Home Away from Home: Budaya Lokal (1)

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa tersebut pasti sering kita dengar, kan ya? Apa hubungannya dengan postingan minggu ini? Masih ingat kan dengan tulisan sebelumnya tentang kehidupan sehari-hari di UK.. Nah, berhubung kita sedang merantau di negeri orang, sudah seharusnya dalam keseharian kita menghormati budaya lokal, tata krama, atau kalau di Indonesia biasanya kental disebut adat-istiadat, hehe. Berbeda kota dalam satu negara saja bisa berbeda kebiasaan, apalagi yang beda negara ya. Masyarakat Inggris pun memiliki budaya lokal yang lumayan jauh berbeda dengan kita sebagai orang timur. Dalam tulisan kali ini, kami mencoba untuk membahas beberapa local culture yang ada di UK.

Adanya pembahasan ini tidak berarti kita yang masyarakat Indonesia harus bergaya kebarat-baratan. Bukan pula berarti kita melupakan budaya timur. Namun, mengetahui budaya lokal sangat penting untuk membantu kita beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat secara luas selama berada di UK. Nah, ada banyak budaya lokal di sini, tetapi kami akan memaparkan hal-hal yang umum dan yang pernah kami alami. Sisanya, silahkan coba cari tahu sendiri ya…

Common courtesy

Masyarakat Inggris sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan (politeness). Meskipun saat ini kemajuan zaman yang diikuti dengan derasnya perkembangan teknologi yang suka tidak suka menggerus interaksi sosial antar manusia, tetapi selama tinggal di UK ini, kami masih dapat merasakan kentalnya kebiasaan-kebiasaan baik dari warga lokal. Dimulai dari hal kecil seperti pengucapan ‘thank you’, ‘sorry’, dan ‘please’ sebagai bentuk dari apresiasi kepada orang lain. Hampir di semua aspek kehidupan sehari-hari dimana kita berinteraksi dengan orang lain, sebanyak itu pula kita sering mendengar orang lain mengucapkan terima kasih, dan bahkan meminta maaf meskipun sebenarnya terkadang hal tersebut bukanlah kesalahan mereka. Penanaman kebiasaan ini dimulai sejak kecil baik dari lingkungan keluarga maupun di sekolah. Kebiasaan baik yang diajarkan sedari dini ini kemudian tetap terjaga hingga mereka dewasa dan hingga usia senja. Selain itu, biasanya di tempat perbelanjaan, pegawai atau staf toko juga selalu menyapa kita dengan menanyakan kabar. Hal tersebut selain sebagai sapaan atau basa-basi, juga merupakan cara mereka menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Contoh lain adalah kebiasaan pria lokal yang akan membukakan pintu untuk orang lain terutama wanita, bahkan meskipun orang lain tersebut berusia lebih muda dan datang dibelakangnya, pria tersebut akan tetap menahan pintu tetap terbuka dan mempersilakan wanita untuk lewat terlebih dahulu. Kemudian, orang-orang lokal, terutama warga senior, seringkali menggunakan panggilan-panggilan sayang, seperti ‘love’, ‘dear’, dan ‘darling’, bahkan untuk bercakap-cakap dengan orang yang baru dikenal. Don’t be insulted atau menganggap ini pelecehan seksual, ya. Jangan juga ge-er dan minta nomer telepon. Hal ini adalah kebiasaan, cara mereka untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Jadi, jangan terheran-heran ya ketika nanti anda sering mendengar ucapan-ucapan dan perilaku yang menunjukkan atensi kepada anda, karena memang hal itu telah menjadi kebiasaan baik bagi mereka.

Kebiasaan baik warga lokal (sebagian besar warga lokal, karena ada juga anak-anak muda yang tidak meneruskan tradisi baik) juga tercermin pada prioritas mereka terhadap anak-anak, wanita, orang berusia lanjut, dan orang-orang berkebutuhan khusus. Misalnya, bus di UK menyediakan tempat khusus bagi orang-orang yang membawa stroller, bagi orang-orang berkursi roda, dan warga lanjut usia. Biasanya, tempat-tempat ini tidak diduduki oleh warga lain. Namun, ketika kita terpaksa mengambil tempat prioritas ini, pastikan bahwa tidak ada orang lain yang lebih membutuhkan dibandingkan kita. Jika pada akhirnya ada penumpang manula atau berkebutuhan khusus masuk, maka sebaiknya anda segera berdiri dan memberikan priority seat tersebut kepada orang yang membutuhkan.

Budaya antre juga merupakan hal yang biasa terlihat di UK. Orang-orang tidak hanya antre pada saat berbelanja atau akan membeli sesuatu, tetapi juga pada saat akan masuk ke dalam kendaraan umum. Normanya adalah, kita diminta untuk mendahulukan orang-orang yang akan keluar dari kendaraan umum, baik tube, kereta, tram, atau bus. Setelah itu, barulah giliran orang-orang yang akan masuk, dimulai dari orang pertama yang menunggu di halte atau pemberhentian tersebut. Masalah antre ini cukup sensitif. Biasanya, apabila ada yang ‘menyelak’ antrian, orang tersebut akan ditegur oleh orang-orang lain yang sudah terlebih dahulu antre. Selain itu, hal yang juga cukup banyak disoroti mengenai perilaku warga Indonesia di UK adalah mengenai budaya tepat waktu. Jika di Indonesia, istilah jam karet cukup lazim bagi kita, maka jangan coba-coba untuk menerapkannya di sini ya. Budaya tepat waktu menjadi salah satu ciri yang cukup jelas di banyak negara maju temasuk di Inggris ini. Apabila anda memiliki janji dengan orang lokal, usahakan juga untuk menepatinya sesuai dengan waktu yang sudah disepakati. Apabila anda hendak membatalkan janji tersebut sebaiknya memberi kabar terlebih dahulu dan tidak mepet dalam menghubungi pihak kedua. Sebagai contoh kasus, kabarnya para dosen di University of Birmingham ada yang sudah hafal kebiasaan jam karet mahasiswa Indonesia. Saking banyaknya yang sering terlambat masuk kelas, orang-orang Indonesia seperti sudah ‘dicap’. Tidak jarang pula, mereka ditegur saat masuk kelas. Nggak enak, kan, kalau ditegur di depan umum? Apalagi kita terlihat berbeda (ya, orang Indonesia kan khas dengan kulit eksotisnya). Rasanya cukup malu-maluin negara dan bangsa. Hahaha… Jadi, meskipun mungkin di negara sendiri budaya antre dan tepat waktu belum sepenuhnya ditaati, berusahalah untuk membiasakannya ketika tinggal di sini.

Hal menarik lainnya adalah tingginya level individual warga lokal Inggris, dimana mereka cenderung untuk menjaga jarak dari orang lain. Misalnya saja ketika berada di dalam bus atau kereta. Kebanyakan orang Inggris akan duduk pada deretan kursi yang masih kosong dan kemudian menaruh tas atau bawaannya pada kursi sebelahnya. Penduduk lokal biasanya akan berusaha untuk melakukan upaya yang menunjukkan sign bahwa dia sedang menjaga jarak, menginginkan privasi, dan juga untuk tidak diganggu (contoh dengan diajak berbicara). Mereka memang sengaja menghindari interaksi dengan orang lain terutama yang tidak dikenal. Nah, biasanya jika tetap ada orang yang duduk disebelahnya, orang tersebut akan dengan jelas menampakkan ketidaknyamanannya. Mereka memang tidak akan protes, tetapi kejadian ekstrim yang pernah kami alami adalah mereka mungkin akan segera beranjak untuk berpindah tempat duduk. Sehingga sebaiknya tidak duduk dekat-dekat dengan orang lain kecuali jika terpaksa sudah tidak ada tempat duduk yang lain. Hal lain yang perlu diingat adalah mengenai budaya ‘kepo’ orang Indonesia yang membuat kita seringkali mengamati orang lain secara berlebihan (baca: menatap seseorang dalam waktu lama di ruang publik). Nah, sebaiknya hal ini dihindari agar tidak dianggap aneh, atau bahkan menyinggung orang lain. Salah satu kawan kami bahkan pernah kena ‘semprot’ anak usia SD karena anak tersebut merasa ditatap terlalu lama oleh kawan kami. Anak tersebut menegur dengan berucap ‘What are you looking at?’

Berkaitan dengan anak-anak, interaksi dengan anak-anak adalah hal yang perlu sangat diperhatikan. Kalau boleh dibilang, kita harus sangat berhati-hati saat berinteraksi dengan anak-anak. Pertama-tama, bentuk perilaku kesopanan di UK dan di Indonesia berbeda. Jadi, jangan kaget apabila Anda dipanggil dengan nama panggilan oleh anak TK. Ya, tidak seperti di Indonesia yang dengan mudah memberikan embel-embel ‘om, tante, bude, pakde’, anak-anak di UK terbiasa memanggil siapa pun (kecuali guru dan keluarga terdekat) dengan nama mereka. Hal ini kadang-kadang juga diadopsi oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah di UK. Mereka pun seringkali diingatkan oleh orang tua mereka agar menambah kata ‘tante’ atau ‘om’ sebelum memanggil orang Indonesia lain. Selesai masalah panggil memanggil, kita juga harus sangat berhati-hati ketika berinteraksi dengan anak-anak. Peraturan mengenai perlindungan anak di UK sangat ketat. Bahkan di sekolah, guru dan pihak sekolah tidak boleh mengambil gambar (foto) anak tanpa persetujuan orang tua. Kalau sekolah dan guru saja tidak boleh, apalagi stranger, kan? Oleh karena itu, jangan asal foto kalau bertemu anak lucu. Hal ini juga berlaku pada sentuhan fisik. Menyentuh anak secara fisik pun dilarang tanpa persetujuan dari anak dan orang tua. Jadi, jangan coba-coba towel-towel bayi menggemaskan. Wah, yang simpel-simpel saja tidak boleh, apalagi yang agak ‘berat’ seperti menawarkan dan memberi makan anak orang lain. Nah, ini juga ada alasan kesehatan dan keamanan. Orang-orang UK pada umumnya sangat concern pada alergi. Oleh karena itu, kita tidak boleh asal memberi makan karena mungkin saja ada bahan makanan yang merupakan alergen bagi anak tersebut. Haaaahh… Lalu bagaimana? Susah banget mau interaksi sama anak kecil… Kuncinya adalah minta izin pada orang tua. Berkenalanlah dulu dengan orang tua sebelum berinteraksi dengan anak. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah meminta izin untuk berinteraksi dengan anak.

Masih berhubungan dengan anak peranakan dan peraturannya yang cukup rumit di UK, rasanya masyarakat Indonesia yang di UK juga perlu tahu sedikit gambaran mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ke anak (meskipun anak tersebut adalah anak kandung kita). Ya, saat kita berada di UK, maka kita pun subject to peraturan di UK sehingga pelanggaran yang kita lakukan pun akan mendapatkan konsekuensi sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di UK. Apa saja panduan umum dalam memperlakukan anak? Anak-anak memiliki posisi yang penting dalam hukum UK. Mereka diedukasi sehingga tahu betul hak-hak mereka. Oleh karena itu, bukan hal yang asing bagi anak-anak untuk menelepon social service untuk melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk orang tua mereka, kepada pihak berwajib. Wih, seram juga ya… Betul! Mungkin bagi orang Indonesia, aneh sekali ada anak yang melaporkan orang tuanya ke polisi. But it happens here. Jadi, kita sebagai orang dewasa dan orang tua pun harus benar-benar menjaga perilaku kita terhadap anak. Jelas, tindakan kekerasan fisik dilarang di UK. Ya wong memegang saja harus hati-hati, apalagi kekerasan fisik. Anak-anak tidak boleh dipukul, dijewer, atau disentil. Apabila ada orang lain yang melihat, ia bisa melaporkan Anda pada social service atau polisi dan hal ini akan ditindaklanjuti. Pun dengan anak-anak yang terlihat kelaparan, berkeliaran dengan orang tua pada jam sekolah, dan anak-anak yang terlihat ditinggal sendirian tanpa pengawasan, baik di rumah sendiri ataupun di area umum. Semua dapat dilaporkan ke pihak berwajib. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat memperlakukan anak. Apa yang akan terjadi apabila Anda dilaporkan? Pihak social service dan polisi akan datang ke rumah Anda untuk melakukan wawancara dan observasi. Apabila hasil wawancara dan observasi tidak memuaskan, maka bisa saja ada tindakan lanjutan atau akan dilakukan mediasi dengan social service.

Pernahkah ada warga Indonesia yang mengalami hal ini? Ada. Seorang teman pernah ‘kehilangan’ anaknya di kota lain (bukan kota tempat ia tinggal). Anak ini rupanya tertidur di dalam bus dan orang tuanya tidak sadar bahwa anak tersebut tertinggal di bus saat mereka turun. Saat itu, kondisinya adalah mereka sedang berjalan-jalan bersama banyak sekali warga Indonesia. Biasa dong ya, namanya orang Indonesia kan percaya saja, mungkin anaknya sedang bersama si tante ini atau dengan si temannya yang itu. Akhirnya, anak tersebut ditemukan oleh supir bus di tujuan akhir bus yang ia naiki. Saat dibangunkan, anak tersebut bisa dengan lengkap menyebutkan nama orang tua dan alamatnya (nah, ini juga pelajaran penting bahwa anak harus bisa berbahasa Inggris sederhana dan mengerti pertanyaan, serta dapat menyebutkan nama orang tua dan alamatnya). Anak tersebut akhirnya dikembalikan kepada orang tuanya. Namun, saat mereka tiba di kota tempat mereka tinggal, rumah mereka didatangi oleh polisi dan pihak social service. Keluarga tersebut diwawancara dan diamati. Polisi pun tampak banyak berpatroli di sekitar rumah tersebut. Hal ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Pengamatan dan penjagaan ekstra berakhir ketika tidak ada laporan dan kejadian child abuse atau perlakuan tidak normal pada anak selama masa pengamatan.

Kira-kira, seperti itulah gambaran mengenai budaya lokal di Inggris. Hal-hal yang kami sampaikan adalah perilaku yang sering terlihat sehari-hari dan rasanya penting untuk diketahui agar tidak awkward dalam berinteraksi dan agar tidak melakukan hal-hal yang mungkin dapat menimbulkan masalah berujung rumit, seperti kasus child abuse. Berikutnya, kami akan membahas mengenai persepsi orang-orang lokal terhadap imigran seperti kami.

 

Diskriminasi / sosialisasi

Beberapa orang pernah bertanya pada kami mengenai kesulitan yang dihadapi saat berada di UK karena kami mengenakan hijab. Entah mengapa, anggapan bahwa wanita berhijab dan orang-orang Islam akan mendapatkan perlakuan diskriminatif di negara-negara Barat, termasuk UK, masih banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Bahkan, Izza ingat sekali bahwa ibu dan adiknya yang akan mengunjunginya di UK pada tahun 2013 diminta oleh pihak tour untuk membuka hijab atau menampakkan telinga pada saat foto untuk permohonan visa. Whaaaat? Aneh sekali! Sudah sejak lama wanita-wanita berhijab boleh difoto dengan mengenakan hijabnya untuk keperluan visa. Jangankan yang menggunakan hijab, di UK banyak juga wanita Muslim yang mengenakan cadar. And they are doing fine. Jadi, kalau-kalau Anda diminta untuk melepas hijab atau menampakkan telinga pada saat foto untuk keperluan visa, jangan mau! Take your chance, masyarakat UK sudah terbiasa kok, dengan hijab.

Salah satu alasan mengapa masyarakat di UK cukup paham mengenai hijab adalah karena UK merupakan negara multikultur. Warga UK tidak hanya terdiri dari orang-orang asli yang berkulit putih, tetapi juga mereka-mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia dan kemudian menjadi warga negara UK. Selain itu, negara ini juga memiliki proporsi imigran yang cukup besar. Jangan heran kalau Anda bisa melihat orang-orang yang berbeda warna kulit, ras, dan agama di suatu tempat. Hal ini sangat terlihat di kota-kota besar, seperti London, Birmingham, dan Manchester. Sedangkan di kota yang lebih kecil, biasanya penduduk masih didominasi oleh warga lokal kulit putih.Nah sehubungan dengan hijab, agama Islam adalah agama terbesar kedua setelah kristen, oleh karenanya banyaknya warga muslim di UK merupakan pemandangan sehari-hari di mayoritas kota besar di UK.

Keberagaman penduduk di UK membuat pihak pemerintah dan penyedia jasa serta barang menjadi lebih kreatif dalam memberikan fasilitas yang memenuhi kebutuhan seluruh warga. Seperti yang telah disebutkan di artikel sebelumnya, jangan heran kalau banyak tempat yang didedikasikan sebagai multifaith prayer room, adanya opsi makanan halal dan makanan vegetarian, atau banyaknya fasilitas dan akses yang diberikan bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Hal ini memberikan kenyamanan bagi seluruh warga yang menetap di UK. Minimnya constraint bagi setiap warga untuk menjadi dirinya sendiri pun akhirnya mendorong atmosfer yang baik, terutama mengenai terciptanya kerukunan antarwarga.

Jadi, tidak ada diskriminasi sama sekali? Ya, tidak bisa dibilang seperti itu juga. Pastinya ada kasus-kasus kecil yang muncul, yang berhubungan dengan diskriminasi. Apalagi jika ada isu sara atau terorisme yang merebak, hal ini akan memancing reaksi dari warga lokal. Sebagai contoh, satu hari setelah adanya kabar teror bom di kota Paris beberapa waktu lalu, Alif pernah beberapa kali diteriaki oleh sekelompok orang di pusat kota yang intinya menyatakan bahwa mereka membenci agama Islam dan tidak menginginkan muslim berada di tengah-tengah mereka. Bahkan juga sempat terjadi sweeping bagi muslimah yang berhijab, sehingga pihak keamanan menghimbau agar muslimah berhijab menghindari keramaian untuk beberapa hari. Perasaan kaget dan sedikit takut pun dia alami, tetapi perlakuan-perlakuan semacam itu memang terkadang terjadi dan sudah wajar di negara multikultur seperti ini. Biasanya, hal ini dilakukan oleh orang-orang lokal yang kurang terdidik, ‘kelas atas’ (meskipun golongan ini juga mendiskriminasi warga lokal kelas pekerja), dan orang-orang tua yang konservatif. Namun, jumlahnya sedikit dibandingkan dengan perlakuan baik yang diterima oleh para imigran dan orang-orang non-white. Salah satu bentuk tindakan non-diskriminatif yang tampaknya bahkan belum diaplikasikan di Indonesia adalah banyaknya Sales Assistant di mall-mall dan pusat perbelanjaan yang mengenakan hijab. Mereka dapat bekerja di brand apa saja, di bagian mana saja dan tetap bebas mengenakan hijab mereka. Berdasarkan pengamatan, hal ini belum terjadi di Indonesia. Seringkali terlihat para sales assistant yang bekerja di pusat perbelanjaan harus melepas kerudung saat bekerja dan memakainya kembali pada saat selesai bekerja. Miris juga ya…

Iklim yang baik dalam hal keberagaman ini menimbulkan kenyamanan bagi kami. Akibatnya, kami sebagai imigran, Muslim, dan Asian dapat berinteraksi dengan orang-orang lokal dengan cukup baik. Mereka ramah, terkadang banyak bertanya mengenai Indonesia, budaya timur, dan agama, serta sangat helpful. Selain itu, ada juga beberapa keuntungan yang kami dapatkan saat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Misalnya, seringkali ada pertanyaan tentang Indonesia sehingga kita juga bisa sekalian promosi pariwisata dan bisa memberikan perspektif baru dalam diskusi dan obrolan dengan masyarakat umum. Hal ini sangat dihargai oleh warga lokal karena mereka menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Jadi, meskipun mereka nantinya tidak setuju dengan pandangan kita, mereka akan tetap menghargai pendapat tersebut. We agree to disagree. Selain itu, kami sebagai Muslim dengan identitas Muslim yang jelas (karena mengenakan hijab) sering juga mendapatkan perilaku khusus, seperti mendapat diskon saat berbelanja karena penjualnya juga Muslim, diingatkan mengenai opsi makanan halal saat akan masuk restoran, dan disapa dengan salam oleh Muslim lain saat bertemu di jalan. Pada bulan Ramadan ini, bahkan tidak hanya Muslim yang mengucapkan ‘selamat berpuasa’ atau menanyakan kabar puasa kita. Orang-orang UK sangat aware terhadap adanya bulan Ramadan, sehingga kadang-kadang kami pun mendapat ucapan ‘ramadan kareem’ dari orang-orang lokal.

 

Demikian sharing pengalaman kami tentang common courtesy di Inggris, dimana kami meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang akhirnya menjadi budaya lokal warga UK memang telah terbentuk dan apabila dilakukan akan memberikan efek positif dua arah. Pertama, sebagai bentuk saling menghormati dan penghargaan terhadap orang lain; dan kedua, karena dengan melakukan kebiasaan baik tersebut maka akan muncul rasa nyaman dan bahagia dalam diri kita sendiri. Hal-hal baik inipun akan menular jika kita lakukan dengan tulus. Tingginya toleransi dalam interaksi sosial di dalam kentalnya perbedaan antar warga di UK menjadikan kami sebagai pendatang merasa diterima dan tenang dalam menjalani keseharian di sini. Meskipun begitu, sebagai warga non-lokal hendaknya kita tetap mawas diri dan berhati-hati dalam tindak-tanduk maupun lisan sehari-hari. Jadi untuk Anda yang akan datang dan tinggal di Inggris, tidak perlu terlalu kawatir dengan isu-isu diskriminasi yang sering beredar. Siapkan diri untuk menjadi penduduk UK, juga dengan mengikuti local culture yang berlaku di negara tersebut. Oh ya, mengenai local culture ini, dua orang rekan kami yang juga tinggal di Birmingham juga sering menulis mengenai hal-hal unik yang mereka alami di UK. Silahkan cek ke: http://riverpost.id/author/sondang-purba/ dan http://riverpost.id/author/ari-kristiana/.

Sampai ketemu minggu depan pada lanjutan topik Budaya Lokal bagian kedua. Stay tuned yaa!

Photo source: https://theadventureofizzaodotcom.files.wordpress.com/2016/06/c8f3f-very-british-problems-tv-show-034-1439544889.jpg

Belajar dari Keberagaman (1)

Sudah lama sebenarnya ingin menulis ini, tapi entah kenapa selalu tertunda. Tema ini bagi saya sangat menggelitik. Sesuatu yang mungkin tidak kita sadari saat tinggal di tempat yang homogen, tetapi sangat terasa saat berada di lingkungan yang sangat multikultural. Keberagaman alias diversity. Kata yang akhir-akhir ini seringkali di dengar, entah karena zaman yang sudah mengglobal, semakin tipisnya jarak antarbudaya, atau karena paham-paham pluralisme. Meskipun baru populer, bukan berarti keberagaman baru saja terjadi. Oh no! Sejak zaman dahulu pun, manusia sudah tersebar di seluruh muka bumi, berbeda-beda.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Yak! Di Al Quran pun ada loh, ayat yang membahas mengenai keberagaman. Berarti, ini adalah suatu hal yang niscaya, hal yang pasti adanya dan manusia perlu belajar darinya.

Ngapain sih Za, bahas ini? Pertama, saya ter-trigger oleh percakapan-percakapan kecil dengan seorang anak mengenai dirinya yang berbeda dengan teman-temannya. Maklum saja, saya dan banyak orang Indonesia lain yang tinggal di UK ini kan menjadi anak rantau, diaspora, yang tentu berbeda dengan orang-orang asli UK. Namun, yang berbeda bukan hanya kami. UK adalah negara multikultural. Ada banyak sekali ras, agama, budaya, dan warna kulit yang beragam. Jadi, di negara ini, keberagaman adalah suatu hal yang kasat mata. Berbeda tentunya dengan kondisi di Indonesia yang orang-orangnya pun secara fisik tidak jauh berbeda. Istilahnya, di UK kami terpapar keberagaman eksplisit, sedangkan di Indonesia kita terpapar keberagaman implisit. Ya, kan? Secara fisik mirip bukan berarti tidak berbeda.

Lalu, beberapa waktu terakhir ini saat sudah memasuki bulan Ramadan, si anak kecil ini berkomentar ‘ih, kan nggak boleh ya makan siang hari waktu Ramadan. Orang lain kan ada yang puasa? Nanti yang makan ditangkap’. Jiahaha…. Namanya juga anak-anak, kan? Konsep saling menghormati, otoritas moral, dan perbedaan masih jadi suatu hal yang sangat vague. Saya jadi ingat teori mengenai perkembangan moral-nya Kohlberg yang mengatakan bahwa anak-anak (dan banyak juga orang dewasa yang tidak berkembang penalaran moralnya) masih berada di tahap membedakan benar dan salah karena ada otoritas dan peraturan. Segalanya diterjemahkan secara literal sehingga tidak ada proses berpikir lebih dalam. Jadi, wajar toh si anak berkomentar seperti itu? Penalaran sederhana dan berdasarkan pengamatan. Lah? Memangnya di UK ada aturan orang yang makan siang saat orang lain puasa harus ditangkap? No. Mungkin si anak belajar dari perkataan orang dewasa lain? Mungkin juga ia belajar dari pengamatan bahwa di Indonesia, makan dengan terang-terangan pada saat siang hari di bulan Ramadan adalah hal yang tabu dan perlu mendapatkan semacam ‘punishment’. Terbukti kan, tindakan penutupan warung makan secara paksa berakar dari penalaran pendek macam anak-anak, merupakan bentuk ‘punishment’, dan menurut saya, bentuk nyata dari kurangnya kesadaran akan keberagaman. Bahayanya, masyarakat luas, bahkan anak-anak, lalu belajar dari perilaku mereka dan menginternalisasi penalaran pendek.

Saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk hidup di sebuah negara dengan kultur yang berbeda dengan Indonesia. Saya juga bersyukur bisa merasakan hidup di lingkungan multicultural, dimana saya adalah minoritas. Yah, kita tidak akan selamanya jadi kaum mayoritas, kan? Apa rasanya, Za? Rasanya… saya jadi selalu diingatkan untuk terus menerus menyadari adanya keberagaman dan perbedaan dan untuk terus menerus berusahan untuk menghargai orang lain dan bertoleransi. Yang berbeda belum tentu buruk, yang berbeda belum tentu salah. Slogan ‘Don’t judge a book by its cover’ jadi ucapan yang tidak hanya ucapan, tapi berusaha untuk dipraktikkan.

Terbayang nggak, kalau di negeri minoritas Muslim ini orang-orang yang makan di siang hari saat bulan Ramadan ditangkap? Bisa-bisa perekonomian mati dan tinggal segelintir orang yang masuk sekolah, kantor, dan tempat-tempat publik lainnya. Lalu, apakah jadinya terbalik, justru umat Islam yang harus bertoleransi terhadap orang-orang yang tidak berpuasa? Well, toh orang-orang non Muslim disini yang mengetahui bahwa kita berpuasa pun menghargai kok. Setidaknya dengan mengucap ‘Ramadan Kareem’ atau dengan meminta maaf saat harus makan di hadapan kita.

Bagi saya, toleransi adalah two-way interaction. Kalau dulu di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam dan berasal dari ras Melayu, maka bukan berarti hanya yang minoritas yang harus bertoleransi pada yang mayoritas. Saat yang minoritas bertoleransi dengan tidak makan di area umum, maka yang mayoritas pun harus bertoleransi dengan memahami bahwa ada orang yang tidak berpuasa dan harus makan. Ya, nggak? Sama juga seperti saya di sini. Ketika saya bertoleransi dengan mereka yang tidak berpuasa dan harus melihat di depan mata orang-orang tersebut makan dan minum, mereka pun bertoleransi dengan menghargai keputusan saya untuk berpuasa. It goes around.

Mungkin kita semua harus lebih banyak lagi terpapar keberagaman sehingga bisa belajar lebih banyak lagi tentang toleransi. Suatu hal yang saat diukur, mungkin tidak ada titik tertingginya juga. Oleh karena itu, kita, terutama saya, harus lebih banyak lagi berefleksi, menghayati, mengalami, dan mengamati sehingga bisa menjadi orang yang lebih bijak dalam menghadapi perbedaan.

Selamat berpuasa, selamat tidak berpuasa, selamat berlatih bertoleransi.