini saklek ya. Jadi, apabila anak akan berusia 3 tahun di bulan Februari, dia tidak bisa masuk di awal tahun ajaran di bulan September tahun sebelumnya (karena pada saat itu belum berusia 3 tahun). Namun, ia bisa masuk pada spring term di bulan Maret. Jadi, anak-anak ini tidak perlu menunggu tahun ajaran berikutnya. Setelah itu, pada usia 4 tahun anak-anak akan masuk ke kelas reception. Ini adalah seperti kelas persiapan sebelum SD, meskipun kurikulumnya masih menggunakan kurikulum Early Years. Jenjang pendidikan ini masuk ke dalam jenjang pendidikan wajib sehingga apabila anak bersekolah di sekolah ‘negeri’, Anda tidak perlu membayar uang sekolah. Kelas reception dilanjutkan dengan SD yang kemudian disebut sebagai primary school. Dalam jenjang primary school ini, sekolah menerima anak dengan usia 5-11 tahun untuk year 1 sampai year 6, dimana anak dengan usia 5-7 disebut sebagai infant school dan 8-11 disebut sebagai junior school. Selanjutnya, anak-anak akan masuk ke jenjang SMP dan SMA, atau yang biasa disebut dengan secondary school. Ya, secondary school di Inggris mencakup jenjang SMP dan SMA di Indonesia, diperuntukkan bagi anak berusia 11 atau 12 hingga 16 tahun. Pada akhir secondary school, selesai sudah rangkaian pendidikan wajib anak di Inggris. Namun, anak (dan Anda) bisa memilih untuk melanjutkan studi di jenjang yang disebut sebagai future education. Biasanya, jenjang ini berbentuk college, pendidikan berbasis kerja (semacam internship), dan institusi pendidikan bagi orang dewasa. Tapi, ada juga secondary school yang mencakup elemen future education yang biasa disebut sebagai sixth form school yang terdiri dari year 12 dan 13. Lulus dari jenjang ini, anak pun sudah bukan anak-anak lagi dan siap masuk ke universitas, atau yang biasa disebut sebagai jenjang higher education.

Untuk naik kelas atau naik ke jenjang berikutnya, anak-anak tidak diseleksi berdasarkan prestasi akademik melalui ujian. Anak-anak memang akan mengikuti tes atau ujian pada jenjang-jenjang tertentu, tetapi hasilnya digunakan oleh sekolah dan guru untuk merencanakan strategi pembelajaran dan oleh negara untuk mengukur standar pendidikan. Jadi, tidak perlu khawatir mengenai ujian ini. Memang ada sebagian guru, sekolah, dan orang tua yang menentang ujian-ujian tersebut, tetapi tampaknya kalau dibandingkan dengan di Indonesia, tingkat stress yang dialami oleh anak-anak di Indonesia yang akan ujian jauh lebih tinggi. Hehe… Jelas saja, karena sampai sekarang sistem pendidikan di Indonesia masih menggunakan standar nilai ujian yang menentukan untuk melanjutkan pendidikan. Sedangkan di Inggris, anak-anak akan terus naik kelas dan naik ke jenjang pendidikan berikutnya. Untuk membaca lebih lanjut tentang suasana ujian sekolah di Inggris, silahkan main ke blog rekan kami, Mbak Ari Kristiana: http://arikristiana.blogspot.co.uk/2014/05/ketika-sekolah-menyediakan-sarapan.html.

Bingung? Semoga tidak, ya. Karena banyaknya pembahasan mengenai masing-masing jenjang pendidikan, maka kami mengalokasikan satu artikel untuk masing-masing jenjang pendidikan. Jadi, tahan dulu pertanyaannya, jangan bingung dulu. Ini hanya sebagai pembuka dan penjelasan umum tentang pendidikan di Inggris.

Setelah perbedaan, sekarang kami akan membahas mengenai persamaan antara pendidikan di Inggris dan di Indonesia. Persamaannya adalah adanya pembagian sekolah negeri (state school) dan sekolah swasta (independent school/public school). Sama juga seperti di Indonesia (eh, seharusnya sih), sekolah negeri gratis bagi semua anak, sedangkan sekolah swasta mengenakan bayaran tertentu. Biasanya, sekolah swasta ini merupakan sekolah berbasis agama, akademi, dan sekolah bagi kalangan elit. Tentunya, kualitas pendidikan dan fasilitas yang diberikan oleh sekolah swasta di Inggris pun jauh lebih bagus daripada sekolah negeri. Lagi-lagi, pembahasan tentang pembagian sekolah ini bisa dibaca lebih lanjut di tulisan Mbak Ari: http://arikristiana.blogspot.co.uk/2016/02/oxbridge-dan-elitisme.html. 

Fasilitas lain yang juga sedikit (atau banyak) berbeda dari sekolah di Indonesia adalah perhatian yang besar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus (SEN). Anak-anak SEN bersekolah di sekolah-sekolah umum di Inggris, semacam sekolah inklusi kalau di Indonesia. Jadi, tidak ada pembedaan antara anak non-SEN dan anak SEN kecuali apabila anak SEN tersebut kondisinya sangat jauh berbeda. Biasanya, akan ada satu guru yang memang dialokasikan untuk menangani anak SEN di satu kelas, sehingga anak tersebut bisa belajar bersama dengan anak-anak lain. Tambahan pelajaran dan latihan juga akan diberikan bagi anak SEN apabila dirasa diperlukan.

Hmmmm…. What else? Oh ya, prosedur pendaftaran sekolah. Secara umum, orang tua mendaftarkan anak sekolah melalui aplikasi online yang dapat diakses di website city council masing-masing kota. Sebagai contoh, ini adalah link untuk aplikasi sekolah anak di Birmingham: http://www.birmingham.gov.uk/online-admissions. Untuk pendaftaran ini, kita tidak perlu menyiapkan raport atau ijazah anak dari Indonesia. Selain copy paspor dan visa, pihak city council hanya membutuhkan akte kelahiran anak. Mengapa akte kelahiran dibutuhkan? Ya, karena dari situlah pihak sekolah akan menentukan eligibilitas kecukupan umur anak anda untuk dapat masuk ke sekolah tersebut. Dokumen berupa proof alamat tempat tinggal juga perlu disiapkan, dan untuk poin ini anda bisa menggunakan surat kontrak rumah atau surat pernyataan dari kampus jika ada. Dokumen tambahan berupa surat baptis diperlukan apabila Anda mendaftarkan anak ke sekolah Katolik, dan ada juga formulir aplikasi tambahan untuk mendaftarkan anak ke sekolah Islam. Proses pendaftaran ini cukup mudah dan to the point. Setelah mendaftar dan jika sudah positif diterima, pihak sekolah akan menginformasikan via telepon. Beberapa sekolah juga akan menjadwalkan home visit melalui telepon tersebut. Home visit ini sebenarnya untuk memastikan bahwa memang benar anak dan orang tua tinggal di rumah sesuai alamat terdaftar, selain itu juga akan diinfokan beberapa hal seperti jadwal sekolah, seragam, peraturan antar jemput anak, dan tentang makanan. Bagaimana dengan kemampuan bahasa anak? Karena sekolah di Inggris ya tentu saja bahasa pengantarnya adalah english language ya. Tetapi meskipun anak anda belum bisa berbahasa Inggris, tidak perlu khawatir. Pada dasarnya sekolah tidak mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris anak, akan tetapi ada pula beberapa sekolah yang menyarankan agar anak ikut kursus bahasa terlebih dahulu sebelum masuk atau setelah mendaftar sekolah sambil menunggu term masuk sekolah, minimal sebagai pengenalan kepada anak. Jika pada akhirnya setelah masuk sekolah anak anda tetap belum terlalu bisa mengikuti, para pengajarnya akan membantu agar anak tersebut dapat meningkat kemampuan bahasa Inggrisnya.

Hal lain yang perlu dicermati adalah mengenai pilihan sekolah. Pada sistem yang diterapkan di Inggris, orang tua tidak dapat memilih (dan pasti mendapatkan) sekolah yang diinginkan, kecuali untuk sekolah swasta. Untuk sekolah swasta, tentu saja orang tua bisa memilih sekolah misalnya dengan mempertimbangkan apakah sekolah tersebut memiliki pengajar yang ramah dan mumpuni, apakah fasilitas yang tersedia cukup lengkap, apakah sekolah memiliki suasana yang hangat dan ramah untuk anak, hingga kepada pertanyaan apakah biaya yang dipatok sudah termasuk biaya lain-lain ataukah akan ada tambahan lagi? Akan tetapi, di sekolah negeri, mostly sistem penempatan siswa di Inggris menggunakan sistem rayon, yang berarti sekolah anak akan dipilih berdasarkan kedekatan lokasi sekolah dengan rumah. Biasanya, masing-masing ‘kelurahan’ di Inggris memiliki setidaknya 1-2 primary school dan 1 secondary school. Jadi, mudah-mudahan anak Anda akan ditempatkan di sekolah yang dekat dengan rumah. Namun, apabila sekolah yang dekat dengan rumah sudah penuh kapasitasnya, maka anak akan dirujuk ke sekolah lain yang terdekat, dan begitu seterusnya. Adakah anak-anak yang sekolahnya jauh dari rumah? Ada saja. Biasanya, apabila anak berada di usia tanggung dimana tidak banyak siswa yang keluar-masuk atau pindah sekolah, atau apabila Anda tinggal di kawasan residensial dimana tidak banyak imigran yang biasanya sering berpindah, maka ada kemungkinan anak Anda harus bersekolah di tempat yang lebih jauh. Kurang puas dengan penempatan sekolah anak? Anda bisa melakukan appeal ke city council agar anak bisa pindah sekolah. Kadang-kadang, Anda juga bisa langsung mendatangi sekolah tertentu (tentunya dengan membuat perjanjian melalui email terlebih dahulu) untuk bernegosiasi masalah ini. Namun, cara-cara ini tidak selalu berhasil, ya. Saat Anda melakukan appeal, nama anak akan dimasukkan ke dalam waiting list sekolah yang dituju dan Anda tinggal berdoa, semoga ada tempat kosong untuk anak Anda. In the mean time, sebaiknya anak anda tetap bersekolah di tempat yang telah dialokasikan oleh city council.
Rasanya cukup sekian tulisan kami sebagai pengantar mengenai pendidikan anak di Inggris. Pada artikel-artikel selanjutnya, kami akan membahas dengan lebih detail mengenai masing-masing jenjang pendidikan. Nantikan tulisan kami berikutnya!

 

Photo Source: http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02497/schoolRun_2497676b.jpg

Home Away from Home: Budaya Lokal (2)

Photo source: http://www.huffingtonpost.co.uk/2014/08/14/british-stereotypes_n_5461440.html

 

Setelah lebih banyak membahas mengenai interaksi dengan orang-orang lokal di minggu lalu, kali ini kami akan bercerita mengenai kebiasaan lain dari warga UK. Kebiasaan-kebiasaan ini tidak menyangkut sosialisasi, tetapi lebih pada kehidupan sehari-hari, seperti jam kerja, kebiasaan tidak membawa uang cash, belanja online, dan perilaku ramah lingkungan. Sepertinya topik-topik tersebut kecil, tetapi cukup penting dibahas agar kita sebagai pendatang dapat beradaptasi dengan baik di UK. Berikut ini paparan kami…

 

Jam Kerja

Pertama kali datang ke UK dari kota metropolitan semacam Jakarta, kami agak kaget. Mengapa? Karena ternyata UK (kecuali London) tak se-metropolitan yang kami kira. Membandingkan dengan Jakarta atau ibukota negara-negara Asia yang biasanya dijuluki sebagai ‘the sleepless cities’, tinggal di kota-kota di UK sepertinya membawa hawa malas. Bayangkan saja, kita yang terbiasa dengan mudah mencari barang-barang kebutuhan, bahkan di jam-jam aneh seperti tengah malam, harus membiasakan diri melihat jam kerja yang tertera di pintu toko-toko. Ya, rata-rata toko dan kantor di UK buka pada hari kerja mulai pukul 9.00 hingga pukul 19.00, (untuk kantor tentunya lebih cepat tutup). Ini adalah hasil observasi kami selama di Birmingham dan beberapa kota besar lain. Di kota-kota kecil? Jangan kaget kalau jam 18.00 sudah ‘tidak ada kehidupan’ lagi yaa… Hehehe. Jadi, jangan membayangkan kumpul-kumpul after office hour seperti di Jakarta (atau kota besar di Indonesia lainnya) yang biasanya baru mulai jam 19.00 di mall. Di Inggris, tempat-tempat yang buka di atas jam 19.00 adalah bar dan restoran, karena orang UK memang terbiasa kumpul-kumpul dan bersosialisasi di bar atau klub malam.

Apabila jam kerja atau jam buka di hari kerja seperti itu, bagaimana dengan akhir pekan? Pusat keramaian dan perbelanjaan biasanya buka di hari Sabtu dari pukul 9.00 hingga pukul 20.00. Ya, satu jam lebih lama dibandingkan di hari kerja. Lagi-lagi, ini adalah standar di kota-kota besar di UK. Untuk kota yang lebih kecil, biasanya jam operasional pun lebih pendek. Hal yang cukup membuat shock adalah jam operasional di hari Minggu. Kalau menurut Anda pusat perbelanjaan tutup pukul 19.00 itu kejam, rasakanlah berbelanja di hari Minggu. Sungguh lebih kejam. Pada hari Minggu, hampir semua kantor tutup dan pusat perbelanjaan hanya buka dari jam 11.00-17.00. Apaa? Ya, hal ini membuat kami (orang-orang yang tinggal di UK) malas sekali kalau harus berkegiatan di hari Minggu. Hari terasa begitu pendek. Bagaimana dong kalau kita butuh sesuatu di luar jam operasional tersebut? Biasanya, ada minimarket atau supermarket yang memang buka 24 jam, atau dari jam 6.00-11.00. Memang tidaklah banyak, tapi biasanya di lingkungan ramai perumahan atau mahasiswa, toko-toko seperti ini bisa ditemukan.

Selain toko, fasilitas umum lain yang biasanya terkait dengan keseharian mahasiswa dan keluarganya adalah bank dan transportasi. Nah, tidak seperti di Indonesia yang kalau mengantri bank rasanya lama sekali, disini tampaknya antrian bank cukup bisa ditoleransi. Pelayanannya juga cukup cepat. Biasanya, di kota-kota non London, bank buka pada hari Senin sampai Jumat pukul 09.30-17.00. Anda bisa datang kapan saja ke bank di antara jam tersebut. Bahkan, beberapa branch office bank ternama juga tetap beroperasi pada hari Sabtu dengan jam kerja normal, 09.30-17.00 dengan jenis pelayanan normal. Hal ini agak berbeda dengan keadaan di Indonesia yang rasanya sulit sekali menemukan bank yang buka pada hari Sabtu, yang kalaupun ada hanya buka hingga pukul 12.00 dan hanya melayani permintaan-permintaan tertentu.

Malasnya kami keluar pada hari Minggu juga disponsori oleh berkurangnya armada dan pelayanan transportasi umum. Ya, frekuensi kedatangan dan jumlah armada bus dan kereta pada akhir pekan, terutama hari Minggu memang menurun. Apabila di hari kerja bus bisa beroperasi 24 jam, atau dari pukul 03.00 hingga 24.00, maka pada hari Minggu ada bus tertentu yang tidak beroperasi sama sekali dan ada juga yang hanya melayani penumpang dari pukul 06.00 hingga 22.00. Selain itu, frekuensi kedatangan bus yang biasanya 15 menit sekali pun bisa berkurang hingga 30 menit atau 1 jam sekali. Kereta juga mengalami pengurangan frekuensi jadwal keberangkatan. Bahkan untuk stasiun kecil, pada hari Sabtu dan Minggu kereta mulai beroperasi pada pukul 09.30. Sehingga tidak jarang pula kami bepergian dengan menggunakan bus kemudian baru menyambung dengan kereta pada saat weekend.

Wah… jadi apa ya, yang dilakukan oleh warga UK di hari Minggu? Bersantai dan berkumpul bersama keluarga menikmati hari di rumah. Selain itu, bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi, biasanya memilih pergi ke taman atau restoran favorit keluarga sekedar untuk piknik, makan, dan berkumpul. Work-life balance memang sepertinya menjadi prioritas warga disini. Jadi, jangan marah, heran, atau kesal dengan kebiasaan jam kerja seperti ini. Bayangkanlah apabila Anda yang bekerja, maka pasti senang sekali kan, bisa menikmati akhir pekan yang santai tanpa dihantui pekerjaan?

 

Cashless

Pada umunya di Indonesia maupun negara-negara Asia lainnya, orang terbiasa kemana-mana membawa uang kas yang selalu siap sedia di dalam dompet maupun tas, maka di Inggris berbeda pula kondisinya. Warga UK lebih banyak bertransaksi menggunakan kartu, bisa debit card atau credit card. Hal ini dirasakan lebih praktis dan comfortable, karena tidak perlu membawa cash kemana-mana. Jadi, apabila berbelanja ataupun makan di restoran biasanya customer akan melakukan pembayaran dengan kartu. Untuk tempat perbelanjaan seperti minimarket dan supermarket besar, penggunaan kartu tetap diterima untuk pembelanjaan dengan nominal sekecil apapun. Meskipun begitu, ada beberapa toko tertentu yang menerima pembayaran dengan kartu dengan ketentuan jumlah transaksi minimal GBP 5. Oh iya, banyak juga tempat makan yang tidak menerima pembayaran dengan kartu lho, juga termasuk pasar tradisional, hehe. Jadi Anda sebaiknya cari tahu dulu restoran mana yang mengharuskan pembayaran dengan menggunakan uang cash. Lalu, untuk kasus seperti ini, bagaimana kalau kita kemudian lupa membawa uang? Tenang saja, karena mesin ATM tersebar di banyak tempat kok, bahkan di dalam supermarket pun biasanya terdapat mesin tarik tunai ini. Yang harus diperhatikan jika anda ingin mengambil uang tanpa dikenakan biaya, maka carilah mesin ATM bertuliskan ‘free cash withdrawal’.

Selain transaksi belanja groceries dan makanan, kebiasaan cashless ini berlaku juga dalam pembelian tiket transportasi publik. Untuk bus, mayoritas warga memiliki kartu langganan bus yang dapat diisi maupun di top-up bila saldonya habis, dan kita bisa memilih apakah ingin berlangganan mingguan ataukah bulanan. Penumpang keretapun sangat lazim membeli tiket dengan menggunakan kartu kredit atau debit, sehingga tidak heran di setiap mesin pembelian tiket kereta, terdapat slot untuk kartu dan layar yang men-display instruksi pembayaran. Jika memesan tiket kereta secara online, maka pada saat pengambilannya, baik melalui mesin maupun langsung ke petugas tiket, kita harus dapat menunjukkan kartu debit yang dipakai. Pengambilan tiket untuk nonton film di theater  yang pembeliannya dilakukan secara online, selain dengan kode booking, dapat juga menggunakan kartu debit yang dipakai pada saat pemesanan di internet. Meskipun transaksi ekonomi banyak yang memakai kartu, tetapi tidak sedikit pula warga yang masih menggunakan cash sebagai alat bayar nya, terutama warga lokal yang sudah lanjut usia.

 

Online shopping

Setelah sebelumnya kami membahas dunia perbelanjaan kebutuhan pokok dan bahan makanan di (link), ternyata ada satu kebiasaan juga yang masih terkait dengan shopping, yaitu belanja online. Sebenarnya di negara berkembang seperti Indonesia pun, online shopping ini sudah cukup ngetrend ya recently, bahkan tampaknya kian hari kian digemari. Nah, lalu apa bedanya nih sama yang ada di sini? Di UK, belanja online ini menurut kami istimewa, karena hampir seluruh supermarket, pusat perbelanjaan, dan brand-brand memiliki lini belanja secara online. Biasanya pula, konsumen dimanjakan dengan banyaknya promo juga free delivery untuk pembelian dengan minimum sejumlah tertentu melalui pemesanan online ini.

Jika di Indonesia anda familiar dengan situs belanja online semacam lazada dan tokopedia, di UK terdapat dua situs yang sangat populer yaitu ebay dan Amazon. Di ebay yang dapat anda visit melalui www.ebay.co.uk, dan Amazon melalui www.amazon.co.uk, anda dapat menemukan berbagai produk yang anda perlukan dengan berbagai range harga dan merk. Selain itu, anda pun dapat memfilter pencarian barang berdasarkan banyak kategori, seperti barang baru atau secondhand (bekas tetapi masih layak pakai), kisaran harga, warna produk, lokasi barang, ukuran, dan lainnya. Uniknya melalui ebay, kita dapat menemukan barang yang siap langsung dibeli, barang yang dapat dibeli dengan menawar terlebih dahulu, dan barang yang bisa dibeli melalui lelang (bidding system). Produk yang bisa dibeli dengan menawar terlebih dahulu biasanya memiliki opsi untuk dibeli langsung dengan harga yang telah ditetapkan. Jika anda setuju dengan harga tersebut maka tidak perlu menawar, tetapi jika ingin harga yang lebih rendah silakan melakukan penawaran pada field yang tersedia dengan maksimal tiga kali penawaran. Sementara itu, di dalam sistem bidding, penjual biasanya sudah menetapkan harga awal penawaran, kemudian pembeli dapat mulai mengajukan harga yang ditawarkan untuk dibayar. Barang akan terjual kepada pembeli dengan penawaran nilai beli tertinggi pada penghujung waktu barang tersebut listing di ebay. Nah, sistem bidding semacam ini sangat digemari kalangan penerima beasiswa dan keluarga seperti kami, karena memang biasanya barang dengan kondisi bagus bisa diperoleh dengan harga yang lebih murah jika dibandingan langsung membeli barang yang sudah siap dibeli (tanpa melalui proses lelang). Situs Amazon juga memiliki kelebihan karena range barang yang tersedia biasanya lebih banyak dan banyak barang yang ditawarkan mempunyai feature amazon prime dimana barang tersebut digaransi dapat sampai ke alamat tujuan dalam waktu 24 jam, bahkan feature amazon prime now memungkinkan pengiriman barang dilakukan dalam waktu sekitar dua jam saja sejak pembelian barang. Hal tersebut sangat menolong apabila kita membutuhkan suatu barang yang akan digunakan dalam waktu sangat segera, sementara kita sudah tidak sempat lagi untuk mencarinya ke toko.

Belanja online ini tidak hanya berlaku pada barang-barang seperti baju dan sepatu, atau peralatan rumah tangga. Belanja online juga bisa dilakukan untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan minuman. Fasilitas ini biasanya mempermudah kita sebagai pelanggan apabila ingin membeli dalam jumlah banyak sedangkan harus naik kendaraan umum. Tidak praktis rasanya harus membawa barang-barang banyak dan naik turun bus. Oleh karena itu, sebagian orang memilih untuk berbelanja online sehingga barang langsung sampai ke rumah. Kondisi lain yang biasanya membuat warga UK memilih untuk berbelanja online adalah ketika cuaca sedang sangat buruk. Beberapa tahun lalu, badai salju melanda UK. Pada saat itu banyak orang yang persediaan makanannya sudah sangat minim harus berbelanja. Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah tanpa kendaraan pribadi akhirnya mengharuskan warga untuk berbelanja online.

 

Ramah Lingkungan

Kebiasaan lain yang juga telah membudaya di Inggris adalah tindakan-tindakan keseharian yang mencerminkan prinsip ramah lingkungan. Hal yang paling sederhana adalah dengan memisahkan pembuangan sampah berdasarkan materialnya. Meskipun penyediaan tempat sampah yang memisahkan antara recycle dan non-recycle belum tersedia di semua area,  tetapi masyarakat telah terbiasa dengan pemisahan sampah tersebut. Nah, masih mengenai buang-membuang, tidak hanya sampah, proses pembuangan barang pun memiliki aturannya tersendiri. Untuk membuang barang-barang besar, seperti tempat tidur, sofa, dan sebagainya, kita tidak boleh sembarangan. Pihak city council harus dihubungi agar ada orang yang mengambil barang tersebut dari rumah kita. Kita pun harus membayar sejumlah uang tertentu sebagai balas jasa pembuangan barang tersebut. Haha. Ribet ya? Oh ya, salah satu rekan kami pernah membahas hal ini di: http://riverpost.id/mulan-menyelamatkan-bumi/.

Masih terkait dengan aksi go green, penggunaan kantong plastik juga dibatasi disini. Untuk mendukung hal ini, jika sebelumnya pada saat belanja kita bisa mengambil kantong plastik dengan gratis, maka sekarang setiap selembar kantong plastik yang kita ambil akan dikenai charge sebesar GBP 0.05-0.2, tergantung dari ukurannya. Ya, kalau di Indonesia masih banyak orang protes dan mengkritisi alokasi dana yang didapat dari pembelian kantong plastik tersebut, tidak begitu halnya dengan di sini. Seluruh toko telah menjalani hal ini (kecuali pasar tradisional dan toko yang menggunakan kantong kertas) dan biasanya pada kantong plastik yang kita beli, telah dengan jelas tergambar atau tertera organisasi apa yang menerima uang hasil penjualan plastik tersebut. Dengan charge terhadap kantong plastik, diharapkan konsumen dapat meminimalkan penggunaan kantong plastik, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan atau apabila konsumen terpaksa membelinya, maka dengan jelas diketahui bahwa hasil penjualan pun dialokasikan untuk organisasi ramah lingkungan.

Bentuk lain dari aksi ramah lingkungan ini adalah menjamurnya charity shop di UK. Eh, mengapa dinamakan charity shop? Karena memang semua hasil penjualan barang-barangnya didonasikan untuk mendanai kegiatan sosial, misalnya yayasan penderita kanker, penderita penyakit jantung, penyayang satwa, animal shelter, penyandang cacat, dan masih banyak lagi. Barang apa saja yang dijual di charity shop? Banyaaak banget mulai dari baju, tas, sepatu, buku, barang pecah belah, peralatan rumah tangga, alat elektronik, mainan anak-anak, DVD film, CD musik, dan masih banyak jenis barang lain yang terkadang tidak disangka ternyata kita membutuhkannya. Jenisnya juga beda-beda, ada yang khusus furniture dan alat rumah tangga, ada yang khusus menjual baju dan produk fashion, dan tak ketinggalan charity shop khusus buku. Karena fashion di UK ini selalu berganti seiring perubahan musim, dan juga perputaran yang cepat, maka baju-baju yang dijual di toko secondhand tersebut juga selalu berganti model. Keberadaan toko-toko semacam ini merupakan solusi untuk banyak pihak. Bagi si penyuplai, tentu saja mereka terbantu karena dengan menyumbangkan baju maupun barang-barang yang tak lagi terpakai, itu artinya mereka terbebas dari keharusan membuang barang-barang tersebut dan sekaligus mengurangi sampah rumah. Ingin ‘membuang’ barang bekas Anda ke charity shop? Caranya sangat mudah. Anda bisa langsung mengantarkan barang-barang Anda ke charity shop terdekat atau memasukkannya ke ‘charity bank’ yang bentuknya seperti tempat sampah. Charity bank ini biasanya tersebar di daerah pemukiman penduduk. Itulah sebabnya masyarakat Inggris dengan senang hati membawa barang-barang yang sudah tak lagi terpakai di rumah mereka ke charity shop, dibandingkan jika mereka harus membayar sejumlah uang demi pelayanan pembuangan barang ke pemerintahnya. Manfaat untuk toko atau yayasan pengelola social activity, hal ini menambah potensi sumber dana masuk untuk menyokong aktivitas sosial yang mereka jalankan. Sedangkan yang juga penting untuk pembelinya (termasuk kami dan keluarga-keluarga orang Indonesia yang tinggal di sini), adalah dapat menghemat pengeluaran dengan signifikan, karena memang harga yang dibandrol sangat sangat miriiing, jadi ya worth to visit lah. Karena kondisi barangnya bekas pakai, jadi kita harus pintar-pintar memilih ya, sebab memang tidak semuanya dalam kondisi yang masih rapi jali. Telatenlah untuk cek kondisi fisik barang sebelum membeli. Oh iya, kami tidak bertanggung jawab ya kalau Anda ketagihan berkunjung ke charity shop, hehehe.
Sekian pemaparan kami mengenai budaya lokal. Dua artikel ini sepertinya panjang sekali, tetapi bahkan mungkin belum bisa meng-cover seluruh pengalaman unik yang kami dapatkan selama tinggal di UK. Silahkan datang dan alami sendiri, ya! Tunggu seri artikel kami berikutnya tentang pendidikan anak di UK. Stay tuned!

 

AdventureNotes #26: Peak District

Edensor, Peak District

Most of my AdventureNotes talk about traveling to cities (except if you consider Hull not as a city, haha!). This time, I will share my experience traveling to villages. I think around February, I got a chance to visit Peak District. It is an area categorized as one of National Parks in the UK. It is located to the north of Birmingham, just beside Sheffield. If you love the greens and nature, you will sure love it here.

It is not easy to reach this place. First of all, Peak District is big! There are various villages and green areas included in this district. Therefore, you have to be specific as in where you want to go to. As an Indonesian, we (yes, I visited the place with some of my friends) are inspired by a novel written by Andrea Hirata that is titled Edensor. Indeed, Edensor is the name of a village in Peak District. We don’t know why he chose that title for the novel, but it is legendary. We decided to visit the village as our main destination and then explore the surrounding area later on. So how did we manage to get into the village? By car. There is access by public transportation, but the service is scarce. You have to go to Sheffield first, and then take a bus to somewhere near Edensor. It is even more scarce in the weekend.

Actually, it was my first time experience renting a car to go somewhere in the UK. The process is not difficult and we can do it online. My husband just had to collect the car in the appointed place (usually airports) on the allocated time and to return the car also at the allocated time. We paid a little bit more for the insurance because it ‘safeguard’ us from further claims from the car rent company if something happen to the car. As a common policy here, we take the car with full tank of fuel and we have to return it in the same condition. So, don’t forget to calculate these costs when you are comparing the price of renting a car and of taking a public transportation. Oh! One more thing. We can use our Indonesian driving licence here as we have been living in the UK for less than a year. If you have lived in the UK for more than a year, you have to apply for the local driving licence.

The journey from Birmingham to Edensor should take around 1.5-2 hours. We took longer time because we got a bit lost. The intersections in UK is just confusing! Haha. Starting our journey from Birmingham at 7, we finally arrived at Edensor at around 10. The journey was pleasant and the surroundings and ambience was really different when we start coming into the Peak District area. It was just green and beautiful. Finding a parking space is not too difficult there. There is one big parking area near the Cathsworth House, but we chose to park just along a street in the Edensor Village. Edensor Village is a very small area that consists of maybe around 20 houses. It has only one main street, a church, and a tea house. At the end of the main road, there is a huge green area for farming. We explored the village, came inside the greenery area and enjoyed the view.

Having had enough of the village, we then walked across the road to a park. I think the name is Cathsworth Park. The view from the park onlooking the Edensor Village is even more beautiful. We seriously thought that it was the place where the inspiration for the book cover was. We endlessly took pictures there. Walking through the park, the scenery was amazing. At one end, we could see the Cathsworth House. It is the house for the Duke and Duchess of Devonshire. Nowadays, it is open for public, exhibiting numerous art collections. We can also visit the farm, garden, and annual Christmas event there. Unfortunately, at the time we visited the area, the house was closed for renovation. It was such a shame. I would love to see the inside of the house as the outside is so grand!

After having a picnic near the house, we just drove around the Peak District area. There are many little villages and the so-called towns. The villages are not far from each other. Again, it is all about the beauty of a country-side. We drove to a high point in Buxton. Climbing up to the hills, we can see such a beautiful scenery. Along the way, we saw many cyclists. I think it is a popular area for outdoor activities, such as hiking, cycling, and motorbiking. What’s interesting is that with that contour (steep hills and slopes), the outdoor activities are really for everyone. I mean, we saw kids with their parents, and even senior citizens doing the same activity. Gosh! How strong are they!
Anyway, the visit ended there. It was such a refreshing escape from the hustle bustle of a city. Peak District done, but I still have a long checklist to go. Maybe next, I will visit Lake District!

Home Away from Home: Budaya Lokal (1)

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa tersebut pasti sering kita dengar, kan ya? Apa hubungannya dengan postingan minggu ini? Masih ingat kan dengan tulisan sebelumnya tentang kehidupan sehari-hari di UK.. Nah, berhubung kita sedang merantau di negeri orang, sudah seharusnya dalam keseharian kita menghormati budaya lokal, tata krama, atau kalau di Indonesia biasanya kental disebut adat-istiadat, hehe. Berbeda kota dalam satu negara saja bisa berbeda kebiasaan, apalagi yang beda negara ya. Masyarakat Inggris pun memiliki budaya lokal yang lumayan jauh berbeda dengan kita sebagai orang timur. Dalam tulisan kali ini, kami mencoba untuk membahas beberapa local culture yang ada di UK.

Adanya pembahasan ini tidak berarti kita yang masyarakat Indonesia harus bergaya kebarat-baratan. Bukan pula berarti kita melupakan budaya timur. Namun, mengetahui budaya lokal sangat penting untuk membantu kita beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat secara luas selama berada di UK. Nah, ada banyak budaya lokal di sini, tetapi kami akan memaparkan hal-hal yang umum dan yang pernah kami alami. Sisanya, silahkan coba cari tahu sendiri ya…

Common courtesy

Masyarakat Inggris sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan (politeness). Meskipun saat ini kemajuan zaman yang diikuti dengan derasnya perkembangan teknologi yang suka tidak suka menggerus interaksi sosial antar manusia, tetapi selama tinggal di UK ini, kami masih dapat merasakan kentalnya kebiasaan-kebiasaan baik dari warga lokal. Dimulai dari hal kecil seperti pengucapan ‘thank you’, ‘sorry’, dan ‘please’ sebagai bentuk dari apresiasi kepada orang lain. Hampir di semua aspek kehidupan sehari-hari dimana kita berinteraksi dengan orang lain, sebanyak itu pula kita sering mendengar orang lain mengucapkan terima kasih, dan bahkan meminta maaf meskipun sebenarnya terkadang hal tersebut bukanlah kesalahan mereka. Penanaman kebiasaan ini dimulai sejak kecil baik dari lingkungan keluarga maupun di sekolah. Kebiasaan baik yang diajarkan sedari dini ini kemudian tetap terjaga hingga mereka dewasa dan hingga usia senja. Selain itu, biasanya di tempat perbelanjaan, pegawai atau staf toko juga selalu menyapa kita dengan menanyakan kabar. Hal tersebut selain sebagai sapaan atau basa-basi, juga merupakan cara mereka menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Contoh lain adalah kebiasaan pria lokal yang akan membukakan pintu untuk orang lain terutama wanita, bahkan meskipun orang lain tersebut berusia lebih muda dan datang dibelakangnya, pria tersebut akan tetap menahan pintu tetap terbuka dan mempersilakan wanita untuk lewat terlebih dahulu. Kemudian, orang-orang lokal, terutama warga senior, seringkali menggunakan panggilan-panggilan sayang, seperti ‘love’, ‘dear’, dan ‘darling’, bahkan untuk bercakap-cakap dengan orang yang baru dikenal. Don’t be insulted atau menganggap ini pelecehan seksual, ya. Jangan juga ge-er dan minta nomer telepon. Hal ini adalah kebiasaan, cara mereka untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Jadi, jangan terheran-heran ya ketika nanti anda sering mendengar ucapan-ucapan dan perilaku yang menunjukkan atensi kepada anda, karena memang hal itu telah menjadi kebiasaan baik bagi mereka.

Kebiasaan baik warga lokal (sebagian besar warga lokal, karena ada juga anak-anak muda yang tidak meneruskan tradisi baik) juga tercermin pada prioritas mereka terhadap anak-anak, wanita, orang berusia lanjut, dan orang-orang berkebutuhan khusus. Misalnya, bus di UK menyediakan tempat khusus bagi orang-orang yang membawa stroller, bagi orang-orang berkursi roda, dan warga lanjut usia. Biasanya, tempat-tempat ini tidak diduduki oleh warga lain. Namun, ketika kita terpaksa mengambil tempat prioritas ini, pastikan bahwa tidak ada orang lain yang lebih membutuhkan dibandingkan kita. Jika pada akhirnya ada penumpang manula atau berkebutuhan khusus masuk, maka sebaiknya anda segera berdiri dan memberikan priority seat tersebut kepada orang yang membutuhkan.

Budaya antre juga merupakan hal yang biasa terlihat di UK. Orang-orang tidak hanya antre pada saat berbelanja atau akan membeli sesuatu, tetapi juga pada saat akan masuk ke dalam kendaraan umum. Normanya adalah, kita diminta untuk mendahulukan orang-orang yang akan keluar dari kendaraan umum, baik tube, kereta, tram, atau bus. Setelah itu, barulah giliran orang-orang yang akan masuk, dimulai dari orang pertama yang menunggu di halte atau pemberhentian tersebut. Masalah antre ini cukup sensitif. Biasanya, apabila ada yang ‘menyelak’ antrian, orang tersebut akan ditegur oleh orang-orang lain yang sudah terlebih dahulu antre. Selain itu, hal yang juga cukup banyak disoroti mengenai perilaku warga Indonesia di UK adalah mengenai budaya tepat waktu. Jika di Indonesia, istilah jam karet cukup lazim bagi kita, maka jangan coba-coba untuk menerapkannya di sini ya. Budaya tepat waktu menjadi salah satu ciri yang cukup jelas di banyak negara maju temasuk di Inggris ini. Apabila anda memiliki janji dengan orang lokal, usahakan juga untuk menepatinya sesuai dengan waktu yang sudah disepakati. Apabila anda hendak membatalkan janji tersebut sebaiknya memberi kabar terlebih dahulu dan tidak mepet dalam menghubungi pihak kedua. Sebagai contoh kasus, kabarnya para dosen di University of Birmingham ada yang sudah hafal kebiasaan jam karet mahasiswa Indonesia. Saking banyaknya yang sering terlambat masuk kelas, orang-orang Indonesia seperti sudah ‘dicap’. Tidak jarang pula, mereka ditegur saat masuk kelas. Nggak enak, kan, kalau ditegur di depan umum? Apalagi kita terlihat berbeda (ya, orang Indonesia kan khas dengan kulit eksotisnya). Rasanya cukup malu-maluin negara dan bangsa. Hahaha… Jadi, meskipun mungkin di negara sendiri budaya antre dan tepat waktu belum sepenuhnya ditaati, berusahalah untuk membiasakannya ketika tinggal di sini.

Hal menarik lainnya adalah tingginya level individual warga lokal Inggris, dimana mereka cenderung untuk menjaga jarak dari orang lain. Misalnya saja ketika berada di dalam bus atau kereta. Kebanyakan orang Inggris akan duduk pada deretan kursi yang masih kosong dan kemudian menaruh tas atau bawaannya pada kursi sebelahnya. Penduduk lokal biasanya akan berusaha untuk melakukan upaya yang menunjukkan sign bahwa dia sedang menjaga jarak, menginginkan privasi, dan juga untuk tidak diganggu (contoh dengan diajak berbicara). Mereka memang sengaja menghindari interaksi dengan orang lain terutama yang tidak dikenal. Nah, biasanya jika tetap ada orang yang duduk disebelahnya, orang tersebut akan dengan jelas menampakkan ketidaknyamanannya. Mereka memang tidak akan protes, tetapi kejadian ekstrim yang pernah kami alami adalah mereka mungkin akan segera beranjak untuk berpindah tempat duduk. Sehingga sebaiknya tidak duduk dekat-dekat dengan orang lain kecuali jika terpaksa sudah tidak ada tempat duduk yang lain. Hal lain yang perlu diingat adalah mengenai budaya ‘kepo’ orang Indonesia yang membuat kita seringkali mengamati orang lain secara berlebihan (baca: menatap seseorang dalam waktu lama di ruang publik). Nah, sebaiknya hal ini dihindari agar tidak dianggap aneh, atau bahkan menyinggung orang lain. Salah satu kawan kami bahkan pernah kena ‘semprot’ anak usia SD karena anak tersebut merasa ditatap terlalu lama oleh kawan kami. Anak tersebut menegur dengan berucap ‘What are you looking at?’

Berkaitan dengan anak-anak, interaksi dengan anak-anak adalah hal yang perlu sangat diperhatikan. Kalau boleh dibilang, kita harus sangat berhati-hati saat berinteraksi dengan anak-anak. Pertama-tama, bentuk perilaku kesopanan di UK dan di Indonesia berbeda. Jadi, jangan kaget apabila Anda dipanggil dengan nama panggilan oleh anak TK. Ya, tidak seperti di Indonesia yang dengan mudah memberikan embel-embel ‘om, tante, bude, pakde’, anak-anak di UK terbiasa memanggil siapa pun (kecuali guru dan keluarga terdekat) dengan nama mereka. Hal ini kadang-kadang juga diadopsi oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah di UK. Mereka pun seringkali diingatkan oleh orang tua mereka agar menambah kata ‘tante’ atau ‘om’ sebelum memanggil orang Indonesia lain. Selesai masalah panggil memanggil, kita juga harus sangat berhati-hati ketika berinteraksi dengan anak-anak. Peraturan mengenai perlindungan anak di UK sangat ketat. Bahkan di sekolah, guru dan pihak sekolah tidak boleh mengambil gambar (foto) anak tanpa persetujuan orang tua. Kalau sekolah dan guru saja tidak boleh, apalagi stranger, kan? Oleh karena itu, jangan asal foto kalau bertemu anak lucu. Hal ini juga berlaku pada sentuhan fisik. Menyentuh anak secara fisik pun dilarang tanpa persetujuan dari anak dan orang tua. Jadi, jangan coba-coba towel-towel bayi menggemaskan. Wah, yang simpel-simpel saja tidak boleh, apalagi yang agak ‘berat’ seperti menawarkan dan memberi makan anak orang lain. Nah, ini juga ada alasan kesehatan dan keamanan. Orang-orang UK pada umumnya sangat concern pada alergi. Oleh karena itu, kita tidak boleh asal memberi makan karena mungkin saja ada bahan makanan yang merupakan alergen bagi anak tersebut. Haaaahh… Lalu bagaimana? Susah banget mau interaksi sama anak kecil… Kuncinya adalah minta izin pada orang tua. Berkenalanlah dulu dengan orang tua sebelum berinteraksi dengan anak. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah meminta izin untuk berinteraksi dengan anak.

Masih berhubungan dengan anak peranakan dan peraturannya yang cukup rumit di UK, rasanya masyarakat Indonesia yang di UK juga perlu tahu sedikit gambaran mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ke anak (meskipun anak tersebut adalah anak kandung kita). Ya, saat kita berada di UK, maka kita pun subject to peraturan di UK sehingga pelanggaran yang kita lakukan pun akan mendapatkan konsekuensi sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di UK. Apa saja panduan umum dalam memperlakukan anak? Anak-anak memiliki posisi yang penting dalam hukum UK. Mereka diedukasi sehingga tahu betul hak-hak mereka. Oleh karena itu, bukan hal yang asing bagi anak-anak untuk menelepon social service untuk melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk orang tua mereka, kepada pihak berwajib. Wih, seram juga ya… Betul! Mungkin bagi orang Indonesia, aneh sekali ada anak yang melaporkan orang tuanya ke polisi. But it happens here. Jadi, kita sebagai orang dewasa dan orang tua pun harus benar-benar menjaga perilaku kita terhadap anak. Jelas, tindakan kekerasan fisik dilarang di UK. Ya wong memegang saja harus hati-hati, apalagi kekerasan fisik. Anak-anak tidak boleh dipukul, dijewer, atau disentil. Apabila ada orang lain yang melihat, ia bisa melaporkan Anda pada social service atau polisi dan hal ini akan ditindaklanjuti. Pun dengan anak-anak yang terlihat kelaparan, berkeliaran dengan orang tua pada jam sekolah, dan anak-anak yang terlihat ditinggal sendirian tanpa pengawasan, baik di rumah sendiri ataupun di area umum. Semua dapat dilaporkan ke pihak berwajib. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat memperlakukan anak. Apa yang akan terjadi apabila Anda dilaporkan? Pihak social service dan polisi akan datang ke rumah Anda untuk melakukan wawancara dan observasi. Apabila hasil wawancara dan observasi tidak memuaskan, maka bisa saja ada tindakan lanjutan atau akan dilakukan mediasi dengan social service.

Pernahkah ada warga Indonesia yang mengalami hal ini? Ada. Seorang teman pernah ‘kehilangan’ anaknya di kota lain (bukan kota tempat ia tinggal). Anak ini rupanya tertidur di dalam bus dan orang tuanya tidak sadar bahwa anak tersebut tertinggal di bus saat mereka turun. Saat itu, kondisinya adalah mereka sedang berjalan-jalan bersama banyak sekali warga Indonesia. Biasa dong ya, namanya orang Indonesia kan percaya saja, mungkin anaknya sedang bersama si tante ini atau dengan si temannya yang itu. Akhirnya, anak tersebut ditemukan oleh supir bus di tujuan akhir bus yang ia naiki. Saat dibangunkan, anak tersebut bisa dengan lengkap menyebutkan nama orang tua dan alamatnya (nah, ini juga pelajaran penting bahwa anak harus bisa berbahasa Inggris sederhana dan mengerti pertanyaan, serta dapat menyebutkan nama orang tua dan alamatnya). Anak tersebut akhirnya dikembalikan kepada orang tuanya. Namun, saat mereka tiba di kota tempat mereka tinggal, rumah mereka didatangi oleh polisi dan pihak social service. Keluarga tersebut diwawancara dan diamati. Polisi pun tampak banyak berpatroli di sekitar rumah tersebut. Hal ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Pengamatan dan penjagaan ekstra berakhir ketika tidak ada laporan dan kejadian child abuse atau perlakuan tidak normal pada anak selama masa pengamatan.

Kira-kira, seperti itulah gambaran mengenai budaya lokal di Inggris. Hal-hal yang kami sampaikan adalah perilaku yang sering terlihat sehari-hari dan rasanya penting untuk diketahui agar tidak awkward dalam berinteraksi dan agar tidak melakukan hal-hal yang mungkin dapat menimbulkan masalah berujung rumit, seperti kasus child abuse. Berikutnya, kami akan membahas mengenai persepsi orang-orang lokal terhadap imigran seperti kami.

 

Diskriminasi / sosialisasi

Beberapa orang pernah bertanya pada kami mengenai kesulitan yang dihadapi saat berada di UK karena kami mengenakan hijab. Entah mengapa, anggapan bahwa wanita berhijab dan orang-orang Islam akan mendapatkan perlakuan diskriminatif di negara-negara Barat, termasuk UK, masih banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Bahkan, Izza ingat sekali bahwa ibu dan adiknya yang akan mengunjunginya di UK pada tahun 2013 diminta oleh pihak tour untuk membuka hijab atau menampakkan telinga pada saat foto untuk permohonan visa. Whaaaat? Aneh sekali! Sudah sejak lama wanita-wanita berhijab boleh difoto dengan mengenakan hijabnya untuk keperluan visa. Jangankan yang menggunakan hijab, di UK banyak juga wanita Muslim yang mengenakan cadar. And they are doing fine. Jadi, kalau-kalau Anda diminta untuk melepas hijab atau menampakkan telinga pada saat foto untuk keperluan visa, jangan mau! Take your chance, masyarakat UK sudah terbiasa kok, dengan hijab.

Salah satu alasan mengapa masyarakat di UK cukup paham mengenai hijab adalah karena UK merupakan negara multikultur. Warga UK tidak hanya terdiri dari orang-orang asli yang berkulit putih, tetapi juga mereka-mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia dan kemudian menjadi warga negara UK. Selain itu, negara ini juga memiliki proporsi imigran yang cukup besar. Jangan heran kalau Anda bisa melihat orang-orang yang berbeda warna kulit, ras, dan agama di suatu tempat. Hal ini sangat terlihat di kota-kota besar, seperti London, Birmingham, dan Manchester. Sedangkan di kota yang lebih kecil, biasanya penduduk masih didominasi oleh warga lokal kulit putih.Nah sehubungan dengan hijab, agama Islam adalah agama terbesar kedua setelah kristen, oleh karenanya banyaknya warga muslim di UK merupakan pemandangan sehari-hari di mayoritas kota besar di UK.

Keberagaman penduduk di UK membuat pihak pemerintah dan penyedia jasa serta barang menjadi lebih kreatif dalam memberikan fasilitas yang memenuhi kebutuhan seluruh warga. Seperti yang telah disebutkan di artikel sebelumnya, jangan heran kalau banyak tempat yang didedikasikan sebagai multifaith prayer room, adanya opsi makanan halal dan makanan vegetarian, atau banyaknya fasilitas dan akses yang diberikan bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Hal ini memberikan kenyamanan bagi seluruh warga yang menetap di UK. Minimnya constraint bagi setiap warga untuk menjadi dirinya sendiri pun akhirnya mendorong atmosfer yang baik, terutama mengenai terciptanya kerukunan antarwarga.

Jadi, tidak ada diskriminasi sama sekali? Ya, tidak bisa dibilang seperti itu juga. Pastinya ada kasus-kasus kecil yang muncul, yang berhubungan dengan diskriminasi. Apalagi jika ada isu sara atau terorisme yang merebak, hal ini akan memancing reaksi dari warga lokal. Sebagai contoh, satu hari setelah adanya kabar teror bom di kota Paris beberapa waktu lalu, Alif pernah beberapa kali diteriaki oleh sekelompok orang di pusat kota yang intinya menyatakan bahwa mereka membenci agama Islam dan tidak menginginkan muslim berada di tengah-tengah mereka. Bahkan juga sempat terjadi sweeping bagi muslimah yang berhijab, sehingga pihak keamanan menghimbau agar muslimah berhijab menghindari keramaian untuk beberapa hari. Perasaan kaget dan sedikit takut pun dia alami, tetapi perlakuan-perlakuan semacam itu memang terkadang terjadi dan sudah wajar di negara multikultur seperti ini. Biasanya, hal ini dilakukan oleh orang-orang lokal yang kurang terdidik, ‘kelas atas’ (meskipun golongan ini juga mendiskriminasi warga lokal kelas pekerja), dan orang-orang tua yang konservatif. Namun, jumlahnya sedikit dibandingkan dengan perlakuan baik yang diterima oleh para imigran dan orang-orang non-white. Salah satu bentuk tindakan non-diskriminatif yang tampaknya bahkan belum diaplikasikan di Indonesia adalah banyaknya Sales Assistant di mall-mall dan pusat perbelanjaan yang mengenakan hijab. Mereka dapat bekerja di brand apa saja, di bagian mana saja dan tetap bebas mengenakan hijab mereka. Berdasarkan pengamatan, hal ini belum terjadi di Indonesia. Seringkali terlihat para sales assistant yang bekerja di pusat perbelanjaan harus melepas kerudung saat bekerja dan memakainya kembali pada saat selesai bekerja. Miris juga ya…

Iklim yang baik dalam hal keberagaman ini menimbulkan kenyamanan bagi kami. Akibatnya, kami sebagai imigran, Muslim, dan Asian dapat berinteraksi dengan orang-orang lokal dengan cukup baik. Mereka ramah, terkadang banyak bertanya mengenai Indonesia, budaya timur, dan agama, serta sangat helpful. Selain itu, ada juga beberapa keuntungan yang kami dapatkan saat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Misalnya, seringkali ada pertanyaan tentang Indonesia sehingga kita juga bisa sekalian promosi pariwisata dan bisa memberikan perspektif baru dalam diskusi dan obrolan dengan masyarakat umum. Hal ini sangat dihargai oleh warga lokal karena mereka menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Jadi, meskipun mereka nantinya tidak setuju dengan pandangan kita, mereka akan tetap menghargai pendapat tersebut. We agree to disagree. Selain itu, kami sebagai Muslim dengan identitas Muslim yang jelas (karena mengenakan hijab) sering juga mendapatkan perilaku khusus, seperti mendapat diskon saat berbelanja karena penjualnya juga Muslim, diingatkan mengenai opsi makanan halal saat akan masuk restoran, dan disapa dengan salam oleh Muslim lain saat bertemu di jalan. Pada bulan Ramadan ini, bahkan tidak hanya Muslim yang mengucapkan ‘selamat berpuasa’ atau menanyakan kabar puasa kita. Orang-orang UK sangat aware terhadap adanya bulan Ramadan, sehingga kadang-kadang kami pun mendapat ucapan ‘ramadan kareem’ dari orang-orang lokal.

 

Demikian sharing pengalaman kami tentang common courtesy di Inggris, dimana kami meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang akhirnya menjadi budaya lokal warga UK memang telah terbentuk dan apabila dilakukan akan memberikan efek positif dua arah. Pertama, sebagai bentuk saling menghormati dan penghargaan terhadap orang lain; dan kedua, karena dengan melakukan kebiasaan baik tersebut maka akan muncul rasa nyaman dan bahagia dalam diri kita sendiri. Hal-hal baik inipun akan menular jika kita lakukan dengan tulus. Tingginya toleransi dalam interaksi sosial di dalam kentalnya perbedaan antar warga di UK menjadikan kami sebagai pendatang merasa diterima dan tenang dalam menjalani keseharian di sini. Meskipun begitu, sebagai warga non-lokal hendaknya kita tetap mawas diri dan berhati-hati dalam tindak-tanduk maupun lisan sehari-hari. Jadi untuk Anda yang akan datang dan tinggal di Inggris, tidak perlu terlalu kawatir dengan isu-isu diskriminasi yang sering beredar. Siapkan diri untuk menjadi penduduk UK, juga dengan mengikuti local culture yang berlaku di negara tersebut. Oh ya, mengenai local culture ini, dua orang rekan kami yang juga tinggal di Birmingham juga sering menulis mengenai hal-hal unik yang mereka alami di UK. Silahkan cek ke: http://riverpost.id/author/sondang-purba/ dan http://riverpost.id/author/ari-kristiana/.

Sampai ketemu minggu depan pada lanjutan topik Budaya Lokal bagian kedua. Stay tuned yaa!

Photo source: https://theadventureofizzaodotcom.files.wordpress.com/2016/06/c8f3f-very-british-problems-tv-show-034-1439544889.jpg