Home Away from Home: Budaya Lokal (2)

Photo source: http://www.huffingtonpost.co.uk/2014/08/14/british-stereotypes_n_5461440.html

 

Setelah lebih banyak membahas mengenai interaksi dengan orang-orang lokal di minggu lalu, kali ini kami akan bercerita mengenai kebiasaan lain dari warga UK. Kebiasaan-kebiasaan ini tidak menyangkut sosialisasi, tetapi lebih pada kehidupan sehari-hari, seperti jam kerja, kebiasaan tidak membawa uang cash, belanja online, dan perilaku ramah lingkungan. Sepertinya topik-topik tersebut kecil, tetapi cukup penting dibahas agar kita sebagai pendatang dapat beradaptasi dengan baik di UK. Berikut ini paparan kami…

 

Jam Kerja

Pertama kali datang ke UK dari kota metropolitan semacam Jakarta, kami agak kaget. Mengapa? Karena ternyata UK (kecuali London) tak se-metropolitan yang kami kira. Membandingkan dengan Jakarta atau ibukota negara-negara Asia yang biasanya dijuluki sebagai ‘the sleepless cities’, tinggal di kota-kota di UK sepertinya membawa hawa malas. Bayangkan saja, kita yang terbiasa dengan mudah mencari barang-barang kebutuhan, bahkan di jam-jam aneh seperti tengah malam, harus membiasakan diri melihat jam kerja yang tertera di pintu toko-toko. Ya, rata-rata toko dan kantor di UK buka pada hari kerja mulai pukul 9.00 hingga pukul 19.00, (untuk kantor tentunya lebih cepat tutup). Ini adalah hasil observasi kami selama di Birmingham dan beberapa kota besar lain. Di kota-kota kecil? Jangan kaget kalau jam 18.00 sudah ‘tidak ada kehidupan’ lagi yaa… Hehehe. Jadi, jangan membayangkan kumpul-kumpul after office hour seperti di Jakarta (atau kota besar di Indonesia lainnya) yang biasanya baru mulai jam 19.00 di mall. Di Inggris, tempat-tempat yang buka di atas jam 19.00 adalah bar dan restoran, karena orang UK memang terbiasa kumpul-kumpul dan bersosialisasi di bar atau klub malam.

Apabila jam kerja atau jam buka di hari kerja seperti itu, bagaimana dengan akhir pekan? Pusat keramaian dan perbelanjaan biasanya buka di hari Sabtu dari pukul 9.00 hingga pukul 20.00. Ya, satu jam lebih lama dibandingkan di hari kerja. Lagi-lagi, ini adalah standar di kota-kota besar di UK. Untuk kota yang lebih kecil, biasanya jam operasional pun lebih pendek. Hal yang cukup membuat shock adalah jam operasional di hari Minggu. Kalau menurut Anda pusat perbelanjaan tutup pukul 19.00 itu kejam, rasakanlah berbelanja di hari Minggu. Sungguh lebih kejam. Pada hari Minggu, hampir semua kantor tutup dan pusat perbelanjaan hanya buka dari jam 11.00-17.00. Apaa? Ya, hal ini membuat kami (orang-orang yang tinggal di UK) malas sekali kalau harus berkegiatan di hari Minggu. Hari terasa begitu pendek. Bagaimana dong kalau kita butuh sesuatu di luar jam operasional tersebut? Biasanya, ada minimarket atau supermarket yang memang buka 24 jam, atau dari jam 6.00-11.00. Memang tidaklah banyak, tapi biasanya di lingkungan ramai perumahan atau mahasiswa, toko-toko seperti ini bisa ditemukan.

Selain toko, fasilitas umum lain yang biasanya terkait dengan keseharian mahasiswa dan keluarganya adalah bank dan transportasi. Nah, tidak seperti di Indonesia yang kalau mengantri bank rasanya lama sekali, disini tampaknya antrian bank cukup bisa ditoleransi. Pelayanannya juga cukup cepat. Biasanya, di kota-kota non London, bank buka pada hari Senin sampai Jumat pukul 09.30-17.00. Anda bisa datang kapan saja ke bank di antara jam tersebut. Bahkan, beberapa branch office bank ternama juga tetap beroperasi pada hari Sabtu dengan jam kerja normal, 09.30-17.00 dengan jenis pelayanan normal. Hal ini agak berbeda dengan keadaan di Indonesia yang rasanya sulit sekali menemukan bank yang buka pada hari Sabtu, yang kalaupun ada hanya buka hingga pukul 12.00 dan hanya melayani permintaan-permintaan tertentu.

Malasnya kami keluar pada hari Minggu juga disponsori oleh berkurangnya armada dan pelayanan transportasi umum. Ya, frekuensi kedatangan dan jumlah armada bus dan kereta pada akhir pekan, terutama hari Minggu memang menurun. Apabila di hari kerja bus bisa beroperasi 24 jam, atau dari pukul 03.00 hingga 24.00, maka pada hari Minggu ada bus tertentu yang tidak beroperasi sama sekali dan ada juga yang hanya melayani penumpang dari pukul 06.00 hingga 22.00. Selain itu, frekuensi kedatangan bus yang biasanya 15 menit sekali pun bisa berkurang hingga 30 menit atau 1 jam sekali. Kereta juga mengalami pengurangan frekuensi jadwal keberangkatan. Bahkan untuk stasiun kecil, pada hari Sabtu dan Minggu kereta mulai beroperasi pada pukul 09.30. Sehingga tidak jarang pula kami bepergian dengan menggunakan bus kemudian baru menyambung dengan kereta pada saat weekend.

Wah… jadi apa ya, yang dilakukan oleh warga UK di hari Minggu? Bersantai dan berkumpul bersama keluarga menikmati hari di rumah. Selain itu, bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi, biasanya memilih pergi ke taman atau restoran favorit keluarga sekedar untuk piknik, makan, dan berkumpul. Work-life balance memang sepertinya menjadi prioritas warga disini. Jadi, jangan marah, heran, atau kesal dengan kebiasaan jam kerja seperti ini. Bayangkanlah apabila Anda yang bekerja, maka pasti senang sekali kan, bisa menikmati akhir pekan yang santai tanpa dihantui pekerjaan?

 

Cashless

Pada umunya di Indonesia maupun negara-negara Asia lainnya, orang terbiasa kemana-mana membawa uang kas yang selalu siap sedia di dalam dompet maupun tas, maka di Inggris berbeda pula kondisinya. Warga UK lebih banyak bertransaksi menggunakan kartu, bisa debit card atau credit card. Hal ini dirasakan lebih praktis dan comfortable, karena tidak perlu membawa cash kemana-mana. Jadi, apabila berbelanja ataupun makan di restoran biasanya customer akan melakukan pembayaran dengan kartu. Untuk tempat perbelanjaan seperti minimarket dan supermarket besar, penggunaan kartu tetap diterima untuk pembelanjaan dengan nominal sekecil apapun. Meskipun begitu, ada beberapa toko tertentu yang menerima pembayaran dengan kartu dengan ketentuan jumlah transaksi minimal GBP 5. Oh iya, banyak juga tempat makan yang tidak menerima pembayaran dengan kartu lho, juga termasuk pasar tradisional, hehe. Jadi Anda sebaiknya cari tahu dulu restoran mana yang mengharuskan pembayaran dengan menggunakan uang cash. Lalu, untuk kasus seperti ini, bagaimana kalau kita kemudian lupa membawa uang? Tenang saja, karena mesin ATM tersebar di banyak tempat kok, bahkan di dalam supermarket pun biasanya terdapat mesin tarik tunai ini. Yang harus diperhatikan jika anda ingin mengambil uang tanpa dikenakan biaya, maka carilah mesin ATM bertuliskan ‘free cash withdrawal’.

Selain transaksi belanja groceries dan makanan, kebiasaan cashless ini berlaku juga dalam pembelian tiket transportasi publik. Untuk bus, mayoritas warga memiliki kartu langganan bus yang dapat diisi maupun di top-up bila saldonya habis, dan kita bisa memilih apakah ingin berlangganan mingguan ataukah bulanan. Penumpang keretapun sangat lazim membeli tiket dengan menggunakan kartu kredit atau debit, sehingga tidak heran di setiap mesin pembelian tiket kereta, terdapat slot untuk kartu dan layar yang men-display instruksi pembayaran. Jika memesan tiket kereta secara online, maka pada saat pengambilannya, baik melalui mesin maupun langsung ke petugas tiket, kita harus dapat menunjukkan kartu debit yang dipakai. Pengambilan tiket untuk nonton film di theater  yang pembeliannya dilakukan secara online, selain dengan kode booking, dapat juga menggunakan kartu debit yang dipakai pada saat pemesanan di internet. Meskipun transaksi ekonomi banyak yang memakai kartu, tetapi tidak sedikit pula warga yang masih menggunakan cash sebagai alat bayar nya, terutama warga lokal yang sudah lanjut usia.

 

Online shopping

Setelah sebelumnya kami membahas dunia perbelanjaan kebutuhan pokok dan bahan makanan di (link), ternyata ada satu kebiasaan juga yang masih terkait dengan shopping, yaitu belanja online. Sebenarnya di negara berkembang seperti Indonesia pun, online shopping ini sudah cukup ngetrend ya recently, bahkan tampaknya kian hari kian digemari. Nah, lalu apa bedanya nih sama yang ada di sini? Di UK, belanja online ini menurut kami istimewa, karena hampir seluruh supermarket, pusat perbelanjaan, dan brand-brand memiliki lini belanja secara online. Biasanya pula, konsumen dimanjakan dengan banyaknya promo juga free delivery untuk pembelian dengan minimum sejumlah tertentu melalui pemesanan online ini.

Jika di Indonesia anda familiar dengan situs belanja online semacam lazada dan tokopedia, di UK terdapat dua situs yang sangat populer yaitu ebay dan Amazon. Di ebay yang dapat anda visit melalui www.ebay.co.uk, dan Amazon melalui www.amazon.co.uk, anda dapat menemukan berbagai produk yang anda perlukan dengan berbagai range harga dan merk. Selain itu, anda pun dapat memfilter pencarian barang berdasarkan banyak kategori, seperti barang baru atau secondhand (bekas tetapi masih layak pakai), kisaran harga, warna produk, lokasi barang, ukuran, dan lainnya. Uniknya melalui ebay, kita dapat menemukan barang yang siap langsung dibeli, barang yang dapat dibeli dengan menawar terlebih dahulu, dan barang yang bisa dibeli melalui lelang (bidding system). Produk yang bisa dibeli dengan menawar terlebih dahulu biasanya memiliki opsi untuk dibeli langsung dengan harga yang telah ditetapkan. Jika anda setuju dengan harga tersebut maka tidak perlu menawar, tetapi jika ingin harga yang lebih rendah silakan melakukan penawaran pada field yang tersedia dengan maksimal tiga kali penawaran. Sementara itu, di dalam sistem bidding, penjual biasanya sudah menetapkan harga awal penawaran, kemudian pembeli dapat mulai mengajukan harga yang ditawarkan untuk dibayar. Barang akan terjual kepada pembeli dengan penawaran nilai beli tertinggi pada penghujung waktu barang tersebut listing di ebay. Nah, sistem bidding semacam ini sangat digemari kalangan penerima beasiswa dan keluarga seperti kami, karena memang biasanya barang dengan kondisi bagus bisa diperoleh dengan harga yang lebih murah jika dibandingan langsung membeli barang yang sudah siap dibeli (tanpa melalui proses lelang). Situs Amazon juga memiliki kelebihan karena range barang yang tersedia biasanya lebih banyak dan banyak barang yang ditawarkan mempunyai feature amazon prime dimana barang tersebut digaransi dapat sampai ke alamat tujuan dalam waktu 24 jam, bahkan feature amazon prime now memungkinkan pengiriman barang dilakukan dalam waktu sekitar dua jam saja sejak pembelian barang. Hal tersebut sangat menolong apabila kita membutuhkan suatu barang yang akan digunakan dalam waktu sangat segera, sementara kita sudah tidak sempat lagi untuk mencarinya ke toko.

Belanja online ini tidak hanya berlaku pada barang-barang seperti baju dan sepatu, atau peralatan rumah tangga. Belanja online juga bisa dilakukan untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan minuman. Fasilitas ini biasanya mempermudah kita sebagai pelanggan apabila ingin membeli dalam jumlah banyak sedangkan harus naik kendaraan umum. Tidak praktis rasanya harus membawa barang-barang banyak dan naik turun bus. Oleh karena itu, sebagian orang memilih untuk berbelanja online sehingga barang langsung sampai ke rumah. Kondisi lain yang biasanya membuat warga UK memilih untuk berbelanja online adalah ketika cuaca sedang sangat buruk. Beberapa tahun lalu, badai salju melanda UK. Pada saat itu banyak orang yang persediaan makanannya sudah sangat minim harus berbelanja. Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah tanpa kendaraan pribadi akhirnya mengharuskan warga untuk berbelanja online.

 

Ramah Lingkungan

Kebiasaan lain yang juga telah membudaya di Inggris adalah tindakan-tindakan keseharian yang mencerminkan prinsip ramah lingkungan. Hal yang paling sederhana adalah dengan memisahkan pembuangan sampah berdasarkan materialnya. Meskipun penyediaan tempat sampah yang memisahkan antara recycle dan non-recycle belum tersedia di semua area,  tetapi masyarakat telah terbiasa dengan pemisahan sampah tersebut. Nah, masih mengenai buang-membuang, tidak hanya sampah, proses pembuangan barang pun memiliki aturannya tersendiri. Untuk membuang barang-barang besar, seperti tempat tidur, sofa, dan sebagainya, kita tidak boleh sembarangan. Pihak city council harus dihubungi agar ada orang yang mengambil barang tersebut dari rumah kita. Kita pun harus membayar sejumlah uang tertentu sebagai balas jasa pembuangan barang tersebut. Haha. Ribet ya? Oh ya, salah satu rekan kami pernah membahas hal ini di: http://riverpost.id/mulan-menyelamatkan-bumi/.

Masih terkait dengan aksi go green, penggunaan kantong plastik juga dibatasi disini. Untuk mendukung hal ini, jika sebelumnya pada saat belanja kita bisa mengambil kantong plastik dengan gratis, maka sekarang setiap selembar kantong plastik yang kita ambil akan dikenai charge sebesar GBP 0.05-0.2, tergantung dari ukurannya. Ya, kalau di Indonesia masih banyak orang protes dan mengkritisi alokasi dana yang didapat dari pembelian kantong plastik tersebut, tidak begitu halnya dengan di sini. Seluruh toko telah menjalani hal ini (kecuali pasar tradisional dan toko yang menggunakan kantong kertas) dan biasanya pada kantong plastik yang kita beli, telah dengan jelas tergambar atau tertera organisasi apa yang menerima uang hasil penjualan plastik tersebut. Dengan charge terhadap kantong plastik, diharapkan konsumen dapat meminimalkan penggunaan kantong plastik, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan atau apabila konsumen terpaksa membelinya, maka dengan jelas diketahui bahwa hasil penjualan pun dialokasikan untuk organisasi ramah lingkungan.

Bentuk lain dari aksi ramah lingkungan ini adalah menjamurnya charity shop di UK. Eh, mengapa dinamakan charity shop? Karena memang semua hasil penjualan barang-barangnya didonasikan untuk mendanai kegiatan sosial, misalnya yayasan penderita kanker, penderita penyakit jantung, penyayang satwa, animal shelter, penyandang cacat, dan masih banyak lagi. Barang apa saja yang dijual di charity shop? Banyaaak banget mulai dari baju, tas, sepatu, buku, barang pecah belah, peralatan rumah tangga, alat elektronik, mainan anak-anak, DVD film, CD musik, dan masih banyak jenis barang lain yang terkadang tidak disangka ternyata kita membutuhkannya. Jenisnya juga beda-beda, ada yang khusus furniture dan alat rumah tangga, ada yang khusus menjual baju dan produk fashion, dan tak ketinggalan charity shop khusus buku. Karena fashion di UK ini selalu berganti seiring perubahan musim, dan juga perputaran yang cepat, maka baju-baju yang dijual di toko secondhand tersebut juga selalu berganti model. Keberadaan toko-toko semacam ini merupakan solusi untuk banyak pihak. Bagi si penyuplai, tentu saja mereka terbantu karena dengan menyumbangkan baju maupun barang-barang yang tak lagi terpakai, itu artinya mereka terbebas dari keharusan membuang barang-barang tersebut dan sekaligus mengurangi sampah rumah. Ingin ‘membuang’ barang bekas Anda ke charity shop? Caranya sangat mudah. Anda bisa langsung mengantarkan barang-barang Anda ke charity shop terdekat atau memasukkannya ke ‘charity bank’ yang bentuknya seperti tempat sampah. Charity bank ini biasanya tersebar di daerah pemukiman penduduk. Itulah sebabnya masyarakat Inggris dengan senang hati membawa barang-barang yang sudah tak lagi terpakai di rumah mereka ke charity shop, dibandingkan jika mereka harus membayar sejumlah uang demi pelayanan pembuangan barang ke pemerintahnya. Manfaat untuk toko atau yayasan pengelola social activity, hal ini menambah potensi sumber dana masuk untuk menyokong aktivitas sosial yang mereka jalankan. Sedangkan yang juga penting untuk pembelinya (termasuk kami dan keluarga-keluarga orang Indonesia yang tinggal di sini), adalah dapat menghemat pengeluaran dengan signifikan, karena memang harga yang dibandrol sangat sangat miriiing, jadi ya worth to visit lah. Karena kondisi barangnya bekas pakai, jadi kita harus pintar-pintar memilih ya, sebab memang tidak semuanya dalam kondisi yang masih rapi jali. Telatenlah untuk cek kondisi fisik barang sebelum membeli. Oh iya, kami tidak bertanggung jawab ya kalau Anda ketagihan berkunjung ke charity shop, hehehe.
Sekian pemaparan kami mengenai budaya lokal. Dua artikel ini sepertinya panjang sekali, tetapi bahkan mungkin belum bisa meng-cover seluruh pengalaman unik yang kami dapatkan selama tinggal di UK. Silahkan datang dan alami sendiri, ya! Tunggu seri artikel kami berikutnya tentang pendidikan anak di UK. Stay tuned!

 

Advertisements

Home Away from Home: Budaya Lokal (1)

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa tersebut pasti sering kita dengar, kan ya? Apa hubungannya dengan postingan minggu ini? Masih ingat kan dengan tulisan sebelumnya tentang kehidupan sehari-hari di UK.. Nah, berhubung kita sedang merantau di negeri orang, sudah seharusnya dalam keseharian kita menghormati budaya lokal, tata krama, atau kalau di Indonesia biasanya kental disebut adat-istiadat, hehe. Berbeda kota dalam satu negara saja bisa berbeda kebiasaan, apalagi yang beda negara ya. Masyarakat Inggris pun memiliki budaya lokal yang lumayan jauh berbeda dengan kita sebagai orang timur. Dalam tulisan kali ini, kami mencoba untuk membahas beberapa local culture yang ada di UK.

Adanya pembahasan ini tidak berarti kita yang masyarakat Indonesia harus bergaya kebarat-baratan. Bukan pula berarti kita melupakan budaya timur. Namun, mengetahui budaya lokal sangat penting untuk membantu kita beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat secara luas selama berada di UK. Nah, ada banyak budaya lokal di sini, tetapi kami akan memaparkan hal-hal yang umum dan yang pernah kami alami. Sisanya, silahkan coba cari tahu sendiri ya…

Common courtesy

Masyarakat Inggris sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan (politeness). Meskipun saat ini kemajuan zaman yang diikuti dengan derasnya perkembangan teknologi yang suka tidak suka menggerus interaksi sosial antar manusia, tetapi selama tinggal di UK ini, kami masih dapat merasakan kentalnya kebiasaan-kebiasaan baik dari warga lokal. Dimulai dari hal kecil seperti pengucapan ‘thank you’, ‘sorry’, dan ‘please’ sebagai bentuk dari apresiasi kepada orang lain. Hampir di semua aspek kehidupan sehari-hari dimana kita berinteraksi dengan orang lain, sebanyak itu pula kita sering mendengar orang lain mengucapkan terima kasih, dan bahkan meminta maaf meskipun sebenarnya terkadang hal tersebut bukanlah kesalahan mereka. Penanaman kebiasaan ini dimulai sejak kecil baik dari lingkungan keluarga maupun di sekolah. Kebiasaan baik yang diajarkan sedari dini ini kemudian tetap terjaga hingga mereka dewasa dan hingga usia senja. Selain itu, biasanya di tempat perbelanjaan, pegawai atau staf toko juga selalu menyapa kita dengan menanyakan kabar. Hal tersebut selain sebagai sapaan atau basa-basi, juga merupakan cara mereka menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Contoh lain adalah kebiasaan pria lokal yang akan membukakan pintu untuk orang lain terutama wanita, bahkan meskipun orang lain tersebut berusia lebih muda dan datang dibelakangnya, pria tersebut akan tetap menahan pintu tetap terbuka dan mempersilakan wanita untuk lewat terlebih dahulu. Kemudian, orang-orang lokal, terutama warga senior, seringkali menggunakan panggilan-panggilan sayang, seperti ‘love’, ‘dear’, dan ‘darling’, bahkan untuk bercakap-cakap dengan orang yang baru dikenal. Don’t be insulted atau menganggap ini pelecehan seksual, ya. Jangan juga ge-er dan minta nomer telepon. Hal ini adalah kebiasaan, cara mereka untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Jadi, jangan terheran-heran ya ketika nanti anda sering mendengar ucapan-ucapan dan perilaku yang menunjukkan atensi kepada anda, karena memang hal itu telah menjadi kebiasaan baik bagi mereka.

Kebiasaan baik warga lokal (sebagian besar warga lokal, karena ada juga anak-anak muda yang tidak meneruskan tradisi baik) juga tercermin pada prioritas mereka terhadap anak-anak, wanita, orang berusia lanjut, dan orang-orang berkebutuhan khusus. Misalnya, bus di UK menyediakan tempat khusus bagi orang-orang yang membawa stroller, bagi orang-orang berkursi roda, dan warga lanjut usia. Biasanya, tempat-tempat ini tidak diduduki oleh warga lain. Namun, ketika kita terpaksa mengambil tempat prioritas ini, pastikan bahwa tidak ada orang lain yang lebih membutuhkan dibandingkan kita. Jika pada akhirnya ada penumpang manula atau berkebutuhan khusus masuk, maka sebaiknya anda segera berdiri dan memberikan priority seat tersebut kepada orang yang membutuhkan.

Budaya antre juga merupakan hal yang biasa terlihat di UK. Orang-orang tidak hanya antre pada saat berbelanja atau akan membeli sesuatu, tetapi juga pada saat akan masuk ke dalam kendaraan umum. Normanya adalah, kita diminta untuk mendahulukan orang-orang yang akan keluar dari kendaraan umum, baik tube, kereta, tram, atau bus. Setelah itu, barulah giliran orang-orang yang akan masuk, dimulai dari orang pertama yang menunggu di halte atau pemberhentian tersebut. Masalah antre ini cukup sensitif. Biasanya, apabila ada yang ‘menyelak’ antrian, orang tersebut akan ditegur oleh orang-orang lain yang sudah terlebih dahulu antre. Selain itu, hal yang juga cukup banyak disoroti mengenai perilaku warga Indonesia di UK adalah mengenai budaya tepat waktu. Jika di Indonesia, istilah jam karet cukup lazim bagi kita, maka jangan coba-coba untuk menerapkannya di sini ya. Budaya tepat waktu menjadi salah satu ciri yang cukup jelas di banyak negara maju temasuk di Inggris ini. Apabila anda memiliki janji dengan orang lokal, usahakan juga untuk menepatinya sesuai dengan waktu yang sudah disepakati. Apabila anda hendak membatalkan janji tersebut sebaiknya memberi kabar terlebih dahulu dan tidak mepet dalam menghubungi pihak kedua. Sebagai contoh kasus, kabarnya para dosen di University of Birmingham ada yang sudah hafal kebiasaan jam karet mahasiswa Indonesia. Saking banyaknya yang sering terlambat masuk kelas, orang-orang Indonesia seperti sudah ‘dicap’. Tidak jarang pula, mereka ditegur saat masuk kelas. Nggak enak, kan, kalau ditegur di depan umum? Apalagi kita terlihat berbeda (ya, orang Indonesia kan khas dengan kulit eksotisnya). Rasanya cukup malu-maluin negara dan bangsa. Hahaha… Jadi, meskipun mungkin di negara sendiri budaya antre dan tepat waktu belum sepenuhnya ditaati, berusahalah untuk membiasakannya ketika tinggal di sini.

Hal menarik lainnya adalah tingginya level individual warga lokal Inggris, dimana mereka cenderung untuk menjaga jarak dari orang lain. Misalnya saja ketika berada di dalam bus atau kereta. Kebanyakan orang Inggris akan duduk pada deretan kursi yang masih kosong dan kemudian menaruh tas atau bawaannya pada kursi sebelahnya. Penduduk lokal biasanya akan berusaha untuk melakukan upaya yang menunjukkan sign bahwa dia sedang menjaga jarak, menginginkan privasi, dan juga untuk tidak diganggu (contoh dengan diajak berbicara). Mereka memang sengaja menghindari interaksi dengan orang lain terutama yang tidak dikenal. Nah, biasanya jika tetap ada orang yang duduk disebelahnya, orang tersebut akan dengan jelas menampakkan ketidaknyamanannya. Mereka memang tidak akan protes, tetapi kejadian ekstrim yang pernah kami alami adalah mereka mungkin akan segera beranjak untuk berpindah tempat duduk. Sehingga sebaiknya tidak duduk dekat-dekat dengan orang lain kecuali jika terpaksa sudah tidak ada tempat duduk yang lain. Hal lain yang perlu diingat adalah mengenai budaya ‘kepo’ orang Indonesia yang membuat kita seringkali mengamati orang lain secara berlebihan (baca: menatap seseorang dalam waktu lama di ruang publik). Nah, sebaiknya hal ini dihindari agar tidak dianggap aneh, atau bahkan menyinggung orang lain. Salah satu kawan kami bahkan pernah kena ‘semprot’ anak usia SD karena anak tersebut merasa ditatap terlalu lama oleh kawan kami. Anak tersebut menegur dengan berucap ‘What are you looking at?’

Berkaitan dengan anak-anak, interaksi dengan anak-anak adalah hal yang perlu sangat diperhatikan. Kalau boleh dibilang, kita harus sangat berhati-hati saat berinteraksi dengan anak-anak. Pertama-tama, bentuk perilaku kesopanan di UK dan di Indonesia berbeda. Jadi, jangan kaget apabila Anda dipanggil dengan nama panggilan oleh anak TK. Ya, tidak seperti di Indonesia yang dengan mudah memberikan embel-embel ‘om, tante, bude, pakde’, anak-anak di UK terbiasa memanggil siapa pun (kecuali guru dan keluarga terdekat) dengan nama mereka. Hal ini kadang-kadang juga diadopsi oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah di UK. Mereka pun seringkali diingatkan oleh orang tua mereka agar menambah kata ‘tante’ atau ‘om’ sebelum memanggil orang Indonesia lain. Selesai masalah panggil memanggil, kita juga harus sangat berhati-hati ketika berinteraksi dengan anak-anak. Peraturan mengenai perlindungan anak di UK sangat ketat. Bahkan di sekolah, guru dan pihak sekolah tidak boleh mengambil gambar (foto) anak tanpa persetujuan orang tua. Kalau sekolah dan guru saja tidak boleh, apalagi stranger, kan? Oleh karena itu, jangan asal foto kalau bertemu anak lucu. Hal ini juga berlaku pada sentuhan fisik. Menyentuh anak secara fisik pun dilarang tanpa persetujuan dari anak dan orang tua. Jadi, jangan coba-coba towel-towel bayi menggemaskan. Wah, yang simpel-simpel saja tidak boleh, apalagi yang agak ‘berat’ seperti menawarkan dan memberi makan anak orang lain. Nah, ini juga ada alasan kesehatan dan keamanan. Orang-orang UK pada umumnya sangat concern pada alergi. Oleh karena itu, kita tidak boleh asal memberi makan karena mungkin saja ada bahan makanan yang merupakan alergen bagi anak tersebut. Haaaahh… Lalu bagaimana? Susah banget mau interaksi sama anak kecil… Kuncinya adalah minta izin pada orang tua. Berkenalanlah dulu dengan orang tua sebelum berinteraksi dengan anak. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah meminta izin untuk berinteraksi dengan anak.

Masih berhubungan dengan anak peranakan dan peraturannya yang cukup rumit di UK, rasanya masyarakat Indonesia yang di UK juga perlu tahu sedikit gambaran mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ke anak (meskipun anak tersebut adalah anak kandung kita). Ya, saat kita berada di UK, maka kita pun subject to peraturan di UK sehingga pelanggaran yang kita lakukan pun akan mendapatkan konsekuensi sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di UK. Apa saja panduan umum dalam memperlakukan anak? Anak-anak memiliki posisi yang penting dalam hukum UK. Mereka diedukasi sehingga tahu betul hak-hak mereka. Oleh karena itu, bukan hal yang asing bagi anak-anak untuk menelepon social service untuk melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk orang tua mereka, kepada pihak berwajib. Wih, seram juga ya… Betul! Mungkin bagi orang Indonesia, aneh sekali ada anak yang melaporkan orang tuanya ke polisi. But it happens here. Jadi, kita sebagai orang dewasa dan orang tua pun harus benar-benar menjaga perilaku kita terhadap anak. Jelas, tindakan kekerasan fisik dilarang di UK. Ya wong memegang saja harus hati-hati, apalagi kekerasan fisik. Anak-anak tidak boleh dipukul, dijewer, atau disentil. Apabila ada orang lain yang melihat, ia bisa melaporkan Anda pada social service atau polisi dan hal ini akan ditindaklanjuti. Pun dengan anak-anak yang terlihat kelaparan, berkeliaran dengan orang tua pada jam sekolah, dan anak-anak yang terlihat ditinggal sendirian tanpa pengawasan, baik di rumah sendiri ataupun di area umum. Semua dapat dilaporkan ke pihak berwajib. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat memperlakukan anak. Apa yang akan terjadi apabila Anda dilaporkan? Pihak social service dan polisi akan datang ke rumah Anda untuk melakukan wawancara dan observasi. Apabila hasil wawancara dan observasi tidak memuaskan, maka bisa saja ada tindakan lanjutan atau akan dilakukan mediasi dengan social service.

Pernahkah ada warga Indonesia yang mengalami hal ini? Ada. Seorang teman pernah ‘kehilangan’ anaknya di kota lain (bukan kota tempat ia tinggal). Anak ini rupanya tertidur di dalam bus dan orang tuanya tidak sadar bahwa anak tersebut tertinggal di bus saat mereka turun. Saat itu, kondisinya adalah mereka sedang berjalan-jalan bersama banyak sekali warga Indonesia. Biasa dong ya, namanya orang Indonesia kan percaya saja, mungkin anaknya sedang bersama si tante ini atau dengan si temannya yang itu. Akhirnya, anak tersebut ditemukan oleh supir bus di tujuan akhir bus yang ia naiki. Saat dibangunkan, anak tersebut bisa dengan lengkap menyebutkan nama orang tua dan alamatnya (nah, ini juga pelajaran penting bahwa anak harus bisa berbahasa Inggris sederhana dan mengerti pertanyaan, serta dapat menyebutkan nama orang tua dan alamatnya). Anak tersebut akhirnya dikembalikan kepada orang tuanya. Namun, saat mereka tiba di kota tempat mereka tinggal, rumah mereka didatangi oleh polisi dan pihak social service. Keluarga tersebut diwawancara dan diamati. Polisi pun tampak banyak berpatroli di sekitar rumah tersebut. Hal ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Pengamatan dan penjagaan ekstra berakhir ketika tidak ada laporan dan kejadian child abuse atau perlakuan tidak normal pada anak selama masa pengamatan.

Kira-kira, seperti itulah gambaran mengenai budaya lokal di Inggris. Hal-hal yang kami sampaikan adalah perilaku yang sering terlihat sehari-hari dan rasanya penting untuk diketahui agar tidak awkward dalam berinteraksi dan agar tidak melakukan hal-hal yang mungkin dapat menimbulkan masalah berujung rumit, seperti kasus child abuse. Berikutnya, kami akan membahas mengenai persepsi orang-orang lokal terhadap imigran seperti kami.

 

Diskriminasi / sosialisasi

Beberapa orang pernah bertanya pada kami mengenai kesulitan yang dihadapi saat berada di UK karena kami mengenakan hijab. Entah mengapa, anggapan bahwa wanita berhijab dan orang-orang Islam akan mendapatkan perlakuan diskriminatif di negara-negara Barat, termasuk UK, masih banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Bahkan, Izza ingat sekali bahwa ibu dan adiknya yang akan mengunjunginya di UK pada tahun 2013 diminta oleh pihak tour untuk membuka hijab atau menampakkan telinga pada saat foto untuk permohonan visa. Whaaaat? Aneh sekali! Sudah sejak lama wanita-wanita berhijab boleh difoto dengan mengenakan hijabnya untuk keperluan visa. Jangankan yang menggunakan hijab, di UK banyak juga wanita Muslim yang mengenakan cadar. And they are doing fine. Jadi, kalau-kalau Anda diminta untuk melepas hijab atau menampakkan telinga pada saat foto untuk keperluan visa, jangan mau! Take your chance, masyarakat UK sudah terbiasa kok, dengan hijab.

Salah satu alasan mengapa masyarakat di UK cukup paham mengenai hijab adalah karena UK merupakan negara multikultur. Warga UK tidak hanya terdiri dari orang-orang asli yang berkulit putih, tetapi juga mereka-mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia dan kemudian menjadi warga negara UK. Selain itu, negara ini juga memiliki proporsi imigran yang cukup besar. Jangan heran kalau Anda bisa melihat orang-orang yang berbeda warna kulit, ras, dan agama di suatu tempat. Hal ini sangat terlihat di kota-kota besar, seperti London, Birmingham, dan Manchester. Sedangkan di kota yang lebih kecil, biasanya penduduk masih didominasi oleh warga lokal kulit putih.Nah sehubungan dengan hijab, agama Islam adalah agama terbesar kedua setelah kristen, oleh karenanya banyaknya warga muslim di UK merupakan pemandangan sehari-hari di mayoritas kota besar di UK.

Keberagaman penduduk di UK membuat pihak pemerintah dan penyedia jasa serta barang menjadi lebih kreatif dalam memberikan fasilitas yang memenuhi kebutuhan seluruh warga. Seperti yang telah disebutkan di artikel sebelumnya, jangan heran kalau banyak tempat yang didedikasikan sebagai multifaith prayer room, adanya opsi makanan halal dan makanan vegetarian, atau banyaknya fasilitas dan akses yang diberikan bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Hal ini memberikan kenyamanan bagi seluruh warga yang menetap di UK. Minimnya constraint bagi setiap warga untuk menjadi dirinya sendiri pun akhirnya mendorong atmosfer yang baik, terutama mengenai terciptanya kerukunan antarwarga.

Jadi, tidak ada diskriminasi sama sekali? Ya, tidak bisa dibilang seperti itu juga. Pastinya ada kasus-kasus kecil yang muncul, yang berhubungan dengan diskriminasi. Apalagi jika ada isu sara atau terorisme yang merebak, hal ini akan memancing reaksi dari warga lokal. Sebagai contoh, satu hari setelah adanya kabar teror bom di kota Paris beberapa waktu lalu, Alif pernah beberapa kali diteriaki oleh sekelompok orang di pusat kota yang intinya menyatakan bahwa mereka membenci agama Islam dan tidak menginginkan muslim berada di tengah-tengah mereka. Bahkan juga sempat terjadi sweeping bagi muslimah yang berhijab, sehingga pihak keamanan menghimbau agar muslimah berhijab menghindari keramaian untuk beberapa hari. Perasaan kaget dan sedikit takut pun dia alami, tetapi perlakuan-perlakuan semacam itu memang terkadang terjadi dan sudah wajar di negara multikultur seperti ini. Biasanya, hal ini dilakukan oleh orang-orang lokal yang kurang terdidik, ‘kelas atas’ (meskipun golongan ini juga mendiskriminasi warga lokal kelas pekerja), dan orang-orang tua yang konservatif. Namun, jumlahnya sedikit dibandingkan dengan perlakuan baik yang diterima oleh para imigran dan orang-orang non-white. Salah satu bentuk tindakan non-diskriminatif yang tampaknya bahkan belum diaplikasikan di Indonesia adalah banyaknya Sales Assistant di mall-mall dan pusat perbelanjaan yang mengenakan hijab. Mereka dapat bekerja di brand apa saja, di bagian mana saja dan tetap bebas mengenakan hijab mereka. Berdasarkan pengamatan, hal ini belum terjadi di Indonesia. Seringkali terlihat para sales assistant yang bekerja di pusat perbelanjaan harus melepas kerudung saat bekerja dan memakainya kembali pada saat selesai bekerja. Miris juga ya…

Iklim yang baik dalam hal keberagaman ini menimbulkan kenyamanan bagi kami. Akibatnya, kami sebagai imigran, Muslim, dan Asian dapat berinteraksi dengan orang-orang lokal dengan cukup baik. Mereka ramah, terkadang banyak bertanya mengenai Indonesia, budaya timur, dan agama, serta sangat helpful. Selain itu, ada juga beberapa keuntungan yang kami dapatkan saat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Misalnya, seringkali ada pertanyaan tentang Indonesia sehingga kita juga bisa sekalian promosi pariwisata dan bisa memberikan perspektif baru dalam diskusi dan obrolan dengan masyarakat umum. Hal ini sangat dihargai oleh warga lokal karena mereka menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Jadi, meskipun mereka nantinya tidak setuju dengan pandangan kita, mereka akan tetap menghargai pendapat tersebut. We agree to disagree. Selain itu, kami sebagai Muslim dengan identitas Muslim yang jelas (karena mengenakan hijab) sering juga mendapatkan perilaku khusus, seperti mendapat diskon saat berbelanja karena penjualnya juga Muslim, diingatkan mengenai opsi makanan halal saat akan masuk restoran, dan disapa dengan salam oleh Muslim lain saat bertemu di jalan. Pada bulan Ramadan ini, bahkan tidak hanya Muslim yang mengucapkan ‘selamat berpuasa’ atau menanyakan kabar puasa kita. Orang-orang UK sangat aware terhadap adanya bulan Ramadan, sehingga kadang-kadang kami pun mendapat ucapan ‘ramadan kareem’ dari orang-orang lokal.

 

Demikian sharing pengalaman kami tentang common courtesy di Inggris, dimana kami meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang akhirnya menjadi budaya lokal warga UK memang telah terbentuk dan apabila dilakukan akan memberikan efek positif dua arah. Pertama, sebagai bentuk saling menghormati dan penghargaan terhadap orang lain; dan kedua, karena dengan melakukan kebiasaan baik tersebut maka akan muncul rasa nyaman dan bahagia dalam diri kita sendiri. Hal-hal baik inipun akan menular jika kita lakukan dengan tulus. Tingginya toleransi dalam interaksi sosial di dalam kentalnya perbedaan antar warga di UK menjadikan kami sebagai pendatang merasa diterima dan tenang dalam menjalani keseharian di sini. Meskipun begitu, sebagai warga non-lokal hendaknya kita tetap mawas diri dan berhati-hati dalam tindak-tanduk maupun lisan sehari-hari. Jadi untuk Anda yang akan datang dan tinggal di Inggris, tidak perlu terlalu kawatir dengan isu-isu diskriminasi yang sering beredar. Siapkan diri untuk menjadi penduduk UK, juga dengan mengikuti local culture yang berlaku di negara tersebut. Oh ya, mengenai local culture ini, dua orang rekan kami yang juga tinggal di Birmingham juga sering menulis mengenai hal-hal unik yang mereka alami di UK. Silahkan cek ke: http://riverpost.id/author/sondang-purba/ dan http://riverpost.id/author/ari-kristiana/.

Sampai ketemu minggu depan pada lanjutan topik Budaya Lokal bagian kedua. Stay tuned yaa!

Photo source: https://theadventureofizzaodotcom.files.wordpress.com/2016/06/c8f3f-very-british-problems-tv-show-034-1439544889.jpg