Home Away from Home: Settling In

Pindah ke tempat baru membuat perasaan bercampur aduk. Salah satu perasaan yang kami rasakan saat baru tiba di UK adalah overwhelmed. Bayangkan saja, setelah belasan jam di pesawat, sampai di bandara tujuan pun harus alert di bagian imigrasi, membawa barang dengan jumlah yang banyak, harus pula mencari jalan untuk sampai ke tempat tujuan (akomodasi atau rumah tinggal sementara). Tugas adaptasi pun tidak selesai disana. Masih ada banyak hal yang harus diurus hingga akhirnya bisa nyaman dan terbiasa hidup di negeri orang. Saran kami, jangan panik. Tentukanlah prioritas mengenai apa yang akan dilakukan. Ada beberapa hal wajib yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu setelah kedatangan. Hal ini kami sebut proses settling in. Apa saja aktivitasnya? Berikut ini paparan kami.

 

Beradaptasi dengan cuaca

Biasanya perkuliahan di Inggris dimulai pada bulan September, sehingga hampir pasti kebanyakan dari pelajar dan juga yang membawa serta keluarga, akan tiba sekitar akhir Agustus hingga pertengahan September. Pada bulan-bulan tersebut, cuaca di UK berada pada kisaran suhu 15-20 derajat celcius, terkadang hujan, dan cukup berangin. Musim gugur dimulai dan biasanya diikuti dengan penurunan temperatur yang cukup drastis. Nah, sedingin apa sih autumn di sini? Yang pasti hawanya beda dengan negara tropis seperti Indonesia ya, mungkin dinginnya setara ketika kita berada di Puncak Bogor saat malam hari, tetapi seringnya menjadi lebih dingin karena hembusan angin di sini cukup kencang. Oleh karenanya, untuk mempermudah adaptasi terhadap perubahan cuaca, akan lebih baik jika anda menyiapkan outfit yang sesuai. Seperti yang sudah pernah dibahas pada seri ‘persiapan keberangkatan’ di artikel sebelumnya, jaket adalah barang mutlak yang anda perlukan. Tidak harus jaket super tebal sih, tetapi pilihlah jaket tipis/sedang yang berbahan hangat misalnya wool, flanel, atau jaket biasa yang berlapis fleece. Selain itu, persiapkan juga payung dan raincoat, karena hujan terkadang tiba-tiba turun meskipun matahari sedang bersinar terang. Untuk berjaga-jaga, anda juga bisa coba cek dan memantau sendiri perkiraan cuaca di Inggris melalui link berikut: http://www.bbc.co.uk/weather/.

Sebelum tiba di bandara terdekat dengan kota yang kita tuju, usahakan agar kita sudah mencari informasi bagaimana caranya untuk mencapai rumah tinggal kita dari airport, dapat diakses dengan moda transportasi apa dan berapa kisaran biayanya. Dengan begitu, setidaknya anda dapat mempersiapkan apa atau berapa uang yang dibutuhkan misalnya untuk naik kereta, bus, dan bahkan taxi. Akan lebih baik lagi, jika anda dapat meminta bantuan teman Indonesia untuk menjemput anda di bandara atau stasiun terdekat.

 

Beberapa hari pertama setelah kedatangan

Selanjutnya, karena berada di tempat yang baru, sebaiknya kita mulai dengan mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal kita (dengan asumsi sudah memiliki rumah tinggal). Misalnya mengetahui lokasi supermarket atau pasar terdekat, tempat membeli makan, sekolah terdekat (untuk yang membawa anak), ATM atau bank terdekat, akses transportasi sekitar rumah, dan juga mencari tahu akses ternyaman untuk pergi ke kampus tempat pasangan kita bersekolah. Biasanya, orang Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal disini akan bersedia membantu untuk menjadi ‘guide’ dalam pengenalan lingkungan tempat tinggal kita.

Selain pengenalan lingkungan, sembari unpacking isi koper, kita perlu memikirkan barang apa saja yang urgent masih dibutuhkan untuk survive selama beberapa hari pertama. Apabila belum mendapat akomodasi, maka hal pertama yang dilakukan adalah segera hunting tempat tinggal (sebagaimana sudah dibahas di artikel sebelumnya). Jika sudah ada rumah, mulailah kritis dengan melihat misalnya apakah peralatan dasar memasak dan makan sudah tersedia? Apakah toiletries, sprei, bantal, dan peralatan bedsheet lain sudah ada? Kebanyakan akomodasi yang disewakan memang tidak menyertakan item-item diatas. Namun, kadang-kadang ada juga ‘warisan’ barang yang ditinggalkan penghuni sebelumnya.

Sebagai catatan, bahwa di negara empat musim, rumah-rumahnya memang sudah dilengkapi dengan sistem pemanas ruangan. Akan tetapi untuk penduduk negara tropis seperti kita, meskipun belum memasuki musim dingin dan sekaligus untuk menghemat biaya listrik dan gas, membeli duvet dan electric blanket biasanya menjadi pilihan.

Yang juga tidak kalah pentingnya, jangan lupa untuk memperkirakan apakah persediaan logistik termasuk bumbu dapur sudah cukup? Dari pertanyaan-pertanyaan basic terebut, anda dapat segera membelinya di supermarket atau toko-toko terdekat. Bagi anda yang melanjutkan tempat tinggal orang lain, kentungan yang diperoleh biasanya adalah kita akan mendapat lungsuran atau warisan household stuff dari keluarga yang sebelumnya tinggal di tempat tersebut. Yeay! Hal ini berarti anda dapat menghemat lagi pos pengeluaran untuk settling-in.

Jangan kaget apabila dalam beberapa hari pertama sesampainya di UK, pengeluaran kita terasa sangat besar karena kebanyakan dari kita harus berbelanja barang-barang kebutuhan dasar. Tetapi tidak perlu kawatir, karena tidak setiap bulan kita akan berbelanja sangat banyak. Saran kami, prioritaskan barang-barang yang perlu dibeli dan carilah barang yang tahan lama agar tidak perlu mengganti di pertengahan tahun karena barang tersebut rusak.

 

Administrasi

Ada 3 hal yang termasuk dalam urusan administrasi yaitu: BRP collection, Lapor Diri, dan Pendaftaran GP

BRP Collection

Sebagai warga’ baru di UK, kita harus memiliki ‘kartu tanda penduduk’ di sini. Untuk pemegang visa UK yang lama, visa tersebut sudah otomatis menjadi bukti sah sebagai warga UK. Akan tetapi untuk pemegang visa baru (sejak tahun 2015) yang masa expired nya terbatas, anda perlu melakukan pengambilan BRP (Biometric Resident Permit). BRP merupakan kartu identitas yang memuat detil data personal dan informasi biometric dari pemohon visa atau ijin tinggal di UK selama lebih dari 6 (enam) bulan. Jadi, kalau anda hanya ikut pasangan ke UK kurang dari 6 bulan, anda tidak memerlukan BRP ini. BRP ini fungsinya mirip dengan KTP dan harus dibawa di saat bepergian terutama jika keluar UK, karena fungsinya yang juga sebagai pengganti visa.

Bagaimana cara memperoleh BRP? Pada saat menerima decision atas permohonan visa sebagai dependant, bersamaan dengan kembalinya paspor, kita akan menerima selembar kertas yang berisi detil informasi tentang BRP collection atau bagaimana cara kita mengambil kartu BRP ini. Ada dua pilihan yaitu di kampus atau di post office yang ditunjuk. Untuk opsi pertama, dapat dilakukan ketika pada saat proses pengajuan visanya, aplikan memilih untuk mengambil BRP nya di universitas. Pada saat pengisian permohonan visa online, aplikan yang biasanya adalah pelajar dapat memasukkan kode universitas sebagai reference tempat pengambilan BRP nya, hal inipun dapat berlaku juga bagi dependant-nya. Pengambilan BRP card di kampus hanya mewajibkan student nya (dalam hal ini pasangan kita) saja yang datang dengan membawa dokumen dependant-nya. Kapankah waktu pengambilan BRP? Biasanya pasangan yang akan berkuliah akan mendapatkan email keterangan pengambilan BRP yang cukup detail, berisi tempat pengambilan, tanggal, dan jam pengambilan BRP.

Tempat lain yang ditunjuk sebagai tempat BRP collection adalah post office. Opsi kedua ini juga umum dilakukan dan biasanya akan ditunjuk branch terdekat dengan alamat rumah tinggal yang sudah di isikan pada formulir pengajuan visa sebelumnya. Anda juga harus memasukkan pilihan jadwal appointment untuk BRP collection ini. Dokumen yang dibutuhkan untuk pengambilannya adalah passport asli dan lembaran decision dari UKVI yang berisi informasi tentang pengambilan BRP. Oh iya, perlu diingat bahwa BRP collection ini harus dilakukan maksimal 1 (satu) bulan setelah kedatangan di UK, dan tahapan ini tidak dipungut biaya.

Just in case UKVI tidak menunjuk lokasi kantor pos terdekat, penting bagi anda untuk mengetahui dimana kantor pos terdekat dengan tempat tinggal anda, sehingga anda bisa memilih tempat tersebut, karena setelah menentukan lokasi pengambilan BRP, disarankan untuk tidak merubahnya. Permohonan perubahan lokasi BRP collection ini memang dimungkinkan tetapi tahapannya akan lebih sulit, selain itu akan ada tambahan biaya (service fee) dan penambahan waktu tunggu lagi sekitar 10 hari.

Lapor Diri

Selain mengurus ‘KTP’ sebagai warga UK, ada hal lain yang masih harus dilakukan karena kita adalah warga negara Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri yaitu, lapor diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Inggris. Kegiatan lapor diri ini dimaksudkan juga agar pihak KBRI mengetahui keberadaan kita di luar negeri. Untuk kita, selain dapat memudahkan dalam pengurusan hal-hal terkait keimigrasian dan kekonsuleran, lapor diri juga sebagai bentuk berjaga-jaga apabila di kemudian hari terjadi masalah, at least KBRI sudah memiliki data kita dan hopefully dapat memberikan perlindungan dan membantu menyelesaikan persoalan kita di tanah rantau. Manfaat lain adalah kita bisa masuk ke dalam daftar pemilih apabila kita masih berada di luar negeri ketika PEMILU berlangsung di Indonesia. Seperti halnya pengalaman Alif yang saat PEMILU 2014 masih tinggal di Jepang, karena sudah lapor diri ke KBRI, dia tidak kehilangan hak pilihnya karena otomatis sudah masuk ke dalam daftar pemilih. Lapor diri ini dapat dilakukan dengan cara datang langsung ke kantor KBRI London atau juga dapat dilakukan dengan mengirim dokumen melalui pos. Adapun dokumen yang perlu dilampirkan adalah paspor asli, 2 lembar pas foto ukuran 4×6, dan formulir lapor diri yang telah diisi. Jika mengirim dokumen via pos, jangan lupa untuk menyertakan amplop kosong yang sudah tertulis alamat kita beserta prangko untuk balasannya. Formulir lapor diri ini dapat anda unduh dari link berikut: http://www.kbrilondon.org.uk/index.php/lapor

Selain cara di atas, biasanya untuk kota yang jumlah warga Indonesia nya banyak, PPI atau organisasi yang mewakili komunitas warga Indonesia dapat melakukan koordinir dengan mengadakan program lapor diri bersama. Event ini bisa dilakukan dengan pengiriman kolektif via pos ke KBRI atau dapat juga dengan mengundang dan mendatangkan staff konsuler dari KBRI ke kota tempat kita tinggal.

GP

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah pendaftaran GP (General Practicioners). Istilah apa lagi ini? Puyeng juga ya kebanyakan istilah baru..hehehe..Ya, namanya juga tinggal di tempat baru, beda bahasa pula. Wajar saja kan jika semua istilahnya juga baru pertama kita dengar. Sistem kesehatan di UK mengharuskan setiap warganya untuk mendaftarkan diri di GP ini, agar dapat merasakan manfaat dari NHS. GP sebenarnya mirip seperti puskesmas atau praktek klinik lokal, dimana biasanya untuk bisa ke Rumah Sakit, kita memerlukan rujukan terlebih dahulu di GP yang terdekat dengan lokasi tempat tinggal kita. Untuk mengetahui GP mana yang lokasinya terdekat dengan kita, anda bisa cek di link berikut:

http://www.nhs.uk/Service-Search/GP/LocationSearch/4

Langkah registrasinya, kita harus datang ke GP terdekat pada jam layanan yang ditentukan dengan membawa passport, visa yang masih berlaku, BRP, dan bukti bahwa kita memang tinggal di alamat rumah tinggal kita (misalnya tagihan listrik, dokumen kontrak rumah yang memuat nama dan alamat rumah). Kemudian kita harus mengisi form pendaftaran dan mengembalikannya kepada petugas. Setelah itu, biasanya petugas akan memasukkan data kita ke dalam list pasien dan memberikan sedikit penjelasan mengenai layanan yang diberikan. Biasanya, dalam beberapa hari, kita akan mendapatkan surat dari NHS yang menunjukkan bahwa kita telah terdaftar dalam NHS dan berhak untuk mendapatkan pelayanan gratis. Gratis? Ya, kecuali biaya menebus resep. Ingat uang IHS yang telah kita bayarkan pada saat pengajuan visa? Ya, inilah bentuk yang kita terima dari pembayaran IHS kita: fasilitas kesehatan gratis.

Mendaftarkan diri dan keluarga ke GP cukup penting, terutama bagi keluarga yang membawa anak karena banyak fasilitas gratis bagi anak, seperti imunisasi, dan lain-lain. Selain itu, kita pasti berharap agar tidak sakit selama di UK. Namun, apabila kita sampai sakit, kita tidak bisa langsung bertemu dokter atau pergi ke Unit Gawat Darurat tanpa memberikan keterangan mengenai GP tempat kita terdaftar. Oleh karena itu, cobalah untuk mendaftar ke GP di minggu-minggu awal kedatangan kita.

 

Komunikasi

Memberikan kabar kepada keluarga di Indonesia bahwa kita telah tiba di negeri orang dengan selamat adalah hal mendesak yang juga perlu kita lakukan. Caranya bisa melalui internet ataupun telepon. Bagaimana bila di rumah tinggal belum ada sambungan wi-fi internet? Kita bisa menggunakan simcard UK untuk dipasang pada handphone kita. Biasanya, di bandara selepas kita keluar dari section kedatangan, akan ada sales person yang membagi-bagikan SIM card secara gratis. Kita bisa memanfaaatkannya dan kemudian melakukan pembelian pulsanya melalui internet maupun gerai-gerai tertentu yang menjual pulsa. Alternatif lainnya adalah dengan memesan nomor (SIM card) secara online dan gratis, kemudian kita bisa mengisikan pulsanya melalui website resmi provider SIM card tersebut. Dengan begitu komunikasi dengan keluarga baik yang di Indonesia maupun di UK dapat terjalin.

Selain melalui telepon, biasanya kita juga membutuhkan internet untuk mempermudah dan mempermurah biaya komunikasi. Banyak akomodasi yang sudah menyertakan biaya internet di dalam harga sewa. Hal ini cukup memudahkan karena berarti saat kita tiba, maka internet di rumah sudah aktif. Tidak perlu lagi berurusan dengan registrasi pemasangan internet dan lain-lain. Namun, bagi Anda yang akomodasinya belum mencakup internet, ada satu aktivitas tambahan yang harus dilakukan, yaitu memasang internet di rumah. Bagaimana caranya?

Pertama, tentukan dulu provider yang akan Anda gunakan. Setelah itu, Anda bisa datang ke gerai provider tersebut dan berbicara dengan customer service. Mereka akan membantu Anda memilih paket yang cocok dan kadang-kadang juga memberikan promosi harga. Selain biaya bulanan, Anda akan dikenakan biaya pemasangan sekitar 60 GBP. Nah, kadang-kadang provider atau customer service memberikan potongan pada biaya pemasangan ini. Setelah harga disepakati dan aplikasi diajukan, kita akan mendapatkan jadwal kapan engineer akan datang untuk memasang internet di rumah kita. Pada masa-masa peak, sekitar bulan Agustus sampai Oktober, antrian jadwal pemasangan internet bisa sampai 2-4 minggu. Jadi, bersiaplah hidup tanpa internet dalam jangka waktu tersebut dan hanya mengandalkan paket data internet yang ada di smartphone saja.

 

Semoga penjelasan kami kali ini dapat membantu Anda dalam menghadapi hari-hari pertama di negeri rantau. Ternyata, tidak se-ribet itu, kan?

Next on: budgeting. Salah satu hal yang cukup bikin deg-degan juga saat memutuskan untuk ikut pasangan sekolah ke luar negeri. Simak artikelnya minggu depan!

Home Away from Home: Akomodasi

Bagaimana kriteria Anda mengenai rumah yang bagus? Rumah yang ada halaman depan dan belakang, ruang keluarga yang lega, garasi, lengkap dengan area untuk menjemur baju? Atau rumah dengan kamar tidur besar, berkamar mandi dalam, dan seluruh lantainya ditutup oleh karpet? Atau mungkin, rumah yang setiap ruangannya ber-AC? Dijamin, Anda tidak akan mendapatkan rumah ber-AC di UK, yang ada adalah rumah-rumah berpemanas ruangan. Indeed, kriteria rumah ideal bagi setiap orang berbeda-beda, pun persepsi rumah yang baik di setiap budaya berbeda. Hal ini juga bisa dirasakan saat mencari dan memilih akomodasi di UK.

Image source: http://nap-wp.s3.amazonaws.com/2014/05/student-housing_2402882b.jpg

Jenis Akomodasi

Terdapat berbagai pilihan akomodasi yang ditawarkan bagi mahasiswa berkeluarga di UK. Beberapa universitas ada yang menawarkan flat atau studio apartment bagi pasangan, meskipun biasanya harga yang ditawarkan cukup mahal dan jumlahnya terbatas. Namun, apabila ingin berhemat dan jumlah anggota keluarga lebih dari dua orang, maka pilihan akomodasi di luar kampus dapat menjadi pilihan. Secara umum, pilihan akomodasi bagi mahasiswa berkeluarga dapat dibagi menjadi tiga, yaitu flat, shared house, dan rumah. Tentunya, pilihan akan tergantung pada kebutuhan Anda karena masing-masing pilihan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Bagi Anda yang baru saja menikah, belum memiliki anak, dan baru memiliki satu anak berusia kurang dari 4 tahun, sepertinya pilihan untuk menyewa flat dapat dipertimbangkan. Flat ini bentuknya seperti apartemen dengan pilihan studio hingga dua kamar. Luasnya memang lebih kecil daripada rumah dan biasanya tidak memiliki halaman. Apabila Anda menginginkan tempat tinggal yang privat dan tidak terlalu repot untuk mengurusnya, flat adalah alternatif yang tepat. Mengapa kami tidak menyarankan pilihan ini untuk keluarga yang lebih besar? Karena memang jumlah kamar dan luasnya yang terbatas. Harga sewa untuk akomodasi jenis ini akan tergantung pada kota tempat Anda akan tinggal nanti. Sebagai gambaran, flat tipe studio atau satu kamar disewakan seharga sekitar 600 GBP di Birmingham.

Pilihan untuk tinggal di shared house juga bisa diberikan kepada Anda yang baru berdua atau memiliki satu anak berusia kurang dari 4 tahun. Namun, kadang-kadang ada juga keluarga dengan anak lebih dari satu yang memilih jenis akomodasi ini. Tinggal di shared house berarti tinggal bersama orang lain di sebuah rumah. Praktik ini cukup umum dilakukan oleh keluarga Indonesia agar dapat meminimalkan jumlah  pengeluaran untuk akomodasi. Mengapa? Karena harga sewa rumah pun dapat dibagi dengan orang-orang yang tinggal bersama kita. Rata-rata rumah yang disewakan untuk mahasiswa berkeluarga di UK memiliki 3-4 kamar. Nah, alokasi kamar pun bisa ditentukan apakah keempat kamar tersebut akan dihuni oleh orang berbeda atau ada satu keluarga yang menghuni 2 kamar dan sisanya dihuni oleh mahasiswa lain. Cukup menarik juga kan, pilihan ini? The drawbacks – bagi Anda yang ingin hidup dengan tingkat privasi yang tinggi, mungkin pilihan ini kurang cocok bagi Anda karena sehari-hari Anda akan bertemu dengan orang lain yang non-keluarga. Selain itu, biasanya rumah di UK hanya memiliki 1 toilet dan 1 kamar mandi di dalamnya. Jadi, mungkin Anda harus pandai mengatur waktu giliran menggunakan kamar mandi. Kisaran harga per kamar untuk menyewa shared house adalah sekitar 300-350 GBP diluar biaya listrik, air, gas, dan internet, tergantung berapa banyak keluarga lain yang akan share dengan anda.

Pilihan terakhir yang menjadi alternatif akomodasi mahasiswa berkeluarga di UK adalah menyewa rumah, sehingga privasi anggota keluarga lebih terjaga. Karena memang menyewa rumah ini kita gunakan sendirian (satu keluarga) saja, maka harga sewa nya berkisar antara 600-750 GBP (belum termasuk bill). Biasanya tedapat halaman depan dan belakang untuk pilihan jenis rumah ini.

Mempertimbangkan Pilihan Akomodasi

Setelah mengetahui jenis akomodasi yang ditawarkan beserta dengan kelebihan dan kekurangannya, terdapat beberapa faktor lain yang juga harus dijadikan bahan pertimbangan saat memilih akomodasi yang akan disewa selama masa studi. Beberapa faktor tersebut adalah akses, harga, dan preferensi.

Akses disini mencakup jarak dari tempat tinggal  dari dan ke tempat lain yang dibutuhkan terutama fasilitas publik, juga terkait dengan moda transportasi apa yang akan lebih banyak dipakai selama di sini. Rumah-rumah di UK pada umumnya memiliki akses yang cukup baik. Terkait hal ini, saran kami adalah cek  terlebih dahulu lokasi rumah yang Anda incar menggunakan Google Maps, bahkan jika diperlukan lihat juga Google street view nya untuk memastikan bentuk dan letak rumah tersebut. Dengan begitu, Anda bisa mengira-ngira jarak tempuh dari rumah ke kampus, halte bus, supermarket, dan sarana penunjang lainnya. Kami menyarankan Anda untuk tidak kaget karena di banyak kota di UK, jarak normal jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain adalah sekitar 15-25 menit. Jadi, sepertinya kecil kemungkinan Anda untuk tinggal di rumah yang jaraknya hanya 5 menit jalan kaki ke kampus (meskipun sebenarnya ada, tetapi kebanyakan harganya jauh lebih mahal). Oleh karena itu, jangan langsung mencoret pilihan akomodasi dengan jarak jalan kaki 15-25 menit dari fasilitas umum.

Apa saja fasilitas umum yang harus dipertimbangkan? Bagi Anda yang memiliki anak usia sekolah (mulai dari usia 3 tahun), maka fasilitas pertama yang harus Anda cek adalah sekolah. Di UK, pemilihan sekolah didasarkan pada kesamaan area dengan tempat tinggal. Biasanya, satu ‘kelurahan’ memiliki 1-2 sekolah dasar dan sekolah menengah. Selain itu, Anda juga perlu mempertimbangkan jarak dari akomodasi ke lingkungan kampus (karena pasangan akan berkuliah), jarak ke supermarket, dan jarak ke halte bus. Kemudahan akses tentunya berbanding lurus dengan harga sewa yang ditawarkan. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih. Bagi anda yang di Indonesia terbiasa menggunakan kendaraan untuk bepergian, kini saatnya ada mengubah mind set untuk mulai membiasakan berjalan kaki di UK.

Faktor kedua yang harus dipertimbangkan adalah harga. Saat mempertimbangkan harga akomodasi, jangan lupa memasukkan hitungan bills (rekening listrik, gas, dan air) dan deposit. Sebagai gambaran, biaya listrik per rumah untuk satu bulan berkisar antara 80-120 GBP (tergantung penggunaan). Kemudian, biaya air yang biasanya dibayarkan per tiga bulan adalah sekitar 15 GBP per bulan. Biaya internet rata-rata perbulan adalah sekitar 25-30 GBP per bulan. Oh ya, sebagai informasi tambahan, instalasi listrik dan gas juga berpengaruh terhadap besaran biaya kedua rekening tersebut. Oleh karena itu, cek juga instalasi listrik dan gas di rumah yang akan dipilih. Bertanya ke penghuni sebelumnya juga bisa dilakukan sehingga tahu besaran biaya lain-lain yang harus dikeluarkan. Selain biaya  utilitas bulanan tersebut, kita juga harus mempertimbangkan jumlah deposit yang diminta. Deposit ini berguna sebagai uang jaminan yang akan dikembalikan (sesuai dengan kondisi pemakaian) pada akhir masa sewa. Kadang-kadang, deposit kita bisa dipotong apabila rumah yang kita sewa kotor, ada bagian yang rusak, atau tidak sesuai dengan kondisi pada saat akomodasi tersebut baru kita tempati. Besaran deposit sendiri tergantung pada kebijakan agent atau landlord. Namun, rata-rata kami harus membayar sebesar harga 1 bulan sewa dan bahkan banyak juga yang ditetapkan lebih besar dari jumlah sewa sebulan. Ada beberapa agent atau landlord yang meminta deposit tambahan apabila Anda membawa keluarga dengan jumlah anak yang banyak.

Faktor selanjutnya adalah preferensi. Preferensi disini maksudnya adalah standar masing-masing keluarga mengenai sebuah rumah. Seperti yang telah disebutkan di atas, konsep rumah ideal masing-masing orang berbeda dan rumah di UK memiliki standar yang berbeda dengan rumah di Indonesia. Biasanya, hal yang juga dilihat saat viewing rumah adalah tingkat kebersihan, taman, lingkungan tempat tinggal, pencahayaan, air, ukuran kamar atau ruangan, dan kelembaban rumah. Nah, mengenai kelembaban ini juga perlu diperhatikan karena kebanyakan rumah di UK cenderung lembab. Hal ini menyebabkan jamur yang membandel dan terkadang sulit dibersihkan sehingga rumah cenderung kotor. Selain itu, furnitur di dalam rumah juga perlu dicek. Ada rumah-rumah yang sudah modern berikut furniturenya, ada pula rumah tua dengan barang-barang yang cenderung sudah tua, dan ada juga rumah yang partly furnished atau unfurnished. Tentunya, hal tersebut akan mempengaruhi harga sewa dan deposit. Rumah unfurnished akan lebih murah dengan deposit yang lebih rendah juga. Sayangnya, dengan memilih rumah seperti ini, berarti kita juga harus melengkapi isi rumah dengan membeli sendiri furnitur yang diperlukan, jadi jangan lupa untuk mengalokasikan tambahan pengeluaran untuk pos ini. Akan tetapi, jika Anda tetap tertarik dengan rumah jenis ini, tenang saja karena Anda tidak perlu membeli furnitur yang semuanya baru. Banyak sekali charity shop yang menawarkan furnitur bekas dengan kondisi yang masih sangat layak pakai.

Agen Properti dan Landlord

Terdapat dua jenis cara menyewa akomodasi yang dikenal secara umum. Kita bisa menyewa dan mencari akomodasi melalui agen properti atau langsung melalui pemilik akomodasi (landlord). Pada dasarnya, kedua cara tersebut sama saja. Namun, beberapa hal ini dapat dipertimbangkan ketika memilih untuk menyewa melalui agen atau langsung ke pemilik rumah.

Terdapat banyak sekali jenis agen properti yang ada di berbagai kota di UK. Agen-agen ini memiliki website sendiri dan kita dapat melihat properti yang ditawarkan melalui website mereka. Agen properti berfungsi sebagai penyambung antara pihak penyewa dengan pemilik akomodasi. Apa saja keuntungan yang didapat ketika menyewa akomodasi melalui agen? Kita tidak perlu repot mengurus ini-itu dan tinggal ‘tau beres’. Masalah-masalah mengenai akomodasi dapat dilaporkan ke agen properti dan biasanya mereka akan merespon dalam waktu yang relatif cepat (ya, kecuali beberapa agen yang sudah terkenal lambat dalam merespons). Namun, tentunya kemudahan ini berbanding dengan service fee yang diminta oleh agen. Biasanya, agen properti mengenakan administration fee pada saat kita menyewa akomodasi dalam listing mereka. Besar administration fee berbeda-beda masing-masing agen, tetapi biasanya berkisar antara 200-400 GBP. Selain itu, tawar-menawar harga sewa pun cenderung terbatas karena kita tidak bisa langsung menawar kepada si pemilik akomodasi.

Cara kedua dalam menyewa akomodasi adalah langsung melalui landlord atau pemilik akomodasi. Cara ini mungkin lebih familiar bagi orang Indonesia karena terasa lebih kekeluargaan. Tidak-adanya perantara membuat proses tawar-menawar harga terasa lebih mudah. Tentunya, pilihan ini juga bebas dari biaya administrasi yang dikenakan oleh agen. Wah, berarti lebih enak ya, dibandingkan dengan menyewa melalui agen? Well, tergantung. Tidak seperti agen yang memiliki waktu respon yang cepat dan SOP penanganan masalah yang sudah saklek, landlord biasanya lebih fleksibel. Jadi, masalah-masalah berhubungan dengan akomodasi tidak selalu dengan cepat ditangani, tergantung dengan ketersediaan waktu pemilik akomodasi untuk mengurusinya.

Lalu, pilihan mana yang paling baik? Jawabannya ya tergantung preferensi Anda. Selain itu, cobalah hubungi dan berkomunikasi dengan agen atau landlord akomodasi yang Anda pertimbangkan. Membaca review dan bertanya kepada orang-orang yang menyewa rumah tersebut sebelumnya juga menjadi cara yang baik untuk mengetahui kelayakan dan kesesuaian akomodasi dengan Anda.

Mencari dan Menyewa Akomodasi

Ada banyak cara untuk mencari akomodasi di UK. Beberapa situs populer pencarian akomodasi adalah http://www.rightmove.co.uk/ dan http://www.zoopla.co.uk/. Dari kedua situs tersebut, biasanya ada banyak sekali jenis tempat tinggal yang ditawarkan. Kita juga dapat menghubungi pemilik tempat tinggal atau agen properti yang menangani tempat tinggal tersebut. Jangan lupa, kita juga bisa menggunakan filter untuk menyaring pilihan akomodasi sehingga sesuai dengan budget, kebutuhan, dan pilihan kita. Selain melalui situs pencarian, kita juga bisa bertanya kepada warga Indonesia yang telah menetap/tinggal di kota tujuan. Biasanya, tempat tinggal warga Indonesia bersifat turun-temurun. Jadi, setelah masa sewa seorang mahasiswa berakhir dan ia akan pulang ke Indonesia, maka biasanya tempat tinggalnya di-take oleh orang Indonesia lainnya. Memilih tempat tinggal ‘bekas’ orang Indonesia memiliki banyak keuntungan, diantaranya standar kebersihan dan kelayakan rumah yang sudah cukup terjamin, harga sewa sesuai dengan kantong, dan bagi yang memiliki anak, biasanya lokasi sekolah berada di dalam jangkauan tempat tinggal.

Proses pencarian hingga menyewa akomodasi di UK biasanya terdiri dari beberapa tahap. Pertama, kita harus menghubungi agen properti atau landlord untuk menanyakan lebih lanjut mengenai akomodasi yang ditawarkan. Biasanya, dari proses ini kita dapat mengetahui juga kecepatan respon agen properti atau landlord sebagai referensi apakah mereka cukup trustworthy atau tidak. Tahap berikutnya adalah viewing. Sebetulnya tahap ini tidak terlalu wajib. Namun, tidak ada salahnya apabila kita (atau orang lain yang dimintai tolong) melihat secara langsung wujud akomodasi yang ditawarkan. Foto di internet terkadang bisa saja tidak sesuai aslinya, kan? Setelah melihat ‘calon’ tempat tinggal, kita dapat memutuskan apakah cocok dengan kebutuhan kita atau tidak. Apabila cocok, maka kita dapat menghubungi agen properti atau landlord dan mereka kemudian akan membuat kontrak sewa akomodasi. Pada tahap ini, biasanya mereka meminta kita untuk membayar administration fee dan booking fee. Apa itu booking fee? Intinya sih seperti tanda jadi bahwa kita akan menyewa akomodasi tersebut dan kemudian iklan akomodasi di internet akan dicabut. Booking fee ini akan dihitung sebagai bagian dari uang sewa bulan pertama. Apabila kita menyewa akomodasi melalui agen properti, biasanya mereka pun meminta jaminan tertentu. Biasanya, kita diminta untuk mengirimkan scan pasport, bukti rekening atau bukti surat sponsor dari pemberi beasiswa, dan slip gaji penjamin. Siapakah  yang bisa dijadikan sebagai penjamin tersebut? Bisa siapa saja, baik teman dekat atau keluarga, yang masih bekerja. Setelah seluruh dokumen lengkap, biasanya satu bulan sebelum kedatangan, kita diminta untuk mentransfer uang deposit dan uang sewa bulan pertama sehingga kita bisa langsung masuk ke akomodasi tersebut pada saat kedatangan. Bagaimana halnya dengan orang-orang yang mencari akomodasi setelah tiba di UK? Prosesnya kira-kira sama, hanya saja uang deposit, administration fee, dan uang sewa bulan pertama akan dibayarkan pada saat yang bersamaan.

Jadi, kapan kita harus mulai mencari dan menyewa akomodasi? Lagi-lagi, semua tergantung kenyamanan pribadi. Ada orang-orang yang memilih untuk tiba dulu di UK, menumpang tinggal di rumah warga Indonesia yang ada di sini sembari mencari akomodasi.  Tentunya, sebelumnya mereka juga sudah memantau perkembangan penawaran akomodasi melalui internet sebelum mendatangi agen properti yang ada di kota-kota di UK. Keuntungan ketika kita memilih opsi ini adalah dapat dengan mudah melakukan negosiasi harga, dapat langsung viewing tempat tinggal, dan dapat membandingkan langsung pilihan tempat tinggal yang ada. Namun, ada beberapa orang yang merasa kurang nyaman apabila masih harus menumpang tinggal di rumah orang lain (yang bisa jadi mengakibatkan kita memilih akomodasi apa saja yang tersedia pada saat itu tanpa sempat mempertimbangkan hal-hal lain) dan terkadang pilihan yang ada pun terbatas karena sudah banyak akomodasi yang di-book oleh orang lain. Sebagai gambaran, pencarian rumah yang disewakan bagi mahasiswa berkeluarga sudah mulai marak di bulan April hingga Mei. Oleh karena itu, apabila kita baru mencari akomodasi di bulan September, maka pilihan pun lebih sedikit. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang memilih untuk menyewa akomodasi terlebih dahulu saat di Indonesia sehingga ketika tiba di UK mereka dapat langsung menuju tempat tinggal pilihan. Tentunya, pilihan ini bisa dilakukan walaupun kita akan sedikit kesulitan dalam berhubungan dengan agen properti (karena hanya melalui email) dan dalam mentransfer deposit, administration fee, dan booking fee. Selain itu, kita juga tidak bisa melihat langsung akomodasi sebelum ketibaan kita di UK. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan meminta tolong warga Indonesia yang sudah ada di kota tujuan untuk melakukan viewing. Namun, dengan sudah beresnya persoalan sewa-menyewa akomodasi ini sedari kita masih di Indonesia, kita bisa memperoleh manfaat, misalnya, urusan visa akan lebih mudah karena kita sudah memiliki bukti kontrak tempat tinggal yang valid. Bukti ini akan menambah keyakinan pihak imigrasi Inggris dalam memberikan izin tinggal untuk kita. Selain itu, kita juga bisa lebih santai saat kedatangan karena sudah memiliki tujuan tempat tinggal yang jelas.

 

Setelah penuh dengan pertimbangan menentukan pilihan akomodasi tetapi pada akhirnya Anda memperoleh rumah tinggal yang mungkin kurang sreg di hati, yaa santai saja, tetaplah bersyukur karena sudah memiliki tempat tinggal, karena memang perkara mencari rumah ini gampang-gampang susah dan bergantung kepada kecocokan masing-masing. Dengan tulisan di atas, kami berharap agar minimal dapat sedikit memberikan pencerahan untuk anda yang akan berburu akomodasi di UK. Happy hunting rumah yaa!

Home Away from Home: Mari Bersiap!

 

Setelah izin tinggal di UK sudah didapatkan (atau ketika proses menunggu keputusan visa), hal yang bisa kita lakukan adalah mulai mempersiapkan kepindahan kita ke negeri Ratu Elizabeth.  Kok kesannya ini serius banget ya? Indeed, bayangan tinggal di negeri orang bisa jadi ‘menyeramkan’. Bagi yang pernah merantau, pasti ada ekspektasi tertentu terhadap kepindahan ke tempat baru. Berpindah untuk tinggal di tempat yang baru jelas tidaklah sama seperti ketika kita pergi berwisata satu atau dua minggu, ini hitungannya bulan bahkan tahunan. Tinggal di tempat yang asing secara alami akan meningkatkan antisipasi kita dalam bersiap diri. Artikel Home Away from Home kali ini akan membahas mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan kita ke UK.

 

Tiket Transportasi

Dimana pun Anda akan tinggal nantinya di UK, pesawat adalah moda transportasi utama untuk mencapai UK. Banyak sekali maskapai penerbangan yang menyediakan jasa dan tentunya menawarkan harga terbaik untuk membawa Anda terbang dari Indonesia (biasanya Jakarta) ke UK. Hal apa yang harus diperhatikan dalam memilih dan membeli tiket transportasi?

Pertama, Anda harus mempertimbangkan kota tempat Anda akan tinggal nantinya. Apabila Anda akan berdomisili di kota-kota besar seperti London, Birmingham, Manchester, atau Edinburgh, maka beberapa maskapai penerbangan memiliki rute penerbangan ke kota-kota tersebut dengan satu kali atau tanpa transit. Lain halnya apabila Anda akan tinggal di kota yang tidak sebesar daerah yang kami sebutkan di atas. Berbagai maskapai menawarkan jasa transit pesawat hingga mencapai bandara di kota tujuan Anda karena sebagian besar kota di Inggris Raya memiliki bandara lokal masing-masing. Misalnya, Anda bisa saja membeli tiket pesawat dari Jakarta (Soekarno-Hatta International Airport) menuju Leeds (Leeds Bradford Airport) dengan opsi transit di Amsterdam dan London. Hanya saja, biasanya pilihan untuk membeli tiket pesawat hingga ke kota (kecil) tujuan Anda akan menghabiskan biaya yang besar, jauh lebih besar daripada apabila Anda membeli tiket pesawat ke kota besar di UK. Lalu, bagaimana solusinya? Pilihlah kota besar terdekat dari kota tujuan Anda. Dulu, Izza pernah berkuliah di Hull, sebuah kota yang hanya memiliki bandara kecil. Oleh karena itu, ia memilih penerbangan dari Jakarta ke Manchester, yang merupakan kota besar terdekat dari Hull. Setelah itu, ia naik kereta sampai Hull. Kota-kota di UK memiliki jaringan kereta api yang sangat baik. Oleh karena itu, moda yang paling murah dan dapat diandalkan adalah kereta. Biaya tiket kereta akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dan kami menyarankan Anda untuk membeli tiket kereta online dari Indonesia. Jangan lupa untuk memperhitungkan waktu delay, antrian imigrasi, dan pengambilan bagasi saat memesan tiket kereta, ya! Selain itu, coba cari tahu mengenai international arrival day universitas tujuan pasangan Anda. Pada international arrival day, biasanya pihak international office menyediakan jasa transfer transportasi (bus) yang akan membawa Anda dari bandara besar terdekat dari kota tempat universitas berada ke universitas tersebut. Fasilitas ini gratis, loh!

Ada baiknya juga jika anda sudah memiliki kenalan di kota atau universitas yang dituju, meminta tolong untuk penjemputan di bandara dapat menjadi solusi bagi anda yang tidak atau belum pede untuk bepergian sendiri di negeri orang. Alternatif lainnya, terkadang juga ada PPI setempat yang memiliki program penjemputan bagi mahasiswa baru di bandara.

Kedua, datanglah ke kantor resmi maskapai penerbangan untuk mendapatkan harga terbaik. Ada beasiswa tertentu yang memiliki agen wisata yang mengatur tiket dan keberangkatan para penerima beasiswa. Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku bagi keluarga si penerima beasiswa. Oleh karena itu, sebagai dependant, kita harus berburu tiket sendiri. Agar dapat membeli tiket penerbangan yang sama dengan pasangan, jangan lupa catat nomor penerbangan dan jadwal penerbangan pasangan ya! Setelah itu, datanglah ke kantor resmi maskapai penerbangan yang dituju. Beberapa maskapai yang seringkali digunakan oleh mahasiswa Indonesia untuk pergi ke UK adalah Garuda Indonesia, Qatar Airways, Emirates, dan Etihad. Biasanya, harga tiket maskapai-maskapai tersebut tidak jauh berbeda. Lalu, apa yang beda? Promosi harga dan fasilitas. Beberapa maskapai penerbangan memberikan potongan harga (biasanya 10%) bagi mahasiswa. Ada juga maskapai yang memberikan fasilitas tambahan baggage allowance bagi mahasiswa. Intinya, pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Ketiga, apabila Anda membawa anak (terutama anak di bawah usia 5 tahun), maka kami juga menyarankan Anda untuk memperhatikan lama transit penerbangan. Kebanyakan maskapai penerbangan tidak menyediakan direct flight dari Jakarta ke UK, kecuali Garuda Indonesia untuk penerbangan Jakarta-London. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan waktu transit. Biasanya, semakin lama kita harus transit di suatu bandara, maka semakin murah juga harga tiket yang ditawarkan. Masalahnya, ketika membawa anak kecil, tidak semua bandara memiliki fasilitas yang cukup dan memberikan kenyamanan bagi anak-anak. Kebanyakan maskapai penerbangan Timur Tengah akan transit di suatu tempat sekitar tengah malam. Sayangnya, tidak semua bandara tempat transit menyediakan fasilitas yang cukup saat tengah malam. Pilihlah penerbangan dengan waktu transit yang paling nyaman bagi Anda dan keluarga. Berdasarkan pengalaman Alif, maskapai Emirates memiliki jadwal penerbangan yang waktu transitnya hanya 3 jam dan tiba pada siang hari di Dubai International Airport, mungkin ini bisa menjadi alternatif pilihan.

Selain durasi transit, hal yang juga perlu diperhatikan adalah mengenai waktu kedatangan Anda di kota tujuan. Memilih waktu kedatangan yang sesuai sangat penting karena pastinya Anda tidak mau datang terlalu larut malam atau terlalu pagi sehingga harus menunggu dulu di bandara karena minimnya transportasi. Sepertinya, membeli tiket pesawat dengan waktu kedatangan antara pukul 10.00-16.00 dapat dipertimbangkan. Ingat, kita akan tiba di sebuah kota di negara lain yang sangat jauh berbeda dari Indonesia.

 

Merencanakan Barang-Barang Bawaan

Tipikal orang Indonesia, pergi dekat dan sebentar saja persiapannya seperti akan perang. Berakhir pekan ke Puncak saja harus membawa panci, rice cooker, dan berbagai alat dapur dan bahan makanan. Padahal, perjalanan tersebut hanya dua hari dan banyak pula toko-toko yang menjual makanan. Bagaimana jadinya ketika kita harus pindah ke negeri antah berantah? Disinilah kami merasa sedih karena tertampar realita bahwa kami tidak akan berjumpa warung padang semudah di Indonesia atau makan Indomie seharga 3000 rupiah (tanpa perlu masak pula). Mulai terbayang lah pahit-pahitnya merantau ke luar negeri. Rasanya, kalau bisa sih semua barang ingin dibawa, bahkan mungkin se-warung-warung Padangnya, hihihi. Sayangnya, membawa semua barang hanya sebatas angan-angan.

Terbatasnya baggage allowance membuat kita harus mau (padahal tidak mau) menentukan prioritas barang apa saja yang harus dibawa ke UK. Hal ini berkaitan dengan ketentuan maskapai penerbangan. Oleh karena itu, cek kembali informasi mengenai hal tersebut. Beberapa maskapai juga memiliki peraturan tidak hanya tentang berat koper Anda, tetapi juga tentang jumlah koper Anda. Apabila Anda belum memiliki koper, kami menyarankan Anda untuk mencari koper dengan berat kosong yang ringan. Dengan begitu, Anda bisa memaksimalkan berat barang bawaan Anda. Selain itu, pilihlah koper yang ergonomis sehingga mudah Anda bawa.

Mengenai jumlah barang bawaan, kami menyarankan Anda untuk mengira-ngira barang yang bisa Anda bawa tanpa bantuan orang lain. Mengapa? Karena disini tidak ada porter, cuy! Semua tugas angkat-mengangkat koper harus dilakukan sendiri. Hal ini terutama penting bagi Anda yang akan melanjutkan perjalanan ke kota tujuan dengan moda transportasi lain, seperti kereta. Yak, waktu berhenti kereta di setiap stasiun sangat terbatas sehingga Anda juga harus mengira-ngira waktu pengangkutan barang bawaan Anda. Dua kali Izza merantau ke Inggris, dua kali pula ia berangkat hanya dengan sebuah koper besar dan ransel. Seluruh barang-barang berat dimasukkan ke dalam koper besar sehingga ranselnya hanya berisi dokumen penting, laptop, dan berbagai hal esensial seperti jaket, charger, handphone, dan buku. Sama halnya dengan Alif, ia dan suami masing-masing hanya membawa 1 koper besar dan 1 tas ransel, dimana koper lebih banyak diisi bahan makanan, baju dan barang berat lainnya, sementara ransel lebih diprioritaskan untuk laptop, dokumen penting, dan barang yang sifatnya mungkin akan dibutuhkan selama perjalanan atau saat transit. Beberapa orang juga menyarankan membawa baju ganti untuk persiapan apabila ada hal tidak diinginkan yang terjadi (misalnya koper tertinggal di suatu tempat atau delay penerbangan untuk waktu yang cukup lama).

Kemudian, untuk memaksimalkan tempat di koper Anda, ada teknologi yang bernama vacuum bag. Si tas plastik vakum ini dapat digunakan untuk menipiskan pakaian-pakaian Anda di dalam koper. Dengan begitu, akan ada lebih banyak tempat untuk membawa lebih banyak barang. Namun, harus diingat bahwa vacuum bag berfungsi untuk memperkecil ruang yang dibutuhkan, dan bukan untuk meminimalkan berat barang bawaan.

Dengan mempertimbangkan berbagai hal diatas, dapat disimpulkan bahwa memang kita harus menentukan prioritas barang-barang yang akan dibawa. Apa sih yang penting untuk dibawa dari Indonesia ke UK? Harus bawa pakaian selemari? Sepatu satu rak? Atau makanan satu kulkas? Hehehe.. Tentu saja tidak, yuk simak penjelasannya satu-persatu.

 

Barang Bawaan

Pakaian

Jenis barang bawaan pertama yang perlu dipertimbangkan adalah pakaian. Well, dalam hal ini mencakup sepatu, tas, dan berbagai pernak-pernik pakaian lainnya ya. Anggapan bahwa kita perlu mempersiapkan diri untuk tinggal di negeri 4 musim membuat banyak orang berpikir bahwa kita harus membawa peralatan perang untuk menghadapi keempat musim tersebut. Kenyataannya? Tidak. Sebagian besar masa studi di UK akan dimulai pada bulan September. Bulan September ini masuk ke dalam musim gugur. Biasanya, temperatur memang sudah cukup dingin, tapi tidak sedingin itu juga. Suhu kira-kira berkisar antara 10-18 derajat Celcius, tergantung dimana Anda menetap. Waduuuh dingin sekali ya? Bagi perantau yang baru tiba, memang cuaca terasa sangat dingin. Namun, percayalah pada kehebatan kemampuan adaptasi manusia, sehingga kira-kira seminggu atau dua minggu setelah tiba, pasti kita telah dapat beradaptasi dengan suhu lingkungan. Jadi, kami rasa tidak perlu bersiap terlalu heboh dengan membawa banyak jaket tebal musim dingin atau sepatu boot. Instead, bawalah jaket yang cukup hangat, tahan air, dan dilengkapi dengan penutup kepala karena di UK sering hujan. Selain itu, biasanya orang Indonesia juga membekali diri dengan long john atau yang disini populer disebut dengan thermal. Set pakaian (atas-bawah) ini adalah pakaian dalam hangat yang digunakan untuk mempertebal lapisan pakaian pada saat musim dingin. Gosip-gosipnya, long john yang dijual di Indonesia memiliki kualitas yang lebih bagus dan lebih hangat. Kedua barang esensial untuk menghadapi cuaca dingin tersebut dapat dijumpai di factory outlet yang banyak ada di Bandung dan Bogor. Harganya? Tentu tergantung dengan budget yang dimiliki untuk jaket. Untuk long john, harganya berkisar antara IDR 80.000 (kalau dapat diskon) hingga 160.000 per set. Anda tidak perlu membeli 5 set long john untuk satu orang karena berdasarkan pengalaman kami, 2 set untuk satu orang pun sudah cukup untuk bersiap karena Anda bisa membeli thermal juga disini. Untuk wilayah Jakarta, long john dengan kualitas bagus bisa dibeli di Mangga Dua dengan harga 1 set tidak sampai IDR 100.000. Untuk thermal yang hangat tetapi bahannya tipis, heat-tech dengan desain yang beragam dan merupakan produk dengan teknologi Jepang mungkin bisa menjadi pilihan anda, soal harga memang lebih mahal jika dibandingkan long-john.

Selain persiapan dingin-dinginan, kita juga perlu mempersiapkan pakaian yang merupakan kebutuhan dasar. Basic wear. Biasanya, daftarnya terdiri dari pakaian dalam, celana panjang, rok, kaos, kemeja, blus, lalalalala… Banyak yaa ternyataa! Saran kami, cobalah membawa masing-masing satu item jenis pakaian dasar dan melakukan mix and match dari item pakaian yang direncanakan untuk dibawa. Dengan begitu, Anda tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian. Percayalah, pasti nanti kita tergoda untuk membeli pakaian di UK. Jadi, bawa yang basic saja. Salah satu hal yang menjadi indikator utama dari pakaian yang dibawa adalah kenyamanan. Pilih pakaian Anda yang nyaman. Berapa jumlah pakaian yang harus dibawa? Tergantung. Bagi keluarga yang sudah pasti akan mencari akomodasi dengan mesin cuci in-house, 10 pasang pakaian sudah sangat cukup. Toh nanti, kita bisa mencuci kan?

Lalu, perintilan. Terkadang kita menganggap perintilan ini hal remeh, tetapi sebenarnya perintilan ini esensial. Pertama, sepatu! Pakailah (dan bawalah) sepatu yang nyaman digunakan berjalan jauh. Kebiasaan di UK adalah berjalan kaki kemana-mana. Selain karena biaya transportasi cukup mahal, pemandangan di sepanjang jalannya pun sayang untuk dilewatkan. Oleh karena itu, pilihlah alas kaki yang nyaman untuk dipakai berjalan. Pilih juga kaos kaki dengan bahan yang nyaman dan menyerap keringat. Perintilan lainnya mencakup jilbab (bagi yang berjilbab), bergo (bagi yang berjilbab, senjata ini cukup penting karena disini tidak ada yang jualan jilbab instan praktis dengan harga semurah di Indonesia), baju tidur, pakaian dalam (jumlahnya disesuaikan, sekali lagi jangan lupa bahwa kita bisa mencuci baju ya, disini!), tas, dan aksesoris. Silahkan tentukan sesuai dengan kebutuhan.

Berdasarkan pengalaman Izza, membawa kurang dari 10 pasang pakaian sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada saat berangkat, ia membawa 6 bawahan (rok dan celana) dan 6 atasan (kemeja, kaos, dan batik! Batik harus dibawa ya!) serta 3 cardigan. Selain itu, ia juga bersiap dengan jaket dan coat tipis. Karena ia pernah tinggal di UK sebelumnya, ia pun membawa jaket tebal musim dingin. Ini sebenarnya tidak esensial karena bisa membeli di UK nantinya, tetapi kalau bisa menghemat uang kenapa tidak? Bagi Anda yang belum memiliki  jaket musim dingin, kisaran harga jaket di Indonesia adalah IDR 800.000 – 1.500.000. Harga di UK bisa jadi lebih murah daripada harga di Indonesia. Oleh karena itu, tidak usah ngoyo membeli jaket musim dingin di Indonesia ya. Selain itu, Izza juga membawa jilbab sesuai kebutuhan, satu bergo, satu syal, pakaian dalam, dua tas (tas selempang dan handbag selain dari ransel yang dipakai), satu flat shoes (selain sepatu olah raga yang digunakan), dua atasan long john, dan dua set baju tidur (yang bawahannya berupa legging sehingga bisa digunakan sebagai bawahan long john juga. Berbekal pengalaman pernah tinggal di Jepang yang juga negara empat musim, Alif pun menyarankan untuk tidak lupa membawa atasan dan bawahan bernuansa netral seperti hitam, cream, jeans, yang nantinya bisa di padu padankan dengan warna lain. Karena memakai jilbab dan juga menyadari nanti akan sulit mencari jilbab di UK, maka Alif lebih senang untuk membawa khimar dengan banyak pilihan warna. Batik, celana training (yang bisa difungsikan juga untuk baju tidur), jaket tipis, dua set long john, mukena, sarung (untuk pria) dan sajadah pun tak ketinggalan masuk ke dalam koper. Satu buah sneaker, sepasang sendal, satu tas ransel dan satu slingbag cukup sebagai pelengkap. Itu bawaan basic nya ya, kalau masih banyak space di koper, anda bisa menambahkan outfit lain sesuai karakter dan kebutuhan anda. Selebihnya bisa dibeli di UK dengan pilihan yang lebih variatif.

Makanan

Berkebalikan dengan pakaian yang harus bawa yang penting-penting saja, kami menyarankan Anda untuk membawa peralatan perang untuk memasak. Bumbu-bumbu dasar dan rempah khas Indonesia mungkin perlu dipertimbangkan untuk dibawa. Bukan, bukan karena disini tidak ada yang menjual, tapi karena jarang ada di pasaran dan harganya yang lebih mahal. Biasanya, warga Indonesia yang pindah ke UK membawa bumbu instan (sesuai kebutuhan dan selera), terasi kemasan (sesuai kebutuhan dan selera, siapa tau ada yang tidak suka terasi), daun-daunan yang sudah dikeringkan atau dibekukan (daun salam, daun jeruk, daun pisang, daun pandan), gula jawa, asam, temu kunci, kecap manis (kecap favorit, karena di UK yang umum dijumpai adalah kecap ABC), sambal merek favorit keluarga, bumbu pecel, dan petis (bagi yang suka masakan jawa timuran). Lagi-lagi, semua disesuaikan dengan selera keluarga masing-masing ya. Untuk anda yang hobi memasak kue atau cake, bahan pengembang kue seperti SP atau TBM ovalet rasanya juga perlu untuk dibawa.

Selain bumbu-bumbu, siapkanlah perbekalan makanan instan untuk survive pada hari-hari pertama Anda tinggal di UK. Pengalaman banyak keluarga disini, beberapa hari pertama memang digunakan untuk beradaptasi, mengenal tempat-tempat belanja, dan membeli barang kebutuhan dapur. Oleh karena itu, bahan makanan praktis sangat dibutuhkan, seperti mie instan, rendang instan (atau yang sudah jadi), lauk kering (kering tempe, kering kentang,  serundeng, abon), dan nasi instan.

Beberapa keluarga juga membawa rice cooker dan alat rebus mie instan dari Indonesia. Manfaat utama dari kedua alat tersebut adalah untuk survive di masa awal. Suami Alif juga membawa rice cooker kecil pada saat kedatangan pertama ke UK. Menanak nasi dengan rice cooker dari Indonesia dirasa lebih praktis dibanding rice cooker yang ada di UK. Selain itu, membawa rice cooker kecil perlu dipertimbangkan, terutama bagi keluarga dengan jumlah anak lebih dari satu karena biasanya, pada saat travelling nanti, rice cooker ini bisa dibawa untuk mengamankan kebutuhan logistik, hehe. Tapi tenang saja, kalau tidak mau membawa barang-barang tersebut, di UK ada yang jual, kok!

Oh iya, bagi anda yang hobi minum teh dan kopi terlebih bagi yang fanatik dengan brand tertentu dari  Indonesia, sangat disarankan untuk dibawa. Menemukan teh dan kopi dengan citarasa seenak di Indonesia sangat sulit di UK, kalaupun ada pastilah harganya berlipat. Tetapi jika anda tidak sempat membawa, ada beberapa toko online yang menjual teh dari Indonesia tersebut.

Obat-obatan

Jika ditanya, tentu tidak ada yang memilih untuk sakit kan, apalagi di negeri orang begini.. Tetapi sebagai persiapan, membawa obat-obatan sangat disarankan ketika kita akan merantau ke luar negeri. Alasan utama karena biasanya kecocokan dengan obat tertentu, apalagi jika anggota keluarga ada yang memiliki jenis penyakit tertentu. Memang benar, di UK, untuk mendapatkan obat-obatan yang ‘klop’ dengan kita bukanlah hal yang mudah. Paracetamol, panadol, atau antibiotik mungkin cukup gampang dicari, tetapi sebut saja Minyak Kayu Putih, Minyak Telon (jika membawa balita), minyak tawon, dan segala macam minyak angin lainnya lebih baik dibawa dari Indonesia. Obat masuk angin dan obat diare seperti tolak angin, norit, diatabs juga perlu dibawa. Selain itu yang biasa minum madu dan propolis juga bisa menjadi pilihan. Oh iya, berhubung di UK kita akan lebih banyak berjalan-kaki, maka membawa cream pereda nyeri otot maupun koyo untuk menghilangkan pegal-pegal akan sangat membantu. Obat lain sesuai dengan penyakit yang sedang diderita anggota keluargapun sebaiknya dibawa kesini.

Toiletries

Hal kecil yang sering dianggap remeh temeh tetapi sebenarnya kita perlukan adalah toiletries. Peralatan mandi dan kosmetik dasar perlu kita masukkan dalam list barang bawaan kali ini. Basic toiletries seperti sabun mandi, sabun cuci muka, shampoo, sikat dan pasta gigi setidaknya kita siapkan untuk kebutuhan beberapa hari pertama, untuk berjaga-jaga jika kita tidak langsung sempat membelinya sesampainya di tanah rantau. Terlebih lagi jika membawa balita, seringkali kulitnya masih sensitif dan hanya cocok dengan brand produk bayi tertentu, maka hal ini juga perlu lebih diperhatikan. Jangan lupa untuk membawa serta handuk. Pilihlah toiletries dalam kemasan berukuran kecil saja, agar tidak terlalu menambah berat barang bawaan. Sebaiknya dibungkus dulu dengan plastik untuk berjaga-jaga jika bocor agar tidak mengotori isi koper yang lain. Apabila toiletries nya disengaja akan ditaruh di dalam koper atau tas kabin, jangan lupa untuk membawa toiletries yang masing-masing item nya maksimal 100 ml saja ya, dan botol-botolnya dimasukkan ke dalam plastik ziploc yang transparan, agar memudahkan saat pemeriksaan di bandara menjelang boarding.

Dokumen

Paspor dan Visa adalah dokumen utama yang wajib dibawa ketika bepergian ke luar negeri yaaa. Selebihnya, untuk berjaga-jaga sebaiknya dokumen-dokumen penting dari Indonesia dibawa ke UK dalam bentuk foto kopi. Misalnya Kartu keluarga dan akta nikah yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan sertifikat tes TB. Apabila diperlukan, ijasah pendidikan terakhir dapat disertakan, siapa tau selama tinggal di UK berkeinginan ikut kursus atau mencari pekerjaan yang mensyaratkan ijasah kita. Untuk pasangan yang melanjutkan studi, dokumen CAS juga penting untuk dibawa. Jangan lupa untuk membiasakan men-scan seluruh dokumen penting tersebut dan menyimpannya di hardisk atau di media penyimpanan seperti Google Drive, Dropbox, dsb. Sehingga kita merasa lebih nyaman karena dokumen digital tersebut dapat kita unduh dimanapun dan kapanpun kita memerlukannya.

Uang/ Keuangan

Karena akan tinggal dalam waktu yang cukup lama di luar negeri, tentu saja kita akan memerlukan rekening bank untuk memudahkan transaksi dan kelancaran keuangan. Untuk itu, sebaiknya bukalah rekening di bank lokal sesampainya di UK. Tidak disarankan untuk membuka rekening di Indonesia, karena nanti kita akan terbebani dengan biaya (fee) untuk tiap transaksi di UK. Selain itu, seringkali terjadi ketika akan mentransfer uang dari rekening di Indonesia, prosesnya kadang tertunda untuk beberapa waktu karena tidak langsung nge-link dengan bank yang ada di luar negeri.

Masing-masing pemberi beasiswa memiliki kebijakan dalam hal pencairan allowance bagi penerimanya, ada yang rutin setiap bulan, ada yang setiap 3 bulanan, dan bahkan ada yang dalam prakteknya tidak teratur atau mundur sangat lama dari yang diberitahukan sebelumnya. Untuk mengantisipasi hal semacam ini maka sebaiknya kita persiapkan uang cash sebagai persediaan selama beberapa minggu pertama di UK. Sebelum berangkat, pastikan untuk menukarkan rupiah (IDR) kita ke pound sterling (GBP), sehingga dapat segera digunakan sesampainya kita di sini, misalnya untuk membeli tiket bus atau kereta dari airport dan membeli kebutuhan primer pada saat settlement. Berapa jumlah uang cash yang harus dibawa pada saat berangkat? Tentu tergantung dengan kebutuhan. Namun, cukup aman apabila Anda membawa uang sekitar 500 GBP. Hanya 500? Hal ini kami sarankan untuk alasan keamanan karena membawa uang lebih dari jumlah tersebut cukup beresiko. Selain itu, Anda juga bisa mengambil uang di mesin ATM dengan menggunakan kartu ATM Indonesia Anda. Silahkan cek ke bank masing-masing mengenai hal ini. Biaya yang dikenakan saat pengambilan GBP dari rekening Indonesia biasanya sekitar Rp 25.000.

 

Komunikasi dengan Warga Indonesia  

Karena jumlah orang Indonesia yang melanjutkan studi ke UK cukup besar, maka tidak ada salahnya kita sebagai pendatang baru berinisiatif menghubungi pelajar Indonesia yang sudah berdomisili di UK dan biasanya juga sudah spesifik menurut kesamaan universitas yang dituju. Ya, menghubungi rekan pelajar atau warga Indonesia di UK jelas akan memberikan benefit lebih bagi yang baru akan berangkat. Berbagai informasi terkait tempat tinggal, persiapan keberangkatan dari hal yang umum sampai hal-hal kecil pun bisa diperoleh. Jika anda belum memiliki kenalan di UK, menghubungi kontak PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di UK pun dapat menjadi solusi, bahkan PPI ini memiliki komunitas nya sendiri di hampir semua kota besar di UK seperti PPI-MIB Birmingham, PPI Manchester, PPI Leeds, PPI Edinburgh, dsb. Anda dapat dengan mudah menemukan grupnya di FB maupun akun social media lainnya, dan meminta ijin untuk bergabung didalamnya, sehingga kemudian anda dapat melakukan komunikasi dengan mahasiswa maupun warga Indonesia yang telah lebih dahulu tinggal di UK. Selain efektif menambah informasi, cara tersebut juga menjadikan kita lebih pede dalam mempersiapkan keberangkatan.

 

Nah, setelah membaca cerita kami di atas, pastinya anda sudah tidak bingung lagi kan bagaimana mempersiapkan keberangkatan kita ke luar negeri..Jadi, silahkan mulai membuat daftar atau list barang yang akan dibawa, kemudian anda dapat menyortirnya sesuai prioritas kebutuhan dan space koper yang tersedia. Ingat ya, sekecil apapun space yang tersisa di koper anda begitu berharga, be smart dalam urusan per-packingan, dan usahakan menimbang berat koper anda sebelum check-in.
Next artikel, kami akan membahas serba-serbi mencari akomodasi selama tinggal di UK. Stay tuned ya..

Home Away from Home: Introduction

Home is where your heart is. Bagi banyak orang, rumah tidak sekedar tempat berteduh dari hujan. Rumah bukan hanya sebuah bangunan. Bagi banyak orang, rumah adalah tempat yang memberikan kenyamanan, dimana orang-orang tersayang berkumpul bersama. Pun sama halnya bagi kami pasangan yang telah menikah, rumah menjadi tempat, bagi suami maupun istri, dan anak-anak berada, untuk beraktivitas bersama, saling bertukar pikiran atau sekedar saling bertatap muka dan bercengkrama.

Namun, hidup penuh dengan beragam pilihan dan banyak kesempatan. Bagi kami, salah satu pilihan dan kesempatan itu muncul ketika suami kami mendapat ‘rejeki’ untuk melanjutkan pendidikan di negara yang bagi kami ‘bukan rumah’. Tentu saja kesempatan tersebut bermakna positif bagi suami, baik dalam konteks pribadi maupun kepentingan bersama. Selanjutnya, setiap kesempatan pasti memiliki konsekuensinya masing-masing. Banyak keluarga atau pasangan dengan kasus yang sama dengan yang kami alami, yaitu dihadapkan pada dua pilihan, dengan ikhlas menjalani long distance marriage atau dengan berbagai pertimbangan memutuskan ikut pindah bersama suami, membangun kembali home away from home. ‘Rumah’, yang jauh dari ‘rumah’ kami sebenarnya.

Seperti apa sih tinggal di luar negeri itu? Bagaimana kita bisa menyesuaikan dengan lingkungan di sana dengan keterbatasan yang ada dan perbedaan gaya hidup di Indonesia? Enak banget yaa bisa tinggal dan jalan-jalan di luar negeri. Mungkin, pertanyaan dan ungkapan seperti itu kerap terlintas dalam pikiran saat akan memilih untuk ikut menemani pasangan sekolah di luar negeri. Apapun yang pada akhirnya diputuskan, kami harus menjalaninya sepaket dengan konsekuensi yang ada, plus tidak boleh ada penyesalan dibalik pengambilan keputusan tersebut. Kami yang sama-sama pernah mengalami long distance marriage, memang setidaknya sudah pernah terlatih bagaimana untuk belajar lebih dewasa dalam menjalaninya. Perjalanan pernikahan jarak jauh tentu tidak mudah, apalagi kalau sudah ada anak yang menjadi tanggung jawab. Jauh dari pasangan seringkali membuat perasaan tidak enak, kesepian, sulit berkomunikasi (ya, walaupun dengan teknologi saat ini lebih mudah, tapi siapa yang bisa mengubah perbedaan waktu yang menjadi kendala?), dan lain-lain. Sedih yaa, kemana-mana harus sendiri tanpa pasangan. Apalagi kalau harus mengurus anak (yang bisa jadi lebih dari satu) sendirian. Banyak faktor yang menjadi alasan seseorang memilih untuk menjalani long distance marriage. Karir, kenyamanan, dan keuangan adalah beberapa hal yang umum dijadikan alasan. Biasanya, alasan-alasan tersebut adalah keuntungan yang didapatkan saat menjalani long distance marriage. Meninggalkan karir bukan hal yang mudah, apalagi ketika karir sedang bagus-bagusnya atau ketika baru mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Siapa sih yang mau meninggalkan kenyamanan Indonesia yang abang-abang penjaja bubur ayam dan gorengan dari pagi buta sudah berjualan, tukang nasi goreng yang mangkal di depan rumah siap melayani saat kelaparan melanda di tengah malam? Ya, Indonesia dengan segala masalah dan kesemrawutannya tetap menjadi rumah bagi kami. ‘Dipaksa’ pergi dari zona nyaman itu memang tidak mudah. Bagi sebagian orang, tetap tinggal di Indonesia untuk merasakan kenyamanan dan kemudahan itu lebih menguntungkan dan tetap menjadi pilihan dibandingkan dengan menemani pasangan belajar ke negeri orang. Lalu ada lagi faktor keuangan yang tidak bisa dipungkiri merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan ini. Mau menemani pasangan kuliah di luar negeri? Ongkosnya darimana? Belum lagi memikirkan cicilan hutang yang tak kunjung selesai. Ketika masalah keuangan yang menjadi hambatan, sebagian orang akhirnya dipaksa untuk mengikhlaskan hati (ini agak kontras ya, dipaksa kok ikhlas..hehe) untuk menjalani long distance marriage.

Saat ini, kami berada di posisi ‘susah payah ikut pindah bersama suami’. Susah apanya? Kan enak bisa honeymoon lagi? Nah, ini adalah bayangan yang biasanya ada pada orang-orang yang baru akan ikut pasangan belajar ke luar negeri atau yang memang belum pernah mengalami long distance marriage. Kenyataannya? Well, ini dia beberapa konsekuensi saat memilih untuk menemani suami atau istri belajar ke luar negeri.

Pertama, harus meninggalkan pekerjaan (kalau sebelumnya bekerja). Bagi banyak orang, meninggalkan pekerjaan tetap berarti masuk ke ‘hutan’ yang nggak jelas juntrungannya. Apalagi di zaman yang semakin kompetitif ini, kenyataan bahwa nanti pulang ke Indonesia harus cari kerja lagi bisa jadi issue cukup menakutkan bagi banyak orang. Bye, bye financial security (walaupun ya, ini bukan satu-satunya tolak ukur financial security tapi bagi kami yang awam ini, tidak bekerja itu berarti tidak ada pemasukan). Kedua, meninggalkan semua kenyamanan Indonesia. Iya loh, walaupun banyak protes dimana-mana tentang macet, polusi, mahalnya harga kebutuhan pokok, meningkatnya kriminalitas, dan lain-lain, Indonesia itu tetap super nyaman. Bagaimana tidak, lelah macet-macetan? Panggil tukang pijat. Males masak? Beli di warteg sebelah yang selain harganya ramah di dompet, menunya pun sangat beragam, tidak akan bosan karena kalau sudah jenuh di warung depan bisa pindah ke warung yang sebelahnya lagi. Pilihan makanan dengan harga yang murmer, halal, dan cita rasa yang pas dengan lidah kita selalu ada di depan mata. Mau sholat pas waktunya jalan-jalan, masjid dan musholla bertebaran di mana-mana. Males nyetir? Hello.., transportasi publik di Indonesia itu murah banget dan sangat bervariasi. Disini, mana ada abang ojek yang mangkal di depan gang? Sibuk di kantor dan tidak sempat mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tinggal teriak ‘mbaaaak’ dan rumah langsung kinclong.  Intinya, hidup di Indonesia dipenuhi dengan fasilitas ‘kemewahan’ yang tiada tara, yang hampir pasti tidak akan ditemui disini. Ketiga, memangnya murah mau ikut suami ke luar negeri? Tentu saja tidak. Kami harus putar otak dulu untuk bisa memenuhi biaya visa, tiket pesawat, sewa rumah, dan lain-lain. Beruntung bagi orang-orang yang pasangannya bisa mendapatkan sponsor, baik yang menyertakan tunjangan keluarga maupun tidak. Setidaknya, beban finansial yang harus ditanggung tidak terlalu besar. Intinya, modal yang kami keluarkan memang tidak sedikit. Butuh menabung, berhemat, dan jual ini-itu hingga akhirnya kami bisa sampai disini bersama suami.

Home Away from Home. Melalui seri tulisan ini, kami tidak ingin menghakimi orang yang ikut atau tidak ikut menemani pasangan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Kami tidak juga ingin menakut-nakuti pasangan atau keluarga yang sudah menetapkan hati untuk bersama-sama membangun rumah baru mereka di negara tujuan. Kami hanya ingin berbagi cerita, bahwa manusia sejatinya memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, berimprovisasi untuk bertahan hidup, membangun ‘rumah’ yang jauh dari kampung halaman. Siapa sih, ‘kami’ ini? Perkenalkan, Izza (www.theadventureofizzao.com) dan Alif (www.theriatheria.blogspot.com). Kami adalah istri-istri yang akhirnya memilih untuk menemani suami berkuliah di Inggris, lebih tepatnya di kota Birmingham. Kami adalah istri-istri yang iseng mencari pekerjaan sambil ingin terus memberi manfaat bagi orang lain. Sampai pada akhirnya, kami melihat adanya kebutuhan akan informasi mengenai bagaimana keluarga-keluarga Indonesia survive hidup di tanah rantau ini.

Seri artikel Home Away from Home ini akan mencakup cerita-cerita pengalaman kami sendiri, pengalaman keluarga-keluarga lain, dan berbagai tips untuk keluarga yang mencari informasi mengenai kehidupan keluarga pelajar di Inggris. Kami akan membahas mengenai aplikasi visa, persiapan keberangkatan, akomodasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, pengaturan keuangan, kehidupan sehari-hari, interaksi dengan penduduk lokal, pelayanan kesehatan, pendidikan bagi anak, serta komunitas warga Indonesia yang ada di Inggris. Mudah-mudahan, berbagai informasi yang akan kami berikan melalui tulisan di seri Home Away from Home bisa menjadi panduan bagi keluarga maupun pasangan yang berencana menemani suami atau istri melanjutkan studi di Inggris.
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya minggu depan! Next on: UK Visa Application for Dependants.

For you who just want to give up because postgraduate study is so damn difficult

Entah kenapa tetiba ingin menulis tentang hal ini. Kenapa? Well, sepertinya memang pembahasan mengenai bagaimana kuliah S2 tidak akan habis-habis. Setiap individu punya cerita, setiap individu go through a different path. Setelah adik saya menulis tentang “Siapa bilang kuliah di luar negeri enak”, rasanya ini adalah sudut pandang saya tentang bagaimana kehidupan S2 saya diwarnai dengan minggu-minggu ‘mainan oven’ hingga lelahnya kerja pada saat puasa di musim panas. Memang, kehidupan S2 penuh dengan tantangan, seperti teman saya yang baru saja bercerita “Pernah nggak sih mau nyerah aja kok kuliah gini-gini amat”.

Pernah dengar bahwa individu bisa berkembang ketika keluar dari zona nyaman? Ini bukan sekedar kata-kata motivator jargon seminar pengembangan diri. I truly believe that. Saat belajar mengenai psikologi kognitif, saya mengenal sebuah kata yang selalu saya ingat hingga sekarang: disonansi kognitif. Istilah tersebut berarti adanya kesenjangan antara apa yang diketahui atau diyakini dengan apa yang terjadi, dilakukan, atau dengan informasi baru yang didapatkan. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan yang dialami oleh individu sehingga ia ‘dipaksa’ untuk melakukan sesuatu agar ketidaknyamanan tersebut berkurang atau hilang. Disonansi kognitif, meskipun mungkin baru-baru ini saja istilahnya Anda atau saya kenal, ternyata sudah terjadi sejak bayi. Disonansi kognitif adalah cara belajar, cara untuk memperbaiki lagi struktur pengetahuan yang dimiliki lagi, cara untuk menyesuaikan lagi sikap yang dimiliki, dan cara untuk mengubah perilaku. Namun, saya selalu ingat bahwa disonansi kognitif selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Dari pengetahuan ini, saya menyimpulkan bahwa kita tidak belajar apabila tidak mengalami ketidaknyamanan yang berasal dari disonansi kognitif.

Intinya? Ya belajar itu tidak nyaman, ingin menjadi lebih baik dan mencapai mimpi itu memang harus keluar dari zona nyaman karena mahluk bernama disonansi kognitif ini. Lagipula, apa rasanya lulus tanpa perjuangan? Gitu-gitu aja lah pastinya… Justru yang terkenang adalah perjuangannya, kan?

Ketika ditanya, pernah nggak sih mau nyerah aja karena nggak kuat kuliah S2? Honestly, no. Entah kenapa saya tidak pernah merasa perkuliahan yang menyita waktu dan bikin pengen nangis itu nyaris membuat saya menyerah. Not at all. Tapi, saya juga tidak mengatakan bahwa masa perkuliahan saya mudah. Not at all. Jadi maunya apa, Za? I’d say… challenging.

Kuliah S2 itu sulit, Jenderal! Bagi saya yang berkuliah S2 di luar negeri, sulitnya bertambah-tambah karena harus juga beradaptasi dengan budaya sosial dan budaya akademis. Saya harus membangun hubungan baik dengan teman-teman yang berasal dari seluruh belahan dunia, yang tentunya tidak semua memiliki value yang sama dengan saya. Saya harus beradaptasi dengan cara berinteraksi orang-orang lokal, berusaha menjaga nama baik negara saya (ya, disini saya merasa nasionalis – hal yang kadang-kadang saja saya rasakan, hehehe…). Dalam hal budaya akademis, adaptasi yang dilakukan jauh lebih sulit dan jauh lebih banyak. Menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian, dalam konteks akademis tentunya merupakan tantangan. Bahkan bagi orang-orang yang lancar berbahasa Inggris, hal ini bisa jadi cukup sulit. Belum lagi dengan materi-materi kuliah yang ada, bagaimana mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, dan bagaimana tugas beribu-ribu kata menunggu untuk dikerjakan.

Salah satu hal yang saya sangat rasakan pada saat berkuliah S2 adalah saya jadi rajin membaca. Bukan hanya reading list yang seabrek-abrek, individual research pun harus dilakukan untuk menambah wawasan. Mengapa? Karena kuliah disini mengharuskan mahasiswa untuk aktif berdiskusi. Masuk kelas dengan 0 pengetahuan? A big NO. Belum lagi membaca untuk mengerjakan tugas-tugas esai yang sungguh sangat banyak itu. Pastinya, seperti mungkin semua mahasiswa S2 disini, saya mau menangis saja. Trik saya adalah memanfaatkan waktu. Saya menempel sebuah post-it di meja belajar saya dengan tulisan ‘If you are not doing something great, do something useful’. Cukup berhasil untuk mengingatkan saya agar tidak menyia-nyiakan waktu. Dari waktu bangun saya, mungkin 70% saya habiskan untuk membaca.

Saya cukup beruntung (atau tidak beruntung, ya?) karena 100% nilai mata kuliah saya ditentukan oleh nilai esai saya. Setiap mata kuliah mengharuskan saya menulis esai 4000-6000 kata sebagai tugas akhir. Dalam satu semester, saya mengikuti 4-5 mata kuliah. Jadi, at the end of semester, saya harus mengumpulkan tulisan yang kalau ditotal jumlahnya adalah 25000 kata. Mau pingsan. Nggak kebayang sih bagaimana teman-teman yang masih ada pula tugas kelompok, presentasi, dan ujian. Lebih mau pingsan. Start early adalah kuncinya. Saya selalu berusaha memulai menulis esai right after the semester starts. Itu pun, biasanya 1-2 minggu sebelum pengumpulan tugas saya harus rela ‘mainan oven’ karena tidak sempat memasak. Beli frozen food yang tinggal di oven lah yang jadi solusi bagi saya. Nggak heran ya, sepanjang kuliah S2 berat badan saya turun drastis hingga 10-15kg. Lumayan, diet tanpa usaha. Saran saya sih, banyak-banyak konsultasi ke dosen mata kuliah agar dapat mengerjakan tugas sesuai dengan ekspektasi. Tidak sekali dua kali tugas saya yang sudah ditulis hingga 1000 kata lalu ditolak mentah-mentah oleh dosen dan saya harus menulis ulang lagi dari awal. Sedih, ya? But that’s life.

Di semester kedua, mahasiswa yang berkuliah S2 dalam waktu 1 tahun harus mulai memikirkan disertasi (disini disebut disertasi untuk S2, instead of tesis seperti di Indonesia). Tentu pusinya bertambah-tambah. Lagi-lagi, start early. Saya sendiri mulai berkonsultasi dengan dosen pembimbing saya sejak bulan Januari dan mulai menulis disertasi saya sejak bulan Februari. Penelitian saya berapa lama? 4 bulan, saudara-saudara. 4 bulan saya bolak-balik mengambil data di sebuah sekolah sambil berkuliah dan sambil bekerja (ya, sotoy nya saya adalah udah tau sibuk tetep aja mau kerja demi jalan-jalan). Pastinya ada saat-saat saya tidak mau bangun pagi karena lelah, maunya santai, maunya tidur aja, dan bertanya-tanya ‘kok hidup gue gini-gini amat?’. So little time so much to do. Trik saya? Hadapi saja! The whole thing will all pass. Fokus dengan tujuan, luruskan niat.

At the end, semua usaha yang dikeluarkan akan terbayar. Pada akhirnya, disonansi kognitif itu berakhir, ketidaknyamanan itu berkurang, dan tujuan tercapai. Equilibrium, keseimbangan antara apa yang diketahui dan apa yang terjadi. Keseimbangan antara tujuan dan hasil. Hopefully. Saya pun tidak sadar seberapa banyak hal yang sudah saya kerjakan, seberapa banyak hal yang sudah saya alami, dan seberapa berharganya pengalaman saya kalau saja teman serumah saya dulu baru-baru ini bercerita. Saat itu, saya sedang mengunjungi kota tempat saya berkuliah dulu dan bertemu dengan teman saya tersebut. ‘I don’t know how you’ve done all those things in a year! Studying, doing your dissertation, working, volunteering, and travelling. You’ve always been busy but you also always have time to hang around and chat. Dan sejujurnya, saya pun tidak tahu, saya pun tidak sadar bagaimana cara saya melakukan semua hal tersebut dulu. Ternyata bisa ya, melakukan itu semua walaupun dengan acara nangis-nangis di depan buku dan laptop.

So, for you who just want to give up because postgraduate study is so damn difficult, you just have to push through. You are capable of what you are doing and this all shall pass. At the end, you won’t believe how much you’ve learned and how much you’ve gained. Good luck!

Feb 01, 2016

Cara Cepat Belajar Bahasa Inggris

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan mengenai cara cepat untuk bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Sebenarnya, tulisan ini terinspirasi dari sebuah pertanyaan yang baru-baru ini saya dapatkan: Bagaimana cara menghafal dan mendapatkan banyak kosa kata dengan cepat?

Jujur, saya bingung. Maklum saja, saya merasa tidak sadar belajar bahasa Inggris. Saya merasa, bisa saja dengan sendirinya. Ditanya pertanyaan seperti itu membuat saya berpikir. Baca kamus? Ya, saya pernah melakukannya. Mungking saking tidak ada kerjaan, waktu SMP saya pernah membaca kamus setiap hari. Bodoh sih sebenarnya karena membaca kata dan arti tanpa menempatkannya pada suatu konteks justru menimbulkan kebingungan. Lalu jawaban saya berikutnya adalah membiasakan diri dengan berbagai materi berbahasa Inggris, seperti buku, koran, program di TV, dan radio. Berbagai media tersebut memang bisa digunakan untuk membantu belajar bahasa Inggris. Lagi-lagi, hingga sekarang saya melakukannya. Bahkan ekstrimnya, dulu saya benar-benar tidak mau menonton film berbahasa Inggris dengan terjemahan. Selalu saya matikan sehingga saya ‘dipaksa’ untuk mengerti apa yang dibicarakan orang-orang di film itu. Tidak puas dengan jawaban tersebut, ada lagi cara lain yaitu dengan menghafalkan kosa kata secara tematik. Ini yang paling mudah karena struktur pengetahuan kita, kalau menurut Piaget, seperti peta yang menghubungkan suatu konsep dengan konsep lain. Saya langsung teringat kamus bahasa Inggris pertama saya yang memang bentuknya tematik. Saya teringat juga guru bahasa Jerman saya pernah memaksa seluruh muridnya untuk me-label barang-barang di sekitar kami dengan kosa kata bahasa Jerman sehingga kami selalu ingat – ini berlaku ketika belajar tentang barang-barang sehari-hari, ya.

Dari seluruh tips di atas, sepertinya satu benang merah bisa ditarik. Belajar bahasa membutuhkan latihan karena bahasa bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan. Keterampilan bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti “ kecakapan seseorang untuk memakai bahasa dalam menulis, membaca, menyimak, atau berbicara”. Kata kerja di dalam definisi tersebut adalah ‘memakai’. Jadi, bagaimana cara belajar bahasa Inggris? Ya dipakai! As simple as that! Masalahnya…. banyak masalahnya. Tidak tahu mau menggunakan dimana, malu belum lancar, tidak tahu kosa kata yang tepat, dan lain-lain. Sayangnya, alasan tersebut tidak akan berlaku kalau dipaksa, kan? Mau tidak mau, suka tidak suka.

Bicara mengenai paksa memaksa, saya ingin berbagi pengalaman saya yang dipaksa belajar bahasa Inggris. Tidak dari SMP, tidak dari SMA, saya dipaksa berbahasa Inggris sejak sebelum masuk TK. Mungkin ada yang lalu berkomentar, kejam ya orang tua saya? Dulu, saat malas-malasnya belajar bahasa Inggris, tentu saya menganggap orang tua saya kejam. Sekarang? Saya merasakan sekali besar manfaat dari keterpaksaan saya berbahasa Inggris itu. Sekarang, kalau mendapat pertanyaan “Jadi, Za, berapa lama kamu belajar bahasa Inggris?”, jawaban saya adalah “My whole lifetime”.

Sejarah belajar bahasa Inggris saya dimulai ketika orang tua saya menggabungkan saya dengan sebuah kelompok kecil anak-anak seusia saya, sekitar 3-4 tahun, yang bersama-sama bermain sambil belajar. Saat itu, guru bahasa Inggris saya ‘bule’ tulen yang berasal dari Australia. Kami akan datang di sore hari setiap seminggu sekali ke rumahnya. Saya ingat, Beth namanya. Disana, kami melakukan banyak kegiatan, seperti mewarnai, menggambar, dan mainan-mainan anak kecil lainnya. Lalu bahasa Inggris-nya dimana? Anak sekecil kami, yang bahasa Indonesia pun masih minim sekali, lalu harus mengerti dan berkomunikasi dengan Beth yang bahasa Inggrisnya pun Australian sekali. Tentu saja saat itu saya…. tidak mengerti sama sekali! Walaupun tidak mengerti dan sulit berkomunikasi, saya ingat bahwa saya suka sekali datang ke rumah Beth. Berhasil kah saya berbahasa Inggris? Oh, tentu tidak! Sedih ya? Hehe.. Tapi, waktu itu manalah saya mengerti tentang malu kalau tidak bisa karena anak kecil memang banyak tidak bisanya. Saya ambil saya positif-nya, senang-senangnya. Orang tua saya pun tidak pernah memaksa saya untuk menggunakan bahasa Inggris (pada saat itu).

Masuk SD, saya pun beralih ke lembaga kursus bahasa Inggris yang lebih ‘proper’ dengan guru-gurunative speaker, atau ‘bule’ asli. Dengan kemampuan yang sedikit lebih karena sudah terbiasa mendengar kata-kata berbahasa Inggris, masuklah saya ke level 2 untuk anak-anak. Hingga awal kelas 6 SD, saya tidak pernah berhenti kursus bahasa Inggris. Saya berhenti ketika kelasnya sudah habis alias mentok. Saya sudah masuk di kelas anak-anak, hingga remaja, hingga kelas dewasa – ya, di usia saya yang masih SD saat itu. Pintar dong, saya? Hahaha lagi-lagi jawabannya tentu tidak. Beberapa kali ujian bahasa Inggris saya mendapat nilai ‘Poor’. Tidak mengerti struktur bahasa atau yang biasa dikenal sebagai ‘grammar’, itulah masalah saya. Membaca,  mendengar, dan berbicara, semua saya bisa. Mengisi pilihan ‘grammar’? 0 lah nilai saya. Memalukan juga kalau diingat-ingat.

Tidak hanya di tempat kursus, saya pun harus berbahasa Inggris di rumah. Ya, setidaknya pada saat makan malam. Saya ingat, orang tua saya memberlakukan aturan bahwa kami semua hanya boleh berbahasa Inggris saat makan malam. Mau tidak mau, ini harus kami lakukan. Dengan bahasa Inggris yang minim, tidak apa-apa! Yang penting mencoba. Pembiasaan ini, saya rasakan sekali manfaatnya saat ini. Jangan pernah menyepelekan kondisi apapun karena kita bisa berlatih bahasa Inggris dimanapun dan dengan cara apapun. Selain itu, saya juga mulai membaca buku berbahasa Inggris pada saat SD. Buku berbahasa Inggris pertama yang saya baca adalah Harry Potter. Ngerti, Za? Not at first. Saya berhenti di bab pertama dan beralih ke buku bahasa Indonesianya. Setelah itu, saya coba baca lagi buku yang berbahasa Inggris sampai selesai.

Selain orang tua saya, saya ingat dulu sekali waktu saya belum masuk sekolah, saya sering diajak oleh nenek saya pada saat ia kursus bahasa Inggris bersama ibu-ibu Dharmawanita. Saya sih tidak ingat apa yang dibicarakan dan dipelajari saat itu karena saya masih terlalu kecil. Tapi saya ingat, ketika saya mulai mengerti bahasa Inggris, nenek saya sering menggunakan bahasa tersebut untuk berbicara dengan saya mengenai hal-hal yang ‘rahasia’. Maksudnya, hal-hal yang tidak boleh diketahui adik-adik sepupu saya. Dulu saya sering menginap di rumah nenek saya bersama dengan adik dan adik-adik sepupu saya. Saat ingin berbicara mengenai hal yang ‘rahasia’, nenek saya menggunakan bahasa Inggris. Senang rasanya saat itu karena dianggap dewasa oleh nenek saya. Haha.

Intinya, selama bersekolah hingga SMA, saya tidak pernah diperbolehkan berhenti kursus bahasa Inggris. Orang tua saya tidak terlalu peduli dengan hasil ujian bahasa Inggris saya atau berapa kali saya absen kelas bahasa Inggris. Mereka hanya ingin saya kursus agar terus-menerus melatih kemampuan saya berbahasa Inggris. Lucunya, saat SMP saya baru menyadari bahwa nilai bahasa Inggris saya di sekolah cukup bagus, tetapi saya tidak pernah bisa menjelaskan mengapa saya memilih jawaban tertentu untuk pertanyaan tertentu. Saya tidak tahu alasan saya memilih jawaban yang benar. Saya selalu bilang, “Pakai perasaan saja”. Tentunya, semakin lama saya tidak bisa selalu mengandalkan perasaan karena banyak bahasa Inggris yang saya gunakan merupakan bahasa tidak formal. Di SMA, saya ingat sekali saat satu kelas saya diharuskan menulis 12 jenis tenses dalam bahasa Inggris beserta dengan contohnya. Saat itu lah saya baru mengerti mengenai logika struktur dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris menjadi semakin mudah dimengerti, sekarang tidak hanya dalam hal membaca, mendengarkan, dan berbicara, tetapi juga dalam hal struktur bahasa.

Di perkuliahan, sebagian besar buku yang digunakan berbahasa Inggris. Hal ini membantu saya untuk selalu berlatih menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, saya juga mulai menerapkan kemampuan bahasa Inggris saya dalam mengajar. Saya mengajar bahasa Inggris untuk siswa SD, SMP, SMA, kuliah. Niat saya hanya satu, membantu. Tidak berarti saya lebih pintar dari orang-orang yang saya ajar, saya mungkin lebih banyak berlatih. Hingga saat ini, saya masih menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan saya sehari-hari. Bahkan, kalau diingat-ingat lagi, saya mendapatkan semua pekerjaan saya karena keterampilan saya berbahasa Inggris. Lucu, ya? Tidak pernah kuliah jurusan sastra Inggris atauTeaching English as Foreign  Language tapi kok jadi guru bahasa Inggris?

Lalu, bagaimana cara cepat berbahasa Inggris? Tidak ada. Keterampilan bahasa membutuhkan latihan. Menjadi lancar menguasai bahasa tertentu membutuhkan waktu, banyak untuk beberapa orang dan sedikit untuk orang-orang lain. Saya tidak belajar bahasa secara instan. Saya belajar dengan perjuangan. Selamat berlatih berbahasa Inggris!

*Tulisan ini dibuat hanya untuk berbagi pengalaman dan tidak menunjukkan bahwa bahasa Inggris lebih penting dari bahasa lain, ya. Saya masih berbahasa Indonesia dan masih belajar bahasa-bahasa lainnya juga. 🙂

Jan 12, 2016

Being a Student Ambassador

After long hours of work and traffic, I want to do things that I like, such as writing! I remembered that Mbak Wuri asked me to write about working as a student ambassador so that others (Indonesian in Hull) can just read my blog to know more about it.  Well, here we go.

I worked as a student ambassador for only 6 months. I knew that there are student ambassadors but before I applied, I didn’t know how you can apply as one. Around May, I received an email saying that SCLS department in University of Hull needs student ambassadors. I applied. A few weeks later I got a series of training to be a student ambassador. Basically, we were taught about the event that we are going to have as well as an explanation about campus tour. We did the campus tour, actually. It was the first time I joined campus tour and it was quite fun.

After the training, I was involved in ACE Days event which is basically an event for secondary pupils. It was aimed to give some kind of information about higher education to them. The event is a little bit like training or something like that. There are some activities and it is fun (at least for me). I worked in around 5 ACE Days in the duration of 2 months. It wasn’t bad, really.

Besides ACE Days, as a student ambassador, you can also work in various university events, such as HE Day and Open Day. There are two types of events, the paid ones and the unpaid ones. Therefore, be aware when you read the announcement. I don’t mind doing voluntary work but it is also great to get extra money as well. The payment is quite good, especially seeing that the work is very flexible and not too difficult.

I think I gain a lot more than money as the result of being a student ambassador. I got to know people, understand the costumer service approach, able to do the campus tour, and I got to know about University of Hull and UK higher education system in general better. No regrets, really. I really enjoyed being a student ambassador and I wish I knew it sooner so that I worked longer.

If you are interested in being a student ambassador, you can just apply. Just send them email, saying that you want to work as a student ambassador and when they need you, they’ll contact you. The nearest event for now is Open Day and maybe if you apply now, you can work then. This article is solely based on my own experience and it may be subjective. But you can always try if you are interested. You’re not going to UK to study only, so get the whole experience! Cheers!

Oct 4, 2013

11676.88 km Later

11676.88 km is the total distance between Hull and Jakarta. The two cities that I call home.

Yeap! 11676.88 km later, after 19 hours journey, I finally arrived in Jakarta. There was a ‘slight’ delay in my first flight which scares me a lot because my connection flight is only in four hours and the delay was around 2.5 hours. But thank God, I could still catch the next plane home.

The first thing I felt after I stepped my foot outside the airport building was heat! It was so hot and the air wasn’t too good that I felt like I almost suffocate. Seriously. It was 33 degree when I arrived in Jakarta. Either positive or negative, Jakarta is not Jakarta if it is not hot. Just go with it!

The second thing that I feel very different from Hull is the traffic in Jakarta. I cannot believe I’ve survived living in Jakarta for this long. The cars, the jams, the discipline – all were kind of annoying, really. And today I realized, the Jakartans are very dependent on their private modes of transportation. I drove. I do not have a car now and my driving license expires. How should I go to places? There are modes of public transportation such as transjakarta and buses but with the heat and the traffic, I wouldn’t be able to stand it. Not after I just got back here yesterday. Today is the first time in my life I think that no car + no driving license = die. LOL

Well, now the thing that I will miss about Hull – environment wise.

I will miss the blue sky. When I was in the car today, I looked at the sky and well, the sky is grey in Jakarta. I will definitely miss the occasionally blue sky in Hull. I don’t like grey sky. But Jakarta has a very beautiful sunset. Yeap! I will try to enjoy the sunset instead of the blue sky from now.

I will miss the fact that I can sleep without being disturbed by mosquitoes. I forgot that there are lots of mosquitoes in Jakarta. Being a city in a tropical country, it is common that there are many mosquitoes in Jakarta. However, it is very very disturbing especially during the night. I will miss my sleeping time in Hull where I wasn’t disturbed by them. Okay! Let the mosquito battle begin!

I think I’m okay so far. I quite enjoy the fact that this weekend I don’t really have to do anything except activating my old phone number which was quite easy actually. I do not really bother, really to come home or not. Hull is home but still, 11676.88 km to the east from Hull, I am home.

It’s been a year!

It has been exactly a year since I first stepped my foot in the UK. 22 September 2012, I arrived in Manchester.

Excited, worried, and tired were my three first feelings when I came. I needed to go by myself from the airport to Hull – you know, finding my way, buying train tickets, carrying super big luggage. I am amazed now looking at myself back then. Haha. How on earth could I do all those things by myself. But yeah, when you are forced to do something, you gotta do what you gotta do.

Time flies so fast. It’s been a year and there’s been loads of things happened. It’s been a great experience for me to be here. I was worried that my life is going to change in a bad way but it turns out that I really really like it here. I think, living in such a different place than my hometown is priceless. It teaches me many things. Ask me the price of eggs in Jakarta and I won’t know a thing! Ask me the price of eggs in here, I can give you a list of egg prices from different stores. Seriously. I think I’ve become more independent.

Is a year enough? Never! The time is never enough. I wish I have more time to stay here, travel, and learn. Well, maybe some other time. I’m a bit sad that I have to leave. I’m half-sided now. I am looking forward to go back home but I am not looking forward to leave this place. This is annoying, I know.

Anyway, I was worried that I won’t be able to survive and won’t like living far from home but I’ve made a new home here. I have great friends, nice classmates, friendly housemates, and awesome life. I want to go back to Jakarta but I’m not too eager to live my life there anymore. I seriously want to travel around the world if I can. Send me anywhere and I’ll be there. Haha. But, for now that’s a bit of an imagination. I have to go home in a few days, but I hope I’ll be back here.

I’m grateful for this past year and I hope I’ll have a great year ahead.

 Sep 22, 2013

My Last Few Weeks in UK

Time flies!

Indeed. It’s almost been a year since I came to UK for the first time. Now, it’s time to move on and face the real world. OH NO!

So, after the Ramadhan, almost a month traveling around western part of Europe, now it’s time to pack and pack and pack. I don’t know how on earth am I going to finally finish packing my stuffs. The first (and hopefully only – macem jodoh aja) package had just been sent this afternoon. I hope it’ll arrive in Indonesia well, without any problems. Aamiin!

Around two weeks ago, I submitted my dissertation. Yeay! After 3 months of research and more months writing I finally made it. I was so relieved that I finish it. However, that’s not the end of the challenge. Now I need to focus on finding job – and finding job in this economy is not easy.

What do I do then, that I’ve finished my study? I feel like my primary job nowadays is packing. My to do list changes from writing this and that to packing this and that. Oh! And also finishing all the food that I have in my freezer. It’s going to be unhealthy last few weeks in UK, really. Again, I don’t know how on earth am I going to finish all that food.

Anyway, I still have some more jobs to do as a student ambassador. I think I really am going to miss that. I also need to have a quick travel to Scotland. Yes! I have to go to Scotland! Then… finally finish all the unfinished business here – meeting friends and lecturers and stuffs like that.

I feel rather empty, really. I’m not that busy in a way but I feel like I have loads of things to do. I am half excited that I am going home but I am half sad that I am going to leave this place – not particularly Hull but yeah… I like living in the UK eventually.

So… yeah, looking forward for the last few weeks in the UK – I’m gonna make the most of it. And hopefully I can come back here again.

Sep 11, 2013