AdventureNotes #15: Budget London

This article is the second part of the London series in AdventureNotes. London is notoriously known as an expensive city. Indeed, based on the figures from Expatistan reported by the Independent UK, it is the third most expensive city in the world (http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/london-is-the-third-most-expensive-city-in-the-world-to-live-in-just-behind-billionaire-playgrounds-10422924.html). It is also placed on the third place for its property cost according to Telegraph (http://www.telegraph.co.uk/finance/property/pictures/11450782/The-worlds-10-most-expensive-cities-2015.html?frame=3220484). These facts sometimes make people think more than once when they are planning to visit this city. Is it too expensive to visit? Will it worth the money? It surely will! There are numerous ways to visit this city when you are on a budget.

As its property price is so high, staying in London can be very, very expensive. The normal chain hotel price in zone 4-5 London is around £60. How can I afford that? Well, there are some other options for you who want to get the best bargain. If you are Indonesian, there is always Wisma Indonesia. The place is very cheap, around £15 per night. However, the location is quite far from central London where the attractions are. Combined with the transportation price, etc., I would say that there are other options. If you are travelling alone, hostels can be more affordable. There are various choices for hostels in London. I usually use this website, http://www.hostelworld.com/, to book hostels in UK. It’s pretty handy. However, you may want to check the hostel’s website to compare the price. Hostels can also be useful when you are travelling in groups. Besides that, there is also AirBnB that offers various properties to be rented in London. Want some more privacy? Why don’t we try the budget hotel chain? There are many budget hotel brands, such as EasyHotel, Tune Hotel, or Premmier Inn. Those hotels have properties in various central places in London. It’s quite a bargain if you want some more privacy and be close to London highlights. I visited London last December and stayed in EasyHotel in Victoria for just £25 per night. The room is very small but it’s okay for couples. I recon if you are travelling with kids, the other budget hotels might be better although a bit pricey.

Moving on, London’s transportation ticket is the second most expensive in the world. Having Oyster Card surely helps, but still, it can be as high as £8 per day. Want to get cheaper option? Santander bike (https://tfl.gov.uk/modes/cycling/santander-cycles)! You can cycle around London for only £2 per 24 hours. So much cheaper, right? So much more tiring, as well. Hahaha… Anyway, if you are in fit condition and don’t bother to be tired at the end of the day, I think you should at least try the Santander bike. It’s not only cheap, but also a good way to explore the city.

London offers many attractions free for entry. Most of the free entry attractions are museums and art galleries. Educational, right? Hahaha… Don’t imagine the museums to be boring places. In here, the museums are very interesting. The layouts are planned carefully so that the visitors can really enjoy the places. Besides that, you can always take pictures in front of famous places, like Big Ben or Tower of London. All are free! You can also look out for offers like 2for1 or advanced online tickets. It can be quite a bargain.

Living cost always includes food and drink. Personally, I would suggest us all to have a certain budget for food and drink. Why? Because sometimes I can get carried along, thinking that it is a primary need so that I shouldn’t pay attention on how much it cost. Turns out that, it can be the biggest chunk of all of the spending! I usually put my limit on £20 per day if I am travelling alone. Together with my husband, my budget for food and drink is £30 per day. There are cheaper options of food and drink if you are on a budget. For me, bringing my own drink is very helpful. I don’t have to buy those costly bottles of mineral water. Sometimes I choose sandwiches or other cold food so that I can avoid paying the restaurant tax. If I want hot food, I usually go to Piccadilly area where there are many choices of cheaper street foods. I think it’s just a matter of finding the right place to eat. Avoid restaurants or places near to famous attractions and you will be safe!

London may be expensive, but we can always plan our itinerary based on our budget. Find out more inhttp://www.visitlondon.com/things-to-do/budget-london?ref=nav-dl. See you next week on more about London!

Feb 12, 2016

Academic Writing 101: Part 4

Yeay! Akhirnya ini adalah bagian terakhir dari Academic Writing 101. Pada bagian ini, saya akan berbagi beberapa tips yang mungkin kecil tapi perlu diperhatikan dan dilakukan saat menulis. Ada tiga hal yang didiskusikan pada bagian ini, yaitu mengenai fokus dalam menulis, pentingnya latihan, dan saran saya untuk berkonsultasi mengenai tulisan Anda. 

Don’t lose your focus

Seperti yang sudah dibahas di beberapa tulisan sebelumnya, esai yang baik adalah esai yang dapat menjawab pertanyaan mengenai suatu masalah dengan memberikan argumen yang logis dan tepat. Bagi saya, mendefinisikan permasalahan dan argumen adalah hal yang sangat penting sebelum mulai menulis esai. Mengapa? Karena tanpa tujuan penulisan yang jelas, esai akan kehilangan arah. Sialnya, esai yang kehilangan arah tidak akan menjawab pertanyaan, atau setidaknya tidak secara logis dan efisien menjawab pertanyaan. Oleh karena itu, perjelas dan pertajam masalah yang akan Anda bahas dalam esai Anda and stick to it!

Saya pernah mendapatkan saran dari seorang dosen S2 saya mengenai penulisan esai. Ia menyebutkan bahwa topik sebuah esai harus sempit dan pembahasan esai harus dalam. Salah satu esai yang mungkin tidak akan dinilai terlalu baik adalah esai yang membahas suatu permasalahan secara umum dan hanya di permukaan. Cobalah untuk meminimalisir deskripsi dan memperbanyak analisis. Pengalaman saya sendiri, bagian-bagian deskriptif dari esai akademis yang saya tulis biasanya hanya ada pada pendahuluan. Sisanya, saya mengelaborasi berbagai bukti dan contoh untuk mendukung argumen saya.

Salah satu cara yang cukup bermanfaat adalah dengan menggunakan kerangka tulisan dan mencocokkan informasi yang dimiliki ke dalam kerangka tulisan tersebut. Apabila informasi tertentu tidak dapat diklasifikasi ke dalam kerangka tulisan, bisa jadi memang informasi tersebut kurang relevan dan harus dihapus. Sedih memang untuk membuang informasi yang sudah susah-susah dicari. Believe me, saya pernah membuang setengah dari informasi yang saya miliki hasil dari membaca puluhan buku karena ternyata informasi tersebut tidak tepat untuk ditulis di dalam esai saya.

Kendala yang sering dihadapi dan membuat seseorang kehilangan fokus dalam penulisan esai adalah adanya ekspektasi jumlah kata yang dituliskan pada esai. Tentunya, sebagian besar esai akademis yang menjadi tugas dari suatu mata kuliah memiliki kriteria tertentu. Kalau sebagian informasi sudah dibuang karena tidak relevan, lalu bagaimana esai saya bisa mencapai kriteria yang diminta? Lagi-lagi, BACA. Baca lagi, cari lagi, eksplorasi lagi. Kalau tidak ada lagi yang bisa dilakukan? Mungkin memang topik yang dipilih kurang tepat atau tidak cukup ‘kaya’ untuk ditulis sebagai esai.

Latihan

Bahasa adalah keterampilan. Saya sudah pernah membahas hal ini di tulisan saya dengan judul yang berbeda. Karena bahasa adalah keterampilan, maka ia membutuhkan latihan. Saya, Anda, semua orang perlu berlatih agar lancar berbahasa. Pernah mengalami kesulitan menggunakan bahasa Inggris karena sudah lama tidak digunakan? Begitupun halnya dengan menulis, sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa. Menulis juga butuh latihan.

Banyak sekali cara untuk berlatih menulis. Meskipun bukan dalam konteks akademis, menulis lepas pun bisa dijadikan sarana untuk berlatih menulis akademis. Setidaknya, kaidah dasar penulisan pun masih selalu harus digunakan pada saat menulis. Misalnya, tulisan harus bertujuan, harus ada pendahuluan dalam suatu tulisan, harus ada pula kesimpulan. Mungkin cara yang cukup dapat dilakukan untuk merutinkan diri berlatih menulis adalah dengan menulis buku harian (iya, ini tipikal anak SD). But really, it helps. Saya sendiri tidak menulis buku harian, tapi selalu mencoba untuk menggunakan kegiatan menulis sebagai pengisi waktu luang. Refleksi diri dan menuliskannya, menulis pendapat tentang suatu hal, atau mungkin menulis tentang hal yang menarik bagi saya. Baru-baru ini, saya menulis tentang hal yang menurut suami saya ‘pernyataan sikap’ terhadap suatu topik (http://izzadinillah.tumblr.com/post/138498316931/super-woman-called-mom). Bagi saya, menulis lebih baik daripada mengeluh, ngedumel di dalam hati, atau malah marah-marah sendiri.

Apabila sudah cukup terbiasa menulis, saya akan menyarankan Anda untuk membuat sebuah blog.Media ini cukup bermanfaat untuk menampung tulisan-tulisan yang dimiliki. Tujuannya tentu bukan untuk menambah follower atau mencari popularitas. Bagi saya, blog yang saya miliki berguna untuk mengingatkan saya agar menulis. Saat ini, salah satu hal yang sedang saya biasakan adalah menulis dalam bahasa Inggris setidaknya seminggu sekali. Oleh karena itu, saya pun membuat sebuah seri diblog saya, yang saya beri judul AdventureNotes (http://izzadinillah.tumblr.com/post/138270024166/adventurenotes-13-london-the-introduction). Karena merasa diwajibkan untuk menghidupkan blog saya, maka saya berusaha sekali untuk selalu menulis seri tersebut. Latihan, latihan, dan latihan menulis. Dengan berlatih, saya menjadi cukup lancar menulis dan selalu memperbaiki tulisan-tulisan saya.

Konsultasi

Saya sangat sangat menyarankan setiap orang yang menulis dalam bidang akademis untuk berkonsultasi. Konsultasi bisa dilakukan sebelum, di awal, pada saat menulis, dan setelah tulisan selesai. Pada saat saya sedang berkuliah S2, saya selalu berusaha untuk menyelesaikan tugas setidaknya seminggu sebelum tenggat waktu pengumpulan agar saya dapat berkonsultasi pada dosen saya, teman saya, atau orang lain yang dapat dimintai bantuan.

Dilemanya, terkadang manusia tidak suka dikritisi. Yes. Tapi, demi tulisan dan nilai yang baik, saya rela. Hasil konsultasi saya tidak selalu baik. Diminta mengganti topik esai setelah half way through the writing process? Pernah. Diminta untuk mengubah struktur esai saat sudah ¾ jadi? Pernah. Sedih, kesal, lelah… tidak ada rasa yang enak setelah menerima feedback negatif. Semua saya telan saja karena saya yakin, proses tersebut baik untuk saya pada akhirnya.

Jadi, saya menyarankan Anda untuk konsultasi pada orang yang Anda anggap mampu memberikan umpan balik yang tepat dan jujur dalam menilai tulisan Anda. Jangan minta ke saya ya, karena saya cukup galak ketika memberikan feedback sampai suami saya saja stress duluan kalau meminta saya membaca esainya.

Terima kasih sudah membaca tulisan yang sangat panjang ini. Sungguh, niatnya hanya ingin berbagi. Semoga berguna dan membantu Anda dalam menulis akademis, ya…

Happy writing!

Feb 04, 2016

AdventureNotes #14: Artsy London

As promised, this one, and the upcoming AdventureNotes will be about London. I think, London is a city in which art is a major part. Therefore, this first exploration about London will be on art. Artsy London. If you are an art person, London is heaven. The city offers many choices of activities for you, whether you are into visual arts, crafts, music, or theatre. For me, the best part of London is its theatres. I love it so much, especially the musical plays. I am not so much into visual arts, but I quite like seeing crafts and street music. Here’s my experience being an ‘artsy’ person in London.

Visual art is closely linked to art galleries. I may not be the best person to give you suggestion on this, but I should say that art galleries in London are fabulous. There are many art galleries in London, from those displaying more conventional type of paintings to those displaying more contemporary forms of visual art. Say, National Gallery, Tate Britain, and Tate Modern. Those are just the famous names. I can think that every corner of London (well, at least in zone 1) has a dedicated art display. Anyway, I haven’t been to Tate Britain and Tate Modern, but I’ve been to National Gallery. My first impression: the place is huge! You surely have to spare one day alone to explore the paintings inside. If you like looking at paintings from hundreds of years ago, maybe you can go to this place. When I visited the place, I also saw a group of children having a tour specifically made for them. They were given drawing tools and they can try to copy their chosen paintings. That is kind of interesting because art galleries can be boring for children. This way, they can learn to love the art and explore the art gallery without judging that it is such a boring place to go to.

I kind of like crafts – just to look at. Don’t bother to ask me to make one, I will run away. Exploring markets in London can make you stumble upon unique crafts. I especially like to go to Portobello Market because there are lots of small shops and street stalls selling unique crafts. You can find rugs, bags, jewelry, and household stuffs there. Not that I’ve bought anything there, but the stuffs there are quite interesting! I don’t know if there is any place offering some kind of workshop there, but surely it is a good place to explore crafts in London.

Music! This is what I love about strolling on London streets because I can see street musicians performing. I love it! I think the best places to go to if you like street performers are Piccadilly Garden and Southbank area, near the London Eye. I once saw this group of female street musicians who are just wonderful! I can stay and stay and stay until they finish their performance. Well, that’s enough for me who don’t want to spend too much money on concerts. However, there are many music events held in London each year. You can look at Royal Albert Hall websites, the O2 arena, and other places regularly held musical performance. Sometimes, there are also music festivals in Hyde Park. If this is your interest, I think you should at least once feel the experience of coming to a concert in London. Where else can you see famous musicians with relatively not too expensive tickets?

My most favorite part of the artsy London is theatre! God, I love watching musicals! And London is the center of it! Every single time I went to London, I always find time to visit the West End. The area covering Victoria up to Covent Garden is the heart of theatres. Each theatre allocates itself for one type of performance. Say, you want to watch Lion King the musicals, then you have to go to Lyceum theatre. There are tens of performance shown each night and believe me, it is mostly fully booked. If you are into this kind of thing, I would suggest you to buy the theatre tickets way in advance to get the best deal. They sell theatre tickets online and there are lots of websites claiming that they offer the best price. One website that I would recommend is: http://www.tkts.co.uk/. If you are in a hurry and cannot book the ticket online, the cheapest way to see a theatre performance is by going to the ticket office last minutes as sometimes they still have some seats left or as some people may return their tickets for that night. If it is not cheap enough, you can always wait in front of the theatre until the performance begin, and they will sell the tickets in way cheaper price – although you may miss the beginning part of the show. I’ve seen two musicals so far, Wicked and Matilda. Both are great! I wouldn’t mind if someone asks me to watch those again, really. However, I would really love to see Lion King. Indeed, the ticket price never goes down! Poor me. I’d have to save my money before I can watch that show. Fingers crossed, I want to watch the show before I left the UK this year!

Of course, art is not limited to the parts that I discussed. Those are just the big parts. There are many ways to explore London in artsy ways. Look at unique places, festivals, and local art groups to know about it deeper. Next on: Budget London! Stay tuned!

Feb 05, 2016

AdventureNotes #13: London, the Introduction

Okay! So the Adventure Notes for London will be divided into several parts because it is such a big city with sooo many points of interest. Therefore, the articles on London will be based on different point of views, such as Artsy London, London on Budget, etc.

In this first London article, I will try to give you basic information about visiting London. Of course, you can always find all of the information in http://www.visitlondon.com/. However, I will try to elaborate some important things and tips based on the website, several other websites, as well as my own experience. Here it goes…

1.      Getting there

London is easily accessible from… well, basically all around the world – according to your budget, of course. Mostly, people from around UK come to London by train. There are many options for the train, starting from the cheap one up to the high-end one. I usually look out for the best fare here:http://www.thetrainline.com/farefinder/. Using the website, I can get the best deal on the day I plan to travel. I could also change my travel dates based on the cheapest available ticket. You can also visit by train from Paris, using the fast train, EuroStar. It can be as cheap as £20 one way. Again, monitor the website, http://www.eurostar.com/uk-en, to get the best deal.

From other far point of departure, such as Edinburgh, cities in continental Europe, and other cities around the world, flying may be the best option. Look out of the best airlines deal here:http://www.skyscanner.net/.

If those transportations are not cheap enough for you, you may find Megabus attractive. Haha! It can be very cheap sometimes. I usually try to find the deals on more uncommon destinations or the destinations very expensive to get to by train. It can be very tiring, traveling by bus, especially if it is far, but if budget is your concern, it can be an option. Check your price here: http://uk.megabus.com/.

2.      Staying

There are actually many options to stay in London. As I live not too far from London, it can be cheaper to just have a day trip from my city to London. However, if you really want to explore the city, stay overnight is recommended. Where you stay will much depend on how you are traveling and your budget. Nowadays, AirBnB is quite popular. I haven’t tried it, but if you are traveling in groups or with your family, it can be a good bargain. As an Indonesian, I can always book a room in Wisma Indonesia. It is quite cheap although the location is quite far from central London.

I visited London several times and all of those times I stayed in different places. When I was with my friend or with my husband, I stayed in budget hotel or bed and breakfast. There are several options of budget hotel, including for those with families, such as EasyHotel, Travelodge, Premier Inn, and Ibis Budget.

When you are alone, the way you stay in London will be more flexible. I believe that hostel is the best option. Oh! And hostel is also a good option if you are traveling with several friends, say 4-8 people as you can stay together in a room for a cheaper price instead of booking several rooms in a hotel. People may think that hostel is… well, not clean, lack of privacy, and uncomfortable. In my experience, it basically depends on the hostel. Remember to read carefully the description of the hostel if you are looking for one. It usually mentions the ambience of the hostel, whether it is quite and businesslike or if it is hype and trendy with lots of parties around. Most hostels that I have ever visited are clean. The bathrooms are well maintained although it is a shared bathroom. Each bed will have its own access to an electric plug and each guest is given a certain locker with its key for the belongings. So, don’t worry, you can try to book a bed in a hostel!

My suggestion is, in looking for a budget hotel or hostel, do consider these things: price, location, room accessibility, and facilities in and around the hotel. For me, location is the most important thing. I wouldn’t want to travel far away to get to the places I want to visit. Therefore, I always compare the price with the location. Furthermore, London’s transportation fare may be quite expensive, so cutting the cost of transportation can help much of your budget.

3.      Transportation

The first thing about transportation in London is: Oyster Card. It is a must card if you are traveling to London. You can buy the card online or in travel information centers around London. It is a one-for-all ticket to get around London as you can use it to pay for the bus fare, tube, and waterway. Just top-up your card and you are ready to go! There are two different types of Oyster Card, the traveler one and the ordinary one. My suggestion is to buy the ordinary one. Yes, the traveler one has better design and cost less, but you can redeem your credit as well as the card when you finish using it. It costs £5 for the card and you will get your money back upon your redemption.

As you may already know, there are many means of transportation in London. There are tubes, buses, waterways, and bicycle. There is a London information website to find out live transportation report,https://tfl.gov.uk/. Using this website, I could avoid closed roads, late buses, etc. It is very helpful; especially to find out which tube line is in trouble or under maintenance.

Traveling around London is not difficult. Google maps and other mapping aps can direct you to certain places. What I need to be aware of is when it is difficult to get signal for my phone. A sense of simple direction, like North, South, West, and East, is important. Whenever you are going to get a tube or bus, think about your position and where you want to go to. Pretty simple, actually.

4.      Planning your itinerary

As I said, London is a big city. It is impossible to visit all places in one trip, believe me! Therefore, you itinerary should be made carefully. Choose the places you really want to go to, based on your interest. If you are just going to pass along some famous landmarks, you can do it in maybe 2-3 days. However, if you plan to visit museums, you have to allow one full day for one museum. Indeed, museums in London are big! British Museum has tens of galleries, the same as Natural History Museum. Just, don’t go too big in your itinerary. Be realistic, allow yourself to soak the London vibe. Oh, and a simple tips that I just figured out is that you can actually match your place of stay (hotel/hostels/others) to the places you want to visit. Visiting London per area is also a good option. For example, you can stay in Greenwich and visit only Greenwich attractions, and so on, and so on.

For this reason, too, the AdventureNotes on London is going to be divided into several parts, depending on the itinerary.

5.      Holiday season

It is pretty complicated to take this holiday season into consideration because most of us can only go to London during our holiday. BUT everything can be quite expensive during the holiday period. Besides, the city will be very crowded. I went to London during the Christmas holiday twice. On both occasions, the city was full – except on the exact Christmas date.

Another thing to be considered if you are traveling in holiday season is the availability of public transportations. They are usually limited on exact holiday. For example, I had to use the Santander Bike, https://tfl.gov.uk/modes/cycling/santander-cycles, to go around London on the Christmas day. It is okay for me, but for you with children or if you cannot ride bicycle, it may not be the best option. Another alternative is to walk. Yeaa… but you couldn’t go too far, could you?

Oh and one more thing! Not only the public transportation, other facilities such as toilets, shops, and restaurants are also usually closed on the exact celebration day. I really don’t want to experience the lack of those public facilities again during my trip, ever! It was quite horrible to not be able to find toilets and restaurants for a day.

6.      Budgeting

The last but certainly not least important thing to consider is your budget. London can be very expensive, so I usually set my daily budget to eat, etc. I also try to find the cheapest possible alternative to stay and travel. There are also lots of attraction tickets deals available for you. Do search for this and use the offers. It is worth to save one to two pounds, right?

Read the next AdventureNotes for more on London!

Jan 29, 2016

AdventureNotes #12: Milan

Fashion, festive, fun! Those are the words people use to describe this city. Milan! Milan is not only popular because of its status as the capital of fashion design, it is also popular because of football as the city has 2 famous football clubs, AC Milan and Inter Milan.

Honestly, Milan is hardly missed if you are traveling to Europe. Its strategic location makes it a transportation hub between the southern Italy and western Europe. In my first Europe solo travel, I landed in Milan and departed from Milan. My main reason? Cheaper flights!

I had a chance to explore Milan in one day. If you’re not that into fashion nor excited about football, like I am, I think a day is enough to stroll around the city – noting that you’re not going into museums or other attractions. That was what I did.

The same as traveling to other cities, we need to be aware of when we are traveling. I visited Milan during my Easter break. Unfortunately, it was the exact Easter day that I visited the city. Such a shame! Everything was closed! Well, not literally everything, but most places were. Adapting to the situation, what I did was sightseeing.

First, I went to see Sforzesco Castle. Obviously, I couldn’t get in. Fortunately, the view was quite interesting. It is basically a beautiful castle. I also walked around a park called Parco Sempione. There is a landmark at the end of the park called Arco della Pace.

In the park, I had a once-in-a-lifetime experience. I saw a wedding! With the bride and the groom, and the bridesmaids and the family. Wow! I know that I won’t or have a very little chance of seeing such thing. A wedding in the park. Cute!

Then, I went to see Milan Cathedral or the Duomo. I have to admit that it is so grand and so beautiful. Located in the middle of an open space, it was just mesmerising. Anyway, I saw another wedding outside the Duomo. Two weddings in a day, it must be a sign, right?

Near the Duomo, there is this shopping arcade called Galleria Vittorio Emanuelle II. The place was quiet that day, but I figure that it is very chic and trendy on normal days, with its cool restaurants and cafes and high-end stores.

After struggling to find a place to have lunch – believe me it’s not easy, especially wit the Easter day, my friend and I had some kind of Turkish food for lunch. Then, my friend suggested us to go to Navigli. Navigli is an area near a canal. There are many cafes, restaurants, and indie shops there. I like the environment.

So those are the main places I visited in Milan. However, as I walked or took public transportation to explore the city, I got to pass some other attractions, such as Santa Maria delle Grazie, where Da Vinci’s Last Supper painting is located and Chiesa di San Maurizio al Monastero Maggiore. I couldn’t get into those places due to the celebration.

I didn’t visit any stadium in Milan, but if you are planning to, do consider about the weather, the location, and the cost. Doing a stadium tour can be expensive and can take a lot of time. Most stadiums are also located quite far from the city center so you have to allocate time to visit them.

I’d really like to visit Milan again some other time. I’d like to see the city when everything is business as usual. I want to see the fashionable Milan!

Jan 22, 2016

Academic Writing 101: Part 3

Menulis

Ya, kedua bagian mengenai academic writing sebelumnya adalah bagian teori. Now, let’s get practical!Setelah mengetahui dasar tulisan akademis yang baik dan berlatih mengenai critical thinking, tentunyaacademic writing mengharuskan kita untuk menulis.

Kaidah penulisan akademis memang sedikit berbeda dengan penulisan non-akademis. Pada academic writing, penulis biasanya diminta untuk mengajukan suatu argumen atau pendapat mengenai suatu isu. Lalu, berbeda juga dengan tulisan saya ini, penulisan akademis mengharuskan si penulis untuk memberikan bukti-bukti yang mendukung argumen atau pendapatnya. Sulitnya, dalam critical thinking, kan kita diminta untuk objektif? Lalu bagaimana caranya?

Pada bagian ini, saya akan mencoba untuk menceritakan pengalaman saya dalam menulis. Tips ini bisa berlaku bagi Anda, tapi mungkin Anda memiliki cara yang lebih efektif. Here it goes..

Dalam menulis sebuah esai, saya biasa memulai dengan memberikan gambaran mengenai masalah atau isu yang saya angkat. Saya belajar cukup banyak mengenai hal ini pada saat menyusun skripsi saya. Dosen pembimbing saya selalu menekankan untuk mencari topik atau isu penelitian (atau esai) dari masalah yang terjadi di kehidupan. Ada dua alasan yang mendasari hal ini. Pertama, data mengenai masalah yang terjadi biasanya cukup banyak tersedia, baik yang sudah dieksplorasi maupun yang belum dieksplorasi. Kedua, dengan melakukan penelitian atau menulis esai mengenai isu yang benar-benar terjadi, kita bisa mencoba untuk menyelesaikan atau menjawab masalah yang ada. Manfaat penelitian menjadi praktis dan tepat guna. Namun, tidak mudah untuk menemukan topik atau isu yang cocok untuk dieksplorasi lebih lanjut. Oleh karena itu, saya menyarankan untuk banyak-banyak membaca koran. Dengan begitu, wawasan mengenai current issues akan bertambah dan memudahkan untuk mencari topik yang sesuai. Bagi saya, tahapan ini adalah tahapan yang cukup krusial dalam menulis karena topik lah yang menentukan kelangsungan penulisan akademis saya. Saya mencoba untuk mencari saran dari dosen-dosen saya. Ketika mereka merasa bahwa topik tersebut bisa dituliskan dalam bentuk esai akademis, barulah saya mulai menulis. Tentunya, saya mengajukan topik tidak hanya berupa judul, tetapi berupa framework tulisan sehingga dosen saya bisa mengerti apa yang ingin saya tunjukkan melalui esai saya. Sulit? Hmmm… tergantung. Pada awalnya saya seringkali bolak balik bertemu dan konsultasi dengan dosen untuk mendapatkan topik yang tepat. Ditolak sampai 3 kali? Biasa… Namun, lama-lama terbiasa juga mengira-ngira sendiri apakah topik yang saya pilih dapat dibahas dalam sebuah tulisan akademis.

Setelah topik saya dapatkan dan saya tuangkan dalam pendahuluan esai saya, saya akan membaca dan menulis mengenai teori-teori mendasar yang berhubungan dengan topik tersebut. Saya akan menghubungkan masalah yang ada di realita dengan apa yang tertulis di dalam teori. Disini, critical thinking mulai bisa digunakan. Lihat, apa sih perbedaan antara realita dengan teori yang idealis itu? Mengapa masalah bisa terjadi padahal teori-nya bilang begini? Selain itu, coba lihat faktor-faktor lain yang bisa jadi mempengaruhi isu tersebut. Open wide. Buka selebar-lebarnya kemungkinan yang ada. Lihat sisi ideal dari isu yang dihadapi. Pertanyakan berbagai hal sehingga langkah selanjutnya bisa dilakukan.

Ya, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan dan menuliskan bukti-bukti. Setelah teori mendasar didapatkan dan dituliskan, mari beralih pada kasus-kasus spesifik yang relevan dengan topik atau isu yang Anda bahas. Disinilah peran dari jurnal-jurnal dan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Perhatikan konteks penelitian-penelitian tersebut, lihat perbedaan hasil penelitian, lihat metode apa yang digunakan, dan lihat kembali faktor-faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi perbedaan-perbedaan yang ada. Jangan lupa, kaitkan kembali bukti-bukti yang Anda dapatkan dari jurnal dan penelitian terdahulu dengan isu yang Anda bahas. Analisis, kemudian simpulkan. Hal yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah bagaimana mengelaborasi berbagai penelitian yang ada untuk dituliskan dengan baik dan mudah dibaca. Saya pribadi merasa bahwa dengan membaca banyak jurnal, kemampuan melakukan elaborasi pun terlatih. Saya jadi semakin mudah untuk menemukan hubungan antara hasil-hasil penelitian dan menggabungkan bukti-bukti yang ada menjadi tulisan yang mudah dimengerti.

Setelah bukti-bukti terkumpul dan selesai dibahas dalam tulisan, saatnya untuk membuat kesimpulan. Hal yang saya lakukan biasanya adalah refleksi kembali mengenai isu yang saya angkat. Saya lihat dan pertimbangkan teori dan bukti yang ada untuk membuat kesimpulan mengenai argumen saya. Tentunya, argumen saya harus bisa dijustifikasi oleh bukti yang ada. Kunci di langkah ini adalah logika berpikir. Sudah benarkah kesimpulan yang saya ambil? Masih adakah ruang-ruang yang bisa digunakan untuk membantah argumen saya? Kalau ada, lalu apa yang harus saya lakukan? Kesalahan yang seringkali terjadi pada bagian ini adalah memperpanjang pembahasan setelah mengambil kesimpulan. Ingat, kesimpulan Anda harus valid and sound. Oleh karena itu, kesimpulan harus menjadi klimaks dari esai Anda. Jangan kemudian ditambahkan lagi teori-teori atau bukti penelitian lain. Jelaskan argumen Anda dan bukti-buktinya dengan tegas, lalu beri kalimat penutup.

Pada dasarnya, langkah-langkah di atas sudah cukup dalam penulisan akademis. Namun, biasanya ada beberapa dosen yang menginginkan lebih. Setelah argumen saya valid, lalu apa? Apa gunanya argumen yang valid tanpa ada follow up? Hal yang biasa saya tambahkan di akhir esai adalah saran. Saya akan memberikan saran yang relevan dengan isu yang saya bahas dan tentunya relevan dengan argumen saya. Tidak perlu panjang, satu paragraf pun cukup karena kita tidak perlu membuka diskusi lagi, kan? Basi, esainya sudah selesai!

Selamat menulis.

Jan 27, 2016

Academic Writing 101: Part 2

The Difficult Part: Critical Thinking

Setelah ketiga aspek mendasar dari academic writing dapat membuat esai Anda lulus kriteria dasar, kategori berikutnya yang perlu diperhatikan dalam menulis esai di tingkat pascasarjana di Britania Raya, dan mungkin di negara-negara lain, adalah seberapa baik analisis Anda mengenai suatu masalah. Disini, hal tersebut lebih populer dengan nama critical thinking.

Critical in University work means being thoughtful, asking questions, not taking things you read (or hear) at face value. It means finding information and understanding different approaches and using them in your writing.

Getting Critical (Pocket Study Skills), pviiii, Kate Williams

(http://www.ed.ac.uk/institute-academic-development/postgraduate/taught/learning-resources/critical)

Sebagai seseorang yang sejak kecil hingga perguruan tinggi bersekolah di Indonesia seperti saya, critical thinking adalah hal yang paling menantang saat menempuh jenjang pascasarjana. Ya, saya tidak terbiasa. Saya rasa, pandangan bahwa guru paling benar dan ilmu pengetahuan sebaiknya ‘ditelan’ saja mentah-mentah masih banyak membayangi saya pada awal berkuliah di Inggris. Sepertinya, sistem pendidikan di Indonesia pun hingga sekarang masih juga menggunakan pendekatan yang sama sehingga siswa tidak didorong untuk mencari ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan untuk bertanya. Saya beruntung karena pada masa kuliah S1, saya mendapatkan kesempatan untuk berlatih berpikir kritis (walaupun pada saat itu ya saya tidak dong juga). Setidaknya, saya tidak terlalu kaget walaupun masih kesulitan untuk melakukannya.

Salah satu cara yang ditempuh oleh beberapa universitas di Britania Raya untuk melatih kemampuan berpikir kritis para mahasiswa, terutama mahasiswa internasional, adalah dengan menyarankan mahasiswa untuk membaca berbagai buku mengenai keterampilan berpikir kritis dan menyelenggarakan kelas yang biasa disebut sebagai study skills class. Kelas seperti ini tidak populer di kalangan mahasiswa lokal, mungkin mereka sudah muak dengan pembahasan mengenai hal ini. Namun, bagi mahasiswa internasional, kelas tersebut bagai surga. Bagaimana tidak, berbagai keterampilan dilatih, mulai dari menulis, berpikir kritis, menulis referensi, sampai cara menggunakansoftware-software canggih untuk penelitian. Saya sangat menyarankan Anda untuk mengikuti kelas-kelas seperti ini untuk meningkatkan keterampilan akademis apabila universitas memang menyediakan fasilitas tersebut.

Apa sih sebenarnya mahluk bernama critical thinking ini? Seperti kutipan di atas, berpikir kritis berarti mempertanyakan segala sesuatu dan memperdalam pemahaman tentang suatu topik dengan mempertimbangkan berbagai perspektif yang ada. Berpikir kritis bukan berarti menolak suatu pandangan atau argumen, berpikir kritis adalah mempertanyakan. Pada bagian ini, saya akan mencoba memberikan beberapa tips untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Beberapa tips yang saya sebutkan sudah pernah saya coba sendiri.

1.      Question EYERYTHING

Bagi saya pribadi, poin ini adalah inti dari critical thinking. Lihat anak kecil yang selalu bertanya ‘Ini apa?’ dan ‘Kenapa bisa begitu?’. Mereka sedang berlatih berpikir kritis, loh. Jadi, coba untuk mempertanyakan segala sesuatu, bahkan sesuatu yang sudah kita tahu. Kalau sudah merasa tahu tentang suatu hal, coba lihat dari sudut pandang lain, coba bertanya lagi. Salah satu hal yang menjadi kebiasaan saya pada saat berkuliah pascasarjana adalah menulis pertanyaan di buku catatan. Jujur saja, saya malas mencatat pada saat kuliah S2 karena hampir semua dosen sudah memberikan materi mereka online dan buku rujukan pun tersedia. Jadi, buku catatan atau hand out materi kuliah saya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa begini mengapa begitu untuk melatih saya berpikir kritis. Seringkali saya juga mendapatkan inspirasi untuk esai-esai saya dari corat coret saya saat mendengarkan dosen. Mungkin cara ini bisa juga Anda coba. Tidak sulit, kan?

Lalu, apa yang harus ditanyakan? Banyak sekali hal yang bisa ditanyakan. Mulai dari kata tanya yang paling tinggi derajatnya ‘mengapa’ hingga yang paling dangkal ‘masa sih?’. Dalam hal akademis seperti teori, pandangan, pendekatan, dan hasil penelitian, saya menyarankan untuk bertanya ‘Apa sih yang mendasari orang ini berkata demikian? Apa buktinya? Mengapa dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu?’. Tidak sebentar saya berusaha mencerna konsep mempertanyakan ‘apa yang mendasari sesuatu’ ini. Baru pada saat dosen S2 saya yang bule tulen itu ‘memaksa’ saya untuk membaca buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, baru saya menyadari bahwa maksudnya adalah melihat aspek ekstrinsik dari suatu argumen sehingga dapat melihatnya secara utuh, sesuai dengan konteksnya. Bukan secara pragmatis dan mengambil yang kita suka saja.

2.      Free yourself from judgment

Berpikir kritis juga berkaitan dengan melihat segala sesuatu dengan skeptis. Oleh karena itu, kecenderungan untuk mempercayai sesuatu juga perlu diminimalisir. Tentu saja, semua orang memiliki hak untuk berpihak pada suatu teori atau percaya pada suatu hal. Tapi, demi mahluk bernama critical thinking ini, saya harus membebaskan diri dari judgment tertentu. Bahkan suatu teori atau pandangan yang saya suka dan saya yakini pun harus saya pertanyakan.

Saya rasa, perumpamaan Hipotesis Nul dan Hipotesis Alternatif dalam penelitian bisa menggambarkan poin ini dengan cukup baik. Dalam penelitian ilmiah dengan pendekatan kuantitatif positivis, peneliti diminta untuk membuat dua jenis hipotesis, yaitu Hipotesis Nul yang berisi pernyataan netral mengenai prediksi hasil penelitian dan Hipotesis Alternatif yang berisi pernyataan tidak netral mengenai prediksi penelitian. Lalu, peneliti mengambil data dan menganalisis data tersebut dalam konteks Hipotesis Nul. Jadi, yang diuji adalah pandangan netral, bukan pandangan dengan judgment tertentu. Pendekatan ini juga lah yang harus digunakan pada saat berpikir kritis. Saya sendiri selalu mencoba untuk berhati-hati saat membentuk argumen, bahkan opini saya pribadi, karena saya tahu bahwa selalu ada sudut pandang lain yang berbeda dengan sudut pandang saya dan selalu ada kemungkinan bahwa apa yang saya yakini tidak tepat (Hmmm… aneh juga paragraf ini dimulai dengan pendekatan positivis dan ditutup dengan pendekatan relativis). Ya, intinya seimbang lah dalam berpikir, lepaskan diri dan pikiran dari judgment.

3.      Reading before writing

Anda suka membaca? Suka atau tidak, berkuliah pascasarjana mewajibkan Anda untuk membaca. Betul? Kebiasaan membaca hanya ketika diminta dosen dan ketika akan ujian harus dibuang jauh-jauh.Kenapa? Coba jelaskan bagaimana Anda dapat membentuk argumen dan berpikir kritis tanpa dasar pengetahuan dan informasi yang luas. Bisa? Berpikir kritis membutuhkan usaha untuk mendalami suatu hal, melihat berbagai perspektif, dan mempertanyakan banyak hal (yang tidak sekedar dipertanyakan tapi dicari jawabannya). Oleh karena itu, membaca sangat diperlukan. Dalam hal ini, membaca tidak diartikan secara sempit, ya. Mungkin bahasa yang lebih tepat adalah information literate. Saat ini, banyak sekali sumber yang tidak membosankan untuk mendapatkan informasi. Selain buku dan jurnal, media non-mainstream seperti video, program TV, surat kabar, talkshow, buku fiksi, dan siaran radio bisa digunakan sebagai sumber informasi ilmiah maupun non ilmiah. Coba mampir kehttps://www.ted.com/talks untuk melihat video yang berkaitan dengan minat Anda atau cek surat kabar harian online. Bahkan, saat ini di http://www.channel4.com/programmes/the-secret-life-of-4-5-and-6-year-olds ada sebuah penelitian mengenai perkembangan anak yang disiarkan online.Menarik dan tidak membosankan.

Nah, membaca pun tidak sekedar membaca dan menelan informasi. Lagi-lagi, kedua poin di atas harus kembali diperhatikan: mempertanyakan segala sesuatu dan tanpa judgment. Selain itu, perhatikan juga konteks tulisan karena tentunya perbedaan konteks bisa menyebabkan perbedaan hasil dan pandangan. Corat coret kembali bahan-bahan yang Anda baca. Pertanyakan lagi, cari lagi jawabannya.

Lalu, kapan berhenti membaca dan mulai menulis? Apa ada jumlah tertentu yang menjadi patokan? Berkaca dari pengalaman pribadi saya, biasanya saya akan mulai membaca dari teori-teori yang mendasar mengenai topik esai saya. Setelah itu, saya beralih ke bacaan yang lebih dalam mengenai topik tersebut untuk melihat dimana posisi argumen saya. Setelah merasa cukup memiliki dasar pengetahuan, saya akan mulai merancang framework penulisan saya. Saya akan mulai membuat poin-poin untuk struktur esai saya (lihat bagian sebelumnya dari tulisan ini). Sambil mulai menulis sedikit-sedikit, saya meneruskan membaca. Saya akan berhenti ketika informasi yang saya dapatkan sudah ‘jenuh’. Maksudnya, ketika saya sudah tidak bisa lagi menemukan informasi baru. Saat itulah saya akan berkonsentrasi menulis, menyudahi proses membaca saya.

Pengalaman saya sendiri, membaca merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung proses penulisan esai-esai akademis saya. Saya membuka diri terhadap berbagai informasi dari berbagai sumber. Membaca berita menjadi kegiatan saya setiap hari. Selain itu, saya juga membaca buku rujukan dan jurnal-jurnal. Saat bosan, saya beralih ke TED talks. Sebagai contoh, untuk membuat satu esai dengan panjang 4000-6000 kata, saya biasanya membaca 100-150 rujukan. Hasilnya? Hard work pays off. Alhamdulillah, nilai saya cukup baik untuk ukuran mahasiswa internasional.

4.      Start with verb on your title

Tips keempat ini cukup ampuh digunakan ketika akan menulis esai. Saya mendapatkan tips ini dari kelas study skills saya di University of Hull. Contoh kata-kata yang diasosiasikan dengan critical thinkingadalah evaluating, critiquing, arguing, dan analyzing. Masih ada berbagai kata lain, tentunya. Lalu, mengapa harus memulai judul esai dengan kata-kata tersebut? Bagi saya sendiri, kata-kata tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa saya harus selalu menerapkan keterampilan berpikir kritis saya sepanjang pengerjaan esai. Dengan kata-kata pengingat tersebut, saya terus-menerus berusaha untuk melakukan pendekatan kritis terhadap topik yang saya diskusikan. Pretty straight forward, pretty easy.Sayangnya, tidak semua dosen memperbolehkan mahasiswa untuk menentukan judul esai secara individual. Tapi intinya adalah bagaimana pendekatan Anda akan sebuah topik lah yang menentukan apakah Anda telah berpikir secara kritis. Tanpa kata-kata tersebut di judul esai Anda, selama Anda memang bertujuan untuk menggunakan critical thinking dalam menulis esai, it should be just fine.

Tentunya masih banyak lagi tips mengenai cara mengasah kemampuan berpikir kritis. Silahkan cekwebsite universitas masing-masing karena biasanya ada panduan mengenai crtical thinking. Saya merasa critical thinking adalah backbone dari esai-esai saya. Tanpa critical thinking, esai saya cenderung deskriptif dan mungkin sudah dianggap seperti kacang goreng bagi para dosen.

Well, setelah penjelasan yang cukup abstrak di atas, saya akan memberikan salah satu contoh tulisan yang menggunakan critical thinking. Tulisan ini,http://izzadinillah.tumblr.com/post/51553369997/humanising-human, saya buat sebagai salah satu tugas portfolio di sebuah mata kuliah mengenai isu kontemporer dalam konteks pendidikan. Pada kuliah tersebut memang semua mahasiswa dituntut untuk membuat tulisan dengan menggunakancritical thinking setiap minggu. Mudah-mudahan dapat cukup menggambarkan bagaimana bentuk sebuah tulisan dengan critical analysis ya.

Fiuh, bagian tersulit sudah selesai,

now let’s get practical!

~ stay tuned

Jan 22, 2016

Academic Writing 101: Part 1

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan bagaimana cara agar mendapatkan nilai distinction di esai yang dikumpulkan untuk tugas akhir suatu mata kuliah di perkuliahan pascasarjana di Inggris. Jelas, saya bukan ahlinya dalam hal ini. Banyak orang yang memiliki kredibilitas lebih untuk berbicara mengenai hal ini, bukan saya yang mendapatkan nilai distinction saja bisa dihitung dengan jari. Namun, saya ingin berbagi (disamping cape juga ya, menjawab pertanyaan yang sama berkali-kali) mengenai bagaimana menulis sebuah esai dengan standar academic writing yang baik. Untuk membuat tulisan ini, saya merujuk pada pengalaman saya, sebuah materi kuliah yang diberikan oleh Dr. Natalia Vershinina dari Birmingham Business School, kuliah online mengenai academic writing skills, dan berbagai websiteuniversitas terkemuka di Britania Raya (tautan dari website tersebut akan saya lampirkan kemudian). Berbagai sumber tersebut akan saya elaborasi untuk memberikan sedikit penjelasan mengenaiacademic writing. Tentunya, kalau Anda ingin penjelasan yang lebih terpercaya dan reliabel, silahkan datang ke academic support service yang pasti ada di setiap universitas. Mereka akan memberikan penjelasan dan arahan yang sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan menulis akademis.

Pertama-tama, apa sih bedanya academic writing dan menulis biasa? Tentunya perbedaan paling mendasar adalah dalam hal tujuan penulisan. Namanya saja academic writing, tentu saja tujuan dari tulisan tersebut adalah untuk membahas suatu isu dari sudut pandang akademis. Lalu, ada banyak hal yang menjadi konsekuensi dari academic writing, seperti bahasa yang harus formal, logika berpikir yang harus jelas, dan tulisan yang menggunakan referensi yang baik. Etika penulisan dan etika ilmiah lain juga perlu diperhatikan, tentunya sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam academic writing. Saya akan membagi hal-hal tersebut ke dalam enam kategori. Ini adalah kategori saya pribadi, hasil dari elaborasi saya terhadap berbagai sumber yang telah disebutkan. Kategori-kategori tersebut adalah dasar academic writing, critical thinking, menulis argument dalam academic writing, fokus penulisan, konsultasi pada ahli, dan latihan menulis.

Dasar Academic Writing

Apabila Anda pernah mengikuti kelas persiapan IELTS, tentunya Anda pasti pernah mendengar mengenai dasar academic writing. Terdapat tiga bagian dari academic writing, yaitu content, organization, dan language – isi, struktur, dan bahasa. Untuk membuat sebuah tulisan yang baik, secara umum, ketiga hal tersebut harus dipenuhi. Bagi saya, ketiga hal tersebut tidak hanya harus ada di dalamacademic writing, tetapi dalam semua bentuk tulisan.

1.      Isi

Isi dari tulisan adalah nyawa. Menurut saya, ini adalah hal yang menentukan keberhasilan tulisan. Isi dari sebuah esai akademis harus bisa menjawab pertanyaan atau permasalahan yang menjadi fokus dari tulisan tersebut. Tentunya, pertanyaan atau permasalahan tersebut tertuang di judul esai yang ditulis. Isi sebuah tulisan akademis biasanya terdiri dari teori, ide, bukti, dan contoh-contoh yang relevan dengan topik yang diangkat. Tulisan dengan isi yang tidak relevan tidak akan mendapatkan nilai yang baik, meskipun memiliki struktur yang baik dan ditulis dengan bahasa yang sempurna.

2.      Struktur

Struktur esai mencerminkan logika berpikir si penulis. Walaupun isi dari esai tersebut sangat baik, apabila tidak didukung dengan struktur yang jelas dan tepat, tentu orang yang membaca akan sulit mengerti tulisan tersebut. Secara umum, struktur dari sebuah esai akademis terdiri dari pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Seluruh bagian tulisan harus terkait satu sama lain sehingga pembaca dapat mengerti alur berpikir si penulis. Berkesinambungan, bahasa sederhananya.

Bagian pendahuluan sebaiknya berisi mengenai pengenalan topik yang dibahas di esai dan alur penulisan esai tersebut. Bagi saya, pendahuluan harus dibuat dengan menarik dan harus menggunakan bahasa yang sederhana sehingga pembaca tidak mundur teratur. Siapa yang suka dihadapkan dengan tulisan yang dari awal saja sudah membuat pusing kepala?

Kemudian, bagian isi merupakan diskusi penulis mengenai topik yang diangkat. Bagian ini harus pelan-pelan mengarahkan pembaca kepada jawaban dari masalah atau argument penulis terhadap isu tertentu. Biasanya, bagian ini adalah bagian yang paling susah, sekaligus paling mudah. Mengapa? Susah karena menyusun diskusi dari berbagai teori dan hasil penelitian hingga menjadi suatu bagian yang mengalir dengan baik dan mudah dimengerti bukanlah hal yang sederhana. Mudah, karena di bagian ini, penulis tidak perlu sering-sering memutar otak untuk menyampaikan argumen pribadi. Kunci di bagian ini adalah kemampuan elaborasi dan kemampuan untuk melakukan paraphrase.

Akhir dari sebuah esai akademis adalah kesimpulan. Setelah pusing-pusing merangkai bagian diskusi, kesimpulan ini biasanya tidak lebih dari satu atau dua kalimat. Cape-cape menulis 2000 kata hanya sekalimat lah jadinya. Kesimpulan adalah jawaban dari pertanyaan yang dibahas di dalam esai tersebut. Kesimpulan juga bisa merupakan argumen si penulis mengenai suatu topik. Tentunya, kesimpulan didapatkan dengan mempertimbangkan berbagai hal yang sebelumnya didiskusikan di bagian isi esai. Pengalaman saya, seringkali orang-orang susah untuk move on dari pembahasan sehingga di kesimpulan pun, masih ada sedikit-sedikit pembahasan colongan. Hal ini sebaiknya dihindari karena kesimpulan harusnya menutup esai, bukannya membuka diskusi kembali. Selain kesimpulan, pada bagian akhir esai, Anda juga bisa menambahkan sedikit saran terhadap topik yang dibahas.

Saya selalu melihat struktur sebuah esai seperti cermin (well, at least di bayangan saya ini seperti cerita cermin cekung-cembung pada saat SMP). Bagian pendahuluan menceritakan suatu topik secara fokus, lalu melebar untuk eksplorasi berbagai teori dan hasil penelitian mengenai topik tersebut. Lalu, menuju akhir dari esai, fokus kembali menyempit untuk menarik kesimpulan dari diskusi. Akhirnya adalah suatu titik, titik fokus dari cermin (atau lensa atau apalah itu, saya tidak jago fisika). Mudah-mudahan penjelasan ini bisa Anda mengerti, despite perumpamaan saya yang abstrak.

3.      Bahasa

Aspek ini adalah yang biasanya paling ditakuti oleh international students. Iya lah, secara bahasa Inggris bukan bahasa utama yang digunakan sehari-hari. Mungkin, esai-esai saat pascasarjana ini adalah percobaan pertama menulis dalam bahasa Inggris formal. Masalahnya, concern yang paling besar ini, justru kontributor paling kecil dalam nilai. Ya, tentunya bahasa yang tidak bisa dimengerti akan membuat esai Anda gagal karena si penilai tidak mampu mencerna apa yang Anda sampaikan. Tapi, ketika bahasa Anda cukup bisa dimengerti, salah-salah sedikit di bagian grammar masih bisa ditoleransi (wah, ini tapi bahaya ya, terhadap kelangsungan bisnis proofreading saya). Aspek bahasa tidak hanya mencakup grammar, tapi juga kosa kata yang Anda gunakan. Keluasan dan ketepatan kosa kata yang digunakan akan menjadi nilai lebih. Kebanyakan proofreader berperan penting di aspek ini, meskipun ada juga lembaga proofreader professional yang menyediakan layanan yang lebih komprehensif untuk memberikan masukan mengenai aspek-aspek lain dari esai akademis Anda – dengan biaya yang lebih, tentunya.

Tulisan yang memperhatikan ketiga aspek diatas adalah tulisan yang baik. Saya jamin, Anda tidak akan tidak lulus. Tapi, kita tidak hanya mencari lulus, kan? Kita mencari distinction! (Iya, bermimpi setinggi langit itu wajib supaya kalau gagal, jatuhnya di merit, ya kan?). Nah, kategori-kategori selanjutnya lah yang menentukan seberapa baik nilai kelulusan Anda.

~ stay tuned

Jan 22, 2016

AdventureNotes #11: Verona

Padlocks? Really? Padlocks are quite popular in many tourist attractions nowadays, right? Well, this one is different because the picture was taken in the Juliet House, Verona.

Verona is a city famous because of its Romeo and Juliet setting. Well, despite its fictional nature, people still come here to see what’s life in Romeo and Juliet story. What’s in it? Hmmm… let’s see…

Despite of its rather confusing attractions, the made-up attractions to match up the setting in Romeo and Juliet story, Verona is a quite nice place to visit. Actually, I decided to visit this city by accident. I originally wanted to go to Florence or Venice, but the train ticket for both places were costly at that moment – I traveled during the Easter break, anyway. Then, my friend suggested to go to Verona instead.

We can take a train from Milan to Verona. The journey is around 2.5 hours. As I arrived in the train station in Verona, I took a bus to the city center. Unfortunately, I took the correct bus, but to the wrong direction! Haha My trip to Italy was full of this kind of experience. As my friend and I realized that we went on the wrong direction, we hoped off the bus and caught the correct one. Thankfully, I got to the city center. Oh, a little tips for you traveling to Italy, almost all transportation offer day ticket so it might be a good bargain. Anyway, the problem was that it was pouring rain that day! Such not a good day to travel.

Despite the weather, my friend and I decided to still explore the city. It’s Europe, people! When can we expect to not be surprised by the weather anyway? So, we walked pass this building, similar to but smaller than Colloseum. I figure that this kind of building was popular in Italy back on those days. The building is called Arena di Verona.

Under the pouring rain, we walked along the small streets of Verona. We passed this very crowded place, Cassa di Giuletta – Juliet’s House. Well, the story of Romeo and Juliet is fictional and so is the house. I think people just made it up for the tourists. There is also Romeo’s House but I think it is located quite far from the city center. Interestingly, there are loads of people who are even willing to pay to go inside the house. Well, I didn’t. The ticket is too pricey.

I just saw the house from its garden where there are many “love” padlocks attached to the wall. What’s so gross is that there are also some bubble gums attached there. Euwh.

After taking some pictures, we decided to go to Piazza delle Erbe. The piazza is located in the middle of the city. At that time, there was an outdoor market held. We bought calzones for our lunch and they were delicious!

Another interesting tourist attraction worth to enter in Verona is Castelvecchio. Basically, it was a castle, which now is used as a museum. Again, entering the museum is quite expensive so we explored the castle from the outside. The scenery from the top of the castle’s wall is beautiful.

As we walked back to the train station, we passed some churches. It is typical Italy that churches are everywhere and are considered to be tourist attractions. Some churches worth to visit are Basilica di San Lorenzo and Verona Cathedral.

To conclude, Verona may be an alternative city to visit while traveling to Italy. It is small, so day trip should be enough to explore the city. It may be useful to read Romeo and Juliet before visiting this city so that we can absorb the spirit of this city.

Juliets, find your Romeo here!

Jan 15, 2016

Cara Cepat Belajar Bahasa Inggris

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan mengenai cara cepat untuk bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Sebenarnya, tulisan ini terinspirasi dari sebuah pertanyaan yang baru-baru ini saya dapatkan: Bagaimana cara menghafal dan mendapatkan banyak kosa kata dengan cepat?

Jujur, saya bingung. Maklum saja, saya merasa tidak sadar belajar bahasa Inggris. Saya merasa, bisa saja dengan sendirinya. Ditanya pertanyaan seperti itu membuat saya berpikir. Baca kamus? Ya, saya pernah melakukannya. Mungking saking tidak ada kerjaan, waktu SMP saya pernah membaca kamus setiap hari. Bodoh sih sebenarnya karena membaca kata dan arti tanpa menempatkannya pada suatu konteks justru menimbulkan kebingungan. Lalu jawaban saya berikutnya adalah membiasakan diri dengan berbagai materi berbahasa Inggris, seperti buku, koran, program di TV, dan radio. Berbagai media tersebut memang bisa digunakan untuk membantu belajar bahasa Inggris. Lagi-lagi, hingga sekarang saya melakukannya. Bahkan ekstrimnya, dulu saya benar-benar tidak mau menonton film berbahasa Inggris dengan terjemahan. Selalu saya matikan sehingga saya ‘dipaksa’ untuk mengerti apa yang dibicarakan orang-orang di film itu. Tidak puas dengan jawaban tersebut, ada lagi cara lain yaitu dengan menghafalkan kosa kata secara tematik. Ini yang paling mudah karena struktur pengetahuan kita, kalau menurut Piaget, seperti peta yang menghubungkan suatu konsep dengan konsep lain. Saya langsung teringat kamus bahasa Inggris pertama saya yang memang bentuknya tematik. Saya teringat juga guru bahasa Jerman saya pernah memaksa seluruh muridnya untuk me-label barang-barang di sekitar kami dengan kosa kata bahasa Jerman sehingga kami selalu ingat – ini berlaku ketika belajar tentang barang-barang sehari-hari, ya.

Dari seluruh tips di atas, sepertinya satu benang merah bisa ditarik. Belajar bahasa membutuhkan latihan karena bahasa bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan. Keterampilan bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti “ kecakapan seseorang untuk memakai bahasa dalam menulis, membaca, menyimak, atau berbicara”. Kata kerja di dalam definisi tersebut adalah ‘memakai’. Jadi, bagaimana cara belajar bahasa Inggris? Ya dipakai! As simple as that! Masalahnya…. banyak masalahnya. Tidak tahu mau menggunakan dimana, malu belum lancar, tidak tahu kosa kata yang tepat, dan lain-lain. Sayangnya, alasan tersebut tidak akan berlaku kalau dipaksa, kan? Mau tidak mau, suka tidak suka.

Bicara mengenai paksa memaksa, saya ingin berbagi pengalaman saya yang dipaksa belajar bahasa Inggris. Tidak dari SMP, tidak dari SMA, saya dipaksa berbahasa Inggris sejak sebelum masuk TK. Mungkin ada yang lalu berkomentar, kejam ya orang tua saya? Dulu, saat malas-malasnya belajar bahasa Inggris, tentu saya menganggap orang tua saya kejam. Sekarang? Saya merasakan sekali besar manfaat dari keterpaksaan saya berbahasa Inggris itu. Sekarang, kalau mendapat pertanyaan “Jadi, Za, berapa lama kamu belajar bahasa Inggris?”, jawaban saya adalah “My whole lifetime”.

Sejarah belajar bahasa Inggris saya dimulai ketika orang tua saya menggabungkan saya dengan sebuah kelompok kecil anak-anak seusia saya, sekitar 3-4 tahun, yang bersama-sama bermain sambil belajar. Saat itu, guru bahasa Inggris saya ‘bule’ tulen yang berasal dari Australia. Kami akan datang di sore hari setiap seminggu sekali ke rumahnya. Saya ingat, Beth namanya. Disana, kami melakukan banyak kegiatan, seperti mewarnai, menggambar, dan mainan-mainan anak kecil lainnya. Lalu bahasa Inggris-nya dimana? Anak sekecil kami, yang bahasa Indonesia pun masih minim sekali, lalu harus mengerti dan berkomunikasi dengan Beth yang bahasa Inggrisnya pun Australian sekali. Tentu saja saat itu saya…. tidak mengerti sama sekali! Walaupun tidak mengerti dan sulit berkomunikasi, saya ingat bahwa saya suka sekali datang ke rumah Beth. Berhasil kah saya berbahasa Inggris? Oh, tentu tidak! Sedih ya? Hehe.. Tapi, waktu itu manalah saya mengerti tentang malu kalau tidak bisa karena anak kecil memang banyak tidak bisanya. Saya ambil saya positif-nya, senang-senangnya. Orang tua saya pun tidak pernah memaksa saya untuk menggunakan bahasa Inggris (pada saat itu).

Masuk SD, saya pun beralih ke lembaga kursus bahasa Inggris yang lebih ‘proper’ dengan guru-gurunative speaker, atau ‘bule’ asli. Dengan kemampuan yang sedikit lebih karena sudah terbiasa mendengar kata-kata berbahasa Inggris, masuklah saya ke level 2 untuk anak-anak. Hingga awal kelas 6 SD, saya tidak pernah berhenti kursus bahasa Inggris. Saya berhenti ketika kelasnya sudah habis alias mentok. Saya sudah masuk di kelas anak-anak, hingga remaja, hingga kelas dewasa – ya, di usia saya yang masih SD saat itu. Pintar dong, saya? Hahaha lagi-lagi jawabannya tentu tidak. Beberapa kali ujian bahasa Inggris saya mendapat nilai ‘Poor’. Tidak mengerti struktur bahasa atau yang biasa dikenal sebagai ‘grammar’, itulah masalah saya. Membaca,  mendengar, dan berbicara, semua saya bisa. Mengisi pilihan ‘grammar’? 0 lah nilai saya. Memalukan juga kalau diingat-ingat.

Tidak hanya di tempat kursus, saya pun harus berbahasa Inggris di rumah. Ya, setidaknya pada saat makan malam. Saya ingat, orang tua saya memberlakukan aturan bahwa kami semua hanya boleh berbahasa Inggris saat makan malam. Mau tidak mau, ini harus kami lakukan. Dengan bahasa Inggris yang minim, tidak apa-apa! Yang penting mencoba. Pembiasaan ini, saya rasakan sekali manfaatnya saat ini. Jangan pernah menyepelekan kondisi apapun karena kita bisa berlatih bahasa Inggris dimanapun dan dengan cara apapun. Selain itu, saya juga mulai membaca buku berbahasa Inggris pada saat SD. Buku berbahasa Inggris pertama yang saya baca adalah Harry Potter. Ngerti, Za? Not at first. Saya berhenti di bab pertama dan beralih ke buku bahasa Indonesianya. Setelah itu, saya coba baca lagi buku yang berbahasa Inggris sampai selesai.

Selain orang tua saya, saya ingat dulu sekali waktu saya belum masuk sekolah, saya sering diajak oleh nenek saya pada saat ia kursus bahasa Inggris bersama ibu-ibu Dharmawanita. Saya sih tidak ingat apa yang dibicarakan dan dipelajari saat itu karena saya masih terlalu kecil. Tapi saya ingat, ketika saya mulai mengerti bahasa Inggris, nenek saya sering menggunakan bahasa tersebut untuk berbicara dengan saya mengenai hal-hal yang ‘rahasia’. Maksudnya, hal-hal yang tidak boleh diketahui adik-adik sepupu saya. Dulu saya sering menginap di rumah nenek saya bersama dengan adik dan adik-adik sepupu saya. Saat ingin berbicara mengenai hal yang ‘rahasia’, nenek saya menggunakan bahasa Inggris. Senang rasanya saat itu karena dianggap dewasa oleh nenek saya. Haha.

Intinya, selama bersekolah hingga SMA, saya tidak pernah diperbolehkan berhenti kursus bahasa Inggris. Orang tua saya tidak terlalu peduli dengan hasil ujian bahasa Inggris saya atau berapa kali saya absen kelas bahasa Inggris. Mereka hanya ingin saya kursus agar terus-menerus melatih kemampuan saya berbahasa Inggris. Lucunya, saat SMP saya baru menyadari bahwa nilai bahasa Inggris saya di sekolah cukup bagus, tetapi saya tidak pernah bisa menjelaskan mengapa saya memilih jawaban tertentu untuk pertanyaan tertentu. Saya tidak tahu alasan saya memilih jawaban yang benar. Saya selalu bilang, “Pakai perasaan saja”. Tentunya, semakin lama saya tidak bisa selalu mengandalkan perasaan karena banyak bahasa Inggris yang saya gunakan merupakan bahasa tidak formal. Di SMA, saya ingat sekali saat satu kelas saya diharuskan menulis 12 jenis tenses dalam bahasa Inggris beserta dengan contohnya. Saat itu lah saya baru mengerti mengenai logika struktur dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris menjadi semakin mudah dimengerti, sekarang tidak hanya dalam hal membaca, mendengarkan, dan berbicara, tetapi juga dalam hal struktur bahasa.

Di perkuliahan, sebagian besar buku yang digunakan berbahasa Inggris. Hal ini membantu saya untuk selalu berlatih menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, saya juga mulai menerapkan kemampuan bahasa Inggris saya dalam mengajar. Saya mengajar bahasa Inggris untuk siswa SD, SMP, SMA, kuliah. Niat saya hanya satu, membantu. Tidak berarti saya lebih pintar dari orang-orang yang saya ajar, saya mungkin lebih banyak berlatih. Hingga saat ini, saya masih menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan saya sehari-hari. Bahkan, kalau diingat-ingat lagi, saya mendapatkan semua pekerjaan saya karena keterampilan saya berbahasa Inggris. Lucu, ya? Tidak pernah kuliah jurusan sastra Inggris atauTeaching English as Foreign  Language tapi kok jadi guru bahasa Inggris?

Lalu, bagaimana cara cepat berbahasa Inggris? Tidak ada. Keterampilan bahasa membutuhkan latihan. Menjadi lancar menguasai bahasa tertentu membutuhkan waktu, banyak untuk beberapa orang dan sedikit untuk orang-orang lain. Saya tidak belajar bahasa secara instan. Saya belajar dengan perjuangan. Selamat berlatih berbahasa Inggris!

*Tulisan ini dibuat hanya untuk berbagi pengalaman dan tidak menunjukkan bahwa bahasa Inggris lebih penting dari bahasa lain, ya. Saya masih berbahasa Indonesia dan masih belajar bahasa-bahasa lainnya juga. 🙂

Jan 12, 2016