Home Away from Home: Proses Aplikasi Visa bagi Dependant (2)

Setelah mempersiapkan berbagai persyaratan visa, tahap berikutnya adalah melakukan aplikasi visa. Berikut ini adalah penjelasan kami mengenai proses aplikasi visa.

 

Proses Aplikasi Visa

Bear yourself, kepeningan belum berakhir. Setelah mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pengajuan visa, langkah selanjutnya adalah melakukan pengajuan visa. Proses aplikasi visa sendiri dilakukan secara online (bagian pertama) dan dengan datang ke visa application center. UKVI sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan aplikan visa, tetapi menunjuk pihak VFS (http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/) sebagai third party. Saat ini, terdapat tiga visa application center di Indonesia, yaitu di Jakarta, Bali, dan Surabaya (http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/applicationcentre.html).

Bagi Anda yang tidak berdomisili di kota-kota tersebut, sayangnya Anda harus mengeluarkan dana lebih untuk menghadiri visa appointment di tempat-tempat yang telah ditentukan. Proses aplikasi visa dapat dibagi menjadi lima langkah yang akan dijelaskan satu per satu berikut ini.

 

  1. Mengisi formulir online

Langkah pertama dalam pengajuan visa adalah mengisi formulir online di https://www.visa4uk.fco.gov.uk/. Saat masuk ke website ini, kita diminta untuk melakukan registrasi terlebih dahulu. Satu registrasi dapat digunakan untuk mengajukan beberapa visa. Setelah registrasi, kita dapat mulai mengisi formulir visa. Pengisian formulir bisa dilakukan secara bertahap karena kita bisa menyimpan form yang telah diisi. Pastikan bahwa kita telah memiliki semua bentuk PDF atau JPEG dari dokumen-dokumen yang diperlukan, termasuk passport. Karena visa yang akan kita ajukan adalah dependant visa, maka kelengkapan dokumen visa pasangan (Tier 4 (General) Student) juga diperlukan.

  1. Membayar IHS

IHS adalah singkatan dari Immigration Health Surcharge (https://www.gov.uk/healthcare-immigration-application/overview). Bahasa lainnya, asuransi! Pemerintah UK memang memberikan fasilitas kesehatan gratis bagi warganya. Dulu, para imigran juga dapat menikmati fasilitas ini. Namun, meningkatnya jumlah imigran di UK membuat pemerintah UK mengenakan biaya IHS sebagai persyaratan visa. Pembayaran IHS ini dilakukan pada saat mengisi formulir online. Akan ada link yang mengarahkan kita ke website untuk membayar IHS. Mahal kah IHS? Jumlah pembayaran IHS bergantung kepada lama tinggal kita di UK. Jadi, apabila kita berencana untuk tinggal di UK selama 12 bulan, maka kita akan dikenakan biaya selama 12 bulan. Kemudian, jumlah biaya IHS akan dihitung secara pro-rata. Bagi aplikan Tier 4 (General) Student, jumlah yang harus dibayarkan untuk studi 12 bulan adalah £150. Biaya IHS dikenakan per orangan sehingga anak-anak pun harus membayar, ya. Sedikit tantangan yang akan dihadapi saat membayar IHS adalah kita harus membayar dengan menggunakan kartu kredit. Tidak semua orang memiliki kartu kredit, toh? Biasanya, teman-teman yang tidak mempunyai kartu kredit akhirnya harus meminjam dulu kartu kredit milik orang lain dan kemudian mengganti uang ke orang tersebut. Setelah membayar IHS, kita akan mendapatkan nomor referensi. Penting untuk diingat bahwa jangan sampai nomor referensi ini hilang ya, karena kita harus memasukkan nomor ini ke dalam formulir aplikasi visa. Selain itu, coba untuk screen capture halaman bukti pembayaran Anda sehingga ada dokumen bukti bahwa kita telah membayar IHS. Biasanya, kita juga akan mendapatkan email keterangan dari IHS yang harus di-print. Sebaiknya email dari IHS ini juga disertakan pada saat pengajuan visa, karena berdasarkan pengalaman, saat itu alif diminta menunjukkan email tersebut oleh petugas di VFS. Oh ya, apabila pengajuan visa ditolak, biaya IHS ini dapat di-refund.

  1. Membayar biaya visa

Tahap terakhir sebelum pengisian formulir visa selesai adalah pembayaran biaya visa. Lagi-lagi, pembayaran harus dilakukan dengan menggunakan kartu kredit. Pada saat ini, biaya visa bagi student dependant adalah USD 476 per orang (https://visa-fees.homeoffice.gov.uk/y/indonesia/usd/study/points-based-system-tier-4/student-applicant-and-dependants-see-student-visa-page-for-full-definition). Setelah biaya visa dibayar, barulah kita dapat menentukan jadwal visa appointment, yaitu saat kita harus datang ke visa application center untuk menyerahkan dokumen dan melakukan biometric information collection. Biaya visa ini tidak dapat di-refund apabila ternyata aplikasi visa kita ditolak.

  1. Menjadwalkan perjanjian visa

Karena sebagian besar program studi di UK dimulai pada bulan September, maka jadwal perjanjian visa di beberapa bulan sebelum September cukup padat. Oleh karena itu, kami menyarankan Anda untuk mendaftar lebih cepat. Kita dapat memilih tanggal dan jam untuk visa appointment kita. Tentunya, jadwal yang dipilih adalah preferensi pribadi dan menyesuaikan dengan jadwal yang dimiliki. Tetapi meskipun terkadang kita sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari, tetap saja pada akhirnya kita mengajukan visanya sudah mepet dengan jadwal keberangkatan. Nah kalau sudah seperti ini, yang bisa dilakukan adalah memilih jam appointment yang pagi banget agar meminimalisir antrian yang membludak. Selain itu dengan semakin awalnya kita datang, maka jika ada dokumen atau syarat yang masih kurang, kita bisa segera melengkapinya dan kembali ke counter di hari yang sama.

  1. Datang pada saat visa appointment

Langkah terakhir dari proses pengajuan aplikasi visa adalah datang ke visa application center pada jadwal yang telah direncanakan sebelumnya. Semua orang yang akan mengajukan aplikasi visa harus datang sendiri. Jadi, apabila Anda berencana membawa anak yang masih bayi, maka anak tersebut juga harus ikut pada saat visa appointment. Bahkan, meskipun anda menggunakan jasa agen untuk pembuatan visa, anda tetap harus ikut datang sendiri ke VFS lho.

Pada saat visa appointment, kita harus membawa bukti visa appointment yang berupa print-out email dari VFS atau UKVI. Email tersebut berisi nomor registrasi aplikasi visa, waktu perjanjian, dan nama kita. Selain itu, kita juga harus membawa berbagai dokumen persyaratan visa, yaitu formulir online yang telah di-print dan ditandatangani, bukti ketersediaan dana, dokumen pribadi (buku nikah, akta kelahiran, dan lain-lain), foto, dan passport. Seluruh dokumen yang diberikan harus merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris dan disertai dengan dokumen asli (berdoalah semoga semua dokumen kembali dengan lengkap). Ada baiknya dokumen asli dan copynya tersebut sudah disusun (di set) berurutan untuk memudahkan kita dan petugas pada saat verifikasi dokumen. Semua dokumen yang dibawa akan diserahkan kepada petugas VFS pada saat visa appointment. Menyerahkan semua dokumen tersebut seperti menyerahkan nyawa! (hihi, maaf ya sedikit lebay)..Super deg-degan karena dalam proses ini, kita tinggal berpasrah dan berdoa menunggu hasilnya setelah semua ikhtiar yang kita lakukan. Setelah menyerahkan dokumen, kita akan mendapatkan struk tanda terima yang juga berisi nomor barcode yang dapat digunakan untuk mengecek status aplikasi visa kita.

Selain menyerahkan dokumen, pihak UKVI yang diwakili oleh VFS juga akan mengambil biometric information collection kita pada saat visa appointment. Apa sih biometric information collection? Intinya adalah mengambil foto dan sidik jari kita. Keseluruhan proses visa appointment tidak memakan waktu yang lama. Tanpa antrian, seluruh proses bisa selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Namun, pada saat-saat tertentu, antrian bisa jadi cukup panjang sehingga proses ini memakan waktu yang lebih lama. Seperti yang sudah ditulis di atas, kuncinya sih kalau bisa dapatkan antrian di jam yang pagi.

 

Hasil Aplikasi Visa

Setelah proses aplikasi visa selesai, kita hanya bisa berdoa agar pengajuan visa kita diterima. Biasanya, kita akan mendapatkan hasil aplikasi visa dalam waktu sekitar 14 hari kerja, bisa lebih cepat atau lebih lama. Apabila dalam waktu 14 hari kerja hasil visa belum juga keluar, maka kita bisa menghubungi VFS untuk mengetahui status visa kita. Biasanya, hal ini terjadi karena masih ada dokumen tertentu yang belum lengkap atau karena antrian yang panjang. KIta akan menerima e-mail dari VFS yang akan mengabarkan apakah visa kita granted atau ditolak.

Ketika hasil aplikasi visa sudah tersedia (beserta dengan segala dokumen yang kita sertakan), kita bisa mengambilnya di visa application center atau memilih agar hasil aplikasi tersebut dikirimkan ke tempat tinggal (tentunya dengan biaya tambahan). Opsi tersebut bisa dibaca lebih lanjut di website VFS: http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/user_pay_services.html. Terdapat dua kemungkinan hasil aplikasi visa, yaitu granted atau not granted. Berbahagialah ketika Anda mendapatkan izin tinggal di UK. Berarti, langkah selanjutnya adalah memesan tiket dan mempersiapkan keberangkatan. Namun, apabila tidak mendapatkan izin tinggal, apa yang harus dilakukan?

Bisa jadi dokumen yang disertakan belum cukup untuk membuktikan bahwa kita bisa mendapatkan izin tinggal. Biasanya, poin yang menjadi perhatian adalah mengenai dana dan bukti relasi kita dengan pasangan. Pada saat aplikasi masih dalam proses UKVI, kita mungkin akan dihubungi oleh UKVI untuk memberikan informasi tambahan sehingga UKVI dapat memberikan izin tinggal. Namun, apabila UKVI sudah memutuskan untuk tidak memberikan izin tinggal bagi kita, kita masih dapat melakukan appeal. Proses appeal dapat menghabiskan waktu yang cukup lama. Intinya, pada proses ini, kita berusaha untuk membuktikan bahwa keputusan UKVI salah dan kita berhak mendapatkan izin tinggal. Apabila appeal diterima, maka kita akan mendapatkan visa UK sebagai dependant. Namun, apabila tidak diterima, maka kita harus mengulang proses aplikasi visa dari awal, dengan biaya visa yang tidak dapat di-refund.

Nah, selesai sudah penjelasan mengenai aplikasi visa UK bagi dependant. Semoga membantu anda semua dalam mempersiapkan diri mengajukan visa. Tunggu artikel kami berikutnya mengenai persiapan keberangkatan ke UK.

AdventureNotes #23: Birmingham

 

It’s been a busy time for me and I missed last week’s AdventureNotes. And although this week’s article is late, I’m going to make it up to you! This week’s AdventureNotes is about Birmingham. It is the city where I live in now. I’ve lived here for more than six months now and I can find more and more interesting places to visit.

Birmingham is the second biggest city in the UK. It used to be an industrial city where car manufacturers do their production. Indeed, it becomes a quite busy city until these days. People come here for business, but less for tourism. Yes, as it is more perceived as a ‘metropolitan’ city where people trade and conduct business, it has less tourist attractions. There are more office buildings and shopping malls.

Photo: https://mamt.org.uk/TheSchool/About-Birmingham

Having lived in Birmingham for more than six months makes me realize that this city grows rapidly. There are more building developments each day, a newly opened apartment, a construction for a new office center, and a new mall. I feel almost like it’s growing to be Jakarta. Indeed, I think this city has so many shopping centers spread throughout the city. Birmingham itself is big with different areas with their own village centers and attractions. I haven’t had a chance to visit all of them, but here are some that I would recommend.

There are many ways to enter Birmingham. The most common one is of course by train. When you arrive in Birmingham, you will most likely arrive in Birmingham New Street Station. It is a newly built facility, just opened by Queen Elizabeth II a few months back. It is such a modern and iconic building just in the middle of the city center. Besides functioning as a train station, the building is also a shopping mall called Grand Central. It is almost like PIM in Indonesia as this shopping mall is connected with another shopping mall. The place is always bustling with people, even in early morning. Birmingham has two other big train stations, which are Snow Hill station that is located within Birmingham business district and Moor Street station that was once the central train station in Birmingham before it was moved to New Street Station. The architecture in Birmingham Moor Street station is unique and preserved to maintain its characteristic during the old days.

As I said, Birmingham is a city with so many shopping centers. Walking in the city center, you can see different kinds of markets, shopping mall, and shopping area. Besides the Grand Central, another bigger and more iconic shopping mall in Birmingham is called the Bullring. It has been a Birmingham icon for a long time. It is actually a regular shopping mall with unique layout. I really think that the first time people visit this place, they will be lost. Haha. I quite like the surrounding area of Bullring. There are outdoor market where people trade fruits, vegetables, etc., indoor market to sell meat and poultry, rug market where you can find just anything, literally anything, and the streets nearby where you can find individual stores. Walking along the city center is quite nice, really, just hopping from one shop to another.

Birmingham is not just about shopping spree. My favorite place in Birmingham is its Canal Side area. We can walk near the canal, looking at bars and restaurant alongside. Near the canal, there is an area called the Brindley Place where there are restaurants, gardens, and a gallery called Ikon Gallery. I like to visit Ikon Gallery because it is quite unique. It offers different independent exhibitions throughout the year. The garden there is nice and calming. The area is surrounded by tall office buildings, but I can just feel the serenity. Opposite the Brindley Place on the canal side is ICC. It’s a convention center where people see performances, exhibitions, and conferences. Walking through the ICC towards the street, we can see Centenary Square. The annual Birmingham Weekender closing performance is usually held there. Last year, the festival ended with an acrobat performance that was magical! Be sure to visit the city during the event.

In the area near Centenary Square towards the Victoria Square, we can see the Library of Birmingham that is shaped like a wedding cake, the Town Hall, and Birmingham Museum and Art Gallery. Those are the usual places to visit. At the top of the library, there is a Shakespeare memorial room where we can see the city from above. There is also a sky garden where we can have a nice chat outside, on the 7th floor of the building. The library itself is massive! I love coming inside to just look around. The place is so comfy and sometimes there are also exhibitions held there. The library is indeed a very nice place to visit whereas in my opinion, Birmingham Museum and Art Gallery is kind of a so-so place. The layout is rather outdated compared to other museums in the UK.

An area of the city that is rather less explored is the Jewelry Quarter. It is located rather outside the city center, but not too far away. The area is full of jewelry shops where people can window shop (literally through their windows), looking at different jewelry offered. There is also a museum there, but it charges an admission fee around £10 per person. I basically haven’t entered the place because of the fee, but I think it will be quite interesting because we can see the process of jewelry making as the place was once a jewelry factory before it was changed into a weapon factory during the World War II, and now it serves as a museum.

Less people know it before they arrive in Birmingham, but the city was once lived by Cadbury – yes, the founder of that Cadbury chocolate. Therefore, one of the attractions of Birmingham is the Cadbury Experience. Located in a village called Bournville, which was really founded by Cadbury himself, the attraction offers a full experience of chocolate making and its history in the world. There are fourteen different experiences offered by the place, along with its so-called biggest Cadbury shop in the world and a tea room. The admission fee to enter the place is not cheap, but will certainly worth it. However, you need to be careful because you have to book the ticket online as the place is so popular that sometimes there is no slot available for you to visit, especially during the school holiday.

One of the things that attract people to come to Birmingham is its university. Put among highly ranked universities in the world, University of Birmingham does not only offer a good quality of education, but also a place to visit. The university area is famous for its clock tower called the Old Joe. The clock is so high and big that a double decker bus can go through its clock face. The university complex is quite interesting to visit and has its own tourist attractions, such as the Barber Institute, which is the university’s art gallery, and the Winterbourne Garden that attracts people for its beauty. The Valley area, where the university accommodation is located in, is also interesting to explore. The annual bonfire night of the university is held in the Valley.

The last attraction that I would recommend to visit is called the Black Country Living Museum. Located outside the city center, particularly in Dudley, the museum is very unique. The full review of this museum can be found here: https://theadventureofizzao.com/2016/03/25/black-country-living-museum/. Be sure to visit this place when you are in Birmingham because the experience is like no other. Indeed, we can learn many things from how people manage this museum. The place is very educational, yet not boring.

For me, a very nice aspect of exploring Birmingham is the food. Yes, the food. There are lots of different food stalls offering different kinds of food. Especially for me, who is a Muslim and have to eat halal food, the city is full of halal restaurants. I can find halal Japanese restaurant, halal Chinese restaurant, and the common fast-food joint serving halal food. I love it! There are so many delicious food offered with a very reasonable price. It is not difficult at all to pamper your stomach in Birmingham.

As I said, I haven’t explored the whole city, yet. Yes, despite of my months living here, Birmingham is indeed a very big city. I will certainly have to write some more about Birmingham later on when I have visited some more places. See you next week!

Home Away from Home: Proses Aplikasi Visa bagi Dependant (1)

Ketika memutuskan untuk menemani pasangan melanjutkan studi di Inggris, hal pertama yang menurut kami harus disiapkan (selain mental) adalah visa. Proses pengurusan visa memang memakan waktu yang cukup lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Ketika mencoba mencari tahu mengenai pengalaman orang-orang yang mengajukan aplikasi visa dependant, ternyata banyak juga yang mengalami hal tidak mengenakkan. Pengajuan visa, baik bagi dependant maupun bagi orang yang akan kuliah, memang agak tricky. Banyak orang yang bisa mendapatkan visa dengan lancar, tetapi ada juga yang tidak berhasil dan harus mengulang prosesnya dari awal jika tetap ingin berangkat. Tidak sedikit juga sih yang memilih menggunakan jasa dari agency untuk membantu apply visa, tapi kalau mau irit sih lebih baik kita urus sendiri ya.. (apalagi model-model seperti kami yang suaminya penerima beasiswa, hahaha). Sebenarnya pembuatan visa tidak se ‘angker’ yang di bayangkan, asal kita apply dengan benar dan sesuai aturan. Untuk meningkatkan kemungkinan permohonan visa kita diterima, persiapan adalah kuncinya.

 

Mempersiapkan Aplikasi Visa

Ketika orang-orang bertanya mengenai proses aplikasi visa, tentunya kami tidak bisa menjawab dengan ‘asal’. Mengapa? Karena ini berhubungan dengan hajat hidup orang lain dan regulasi dari UK Visa and Immigration (UKVI) yang cukup sering berubah-ubah. Mirip lah dengan Indonesia… hehehe… Oleh karena itu, seringkali kami harus merujuk ke dokumen mengenai visa dependant berupa PDF (link) dan website UKVI (https://www.gov.uk/government/organisations/uk-visas-and-immigration). Sebaiknya, penjelasan yang diberikan oleh UKVI dibaca terlebih dahulu dengan teliti sehingga proses aplikasi visa tergambar dengan lebih jelas.

Wah, ternyata banyak ya, jenis visa UK? Betul. Banyak sekali jenis visa untuk tinggal di UK. Namun, bagi kita yang akan menemani pasangan melanjutkan studi, maka peraturan yang akan diikuti adalah peraturan dibawah Tier 4 (General) Student Visa (https://www.gov.uk/tier-4-general-visa). Jadi, walaupun kita bukan orang yang akan belajar, kita tetap mengacu pada peraturan tersebut. Dapat dilihat bahwa salah satu poin yang dijelaskan mengenai Tier 4 (General) Student Visa adalah mengenai family members. Lalu, apa saja syarat yang harus dipersiapkan? Berikut ini adalah rangkuman dan sedikit pengalaman kami mengenai proses mempersiapkan aplikasi visa, yang juga merujuk pada dokumen regulasi yang ada.

Surat pernyataan bahwa pasangan adalah pelajar

Untuk dapat mengajukan aplikasi visa dependant, kita harus dapat membuktikan bahwa pasangan kita akan melanjutkan studi di UK dengan menunjukkan dokumen yang membuktikan bahwa dia terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah program di universitas yang durasi studinya lebih dari 6 bulan. Jadi, apabila pasangan hanya mengikuti short course yang kurang dari 6 bulan, kita tidak dapat mengajukan aplikasi visa dependant. Bagaimana cara mengetahui bahwa pasangan kita benar-benar telah terdaftar? Setiap universitas akan mengeluarkan surat bernama CAS (Confirmation of Acceptance for Studies), yang berisi nomor seri dan keterangan resmi mengenai studi yang akan dijalani oleh pasangan. Selain itu, kita juga sebaiknya meminta surat keterangan dari universitas bahwa pasangan diperbolehkan membawa keluarga selama masa studi. Biasanya, surat ini bisa diminta saat mengurus pendaftaran dari International Office. Surat keterangan dari universitas ini sifatnya tidak wajib, tetapi akan cukup membantu untuk meyakinkan pihak UKVI bahwa universitas memperbolehkan pasangan untuk membawa keluarga.

Kecukupan Dana

Salah satu hal yang cukup perlu dari jauh hari dipersiapkan adalah dana. Salah satu poin besar yang menentukan diterima atau tidaknya pengajuan visa kita adalah ketersediaan dana. Pemohon visa harus menunjukkan bahwa ia memiliki jumlah uang yang cukup untuk menunjang hidupnya selama berada di UK. Hal ini dapat dibuktikan melalui surat pernyataan dari bank yang berisi nomer rekening, nama pemegang rekening, dan jumlah uang yang ada di rekening. Biasanya, surat ini disebut bank statement letter. Banyak bank besar nasional yang sudah familiar untuk mengeluarkan surat tersebut sebagai persyaratan visa. Lebih bagus lagi, jika selain surat keterangan bank, pemohon visa juga bisa memberikan surat keterangan sponsor sebagai bukti cukupnya dana untuk hidup di UK. Beberapa pemberi beasiswa memang mengalokasikan sejumlah dana yang disebut family allowance. Surat-surat tersebut ditujukan kepada British Embassy sebagai syarat pengajuan visa. Nah, surat-surat tersebut harus bertanggal kurang dari 31 hari sebelum kita mengajukan aplikasi visa. Tanggal pengajuan visa sendiri adalah tanggal saat kita membayar visa fee secara online. Misalnya, saya berencana akan membayar visa fee pada tanggal 31 Maret. Maka, tanggal yang ada di surat yang membuktikan bahwa saya memiliki dana yang cukup untuk hidup di UK paling cepat adalah 1 Maret. Berarti, saya boleh membawa surat yang bertanggal 15 Maret pada saat pengajuan visa, tetapi tidak boleh membawa surat bertanggal 27 Februari.

Lalu, berapa banyak dana yang harus tersedia bagi dependant? Here’s the tricky part. Untuk menemani pasangan melanjutkan studi di UK, kita harus dapat menunjukkan bahwa kita memiliki dana sejumlah persyaratan dari UKVI yang mengendap di dalam tabungan selama 28 hari. Untuk amannya, mungkin dana bisa diendapkan selama 1.5 bulan untuk menghindari tidak dihitungnya hari libur atau akhir pekan. Jumlah dana yang harus tersimpan berbeda tergantung lokasi pasangan berkuliah nantinya. Jumlah dana telah ditetapkan oleh UKVI dan dihitung dengan mengalikan dana per bulan hingga 9 kali (asumsi tinggal selama 9 bulan). Untuk dependant yang akan ikut pasangan berkuliah di London, maka jumlah dana yang harus mengendap adalah £845/bulan/orang. Hitungannya, apabila Anda berdua saja dengan pasangan, maka jumlah uang hidup yang harus dimiliki untuk diri Anda sendiri (karena perhitungan dana bagi mahasiswa berbeda) adalah £845 x 9 = £7,605. Apabila pasangan akan berkuliah diluar kota London, maka dana yang harus mengendap adalah sejumlah £680/bulan/orang. Dengan asumsi satu orang dependant, maka total dana yang harus disiapkan adalah £680 x 9 = £6,120. Jumlah dana yang disiapkan tersebut tentu saja akan berlipat sesuai dengan jumlah dependant yang akan ikut berangkat.

Apakah harus menabung dalam mata uang poundsterling? Jawabannya adalah tidak harus. Kita bisa menunjukkan dana dalam mata uang rupiah, dengan nilai konversi yang telah ditentukan oleh UKVI. Berikut ini adalah currency converter yang dipergunakan oleh UKVI: https://www.oanda.com/currency/converter/. Silahkan masuk ke website tersebut dan mulai menghitung yaa..

Okay… sudah mulai pening? Bagaimana cara saya mendapatkan uang sebanyak itu? Banyak cara sebenarnya. Ada orang-orang yang memang sudah bersiap untuk pindah dan tinggal di UK dari jauh hari sehingga mereka bisa menabung. Ada juga orang-orang yang memang sudah memiliki dana sebanyak itu. Ada juga orang-orang yang harus menjual beberapa aset mereka untuk memenuhi persyaratan tersebut. Lalu, ada juga cara yang biasanya banyak orang terapkan, yaitu dengan meminjam uang dan menyimpannya sementara di rekening agar dapat menunjukkan bahwa dana yang dimiliki sudah cukup untuk hidup di UK. Percayalah, pada kenyataannya hidup di UK tidak semahal itu. Ketentuan jumlah dana memang dibuat sedemikian rupa oleh UKVI sehingga tidak sembarang orang bisa masuk dan tinggal di sana dan juga karena alasan pemerintah UK memang cenderung lebih konservatif dalam hal tersebut. Lalu bagaimana dengan pengalaman kami?

Kebetulan pada saat akan mengajukan visa dependant, suami Alif sudah satu tahun lebih dulu tinggal di UK (ceritanya nih suami mengambil program master dua tahun, lalu Alif menyusul di tahun kedua). Dalam kasus ini, sebaiknya kita menyertakan bank statement dari UK yang menunjukkan kecukupan aliran dana untuk biaya hidup penanggung (dalam hal ini suami) selama di UK. Nah, waktu itu bank statement yang didapat dari bank di UK hanya berupa print-out jumlah dan mutasi rekening saja, jadi bukan surat pernyataan resmi seperti di Indonesia. Selanjutnya, untuk bisa memenuhi jumlah dana yang disyaratkan, Alif juga memindahkan uang dari rekeningnya agar mengendap di rekening suami, sehingga lebih meyakinkan bahwa suami sebagai penanggung memiliki kecukupan dana untuk ‘mensponsori’ hidup pasangan atau keluarga yang akan dibawa. Oh iya, bank statement dari bank di Indonesia saat itu (Agustus 2015) bisa diperoleh dengan biaya sekitar Rp.100.000 – Rp.150.000 tergantung bank nya ya. 😀

Cerita Izza berbeda lagi. Izza memilih untuk meminjam dana sementara hanya untuk menunjukkan bahwa ia memiliki dana yang cukup untuk tinggal di UK. Dengan perhitungan jumlah dana yang dibutuhkan, ia meminjam uang dan mengendapkan uang tersebut di rekening suami selama 1.5 bulan, yang kemudian dikembalikan setelah visa didapatkan. Surat keterangan dari bank dipergunakan untuk membuktikan ketersediaan dana. Selain itu, pemberi beasiswa suami memang memberikan family allowance sehingga surat dari pemberi beasiswa juga meyakinkan bahwa Izza akan mendapatkan tunjangan living allowance sepanjang masa studi suami sebesar jumlah yang ditentukan oleh UKVI.

Wait, jadi uang mengendap harus ada di rekening pasangan yang akan berkuliah? Sebenarnya tidak ada ketentuan mengenai hal ini. Namun, berdasarkan hasil research pengalaman orang-orang yang mengajukan visa dependant, hal ini bisa berguna. Mengapa? Karena dengan begitu, kita benar-benar dianggap sebagai dependant yang bergantung pada pasangan yang mendapatkan visa utama. Nah, apabila memang surat keterangan bank mengenai pasangan yang diputuskan untuk dipergunakan untuk mengajukan visa, jangan lupa untuk membuat surat keterangan bahwa pasangan memperbolehkan kita untuk menggunakan dana tersebut untuk hidup kita selama di UK. Tanda tangan di atas materai! Then, you are ready to go.

Tes Tuberkulosis

Langkah persiapan pengajuan visa berikutnya yang cukup memakan waktu adalah melakukan tes TB (https://www.gov.uk/tb-test-visa). Ya, ini adalah persyaratan yang cukup baru bagi beberapa negara, termasuk Indonesia (sigh, sedihnya masih dianggap negara dunia ketiga yang dianggap sebagai endemik si TB ini). Tes TB ini harus dilakukan di tempat-tempat yang telah dirujuk oleh UKVI. Yang jelas, rumah sakit yang dianggap kredibel tidak banyak dan biayanya cukup besar. Silahkan cek di link ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut: https://www.gov.uk/government/publications/tuberculosis-test-for-a-uk-visa-clinics-in-indonesia/tuberculosis-testing-in-indonesia. Meskipun pasangan mungkin mendapatkan tunjangan untuk membayar tes ini apabila ia mendapatkan beasiswa, tidak ada beasiswa yang meng-cover biaya tes TB bagi keluarga. Oleh karena itu, siapkan juga dana yang cukup, ya.

Mengapa kami sebut tes TB memakan waktu yang lama? Pertama, karena kita harus mendaftar dulu di rumah sakit yang telah dirujuk. Karena jumlah rumah sakit tidak sebanding dengan jumlah orang yang tes TB, maka terkadang kita harus menunggu untuk mendapatkan jadwal yang tersedia. Biasanya, hasil tes TB akan keluar 2 hari setelah kita datang dan dites. Alhamdulillah kalau hasilnya baik dan bisa langsung mendapatkan sertifikat. Kalau tidak? Nggak jadi berangkat? Oh, no! Tenang… kalau ternyata ada indikasi bahwa terdapat bakteri TB, kita akan diminta untuk mengikuti treatment medis tertentu. Masalahnya, treatment tersebut memakan waktu hingga 6 bulan sebelum kita diperbolehkan untuk tes TB lagi.  It is a good time to start now untuk mencoba mengecek apakah ada bakteri TB di paru-paru kita. Karena TB bisa juga diderita secara pasif, tidak ada salahnya untuk melakukan tes TB (tidak usah di tempat yang menjadi rujukan UKVI) meskipun tidak ada gejala TB yang dialami.

Pengalaman yang Alif alami saat tes TB ini waktu itu sih langsung aja datang ke RS yang ditunjuk, jadi tidak pakai daftar terlebih dahulu. Asalkan datangnya pagi-pagi banget, tidak akan terlalu antri. Tapi biasanya kalau datangnya mepet-mepet di bulan yang banyak orang akan mengajukan visa UK, ya siap-siap aja antrinya agak panjang.

Jangan lupa untuk menyiapkan dokumen seperti paspor, pas foto (karena akan ditempel di sertifikatnya), dan uang cash untuk pembayaran tesnya. Sedangkan tips dari Izza, selama sebulan sebelum tes TB, ia dan suami secara konsisten minum susu (merk B**r Br**nd) dan vitamin agar paru-paru bersih (yaa… ikhtiar tidak ada salahnya, kan?).

Dokumen

Hal berikutnya yang harus disiapkan adalah dokumen. Bagian ini adalah bagian perintil-perintil, yang karena perintil jadi sering terlupakan. Semua dokumen yang akan digunakan untuk mengajukan visa harus menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu, kita juga harus menyiapkan waktu untuk menerjemahkan dokumen yang dibutuhkan di penerjemah tersumpah. Jangan menerjemahkan sendiri, ya… Hehehe… Biasanya, ada beberapa rekomendasi penerjemah tersumpah yang telah dipercaya oleh UKVI.

Harganya bervariasi tergantung jumlah lembar yang akan diterjemahkan dan berapa lama waktu pengerjaannya. Untuk wilayah Jakarta pusat bisa ke UI Salemba atau ke daerah Pramuka yang banyak gerai penerjemah tersumpah. Bagi wilayah lainnya, silahkan googling sendiri yaa…

Dokumen apa saja yang diperlukan? Bagi dependant, dokumen wajib yang menjadi persyaratan visa adalah surat nikah dan akta kelahiran. Apabila sudah memiliki anak, maka akta kelahiran anak dengan nama jelas orang tua juga dibutuhkan. Selain itu, kadang-kadang dokumen mengenai tempat tinggal juga dibutuhkan. Hal ini bisa ditunjukkan dengan KTP beralamat sama, kartu keluarga, atau rekening bersama. Bagi kami yang long distance marriage? Perbanyaklah dokumen tambahan yang mendukung bukti bahwa kami memang telah menikah dengan pasangan (di poin berikutnya, ya). Dokumen-dokumen lain, seperti ijazah, sertifikat TOEFL, dan KTP, juga bisa disertakan agar aplikasi visa kita terlihat meyakinkan. Intinya, dokumen apapun yang dianggap relevan bisa diberikan.

Bukti pendukung (tidak wajib)

Pengalaman beberapa orang yang pernah ditolak pengajuan visanya bisa membuat kita deg-degan. Biaya permohonan visa yang cukup menguras kantong adalah salah satu alasannya. Selain itu, males yaa harus ngurus visa dua kali. Sekali aja udah bikin kita pusing, masa iya harus mengulang? Kalo bisa jangan yaa. Berdasarkan cerita yang kami tau dari beberapa orang, visa biasanya ditolak karena faktor seperti ketidakcukupan dana dan kurang kuatnya bukti  bahwa kita memang pasangan resmi/keluarga inti dari pengaju visa utama (pasangan yang akan kuliah di UK). Bagaimana cara mengatasinya? Hal ini bisa diantisipasi dengan melakukan persiapan yang lebih matang. Nah kalau sudah menyertakan surat nikah dan kartu keluarga masa  sih masih tidak dipercaya juga? Whaaaat? Buku nikah tidak cukup? Well, agak tidak masuk akal ya, tapi ini terjadi lho… Hal ini cukup risky terutama bagi pasangan yang tidak tinggal bersama atau bagi pasangan yang baru menikah. Lalu, bagaimana menyiasatinya? Izza mengikuti sebuah tips yang ia dapatkan dari sebuah blog. Saran dari penulis blog tersebut adalah menyertakan bukti hari pernikahan. Jadilah pada saat mengajukan aplikasi visa, Izza menyertakan foto-foto pernikahan, undangan pernikahan, dan juga surat keterangan saksi yang ditandatangani oleh saksi diatas materai. Alif juga melakukan hal serupa karena sebelumnya sudah pernah long distance marriage, jadi menyertakan foto-foto pernikahan berikut foto piknik bareng pasangan adalah salah satu solusinya. Waaah,,,kok ribet banget yaa? Demii visa dan izin tinggal bareng keluarga, kasih laah.. Hehehhe…

Selain itu, memiliki bukti bahwa kita telah memiliki akomodasi saat nanti di UK atau setidaknya undangan dari warga yang sudah tinggal di UK juga dapat membantu kelancaran proses pengurusan visa ini. Biasanya, pihak UKVI ingin memastikan bahwa imigran yang datang tidak homeless. Oleh karena itu, telah memiliki kontrak akomodasi sebelum tiba di UK atau meminta warga yang telah menetap untuk memberikan undangan perlu dipertimbangkan.

Sebenarnya pada saat kami mengajukan visa, syarat ini tidak ada. Tetapi, ada informasi yang menyebutkan bahwa sekarang dependant harus memiliki bukti berkemampuan bahasa Inggris. Ada beberapa negara yang dikecualikan dari persyaratan ini, tetapi sayangnya Indonesia tidak masuk di dalamnya. Setelah mengecek kebenaran informasi ini, kami tidak menemukan adanya persyaratan tes bahasa Inggris untuk dependant dengan tipe visa Tier 4 (General) Student Dependant visa. Namun, tidak ada salahnya (kalau memang mau dan mampu) untuk juga menunjukkan dokumen ini. Untuk lebih jelasnya mengenai persyaratan ini bisa buka link berikut ya.

https://www.gov.uk/government/publications/guidance-on-applying-for-uk-visa-approved-english-language-tests

 

Bagaikan pepatah mengatakan, persiapkan senjatamu sebelum berperang. Jadi, intinya sebelum mengajukan visa, persiapkan dengan cermat semua persyaratan formal dan biayanya. Yang juga perlu di ingat, bahwa dalam proses pengajuan visanya, pemerintah UK ini sangat hobi merubah-ubah aturan. Jadi sering-sering intip aja website resminya dan baca dengan seksama, biar tidak terlalu jantungan kalau ada kebijakan yang berubah, hehe…

Bagian selanjutnya dari artikel ini adalah mengenai proses aplikasi visa. Stay tuned.

AdventureNotes #22: Chester Zoo

Visiting a zoo has never been a choice for me while visiting a city. I don’t know why but I am just not interested in seeing animals and exploring more about them. In addition, zoos in Indonesia (the old ones, actually) are not attractive. However, this one stole my heart.

Chester Zoo is named as the best zoo in the UK. I think it is also ranked within the top 10 in the world. As I said, I’ve never been interested to visit zoos – anywhere in the world. However, when I browsed the internet about Chester, this attraction is mentioned on the top of the list. I visited the website and voila! I had to scratch myself out of my curiosity. The newest attraction in Chester Zoo is called ‘Islands in Chester Zoo’. What is it? It is some kind of an area that displays animals from the South East Asia for conservatory purpose. Uniquely, five out of six islands showcased in Chester Zoo are in reality located in Indonesia territory. There are Sulawesi, Sumba, Bali, Sumatra, Papua, and Sumatera. Wow, indeed. As an Indonesian, I haven’t even visited all of those islands. I was sooo tempted to go. Therefore, despite its high admission fee (I had to pay £20 for student ticket), I went there anyway.

The access to Chester Zoo is not difficult. From anywhere in the UK, we can just hop on a train to Chester. Arriving in Chester at around 9 am, I waited for a bus to Chester Zoo in front of the train station. The bus is scheduled to be one in every twelve minutes. I didn’t have to wait for long before the bus arrived. There are two bus stops near Chester Zoo. The first one is at the front of the parking lot and the second one is inside the parking lot, only a few meters away from the front gate of the zoo. I got off the bus at the front of the parking lot and had to walk around 10 minutes to get to the gate. As it was quite early, the door hadn’t been opened yet. However, the queue was already long. At 10 am, Chester Zoo is opened for public. If we have an online ticket, we can just go through the gate by showing the barcode sent to our email. As usual, buying tickets online is always better. The price is lower and you can also buy other attractions ticket, such as the monorail ticket, etc. However, you can always buy the ticket on the spot at the ticketing counter available there.

DSCF5511

As our first aim is to see the Islands, we traced the map and found the nearest route to the Islands area. On our way, we passed a monkey house where there are baboons and the black monkey (I don’t know what they’re called but they’re not chimpanzee). We also passed a bear, capybaras, zebras (there are lots of kinds of them! I just knew!), and some kind of deer. The Islands is located at the corner of the zoo. It is kind of excluded, but it is indeed for a reason.

DSCF5523.JPG

From far away, we can already see the top of Tongkonan, a traditional house from Sulawesi. It is colorful so you can’t miss that. Entering the Islands complex is like entering a new world. I don’t know if it’s the weather that day or the atmosphere, but the air is getting hotter, just like in a tropical island. I was amazed. There was this made up beach complete with ships and the white sands. As an Indonesian, we said that it’s typical Pantura (North Java Seaside Way). There was a small cabin with Jokowi picture on its wall that in Indonesia used to be called Pos Kamling (Area Security Post). There were also cooking utensils displayed on small bamboo stalls. Amazing! We got to talk with the zookeepers who recognize us as Indonesian. They asked us whether the place looks real. Indeed, it is. Super real! As we walked along the pathway, we could see Indonesian animals, such as Anoa, Babirusa, Banteng, Cassowary, etc. It is quite impressive how the zoo helps the animals adapt with the new environment along with its very different weather to the one those animals used to. As we walked along, we met some other zookeepers who told us that all of the decorations were made in Indonesia, from the ‘village-like’ toilets, small bamboo stalls, up to the wooden chairs and stone sculptures. Wow again for Chester Zoo. It takes the whole thing seriously. It gets more serious when we came into a tropical house where there are tropical plants and birds. I was so happy I could see a real tropical banana trees in here! I felt like I want to take the leaves to cook. Hahaha… typical Indonesian, right? The temperature inside the tropical house is quite hot, maybe around the same temperature as in Indonesia or other South East Asian countries. Before the end of our visit to the Islands, we went for a lazy boat ride. We could see the whole islands from a boat. It is for free, too. Just beware that the queue may be quite long, especially in holidays. As the boat ride ended, it was time for lunch. There is this Manado restaurant inside the Islands area with fusion Indonesian food. There is also this gift shop that sells batik and other Indonesian souvenirs. Seriously, UK just tastes like Indonesia.

DSCF5567.JPG

After a half day in the Islands, we had lunch and went out to the common zoo area. The place is pretty big, but don’t compare it to Taman Safari Indonesia. We took a monorail ride from one point to the other end of the zoo and explored the place. There are quite a lot of animals, such as lions, giraffes, komodo dragons, penguins, sloths, leopards, elephants, etc. It is quite tiring walking around the zoo. Yes, unlike Taman Safari where we could ride our vehicle to explore the area, here we have to walk, looking at animals inside ‘cages’.

Overall, I think Chester Zoo is worth the visit. That was the first time I went to a zoo and really read the information boards about the animals and explored the place quite thoroughly. A day in Chester Zoo is enough, but after that I still wanted to visit the city of Chester. And indeed, the city is also worth another article to write.

Mari Namai Emosi

Beberapa minggu yang lalu di awal Easter Holiday, saya bersama keluarga-keluarga Indonesia yang ada di Birmingham berwisata ke Wales. Perjalanan yang ditempuh dari Birmingham hingga sampai ke tempat tujuan cukup jauh dan berliku. Yah, mirip-mirip jalan di Puncak lah. Kami mengendarai bus dan masing-masing keluarga kemudian sibuk dengan obrolan masing-masing. Kebetulan, saya dan suami duduk di depan bangku paling belakang yang berisi sebuah keluarga. Saat itu, saya mendengar sebuah percakapan menarik.

Pemandangan sepanjang perjalanan memang sangat indah. Kami melewati banyak pertanian-pertanian kecil. Anak perempuan yang duduk dibelakang kami asik bernyanyi sambil sesekali mengobrol dengan ibunya. Di salah satu kesempatan, ia sempat berkata “I am happy, mom”. Saya bahagia. Lucu rasanya mendengar seorang anak dapat dengan begitu mudahnya mengelaborasi perasaan dalam ucapan dan tindakannya. Ia menamai emosi yang ia rasakan dengan ‘bahagia’ dan mengekspresikannya dalam nyanyian sepanjang perjalanan.

Lalu seperti biasa, saya yang hobinya terbang ke angan-angan ini langsung berpikir… bisa ya, anak-anak ini menyebutkan nama emosi dengan tepat, sementara orang dewasa saja kadang-kadang kesulitan mengidentifikasi perasaannya. Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu seorang kerabat saya meninggal dunia. Pada saat itu, anaknya yang masih kecil menangis tersedu-sedu. Semua orang kebingungan menghadapi sang anak dan meminta saya untuk ‘mendiamkan’ anak tersebut. Pertanyaan saya, kenapa harus didiamkan? Kalau saya berada di posisi anak tersebut, mungkin saya akan menangis lebih kencang. Tangisan itu adalah refleksi dari perasaannya, bukan? Apa tidak perlu kita mencoba mengerti lebih jauh mengenai perasaan si anak sebelum ‘memaksa’nya untuk berhenti menangis?

Understanding emotion is surely a difficult thing. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa menghayati perasaan, mungkin setiap emosi yang ada langsung diekspresikan lalu kemudian hilang terganti oleh emosi lain atau dihiraukan sampai tidak terasa lagi. Betul kah? Saya mengalami sih, masa-masa saat saya secara impulsif mengekspresikan emosi saya tanpa paham apa sih yang sebetulnya saya rasakan atau tanpa tahu penyebab munculnya emosi tersebut. Sebagai orang Indonesia yang mungkin kebanyakan dididik untuk tidak menunjukkan emosi ekstrim, terutama ekstrim negatif, saya juga mengalami masa-masa saat saya terbiasa menghiraukan emosi saya hingga akhirnya menumpuk dan meledak. Pada akhirnya, saya tidak tahu apa yang saya rasakan dan tidak juga paham apa yang menyebabkan saya merasakan emosi tersebut. Indeed, saya menyadari bahwa kedua cara me-manage emosi tersebut tidak sehat. At least menurut persepsi saya.

Kenapa Za, tergoda menulis tentang hal ini? Karena pada akhirnya saya menyadari bahwa emosi adalah bagian dari hidup manusia yang harus juga loh diberi perhatian. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat untuk menghiraukan atau melebih-lebihkan emosi harus diperbaiki sehingga emosi dan perasaan berada di posisi mereka yang seharusnya. Banyak sekali penelitian yang telah menemukan dampak positif dari kemampuan regulasi emosi? Misalnya, seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang baik memiliki kecenderungan untuk dapat mengontrol diri, fokus pada tujuan, memiliki ketahanan yang baik, dapat menjalin hubungan sosial yang sehat, dan dapat beradaptasi dengan lebih baik di lingkungan. In the long run, kemampuan-kemampuan tersebut bisa memprediksi kesuksesan karir, hubungan sosial yang sehat, dan overall well-being.

Melihat dampak-dampak positif tersebut, saya jadi termotivasi untuk mengeksplor kembali mengenai emosi. Bagi saya yang sudah dewasa (katanya) ini, mencoba berefleksi dan mengerti mengenai emosi semakin penting lagi karena kemampuan orang tua dalam meregulasi emosi akan terlihat oleh anak dan mempengaruhi kemampuan anak dalam meregulasi emosi mereka. Nah, kalau sekarang saja masih kesulitan, bagaimana saya mendidik anak-anak saya nanti? Saya mencoba untuk mulai menghayati emosi dengan satu langkah kecil yang cukup mudah: Mari namai emosi!

Siapa yang bisa menyebutkan sebanyak-banyaknya nama emosi? Semua yang punya HP pasti tau feature emoticon. Ada berpuluh-puluh jenis emoticon, kan? Menggambarkan apa saja ya, mereka? Mungkin mengidentifikasi nama-nama emoticon adalah cara yang bisa dilakukan untuk mulai tahu berbagai jenis emosi. Pada umumnya, ilmuan mengacu pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an dalam menjelaskan emosi dasar manusia. Emosi-emosi tersebut adalah bahagia, terkejut, takut, sedih, marah, dan jijik. Jenis-jenis emosi tersebut kemudian dipopulerkan dalam sebuah film Pixar yang banyak dibicarakan, Inside Out. Saya senang sekali menonton film ini karena insight yang didapat cukup dalam. Selain ngena bagi anak-anak, isi film ini juga bagus sekali untuk ditonton oleh orang dewasa. Anyway, selain emosi dasar, ada juga berpuluh-puluh jenis kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan emosi.

Selesai? Mengetahui nama-nama emosi tentu tidak berarti kita bisa menamai emosi yang kita rasakan. Ekspresi emosi manusia kadang-kadang tercampur, ambigu, dan sulit diidentifikasi. Misalnya, seseorang yang menangis belum tentu sedih, kan? Saya kenal orang-orang yang kalau sedang merasa sangat bahagia juga menangis. Berteriak belum tentu marah, kan? Kadang, teriakan juga bisa berarti takut. Maka, langkah menamai emosi selanjutnya adalah menyadari emosi yang dirasakan lalu menamainya dengan perbendaharaan kata emosi yang sudah dimiliki. Then, penjelasan ‘yaa… gitu deh’ bisa sedikit demi sedikit diganti dengan penjelasan mengenai emosi yang kita rasakan.

Mari namai emosi sehingga kita dapat lebih baik mengenali diri, dapat menjalin hubungan sosial yang sehat, dapat beradaptasi dengan lebih baik, dan tentunya dapat menjadi contoh bagi anak-anak kita nanti. Simple step counts.

Home Away from Home: Introduction

Home is where your heart is. Bagi banyak orang, rumah tidak sekedar tempat berteduh dari hujan. Rumah bukan hanya sebuah bangunan. Bagi banyak orang, rumah adalah tempat yang memberikan kenyamanan, dimana orang-orang tersayang berkumpul bersama. Pun sama halnya bagi kami pasangan yang telah menikah, rumah menjadi tempat, bagi suami maupun istri, dan anak-anak berada, untuk beraktivitas bersama, saling bertukar pikiran atau sekedar saling bertatap muka dan bercengkrama.

Namun, hidup penuh dengan beragam pilihan dan banyak kesempatan. Bagi kami, salah satu pilihan dan kesempatan itu muncul ketika suami kami mendapat ‘rejeki’ untuk melanjutkan pendidikan di negara yang bagi kami ‘bukan rumah’. Tentu saja kesempatan tersebut bermakna positif bagi suami, baik dalam konteks pribadi maupun kepentingan bersama. Selanjutnya, setiap kesempatan pasti memiliki konsekuensinya masing-masing. Banyak keluarga atau pasangan dengan kasus yang sama dengan yang kami alami, yaitu dihadapkan pada dua pilihan, dengan ikhlas menjalani long distance marriage atau dengan berbagai pertimbangan memutuskan ikut pindah bersama suami, membangun kembali home away from home. ‘Rumah’, yang jauh dari ‘rumah’ kami sebenarnya.

Seperti apa sih tinggal di luar negeri itu? Bagaimana kita bisa menyesuaikan dengan lingkungan di sana dengan keterbatasan yang ada dan perbedaan gaya hidup di Indonesia? Enak banget yaa bisa tinggal dan jalan-jalan di luar negeri. Mungkin, pertanyaan dan ungkapan seperti itu kerap terlintas dalam pikiran saat akan memilih untuk ikut menemani pasangan sekolah di luar negeri. Apapun yang pada akhirnya diputuskan, kami harus menjalaninya sepaket dengan konsekuensi yang ada, plus tidak boleh ada penyesalan dibalik pengambilan keputusan tersebut. Kami yang sama-sama pernah mengalami long distance marriage, memang setidaknya sudah pernah terlatih bagaimana untuk belajar lebih dewasa dalam menjalaninya. Perjalanan pernikahan jarak jauh tentu tidak mudah, apalagi kalau sudah ada anak yang menjadi tanggung jawab. Jauh dari pasangan seringkali membuat perasaan tidak enak, kesepian, sulit berkomunikasi (ya, walaupun dengan teknologi saat ini lebih mudah, tapi siapa yang bisa mengubah perbedaan waktu yang menjadi kendala?), dan lain-lain. Sedih yaa, kemana-mana harus sendiri tanpa pasangan. Apalagi kalau harus mengurus anak (yang bisa jadi lebih dari satu) sendirian. Banyak faktor yang menjadi alasan seseorang memilih untuk menjalani long distance marriage. Karir, kenyamanan, dan keuangan adalah beberapa hal yang umum dijadikan alasan. Biasanya, alasan-alasan tersebut adalah keuntungan yang didapatkan saat menjalani long distance marriage. Meninggalkan karir bukan hal yang mudah, apalagi ketika karir sedang bagus-bagusnya atau ketika baru mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Siapa sih yang mau meninggalkan kenyamanan Indonesia yang abang-abang penjaja bubur ayam dan gorengan dari pagi buta sudah berjualan, tukang nasi goreng yang mangkal di depan rumah siap melayani saat kelaparan melanda di tengah malam? Ya, Indonesia dengan segala masalah dan kesemrawutannya tetap menjadi rumah bagi kami. ‘Dipaksa’ pergi dari zona nyaman itu memang tidak mudah. Bagi sebagian orang, tetap tinggal di Indonesia untuk merasakan kenyamanan dan kemudahan itu lebih menguntungkan dan tetap menjadi pilihan dibandingkan dengan menemani pasangan belajar ke negeri orang. Lalu ada lagi faktor keuangan yang tidak bisa dipungkiri merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan ini. Mau menemani pasangan kuliah di luar negeri? Ongkosnya darimana? Belum lagi memikirkan cicilan hutang yang tak kunjung selesai. Ketika masalah keuangan yang menjadi hambatan, sebagian orang akhirnya dipaksa untuk mengikhlaskan hati (ini agak kontras ya, dipaksa kok ikhlas..hehe) untuk menjalani long distance marriage.

Saat ini, kami berada di posisi ‘susah payah ikut pindah bersama suami’. Susah apanya? Kan enak bisa honeymoon lagi? Nah, ini adalah bayangan yang biasanya ada pada orang-orang yang baru akan ikut pasangan belajar ke luar negeri atau yang memang belum pernah mengalami long distance marriage. Kenyataannya? Well, ini dia beberapa konsekuensi saat memilih untuk menemani suami atau istri belajar ke luar negeri.

Pertama, harus meninggalkan pekerjaan (kalau sebelumnya bekerja). Bagi banyak orang, meninggalkan pekerjaan tetap berarti masuk ke ‘hutan’ yang nggak jelas juntrungannya. Apalagi di zaman yang semakin kompetitif ini, kenyataan bahwa nanti pulang ke Indonesia harus cari kerja lagi bisa jadi issue cukup menakutkan bagi banyak orang. Bye, bye financial security (walaupun ya, ini bukan satu-satunya tolak ukur financial security tapi bagi kami yang awam ini, tidak bekerja itu berarti tidak ada pemasukan). Kedua, meninggalkan semua kenyamanan Indonesia. Iya loh, walaupun banyak protes dimana-mana tentang macet, polusi, mahalnya harga kebutuhan pokok, meningkatnya kriminalitas, dan lain-lain, Indonesia itu tetap super nyaman. Bagaimana tidak, lelah macet-macetan? Panggil tukang pijat. Males masak? Beli di warteg sebelah yang selain harganya ramah di dompet, menunya pun sangat beragam, tidak akan bosan karena kalau sudah jenuh di warung depan bisa pindah ke warung yang sebelahnya lagi. Pilihan makanan dengan harga yang murmer, halal, dan cita rasa yang pas dengan lidah kita selalu ada di depan mata. Mau sholat pas waktunya jalan-jalan, masjid dan musholla bertebaran di mana-mana. Males nyetir? Hello.., transportasi publik di Indonesia itu murah banget dan sangat bervariasi. Disini, mana ada abang ojek yang mangkal di depan gang? Sibuk di kantor dan tidak sempat mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tinggal teriak ‘mbaaaak’ dan rumah langsung kinclong.  Intinya, hidup di Indonesia dipenuhi dengan fasilitas ‘kemewahan’ yang tiada tara, yang hampir pasti tidak akan ditemui disini. Ketiga, memangnya murah mau ikut suami ke luar negeri? Tentu saja tidak. Kami harus putar otak dulu untuk bisa memenuhi biaya visa, tiket pesawat, sewa rumah, dan lain-lain. Beruntung bagi orang-orang yang pasangannya bisa mendapatkan sponsor, baik yang menyertakan tunjangan keluarga maupun tidak. Setidaknya, beban finansial yang harus ditanggung tidak terlalu besar. Intinya, modal yang kami keluarkan memang tidak sedikit. Butuh menabung, berhemat, dan jual ini-itu hingga akhirnya kami bisa sampai disini bersama suami.

Home Away from Home. Melalui seri tulisan ini, kami tidak ingin menghakimi orang yang ikut atau tidak ikut menemani pasangan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Kami tidak juga ingin menakut-nakuti pasangan atau keluarga yang sudah menetapkan hati untuk bersama-sama membangun rumah baru mereka di negara tujuan. Kami hanya ingin berbagi cerita, bahwa manusia sejatinya memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, berimprovisasi untuk bertahan hidup, membangun ‘rumah’ yang jauh dari kampung halaman. Siapa sih, ‘kami’ ini? Perkenalkan, Izza (www.theadventureofizzao.com) dan Alif (www.theriatheria.blogspot.com). Kami adalah istri-istri yang akhirnya memilih untuk menemani suami berkuliah di Inggris, lebih tepatnya di kota Birmingham. Kami adalah istri-istri yang iseng mencari pekerjaan sambil ingin terus memberi manfaat bagi orang lain. Sampai pada akhirnya, kami melihat adanya kebutuhan akan informasi mengenai bagaimana keluarga-keluarga Indonesia survive hidup di tanah rantau ini.

Seri artikel Home Away from Home ini akan mencakup cerita-cerita pengalaman kami sendiri, pengalaman keluarga-keluarga lain, dan berbagai tips untuk keluarga yang mencari informasi mengenai kehidupan keluarga pelajar di Inggris. Kami akan membahas mengenai aplikasi visa, persiapan keberangkatan, akomodasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, pengaturan keuangan, kehidupan sehari-hari, interaksi dengan penduduk lokal, pelayanan kesehatan, pendidikan bagi anak, serta komunitas warga Indonesia yang ada di Inggris. Mudah-mudahan, berbagai informasi yang akan kami berikan melalui tulisan di seri Home Away from Home bisa menjadi panduan bagi keluarga maupun pasangan yang berencana menemani suami atau istri melanjutkan studi di Inggris.
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya minggu depan! Next on: UK Visa Application for Dependants.

AdventureNotes #21: Leeds

12519468_607989676005898_1474196722_n(1)

Leeds is a popular city among Indonesian students. It has at least two universities with good reputation, added with its quite affordable living cost. No wonder there are so many Indonesian students in Leeds. Besides for studying, Leeds is also quite popular for its tourism because it is located (almost) between two national parks, the Yorkshire Dales National Park and the North York Moors National Park. Both national parks are famous for their beauty; they are even mentioned as the must-visit places when you are in the UK.

I personally have not been to both national parks. Some of my friends have and they love it! Indeed, it is something worth to do. However, I have visited Leeds several times now. My purpose was mainly to visit a friend or to do something. Mostly, I went to Leeds to go to the airport, Leeds Bradford. Hahaha… Anyway, during my visits, several times I tried to explore the city. I cannot find a word that can represent Leeds, but just say that it is a combination of old and new.

I had enough time to explore the city (excluding its museums and galleries) during my last visit. I visited the Kirkstall Abbey, went to the Museum Quarter (without entering the museums), and explored the Corn Exchange. There is actually I place that should worth to visit but I haven’t got time to do it, which is the first Marks and Spencer outlet in Kirkgate Market. So, here’s my story…

I saw Kirkstall Abbey a few times when I had to go to the Leeds Bradford Airport. It is located a little bit out of the city center, but not that far that you have to allocate certain time to visit it. When I passed by, I didn’t know that it can be quite interesting visiting the place. Kirkstall Abbey is a complex of park, abbey ruins, a museum, and a small café. In normal days, visitors can come inside the abbey ruins and the museum. There is also some kind of farmers market held there once in a while. However, at the time I visited the abbey, I could not get into the place because it was holiday. I had to be satisfied by just exploring the park and looking at the ruins from the outside. I was happy, though, because I could take a lot of nice pictures.

Again, visiting cities during holiday can be tricky. I went to the Museum Quarter but I could not get into the museums because of it. Therefore, again, I had to be satisfied by just strolling on the streets of Leeds. I heard people recommend Leeds City Museum and the Royal Armories Museum as places to visit. However, it was quite interesting to see how the old buildings and the new developments are blending in the city. The shopping center, which is not too far for the Museum Quarter, is also a blend of old and new. There are many shopping arcades with interesting interior designs.

Near the end of the day, I ran out of ideas of where to go to. Then, my friend suggested me to see the Corn Exchange. Basically, it is a shopping center – or a vintage shopping center if I can say. The building was quite old and has been used as a shopping center for a long time. It is interesting to see the inside of this building because although it is old, the building is preserved well. It is simply gorgeous. I also like to see how the shops still maintain the ‘vintage look’, blending themselves to the surrounding architecture. My husband was especially happy there because there is a camera shop selling second-hand cameras. I was surprised that the shop still sells the analogue camera there!

12407263_497897330389216_970131512_n

Anyway, that is my review about Leeds. It has not been much. However, if I visit the city another time, I would love to use it as the gate to the Yorkshire Dales National Park and the North York Moors National Park.

Live the Life

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah acara jalan-jalan bersama warga Indonesia di Birmingham. Kami mengunjungi beberapa tempat di Wales sebagai pembuka liburan paskah kami. Di Britania Raya ini, liburan paskah memang menjadi salah satu liburan panjang selain libur musim panas dan libur natal. Biasanya, sekolah dan universitas menghentikan kegiatan mereka selama dua minggu untuk merayakan paskah. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat tujuan dari Birmingham cukup lama, yaitu sekitar 3.5 sampai 4 jam. Dengan dua bus, kami berkendara menuju Wales.

Jumlah warga yang mengikuti acara jalan-jalan ini cukup banyak. Terlebih lagi, kebanyakan peserta membawa seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak dan bayi. Terbayang kan, perjalanan cukup jauh, satu hari saja, dan membawa anak-anak. Sebelum pergi, saya mengira bahwa perjalanan akan heboh, ramai dengan tangisan atau keluhan anak-anak yang merasa bahwa mereka terlalu lama di dalam bus. Siap-siap bersabar. Ternyata? Semua itu tidak terbukti. Berdasarkan hasil pengamatan, anak-anak cukup tenang dan bisa ‘menikmati’ perjalanan, walaupun ada juga yang mabuk dan sesekali menangis. Kalau kata orang Indonesia, anak-anak ini nggak ribet lah saat dibawa ke perjalanan jauh. Disogok apa ya, mereka sampai nggak rewel? Well, sepanjang perjalanan, mereka mengobrol, bernyanyi, main, melihat pemandangan, membaca buku, dan tidur. Bosan kegiatan yang satu, pindah ke yang lain, lalu pindah lagi ke yang lain. Yang jelas, mereka tidak mengganggu.

Setelah dipikir-pikir lagi, iya juga ya… sebagian besar anak-anak Indonesia disini memang tidak rewel dan tidak ribet. Mereka seperti mengerti bahwa keadaan menuntut mereka untuk mandiri dan tidak banyak mau. Jadi malu karena saya sendiri sering BM (banyak mau). Kemudian, saya membandingkan hal tersebut dengan pengalaman saya di Indonesia. Bekerja beberapa tahun sebagai guru di berbagai tingkat pendidikan, saya merasa kok ya beberapa anak-anak ini cukup ribet untuk diurus. Seperintilan kecil-kecil macam nangis-nangis saat di makanannya ada sayur yang ‘nyelip’ seringkali saya lihat. Ada lagi urusan jemput menjemput yang repot karena harus naik mobil ini, harus dijemput sama dia, mau pulang mampir kemana dulu. Lalu, saya jadi penasaran. Apa sih yang membuat perilaku merek bisa berbeda? Well, menjelaskan perbedaan perilaku itu ribet, seribet-ribetnya. Sebagai mantan mahasiswa psikologi, saya mengerti betul bahwa satu hal tidak dapat menjelaskan perilaku seseorang. Banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Tapi, saya mencoba melakukan refleksi dan berpikir logis dengan mengambil sebuah contoh. Anyway, seperti biasa ya, tulisan saya ini berdasarkan hasil observasi pribadi dan persepsi saya, sehingga tidak bisa di-generalisasi.

Selama beberapa bulan ke depan, saya memiliki tugas untuk mengantar dan menjemput anak sekolah. Mengamati berbagai hal yang terjadi pada saat saya mengantar-jemput anak sekolah disini, saya mengambil contoh tentang naik kendaraan umum di Inggris dan di Indonesia. Saya tanya, berapa banyak dari Anda yang berkendaraan umum pada saat sekolah? Dari SD? Apakah menyuruh anak untuk naik kendaraan umum untuk pergi dan pulang sekolah atau mengantar-jemput anak dengan kendaraan umum menjadi pilihan Anda? Mungkin tidak. Kalau punya kendaraan pribadi, kenapa harus susah-susah naik kendaraan umum? Kasusnya tentu berbeda disini. Anak-anak cukup terbiasa kemana-mana jalan kaki atau naik bus. Setiap pagi, bus penuh dengan anak sekolah, orang tua yang mengantar, lengkap dengan kereta bayi bagi para orang tua yang masih memiliki anak kecil.

Berdasarkan pengalaman pribadi, naik kendaraan umum di Jakarta selalu menarik. Selalu ada cerita yang dibawa saat mengamati perilaku orang-orang di dalam kendaraan umum. Satu hal yang cukup mencolok dan saya ingat adalah bagaimana perilaku orang tua dan anak saat berada di kendaraan umum. Tidak hanya satu dua kali saya mendengar ‘omelan’ para ibu mengenai repot dan susahnya naik kendaraan umum. Harus pindah, bawa barang, ada anak, dan lain-lain. Keluhan itu seperti tidak ada hentinya, hingga sampailah pada kesimpulan bahwa ‘enak jadi orang kaya, bisa naik mobil atau motor kemana-mana’. Sadarkah para orang tua ini bahwa omelan dan keluhan mereka didengar oleh para anak? Saya percaya bahwa pesan yang terdengar terus menerus dari significant others pasti sedikit atau banyak akan membekas dan membentuk pola pikir seorang anak. Kalau setiap hari diomeli tentang sesuatu yang bukan salahnya juga harus naik kendaran umum, bagaimana pola pikir anak-anak tersebut, ya? Mungkin mereka akhirnya memiliki keyakinan bahwa saya miskin, naik kendaraan umum tidak menyenangkan, dunia tidak adil karena saya terpaksa susah-susah di jalan, boleh mengeluh dan marah pada keadaan, dan segala hal yang berhubungan dengan hidup yang tidak menyenangkan. Mungkin, ini juga yang membuat angka penjualan motor, sebagai kendaraan pribadi yang cukup murah, selalu meningkat di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan naik angkutan umum di Inggris? Saya sendiri melihat bahwa anak-anak dan para orang tua yang harus setiap hari naik angkutan umum tidak banyak protes. Mereka menjalani rutinitas dengan flat. Harus naik bus? Yasudah naik saja. Harus jalan kaki? Ya memang kok tidak ada kendaraan umum yang berhenti di depan rumah. Sepertinya, perkara naik kendaraan umum tidak serta merta berhubungan dengan keadilan sosial. Toh, banyak juga bapak-bapak mapan berjas yang juga naik bus. Tentunya, komentar ‘hidup tidak adil’ dan ‘enak jadi orang kaya’ tidak terdengar. Well, terdengar sih ‘hidup tidak adil’ di kalangan remaja yang memang kerjaannya protes terhadap hal-hal sekecil apapun. The point is, saya tidak pernah mendengar orang mengeluh karena kondisi hidupnya yang terbatas saat berada di angkutan umum. Hasilnya? Anak-anak sepertinya cukup menikmati harus pergi dan pulang sekolah dengan bus. Lagi-lagi ya, argumen ini saya kemukakan dengan mengabaikan perbedaan kondisi kendaraan umum di dua negara yang saya bandingkan.

Kasus yang saya ceritakan di atas adalah pengamatan saya terhadap orang-orang lokal. Bagaimana dengan keluarga Indonesia yang ada disini? Lebih hebat lagi. Saya rasa anak-anak orang Indonesia yang tinggal disini sudah didoktrin dulu. Haha… Entah kenapa, saya merasa bahwa anak-anak orang Indonesia disini jauh lebih dewasa dan pengertian. Mereka tidak banyak protes, tidak terlalu banyak minta ini-itu, dan mengerti kondisi orang tuanya yang… mungkin kondisi hidupnya tidak sebaik saat masih tinggal di Indonesia. Bagi banyak keluarga, mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada mobil pribadi. Tapi toh, anak-anak ini tidak merasa miskin dan tidak menuntut orang tuanya untuk membeli mobil baru. Bahkan, beberapa waktu lalu, seorang anak Indonesia yang masih SD sempat bercerita, ‘Kata Bunda, beli mainannya nanti aja kalau sudah di Indonesia. Disini nggak beli-beli dulu.’ And again, mungkin yang terdengar di telinga para anak juga berbeda. Mereka mendengar orang tuanya berterima kasih karena mereka tidak banyak menuntut, mereka mendengar penjelasan orang tua mereka mengenai kondisi hidup mereka. All in positive light.

Mengamati dan melakukan refleksi terhadap hal-hal tersebut, saya jadi tersadar kembali. All in positive light. Hidup ini tidak mudah, kenapa harus ditambah lagi dengan pandangan-pandangan negatif? Saya melihat bahwa disini, hidup ya dijalani saja. Sebagai manusia, tentu pernah mengeluh dan merasa tidak suka dengan kondisi yang dialami. Tapi, ya itulah hidup. Live the life. Memangnya dengan mengeluh dan marah-marah lalu kondisi hidup kita bisa berubah? Menurut saya, justru dengan begitu malah meracuni pikiran orang-orang di sekitar. Hal ini tentu lebih ditekankan pada orang tua, seperti contoh saya di atas. Sadarkah bahwa perkataan yang didengar anak mengenai bagaimana orang tua memaknai hidup mereka bisa membentuk pola pikir anak mengenai dunia? Sepertinya manusia memang perlu lebih banyak bersyukur, termasuk saya… terutama saya.

AdventureNotes #20: Cambridge

Besides Oxford, another city famous for its smart students is Cambridge. Cambridge is one of the oldest universities in the UK, dating back to 1209. Wow! In my words, I think Indonesia was still in Ken Dedes and Ken Arok era when people in the UK began attending universities. Well, besides its long history, University of Cambridge is very famous for its high quality of education. People from all around the world dream of coming to Cambridge to study. Indeed, university life is the center of the city. From my observation, it almost seems that the city basically grows around the university. Personally, besides its education quality, Cambridge is a beautiful city to visit.

Getting to Cambridge is certainly easy. Like most cities in the UK, you can just hop on a train to reach this city. However, I think people need to beware because the train fare is quite expensive for Cambridge. To compare, a train ride from Birmingham to London costs around £10-20 return per person whereas the train ride from Birmingham to Cambridge costs around £50-60. It’s almost three times the cost, right? This is why I just visited Cambridge during the second time I live in the UK. I joined a university arranged trip, which can be quite cheap. At that time, I only paid around £15 for my return trip. If you are a student, you can search information about this kind of trip. It can be useful!

I didn’t stay overnight when I visited the city. It was a lovely daytrip because the weather was so nice that day. I won’t be able to suggest which one is better, to stay overnight or to have a daytrip because I am not so sure about how expensive the accommodation price there. However, I can tell that visiting the city just for a day surely not enough to explore the whole city one by one. I mean, there are lots of galleries and museums that you can come into. Indeed, exploring a museum for a day is never enough in the UK. They are massive!

So, what did I do when I visited Cambridge? Punting! What? It’s so mainstream and expensive! Actually… no, it isn’t. I booked my ticket online so I just had to pay £8 for around an hour punt ride. Of course, I chose the one with a punter. I’m not that confident to punt by myself. I’m not that good at swimming. Well, anyway, it was a good choice. During the trip, the punter told us about peculiar facts about Cambridge. We could see the back of Cambridge colleges and the view is simply beautiful. I love it! I think most of Cambridge biggest colleges are located near the river so we can see almost all of the famous attractions during our punt ride. Besides, it really helps us navigate our way later on when we explore the city by foot.

Just like Oxford, the main attraction of Cambridge is its university. And just like Oxford, we need to pay a small amount of admission ticket to enter the colleges. Well, not all, just the most beautiful and famous ones. The ticket price is slightly more expensive than Oxford, too. Therefore, I would suggest you to choose which college you want to visit. During my visit, I entered three colleges. One of them is free, which is Clare College. The other two, St. John’s College and King’s College are not free. However, it is worth it! The view was just beautiful. Moreover, at the time I visited the city, I think there was some kind of celebration or something. University of Cambridge students were walking around with their robes. Gosh, I really want to try wearing those robes. You know, each college has its own robes? I felt like I’m in a Harry Potter movie. You surely can visit some more colleges. A friend of mine said that Pembroke College certainly needs to be visited. I also wanted to go to Trinity College, but it was closed at the time I was in the city. Well, you can check them first before deciding to visit them.

So museums, colleges, punting… Cambridge also offers unique outdoor markets. I think it is occasional, but the open market in the center of the city is regularly opened. I went to an art pop up market and saw unique things. I also went to the outdoor market and see many distinct foods. It is interesting for me. Actually, I like to soak up the atmosphere there. Cambridge is also full of interesting small streets. You can explore them. I don’t really know about the shops, but I think it might be interesting to go into shops selling the University of Cambridge robes. I tried to enter one, but non-students cannot try on the robes.

As I said, a day in Cambridge only covers that much. I think another visit to Cambridge is necessary to find out more about the city. In my opinion, indeed, Cambridge is a very beautiful city.

Mar 26, 2016

AdventureNotes #19: Bath

When I first came to the UK, I didn’t know what Bath is. My friend, then, told me that it is a beautiful city and the home of one of the UNESCO World Heritage. I am not sure why I didn’t know about Bath because it is mentioned as one of the most beautiful cities in the UK and it is a must visit place. Therefore, I started to look into it, finding out information about the city, and finally decided to visit Bath.

I went to Bath during a summer break by train from London. As I was living in Hull at that time, the cheapest way to go to Bath is through London. However, it can still be quite expensive, around £30 for return ticket per person. Actually, Bath is easily accessible by train. However, if you want to get better deal on visiting this city, you can check day tours or Eventbrite because there are several day tours to Bath and Stonehenge, or other cities, from London. It can be a better choice if you want to visit more than just Bath.

Personally, I cannot find any city similar to Bath. I don’t know but I just don’t think it is comparable to any other cities. I think Brighton is the closest one, but Brighton is located on the seaside whereas Bath is mountainous. Moreover, there are actually so many attractions in Bath that I would suggest you to stay at least one night to really get to know the city. Therefore, I chose to make my own itinerary and spent a night in Bath.

Although it is advised to stay in Bath overnight, the accommodation price there is expensive. As it is a touristic place, like York, hiring a hotel room can be very expensive. I could not find any hotel offering a room priced less than £40. You are lucky if you are a solo traveler or you don’t mind to stay in hostels because YHA has a branch there. So far, it is the most affordable accommodation in Bath – well, except the AirBnB. However, I didn’t stay in YHA when I visited Bath. Instead, I slept in a university accommodation. How come? Every summer holiday, the University of Bath rents its student accommodation for visitors. The price is quite cheap, around £30 a night including breakfast. It is a dorm room, fully equipped. The only downside is that the bathroom is shared. I was quite happy to be able to spend a night there because then, I could also visit the university and feel how students live in dorms. The breakfast is quite good, too.

As I said, there are many tourist attractions in Bath. The most popular ones are the Roman Baths, Jane Austen Center, Fashion Museum, No.1 Royal Crescent, Bath Abbey, Pulteney Bridge, and the Circus, and the Royal Crescent. You can visit all of them, of course. However, at the time I visited the city, my constraint was money. Most of the attractions in Bath apply admission fee.

For the paid ones, I went to Roman Baths, Fashion Museum, and No.1 Royal Crescent. It was costly, but I think it worth the pay. In Roman Baths, I could see many Roman artefacts and get to know more about how Romans live in the UK at that time. Basically, it provides us with so many historical facts and stories. Besides that, we can also see the former Roman Baths, where people on that day take shower. It is very well preserved. This attraction is located in the middle of the city so it is hard to miss. Near the Roman Bath, there is a café called The Pump Room, where you can have tea afterwards. Well, I didn’t try it because I was in a low budget, but if you are interested you can absolutely try to have an afternoon tea here.

On my second day in Bath, I went to see the Royal Crescent and the No.1 Royal Crescent. They are located in the same area. The No.1 Royal Crescent is a show house, picturing how people in the Georgian era live. We can explore the different rooms of the house, including the furniture and else. There are guides there who will tell us stories and details about how people live back then. Unfortunately, most of the objects shown there are not really the original objects but loans from different museums and private collections. Well, it is good to know that people here really pay attention to history, saving meaningful objects, etc. But it will be good for the attraction to have collections on its own.

Although I didn’t plan to go to this museum, the Fashion Museum is certainly my highlight. The museum is rather dark, but the amount of the collection is imaginable. I could really see how fashion changes along time. The exhibition is enormous. I think, fashion lovers should visit this museum and will spend a whole day in this attraction. Again, despite its cost, it is very worth it.

Those are my picks, but you can explore Bath for more. If you are in a low budget, you don’t have to come into those paid attraction because strolling through Bath’s small alleys and streets is certainly charming. It is a city like no other.

Mar 19, 2016