University 101: Plagiarism

Artikel ini adalah urutan ketiga dari rangkaian seri University 101. Setelah sebelumnya membahas mengenai the art of asking question dan independent learning, kali ini saya akan membahas mengenai plagiarism. Familier dengan istilah ini?

Menurut Merriam-Webster Dictionary, plagiarism adalah “the act of using another person’s words or ideas without giving credit to that person : the act of plagiarizing something” (http://www.merriam-webster.com/dictionary/plagiarism). Oxford Dictionary kemudian menambahkan keterangan bahwa kata ini berasal dari kata Latin, plagiarius, yang berarti penculik. Yah, intinya adalah mengambil sesuatu yang bukan miliknya, lalu mengaku bahwa hal tersebut adalah miliknya. Gampangnya, copy-paste.

Di dalam online course yang saya ikuti, ada sebuah contoh yang menurut saya ‘ngena’ sekali dalam menggambarkan plagiarism. Bayangkan apabila suatu hari kita mengenakan baju dengan gaya tertentu, lalu besok-besoknya banyak orang yang meniru kita dan mengenakan baju yang sama dengan model yang sama. Ya, semacam trend anak muda, lah… How would you feel? Senang, bangga karena bisa jadi trendsetter? Mungkin lebih positif lah ya. Atau bisa juga kesal karena ditiru? Ih, nggak punya kepribadian amat sih ini orang-orang kok niru gue? Ini contohnya baju, sesuatu yang kita beli di toko. Yes we own it, but we don’t own the design for that clothes – kecuali kalau bajunya purely design dan bikin sendiri yaa..

Gimana kalau kasusnya contek mencontek? Pernah dong yaa (eh apa saya doang nih) yang se-enggak-nya nyalin PR teman. Atau mungkin mencontek pada saat ujian? Kalau jadi orang yang dicontek, apa rasanya? Ah, cuma jawab pertanyaan doang, nggak pake mikir gue.. (iye, pinter amat emang ini contohnya, PR ga pake mikir). Atau mungkin lebih ke arah solidaritas? Kasian lah, masa dia nggak lulus ujian nanti kalau nggak dibantuin? Hmmm… tapi kalau si PR dan ujian ini kamu persiapkan dengan berdarah-darah dan penuh cucuran air mata, gimana? Rela hasil kerjamu ini disalin oleh orang lain?

Saya sih… nggak. Enak aja… istilahnya, you take credit of what is not yours, but mine. I need the credit. At least if you want to use it, give me the credit. Iya lah. Itu kan kita yang bikin, kenapa harus dia yang dapat pujian atau pengakuan? Inilah alasan mengapa ada aturan yang sangat, sangat ketat mengenai plagiarism di jenjang universitas, atau lebih luasnya, di kalangan akademisi. Mengapa? Untuk menghargai jerih payah orang yang mengungkapkan ide, konsep, dan teori tersebut. Jadi, walaupun kita menggunakan ide-ide milik orang lain, kita mengakui bahwa itu bukan ide kita sendiri.

Plagiarism nggak boleh, lalu bagaimana cara kita menghindarinya? Seperti yang telah saya jelaskan, menggunakan ide orang lain dalam karya tulis kita boleh kok, asalkan kita memberikan credit terhadap orang tersebut. Caranya? Referencing. Kita memasukkan nama si orang tersebut setelah ide orang tersebut dicantumkan. Metode untuk mencantumkan ide pun ada beberapa macam. Jadi, bisa saja kita tidak hanya menyalin plek-plek apa yang orang tersebut katakan, atau yang biasa disebut sebagai quoting, tetapi juga mengambil intisari ide dan menuliskannya dengan bahasa kita sendiri, atau yang biasa disebut sebagai paraphrasing. Keduanya, tentunya, diakhiri dengan mencantumkan sumber yang kita rujuk. Kemudian, pada akhir tulisan, kita membuat daftar pustaka yang berisi daftar sumber yang kita jadikan rujukan.

Penulisan daftar pustaka sendiri pun ada banyak cara. Style penulisan daftar pustaka biasanya akan bergantung pada cabang ilmu kita. Misalnya, jurusan-jurusan social science menggunakan style Harvard, jurusan science dan psikologi menggunakan APA, dan jurusan literatur menggunakan MLE. Namun, ini bukan patokan pasti. Kita harus mengecek apakah di jurusan kita ada standar tertentu untuk penulisan reference.

Isu plagiarism ini bukan hal yang main-main loh di tingkat universitas. Pelanggaran terhadap hal ini (atau apabila kita terbukti plagiat) adalah pemutusan hak belajar, alias DO, apabila terbukti bahwa plagiarism dilakukan 100%. Intinya, 100% mencontek karya orang lain means you are out of the university. Bagaimana kalau tidak 100%? Adanya kecanggihan teknologi membuat banyak software yang bisa digunakan untuk mengecek plagiarism dan hasilnya pun biasanya cukup akurat, menunjukkan persentase bagian yang merupakan plagiarism. Nah, memang tidak mungkin juga ada hasil karya yang 100% asli. Oleh karena itu, batas yang diberikan oleh universitas berkisar antara 15-20%. Di atas itu? Biasanya, kita akan dipanggil dan semacam ‘disidang’ oleh komite kampus yang mengurusi bagian ini. Setelah itu, tugas tersebut akan di-nullify, yang berarti bahwa kita tidak lulus mata kuliah tersebut atau harus mengulang tugas tersebut. Intinya, semua tergantung keputusan si komite kampus ini.

Mengingat pentingnya masalah plagiarism ini, kita harus berhati-hati. Sebagai bagian dari komunitas akademisi, kita bisa mulai membiasakan diri dengan tidak mencontek, menghargai hasil karya orang lain, dan memberikan credit kepada orang yang hasil karyanya kita ambil. Baiklaah… Masih ada tiga artikel lagi untuk seri ini, tunggu lanjutannya yaa..

Photo source: http://www.plagiarismchecker.net/img/plagiarism-stolen-ideas.jpg

 

Advertisements

Home Away from Home: Pendidikan (Secondary School & High School)

Minggu ini, giliran pendidikan tingkat menengah yang akan kami bahas, sebagai lanjutan dari seri penjelasan pendidikan anak di Inggris. Seperti edisi sebelumnya, untuk menambah keakuratan informasi yang disajikan, selain melakukan riset sederhana, kami juga melakukan wawancara dengan seorang warga Indonesia yang tinggal di Birmingham dan memiliki putri yang bersekolah di secondary school, yaitu mbak Ari Kristiana. Secondary school ini jika di Indonesia akan setara dengan tingkat SMP dan SMA kelas 7-11, sehingga bagi anda yang memiliki putra-putri dengan rentang umur 11-16 tahun, maka anda bisa menyimak pembahasan yang akan kami paparkan berikut. Bagaimana dengan anak usia 17 tahun? Di Indonesia, anak usia 17-18 masih ada di tingkat kelas 12 SMA. Namun, Inggris memiliki sistem high school yang agak berbeda. Anak lulus SMA pada usia 16 tahun dan pada usia 17 tahun mereka dapat memilih untuk langsung bekerja, masuk ke college (dengan syarat mendapatkan sertifikat A level agar dapat mendaftar ke universitas), atau mengikuti kelas khusus untuk mendapatkan sertifikat tertentu.

Pendaftaran Sekolah

Sistem pendaftaran sekolah, secara umum memang sama saja seperti pada nursery maupun primary school, yaitu memerlukan dokumen berupa akta kelahiran dan bukti alamat tempat tinggal. Eligible atau tidaknya anak untuk masuk ke level secondary ini, tetap akan didasarkan pada sudah cukupkah usia calon murid tersebut sesuai yang disyaratkan. Selain itu, sistem rayon juga berlaku disini, dimana calon murid akan dialokasikan pada sekolah dengan jarak terdekat dari tempat tinggal.

Sama juga dengan primary school, pendaftaran bisa dilakukan online. Bagi Anda yang akan tinggal di Inggris dan Wales, website ini: https://www.gov.uk/apply-for-secondary-school-place bisa digunakan untuk menemukan cara pendaftaran secondary school di area tempat tinggal Anda.

Perlengkapan Sekolah

Lagi-lagi mirip dengan apa yang diterapkan di primary school, perlengkapan sekolah di secondary school pun mirip-mirip. Meskipun buku tulis disediakan oleh masing-masing sekolah, alat-alat tulis yang akan digunakan anak harus dibeli sendiri oleh orang tua. Seperti biasa, buku paket rujukan pun disediakan oleh sekolah dengan sistem ‘pinjaman’. Jadi, anak-anak tidak diharuskan memiliki text book atau buku paket.

Selain itu, seragam juga merupakan perlengkapan sekolah yang cukup penting. Seragam sekolah umumnya bisa didapat di toko-toko atau supermarket, sedangkan sweater atau setelan jas (ya, beberapa SMP di Inggris memiliki seragam berupa setelan jas lengkap dengan dasi) bisa dibeli di sekolah masing-masing. Pada jenjang ini, karena jumlah barang bawaan juga lebih banyak, sekolah membebaskan siswa untuk membawa tas yang sesuai dengan pilihan pribadi. Seluruh jenjang pendidikan wajib di Inggris memberlakukan sistem full day, dimana siswa berada di sekolah mulai dari sekitar pukul 08.45 hingga 15.30. Oleh karena itu, makanan adalah hal yang wajib disediakan, baik oleh sekolah maupun orang tua. Biasanya, siswa SMP bisa membawa bekal dari rumah atau membeli makan di kantin sekolah. Mirip ya, dengan di Indonesia. Tentunya harga setiap jenis makanan berbeda-beda. Bagi Muslim, beberapa sekolah menyediakan pilihan menu halal sehingga tidak perlu khawatir apabila tidak membawa makan siang.

Kurikulum dan Kegiatan Sekolah

Secara umum, kurikulum dibagi menjadi dua yaitu Key Stage 3 untuk sekolah year 7-9, dan Key Stage 4 untuk year 10-11. Mata pelajaran wajib untuk kedua tingkat tersebut adalah Matematika, English (writing dan reading), dan Science.

Jumlah mata pelajaran yang dipelajari di Key Stage 3 adalah yang paling banyak diantara jenjang pendidikan lain. Pelajaran-pelajaran wajib tersebut adalah Art and Design, Citizenship, Design and Technology (misalnya tata boga, tata busana, dan pertukangan), Languages (bahasa asing selain Inggris), Computing, Geography, History, Music, dan Physical Education (olahraga). Seperti biasa, Religious Education adalah mata pelajaran wajib, ditambah dengan Sexual Education bagi siswa SMP-SMA. Mata pelajaran yang kami sebutkan merupakan panduan general yang isinya akan tergantung sekolah masing-masing. Misalnya, ada sekolah yang menentukan tata boga sebagai isi mata pelajaran Design and Technology, atau menentukan bahasa Perancis dan bahasa Spanyol sebagai isi dari mata pelajaran Languages.

Bagaimana dengan Key Stage 4? Pada jenjang ini, selain tiga mata pelajaran wajib di atas, siswa juga akan mendapatkan Religious Education, Sexual Education, Citizenship, Computing, PE, salah satu dari pelajaran Arts (Music, Art and Design, Drama, Media Arts, Dance), Design and Technology, salah satu dari pelajaran Humanities (History, Geography), dan salah satu dari pelajaran Languages (bahasa asing yang ditawarkan oleh masing-masing sekolah).

Biasanya, sekolah akan menetapkan target nilai pada awal term berdasarkan pencapaian anak di akhir studinya di jenjang primary school. Nah, ketika ada siswa yang merupakan non-UK dan baru masuk sekolah Inggris pada level secondary, pihak sekolah akan sedikit kesulitan untuk menentukan target nilai karena tidak memiliki dasar nilai jenjang sekolah sebelumnya, sehingga tidak jarang target yang ditetapkan untuk anak tersebut tergolong cukup rendah.

Sekolah di Inggris berbeda dengan sekolah di Indonesia, dimana sekolah di sini memang lebih banyak menekankan kepada praktek daripada teori. Di level secondary ini, seperti halnya jenjang pendidikan sebelumnya, kegiatan di dalam dan luar sekolah juga di seimbangkan porsinya. Misalnya saat anak sedang diajarkan materi science, maka pihak sekolah akan memberikan jadwal dimana anak akan diajak berkunjung ke museum science untuk lebih mengenalkan mereka terhadap objek yang sedang diajarkan.

Untuk menunjang kelancaran belajar siswa, setiap anak juga diberikan school planner book oleh pihak sekolah yang gunanya untuk mempermudah siswa mengorganisir homework dan juga membantu komunikasi antara orang tua dan pengajar. Melalui school planner book ini, murid juga diajarkan untuk dapat berlatih bertanggung jawab atas aktivitas belajar apa yang mereka kerjakan di sekolah dan di rumah. Setiap hari, anak diharuskan mencatat homework apa saja yang diberikan dan juga memberikan tick mark untuk pe er yang telah selesai dikerjakan. Kemudian, seminggu sekali, orangtua murid harus menandatangani school planner ini sebagai tanda kontrol dan monitoring terhadap belajar anak. Pengajar pun akan melakukan pengecekan berkala terhadap isi dan pemeliharaan buku tersebut oleh siswa.

Selain melalui planner book, orang tua juga dilibatkan dalam monitoring progress perkembangan siswa di sekolah. Orang tua mempunyai hak untuk bertemu dengan guru setidaknya satu kali dalam setahun. Pertemuan ini dilakukan untuk membahas perkembangan anak dan waktunya tidak harus di akhir tahun. Jadi, tidak seperti di Indonesia, report tidak harus diambil oleh orang tua. Terkadang, report diberikan melalui anak atau sudah tersedia online. Disamping satu pertemuan wajib, orang tua bisa saja meminta pertemuan khusus dengan guru untuk membahas hal-hal tertentu. Biasanya, perjanjian dan komunikasi seperti ini dilakukan melalui email.

Evaluasi Belajar

Adapun penilaian yang diberikan oleh sekolah di Inggris sangat lengkap, meliputi bagaimana effort dan attitude siswa terhadap pelajaran tersebut. Dalam report yang diberikan dari sekolah, disajikan urut setiap mata pelajaran dan sangat jelas tertulis pendapat dari masing-masing guru yang mengajar setiap pelajaran tentang bagaimana siswanya melakukan effort untuk bisa mengikuti pelajaran yang ada, termasuk pujian dan masukan untuk perkembangan anak pada term berikutnya. Meskipun begitu, di Inggris, anak-anak akan selalu naik kelas, hanya saja mungkin ada yang hasil nilai akhirnya di bawah atau di atas target yang telah ditentukan.

Tidak seperti di Indonesia dimana ujian dilakukan pada akhir masa SMP (kelas 9) dan akhir masa SMA (kelas 10), di Inggris, ujian dilakukan sepanjang kelas 10-11. Wah, mungkin juga ini alasannya mengapa pelajaran di Key Stage 4 lebih sedikit dibandingkan pelajaran di Key Stage 3. Sistem ujiannya pun berbeda dengan yang dilakukan di Indonesia. Pada akhir masa sekolah wajib, siswa di Inggris akan mengikuti ujian final yang disebut GCSE  (General Certificate of Secondary Education). Ujian ini terdiri dari 9 mata pelajaran dengan Math, English, dan Science sebagai mata pelajaran wajib. Lalu 6 pelajaran sisanya dapat dipilih sendiri oleh siswa pada awal kelas 9. Jadi, di kelas 9 siswa sudah memiliki gambaran mengenai pelajaran apa yang akan ia tempuh ujiannya. Ketiga pelajaran wajib tersebut akan diujikan dalam bentuk exam, ya semacam UAN di Indonesia. Namun, exam ini bukanlah satu-satunya metode yang diberlakukan sebagai dasar pengambilan nilai dalam GCSE. Pelajaran Science, misalnya, memulai ujian GCSE di kelas 10 yang tesnya dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang beragam bentuknya, nah penilaian semacam ini dikenal dengan control assessment. Oh ya, waktu pengambilan GCSE ini juga disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak. Jadi, ada siswa yang mulai ujian GCSE di kelas 10 dan ada juga yang mulai ikut ujian GCSE di kelas 11. Apa gunanya nilai GCSE? Tentunya bukan untuk menentukan kelulusan, ya.. Hehe. Setelah selesai menempuh GCSE ini, usai sudah wajib belajar untuk siswa di Inggris, dan mereka pada tahap ini sudah eligible untuk melamar pekerjaan. Tentu saja semakin baik nilai GCSE nya, semakin terbuka lebar pula kesempatan mencari pekerjaan. Waah.. bisa anda bayangkan bukan jika dalam usia 16 tahun saja anak-anak di Inggris sudah harus mulai menentukan masa depan mereka apakah akan kuliah atau bekerja?

Bagaimana jika setelah lulus GCSE anak ingin melanjutkan kuliah? Nah, ternyata ujian GCSE saja tidak cukup, melainkan harus melanjutkan ke sixth-form atau jenjang A-level selama dua tahun dan terdiri dari year 12 dan 13. Sixth-form ini sudah bukan lagi merupakan wajib belajar ya, tetapi tetap akan gratis dari biaya, untuk yang melanjutkan di state school atau state college. Subject yang dipilih untuk pendidikan A-level ini sebaiknya sudah harus ditentukan dari awal agar sesuai dengan minat atau keinginan mereka akan kuliah di bidang apa di collegenya nanti.

 

Dengan berakhirnya sharing tentang secondary school ini, maka selesai juga pembahasan kami tentang pendidikan anak di Inggris. Dengan semua plus minus yang ada dalam sistem pendidikan di sini, maka kini giliran anda memutuskan apakah akan membawa serta anak dan menyekolahkannya di Inggris. Meskipun terlihat sepele, tidak ada salahnya lho mempersiapkan anak anda terutama dari segi mental dan jika memungkinkan penggunaan bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Harapannya, ketika sampai di sini, anak-anak lebih cepat beradaptasi baik dengan lingkungan, sistem, dan komunikasi di sekolah yang baru. Yakin saja bahwa anak anda pasti mampu kok catch-up dengan sekolahan di sini.

Photo Source: http://images4.content-bc.com/commimg/eduk/article/4070.jpg

Home Away from Home: Pendidikan (Primary School)

Pembahasan minggu ini merupakan postingan lanjutan untuk seri pendidikan anak di Inggris yang akan lebih rinci menjelaskan tentang reception dan primary school. Untuk anda yang membawa serta anak dengan rentang usia 4-11 tahun, maka rasanya perlu untuk mencermati hal-hal terkait dengan jenjang pendidikan dasar ini. Tulisan ini, lagi-lagi, kami sampaikan dengan dasar pencarian dokumen-dokumen terkait pendidikan SD dari pemerintah UK (https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/210969/NC_framework_document_-_FINAL.pdf) dan Birmingham City Council (http://www.birmingham.gov.uk/online-admissions) serta hasil wawancara kami dengan Mbak Lutvi Suroya, seorang warga Indonesia yang tinggal di Birmingham yang memiliki 3 orang anak yang bersekolah di jenjang sekolah dasar. Berikut ini penjelasan kami.

 

Pendahuluan

Sekolah dasar, atau primary school, dimulai dari jenjang kelas Reception hingga Year 6. Reception class mungkin semacam TK B apabila disandingkan dengan sistem pendidikan dasar di Indonesia. Kelas ini berfungsi sebagai kelas transisi antara TK (Nursery) dan SD (Year 1). Ada beberapa sekolah yang menamai fase mulai dari Reception hingga Year 2 sebagai ‘Infant School’. Setelah itu, siswa kelas 3-6 berada pada tahap ‘Junior School’. Nah, perpindahan dari Infant School ke Junior School pun membutuhkan proses ulang pendaftaran sekolah. Ya, jadi anggap saja tahap SD ini dibagi menjadi 2.

 

Mendaftarkan Anak ke Sekolah Dasar

Beberapa state primary school biasanya juga mempunyai nursery dan reception dalam satu manajemen, meskipun terkadang ada pula yang letak bangunannya terpisah. Dalam hal ini, jika putra-putri anda sudah bersekolah di nursery dan ingin melanjutkan di jenjang primary school yang sama, maka anak tidak bisa otomatis masuk dan diakui status kesiswaannya, melainkan tetap harus melakukan pendaftaran ulang dan mengikuti tahapan screening untuk level reception yang ada. Sistem pendaftaran pun menganut siapa cepat dia dapat, alias kuota yang tersedia tetap terbatas dan bergantung kepada siapa yang terlebih dahulu mendaftar. Memang ada kecenderungan adanya prioritas bagi calon murid yang berasal dari nursery yang sama, akan tetapi anda tetap tidak boleh terlalu pede ya, karena kemungkinan tidak diterima juga tetap ada. Apabila anda datang ke Inggris pada tengah-tengah tahun ajaran baru, anda tetap bisa datang ke sekolah dan mencoba mendaftar. Setelah mendaftar, dan apabila diterima, maka pihak sekolah akan memberitahukan via telepon. Beberapa sekolah juga akan mengeset jadwal home visit untuk mengetahui kebenaran keberadaan tinggal anak dengan keluarga, melihat keseharian anak, serta membicarakan tentang peraturan sekolah dan makanan.

Sebaiknya mendaftar sekolah sejak dari Indonesia atau setelah sampai di Inggris? Nah, sebenarnya urusan sekolah anak ini juga tidak terlalu ribet kok ya, asalkan anda sudah mencari informasi sebelumnya. Jadi, saran kami sih, sebaiknya datang dan sampai dulu disini, kemudian setelah mendapat rumah tinggal baru mendaftar sekolah. Dengan begitu, selain anda dan anak bisa sedikit beradaptasi dengan suasana dan lingkungan sekitar, kemungkinan mendapatkan sekolah yang lebih dekat dengan lokasi rumah juga lebih besar. Meskipun demikian, jika anda tetap ingin mendaftar sejak sebelum sampai di Inggris, tidak mengapa. Namun, anda harus siap dengan risiko kehilangan kursi karena sekolah pasti akan mendahulukan calon murid yang mendaftar dan sudah berdomisili di lokasi terdekat.

Seperti yang telah disebutkan di atas, untuk mendaftarkan anak ke sekolah tertentu, Anda bisa langsung datang ke sekolah tersebut dan berbicara dengan pihak sekolah. Namun, beberapa tahun belakangan ini, pendaftaran sekolah sudah bisa dilakukan secara online. Hal ini tentu memudahkan orang tua karena tidak perlu mendatangi satu per satu sekolah tujuan (in case anak tidak diterima di sekolah tujuan utama). Melalui sistem online, anak akan langsung dirujuk ke sekolah terdekat dengan rumah dan apabila kuota sekolah tersebut telah penuh, secara otomatis anak akan dipindahkan ke sekolah lain yang terdekat dengan lokasi rumah.

Dokumen apa saja yang diperlukan pada saat mendaftarkan anak ke sekolah? Sederhana. Tidak seperti sistem pendaftaran sekolah di Indonesia yang mengharuskan orang tua menyiapkan belasan dokumen serta menyiapkan anak untuk ikut tes, di Inggris, mendaftarkan anak ke sekolah hanya membutuhkan akte kelahiran anak serta bukti yang menunjukkan alamat tempat tinggal. Akte kelahiran digunakan untuk mengetahui usia anak, yang berkaitan dengan jenjang kelas anak, sedangkan bukti tempat tinggal digunakan untuk mengetahui apakah benar anak tersebut mendaftar di sekolah yang memang dialokasikan untuk daerah tempat tinggal tersebut. Selain itu, orang tua juga diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dari internet apabila mendaftar online atau dari sekolah langsung apabila langsung mendaftar ke sekolah. Ingat, tidak ada pungutan biaya sepanjang proses pendaftaran ini, ya.

 

Perlengkapan Sekolah

Awal masuk sekolah bagi anak identik dengan berbelanja perlengkapan sekolah, seperti buku, tas, sepatu, dan lain-lain. Di inggris, perlengkapan yang diperlukan diantaranya adalah seragam sekolah. Seragam sekolah, selain melalui online shopping, tersedia juga di toko-toko yang umum seperti ASDA, Tesco, dan sesekali di ALDI dengan harga standar. Selain itu, seragam sekolah dapat juga dibeli di departemen store menengah ke atas seperti di Mark & Spencer, debenhams, dan BHS, tentunya dengan harga yang lebih mahal. Selain itu, siswa sekolah di Inggris juga dianjurkan untuk memakai sepatu hitam yang juga bisa diperoleh di supermarket tersebut di atas. Namun, ada juga perlengkapan sekolah yang harus dibeli di sekolah karena ada badge atau logo sekolah sebagai penanda identitas. Barang-barang tersebut adalah tas sekolah, dan jumper atau cardigan. Cukup sudah acara beli-beli perlengkapan sekolah di Inggris. Bagaimana dengan buku?

Peralatan belajar seperti alat tulis dan buku pelajaran sepenuhnya difasilitasi gratis dari sekolah, dimana siswa akan dipinjami buku ajar sesuai dengan materi yang diajarkan selama di sekolah. Pada akhir kelas, peralatan tersebut akan disimpan di sekolah pada rak yang ditentukan sesuai dengan nama mereka, lalu siswa hanya akan membawa pulang buku untuk homework dan latihan saja. Buku pelajaran yang free ini khusus untuk buku ajar wajib saja. Artinya, jika orang tua merasa perlu untuk mencarikan buku tambahan di luar buku materi utama, maka dipersilahkan untuk membelinya secara bebas di toko buku. Selain buku pelajaran, para siswa akan diberikan pinjaman buku sebagai bahan bacaan selama di rumah, dimana setiap minggunya buku cerita ini akan dikembalikan untuk memperoleh buku yang lain, dan anak-anak bebas memilih judul buku sesuai keinginan mereka. Dengan begitu, diharapkan minat baca anak akan meningkat dan wawasannya bertambah karena mereka dapat membaca beragam judul buku secara kontinyu.

Sama halnya seperti kelompok nursery, siswa primary school juga diwajibkan membawa bekal makanan (meal) untuk makan siang bersama di sekolah. Sebenarnya sekolah menawarkan paket meal gratis untuk year 1-2 saja, sedangkan untuk year 3 dan seterusnya orangtua harus membayar sekitar GBP 11-15 untuk penyediaan makan selama satu minggu. Menu yang disediakan sebenarnya tidak mengandung olahan daging, akan tetapi untuk murid yang muslim, anda bisa menanyakan apakah disediakan opsi menu halal atau vegetarian. Namun, jika tetap kurang yakin dengan kehalalannya dan juga agar bisa lebih berhemat, murid diperkenankan membawa bekal sendiri dari rumah.

 

Kegiatan Sekolah

Kurikulum dan Pelajaran

Mengenai kurikulum, siswa Reception mengikuti kurikulum yang disebut EYFS (Early Years Foundation Stage), siswa kelas 1-2 mengikuti kurikulum yang disebut Key Stage 1, dan siswa kelas 3-6 mengikuti kurikulum yang disebut Key Stage 2. Apa sih yang dipelajari di kurikulum-kurikulum tersebut?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, kelas reception digunakan sebagai jembatan antara TK dan SD. Oleh karena itu, siswa di kelas ini masih “bermain”, tetapi juga mulai serius belajar. Di kelas ini, siswa mulai belajar membaca dan menulis, walaupun porsi-nya masih tergolong sedikit. Di kelas ini, siswa dibebaskan untuk memilih kegiatan yang ia inginkan, meskipun kadang-kadang guru memimpin siswa dalam belajar sesuatu, misalnya matematika. Pada sebagian besar hari, siswa terlihat ‘bermain-main’ saja di dalam kelas. Jadi, tidak ada jadwal pelajaran atau buku tugas bagi siswa. Mereka bisa memilih apa yang ingin mereka lakukan sepanjang hari. Namun,  guru-guru sigap melakukan observasi dan mencatat kemajuan siswa dalam bidang-bidang tertentu, seperti dalam hal sosialisasi dan kemandirian. Catatan hasil observasi ini lah yang digunakan untuk melaporkan kemajuan siswa.

Perbedaan antara Key Stage 1 dan Key Stage 2 terletak pada pendekatan guru dalam proses pembelajaran. Tentunya, karena perbedaan usia anak, guru bisa mengatur seberapa banyak kontrol yang ia berikan di dalam kelas. Anak-anak di jenjang Key Stage 2 diberikan lebih banyak kebebasan untuk mengatur proses pembelajaran mereka sendiri. Tugas-tugas yang diberikan lebih menantang dan menuntut mereka untuk lebih banyak berpikir secara kritis dan kreatif. Namun, dalam hal mata pelajaran, keseluruhan jenjang SD memiliki mata pelajaran wajib yang sama. Ada tiga mata pelajaran wajib yang harus diberikan oleh semua sekolah, yaitu English (membaca dan menulis), Math, dan Science. Selain itu, setiap sekolah wajib memberikan pelajaran Religious Education (RE). Nah, ini bukan pelajaran agama seperti di Indonesia, ya. Dalam RE, siswa belajar semua agama, tapi bukan dari perspektif praktik dan internalisasi nilai, melainkan dari sisi sejarah. Selain pelajaran utama, sekolah dapat memilih beberapa dari pelajaran tambahan yang terdiri dari computing, creative arts, humanities, citizenship, design and technology, languages (bahasa asing), geography, music, dan physical education (pendidikan jasmani). Jadi, mata pelajaran yang didapatkan oleh siswa bisa saja berbeda di setiap sekolah.

Metode Belajar dan PR

Lalu, bagaimana proses pembelajaran di dalam kelas? Di Inggris, metode yang digunakan dalam belajar adalah metode tematik. Jadi, bagi Anda yang sudah merasakan kurikulum 2013, mungkin ini agak-agak mirip. Di setiap term, guru memilih satu tema yang dijadikan acuan untuk mengarahkan pembelajaran. Setiap mata pelajaran juga akan mengacu dan membahas tema tersebut. Meskipun struktur di dalam kelas cukup fleksibel, guru tetap memiliki jadwal pelajaran. Hal ini juga membedakan antara Reception dan Primary. Lagi-lagi, siswa adalah pusat pembelajaran sehingga guru tidak banyak ‘berceramah’ di depan kelas, tetapi siswa banyak melakukan kegiatan dan mengarahkan proses belajar mereka sendiri.

Oh iya, di sini anak tidak banyak mendapatkan pe er (homework), bahkan bisa dibilang sangat jarang. Biasanya saat libur half-term tiba, anak akan diberikan pekerjaan rumah dengan harapan untuk mengisi waktu luang dan tetap menjaga rutinitas belajar selama liburan. Bagi anak-anak yang memiliki bahasa ibu non-Inggris, biasanya pada saat baru saja pindah sekolah, anak diberikan agak lebih banyak PR. Hal ini berguna untuk mengakselerasi adaptasi anak dalam berbahasa Inggris. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu terlalu khawatir anak tidak bisa mengejar ketertinggalan karena mereka juga di-support oleh sekolah.

Kegiatan Sekolah

Kegiatan siswa diseimbangkan antara di dalam maupun luar sekolah, dan pelaksanaanya mengikuti topik yang sedang di sampaikan di dalam kelas. Misalnya, saat materi sains diajarkan, akan ada kegiatan mengunjungi museum sains. Topik tentang geologi dan lingkungan akan dilengkapi dengan kunjungan anak ke taman flora dan fauna atau kebun binatang, dilanjutkan lagi dengan kegiatan menonton film bersama bioskop dengan tema pengetahuan alam. Hal ini cukup menarik bagi siswa, karena dengan begitu mereka memperoleh gambaran secara utuh baik dari sisi materi tertulis maupun penerapan melalui sisi praktikal (teknis). Selain kegiatan di luar sekolah, fasilitas penunjang belajar anak yang disediakan juga sangat bagus, misalnya untuk memperdalam skill bermain alat musik, anak-anak diperbolehkan meminjam dan membawa pulang salah satu instrumen untuk berlatih di rumah. Waah, sungguh menakjubkan mengetahui bahwa sekolah di sini memiliki totalitas yang luar biasa dalam hal penyediaan fasilitas dan pengelolaannya.

Jika di Indonesia terdapat banyak ekstrakurikuler, di Inggris juga ada kegiatan di luar jam sekolah yang biasa disebut after school club. Kegiatan ini tidak wajib, tetapi jika siswa ingin turut serta, biasanya akan dikenai biaya sebesar GBP1-3 setiap event. Anak-anak bisa berlatih gardening, art, musik, dan bisa berlatih drama maupun kegiatan lain yang sifatnya dilakukan mengasah nilai teamwork mereka.

 

Evaluasi Pembelajaran

Sistem penilaian yang diterapkan di sekolah di Inggris sangat fair. Artinya, berimbang antara usaha dan hasil akhir yang dicapai anak didik sehingga apabila ada anak yang hasil akhirnya tidak terlalu tinggi, guru akan melihat sejauh mana effort yang dilakukan dan dari situ akan ada penilaian untuk mengapresiasi proses yang ditempuh oleh siswa. Sebagai contoh, ada anak yang bahasa utama nya bukan bahasa Inggris, biasanya pencapaian untuk reading dan writing akan berada di bawah temannya yang menggunakan English sebagai bahasa utamanya, namun karena sikap dan antusiasme anak yang besar untuk belajar dalam materi ini, maka effort nya bisa jadi akan diapresiasi sangat baik oleh para pengajar. Rapor yang diberikan akan mencakup penjelasan detail untuk masing-masing pelajaran baik wajib maupun tambahan, termasuk bagaimana sikap anak, kekurangan dan kelebihan mereka dalam menghadapi mata pelajaran yang ada.

 

Hubungan Sekolah dan Orang Tua

Sama halnya dengan yang terjadi di Indonesia, sekolah juga berusaha untuk melibatkan orang tua dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Oleh karena itu, keaktifan orang tua dalam menghadiri acara-acara tersebut sangat diharapkan. Gunanya, selain agar terbangun komunikasi antara sekolah dan orang tua juga untuk membuat anak lebih bersemangat karena melihat orang tua terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ia ikuti.

Pertemuan sekolah dan orang tua biasanya terjadi di awal tahun ajaran. Rapat orang tua, atau parent’s meeting, digunakan sebagai sarana pengenalan orang tua dengan sekolah dan sebagai media sosialisasi berbagai kebijakan sekolah. Pada acara ini, orang tua dapat bertanya dan berinteraksi dengan guru serta orang tua lain. Orang tua juga dapat menyatakan concern mereka terhadap suatu isu. Apabila ada keluhan atau aspirasi yang ingin disampaikan diluar rapat orang tua, biasanya orang tua dapat berkomunikasi dengan guru dan sekolah melalui email atau dengan datang langsung ke sekolah. Pertemuan tatap muka antara orang tua dan guru juga terjadi pada saat penerimaan ‘rapor’ anak. Pada sesi ini, guru akan memberikan laporan mengenai perkembangan anak dan orang tua juga dapat bertanya mengenai hal tersebut pada guru.

Keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar juga ditunjukkan melalui kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan anak dan orang tua. Biasanya, orang tua diundang untuk datang menonton pertunjukan musik atau drama yang dilakukan oleh anak-anak. Selain itu, beberapa sekolah juga memiliki waktu khusus ‘assembly’ yang digunakan oleh siswa untuk menunjukkan hal yang telah mereka pelajari di kelas. Penampilan ini dapat dilihat oleh orang tua. Selain itu, ada juga bazaar dan hari olahraga yang juga membutuhkan partisipasi orang tua. Kali ini, orang tua tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga sebagai peserta. Nah, jangan harap kegiatan-kegiatan ini akan sering diadakan di akhir pekan. Seringnya, orang tua harus ‘izin’ dari pekerjaan di siang hari untuk dapat berpartisipasi. Oleh karena itu, siapkan diri untuk meluangkan waktu menghadiri acara-acara ini.

 
Ternyata cukup banyak juga ya, hal baru dan berbeda mengenai pendidikan di sekolah dasar di Inggris. Kami berharap tulisan ini dapat membantu memberikan gambaran bagi Anda yang akan datang membawa anak berusia SD. Minggu depan, kami akan kembali dengan artikel mengenai pendidikan jenjang sekolah menengah atas. Nantikan ya!

 

Photo source: http://www.talklist.co.uk/wp-content/uploads/2014/09/Primary-Schools-in-UK.jpg

University 101: Independent Learning (2)

Setelah bagian pertama feels like a thousand days ago, mari kita lanjutkan seri tulisan tentang University 101 ini. Sekedar mengingatkan, seri ini sengaja saya tulis untuk teman-teman yang akan berkuliah (S1 maupun S2) untuk memberikan gambaran mengenai study skills yang dibutuhkan saat menjadi mahasiswa, terutama di universitas non-Indonesia. Namun, harusnya sih isinya pun relevan bagi teman-teman yang akan berkuliah di universitas di Indonesia. Framework artikel ini didasarkan pada sebuah online course yang saya ikuti mengenai preparing for university.

Beberapa minggu yang lalu, saya membahas mengenai the art of asking questions. Kali ini, salah satu aspek penting dalam kehidupan mahasiswa di universitas adalah independent learning. Ya, sudah besar dan dewasa (harusnya) membuat mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam memastikan keberhasilan studi-nya.

Saya jadi ingat, seminggu lalu sebuah daerah di Birmingham ‘kekeringan’ karena ada water pipe burst. Hal ini menyebabkan ada sekolah yang diliburkan karena tidak ada supply air bersih. Namanya juga musibah, pemberitahuan libur sekolah baru dilakukan oleh pihak sekolah di pagi hari, saat anak-anak sudah bersiap berangkat sekolah. Lucunya, seorang anak kawan saya menangis cukup drama karena ia sedih tidak jadi berangkat sekolah. Dasar anak-anak yaa… Sekolah membuat bahagia. Kalau kita? Hahaha…. Mungkin ada yang merasa sekolah tidak menyenangkan? Libur jadi momen yang ditunggu-tunggu?

Hmmm… harusnya sih kalau kuliah tetap semangat untuk masuk kelas ya? Mengapa? Karena harusnya kan kuliah sesuai dengan topik atau bidang yang diminati. We should be interested in what we learn in the university. Mari dicek artikel saya sebelumnya: https://theadventureofizzao.com/2016/03/27/salah-jurusan/. Kalau semangatnya harus sama dengan si anak kecil yang ingin sekali bersekolah, ada hal yang berbeda tentang libur. Bagi mahasiswa, tidak ada kelas bukan berarti tidak belajar. Whaaaat?

Pertama-tama, saya akan menjelaskan mengenai sistem belajar di universitas di UK (dan mungkin banyak negara lain). Ada isitlah yang disebut sebagai ‘contact time’. Apakah itu? Contact time berarti waktu yang dialokasikan bagi mahasiswa untuk bertemu dengan dosen. Nah, contact time ini dihitung sejumlah jam dalam satu minggu. Contact time di setiap jurusan dan jenjang pendidikan pun berbeda-beda. Ada jurusan-jurusan yang contact time-nya sedikit, seperti jurusan English Literature, Drama, dan Music (8-15 jam per minggu). Namun, ada juga jurusan yang memiliki banyak contact time, seperti International Relation dan jurusan-jurusan Social Science (20-28 jam per minggu). Bagaimana dengan jurusan Science? Biasanya mahasiswa yang mengambil jurusan Science memiliki contact time yang sedang, dengan proporsi lab work yang cukup besar. Misalnya, 15 jam contact time dan 15 jam lab work per minggu. Biasanya, ada 3 jenis pertemuan mahasiswa dengan dosen, yaitu lecture, seminar, dan tutorial. Apa bedanya? Lecture adalah kuliah, seperti kelas kuliah di Indonesia. Mahasiswa dalam satu kelas ada banyak dan biasanya dosen memegang kendali dalam memberikan penjelasan tentang suatu topik. Seminar dilakukan dalam kelompok yang lebih kecil dari lecture, dan biasanya student-based. Jadi, mahasiswa harus aktif berdiskusi, mengerjakan tugas, dan melakukan case study. Project-project pun biasanya dikerjakan selama seminar ini. Terakhir, tutorial adalah pertemuan individual satu mahasiswa dengan dosen. Biasanya, alokasi waktu ini didapatkan pada jenjang tingkat akhir S1 atau pada saat S2. Mahasiswa memiliki hak untuk bertemu dengan dosen selama sekian jam pada masa kuliah berlangsung. Hak, ya, bukan kewajiban. Jadi, mahasiswa lah yang harus menuntut haknya dengan membuat appointment dengan dosen karena dosen tidak akan mengejar-ngejar Anda untuk bertemu. Yekaliii, macam artis aja.

Wah, nggak adil dong? Ada yang kuliahnya banyak tapi ada juga yang sedikit? Nah, keadilan itu ada di independent learning. Teman-teman yang memiliki contact hour sedikit, pasti tugasnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan teman-teman yang contact hour-nya banyak. Sebagai perbandingan, saat S2 saya memiliki contact hour 10 jam per minggu. Tugas saya ada essay 500 kata setiap minggu dan essay 6000 kata x 5 mata kuliah untuk dikumpulkan di akhir term. Suami saya memiliki contact time 20 jam per minggu dengan case study untuk setiap mata kuliah dan essay 2500 kata x 6 mata kuliah untuk dikumpulkan di akhir term. Otomatis, waktu yang saya sisihkan untuk independent learning (mengerjakan tugas) pun jadi bisa make up the difference antara contact hour saya dan contact hour suami saya. Intinya sih, sama-sama belajar!

Oke, lalu apa yang dilakukan di waktu kosong tersebut? Seperti yang sudah dijelaskan, kita bisa mengerjakan tugas, membaca bahan kuliah (reading list), dan melakukan revision. Jangan dikira hal-hal tersebut memakan waktu singkat, ya. Ini bukan SMA yang bisa ngerjain PR sebelum bel di sekolah. Hihi. semua hal tersebut memakan considerable amount of time. Jadi, alokasikan lah waktumu dengan baik. Mari kita bahas masing-masing kegiatan tersebut!

Mengerjakan tugas

Apa sih tugasnya mahasiswa? Ada banyak sekali jenis tugas yang diberikan pada mahasiswa. Kita bisa diminta untuk menulis essay, merancang dan membuat project, atau lab work. Jenis tugas biasanya tergantung jurusan yang dipilih. Biasanya, kita sudah bisa tahu tugas apa saja yang akan kita kerjakan di pertemuan kuliah pertama. Jadi, tidak seperti PR di sekolah yang ‘ujug-ujug’ diberikan, saat kuliah ini kita bisa ancang-ancang untuk mengerjakan tugas di awal masa perkuliahan. Tugas yang diberikan pun bisa berupa tugas individu atau tugas kelompok. Keduanya membutuhkan effort yang besar. Misalnya, tugas kelompok butuh kekompakan, kerja sama, dan kolaborasi dengan teman-teman sekelompok. Saat berkuliah di tempat dengan mahasiswa yang background budaya-nya berbeda, kita pun harus bisa fleksibel dan bertoleransi. Ini PR yang besar dan cukup menantang untuk dijalani. Kalau tidak mampu bekerja sama dengan baik, maka nilai kita lah yang dikorbankan. Berbeda dengan tantangan pada tugas kelompok, tugas individu membuat kita harus bersusah-susah sendiri. Jadi, banyak waktu dihabiskan di perpustakaan atau di kamar untuk membaca dan menulis. Kebosanan, godaan untuk bermain, dan kecenderungan prokrastinasi adalah tantangannya. Oleh karena itu, motivasi dan time management skills sangat dibutuhkan, terutama apabila ada banyak tugas yang harus diselesaikan dalam satu waktu.

Membaca bahan kuliah

Kegiatan lain yang bisa dilakukan saat kita tidak harus masuk kelas adalah membaca bahan kuliah. Biasanya, mahasiswa telah diberikan reading list di awal masa kuliah. Reading list ini ada yang wajib dan ada juga yang sunnah (additional). Nah, kalau yang wajib saja sudah sebareg, gimana dengan yang sunnah? Oleh karena itu, saya biasanya menyisihkan waktu khusus untuk membaca reading list dan bahan kuliah. Oh ya, kalau kuliah di luar negeri, tidak bisa lagi seperti kuliah di Indonesia yang cukup membaca slide dari dosen, ya. Hahaha… Nilai kita bisa berantakan kalau mengandalkan slide kuliah dosen. Biasanya, slide kuliah dijadikan panduan mengenai topik apa yang wajib dibaca di buku. Jadi, bahkan sebelum masuk kuliah pun si slide kuliah sudah penuh dengan coretan-coretan. Selain untuk bisa mengerti materi kuliah agar tidak cengo’ saat di dalam kelas, membaca reading list juga sangat berguna untuk menambah wawasan dan membantu dalam mengerjakan tugas. Jadi, usahakanlah untuk selalu mencoba membaca additional reading material yang bisa berupa text book, jurnal terkini, dan usahakanlah untuk selalu update informasi terkait dengan apa yang kita pelajari dari berita terkini. Saat kuliah S2 dulu, saya mengalokasikan 1 jam di pagi hari untuk membaca berita yang ada serta jurnal terbaru tentang topik yang saya pelajari.

Mengerjakan revision

Aktivitas terakhir yang bisa dilakukan di waktu kosong adalah mengerjakan revision. Apakah itu revision? Revision berarti mengulang pelajaran atau latihan. Mungkin ini bentuknya macam kita belajar di SD, saat harus membaca lagi apa yang telah dipelajari di sekolah dan mengerjakan latihan soal. Nah, si revision ini biasanya tidak lagi dilakukan saat S2 karena tugas dan pelajarannya sudah lebih banyak ke arah developing ideas, bukan memahami konsep dasar. Nah, apa yang dibutuhkan saat revision? Tentunya materi yang telah dipelajari (bisa berupa catatan, slide kuliah, atau video) dan latihan soal. Untuk lebih baik lagi dalam melakukan revision, kita perlu tahu metode belajar yang paling nyaman bagi diri kita sendiri. Dengan begitu, revision bisa dilakukan dengan efektif dan hasil belajar pun lebih baik.

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, independent learning ini sangat penting pada jenjang universitas karena mahasiswa tidak lagi ‘disuapi’ oleh dosen. Kemajuan belajar kita akan tergantung pada diri kita sendiri, tergantung usaha yang kita keluarkan. Selain itu, latihan independent learning pada saat berkuliah dapat melatih diri kita agar menjadi life-long learner, pembelajar seumur hidup. Skill ini sangat dibutuhkan terutama saat kita bekerja karena progress karir pun akan sebanding dengan luasnya pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, ada atau tidak sarananya, kita harus bisa meng-upgrade pengetahuan dan kemampuan kita tanpa harus didorong oleh orang lain atau ‘dipaksa’ oleh pihak eksternal.

Independent learning is a skill. Tapi, di dalamnya ada berbagai keterampilan yang juga dibutuhkan dan terkait, seperti kemampuan mengatur waktu, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan kolaborasi, motivasi internal dan eksternal, serta kemampuan untuk memahami diri sendiri. Yuk, tingkatkan kemampuan kita dan mulai membiasakan diri untuk menjadi pembelajar mandiri.
Nantikan artikel berikutnya masih dalam topik University 101, yaa. Terima kasih sudah membaca.

When there is a will; there is a way, but….

…. Kalau nggak usaha sih sama aja. Akhir-akhir ini lagi sering ngobrol dengan suami tentang bermacam-macam hal. Lalu, suami cerita bahwa diantara teman-temannya sedang heboh tentang kesungguhan niat dan hasil yang dicapai – dalam konteks kuliah S2. Alhamdulillah saya dan suami diberi kesempatan untuk bisa ke Inggris dalam rangka berkuliah. Mungkin kalau terlihat oleh orang lain, wah kehidupan saya dan suami kok rasanya enak sekali. Menikah di usia muda, lalu bisa tinggal di luar negeri. Tapi, seperti rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau, kita nggak pernah tahu perjuangan apa yang dilakukan oleh si tetangga supaya rumputnya bisa hijau, kan? Bisa jadi dia pakai pupuk yang harganya mahal, atau harus rela menyisihkan waktu lebih lama untuk merawat rumputnya. Yup, instead of judging, why don’t we try to understand?

Kali ini, saya mau sharing sedikit saja tentang kehidupan dan usaha yang saya dan suami lakukan hingga sampai di sini. Pencapaian kami masih super cetek kalau dibandingkan dengan orang lain. Namun, saya ingin berbagi untuk teman-teman yang sedang galau dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya (sok tuaaa bgt guee…). Jadinya, tulisan ini akan ‘sedikit’ curhat tentang diri saya sendiri, hihi. Nggak apa-apa lah yaa sekali-sekali.

Sepertinya untuk memulai cerita ini, saya harus throwback agak jauh ke belakang, ke saat saya belum menikah dengan suami. Saya pertama kali bertemu lagi dengan suami (ya, kami teman SD dan SMP) setelah bertahun-tahun tidak bertemu di bulan Oktober 2013. Saat itu, saya baru saja pulang dari UK setelah menempuh pendidikan S2. Setelah pertemuan itu, kami semakin dekat. Namun, wacana untuk menikah masih ada di angan-angan karena pada saat itu saya baru saja menandatangani kontrak untuk bekerja di Jakarta selama 2 tahun dan (calon) suami saya saat itu bertugas di Batam. Angan-angan hanyalah angan-angan karena keluarga kami sudah saling tahu dan ingin kami segera menikah. Nah loh? Akhirnya, pada bulan Juli 2014 kami memutuskan untuk menikah. Dalam waktu 2 minggu saja, gedung sudah di booking dan persiapan pernikahan langsung dimulai. Proses lamaran dilakukan di awal Agustus dan kami menikah di bulan November. Ngebut? Bagi kami ini adalah proses yang cukup ngebut, walaupun ada banyak sekali orang yang juga mempersiapkan pernikahan dalam waktu sangat singkat. Apa yang terjadi selama persiapan? Lumayan grabak grubuk juga sih. Kondisi saya yang bekerja full time, (calon) suami yang tinggal di luar kota, semua membuat kami sangat-sangat terbantu oleh orang tua. Long weekend jadi media agar kami bisa test food, melihat gedung, memilih fotografer, dan membuat undangan. Pusing? Pusing… Tapi kami bersyukur bahwa semua proses yang dijalani lancar.

Pada saat memutuskan untuk menikah, kami tahu betul konsekuensi dari keputusan kami. Kondisi pekerjaan mengharuskan saya dan suami menjalani LDM – long distance marriage. Ada yang pernah putus karena LDR? Menjalani LDM pun berbeda dengan menjalani pernikahan bersama di satu tempat. Kami harus berusaha meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan mau tidak mau juga harus terus memperbaiki komunikasi kami. Mengapa? Karena hanya itu andalan kami. Hidup berjauhan, saya dan suami tidak bisa benar-benar tahu kondisi masing-masing. Hanya dengan komunikasi lah kami bisa terus memperkuat hubungan kami. Usahanya lebih besar? Tidak bisa dibilang seperti itu juga, sih. Tapi, usahanya terlihat lebih jelas. Yang jelas, saya dan suami sih kalau bisa memilih, tidak mau lagi kalau disuruh untuk LDM. Untuk bersamamu, gunung dan lautan pun akan kusebrangi (cieilaaaahh..).

Nah, untuk keluar dari situasi LDM, kami punya beberapa pilihan. Yang jelas, pilihan untuk saya pindah ke Batam, tempat dinas suami, sudah dicoret karena suami ingin pindah ke pulau Jawa, mendekat ke keluarga besar dan teman-teman. Mau tidak mau, suami lah yang harus berusaha pindah. Alternatifnya ada dua: pindah kerja atau sekolah. Akhirnya, suami pun paralel melamar kerja sambil juga daftar kuliah. Saya ingat sekali di bulan Januari 2015 kami sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pendaftaran kuliah. Saat itu, suami fokus untuk mendaftar di universitas-universitas di UK. Selain kesibukan mendaftar kuliah, suami juga mulai mendaftar beasiswa. Kami sadar betul bahwa kami tidak punya uang (dan tidak punya sponsor) untuk bisa berkuliah dan hidup di UK tanpa bantuan beasiswa. Oleh karena itu, kami tahu bahwa apabila suami mendapatkan offer dari universitas tapi tidak mendapatkan beasiswa, maka suami harus menunda kuliah hingga ada yang mau membiayai. Usahanya apa untuk mendaftar kuliah dan beasiswa? Suami saya harus membuat esai dan tes bahasa Inggris. Saat itu tes bahasa Inggris dilakukan tanpa persiapan yang berarti. Saya hanya mengirimkan buku bekas latihan saya dari Jakarta agar suami bisa belajar di Batam. Kami juga saling email-email-an esai dan feedback esai hingga dirasa ‘pas’ untuk di-submit sebagai syarat pendaftaran kuliah dan beasiswa. Dari periode Januari hingga April 2015, suami mendaftar di hampir 10 universitas berbeda dan akhirnya, alhamdulillah, mendapatkan offer dari universitas yang diincar (walaupun belum rezeki untuk dapat offer dari University of Manchester). Suami pun memilih universitas idamannya dan segera men-submit aplikasi beasiswanya.

Rasanya di tahun 2015, waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saja di bulan Juni, suami saya mendapatkan kabar bahwa ia mendapatkan beasiswa. Kami langsung berpikir cepat tentang apa yang harus dilakukan. Pada saat itu, masih ada kabar bahwa ada kemungkinan suami baru bisa berangkat di tahun akademik berikutnya. Lagi-lagi kami harus bersiap dengan alternatif lain. Pilihan pertama adalah berangkat di bulan September tahun yang sama. Saya jelas harus ikut (disamping ingin jalan-jalan juga, alasan utama kami adalah tidak mau LDM). Namun, saya masih terikat kontrak kerja yang sisa 1 tahun lagi – dan harus membayar penalti apabila melanggar kontrak tersebut. Kami mulai berpikir: dari mana uang sebanyak itu? Selain itu, persiapan untuk berangkat di bulan September juga berkaitan dengan urusan visa dan kepindahan ke kota Birmingham. Kami pun jadi rajin membaca aturan visa (bahkan sampai kami print si buku petunjuk visa dari UKVI dan kami baca sampai khatam – berkali-kali khatam). Kami sadar betul bahwa urusan visa ini memiliki resiko yang besar apabila sampai ditolak. Jadi, kami harus mempersiapkan diri. Pada saat itu kami mulai menghitung uang yang ada di tabungan serta aset lain yang kami miliki. Opsi kedua adalah menunda keberangkatan hingga September 2016. Less risk, lebih sedikit biayanya (dan bisa menabung dulu selama 1 tahun), tetapi berarti kami harus bersabar karena masih satu tahun lagi harus LDM.

Suami kemudian mendapatkan kabar bahwa ia bisa berangkat (kemungkinan besar) di tahun 2015. Kami langsung menjalankan rencana kami. Pertama, kami harus meminjam uang untuk deposit persyaratan visa saya (karena finansial suami ditanggung oleh pemberi beasiswa). Sebagai bocoran, saat itu kami meminjam uang sejumlah hampir 150 juta untuk jaga-jaga konversi kurs rupiah ke poundsterling. Uang pinjaman itu kami endapkan dari akhir Juni untuk aplikasi visa di pertengahan Agustus. Ya, kami sudah ancang-ancang akan membuat appointment visa di pertengahan Agustus setelah menghitung-hitung jadwal serta persiapan kami (note: kami baru resign per 1 September, jadi suami pun harus nglaju Batam-Jakarta selama persiapan). Kedua, saya harus PDKT dengan kepala sekolah serta HR di sekolah tempat saya bekerja agar bisa cuti tak berbayar atau resign tanpa harus membayar penalti. Ihiks, seram juga kalau harus bayar. Ketiga, kami harus mempersiapkan segala dokumen untuk aplikasi visa, termasuk juga uang untuk membayar IHS (asuransi) serta visa. Anak piyik seperti kami hanya punya 1 kartu kredit yang limitnya pun terbatas. Jadilah kami harus lagi meminjam kartu kredit orang lain untuk membayar ini itu. Keempat, kami harus mulai hunting akomodasi di UK. Kami rajin membuka website pencarian akomodasi dan rajin juga email agen rumah dan landlord. Kami pun bersiap uang (lagi) untuk membayar deposit dan booking fee. Rasanya gaji di bulan-bulan itu ‘terbang’ hilang sekejap, belum lagi ditambah ongkos pesawat suami bolak-balik Batam-Jakarta.

Selesai urusan beasiswa dan visa, kami pun giat bekerja untuk menambal si tabungan yang bolong karena harus bayar ini itu. Kami juga memutuskan untuk bekerja hingga sesaat sebelum berangkat. Oh ya, kami berangkat di pertengahan September. Jadi, kami masih bekerja hingga akhir Agustus. Suami harus pindahan dari Batam ke Jakarta juga. Untungnya, barang yang dibawa tidak terlalu banyak sehingga biaya pindahan pun tidak terlalu besar. Segera setelah visa keluar, kami pun berburu tiket. Suami yang mendapatkan tiket dari pihak pemberi beasiswa segera mengabarkan informasi flight dan saya harus berburu tiket dengan jadwal yang sama ke berbagai travel agent. Cara ini saya lakukan agar dapat tiket dengan harga se-ekonomis mungkin. Hahaha… bukannya pelit, tapi beli tiket ini harus pakai acara jual-jual perhiasan (yang cuma segitu-gitunya) segala. Mahal cuy, apalagi belinya sudah mepet dengan tanggal keberangkatan.

Setelah heboh-heboh di Indonesia, sampailah kami di Birmingham. Selesai heboh-nya? Belum. Rasanya, masalah finansial ini masih terus heboh hingga sekitar bulan November. Kenapa begitu? Karena di masa awal adaptasi kok ya rasanya mengatur uang belum paham betul. Masih terkaget-kaget dengan pengeluaran dan akhirnya harus terus evaluasi hingga rekening bank kami stabil. Yang jelas, di awal datang, pengeluaran kami cukup banyak karena harus mengisi rumah. Tidak full mengisi sih, karena alat-alat basic sudah ada. Hanya saja, kami harus beli alat masak dan beberapa kebutuhan rumah tangga agar studio yang kami sewa bisa lebih homey. Di bulan berikutnya, kami harus menyesuaikan pola belanja bahan makanan agar bisa berhemat uang transportasi dan uang belanja. Nggak rela juga kalau setiap bulan hampir 100 pounds dikeluarkan untuk biaya transportasi. Kami pun evaluasi lagi dan merancang strategi lagi. Baru di bulan ketiga atau keempat lah kami bisa mulai ‘enak’ mengatur keuangan. Saya sih terbayang, berdua saja masih harus berpikir strategis supaya uang cukup dan berlebih untuk ditabung, bagaimana yang punya anak dua atau tiga? Huaaah harus putar otak agar dapur terus mengebul.

Berhemat adalah hal yang terus menerus saya dan suami lakukan. Saat bisa berhemat, kenapa tidak? Namun, ada satu hal yang tidak boleh dihemat: sedekah. Sesempit apapun kita, ibu saya selalu mengingatkan ‘Jangan pelit bersedekah’. Berikanlah yang terbaik untuk membantu orang lain. Sedekah ini tidak hanya dalam bentuk uang, ya… bisa juga dalam bentuk tenaga, ilmu, bahkan senyum. Percayalah bahwa Allah itu Maha Pemberi. Kalau kita sudah berusaha plus melakukan amal-amal baik, maka Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik.

Saya jadi ingat potongan status dari senior kuliah saya. Ia bercerita tentang kondisinya dan di akhir, ia menulis ‘stop merasa jadi orang paling nelangsa di dunia karena masih banyak orang yang kondisinya lebih buruk di luar sana’. Yap, saya harus banyak-banyak bersyukur karena telah banyak diberi kemudahan. Keinginan saya dan suami banyak yang sudah bisa terwujud. Saya kadang-kadang juga masih takjub bagaimana dalam waktu sangat singkat saya dan suami bisa sampai di sini. Seperti miracle, tapi juga bukan miracle 100% karena kami menyusun rencana, kami berusaha, kami memutar otak agar dapat bertahan. Dan yang terpenting, ya…. Banyak sekali orang-orang lain yang lebih hebat bisa mengatur uang dan kehidupan sedemikian rupa hingga bisa sukses dan bertahan hidup. Ada keluarga dengan tiga anak yang tetap bahagia dengan uang tunjangan beasiswa yang sama jumlahnya dengan mahasiswa single, ada keluarga-keluarga yang tinggal di London (yang amit-amit mahalnya) tapi tetap bisa piknik, ada juga teman yang harus berjuang mengulang ujian tapi akhirnya lulus setelah belajar di kampus hingga larut malam setiap hari, ada juga teman yang ditinggal oleh suaminya tapi tetap tegar menjalani hidup, ada ibu-ibu mahasiswa yang selain harus mengurus anak dan suami (dan mungkin juga harus bekerja) harus belajar dan menulis esai. Semua tergantung tujuan sih. Maunya apa? Tujuannya apa? When there is a will; there is a way, but…. Saya akan coba mengutip kata-kata dari novel yang menurut saya sangat bagus untuk memberi semangat:

“Kemudian yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras serta mulut yang selalu berdoa.” (Donny Dhirgantoro)
Selamat bermimpi dan selamat berusaha!

Home Away from Home: Budaya Lokal (2)

Photo source: http://www.huffingtonpost.co.uk/2014/08/14/british-stereotypes_n_5461440.html

 

Setelah lebih banyak membahas mengenai interaksi dengan orang-orang lokal di minggu lalu, kali ini kami akan bercerita mengenai kebiasaan lain dari warga UK. Kebiasaan-kebiasaan ini tidak menyangkut sosialisasi, tetapi lebih pada kehidupan sehari-hari, seperti jam kerja, kebiasaan tidak membawa uang cash, belanja online, dan perilaku ramah lingkungan. Sepertinya topik-topik tersebut kecil, tetapi cukup penting dibahas agar kita sebagai pendatang dapat beradaptasi dengan baik di UK. Berikut ini paparan kami…

 

Jam Kerja

Pertama kali datang ke UK dari kota metropolitan semacam Jakarta, kami agak kaget. Mengapa? Karena ternyata UK (kecuali London) tak se-metropolitan yang kami kira. Membandingkan dengan Jakarta atau ibukota negara-negara Asia yang biasanya dijuluki sebagai ‘the sleepless cities’, tinggal di kota-kota di UK sepertinya membawa hawa malas. Bayangkan saja, kita yang terbiasa dengan mudah mencari barang-barang kebutuhan, bahkan di jam-jam aneh seperti tengah malam, harus membiasakan diri melihat jam kerja yang tertera di pintu toko-toko. Ya, rata-rata toko dan kantor di UK buka pada hari kerja mulai pukul 9.00 hingga pukul 19.00, (untuk kantor tentunya lebih cepat tutup). Ini adalah hasil observasi kami selama di Birmingham dan beberapa kota besar lain. Di kota-kota kecil? Jangan kaget kalau jam 18.00 sudah ‘tidak ada kehidupan’ lagi yaa… Hehehe. Jadi, jangan membayangkan kumpul-kumpul after office hour seperti di Jakarta (atau kota besar di Indonesia lainnya) yang biasanya baru mulai jam 19.00 di mall. Di Inggris, tempat-tempat yang buka di atas jam 19.00 adalah bar dan restoran, karena orang UK memang terbiasa kumpul-kumpul dan bersosialisasi di bar atau klub malam.

Apabila jam kerja atau jam buka di hari kerja seperti itu, bagaimana dengan akhir pekan? Pusat keramaian dan perbelanjaan biasanya buka di hari Sabtu dari pukul 9.00 hingga pukul 20.00. Ya, satu jam lebih lama dibandingkan di hari kerja. Lagi-lagi, ini adalah standar di kota-kota besar di UK. Untuk kota yang lebih kecil, biasanya jam operasional pun lebih pendek. Hal yang cukup membuat shock adalah jam operasional di hari Minggu. Kalau menurut Anda pusat perbelanjaan tutup pukul 19.00 itu kejam, rasakanlah berbelanja di hari Minggu. Sungguh lebih kejam. Pada hari Minggu, hampir semua kantor tutup dan pusat perbelanjaan hanya buka dari jam 11.00-17.00. Apaa? Ya, hal ini membuat kami (orang-orang yang tinggal di UK) malas sekali kalau harus berkegiatan di hari Minggu. Hari terasa begitu pendek. Bagaimana dong kalau kita butuh sesuatu di luar jam operasional tersebut? Biasanya, ada minimarket atau supermarket yang memang buka 24 jam, atau dari jam 6.00-11.00. Memang tidaklah banyak, tapi biasanya di lingkungan ramai perumahan atau mahasiswa, toko-toko seperti ini bisa ditemukan.

Selain toko, fasilitas umum lain yang biasanya terkait dengan keseharian mahasiswa dan keluarganya adalah bank dan transportasi. Nah, tidak seperti di Indonesia yang kalau mengantri bank rasanya lama sekali, disini tampaknya antrian bank cukup bisa ditoleransi. Pelayanannya juga cukup cepat. Biasanya, di kota-kota non London, bank buka pada hari Senin sampai Jumat pukul 09.30-17.00. Anda bisa datang kapan saja ke bank di antara jam tersebut. Bahkan, beberapa branch office bank ternama juga tetap beroperasi pada hari Sabtu dengan jam kerja normal, 09.30-17.00 dengan jenis pelayanan normal. Hal ini agak berbeda dengan keadaan di Indonesia yang rasanya sulit sekali menemukan bank yang buka pada hari Sabtu, yang kalaupun ada hanya buka hingga pukul 12.00 dan hanya melayani permintaan-permintaan tertentu.

Malasnya kami keluar pada hari Minggu juga disponsori oleh berkurangnya armada dan pelayanan transportasi umum. Ya, frekuensi kedatangan dan jumlah armada bus dan kereta pada akhir pekan, terutama hari Minggu memang menurun. Apabila di hari kerja bus bisa beroperasi 24 jam, atau dari pukul 03.00 hingga 24.00, maka pada hari Minggu ada bus tertentu yang tidak beroperasi sama sekali dan ada juga yang hanya melayani penumpang dari pukul 06.00 hingga 22.00. Selain itu, frekuensi kedatangan bus yang biasanya 15 menit sekali pun bisa berkurang hingga 30 menit atau 1 jam sekali. Kereta juga mengalami pengurangan frekuensi jadwal keberangkatan. Bahkan untuk stasiun kecil, pada hari Sabtu dan Minggu kereta mulai beroperasi pada pukul 09.30. Sehingga tidak jarang pula kami bepergian dengan menggunakan bus kemudian baru menyambung dengan kereta pada saat weekend.

Wah… jadi apa ya, yang dilakukan oleh warga UK di hari Minggu? Bersantai dan berkumpul bersama keluarga menikmati hari di rumah. Selain itu, bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi, biasanya memilih pergi ke taman atau restoran favorit keluarga sekedar untuk piknik, makan, dan berkumpul. Work-life balance memang sepertinya menjadi prioritas warga disini. Jadi, jangan marah, heran, atau kesal dengan kebiasaan jam kerja seperti ini. Bayangkanlah apabila Anda yang bekerja, maka pasti senang sekali kan, bisa menikmati akhir pekan yang santai tanpa dihantui pekerjaan?

 

Cashless

Pada umunya di Indonesia maupun negara-negara Asia lainnya, orang terbiasa kemana-mana membawa uang kas yang selalu siap sedia di dalam dompet maupun tas, maka di Inggris berbeda pula kondisinya. Warga UK lebih banyak bertransaksi menggunakan kartu, bisa debit card atau credit card. Hal ini dirasakan lebih praktis dan comfortable, karena tidak perlu membawa cash kemana-mana. Jadi, apabila berbelanja ataupun makan di restoran biasanya customer akan melakukan pembayaran dengan kartu. Untuk tempat perbelanjaan seperti minimarket dan supermarket besar, penggunaan kartu tetap diterima untuk pembelanjaan dengan nominal sekecil apapun. Meskipun begitu, ada beberapa toko tertentu yang menerima pembayaran dengan kartu dengan ketentuan jumlah transaksi minimal GBP 5. Oh iya, banyak juga tempat makan yang tidak menerima pembayaran dengan kartu lho, juga termasuk pasar tradisional, hehe. Jadi Anda sebaiknya cari tahu dulu restoran mana yang mengharuskan pembayaran dengan menggunakan uang cash. Lalu, untuk kasus seperti ini, bagaimana kalau kita kemudian lupa membawa uang? Tenang saja, karena mesin ATM tersebar di banyak tempat kok, bahkan di dalam supermarket pun biasanya terdapat mesin tarik tunai ini. Yang harus diperhatikan jika anda ingin mengambil uang tanpa dikenakan biaya, maka carilah mesin ATM bertuliskan ‘free cash withdrawal’.

Selain transaksi belanja groceries dan makanan, kebiasaan cashless ini berlaku juga dalam pembelian tiket transportasi publik. Untuk bus, mayoritas warga memiliki kartu langganan bus yang dapat diisi maupun di top-up bila saldonya habis, dan kita bisa memilih apakah ingin berlangganan mingguan ataukah bulanan. Penumpang keretapun sangat lazim membeli tiket dengan menggunakan kartu kredit atau debit, sehingga tidak heran di setiap mesin pembelian tiket kereta, terdapat slot untuk kartu dan layar yang men-display instruksi pembayaran. Jika memesan tiket kereta secara online, maka pada saat pengambilannya, baik melalui mesin maupun langsung ke petugas tiket, kita harus dapat menunjukkan kartu debit yang dipakai. Pengambilan tiket untuk nonton film di theater  yang pembeliannya dilakukan secara online, selain dengan kode booking, dapat juga menggunakan kartu debit yang dipakai pada saat pemesanan di internet. Meskipun transaksi ekonomi banyak yang memakai kartu, tetapi tidak sedikit pula warga yang masih menggunakan cash sebagai alat bayar nya, terutama warga lokal yang sudah lanjut usia.

 

Online shopping

Setelah sebelumnya kami membahas dunia perbelanjaan kebutuhan pokok dan bahan makanan di (link), ternyata ada satu kebiasaan juga yang masih terkait dengan shopping, yaitu belanja online. Sebenarnya di negara berkembang seperti Indonesia pun, online shopping ini sudah cukup ngetrend ya recently, bahkan tampaknya kian hari kian digemari. Nah, lalu apa bedanya nih sama yang ada di sini? Di UK, belanja online ini menurut kami istimewa, karena hampir seluruh supermarket, pusat perbelanjaan, dan brand-brand memiliki lini belanja secara online. Biasanya pula, konsumen dimanjakan dengan banyaknya promo juga free delivery untuk pembelian dengan minimum sejumlah tertentu melalui pemesanan online ini.

Jika di Indonesia anda familiar dengan situs belanja online semacam lazada dan tokopedia, di UK terdapat dua situs yang sangat populer yaitu ebay dan Amazon. Di ebay yang dapat anda visit melalui www.ebay.co.uk, dan Amazon melalui www.amazon.co.uk, anda dapat menemukan berbagai produk yang anda perlukan dengan berbagai range harga dan merk. Selain itu, anda pun dapat memfilter pencarian barang berdasarkan banyak kategori, seperti barang baru atau secondhand (bekas tetapi masih layak pakai), kisaran harga, warna produk, lokasi barang, ukuran, dan lainnya. Uniknya melalui ebay, kita dapat menemukan barang yang siap langsung dibeli, barang yang dapat dibeli dengan menawar terlebih dahulu, dan barang yang bisa dibeli melalui lelang (bidding system). Produk yang bisa dibeli dengan menawar terlebih dahulu biasanya memiliki opsi untuk dibeli langsung dengan harga yang telah ditetapkan. Jika anda setuju dengan harga tersebut maka tidak perlu menawar, tetapi jika ingin harga yang lebih rendah silakan melakukan penawaran pada field yang tersedia dengan maksimal tiga kali penawaran. Sementara itu, di dalam sistem bidding, penjual biasanya sudah menetapkan harga awal penawaran, kemudian pembeli dapat mulai mengajukan harga yang ditawarkan untuk dibayar. Barang akan terjual kepada pembeli dengan penawaran nilai beli tertinggi pada penghujung waktu barang tersebut listing di ebay. Nah, sistem bidding semacam ini sangat digemari kalangan penerima beasiswa dan keluarga seperti kami, karena memang biasanya barang dengan kondisi bagus bisa diperoleh dengan harga yang lebih murah jika dibandingan langsung membeli barang yang sudah siap dibeli (tanpa melalui proses lelang). Situs Amazon juga memiliki kelebihan karena range barang yang tersedia biasanya lebih banyak dan banyak barang yang ditawarkan mempunyai feature amazon prime dimana barang tersebut digaransi dapat sampai ke alamat tujuan dalam waktu 24 jam, bahkan feature amazon prime now memungkinkan pengiriman barang dilakukan dalam waktu sekitar dua jam saja sejak pembelian barang. Hal tersebut sangat menolong apabila kita membutuhkan suatu barang yang akan digunakan dalam waktu sangat segera, sementara kita sudah tidak sempat lagi untuk mencarinya ke toko.

Belanja online ini tidak hanya berlaku pada barang-barang seperti baju dan sepatu, atau peralatan rumah tangga. Belanja online juga bisa dilakukan untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan minuman. Fasilitas ini biasanya mempermudah kita sebagai pelanggan apabila ingin membeli dalam jumlah banyak sedangkan harus naik kendaraan umum. Tidak praktis rasanya harus membawa barang-barang banyak dan naik turun bus. Oleh karena itu, sebagian orang memilih untuk berbelanja online sehingga barang langsung sampai ke rumah. Kondisi lain yang biasanya membuat warga UK memilih untuk berbelanja online adalah ketika cuaca sedang sangat buruk. Beberapa tahun lalu, badai salju melanda UK. Pada saat itu banyak orang yang persediaan makanannya sudah sangat minim harus berbelanja. Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah tanpa kendaraan pribadi akhirnya mengharuskan warga untuk berbelanja online.

 

Ramah Lingkungan

Kebiasaan lain yang juga telah membudaya di Inggris adalah tindakan-tindakan keseharian yang mencerminkan prinsip ramah lingkungan. Hal yang paling sederhana adalah dengan memisahkan pembuangan sampah berdasarkan materialnya. Meskipun penyediaan tempat sampah yang memisahkan antara recycle dan non-recycle belum tersedia di semua area,  tetapi masyarakat telah terbiasa dengan pemisahan sampah tersebut. Nah, masih mengenai buang-membuang, tidak hanya sampah, proses pembuangan barang pun memiliki aturannya tersendiri. Untuk membuang barang-barang besar, seperti tempat tidur, sofa, dan sebagainya, kita tidak boleh sembarangan. Pihak city council harus dihubungi agar ada orang yang mengambil barang tersebut dari rumah kita. Kita pun harus membayar sejumlah uang tertentu sebagai balas jasa pembuangan barang tersebut. Haha. Ribet ya? Oh ya, salah satu rekan kami pernah membahas hal ini di: http://riverpost.id/mulan-menyelamatkan-bumi/.

Masih terkait dengan aksi go green, penggunaan kantong plastik juga dibatasi disini. Untuk mendukung hal ini, jika sebelumnya pada saat belanja kita bisa mengambil kantong plastik dengan gratis, maka sekarang setiap selembar kantong plastik yang kita ambil akan dikenai charge sebesar GBP 0.05-0.2, tergantung dari ukurannya. Ya, kalau di Indonesia masih banyak orang protes dan mengkritisi alokasi dana yang didapat dari pembelian kantong plastik tersebut, tidak begitu halnya dengan di sini. Seluruh toko telah menjalani hal ini (kecuali pasar tradisional dan toko yang menggunakan kantong kertas) dan biasanya pada kantong plastik yang kita beli, telah dengan jelas tergambar atau tertera organisasi apa yang menerima uang hasil penjualan plastik tersebut. Dengan charge terhadap kantong plastik, diharapkan konsumen dapat meminimalkan penggunaan kantong plastik, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan atau apabila konsumen terpaksa membelinya, maka dengan jelas diketahui bahwa hasil penjualan pun dialokasikan untuk organisasi ramah lingkungan.

Bentuk lain dari aksi ramah lingkungan ini adalah menjamurnya charity shop di UK. Eh, mengapa dinamakan charity shop? Karena memang semua hasil penjualan barang-barangnya didonasikan untuk mendanai kegiatan sosial, misalnya yayasan penderita kanker, penderita penyakit jantung, penyayang satwa, animal shelter, penyandang cacat, dan masih banyak lagi. Barang apa saja yang dijual di charity shop? Banyaaak banget mulai dari baju, tas, sepatu, buku, barang pecah belah, peralatan rumah tangga, alat elektronik, mainan anak-anak, DVD film, CD musik, dan masih banyak jenis barang lain yang terkadang tidak disangka ternyata kita membutuhkannya. Jenisnya juga beda-beda, ada yang khusus furniture dan alat rumah tangga, ada yang khusus menjual baju dan produk fashion, dan tak ketinggalan charity shop khusus buku. Karena fashion di UK ini selalu berganti seiring perubahan musim, dan juga perputaran yang cepat, maka baju-baju yang dijual di toko secondhand tersebut juga selalu berganti model. Keberadaan toko-toko semacam ini merupakan solusi untuk banyak pihak. Bagi si penyuplai, tentu saja mereka terbantu karena dengan menyumbangkan baju maupun barang-barang yang tak lagi terpakai, itu artinya mereka terbebas dari keharusan membuang barang-barang tersebut dan sekaligus mengurangi sampah rumah. Ingin ‘membuang’ barang bekas Anda ke charity shop? Caranya sangat mudah. Anda bisa langsung mengantarkan barang-barang Anda ke charity shop terdekat atau memasukkannya ke ‘charity bank’ yang bentuknya seperti tempat sampah. Charity bank ini biasanya tersebar di daerah pemukiman penduduk. Itulah sebabnya masyarakat Inggris dengan senang hati membawa barang-barang yang sudah tak lagi terpakai di rumah mereka ke charity shop, dibandingkan jika mereka harus membayar sejumlah uang demi pelayanan pembuangan barang ke pemerintahnya. Manfaat untuk toko atau yayasan pengelola social activity, hal ini menambah potensi sumber dana masuk untuk menyokong aktivitas sosial yang mereka jalankan. Sedangkan yang juga penting untuk pembelinya (termasuk kami dan keluarga-keluarga orang Indonesia yang tinggal di sini), adalah dapat menghemat pengeluaran dengan signifikan, karena memang harga yang dibandrol sangat sangat miriiing, jadi ya worth to visit lah. Karena kondisi barangnya bekas pakai, jadi kita harus pintar-pintar memilih ya, sebab memang tidak semuanya dalam kondisi yang masih rapi jali. Telatenlah untuk cek kondisi fisik barang sebelum membeli. Oh iya, kami tidak bertanggung jawab ya kalau Anda ketagihan berkunjung ke charity shop, hehehe.
Sekian pemaparan kami mengenai budaya lokal. Dua artikel ini sepertinya panjang sekali, tetapi bahkan mungkin belum bisa meng-cover seluruh pengalaman unik yang kami dapatkan selama tinggal di UK. Silahkan datang dan alami sendiri, ya! Tunggu seri artikel kami berikutnya tentang pendidikan anak di UK. Stay tuned!

 

University 101: The Art of Asking Questions (1)

Yay! Akhirnya dapat semangat untuk menulis sesuatu yang ‘berbau’ akademis. Kali ini, ‘baunya’ agak jauh sih, tapi yaa gapapa lah yaa..

Baru-baru ini saya mengikuti online course yang diselenggarakan oleh FutureLearn tentang menyiapkan diri untuk berkuliah. Sejujurnya sih, course ini ditujukan bagi orang-orang yang akan mulai kuliah S1. Tapi, sepertinya penjelasan yang diberikan pun cukup relevan bagi seluruh jenjang perkuliahan. Yah, mungkin untuk me-refresh lagi ingatan mengenai study skills yang dibutuhkan pada saat berkuliah bagi teman-teman yang akan lanjut S2 atau S3.

Saya akan menulis seri artikel ini berdasarkan isi dari online course tersebut serta tambahan pengalaman pribadi saya. Pada masing-masing bagian, ada highlight study skills tertentu yang penting untuk diketahui, dipelajari, diasah, dan dipraktikkan agar dapat menjalankan kuliah dengan lancar. Semoga bermanfaat!

 

Pendahuluan

Menurut teman-teman, apa sih hal yang penting dimiliki oleh seorang mahasiswa? Apa bedanya mahasiswa dan siswa? Dulu waktu S1, rasanya dosen-dosen saya senang sekali meng-highlight perbedaan antara siswa dan mahasiswa. Mungkin karena kesal dengan kelakuan mahasiswa yang mirip anak SMA? Mungkin juga untuk selalu mengingatkan bahwa kami sudah besar, sudah harus bertanggung jawab. Kalau dulu saya sempat mengajar sebagai dosen, sih, gemes banget rasanya melihat mahasiswa yang kurang bertanggung jawab, tidak mau berusaha, dan yang paling penting, tidak mau membaca!

Bagi saya, dan mungkin banyak akademisi lain di luar sana, iklim universitas adalah iklim ilmiah, dimana semua orang seharusnya memiliki semangat yang sama untuk tahu lebih banyak tentang bidang ilmu yang diminati. Yah, seharusnya kan kita memang berkuliah di jurusan yang kita minati. Apalagi kalau sudah di level S2 atau S3. Wah, bisa keteteran juga kalau ternyata kita tidak suka dengan apa yang dipelajari. Nah, karena adanya motivasi internal dan minat terhadap bidang ilmu tertentu, harusnya semangat dong, ya? Oleh karena itu, tentunya ekspektasi para dosen cukup tinggi mengenai performa akademis mahasiswa. Setidaknya, diharapkan para mahasiswa menunjukkan usaha untuk memperkaya wawasan dan mendalami bidang ilmu. Setidaknya, mereka menunjukkan ketertarikan dan semangat saat berkuliah.

Ada lagi kah perbedaan mahasiswa dan siswa? Salah satu perbedaan yang cukup mencolok adalah mengenai kemandirian. Mahasiswa dituntut untuk dapat bertanggung jawab terhadap kemajuan akademisnya. Jam belajar, pengerjaan tugas, dan segala hal yang berhubungan dengan akademis harus ditentukan sendiri oleh mahasiswa. Dosen tidak lagi berfungsi sebagai guru yang harus ‘mengejar-ngejar’ mahasiswa untuk mengumpulkan tugas atau memberikan remedial ketika nilai kita jelek. Semua adalah tanggung jawab pribadi.

Dalam online course yang saya ikuti, ada beberapa kata yang disebutkan oleh para dosen di UK tentang apa saja ekspektasi mereka terhadap mahasiswa. Kata-kata tersebut diantaranya adalah curiosity, enthusiasm, self-determination, willingness to take risk, critical ability, synthesizing information, learning fast, discipline, dan teamwork. Karakteristik tersebut dianggap penting untuk dimiliki oleh mahasiswa. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk melakukan refleksi kembali, meninjau kembali, apakah kita yang akan berkuliah, apapun jenjangnya, telah memiliki karakterstik tersebut.

 

Rasa Ingin Tahu

Karaktersitik pertama yang akan saya bahas adalah rasa ingin tahu atau curiosity. Selain karena hal ini adalah pembahasan pertama di dalam online course mengenai Preparing for University, saya pribadi juga berpendapat bahwa rasa ingin tahu adalah hal yang krusial dalam menuntut ilmu. Tanpa rasa ingin tahu, tidak akan ada dorongan dan motivasi internal untuk memperkaya wawasan, untuk mendalami, dan untuk bertanya mengenai suatu hal.

Studying means asking questions. Studying means exploring. Belajar berarti mengakui bahwa kita belum sepenuhnya tahu. Belajar berarti berani meraba, mencari, mengeksplorasi sesuatu yang kita baru tahu sekelumit saja. Ya, bahkan para ahli pun masih terus menerus mencari. Itu sebabnya, penelitian adalah inti dari semua ilmu. Karena manusia hanya tahu sedikit saja. Kalau teman-teman segan untuk bertanya, merasa sudah tahu, tidak mau berusaha untuk mencari tahu, lalu untuk apa belajar? Untuk apa berkuliah? Sepertinya, sayang ya, waktu dan uang yang dihabiskan. Lebih baik bekerja saja atau mengisi waktu dengan hal lain yang juga berguna. Bagi saya, iklim akademis ditujukan bagi orang-orang yang ingin belajar dan orang-orang yang menyadari bahwa wawasan yang ia miliki hanyalah sekelumit dari yang ada – orang-orang yang humble enough untuk mengakui bahwa ia butuh lebih, ia punya banyak pertanyaan, ia tidak mengerti mengenai satu atau banyak hal.

Gampang lah…. Semua manusia sebenarnya memiliki rasa ingin tahu. Yah, kalau tidak, bagaimana kita dari bayi lalu bisa belajar banyak hal? Semua pasti karena ada rasa ingin tahu. Sayangnya, rasa ingin tahu pun bisa menurun intensitasnya apabila tidak dipupuk. Dalam hal ini, lingkungan eksternal sangat berpengaruh. Saya ingat sekali, waktu SD dulu, anak-anak yang dianggap baik dan pintar adalah anak yang mengangkat tangannya untuk menjawab, bukan untuk bertanya. Saya juga ingat, ada murid saya dulu yang sangat takut bertanya karena saat kelas 2 SD, seorang gurunya pernah berkomentar ‘yah, masa gitu aja nggak tahu?’ saat ia bertanya tentang sesuatu. Lalu kemudian, komentar gurunya pun disambung oleh tawa dari teman-temannya. The culture of shaming those who ask. Siapa lagi yang pernah punya pengalaman serupa? Pantas saja di jenjang universitas para dosen kewalahan memotivasi mahasiswa mereka untuk bertanya. Wong dari kecil dididik bahwa bertanya adalah hal yang memalukan.

Ketika para dosen di Indonesia bisa bertoleransi dengan gerakan tutup mulut mahasiswa untuk bertanya dan kemudian menyesuaikan approach mereka menjadi ala-ala guru sekolah, lain halnya dengan di luar negeri. Nah, ini khusus yang akan melanjutkan belajar di jenjang pendidikan tinggi di luar Indonesia, ya. Dosen-dosen disini tidak akan menoleransi gerakan tidak mau bertanya yang kita lakukan. Lalu? Lalu, either kita dipaksa untuk mengungkapkan sesuatu (bertanya, berpendapat) di kelas atau kita benar-benar akan jadi mahasiswa tidak terlihat. Maksudnya? Bahkan teman-teman pun tidak menyadari keberadaan kita di kelas saking pasifnya kita. Hasilnya apa? Kemajuan belajar kita terhambat, keterampilan belajar kita tidak terasah, dan hasil belajar pun bisa jadi tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebagai gambaran, perkuliahan di UK, dan mungkin berbagai negara lain, menempatkan diskusi ilmiah pada pusat pembelajaran. Jadi, duduk dan mendengarkan dosen menjelaskan adalah hal yang jarang dilakukan. Mungkin hanya sekitar 40% dari kegiatan perkuliahan yang diisi oleh kegiatan ini. Sisanya? Diskusi kelompok, presentasi, debat, dan lain-lain. Semuanya menuntut partisipasi aktif dari para mahasiswa. Dari sini dapat terlihat bahwa rasa ingin tahu adalah hal yang penting dan kemampuan untuk bertanya adalah salah satu study skills yang utama.

Saya ingat ketika berkuliah S2, saya pernah mendapatkan satu kelas yang di setiap pertemuan selama satu tahun, si dosen hanya datang dengan satu bahan bacaan atau video dan satu pertanyaan. Pertanyaan tersebut ia gunakan untuk menstimulasi diskusi sehingga saya dan teman-teman harus aktif. Mengapa? Karena kalau tidak, kelas akan krik-krik. Bayangkan, kelas berdurasi 2.5 jam digunakan hanya untuk berdiskusi tentang satu tema yang diperkenalkan melalui pertanyaan. Awal bergabung di kelas ini, saya bingung se-bingung-bingungnya. Saya tidak mengerti apa yang dipelajari, saya tidak paham tujuan dari pembelajaran yang ada di kelas tersebut. Namun, saya akhirnya dapat beradaptasi dan terbiasa mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan dan berdiskusi. It turns out that dari kelas tersebut lah saya belajar paling banyak. Ya, melalui satu pertanyaan saja setiap pertemuan, saya bisa belajar sangat banyak sekali.

Dalam perkuliahan, dapat terlihat bahwa pertanyaan berfungsi sebagai trigger, pemicu diskusi. Melalui diskusi tersebut, informasi dari berbagai sudut pandang dapat terkumpul dan disintesis oleh masing-masing individu sehingga membentuk personal knowledge. Pertanyaan juga dapat berujung pada banyak pertanyaan lain. Hal ini kemudian memotivasi mahasiswa untuk mencari tahu lebih dalam mengenai topik tertentu. Mencari darimana? Dari mana saja. Dosen bukanlah sumber utama ilmu dan pengetahuan. Bisa dibilang, saat bertanya pada dosen, mungkin ia akan menjawab secara umum atau merujuk kita pada buku atau jurnal tertentu, atau – yang paling menyebalkan (eh?) – menjawab dengan pertanyaan lain. Hahaha… Therefore, don’t ask silly questions.

Malu bertanya sesat di jalan. Betul. Tapi bagi saya, kebanyakan bertanya menunjukkan tidak ada usaha. Sorry to say, tapi saya sangat tidak terkesan pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sangat mudah didapat hanya dengan googling atau membaca buku rujukan. Rasanya kok ya, orang ini bertanya hanya untuk iseng, menguji pengetahuan dosen, atau memang plainly tidak mau usaha membaca atau mencari tahu. Nah, kalau sudah begini, untuk apa berkuliah? S1 masih begini, mungkin masih bisa dimaklumi karena baru beradaptasi. S2 begini? Wah, ke laut aja. Sudah berani memutuskan untuk sekolah tinggi-tinggi, seharusnya sudah ada motivasi untuk belajar dan tahu lebih banyak. Indeed, S2 itu berat! Jangan bayangkan seperti kuliah S1, apalagi kalau teman-teman berkesempatan untuk kuliah di luar negeri. Model-model pertanyaan yang ‘konyol’ paling hanya mendapat tanggapan pertanyaan balik dari dosen ‘Have you read the reading material?’. Hiyaaahhh… mati kutu deh kalau dosen sudah bilang begitu.

Terus bagaimana dong? Bagaimana saya mau belajar, bertanya saja sulit? Hihi… tenang… Preparation is key. Kunci dari pertanyaan yang baik adalah persiapan. Sebelum masuk kelas, biasakanlah untuk membaca dan mencari informasi seputar topik yang akan dibahasi di kelas. Setiap dosen pasti sudah memberikan reading list, buku referensi, bahkan presentasi yang akan digunakan di kelas. Jangan malas membaca karena nanti hanya bisa diam, bengong, dan meratapi nasib di kelas. Saat membaca materi sebelum kelas, mulailah mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti. Saat berkuliah S2, buku catatan saya tidak penuh dengan catatan, tapi penuh dengan pertanyaan. Ya, bukan anak SD lagi yang harus menyalin catatan dari papan tulis, kan? Materi sudah dengan mudah didapat dari internet dan tinggal di-save, buku catatan pun beralih fungsi menjadi buku pertanyaan. Selain itu, selama di kelas pun kita bisa berlatih bertanya. Setiap ada isu yang menarik, cobalah buat pertanyaan mengenai isu tersebut, lalu tanyakan.
Mari berlatih bertanya. Salah satu study skill yang penting dimiliki bagi mahasiswa ini adalah pintu gerbang wawasan. Pertanyaan juga dapat membangun rasa ingin tahu sehingga kita selalu ‘haus’ akan ilmu dan terus termotivasi untuk belajar.

Home Away from Home: Daily Life (2)

Setelah minggu lalu membahas bab perbelanjaan dan urusan makanan, kali ini kami akan membahas tentang serba-serbi transportasi dan ibadah di UK. Dimanapun kita berada, hidup sehari-hari pastinya tidak lepas dari mobilitas ya.. Jika di Indonesia kebanyakan dari kita mungkin terbiasa mengendarai mobil atau motor pribadi kemana-mana, juga bus kota dan KRL, maka di sini kita harus membiasakan diri untuk lebih banyak berjalan kaki. Meskipun begitu, untuk tujuan dengan jarak yang lebih jauh ya pilihannya kita harus menggunakan public transportation. Sebagaimana pentingnya makan dan transportasi, ibadah juga menjadi hal pokok dalam aktivitas harian kita. Apa saja macam-macam transportasi umum di Inggris? Mudahkah menemukan tempat ibadah di UK? Simak paparan kami berikut ini ya..

 

Transportasi

Bus, kereta, dan tram,  adalah pilihan moda transportasi umum yang tersedia di Inggris. Tetapi memang jenisnya berbeda di masing-masing kota, dan bahkan tidak semua kotanya memiliki tram. Dengan beragam angkutan umum tersebut, maka kita harus jeli memilih mana yang sesuai dengan preferensi kita baik dari segi harga maupun kenyamanan.

Untuk bepergian baik dalam maupun antar kota, ada beberapa pilihan yaitu naik bus, kereta, dan tram. Hm.. lantas mana yang paling enak dan murah? Tentunya ya pilihan tersebut kita dasarkan pada seberapa sering kita pergi ke tempat tersebut, apakah setiap hari, apakah hanya seminggu sekali atau mungkin dua bulan sekali. Biasakan juga untuk mengecek adakah halte bus atau stasiun kereta yang terdekat dengan rumah maupun lokasi tujuan kita, kemudian pilihlah kombinasi lamanya waktu yang diperlukan untuk menggunakan angkutan umum dan lamanya berjalan kaki. Dengan begitu, anda akan tahu mana yang lebih efisien dari segi waktu. Selanjutnya kita lihat apakah tarif angkutan umum tersebut sesuai dengan budget kita.

Transportasi Dalam Kota

Di Inggris kita bisa memilih ingin naik bus, kereta, subway, atau tram. Tentu saja masing-masing moda transportasi ini memiliki kelebihan dan kekurangan.

  • Bus

Terdapat banyak perusahaan atau provider bus kota di UK, dan biasanya dalam satu kota, semakin banyak perusahaan bus yang beroperasi, tarifnya pun akan bersaing. Di Liverpool misalnya, kita akan menjumpai banyak provider bus yang beroperasi untuk rute yang sama, sehingga penumpang memiliki lebih banyak pilihan. Lain lagi ceritanya di Birmingham, tidak terlalu banyak perusahaan bus yang memiliki rute sama, bahkan nyaris masing-masing bus company nya sudah memiliki rute tersendiri. Nah, kalau kasusnya seperti itu, akibatnya tarif busnya pun menjadi sedikit lebih mahal karena penumpang akhirnya tidak memiliki banyak pilihan.

Tarif bus pun biasanya terbagi menjadi beberapa macam misalnya kita bisa membeli tiket ‘single journey’ jika hanya perlu naik bus satu kali saja, atau ‘one day ticket’ yang dapat kita gunakan untuk naik bus seharian (sehingga tidak perlu membeli tiket lagi setiap kali naik bus). Selain itu, jika kita ingin bepergian bersama teman atau keluarga, ada pilihan tiket ‘group/family day saver’ yang memungkinkan kita bepergian seharian dan dapat dipakai oleh maksimal 5 orang. Tawaran yang cukup menarik, bukan? Biasanya untuk tiket family day saver ini, ada promosi diskon juga untuk hari-hari tertentu, dan kita dapat menemukan update nya lewat internet. Sebagai gambaran, di Birmingham kita dapat membeli single journey ticket dengan uang GBP 2.3, kemudian untuk one day saver kita perlu merogoh kocek sebesar GBP 4.4 (peak hours) atau GBP 4 (off peak hours). Sementara itu, tiket family/group day saver dihargai GBP 8, dimana ini berarti kita hanya membayar sebesar GBP 1.6 saja per orang jika kita memakainya untuk lima orang dan tidak ada perbedaan waktu peak dan off peak untuk tiket ini. Untuk membeli tiket bus, anda cukup memasukkan uang ke dalam kotak uang yang ada di depan, dan mengatakan kepada bus driver jenis tiket yang akan dibeli. Di beberapa kota, perusahaan bus dengan ketat memberlakukan ketentuan ‘no change policy’ yang berarti anda harus membayar dengan uang pas. Namun, di beberapa kota lain, supir bus akan memberikan kembalian apabila anda membayar tidak dengan uang pas.

Wah, repot juga ya harus menyiapkan uang pas saat akan bepergian? Tenang saja. Di beberapa kota, sudah ada pilihan tiket langganan bus atau kartu tap yang berisi saldo. Jadi, anda tidak perlu menyiapkan uang tunai untuk membayar tiket. Hal ini juga cukup membantu karena biasanya perusahaan bus pun memberikan potongan harga bagi pemegang kartu tap.

Bagaimana kita naik bus di UK? Tidak seperti di Indonesia dimana kita bisa memberhentikan bus dimana saja, di UK kita harus memberhentikan bus di halte yang tersedia. Pun, tidak semua bus berhenti di semua halte. Oleh karena itu, bacalah keterangan yang ada di halte saat akan naik bus. Anda dapat mengecek timetable bus agar tahu frekuensi kedatangan bus sehingga tidak perlu terlalu lama menunggu di halte. Anda harus memberi tanda berhenti pada bus, seperti dengan melambaikan tangan, agar bus berhenti di halte tempat Anda menunggu. Untuk anda yang membawa balita yang masih menggunakan stroller, rata-rata bus di UK hanya memiliki space untuk maksimal dua buah stroller. Kalau tidak ada tempat, bagaimana? Anda bisa melipat stroller atau menunggu bus berikutnya. Sebelum berhenti di halte tujuan, jangan lupa untuk memencet tombol ‘stop’ agar supir bus aware untuk berhenti dan menurunkan penumpang.

  • Kereta Api dan Subway

Alat transportasi yang juga sangat reliable dan menjadi pilihan banyak masyarakat di UK adalah kereta. Dengan waktu tempuh lebih singkat dan kondisi perjalanan yang nyaris bebas macet, kereta dan subway menjadi transportasi favorit untuk warganya. Jika dibandingkan dengan bus, kereta api mungkin relatif lebih nyaman dan efisien dari segi waktu, dan biasanya perhitungan harga tiketnya lebih murah. Selain itu, salah satu perbedaan kereta dengan bus adalah jangkauan daerah serta frekuensi. Menggunakan kereta sebagai moda transportasi utama dapat menjadi pilihan apabila Anda tinggal di dekat stasiun kereta dan sering bepergian ke tempat yang juga terjangkau dari stasiun kereta. Anda pun harus mengecek jadwal kereta untuk pergi ke tempat tertentu.

Apabila ada tiket langganan bus sehingga harga tiket lebih murah, kita juga bisa membuat railcard untuk mendapatkan diskon saat membeli tiket kereta. Ada berbagai jenis railcard yang tersedia, seperti 16-25 railcard, student railcard, family railcard, dan two together railcard. Kartu ini bisa digunakan tidak hanya di kota tempat Anda tinggal, tetapi juga di seluruh UK. Selain potongan harga sebesar 30%, biasanya ada juga merchant yang bekerja sama dengan perusahaan kereta sehingga kita pun bisa mendapatkan diskon di toko-toko tersebut.

  • Tram

Sama seperti kereta atau subway, tidak semua kota di UK memiliki tram. Biasanya, hanya kota-kota besar yang menyediakan fasilitas ini. Tram sendiri merupakan sejenis kereta yang beroperasi di jalan raya. Kendaraan ini biasanya memakan waktu tempuh yang lebih lama daripada kereta, tetapi lebih cepat dari bus. Berapakah tiket untuk naik tram? Berdasarkan informasi, pengalaman, dan pengamatan kami, harganya berkisar antara GBP 1 (short-hop) hingga GBP 5 di kota-kota seperti Birmingham dan Manchester.

  • Taxi

Adakalanya kita public transport memiliki kelemahan dalam hal fleksibilitas. Misalnya nih, kita sedang ingin buru-buru atau harus pergi di pagi buta dimana transportasi umum belum mulai beroperasi. Bisa juga, terkadang kita ingin pergi ke suatu tempat yang lokasinya terbilang jauh dari halte bus maupun stasiun kereta. Terlebih lagi jika kita harus bepergian dengan membawa barang bawaan super banyak termasuk koper-koper besar, mungkin menjadi kurang nyaman karena harus berganti-ganti bus atau kereta. Kendala-kendala semacam ini tentunya jangan sampai menghalangi aktivitas kita. Kalau sudah begitu, pilihannya adalah dengan menyewa taksi. Taksi ini moda transportasi yang cukup populer di Inggris, dan bahkan di London, hampir semua taxi berwarna hitam dengan bentuk yang sangat khas. Memang tarifnya lebih mahal, tetapi cukup worth it kok jika kita dihadapkan pada situasi sulit seperti yang kami sebutkan di atas. Selain taksi yang resmi, ada juga minicab yang mematok tarif cukup bersahabat dengan kantong mahasiswa, biasa juga dikenal dengan Taksi Uber. Untuk memesannya, kita harus instal aplikasi nya di smartphone atau gadget terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa order taksi tersebut. Teknisnya mirip-mirip seperti grabtaxi atau gojek di Indonesia. Eh, tapi untuk taksi uber ini, kita perlu berhati-hati juga lho. Pengalaman alif, saat ia akan pergi ke city center untuk naik bus ke luar kota, taksi uber yang sudah dipesan tiba-tiba membatalkan order di 5 menit sebelum tiba di rumah. Sehingga ia panik karena waktu keberangkatan yang sudah mepet, tetapi untungnya saat mengorder lagi, ada taksi lain yang berposisi tidak jauh dari rumah.

Transportasi Antar Kota

  • Bus

Jika anda ingin bepergian antar kota di UK, maka bus adalah pilihan transportasi yang cukup bisa menghemat kantong. Megabus (http://uk.megabus.com/) dan National Express (http://www.nationalexpress.com/home.aspx) adalah contoh dua perusahaan bus yang menawarkan harga relatif murah dan menyediakan banyak rute antar kota bahkan hingga ke luar negeri (luar UK). Bahkan untuk Megabus, tidak jarang kita bisa mendapatkan harga hanya GBP 1-2 saja untuk sekali jalan ke luar kota per orang jika kita memesannya jauh sebelum tanggal keberangkatan, agak sulit dipercaya ya, tapi hal ini memang ada lho, hehehe.. Idealnya kita merencanakan tanggal berangkat beberapa minggu sebelumnya, sehingga kemungkinan besar kita masih bisa mendapatkan harga yang paling rendah. Tetapi jika kita baru sempat memesan tiket mendekati hari keberangkatanpun tidak masalah, harga tiket busnya masih terhitung ramah di kantong kok, sekitar GBP 8-12. Saran kami, sebelum memesan tiket, sebaiknya anda bandingkan terlebih dahulu antar bus company, sehingga tahu mana yang lebih murah. Tiket dapat dibeli secara online maupun offline. Untuk pembelian online, sebaiknya anda membawa print-out tiket tersebut untuk ditunjukkan kepada supir sebelum keberangkatan, karena meskipun ada versi digitalnya, tidak semua driver mau menerima dan mengotorisasi tiket yang belum dicetak. Bus yang melayani rute antar kota ini biasanya adalah bus yang berukuran besar dan dilengkapi dengan toilet, dan sebagian besar memiliki electronic plug pada sisi samping tempat duduknya. Berbeda dengan di Indonesia, bus-bus antar kota di UK beroperasi di bawah standar keamanan yang ketat, sehingga hampir dipastikan bus ini akan berhenti minimal satu kali (tergantung jarak yang ditempuh) di rest area, sehingga baik supir dan penumpangnya dapat rehat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

  • Kereta

Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa untuk anda yang memiliki rail card, anda dapat memperoleh potongan harga tiket ketika bepergian ke luar kota dengan kereta. Menariknya lagi, ada pula diskon untuk beberapa tourist attraction di UK jika anda bepergian  menggunakan kereta yaitu dengan menunjukkan tiket kereta anda pada saat membeli tiket di tempat wisata tersebut. Mahal kah tiket kereta? Dengar-dengar, harga tiket kereta di UK termasuk yang paling mahal di dunia apabila dihitung harga per mileage-nya. Namun, ada banyak cara untuk mendapatkan tiket kereta murah untuk transportasi antarkota.

Ada berbagai jenis perusahaan kereta di UK. Biasanya, perusahaan tersebut berbasis pada daerah. Misalnya, perusahaan Northern Rail melayani rute kota-kota di bagian utara UK, Arriva Train melayani rute kereta di Wales, dan London Midland melayani rute London dan West Midlands. Selain itu, ada juga perusahaan kereta yang melayani hampir seluruh rute di UK, seperti Cross Country dan Virgin Train. Masing-masing perusahaan memiliki website masing-masing dan kita bisa memesan tiket dari website-website tersebut. Biasanya, pembelian dari website perusahaan langsung akan lebih murah dibandingkan dengan membeli tiket di website kolektif kereta, seperti Trainline, karena kita akan dikenakan booking fee. Nah, bagaimana cara mengecek penawaran harga tiket kereta termurah? Trainline menyediakan fasilitas pencarian harga terbaik melalui halaman: https://www.thetrainline.com/farefinder/. Setelah mengecek harga, kita bisa langsung menuju website perusahaan kereta untuk melakukan pemesanan tiket. Tiket termurah biasanya didapat dengan membeli advance ticket yang berarti kita hanya boleh bepergian dengan kereta yang tercantum di tiket. Apabila menginginkan fleksibilitas yang lebih tinggi, membeli tiket off peak atau super off peak juga dapat dipertimbangkan. Namun, harus diingat bahwa fleksibilitas yang semakin tinggi berarti harga yang semakin mahal juga. Apabila Anda harus pergi secara tiba-tiba, Anda juga bisa membeli tiket langsung di stasiun, tentunya dengan tarif yang juga lebih mahal.

Kereta antarkota di UK biasanya tersedia dalam kondisi yang baik, atau bahkan sangat baik. Kereta-kereta dilengkapi oleh kamar mandi, area untuk disabled people, beberapa menawarkan makanan dan minuman, dan ada juga yang menyediakan kit permainan anak agar anak tidak bosan selama berada di perjalanan. Sama halnya dengan bus, kereta pun menyediakan electronic plug sehingga kita bisa men-charge baterai alat-alat elektronik selama perjalanan. Berapa lama durasi perjalanan? Tentunya berbeda tergantung jarak dan kereta. Misalnya, kereta London Midlands dari Birmingham ke London biasanya memiliki durasi perjalanan sekitar 2 jam 15 menit. Kereta ini banyak berhenti di stasiun-stasiun kecil sepanjang perjalanan. Namun, apabila kita memilih untuk naik kereta Virgin Train, maka perjalanan yang sama akan ditempuh selama 1 jam 15 menit karena perusahaan ini menyediakan kereta cepat yang hanya berhenti di 1-2 stasiun di antara Birmingham dan London. Lagi-lagi, beda durasi juga berarti beda harga. Cermat-cermat lah dalam memilih!

 

Beribadah di UK

Ibadah merupakan salah satu hal pokok untuk kita dalam rangka pemenuhan kebutuhan spiritual. Bagi umat muslim, tempat ibadah atau tempat sholat tentunya menjadi concern tersendiri ya, apalagi di negara yang muslimnya tergolong minoritas. Akan tetapi, seiring semakin banyaknya warga yang memeluk agama Islam di UK dan meningkatnya pendatang yang juga beragama Islam, menemukan tempat ibadah atau masjid bukan menjadi hal yang sulit. Cara termudah untuk menemukan tempat sholat adalah dengan menuju universitas. Hampir semua universitas memiliki mushola atau setidaknya prayer room, sehingga bagi anda yang ingin sholat dan belum menemukan masjid terdekat, mengunjungi universitas mungkin bisa menjadi alternatif. Selain itu, terdapat banyak masjid tersebar di kota-kota besar di UK, akan tetapi agak sulit untuk menemukan masjid di kota kecil terutama yang tidak banyak penduduk asing (non-UK) bermukim di situ. Datangi saja area pemukiman komunitas umat Islam, maka biasanya tidak jauh dari situ terdapat masjid. Meskipun ada yang memiliki kubah dan menara, bentuk masjid di UK kebanyakan berbeda dengan di Indonesia, karena seringkali tempat ibadah tersebut memakai bangunan yang kemudian dialih fungsikan menjadi masjid, sehingga tidak semua masjid memiliki penampakan layaknya masjid-masjid di negara berpenduduk mayoritas muslim yang biasanya lengkap dengan kubah, menara, ornamen-ornamen khas Islam. Sebelum mengunjungi masjid tersebut, penting juga jika memungkinkan untuk mencari tahu tentang detil masjid tersebut apakah jam buka masjidnya hanya pada saat waktu sholat saja ataukah buka sepanjang hari untuk umum. Selain itu, perlu juga ditanyakan apakah masjid tersebut menyediakan ruangan sholat untuk wanita, ataukah hanya bagi pria. Oh ya! Beberapa masjid juga tidak menyediakan tempat wudhu sehingga biasakanlah untuk berwudhu sebelum bepergian.

Hal yang juga perlu diperhatikan saat beribadah adalah mengenai waktu ibadah. Sebagai Muslim, kami wajib untuk solat lima waktu. Berbeda dengan keadaan di Indonesia yang waktu solatnya tidak jauh berbeda sepanjang tahun, UK adalah negara yang terletak pada zona subtropis sehingga jatuhnya malam dan siang pun silih berganti sepanjang tahun. Keadaan ini membuat waktu solat terus berubah-ubah. Pada musim dingin, Muslim di UK baru solat subuh pada pukul 07.00 (karena matahari pun belum muncul di waktu tersebut) dan solat magrib pada pukul 15.00. Hari sangat pendek sehingga waktu solat pun jaraknya sangat dekat. Namun, pada musim panas seperti saat ini, waktu subuh adalah pukul 03.00 dan magrib jatuh pada pukul 21.30. Ini adalah perhitungan waktu solat di daerah Birmingham, sekitar bagian tengah dari wilayah UK. Semakin ke utara, semakin ekstrem pula perbedaan waktu terbit dan terbenamnya matahari. Oleh karena itu, kita tidak bisa lagi berpatokan pada jam. Biasanya, orang-orang Muslim di UK sudah memiliki aplikasi pengingat waktu solat atau jadwal solat dari masjid terdekat yang ditempel di rumah masing-masing.

Jadi, adaptasi ibadah hanya diperlukan oleh umat Muslim, kah? Berdasarkan hasil pengamatan dan ngobrol-ngobrol kami, ternyata adaptasi pun harus dilakukan oleh orang-orang beragama non Muslim dari Indonesia. UK adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristiani, meskipun tidak semuanya merupakan practicing Christian. Yah, semacam kalau di Indonesia mereka-mereka yang hanya numpang agama di KTP. Namun, ada banyak aliran agama Kristen di UK. Bagi umat Kristen dari Indonesia, kadang-kadang agak sulit menemukan tempat ibadah dengan aliran yang sama dengan yang dianut di Indonesia. Beberapa teman sempat ‘nyasar’ gereja, sebelum akhirnya menemukan gereja yang tepat. Berbeda halnya dengan penganut agama Hindu dan Budha yang termasuk agama yang diakui di Indonesia. Jumlah penganut kedua agama tersebut terbilang sedikit di UK dan agak sulit ditemukan. Biasanya, akhirnya orang-orang Indonesia beragama Hindu dan Budha akan berkumpul sesama orang Indonesia untuk beribadah.

Perbedaan aliran ini juga cukup terasa dalam kelompok agama Islam. Di UK, penganut agama Islam kebanyakan berasal dari India, Timur Tengah, Afrika, dan negara-negara Asia Tenggara. Tentunya ini juga mengakibatkan adanya perbedaan cara ibadah dan pendapat mengenai masalah-masalah tertentu. Bukan perbedaan mendasar, tentunya, tapi perlu juga diketahui supaya tidak kaget pada saat beribadah bersama mereka. Misalnya, Izza sebagai orang Indonesia selalu diajarkan untuk solat dengan tidak menggunakan alas kaki. Saat ia berkuliah dan harus solat di dalam ruangan kelas, ia pun melepas sepatu dan solat. Namun, ia cukup terkejut saat seorang temannya yang berasal dari Arab Saudi solat dengan tetap memakai sepatunya. Setelah ditanyakan dan dicek kembali kepada ahli agama, ternyata hal tersebut boleh dilakukan. Pengalaman lain adalah ketika kami melihat orang sholat dengan tidak menyilangkan kedua tangannya di depan dada, padahal di Indonesia kita belajar sholat dengan menyilangkan tangan di depan dada setelah takbiratul ikram. Memang tidak lazim bagi orang Indonesia, tetapi tidak salah. Ya, berbeda belum tentu salah satunya salah, kan? Hal-hal seperti ini mungkin akan cukup sering ditemui saat berada di UK karena banyaknya aliran, perbedaan mahzab, dan lain-lain.

 
Sekian bagi-bagi pengalaman kami mengenai kehidupan sehari-hari di UK. Semoga bisa memberikan gambaran bagi Anda yang berencana untuk datang kesini. Ada pertanyaan? Hehe… Silahkan berikan komentar di blog kami, yaa… Kami akan dengan senang membantu Anda. Nantikan juga tulisan kami minggu depan mengenai budaya lokal di UK.

 

Home Away from Home: Daily Life (1)

Setelah berbagai hal yang cukup ‘ribet’ dan terdengar ‘serius’ kami jelaskan di artikel-artikel sebelumnya, sekarang kami akan berbagi pengalaman mengenai kehidupan sehari-hari di UK. Topik ini akan kami bagi menjadi dua artikel karena pembahasannya yang cukup panjang (atau memang kami yang terlalu excited berbagi pengalaman?). Di bagian pertama ini, kami akan membahas dunia belanja-perbelanjaan (maklum ya, dependant memang tugasnya tidak jauh-jauh dari belanja) dan tentang makanan halal bagi Muslim di UK. Dalam artikel ini, belanja yang  kami bahas adalah khusus untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari yaa.. Sedangkan belanja barang lain, seperti baju, tas, kosmetik, dan lain-lain, akan tergantung selera dan budget masing-masing.

 

Belanja kebutuhan sehari-hari

Berbelanja di UK rasanya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Apalagi, sekarang tekah banyak supermarket di Indonesia yang juga menjual barang-barang impor sehingga kita tidak asing lagi dengan barang-barang ber-label asing. Seperti halnya di Indonesia, terdapat banyak sekali jenis supermarket yang menawarkan barang dan harga sesuai dengan target market mereka, mulai dari yang harganya mahal hingga murah. Bagi yang pernah tinggal di Jakarta, mungkin tahu bedanya berbelanja di Foodhall dan di Tiptop – beda barang yang ditawarkan dan juga beda (jauh) harganya, ya.

Untuk kelas harga menengah ke atas, ada dua jenis supermarket yang cukup populer di UK, yaitu Waitrose dan Sainsbury. Kedua supermarket ini menawarkan produk-produk prime dan groceries yang fresh dan berkualitas sangat baik. Intinya, ada harga ada barang. Sainsburry ini termasuk supermarket yang gerainya menggurita ke hampir seluruh pelosok UK, mulai dari toserba lengkap dengan warehouse dan mini cafe nya hingga Sainsburry local yang hanya berupa minimarket. Signifikan kah perbedaan harga yang ditawarkan oleh kedua supermarket ini? Tidak juga. Kira-kira perbedaan harga maksimalnya adalah 1 GBP (jangan dikonversi ke rupiah yaa, di sini jumlah tersebut adalah perbedaan harga yang masih bisa ditoleransi). Kalau harganya agak mahal, lalu adakah yang belanja di Sainsbury atau Waitrose? Ya tentu saja ada. Mengingat kualitas barang yang sangat baik dan kadang-kadang ada promosi atau diskon, banyak juga warga Indonesia yang berbelanja di Sainsbury dan Waitrose. Bahkan, Sainsbury berani memberikan garansi uang kembali atau menurunkan harga barangnya apabila pembeli dapat membuktikan bahwa kualitas barangnya sama dengan yang ditawarkan oleh supermarket lain dengan harga lebih murah. Wah, ternyata berbelanja kebutuhan sehari-hari di kedua supermarket di atas cukup menguras dompet.

Mau alternatif yang lebih murah? Ada ASDA dan Tesco. Kedua brand ini menawarkan harga tengah untuk barang-barang yang mereka jual. Selain itu, keduanya adalah jenis supermarket PALUGADA (apa lu mau, gue ada). Yak! Mulai dari mie sedap sampai seragam sekolah dan laptop pun dijual di ASDA dan Tesco (online atau di Tesco dan ASDA Extra). Untuk Tesco, ia pun memiliki varian dari toko yang sangat besar (Tesco Extra) hingga ke minimarket semacam Alfamart (Tesco Express). Kedua merek supermarket ini sangat populer di UK dan sangat mudah mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari disana.

Oh ya, untuk keempat supermarket yang telah disebutkan diatas, ada juga promosi harian yang ditawarkan. Setiap sore atau malam hari, mereka me-reduce harga produk makanan segar, seperti sayur, buah, dan daging. Mengapa? Karena produk-produk tersebut sudah hampir ada di batas kadaluarsa. Apa? Produk itu ada kadaluarsanya? Ya, hal ini memang tidak lazim di Indonesia. Wong sudah lama saja masih dipakai memasak, yang penting belum busuk. Hahaha… Namun, hal ini tidak diterapkan di UK. Regulasi mengenai makanan cukup ketat. Oleh karena itu, sayuran, daging, dan buah-buahan pun memiliki masa kadaluarsa, dimana biasanya tercetak tanggal kadaluarsa di tiap label atau kemasannya. Adanya barang reduce ini kadang-kadang cukup membantu karena kita dapat membeli kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih murah.

Golongan supermarket ketiga adalah supermarket kelas ‘mahasiswa’. Mengapa namanya begitu? Karena harganya pun pas dengan kantong mahasiswa. Contoh supermarket kelas ini adalah ALDI dan LIDL. Kedua supermarket ini menawarkan barang yang sedikit lebih terbatas, tetapi dengan harga yang sangat murah. Biasanya, para mahasiswa (termasuk keluarganya seperti kami-kami ini) banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari disini. In the name of pengiritan, memang berbelanja di supermarket ini merupakan cara jitu untuk menekan pengeluaran. Apalagi, untuk mahasiswa yang membawa serta keluarga ikut tinggal di sini, selisih harga yang tadinya tidak material akan terasa cukup signifikan bila dikalikan jumlah anggota keluarga, hehehe..Tetapi lagi-lagi, prinsip ada harga ada barang pun berlaku. Jangan harapkan barangnya dalam kondisi prime atau rasanya sangat enak, kualitasnya pun tidak sebagus di supermarket yang sudah dibahas terdahulu. Selain itu, memasuki musim panas, sayuran yang dijual pun kadang-kadang sudah hampir tidak bisa dimasak atau sudah dalam kondisi harus segera dimasak. Ya, semua ada trade off nya. Khusus untuk LIDL, supermarket ini juga menawarkan fresh bakery yang super enak! Jadi, jangan lewatkan mencoba fresh bakery disini, dijamin ketagihan (malah promosi).

Selain supermarket-supermarket yang telah disebutkan, ada juga berbagai jenis toko yang menjual barang-barang kebutuhan dengan harga miring. Misanya, Poundland (serba 1 pound), Home Bargain, dan B&M Bargain. Toko-toko tersebut hanya sedikit menjual makanan segar, tetapi lebih banyak makanan kaleng atau kering, snack, barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, sampo, alat masak, kebutuhan untuk bersih-bersih, dan barang-barang kebutuhan taktis lainnya, mirip toko kelontong di Indonesia mungkin ya, hehe. Ada juga toko-toko spesialis makanan beku, seperti Heron Foods, Iceland, dan Farmfoods. Biasanya, harga makanan beku di toko-toko spesialis ini lebih murah. Nah, khusus untuk toko-toko yang disebutkan di paragraf ini, sepertinya mengecek dan membandingkan harga sangat diperlukan karena walaupun banyak barang yang ditawarkan dengan harga murah, ada juga yang ternyata harganya lebih mahal daripada di supermarket biasa.

Jadi, di UK hanya bisa belanja di supermarket? Nggak ada pasar tradisional? Tenang saja, di beberapa kota, masih ada pasar tradisional kok, ada yang bentuknya di luar ruangan atau di dalam ruangan. Ada juga toko-toko kecil yang memang langsung menjual hasil kebun sendiri. Di Birmingham misalnya, ada outdoor market dan indoor market yang menjual sayuran, buah, dan daging segar. Harganya pun sangat bersaing dengan supermarket lho. Bahkan, di outdoor market kita bisa membeli sayur dan buah seharga 1 GBP saja untuk 1 bowl penuh. Rasanya seperti di surga! Eits, mau lebih murah lagi? Jangan lewatkan datang ke indoor dan outdoor market di atas jam 5 sore saat toko nya hampir tutup ya, karena hampir semua barang didiskon. Hanya dengan uang 1 GBP, kita bisa mendapatkan dua hingga tiga bowl sayur dan buah. Tawaran yang sangat menarik, kan?

Harga sayur dan buah di pasar tradisional murah. Lalu bagaimana dengan harga bahan pangan pokok seperti beras, minyak, dan telur? Sepanjang pengamatan dan pengalaman kami, harga makanan di UK cukup stabil. Kalau tidak salah, kenaikan harga bahan makanan terakhir terjadi di tahun 2013. Itu pun tidak terlalu signifikan (sekitar 5-10 pence) dan hanya berlaku pada produk tertentu. Harga beras dan minyak stabil dari tahun 2012, yaitu di 40 pence per kilo untuk beras dan 85-90 pence per 1.5 liter untuk minyak. Harga tersebut adalah harga ‘kantong mahasiswa’ di ALDI dan LIDL. Untuk mengetahui harga kebutuhan pokok secara lebih detail, silahkan cek ke website masing-masing.

 

Toko Khas Asia

Ketika kebutuhan makanan sehari-hari sudah tersedia secara luas di UK, bagi orang-orang Indonesia semacam kami ini, rasanya kok tidak puas ya, makan ala barat setiap hari. Tetap saja, banyak orang Indonesia mencari bahan makanan yang familier dan ketika dimasak cocok di lidah. Banyak supermarket di UK memiliki Asian section. Disana, kita bisa mendapatkan bumbu khas Asia dan bahkan bumbu jadi (keluaran Malaysia atau Thailand). Namun, biasanya range produk yang ditawarkan masih terbatas. Lalu? Apakah harus kirim dari Indonesia? Tenang, di Inggris ada sangat banyak toko yang menawarkan produk khas Asia. Biasanya, toko-toko ini didominasi oleh produk Cina dan India/Pakistan. Oleh karena itu, kami biasa menyebutnya ‘toko Cina’ dan ‘toko India’. Salah satu toko Cina yang sangat besar dan ada di berbagai kota adalah Wing Yip. Apa saja barang-barang yang dapat dibeli di toko khas Asia? Banyak sekali! Tempe, tahu, berbagai jenis mie, buah kaleng, bumbu khas asia, gula aren (mirip gula jawa tapi warnanya tidak coklat gelap), bumbu dapur beku, berbagai jenis seafood beku, sambal dan kecap ABC, hingga cemilan-cemilan mulai dari yang tradisional sampai yang kemasan pabrikan semacam Hello Panda. Orang-orang Indonesia biasanya agak kalap kalau belanja disini. Rasanya seperti kembali ke negara sendiri. Hahaha. Di beberapa tempat pun ada yang menjual durian hingga ikan teri. Selain itu, ada juga toko Afrika dimana kita bisa membeli ikan asin, plantaine (pisang kepok), dan singkong. See? Hidup di UK tidak menderita kok! Asal mau usaha, ada saja toko yang menawarkan barang kebutuhan kita.

Bagaimana jika tidak ada toko khas Asia di kota Anda? Dengan kemajuan teknologi dan banyaknya diaspora Indonesia di UK, ada fasilitas online shop barang khas Indonesia. Sejauh ini, ada dua toko online yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu toko IndoPro dan Toko Gordon. Kedua toko ini memiliki akun di Facebook sehingga cukup mudah untuk diakses oleh siapa saja. Khusus untuk kedua toko ini, barangnya pun sangat khas Indonesia. Namun, kadang kita harus berebut memesan karena setiap barang tersedia hanya dalam jumlah terbatas. Ketika barang datang, secepat mungkin harus memesan. Selanjutnya, barang pesanan Anda akan dikirimkan melalui pos. Saran kami, karena biaya pengiriman cukup besar, lebih baik jika Anda memesan bersama teman-teman yang tinggal di kota yang sama. Dengan begitu, biaya pengiriman dapat ditanggung bersama sehingga lebih hemat.

Bicara mengenai harga, produk-produk khas Asia ini memang harganya lebih mahal. Jarang sekali ada satu barang yang harganya kurang dari 1 GBP (kecuali Indomie). Cukup menguras dompet juga kalau sering-sering berbelanja disini. Kalau harga produk beku dan kemasan mahal, maka harga produk segar, seperti sayur dan buah bisa dikategorikan sangat mahal. Suka sayur kangkung? Sayuran ini adalah barang mewah di UK. Bayangkan saja, dua ikat kangkung harganya lebih mahal dari satu ekor ayam. Atau anda kangen dengan sawi putih? Harga satu bonggol sawi putih pun setara dengan tiga kilogram beras yang biasa kami beli. Yak, penggemar kangkung, sawi putih dan sayuran khas asia mulai menangis (dompetnya). Sekali-kali bolehlah beli untuk mengobati kangen, hehehe..Intinya, bijaklah dalam berbelanja di toko Asia. Jangan sampai budget Anda kendor karena membeli barang-barang disini. Sebenarnya ada alternatif lain jika anda ingin lebih berhemat, misalnya dengan menanam sendiri sayur-sayur dan bumbu dapur, yaitu dengan cara menyisakan batang dan akarnya kemudian menumbuhkannya di media air dan atau tanah. Beberapa yang pernah kami temui dan berhasil ditumbuhkan kembali adalah kecambah, daun bawang (spring onion), kangkung, daun mint, dan daun seledri. Dengan begitu, anda dapat menghemat pengeluaran dan memiliki stok sayuran segar sewaktu-waktu dibutuhkan.

 

Makanan Halal

Kebutuhan makanan halal merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat beragama Islam, karenanya sangat penting untuk menentukan kehalalan makanan. Memasak sendiri adalah cara paling tepat untuk menjamin kehalalan makanan kita, karena kita dapat memastikan mulai dari bahan, cara olah, alat masak, dan alat makan yang tidak tercampur dengan zat yang tidak halal. Lalu banyak orang bertanya, susah nggak sih, mencari bahan makanan halal di UK? Tidak! Hampir di setiap kota, bahkan di beberapa cabang supermarket besar seperti ASDA dan Tesco, ada toko atau bagian yang menjual daging dan makanan beku halal. Jadi, kita tidak perlu puasa makan sosis, nugget, dan makanan olahan lain saat tinggal di UK. Banyak sekali produsen makanan beku halal di UK. Toko daging halal pun ada banyak sekali. Biasanya, toko-toko ini berada di pusat kota atau di area pemukiman muslim. Cari saja masjid, biasanya di sekitarnya ada toko barang-barang halal. Dengan banyaknya muslim di UK, maka  keberadaan toko bahan makanan halal pun tidaklah sulit untuk ditemukan. Indeed, kurma pun bukan makanan aneh disini. Murah pula harganya!

Selain daging-dagingan yang cukup jelas batasan halal-haram nya, kita harus cukup teliti dalam membeli barang tertentu untuk memastikan kehalalan suatu produk. Otoritas di UK cukup tegas dalam hal ini. Secara umum, kehalalan produk dan bahan makanan khususnya produk daging di UK dapat dilihat dari ada atau tidaknya sertifikat halal dari HFA (Halal Food Authority) dan HMC (Halal Monitoring Committee UK). Dengan adanya dua badan tersebut, warga muslim di UK dimudahkan untuk mencari tahu tentang halal tidaknya produk bahan makanan yang mereka konsumsi. Ada beberapa produk yang sudah mendaftarkan kehalalan produk sehingga tertera label halal di kemasannya. Meskipun begitu, masih banyak juga produk yang harus ditentukan kehalalannya dengan membaca keterangan bahan yang terkandung dalam produk tersebut. Salah satu indikasi yang mungkin dapat di jadikan guidance adalah apabila pada makanan kemasan tercantum ‘suitable for vegetarian’. MInimal, kita menjadi tahu bahwa produk tersebut terbebas dari kandungan bahan-bahan yang berasal dari hewan. Pengecekan bahwa makanan tidak mengandung alkohol dan zat aditifpun perlu dilakukan. Menjadi muslim di UK memang mengajarkan kami untuk lebih teliti dan berhati-hati, juga untuk semakin aware tentang kehalalan makanan.

Masih juga merasa kesulitan? Anda bisa dengan mudah mengecek apakah suatu produk halal dengan bertanya langsung pada penjaga toko atau kepada produsen barang tersebut. Mereka akan dengan senang hati membantu Anda. Sebagian besar masyarakat UK sudah memahami peraturan halal/haram bagi umat Islam sehingga Anda tidak akan disangka sebagai ‘alien’ ketika bertanya mengenai hal ini.

Selain berbelanja bahan makanan untuk dimasak sendiri, ada kalanya kita mungkin sedang  capek atau dilanda kebosanan, lalu muncul keinginan untuk makan di luar rumah bersama keluarga. Nah, kalau sudah begini kitapun harus memilih restoran yang halal, bukan? Untuk menemukan restoran halal di Inggris memang tidak selalu mudah, tetapi juga bukan hal yang sulit. Hampir sama seperti toko bahan makanan, jika anda ingin mencari rumah makan halal, maka datangilah area dimana komunitas muslim tinggal, maka biasanya dengan mudah anda dapat menemukannya. Selain itu, terkadang di lingkungan sekitar kampus dan pemukiman mahasiswa, banyak juga terdapat gerai makanan halal ini. Contohnya di Birmingham, banyak sekali tempat makan halal yang berlokasi di sekitar universitas dan pemukiman mahasiswa. Di Manchester, ada sebuah area yang dijuluki ‘Curry Lane’ saking banyaknya restoran India dan timur tengah disana. Karena kebanyakan penjualnya adalah warga timur tengah, maka jenis makanan yang dijualpun adalah seputar nasi biryani dan kebab. Bicara harga, anda perlu menyiapkan GBP 3-5 untuk seporsi makan, tergantung varian dan topping yang anda inginkan. Meskipun mayoritas rumah makan tersebut menempelkan logo halal, jangan kaget jika ada juga restoran yang menjual kebab tetapi tidak memiliki logo halal di gerai nya. Nah, kalau sudah seperti ini, penilaian halal-haram kembali kepada keyakinan diri masing-masing ya, hehe.

Jika anda bosan dengan menu makanan arab dan timur tengah, ada juga beberapa restoran cepat saji di UK yang menyediakan menu halal, KFC dan SUBWAY adalah contonya. Kedua restoran ini, merupakan franchise restoran cepat saji yang juga cukup familier di sini. Ada gerai KFC dan SUBWAY yang menyediakan menu halal di restorannya. Untuk KFC halal, mereka mengklaim bahwa semua makanan yang dijual adalah halal dan merekapun biasanya telah mengantongi HFA halal certificate. Sementara SUBWAY halal, ada yang semua makanannya halal, tetapi ada pula yang partially halal, dimana mereka menyediakan beberapa pilihan menu halal disamping menu non-halalnya. Wah? Kalau setengah menunya non-halal, berarti tetap tidak halal dong, karena ada kemungkinan kontaminasi? Well, peraturan mengenai pengolahan dan penyajian makanan di UK cukup ketat sehingga kontaminasi bahan makanan pun diperhatikan. Biasanya, restoran-restoran yang sudah mendapatkan label halal ini pun memiliki standar baik dari segi pengolahan maupun penyajiannya ke customer, sehingga makanan halal tidak akan tercampur dan terkontaminasi oleh makanan non-halal.

 

Meskipun kita tinggal di UK yang setiap pengeluarannya menggunakan pound sterling, tetapi jika kita tahu dimana harus belanja, bisa banget kok menghemat jatah bulanan. Tinggal di negara yang muslimnya minoritas pun, sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk tidak memastikan kehalalan makanan yang kita konsumsi. Dengan tetap mencari informasi, berhati-hati dan selektif, maka mencari makanan halal tidaklah sesulit yang kita kira. Semoga cerita kami di atas dapat menjadi sedikit panduan berbelanja khususnya groceries dan daily stuff di Inggris ya.

Minggu depan, kita masih akan membahas seputar kehidupan sehari-hari di UK. Stay tuned!

Home Away from Home: Budgeting

Photo Source: http://ukace.org/wp-content/uploads/2015/07/4cfbad65-2641-4e04-ab8a-6ab28f6356d9_money_pounds_cash.jpg

Hidup di Inggris itu mahal. Betul, kah?

Apakah biaya hidup di sana cukup hanya dengan beasiswa yang kita dapat? Seringkali kami mendapatkan pertanyaan mengenai hal ini. Kami juga beberapa kali mendengar keraguan keluarga yang akan ikut pasangan ke UK mengenai kecukupan tunjangan yang diberikan oleh beasiswa untuk menghidupi keluarga. Hal ini wajar saja, karena memang harga barang dan jasa di UK akan terasa sangat tinggi apabila kita mengkonversi dari Poundsterling ke Rupiah. Hmmmm… cukup sulit memang untuk menjawab pertanyaan tersebut karena  skema beasiswa yang diperoleh pelajar yang sekolah di sini berbeda, ada yang menyertakan tunjangan untuk anggota keluarga, ada pula yang tidak. Selain itu, tempo pencairan beasiswanya pun tidak sama, ada yang rutin setiap bulan, setiap tiga bulanan, bahkan ada juga yang memiliki pengalaman tentang tak menentunya frekuensi pencairan allowancenya. Tetapi terlepas dari itu semua, kecukupan uang sangat tergantung pada gaya hidup masing-masing keluarga. Namun, pengalaman kami dan banyak keluarga disini, tunjangan dari beasiswa masih cukup kok untuk hidup, meskipun pada kasus-kasus tertentu ada pasangan yang harus bekerja untuk menambah pemasukan atau keluarga yang harus berhemat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, terlebih lagi agar dapat menabung untuk keperluan jalan-jalan.

 

Biaya Hidup di Inggris

Seperti pada penjelasan mengenai financial planning, komponen yang harus dipertimbangkan dalam budgeting adalah biaya. Berbeda kah biaya yang dikeluarkan oleh keluarga di Indonesia dan di UK? Sebenarnya komponennya relatif sama, hanya memang kursnya yang berbeda,hehehe. Biaya hidup disini mencakup uang sewa rumah atau akomodasi, tagihan listrik, gas, dan air, uang belanja kebutuhan pokok, dan biaya transportasi.

Biaya sewa rumah atau akomodasi biasanya memiliki porsi terbesar dalam pengeluaran kita. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di artikel mengenai akomodasi (link), kisaran biaya sewa tempat tinggal adalah 500-800 GBP per bulan bagi keluarga (harga di luar kota London). Biaya ini bisa dihemat dengan cara misalnya, sharing rumah bagi keluarga yang belum memiliki anak atau dengan mencari alternatif tempat tinggal lain. Namun, sebaiknya kita jangan terlalu berharap mendapatkan akomodasi dengan harga sewa di bawah range tersebut karena susaaahhh… Ya, akomodasi mahasiswa adalah bisnis yang bergerak dengan cepat di UK. Oleh karena itu, penghematan di komponen ini pun agak sulit dilakukan. Impact-nya apa? Bagi Anda yang mendapatkan beasiswa, uang sewa ini umumnya bisa menghabiskan 40-60% tunjangan uang hidup yang diberikan (tunjangan di luar London).

Masih berhubungan dengan uang sewa akomodasi, komponen berikutnya adalah tagihan listrik, gas, dan air. Ada beberapa agen yang menawarkan tempat tinggal yang harga sewa-nya sudah mencakup pembayaran tagihan. Beruntunglah Anda yang mendapatkan tempat tinggal tersebut karena tidak perlu pusing memikirkan besar tagihan setiap bulan, atau setiap tiga bulan. Namun, jarang sekali uang sewa rumah sudah mencakup bills. Oleh karena itu, pengeluaran di komponen ini harus diperhatikan karena rekening bank pun bisa bolong kalau tidak berhati-hati dalam menggunakan listrik, air, dan gas. Berapa sih kisaran tagihan yang harus dibayarkan per bulan? Biaya listrik dan gas dihitung berdasarkan pemakaian, sedangkan biaya air sudah dipatok tetap, tergantung provider. Karena penghitungan berdasarkan pemakaian, maka yang pasti kita bisa lakukan adalah berhemat. Seperti halnya di Indonesia, pada siang hari kita bisa mematikan lampu, tidak banyak menggunakan alat elektronik, dan berbagai trik lainnya. Tapi…. Nah, ada tapinya. Kondisi hidup di UK tentu berbeda dengan di Indonesia. Di UK, banyak sekali peralatan dapur yang memakan listrik cukup banyak, seperti kompor (ya, disini tidak ada kompor yang pakai LPG ya), pemanas air (no, disini tidak ada dispenser), dan microwave. Semua adalah alat yang pasti digunakan setiap hari. Selain itu, kalau di Indonesia kita bisa mengganti AC dengan kipas angin atau kipas manual, disini – apalagi bagi orang Indonesia – susah sekali menggantikan the power of heater. Jangan pernah berharap ada AC di rumah di UK, tapi pastikanlah rumah yang Anda sewa memiliki heater yang memadai. DINGIN! Bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan iklim tropis, mungkin kalau bisa pemanas ruangan on 24 jam setiap hari selama suhu di bawah 20 derajat. Tapi permasalahannya, uang pun terbatas. Otomatis, kita harus pintar-pintar mengatur pemakaian pemanas sehingga tidak membobol rekening bank.

Selain biaya akomodasi diatas, kebutuhan pangan merupakan hal pokok yang juga harus dianggarkan. Pilihan cerdasnya adalah dengan memasak sendiri. Dengan memasak sendiri, selain dapat menekan anggaran konsumsi, tentunya anda juga bisa menentukan sendiri makanan sesuai selera keluarga bukan? Apalagi bagi yang muslim, memasak sendiri adalah cara tepat untuk menyajikan makanan halal di rumah dengan budget yang adjustable. Rata-rata di kota Birmingham, pengeluaran yang dianggarkan jika kita memilih memasak sendiri kurang lebih £250-£400 dalam sebulan (asumsi ini untuk satu keluarga yang memiliki anak). Lain halnya untuk pasangan yang masih belum memiliki anak, biayanya berada pada kisaran £100-£200 perbulan. Di sinipun, terdapat banyak supermarket bahkan pasar yang menyediakan berbagai bahan kebutuhan pokok dan bahan makanan dengan harga sangat terjangkau, sehingga tidak akan sulit rasanya untuk tetap irit dalam hal makanan. Tetapi, bila anda tidak senang atau bahkan tidak bisa memasak sendiri, anda dapat membeli makanan di luar dengan kisaran harga per porsinya £3-£7, tergantung preferensi dan porsi makan anda. Setidaknya £10 perlu anda siapkan dalam sehari, inipun dengan asumsi anda makan dua kali sehari. Biaya satu bulan? Anda tinggal mengalikannya dengan 30 hari sebagai perkiraan. Nah, bagi yang tinggal di kota besar seperti London, tentunya akan berbeda lagi biaya yang harus dianggarkan. Dari sini anda sudah dapat mengkalkulasi perkiraan rata-rata biaya untuk makan dalam sebulan, baik jika anda memasak sendiri maupun membeli masakan jadi.

Bicara tentang mobilitas, tentunya tidak terlepas dari transportasi. Seberapa sering pasangan kita bepergian ke kampus, berapa kali dalam sebulan kita perlu pergi berbelanja ke pasar atau toko grosir? Bagaimanakah akses dari rumah ke sekolah anak, bisakah ditempuh hanya dengan berjalan kaki, atau harus naik kendaraan umum? Beberapa hal tersebut yang nantinya akan mempengaruhi keputusan dalam menganggarkan biaya transportasi. Ya, meskipun bukan komponen yang paling utama, tetapi biaya transportasi mau tidak mau harus diperhitungkan sebagai porsi yang signifikan dalam menghitung biaya hidup. Di Inggris, alat transportasi umum relatif lengkap, mulai dari bus, kereta, subway, dan bahkan tram di beberapa kota. Anda dapat memilih moda transportasi mana yang sesuai dan dapat digunakan untuk mobilitas sehari-hari dari rumah. Misalnya, tidak semua rumah berdekatan lokasinya dengan stasiun kereta atau subway, tetapi bus mungkin bisa menjadi pilihan jika terdapat halte yang dekat dengan rumah dan juga tempat tujuan. Anda juga bisa melihat lebih efisien manakah dari segi waktu, antara naik bus atau kereta. Kombinasi waktu antara jalan kaki dan naik public transport, juga merupakan faktor penting untuk membuat keputusan dalam menentukan moda transportasi apa yang akhirnya pas digunakan. Biaya transport ini juga variatif di masing-masing kota, biasanya semakin banyak perusahaan penyedia moda transportasi umum, maka semakin rendah pula biaya yang ditawarkan agar mereka tetap dapat bersaing. Di Birmingham, biaya sekali jalan dengan bus adalah £2.3, sedangkan tiket one day pass adalah seharga £4. Lebih hemat lagi, jika anda bepergian dengan beberapa teman (maksimal 5 orang), maka anda dapat membeli tiket ‘group day saver’ seharga £8, yang dapat dipakai untuk naik bus sehari penuh. Sama halnya jika anda membawa keluarga dan anak-anak, pilihan membeli tiket ‘family day saver’ pun akan sangat menghemat pengeluaran. Tips lain untuk berhemat adalah dengan membeli kartu berlangganan bus yang bisa di isi dan di top-up saldonya. Lain lagi jika anda memilih kereta sebagai moda transportasi yang akan sering dipakai, untuk ini anda harus apply membuat rail card, semacam kartu diskon saat naik kereta. Dengan rail card, kita bisa mendapat potongan harga 30% setiap pembelian tiket perjalanan menggunakan kereta api. Tersedia berbagai pilihan untuk pelajar, pasangan, maupun family. Pembuatannya pun cukup mudah dan kartunya bisa kita terima dalam beberapa hari saja (tergantung antrian juga sih). Selain alat transportasi tersebut, menggunakan sepeda juga lumrah dilakukan di sini. Anda dapat membeli sepeda baru maupun yang bekas tetapi masih layak digunakan, bahkan biasanya warga Indonesia yang akan selesai masa studinya tak jarang yang menghibahkan atau menjual murah sepedanya.

Oh ya, salah satu bagian penting yang tidak boleh terlupakan lagi adalah biaya komunikasi. Tidak dapat dipungkiri, internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup kita. Oleh karena itu, perlu juga kita memberikan budget terhadap kebutuhan ini. Rata-rata harga langganan SIM card berinternet di UK adalah £10-15. Biasanya, harga tersebut sudah mencakup juga telepon dan SMS ke nomer UK, sedangkan untuk menghubungi keluarga di Indonesia (apabila tidak menggunakan media internet) biasanya harga dipatok sekitar £0.5-1 per menit.

To sum up, jadi berapa biaya yang dihabiskan per bulan untuk hidup di UK? Dengan mempertimbangkan seluruh biaya tersebut, kira-kira satu keluarga akan mengeluarkan £700-1000 per bulan dengan asumsi memasak sendiri di rumah. Ini hanya jumlah perkiraan yang in reality akan tergantung gaya hidup dan kota tempat tinggal, dan kemungkinan masih bisa ditekan lagi jika kita tahu caranya berhemat.

 

Sumber Penghasilan

Ada pengeluaran, tentu harus ada penghasilan juga ya. Setelah mengetahui jumlah biaya hidup yang dibutuhkan, kita bisa mulai menghitung, cukupkah tabungan atau tunjangan bulanan yang didapatkan?

Bagi teman-teman yang self-funding, tunjangan bulanan akan tergantung pada jumlah uang yang dimiliki. Dengan perkiraan budget, tentu jadi bisa lebih berhemat dan mengetahui apakah dana yang dimiliki cukup untuk hidup bersama keluarga di UK.

Bagi teman-teman yang disponsori oleh beasiswa, maka besaran tunjangan hidup sudah ditentukan oleh pemberi beasiswa. Berapa besarnya? Secara rata-rata, kisaran uang tunjangan hidup di UK adalah £800-1200, angka ini depend on pemberi beasiswa dan kota tempat tinggal. Nah, untuk yang pemasukannya hanya berasal dari beasiswa dan terutama untuk yang sudah memiliki anak inilah yang harus pintar-pintar mengatur keuangan. Bagi yang masih mempunyai tabungan di Indonesia, memang perasaan akan lebih lega ya, karena uang tersebut masih bisa diandalkan, lalu ditransfer ke UK untuk menambah-nambah uang jajan dan ongkos jalan-jalan. Namun, jika tabungan di Indonesia pun sudah terkuras untuk kepentingan persiapan berangkat ke sini, lalu apa yang bisa dilakukan untuk dapat menutup kekurangan biaya atau sekedar menambah tabungan cadangan di sini? Jawabnya adalah dengan bekerja.

Bagi dependant, bekerja disini jangan dibayangkan kerja kantoran yang setiap hari rutin harus datang sesuai jam kantor ya, alternatif bekerja disini maksudnya adalah kerja sampingan alias part time. Yang namanya kerja sampingan sudah pasti jam kerjanya adalah beberapa jam saja dalam sehari, kerjanya bersifat klerikal atau technical, dan biasanya gajinya pun menggunakan base waktu kerja, misalnya sekian poundsterling per jam. Beberapa pilihan pekerjaan part time yang ada di sini antara lain cleaning service (merupakan jenis kerja sampingan yang paling banyak tersedia), pelayan restoran atau toko, translator, wirausaha dengan cara membuka usaha katering masakan Indonesia. Yang terakhir ini mungkin bisa menjadi alternatif yang cukup menjanjikan. Selain menyalurkan hobi, banyaknya warga Indonesia yang bersekolah disini yang rindu makanan khas kampung halaman dan tidak punya waktu untuk memasak sendiri adalah peluang pasar yang lumayan untuk jenis usaha ini. Selain pekerjaan-pekerjaan yang disebutkan di atas, sebenarnya masih banyak peluang yang ada untuk menambah pundi-pundi recehan poundsterling yang kita miliki. Memang sifatnya tidak rutin, tetapi tetap bisa menjadi penghasilan tambahan insidentil. Misalnya, dengan menjadi ‘kelinci percobaan’ penelitian mahasiswa di kampus atau rajin-rajin membuka website lowongan pekerjaan untuk mencari temporary job saat liburan. Nah, berapa sih uang yang didapatkan saat bekerja di sini? Biasanya, kita akan dibayar sekitar 7-10 GBP per jam apabila kita bekerja pada orang, atau tergantung margin keuntungan apabila kita berjualan atau menawarkan jasa.

Capek dan menguras tenaga adalah keniscayaan dalam melakukan pekerjaan sampingan ini, tetapi sebagai tambahan pengalaman dan tambahan tabungan untuk keperluan biaya hidup di sini, tidak ada salahnya mencoba mengambil part time job yang cocok dengan kondisi dan waktu luang anda. Meskipun peluangnya cukup menggiurkan, banyak juga kok family yang memilih untuk sama sekali tidak mengambil kerja sampingan ini, dan tetap bisa survive dengan cara berhemat masing-masing.

 

Contoh kasus

Nah, berdasarkan paparan di atas, sebenarnya bagaimana sih flow pemasukan dan pengeluaran selama di UK? Sebagai ilustrasi, kami coba menyiapkan contoh kasus sederhananya seperti berikut:

A datang ke UK dengan membawa istri dan seorang anak berusia 4 tahun. Ia mendapatkan beasiswa dengan jumlah living allowance sebesar 1100 GBP per bulan. Istri dari si A memilih untuk bekerja part time sehingga pendapatan tambahan yang diperoleh setiap bulannya kurang lebih 150GBP.

Ia berkuliah di Birmingham dan memilih untuk menyewa sebuah rumah yang berjarak 20 menit berjalan kaki dari kampus. Harga sewa rumahnya adalah 650 GBP. Total tagihan listrik, air, dan gas yang harus dibayar adalah 110. Istri A selalu memasak setiap hari sehingga biaya makan di luar bisa dikurangi. Uang belanja per bulan yang dihabiskan untuk keluarga A adalah 200 GBP.

Biaya lain yang tidak dapat dihindari adalah biaya komunikasi. A harus menyisihkan uang sebesar 25 GBP setiap bulan untuk membayar paket langgangan SIM card miliknya dan istrinya. Sedangkan untuk biaya transportasi, A tidak terlalu banyak mengeluarkan uang di pos ini. Setiap hari ia berjalan kaki ke kampus dan anaknya pun berjalan kaki ke sekolah (disini, sekolah gratis, tis. Hanya perlu beli seragam sekolah). Namun, setiap seminggu sekali, setidaknya A sekeluarga menyempatkan pergi ke pusat kota untuk refreshing dimana ia harus membeli tiket bus bersama keluarga. Total pengeluaran transportasi per bulannya kira-kira 35 GBP.

Dari kasus keluarga A, dapat disimpulkan bahwa pemasukan keluarga adalah 1250 GBP dan total pengeluaran adalah 1020 GBP. Wah, ternyata masih ada sisa! Ya, semua kembali pada gaya hidup masing-masing keluarga. Mungkin ada keluarga yang suka makan atau jajan di luar? Mungkin ada keluarga yang lebih suka jalan-jalan? Pada kasus tertentu, ada pula yang mungkin tunjangan ludes atau bahkan harus nombok, hehe..

 

Jadi, mahalkah hidup di UK? Banyak keluarga yang mengaggap bahwa selain biaya akomodasi dan rekening yang bikin kepala pusing tujuh keliling, sebenarnya hidup di UK tidak terlalu mahal. Bahkan, pada komponen tertentu, seperti misalnya harga bahan makanan dan pakaian, bisa lebih murah daripada di Indonesia. Namun, kembali lagi, semua tergantung pada gaya hidup dan pilihan masing-masing keluarga. Cukup kah tabungan yang dibawa dari Indonesia? Cukup kah tunjangan dari beasiswa? Silahkan mulai menghitung!

Kuncinya, jangan lupa untuk menentukan skala prioritas dan mendahulukan kebutuhan di atas keinginan.
Next on: Kehidupan sehari-hari di UK. Bagaimana sih kehidupan para diaspora mahasiswa dan keluarga mereka di UK? Simak artikel kami minggu depan, ya…