Home Away from Home: Mari Bersiap!

 

Setelah izin tinggal di UK sudah didapatkan (atau ketika proses menunggu keputusan visa), hal yang bisa kita lakukan adalah mulai mempersiapkan kepindahan kita ke negeri Ratu Elizabeth.  Kok kesannya ini serius banget ya? Indeed, bayangan tinggal di negeri orang bisa jadi ‘menyeramkan’. Bagi yang pernah merantau, pasti ada ekspektasi tertentu terhadap kepindahan ke tempat baru. Berpindah untuk tinggal di tempat yang baru jelas tidaklah sama seperti ketika kita pergi berwisata satu atau dua minggu, ini hitungannya bulan bahkan tahunan. Tinggal di tempat yang asing secara alami akan meningkatkan antisipasi kita dalam bersiap diri. Artikel Home Away from Home kali ini akan membahas mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan kita ke UK.

 

Tiket Transportasi

Dimana pun Anda akan tinggal nantinya di UK, pesawat adalah moda transportasi utama untuk mencapai UK. Banyak sekali maskapai penerbangan yang menyediakan jasa dan tentunya menawarkan harga terbaik untuk membawa Anda terbang dari Indonesia (biasanya Jakarta) ke UK. Hal apa yang harus diperhatikan dalam memilih dan membeli tiket transportasi?

Pertama, Anda harus mempertimbangkan kota tempat Anda akan tinggal nantinya. Apabila Anda akan berdomisili di kota-kota besar seperti London, Birmingham, Manchester, atau Edinburgh, maka beberapa maskapai penerbangan memiliki rute penerbangan ke kota-kota tersebut dengan satu kali atau tanpa transit. Lain halnya apabila Anda akan tinggal di kota yang tidak sebesar daerah yang kami sebutkan di atas. Berbagai maskapai menawarkan jasa transit pesawat hingga mencapai bandara di kota tujuan Anda karena sebagian besar kota di Inggris Raya memiliki bandara lokal masing-masing. Misalnya, Anda bisa saja membeli tiket pesawat dari Jakarta (Soekarno-Hatta International Airport) menuju Leeds (Leeds Bradford Airport) dengan opsi transit di Amsterdam dan London. Hanya saja, biasanya pilihan untuk membeli tiket pesawat hingga ke kota (kecil) tujuan Anda akan menghabiskan biaya yang besar, jauh lebih besar daripada apabila Anda membeli tiket pesawat ke kota besar di UK. Lalu, bagaimana solusinya? Pilihlah kota besar terdekat dari kota tujuan Anda. Dulu, Izza pernah berkuliah di Hull, sebuah kota yang hanya memiliki bandara kecil. Oleh karena itu, ia memilih penerbangan dari Jakarta ke Manchester, yang merupakan kota besar terdekat dari Hull. Setelah itu, ia naik kereta sampai Hull. Kota-kota di UK memiliki jaringan kereta api yang sangat baik. Oleh karena itu, moda yang paling murah dan dapat diandalkan adalah kereta. Biaya tiket kereta akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dan kami menyarankan Anda untuk membeli tiket kereta online dari Indonesia. Jangan lupa untuk memperhitungkan waktu delay, antrian imigrasi, dan pengambilan bagasi saat memesan tiket kereta, ya! Selain itu, coba cari tahu mengenai international arrival day universitas tujuan pasangan Anda. Pada international arrival day, biasanya pihak international office menyediakan jasa transfer transportasi (bus) yang akan membawa Anda dari bandara besar terdekat dari kota tempat universitas berada ke universitas tersebut. Fasilitas ini gratis, loh!

Ada baiknya juga jika anda sudah memiliki kenalan di kota atau universitas yang dituju, meminta tolong untuk penjemputan di bandara dapat menjadi solusi bagi anda yang tidak atau belum pede untuk bepergian sendiri di negeri orang. Alternatif lainnya, terkadang juga ada PPI setempat yang memiliki program penjemputan bagi mahasiswa baru di bandara.

Kedua, datanglah ke kantor resmi maskapai penerbangan untuk mendapatkan harga terbaik. Ada beasiswa tertentu yang memiliki agen wisata yang mengatur tiket dan keberangkatan para penerima beasiswa. Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku bagi keluarga si penerima beasiswa. Oleh karena itu, sebagai dependant, kita harus berburu tiket sendiri. Agar dapat membeli tiket penerbangan yang sama dengan pasangan, jangan lupa catat nomor penerbangan dan jadwal penerbangan pasangan ya! Setelah itu, datanglah ke kantor resmi maskapai penerbangan yang dituju. Beberapa maskapai yang seringkali digunakan oleh mahasiswa Indonesia untuk pergi ke UK adalah Garuda Indonesia, Qatar Airways, Emirates, dan Etihad. Biasanya, harga tiket maskapai-maskapai tersebut tidak jauh berbeda. Lalu, apa yang beda? Promosi harga dan fasilitas. Beberapa maskapai penerbangan memberikan potongan harga (biasanya 10%) bagi mahasiswa. Ada juga maskapai yang memberikan fasilitas tambahan baggage allowance bagi mahasiswa. Intinya, pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Ketiga, apabila Anda membawa anak (terutama anak di bawah usia 5 tahun), maka kami juga menyarankan Anda untuk memperhatikan lama transit penerbangan. Kebanyakan maskapai penerbangan tidak menyediakan direct flight dari Jakarta ke UK, kecuali Garuda Indonesia untuk penerbangan Jakarta-London. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan waktu transit. Biasanya, semakin lama kita harus transit di suatu bandara, maka semakin murah juga harga tiket yang ditawarkan. Masalahnya, ketika membawa anak kecil, tidak semua bandara memiliki fasilitas yang cukup dan memberikan kenyamanan bagi anak-anak. Kebanyakan maskapai penerbangan Timur Tengah akan transit di suatu tempat sekitar tengah malam. Sayangnya, tidak semua bandara tempat transit menyediakan fasilitas yang cukup saat tengah malam. Pilihlah penerbangan dengan waktu transit yang paling nyaman bagi Anda dan keluarga. Berdasarkan pengalaman Alif, maskapai Emirates memiliki jadwal penerbangan yang waktu transitnya hanya 3 jam dan tiba pada siang hari di Dubai International Airport, mungkin ini bisa menjadi alternatif pilihan.

Selain durasi transit, hal yang juga perlu diperhatikan adalah mengenai waktu kedatangan Anda di kota tujuan. Memilih waktu kedatangan yang sesuai sangat penting karena pastinya Anda tidak mau datang terlalu larut malam atau terlalu pagi sehingga harus menunggu dulu di bandara karena minimnya transportasi. Sepertinya, membeli tiket pesawat dengan waktu kedatangan antara pukul 10.00-16.00 dapat dipertimbangkan. Ingat, kita akan tiba di sebuah kota di negara lain yang sangat jauh berbeda dari Indonesia.

 

Merencanakan Barang-Barang Bawaan

Tipikal orang Indonesia, pergi dekat dan sebentar saja persiapannya seperti akan perang. Berakhir pekan ke Puncak saja harus membawa panci, rice cooker, dan berbagai alat dapur dan bahan makanan. Padahal, perjalanan tersebut hanya dua hari dan banyak pula toko-toko yang menjual makanan. Bagaimana jadinya ketika kita harus pindah ke negeri antah berantah? Disinilah kami merasa sedih karena tertampar realita bahwa kami tidak akan berjumpa warung padang semudah di Indonesia atau makan Indomie seharga 3000 rupiah (tanpa perlu masak pula). Mulai terbayang lah pahit-pahitnya merantau ke luar negeri. Rasanya, kalau bisa sih semua barang ingin dibawa, bahkan mungkin se-warung-warung Padangnya, hihihi. Sayangnya, membawa semua barang hanya sebatas angan-angan.

Terbatasnya baggage allowance membuat kita harus mau (padahal tidak mau) menentukan prioritas barang apa saja yang harus dibawa ke UK. Hal ini berkaitan dengan ketentuan maskapai penerbangan. Oleh karena itu, cek kembali informasi mengenai hal tersebut. Beberapa maskapai juga memiliki peraturan tidak hanya tentang berat koper Anda, tetapi juga tentang jumlah koper Anda. Apabila Anda belum memiliki koper, kami menyarankan Anda untuk mencari koper dengan berat kosong yang ringan. Dengan begitu, Anda bisa memaksimalkan berat barang bawaan Anda. Selain itu, pilihlah koper yang ergonomis sehingga mudah Anda bawa.

Mengenai jumlah barang bawaan, kami menyarankan Anda untuk mengira-ngira barang yang bisa Anda bawa tanpa bantuan orang lain. Mengapa? Karena disini tidak ada porter, cuy! Semua tugas angkat-mengangkat koper harus dilakukan sendiri. Hal ini terutama penting bagi Anda yang akan melanjutkan perjalanan ke kota tujuan dengan moda transportasi lain, seperti kereta. Yak, waktu berhenti kereta di setiap stasiun sangat terbatas sehingga Anda juga harus mengira-ngira waktu pengangkutan barang bawaan Anda. Dua kali Izza merantau ke Inggris, dua kali pula ia berangkat hanya dengan sebuah koper besar dan ransel. Seluruh barang-barang berat dimasukkan ke dalam koper besar sehingga ranselnya hanya berisi dokumen penting, laptop, dan berbagai hal esensial seperti jaket, charger, handphone, dan buku. Sama halnya dengan Alif, ia dan suami masing-masing hanya membawa 1 koper besar dan 1 tas ransel, dimana koper lebih banyak diisi bahan makanan, baju dan barang berat lainnya, sementara ransel lebih diprioritaskan untuk laptop, dokumen penting, dan barang yang sifatnya mungkin akan dibutuhkan selama perjalanan atau saat transit. Beberapa orang juga menyarankan membawa baju ganti untuk persiapan apabila ada hal tidak diinginkan yang terjadi (misalnya koper tertinggal di suatu tempat atau delay penerbangan untuk waktu yang cukup lama).

Kemudian, untuk memaksimalkan tempat di koper Anda, ada teknologi yang bernama vacuum bag. Si tas plastik vakum ini dapat digunakan untuk menipiskan pakaian-pakaian Anda di dalam koper. Dengan begitu, akan ada lebih banyak tempat untuk membawa lebih banyak barang. Namun, harus diingat bahwa vacuum bag berfungsi untuk memperkecil ruang yang dibutuhkan, dan bukan untuk meminimalkan berat barang bawaan.

Dengan mempertimbangkan berbagai hal diatas, dapat disimpulkan bahwa memang kita harus menentukan prioritas barang-barang yang akan dibawa. Apa sih yang penting untuk dibawa dari Indonesia ke UK? Harus bawa pakaian selemari? Sepatu satu rak? Atau makanan satu kulkas? Hehehe.. Tentu saja tidak, yuk simak penjelasannya satu-persatu.

 

Barang Bawaan

Pakaian

Jenis barang bawaan pertama yang perlu dipertimbangkan adalah pakaian. Well, dalam hal ini mencakup sepatu, tas, dan berbagai pernak-pernik pakaian lainnya ya. Anggapan bahwa kita perlu mempersiapkan diri untuk tinggal di negeri 4 musim membuat banyak orang berpikir bahwa kita harus membawa peralatan perang untuk menghadapi keempat musim tersebut. Kenyataannya? Tidak. Sebagian besar masa studi di UK akan dimulai pada bulan September. Bulan September ini masuk ke dalam musim gugur. Biasanya, temperatur memang sudah cukup dingin, tapi tidak sedingin itu juga. Suhu kira-kira berkisar antara 10-18 derajat Celcius, tergantung dimana Anda menetap. Waduuuh dingin sekali ya? Bagi perantau yang baru tiba, memang cuaca terasa sangat dingin. Namun, percayalah pada kehebatan kemampuan adaptasi manusia, sehingga kira-kira seminggu atau dua minggu setelah tiba, pasti kita telah dapat beradaptasi dengan suhu lingkungan. Jadi, kami rasa tidak perlu bersiap terlalu heboh dengan membawa banyak jaket tebal musim dingin atau sepatu boot. Instead, bawalah jaket yang cukup hangat, tahan air, dan dilengkapi dengan penutup kepala karena di UK sering hujan. Selain itu, biasanya orang Indonesia juga membekali diri dengan long john atau yang disini populer disebut dengan thermal. Set pakaian (atas-bawah) ini adalah pakaian dalam hangat yang digunakan untuk mempertebal lapisan pakaian pada saat musim dingin. Gosip-gosipnya, long john yang dijual di Indonesia memiliki kualitas yang lebih bagus dan lebih hangat. Kedua barang esensial untuk menghadapi cuaca dingin tersebut dapat dijumpai di factory outlet yang banyak ada di Bandung dan Bogor. Harganya? Tentu tergantung dengan budget yang dimiliki untuk jaket. Untuk long john, harganya berkisar antara IDR 80.000 (kalau dapat diskon) hingga 160.000 per set. Anda tidak perlu membeli 5 set long john untuk satu orang karena berdasarkan pengalaman kami, 2 set untuk satu orang pun sudah cukup untuk bersiap karena Anda bisa membeli thermal juga disini. Untuk wilayah Jakarta, long john dengan kualitas bagus bisa dibeli di Mangga Dua dengan harga 1 set tidak sampai IDR 100.000. Untuk thermal yang hangat tetapi bahannya tipis, heat-tech dengan desain yang beragam dan merupakan produk dengan teknologi Jepang mungkin bisa menjadi pilihan anda, soal harga memang lebih mahal jika dibandingkan long-john.

Selain persiapan dingin-dinginan, kita juga perlu mempersiapkan pakaian yang merupakan kebutuhan dasar. Basic wear. Biasanya, daftarnya terdiri dari pakaian dalam, celana panjang, rok, kaos, kemeja, blus, lalalalala… Banyak yaa ternyataa! Saran kami, cobalah membawa masing-masing satu item jenis pakaian dasar dan melakukan mix and match dari item pakaian yang direncanakan untuk dibawa. Dengan begitu, Anda tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian. Percayalah, pasti nanti kita tergoda untuk membeli pakaian di UK. Jadi, bawa yang basic saja. Salah satu hal yang menjadi indikator utama dari pakaian yang dibawa adalah kenyamanan. Pilih pakaian Anda yang nyaman. Berapa jumlah pakaian yang harus dibawa? Tergantung. Bagi keluarga yang sudah pasti akan mencari akomodasi dengan mesin cuci in-house, 10 pasang pakaian sudah sangat cukup. Toh nanti, kita bisa mencuci kan?

Lalu, perintilan. Terkadang kita menganggap perintilan ini hal remeh, tetapi sebenarnya perintilan ini esensial. Pertama, sepatu! Pakailah (dan bawalah) sepatu yang nyaman digunakan berjalan jauh. Kebiasaan di UK adalah berjalan kaki kemana-mana. Selain karena biaya transportasi cukup mahal, pemandangan di sepanjang jalannya pun sayang untuk dilewatkan. Oleh karena itu, pilihlah alas kaki yang nyaman untuk dipakai berjalan. Pilih juga kaos kaki dengan bahan yang nyaman dan menyerap keringat. Perintilan lainnya mencakup jilbab (bagi yang berjilbab), bergo (bagi yang berjilbab, senjata ini cukup penting karena disini tidak ada yang jualan jilbab instan praktis dengan harga semurah di Indonesia), baju tidur, pakaian dalam (jumlahnya disesuaikan, sekali lagi jangan lupa bahwa kita bisa mencuci baju ya, disini!), tas, dan aksesoris. Silahkan tentukan sesuai dengan kebutuhan.

Berdasarkan pengalaman Izza, membawa kurang dari 10 pasang pakaian sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada saat berangkat, ia membawa 6 bawahan (rok dan celana) dan 6 atasan (kemeja, kaos, dan batik! Batik harus dibawa ya!) serta 3 cardigan. Selain itu, ia juga bersiap dengan jaket dan coat tipis. Karena ia pernah tinggal di UK sebelumnya, ia pun membawa jaket tebal musim dingin. Ini sebenarnya tidak esensial karena bisa membeli di UK nantinya, tetapi kalau bisa menghemat uang kenapa tidak? Bagi Anda yang belum memiliki  jaket musim dingin, kisaran harga jaket di Indonesia adalah IDR 800.000 – 1.500.000. Harga di UK bisa jadi lebih murah daripada harga di Indonesia. Oleh karena itu, tidak usah ngoyo membeli jaket musim dingin di Indonesia ya. Selain itu, Izza juga membawa jilbab sesuai kebutuhan, satu bergo, satu syal, pakaian dalam, dua tas (tas selempang dan handbag selain dari ransel yang dipakai), satu flat shoes (selain sepatu olah raga yang digunakan), dua atasan long john, dan dua set baju tidur (yang bawahannya berupa legging sehingga bisa digunakan sebagai bawahan long john juga. Berbekal pengalaman pernah tinggal di Jepang yang juga negara empat musim, Alif pun menyarankan untuk tidak lupa membawa atasan dan bawahan bernuansa netral seperti hitam, cream, jeans, yang nantinya bisa di padu padankan dengan warna lain. Karena memakai jilbab dan juga menyadari nanti akan sulit mencari jilbab di UK, maka Alif lebih senang untuk membawa khimar dengan banyak pilihan warna. Batik, celana training (yang bisa difungsikan juga untuk baju tidur), jaket tipis, dua set long john, mukena, sarung (untuk pria) dan sajadah pun tak ketinggalan masuk ke dalam koper. Satu buah sneaker, sepasang sendal, satu tas ransel dan satu slingbag cukup sebagai pelengkap. Itu bawaan basic nya ya, kalau masih banyak space di koper, anda bisa menambahkan outfit lain sesuai karakter dan kebutuhan anda. Selebihnya bisa dibeli di UK dengan pilihan yang lebih variatif.

Makanan

Berkebalikan dengan pakaian yang harus bawa yang penting-penting saja, kami menyarankan Anda untuk membawa peralatan perang untuk memasak. Bumbu-bumbu dasar dan rempah khas Indonesia mungkin perlu dipertimbangkan untuk dibawa. Bukan, bukan karena disini tidak ada yang menjual, tapi karena jarang ada di pasaran dan harganya yang lebih mahal. Biasanya, warga Indonesia yang pindah ke UK membawa bumbu instan (sesuai kebutuhan dan selera), terasi kemasan (sesuai kebutuhan dan selera, siapa tau ada yang tidak suka terasi), daun-daunan yang sudah dikeringkan atau dibekukan (daun salam, daun jeruk, daun pisang, daun pandan), gula jawa, asam, temu kunci, kecap manis (kecap favorit, karena di UK yang umum dijumpai adalah kecap ABC), sambal merek favorit keluarga, bumbu pecel, dan petis (bagi yang suka masakan jawa timuran). Lagi-lagi, semua disesuaikan dengan selera keluarga masing-masing ya. Untuk anda yang hobi memasak kue atau cake, bahan pengembang kue seperti SP atau TBM ovalet rasanya juga perlu untuk dibawa.

Selain bumbu-bumbu, siapkanlah perbekalan makanan instan untuk survive pada hari-hari pertama Anda tinggal di UK. Pengalaman banyak keluarga disini, beberapa hari pertama memang digunakan untuk beradaptasi, mengenal tempat-tempat belanja, dan membeli barang kebutuhan dapur. Oleh karena itu, bahan makanan praktis sangat dibutuhkan, seperti mie instan, rendang instan (atau yang sudah jadi), lauk kering (kering tempe, kering kentang,  serundeng, abon), dan nasi instan.

Beberapa keluarga juga membawa rice cooker dan alat rebus mie instan dari Indonesia. Manfaat utama dari kedua alat tersebut adalah untuk survive di masa awal. Suami Alif juga membawa rice cooker kecil pada saat kedatangan pertama ke UK. Menanak nasi dengan rice cooker dari Indonesia dirasa lebih praktis dibanding rice cooker yang ada di UK. Selain itu, membawa rice cooker kecil perlu dipertimbangkan, terutama bagi keluarga dengan jumlah anak lebih dari satu karena biasanya, pada saat travelling nanti, rice cooker ini bisa dibawa untuk mengamankan kebutuhan logistik, hehe. Tapi tenang saja, kalau tidak mau membawa barang-barang tersebut, di UK ada yang jual, kok!

Oh iya, bagi anda yang hobi minum teh dan kopi terlebih bagi yang fanatik dengan brand tertentu dari  Indonesia, sangat disarankan untuk dibawa. Menemukan teh dan kopi dengan citarasa seenak di Indonesia sangat sulit di UK, kalaupun ada pastilah harganya berlipat. Tetapi jika anda tidak sempat membawa, ada beberapa toko online yang menjual teh dari Indonesia tersebut.

Obat-obatan

Jika ditanya, tentu tidak ada yang memilih untuk sakit kan, apalagi di negeri orang begini.. Tetapi sebagai persiapan, membawa obat-obatan sangat disarankan ketika kita akan merantau ke luar negeri. Alasan utama karena biasanya kecocokan dengan obat tertentu, apalagi jika anggota keluarga ada yang memiliki jenis penyakit tertentu. Memang benar, di UK, untuk mendapatkan obat-obatan yang ‘klop’ dengan kita bukanlah hal yang mudah. Paracetamol, panadol, atau antibiotik mungkin cukup gampang dicari, tetapi sebut saja Minyak Kayu Putih, Minyak Telon (jika membawa balita), minyak tawon, dan segala macam minyak angin lainnya lebih baik dibawa dari Indonesia. Obat masuk angin dan obat diare seperti tolak angin, norit, diatabs juga perlu dibawa. Selain itu yang biasa minum madu dan propolis juga bisa menjadi pilihan. Oh iya, berhubung di UK kita akan lebih banyak berjalan-kaki, maka membawa cream pereda nyeri otot maupun koyo untuk menghilangkan pegal-pegal akan sangat membantu. Obat lain sesuai dengan penyakit yang sedang diderita anggota keluargapun sebaiknya dibawa kesini.

Toiletries

Hal kecil yang sering dianggap remeh temeh tetapi sebenarnya kita perlukan adalah toiletries. Peralatan mandi dan kosmetik dasar perlu kita masukkan dalam list barang bawaan kali ini. Basic toiletries seperti sabun mandi, sabun cuci muka, shampoo, sikat dan pasta gigi setidaknya kita siapkan untuk kebutuhan beberapa hari pertama, untuk berjaga-jaga jika kita tidak langsung sempat membelinya sesampainya di tanah rantau. Terlebih lagi jika membawa balita, seringkali kulitnya masih sensitif dan hanya cocok dengan brand produk bayi tertentu, maka hal ini juga perlu lebih diperhatikan. Jangan lupa untuk membawa serta handuk. Pilihlah toiletries dalam kemasan berukuran kecil saja, agar tidak terlalu menambah berat barang bawaan. Sebaiknya dibungkus dulu dengan plastik untuk berjaga-jaga jika bocor agar tidak mengotori isi koper yang lain. Apabila toiletries nya disengaja akan ditaruh di dalam koper atau tas kabin, jangan lupa untuk membawa toiletries yang masing-masing item nya maksimal 100 ml saja ya, dan botol-botolnya dimasukkan ke dalam plastik ziploc yang transparan, agar memudahkan saat pemeriksaan di bandara menjelang boarding.

Dokumen

Paspor dan Visa adalah dokumen utama yang wajib dibawa ketika bepergian ke luar negeri yaaa. Selebihnya, untuk berjaga-jaga sebaiknya dokumen-dokumen penting dari Indonesia dibawa ke UK dalam bentuk foto kopi. Misalnya Kartu keluarga dan akta nikah yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan sertifikat tes TB. Apabila diperlukan, ijasah pendidikan terakhir dapat disertakan, siapa tau selama tinggal di UK berkeinginan ikut kursus atau mencari pekerjaan yang mensyaratkan ijasah kita. Untuk pasangan yang melanjutkan studi, dokumen CAS juga penting untuk dibawa. Jangan lupa untuk membiasakan men-scan seluruh dokumen penting tersebut dan menyimpannya di hardisk atau di media penyimpanan seperti Google Drive, Dropbox, dsb. Sehingga kita merasa lebih nyaman karena dokumen digital tersebut dapat kita unduh dimanapun dan kapanpun kita memerlukannya.

Uang/ Keuangan

Karena akan tinggal dalam waktu yang cukup lama di luar negeri, tentu saja kita akan memerlukan rekening bank untuk memudahkan transaksi dan kelancaran keuangan. Untuk itu, sebaiknya bukalah rekening di bank lokal sesampainya di UK. Tidak disarankan untuk membuka rekening di Indonesia, karena nanti kita akan terbebani dengan biaya (fee) untuk tiap transaksi di UK. Selain itu, seringkali terjadi ketika akan mentransfer uang dari rekening di Indonesia, prosesnya kadang tertunda untuk beberapa waktu karena tidak langsung nge-link dengan bank yang ada di luar negeri.

Masing-masing pemberi beasiswa memiliki kebijakan dalam hal pencairan allowance bagi penerimanya, ada yang rutin setiap bulan, ada yang setiap 3 bulanan, dan bahkan ada yang dalam prakteknya tidak teratur atau mundur sangat lama dari yang diberitahukan sebelumnya. Untuk mengantisipasi hal semacam ini maka sebaiknya kita persiapkan uang cash sebagai persediaan selama beberapa minggu pertama di UK. Sebelum berangkat, pastikan untuk menukarkan rupiah (IDR) kita ke pound sterling (GBP), sehingga dapat segera digunakan sesampainya kita di sini, misalnya untuk membeli tiket bus atau kereta dari airport dan membeli kebutuhan primer pada saat settlement. Berapa jumlah uang cash yang harus dibawa pada saat berangkat? Tentu tergantung dengan kebutuhan. Namun, cukup aman apabila Anda membawa uang sekitar 500 GBP. Hanya 500? Hal ini kami sarankan untuk alasan keamanan karena membawa uang lebih dari jumlah tersebut cukup beresiko. Selain itu, Anda juga bisa mengambil uang di mesin ATM dengan menggunakan kartu ATM Indonesia Anda. Silahkan cek ke bank masing-masing mengenai hal ini. Biaya yang dikenakan saat pengambilan GBP dari rekening Indonesia biasanya sekitar Rp 25.000.

 

Komunikasi dengan Warga Indonesia  

Karena jumlah orang Indonesia yang melanjutkan studi ke UK cukup besar, maka tidak ada salahnya kita sebagai pendatang baru berinisiatif menghubungi pelajar Indonesia yang sudah berdomisili di UK dan biasanya juga sudah spesifik menurut kesamaan universitas yang dituju. Ya, menghubungi rekan pelajar atau warga Indonesia di UK jelas akan memberikan benefit lebih bagi yang baru akan berangkat. Berbagai informasi terkait tempat tinggal, persiapan keberangkatan dari hal yang umum sampai hal-hal kecil pun bisa diperoleh. Jika anda belum memiliki kenalan di UK, menghubungi kontak PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di UK pun dapat menjadi solusi, bahkan PPI ini memiliki komunitas nya sendiri di hampir semua kota besar di UK seperti PPI-MIB Birmingham, PPI Manchester, PPI Leeds, PPI Edinburgh, dsb. Anda dapat dengan mudah menemukan grupnya di FB maupun akun social media lainnya, dan meminta ijin untuk bergabung didalamnya, sehingga kemudian anda dapat melakukan komunikasi dengan mahasiswa maupun warga Indonesia yang telah lebih dahulu tinggal di UK. Selain efektif menambah informasi, cara tersebut juga menjadikan kita lebih pede dalam mempersiapkan keberangkatan.

 

Nah, setelah membaca cerita kami di atas, pastinya anda sudah tidak bingung lagi kan bagaimana mempersiapkan keberangkatan kita ke luar negeri..Jadi, silahkan mulai membuat daftar atau list barang yang akan dibawa, kemudian anda dapat menyortirnya sesuai prioritas kebutuhan dan space koper yang tersedia. Ingat ya, sekecil apapun space yang tersisa di koper anda begitu berharga, be smart dalam urusan per-packingan, dan usahakan menimbang berat koper anda sebelum check-in.
Next artikel, kami akan membahas serba-serbi mencari akomodasi selama tinggal di UK. Stay tuned ya..

Home Away from Home: Proses Aplikasi Visa bagi Dependant (2)

Setelah mempersiapkan berbagai persyaratan visa, tahap berikutnya adalah melakukan aplikasi visa. Berikut ini adalah penjelasan kami mengenai proses aplikasi visa.

 

Proses Aplikasi Visa

Bear yourself, kepeningan belum berakhir. Setelah mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pengajuan visa, langkah selanjutnya adalah melakukan pengajuan visa. Proses aplikasi visa sendiri dilakukan secara online (bagian pertama) dan dengan datang ke visa application center. UKVI sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan aplikan visa, tetapi menunjuk pihak VFS (http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/) sebagai third party. Saat ini, terdapat tiga visa application center di Indonesia, yaitu di Jakarta, Bali, dan Surabaya (http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/applicationcentre.html).

Bagi Anda yang tidak berdomisili di kota-kota tersebut, sayangnya Anda harus mengeluarkan dana lebih untuk menghadiri visa appointment di tempat-tempat yang telah ditentukan. Proses aplikasi visa dapat dibagi menjadi lima langkah yang akan dijelaskan satu per satu berikut ini.

 

  1. Mengisi formulir online

Langkah pertama dalam pengajuan visa adalah mengisi formulir online di https://www.visa4uk.fco.gov.uk/. Saat masuk ke website ini, kita diminta untuk melakukan registrasi terlebih dahulu. Satu registrasi dapat digunakan untuk mengajukan beberapa visa. Setelah registrasi, kita dapat mulai mengisi formulir visa. Pengisian formulir bisa dilakukan secara bertahap karena kita bisa menyimpan form yang telah diisi. Pastikan bahwa kita telah memiliki semua bentuk PDF atau JPEG dari dokumen-dokumen yang diperlukan, termasuk passport. Karena visa yang akan kita ajukan adalah dependant visa, maka kelengkapan dokumen visa pasangan (Tier 4 (General) Student) juga diperlukan.

  1. Membayar IHS

IHS adalah singkatan dari Immigration Health Surcharge (https://www.gov.uk/healthcare-immigration-application/overview). Bahasa lainnya, asuransi! Pemerintah UK memang memberikan fasilitas kesehatan gratis bagi warganya. Dulu, para imigran juga dapat menikmati fasilitas ini. Namun, meningkatnya jumlah imigran di UK membuat pemerintah UK mengenakan biaya IHS sebagai persyaratan visa. Pembayaran IHS ini dilakukan pada saat mengisi formulir online. Akan ada link yang mengarahkan kita ke website untuk membayar IHS. Mahal kah IHS? Jumlah pembayaran IHS bergantung kepada lama tinggal kita di UK. Jadi, apabila kita berencana untuk tinggal di UK selama 12 bulan, maka kita akan dikenakan biaya selama 12 bulan. Kemudian, jumlah biaya IHS akan dihitung secara pro-rata. Bagi aplikan Tier 4 (General) Student, jumlah yang harus dibayarkan untuk studi 12 bulan adalah £150. Biaya IHS dikenakan per orangan sehingga anak-anak pun harus membayar, ya. Sedikit tantangan yang akan dihadapi saat membayar IHS adalah kita harus membayar dengan menggunakan kartu kredit. Tidak semua orang memiliki kartu kredit, toh? Biasanya, teman-teman yang tidak mempunyai kartu kredit akhirnya harus meminjam dulu kartu kredit milik orang lain dan kemudian mengganti uang ke orang tersebut. Setelah membayar IHS, kita akan mendapatkan nomor referensi. Penting untuk diingat bahwa jangan sampai nomor referensi ini hilang ya, karena kita harus memasukkan nomor ini ke dalam formulir aplikasi visa. Selain itu, coba untuk screen capture halaman bukti pembayaran Anda sehingga ada dokumen bukti bahwa kita telah membayar IHS. Biasanya, kita juga akan mendapatkan email keterangan dari IHS yang harus di-print. Sebaiknya email dari IHS ini juga disertakan pada saat pengajuan visa, karena berdasarkan pengalaman, saat itu alif diminta menunjukkan email tersebut oleh petugas di VFS. Oh ya, apabila pengajuan visa ditolak, biaya IHS ini dapat di-refund.

  1. Membayar biaya visa

Tahap terakhir sebelum pengisian formulir visa selesai adalah pembayaran biaya visa. Lagi-lagi, pembayaran harus dilakukan dengan menggunakan kartu kredit. Pada saat ini, biaya visa bagi student dependant adalah USD 476 per orang (https://visa-fees.homeoffice.gov.uk/y/indonesia/usd/study/points-based-system-tier-4/student-applicant-and-dependants-see-student-visa-page-for-full-definition). Setelah biaya visa dibayar, barulah kita dapat menentukan jadwal visa appointment, yaitu saat kita harus datang ke visa application center untuk menyerahkan dokumen dan melakukan biometric information collection. Biaya visa ini tidak dapat di-refund apabila ternyata aplikasi visa kita ditolak.

  1. Menjadwalkan perjanjian visa

Karena sebagian besar program studi di UK dimulai pada bulan September, maka jadwal perjanjian visa di beberapa bulan sebelum September cukup padat. Oleh karena itu, kami menyarankan Anda untuk mendaftar lebih cepat. Kita dapat memilih tanggal dan jam untuk visa appointment kita. Tentunya, jadwal yang dipilih adalah preferensi pribadi dan menyesuaikan dengan jadwal yang dimiliki. Tetapi meskipun terkadang kita sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari, tetap saja pada akhirnya kita mengajukan visanya sudah mepet dengan jadwal keberangkatan. Nah kalau sudah seperti ini, yang bisa dilakukan adalah memilih jam appointment yang pagi banget agar meminimalisir antrian yang membludak. Selain itu dengan semakin awalnya kita datang, maka jika ada dokumen atau syarat yang masih kurang, kita bisa segera melengkapinya dan kembali ke counter di hari yang sama.

  1. Datang pada saat visa appointment

Langkah terakhir dari proses pengajuan aplikasi visa adalah datang ke visa application center pada jadwal yang telah direncanakan sebelumnya. Semua orang yang akan mengajukan aplikasi visa harus datang sendiri. Jadi, apabila Anda berencana membawa anak yang masih bayi, maka anak tersebut juga harus ikut pada saat visa appointment. Bahkan, meskipun anda menggunakan jasa agen untuk pembuatan visa, anda tetap harus ikut datang sendiri ke VFS lho.

Pada saat visa appointment, kita harus membawa bukti visa appointment yang berupa print-out email dari VFS atau UKVI. Email tersebut berisi nomor registrasi aplikasi visa, waktu perjanjian, dan nama kita. Selain itu, kita juga harus membawa berbagai dokumen persyaratan visa, yaitu formulir online yang telah di-print dan ditandatangani, bukti ketersediaan dana, dokumen pribadi (buku nikah, akta kelahiran, dan lain-lain), foto, dan passport. Seluruh dokumen yang diberikan harus merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris dan disertai dengan dokumen asli (berdoalah semoga semua dokumen kembali dengan lengkap). Ada baiknya dokumen asli dan copynya tersebut sudah disusun (di set) berurutan untuk memudahkan kita dan petugas pada saat verifikasi dokumen. Semua dokumen yang dibawa akan diserahkan kepada petugas VFS pada saat visa appointment. Menyerahkan semua dokumen tersebut seperti menyerahkan nyawa! (hihi, maaf ya sedikit lebay)..Super deg-degan karena dalam proses ini, kita tinggal berpasrah dan berdoa menunggu hasilnya setelah semua ikhtiar yang kita lakukan. Setelah menyerahkan dokumen, kita akan mendapatkan struk tanda terima yang juga berisi nomor barcode yang dapat digunakan untuk mengecek status aplikasi visa kita.

Selain menyerahkan dokumen, pihak UKVI yang diwakili oleh VFS juga akan mengambil biometric information collection kita pada saat visa appointment. Apa sih biometric information collection? Intinya adalah mengambil foto dan sidik jari kita. Keseluruhan proses visa appointment tidak memakan waktu yang lama. Tanpa antrian, seluruh proses bisa selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Namun, pada saat-saat tertentu, antrian bisa jadi cukup panjang sehingga proses ini memakan waktu yang lebih lama. Seperti yang sudah ditulis di atas, kuncinya sih kalau bisa dapatkan antrian di jam yang pagi.

 

Hasil Aplikasi Visa

Setelah proses aplikasi visa selesai, kita hanya bisa berdoa agar pengajuan visa kita diterima. Biasanya, kita akan mendapatkan hasil aplikasi visa dalam waktu sekitar 14 hari kerja, bisa lebih cepat atau lebih lama. Apabila dalam waktu 14 hari kerja hasil visa belum juga keluar, maka kita bisa menghubungi VFS untuk mengetahui status visa kita. Biasanya, hal ini terjadi karena masih ada dokumen tertentu yang belum lengkap atau karena antrian yang panjang. KIta akan menerima e-mail dari VFS yang akan mengabarkan apakah visa kita granted atau ditolak.

Ketika hasil aplikasi visa sudah tersedia (beserta dengan segala dokumen yang kita sertakan), kita bisa mengambilnya di visa application center atau memilih agar hasil aplikasi tersebut dikirimkan ke tempat tinggal (tentunya dengan biaya tambahan). Opsi tersebut bisa dibaca lebih lanjut di website VFS: http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/user_pay_services.html. Terdapat dua kemungkinan hasil aplikasi visa, yaitu granted atau not granted. Berbahagialah ketika Anda mendapatkan izin tinggal di UK. Berarti, langkah selanjutnya adalah memesan tiket dan mempersiapkan keberangkatan. Namun, apabila tidak mendapatkan izin tinggal, apa yang harus dilakukan?

Bisa jadi dokumen yang disertakan belum cukup untuk membuktikan bahwa kita bisa mendapatkan izin tinggal. Biasanya, poin yang menjadi perhatian adalah mengenai dana dan bukti relasi kita dengan pasangan. Pada saat aplikasi masih dalam proses UKVI, kita mungkin akan dihubungi oleh UKVI untuk memberikan informasi tambahan sehingga UKVI dapat memberikan izin tinggal. Namun, apabila UKVI sudah memutuskan untuk tidak memberikan izin tinggal bagi kita, kita masih dapat melakukan appeal. Proses appeal dapat menghabiskan waktu yang cukup lama. Intinya, pada proses ini, kita berusaha untuk membuktikan bahwa keputusan UKVI salah dan kita berhak mendapatkan izin tinggal. Apabila appeal diterima, maka kita akan mendapatkan visa UK sebagai dependant. Namun, apabila tidak diterima, maka kita harus mengulang proses aplikasi visa dari awal, dengan biaya visa yang tidak dapat di-refund.

Nah, selesai sudah penjelasan mengenai aplikasi visa UK bagi dependant. Semoga membantu anda semua dalam mempersiapkan diri mengajukan visa. Tunggu artikel kami berikutnya mengenai persiapan keberangkatan ke UK.

Home Away from Home: Proses Aplikasi Visa bagi Dependant (1)

Ketika memutuskan untuk menemani pasangan melanjutkan studi di Inggris, hal pertama yang menurut kami harus disiapkan (selain mental) adalah visa. Proses pengurusan visa memang memakan waktu yang cukup lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Ketika mencoba mencari tahu mengenai pengalaman orang-orang yang mengajukan aplikasi visa dependant, ternyata banyak juga yang mengalami hal tidak mengenakkan. Pengajuan visa, baik bagi dependant maupun bagi orang yang akan kuliah, memang agak tricky. Banyak orang yang bisa mendapatkan visa dengan lancar, tetapi ada juga yang tidak berhasil dan harus mengulang prosesnya dari awal jika tetap ingin berangkat. Tidak sedikit juga sih yang memilih menggunakan jasa dari agency untuk membantu apply visa, tapi kalau mau irit sih lebih baik kita urus sendiri ya.. (apalagi model-model seperti kami yang suaminya penerima beasiswa, hahaha). Sebenarnya pembuatan visa tidak se ‘angker’ yang di bayangkan, asal kita apply dengan benar dan sesuai aturan. Untuk meningkatkan kemungkinan permohonan visa kita diterima, persiapan adalah kuncinya.

 

Mempersiapkan Aplikasi Visa

Ketika orang-orang bertanya mengenai proses aplikasi visa, tentunya kami tidak bisa menjawab dengan ‘asal’. Mengapa? Karena ini berhubungan dengan hajat hidup orang lain dan regulasi dari UK Visa and Immigration (UKVI) yang cukup sering berubah-ubah. Mirip lah dengan Indonesia… hehehe… Oleh karena itu, seringkali kami harus merujuk ke dokumen mengenai visa dependant berupa PDF (link) dan website UKVI (https://www.gov.uk/government/organisations/uk-visas-and-immigration). Sebaiknya, penjelasan yang diberikan oleh UKVI dibaca terlebih dahulu dengan teliti sehingga proses aplikasi visa tergambar dengan lebih jelas.

Wah, ternyata banyak ya, jenis visa UK? Betul. Banyak sekali jenis visa untuk tinggal di UK. Namun, bagi kita yang akan menemani pasangan melanjutkan studi, maka peraturan yang akan diikuti adalah peraturan dibawah Tier 4 (General) Student Visa (https://www.gov.uk/tier-4-general-visa). Jadi, walaupun kita bukan orang yang akan belajar, kita tetap mengacu pada peraturan tersebut. Dapat dilihat bahwa salah satu poin yang dijelaskan mengenai Tier 4 (General) Student Visa adalah mengenai family members. Lalu, apa saja syarat yang harus dipersiapkan? Berikut ini adalah rangkuman dan sedikit pengalaman kami mengenai proses mempersiapkan aplikasi visa, yang juga merujuk pada dokumen regulasi yang ada.

Surat pernyataan bahwa pasangan adalah pelajar

Untuk dapat mengajukan aplikasi visa dependant, kita harus dapat membuktikan bahwa pasangan kita akan melanjutkan studi di UK dengan menunjukkan dokumen yang membuktikan bahwa dia terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah program di universitas yang durasi studinya lebih dari 6 bulan. Jadi, apabila pasangan hanya mengikuti short course yang kurang dari 6 bulan, kita tidak dapat mengajukan aplikasi visa dependant. Bagaimana cara mengetahui bahwa pasangan kita benar-benar telah terdaftar? Setiap universitas akan mengeluarkan surat bernama CAS (Confirmation of Acceptance for Studies), yang berisi nomor seri dan keterangan resmi mengenai studi yang akan dijalani oleh pasangan. Selain itu, kita juga sebaiknya meminta surat keterangan dari universitas bahwa pasangan diperbolehkan membawa keluarga selama masa studi. Biasanya, surat ini bisa diminta saat mengurus pendaftaran dari International Office. Surat keterangan dari universitas ini sifatnya tidak wajib, tetapi akan cukup membantu untuk meyakinkan pihak UKVI bahwa universitas memperbolehkan pasangan untuk membawa keluarga.

Kecukupan Dana

Salah satu hal yang cukup perlu dari jauh hari dipersiapkan adalah dana. Salah satu poin besar yang menentukan diterima atau tidaknya pengajuan visa kita adalah ketersediaan dana. Pemohon visa harus menunjukkan bahwa ia memiliki jumlah uang yang cukup untuk menunjang hidupnya selama berada di UK. Hal ini dapat dibuktikan melalui surat pernyataan dari bank yang berisi nomer rekening, nama pemegang rekening, dan jumlah uang yang ada di rekening. Biasanya, surat ini disebut bank statement letter. Banyak bank besar nasional yang sudah familiar untuk mengeluarkan surat tersebut sebagai persyaratan visa. Lebih bagus lagi, jika selain surat keterangan bank, pemohon visa juga bisa memberikan surat keterangan sponsor sebagai bukti cukupnya dana untuk hidup di UK. Beberapa pemberi beasiswa memang mengalokasikan sejumlah dana yang disebut family allowance. Surat-surat tersebut ditujukan kepada British Embassy sebagai syarat pengajuan visa. Nah, surat-surat tersebut harus bertanggal kurang dari 31 hari sebelum kita mengajukan aplikasi visa. Tanggal pengajuan visa sendiri adalah tanggal saat kita membayar visa fee secara online. Misalnya, saya berencana akan membayar visa fee pada tanggal 31 Maret. Maka, tanggal yang ada di surat yang membuktikan bahwa saya memiliki dana yang cukup untuk hidup di UK paling cepat adalah 1 Maret. Berarti, saya boleh membawa surat yang bertanggal 15 Maret pada saat pengajuan visa, tetapi tidak boleh membawa surat bertanggal 27 Februari.

Lalu, berapa banyak dana yang harus tersedia bagi dependant? Here’s the tricky part. Untuk menemani pasangan melanjutkan studi di UK, kita harus dapat menunjukkan bahwa kita memiliki dana sejumlah persyaratan dari UKVI yang mengendap di dalam tabungan selama 28 hari. Untuk amannya, mungkin dana bisa diendapkan selama 1.5 bulan untuk menghindari tidak dihitungnya hari libur atau akhir pekan. Jumlah dana yang harus tersimpan berbeda tergantung lokasi pasangan berkuliah nantinya. Jumlah dana telah ditetapkan oleh UKVI dan dihitung dengan mengalikan dana per bulan hingga 9 kali (asumsi tinggal selama 9 bulan). Untuk dependant yang akan ikut pasangan berkuliah di London, maka jumlah dana yang harus mengendap adalah £845/bulan/orang. Hitungannya, apabila Anda berdua saja dengan pasangan, maka jumlah uang hidup yang harus dimiliki untuk diri Anda sendiri (karena perhitungan dana bagi mahasiswa berbeda) adalah £845 x 9 = £7,605. Apabila pasangan akan berkuliah diluar kota London, maka dana yang harus mengendap adalah sejumlah £680/bulan/orang. Dengan asumsi satu orang dependant, maka total dana yang harus disiapkan adalah £680 x 9 = £6,120. Jumlah dana yang disiapkan tersebut tentu saja akan berlipat sesuai dengan jumlah dependant yang akan ikut berangkat.

Apakah harus menabung dalam mata uang poundsterling? Jawabannya adalah tidak harus. Kita bisa menunjukkan dana dalam mata uang rupiah, dengan nilai konversi yang telah ditentukan oleh UKVI. Berikut ini adalah currency converter yang dipergunakan oleh UKVI: https://www.oanda.com/currency/converter/. Silahkan masuk ke website tersebut dan mulai menghitung yaa..

Okay… sudah mulai pening? Bagaimana cara saya mendapatkan uang sebanyak itu? Banyak cara sebenarnya. Ada orang-orang yang memang sudah bersiap untuk pindah dan tinggal di UK dari jauh hari sehingga mereka bisa menabung. Ada juga orang-orang yang memang sudah memiliki dana sebanyak itu. Ada juga orang-orang yang harus menjual beberapa aset mereka untuk memenuhi persyaratan tersebut. Lalu, ada juga cara yang biasanya banyak orang terapkan, yaitu dengan meminjam uang dan menyimpannya sementara di rekening agar dapat menunjukkan bahwa dana yang dimiliki sudah cukup untuk hidup di UK. Percayalah, pada kenyataannya hidup di UK tidak semahal itu. Ketentuan jumlah dana memang dibuat sedemikian rupa oleh UKVI sehingga tidak sembarang orang bisa masuk dan tinggal di sana dan juga karena alasan pemerintah UK memang cenderung lebih konservatif dalam hal tersebut. Lalu bagaimana dengan pengalaman kami?

Kebetulan pada saat akan mengajukan visa dependant, suami Alif sudah satu tahun lebih dulu tinggal di UK (ceritanya nih suami mengambil program master dua tahun, lalu Alif menyusul di tahun kedua). Dalam kasus ini, sebaiknya kita menyertakan bank statement dari UK yang menunjukkan kecukupan aliran dana untuk biaya hidup penanggung (dalam hal ini suami) selama di UK. Nah, waktu itu bank statement yang didapat dari bank di UK hanya berupa print-out jumlah dan mutasi rekening saja, jadi bukan surat pernyataan resmi seperti di Indonesia. Selanjutnya, untuk bisa memenuhi jumlah dana yang disyaratkan, Alif juga memindahkan uang dari rekeningnya agar mengendap di rekening suami, sehingga lebih meyakinkan bahwa suami sebagai penanggung memiliki kecukupan dana untuk ‘mensponsori’ hidup pasangan atau keluarga yang akan dibawa. Oh iya, bank statement dari bank di Indonesia saat itu (Agustus 2015) bisa diperoleh dengan biaya sekitar Rp.100.000 – Rp.150.000 tergantung bank nya ya. 😀

Cerita Izza berbeda lagi. Izza memilih untuk meminjam dana sementara hanya untuk menunjukkan bahwa ia memiliki dana yang cukup untuk tinggal di UK. Dengan perhitungan jumlah dana yang dibutuhkan, ia meminjam uang dan mengendapkan uang tersebut di rekening suami selama 1.5 bulan, yang kemudian dikembalikan setelah visa didapatkan. Surat keterangan dari bank dipergunakan untuk membuktikan ketersediaan dana. Selain itu, pemberi beasiswa suami memang memberikan family allowance sehingga surat dari pemberi beasiswa juga meyakinkan bahwa Izza akan mendapatkan tunjangan living allowance sepanjang masa studi suami sebesar jumlah yang ditentukan oleh UKVI.

Wait, jadi uang mengendap harus ada di rekening pasangan yang akan berkuliah? Sebenarnya tidak ada ketentuan mengenai hal ini. Namun, berdasarkan hasil research pengalaman orang-orang yang mengajukan visa dependant, hal ini bisa berguna. Mengapa? Karena dengan begitu, kita benar-benar dianggap sebagai dependant yang bergantung pada pasangan yang mendapatkan visa utama. Nah, apabila memang surat keterangan bank mengenai pasangan yang diputuskan untuk dipergunakan untuk mengajukan visa, jangan lupa untuk membuat surat keterangan bahwa pasangan memperbolehkan kita untuk menggunakan dana tersebut untuk hidup kita selama di UK. Tanda tangan di atas materai! Then, you are ready to go.

Tes Tuberkulosis

Langkah persiapan pengajuan visa berikutnya yang cukup memakan waktu adalah melakukan tes TB (https://www.gov.uk/tb-test-visa). Ya, ini adalah persyaratan yang cukup baru bagi beberapa negara, termasuk Indonesia (sigh, sedihnya masih dianggap negara dunia ketiga yang dianggap sebagai endemik si TB ini). Tes TB ini harus dilakukan di tempat-tempat yang telah dirujuk oleh UKVI. Yang jelas, rumah sakit yang dianggap kredibel tidak banyak dan biayanya cukup besar. Silahkan cek di link ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut: https://www.gov.uk/government/publications/tuberculosis-test-for-a-uk-visa-clinics-in-indonesia/tuberculosis-testing-in-indonesia. Meskipun pasangan mungkin mendapatkan tunjangan untuk membayar tes ini apabila ia mendapatkan beasiswa, tidak ada beasiswa yang meng-cover biaya tes TB bagi keluarga. Oleh karena itu, siapkan juga dana yang cukup, ya.

Mengapa kami sebut tes TB memakan waktu yang lama? Pertama, karena kita harus mendaftar dulu di rumah sakit yang telah dirujuk. Karena jumlah rumah sakit tidak sebanding dengan jumlah orang yang tes TB, maka terkadang kita harus menunggu untuk mendapatkan jadwal yang tersedia. Biasanya, hasil tes TB akan keluar 2 hari setelah kita datang dan dites. Alhamdulillah kalau hasilnya baik dan bisa langsung mendapatkan sertifikat. Kalau tidak? Nggak jadi berangkat? Oh, no! Tenang… kalau ternyata ada indikasi bahwa terdapat bakteri TB, kita akan diminta untuk mengikuti treatment medis tertentu. Masalahnya, treatment tersebut memakan waktu hingga 6 bulan sebelum kita diperbolehkan untuk tes TB lagi.  It is a good time to start now untuk mencoba mengecek apakah ada bakteri TB di paru-paru kita. Karena TB bisa juga diderita secara pasif, tidak ada salahnya untuk melakukan tes TB (tidak usah di tempat yang menjadi rujukan UKVI) meskipun tidak ada gejala TB yang dialami.

Pengalaman yang Alif alami saat tes TB ini waktu itu sih langsung aja datang ke RS yang ditunjuk, jadi tidak pakai daftar terlebih dahulu. Asalkan datangnya pagi-pagi banget, tidak akan terlalu antri. Tapi biasanya kalau datangnya mepet-mepet di bulan yang banyak orang akan mengajukan visa UK, ya siap-siap aja antrinya agak panjang.

Jangan lupa untuk menyiapkan dokumen seperti paspor, pas foto (karena akan ditempel di sertifikatnya), dan uang cash untuk pembayaran tesnya. Sedangkan tips dari Izza, selama sebulan sebelum tes TB, ia dan suami secara konsisten minum susu (merk B**r Br**nd) dan vitamin agar paru-paru bersih (yaa… ikhtiar tidak ada salahnya, kan?).

Dokumen

Hal berikutnya yang harus disiapkan adalah dokumen. Bagian ini adalah bagian perintil-perintil, yang karena perintil jadi sering terlupakan. Semua dokumen yang akan digunakan untuk mengajukan visa harus menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu, kita juga harus menyiapkan waktu untuk menerjemahkan dokumen yang dibutuhkan di penerjemah tersumpah. Jangan menerjemahkan sendiri, ya… Hehehe… Biasanya, ada beberapa rekomendasi penerjemah tersumpah yang telah dipercaya oleh UKVI.

Harganya bervariasi tergantung jumlah lembar yang akan diterjemahkan dan berapa lama waktu pengerjaannya. Untuk wilayah Jakarta pusat bisa ke UI Salemba atau ke daerah Pramuka yang banyak gerai penerjemah tersumpah. Bagi wilayah lainnya, silahkan googling sendiri yaa…

Dokumen apa saja yang diperlukan? Bagi dependant, dokumen wajib yang menjadi persyaratan visa adalah surat nikah dan akta kelahiran. Apabila sudah memiliki anak, maka akta kelahiran anak dengan nama jelas orang tua juga dibutuhkan. Selain itu, kadang-kadang dokumen mengenai tempat tinggal juga dibutuhkan. Hal ini bisa ditunjukkan dengan KTP beralamat sama, kartu keluarga, atau rekening bersama. Bagi kami yang long distance marriage? Perbanyaklah dokumen tambahan yang mendukung bukti bahwa kami memang telah menikah dengan pasangan (di poin berikutnya, ya). Dokumen-dokumen lain, seperti ijazah, sertifikat TOEFL, dan KTP, juga bisa disertakan agar aplikasi visa kita terlihat meyakinkan. Intinya, dokumen apapun yang dianggap relevan bisa diberikan.

Bukti pendukung (tidak wajib)

Pengalaman beberapa orang yang pernah ditolak pengajuan visanya bisa membuat kita deg-degan. Biaya permohonan visa yang cukup menguras kantong adalah salah satu alasannya. Selain itu, males yaa harus ngurus visa dua kali. Sekali aja udah bikin kita pusing, masa iya harus mengulang? Kalo bisa jangan yaa. Berdasarkan cerita yang kami tau dari beberapa orang, visa biasanya ditolak karena faktor seperti ketidakcukupan dana dan kurang kuatnya bukti  bahwa kita memang pasangan resmi/keluarga inti dari pengaju visa utama (pasangan yang akan kuliah di UK). Bagaimana cara mengatasinya? Hal ini bisa diantisipasi dengan melakukan persiapan yang lebih matang. Nah kalau sudah menyertakan surat nikah dan kartu keluarga masa  sih masih tidak dipercaya juga? Whaaaat? Buku nikah tidak cukup? Well, agak tidak masuk akal ya, tapi ini terjadi lho… Hal ini cukup risky terutama bagi pasangan yang tidak tinggal bersama atau bagi pasangan yang baru menikah. Lalu, bagaimana menyiasatinya? Izza mengikuti sebuah tips yang ia dapatkan dari sebuah blog. Saran dari penulis blog tersebut adalah menyertakan bukti hari pernikahan. Jadilah pada saat mengajukan aplikasi visa, Izza menyertakan foto-foto pernikahan, undangan pernikahan, dan juga surat keterangan saksi yang ditandatangani oleh saksi diatas materai. Alif juga melakukan hal serupa karena sebelumnya sudah pernah long distance marriage, jadi menyertakan foto-foto pernikahan berikut foto piknik bareng pasangan adalah salah satu solusinya. Waaah,,,kok ribet banget yaa? Demii visa dan izin tinggal bareng keluarga, kasih laah.. Hehehhe…

Selain itu, memiliki bukti bahwa kita telah memiliki akomodasi saat nanti di UK atau setidaknya undangan dari warga yang sudah tinggal di UK juga dapat membantu kelancaran proses pengurusan visa ini. Biasanya, pihak UKVI ingin memastikan bahwa imigran yang datang tidak homeless. Oleh karena itu, telah memiliki kontrak akomodasi sebelum tiba di UK atau meminta warga yang telah menetap untuk memberikan undangan perlu dipertimbangkan.

Sebenarnya pada saat kami mengajukan visa, syarat ini tidak ada. Tetapi, ada informasi yang menyebutkan bahwa sekarang dependant harus memiliki bukti berkemampuan bahasa Inggris. Ada beberapa negara yang dikecualikan dari persyaratan ini, tetapi sayangnya Indonesia tidak masuk di dalamnya. Setelah mengecek kebenaran informasi ini, kami tidak menemukan adanya persyaratan tes bahasa Inggris untuk dependant dengan tipe visa Tier 4 (General) Student Dependant visa. Namun, tidak ada salahnya (kalau memang mau dan mampu) untuk juga menunjukkan dokumen ini. Untuk lebih jelasnya mengenai persyaratan ini bisa buka link berikut ya.

https://www.gov.uk/government/publications/guidance-on-applying-for-uk-visa-approved-english-language-tests

 

Bagaikan pepatah mengatakan, persiapkan senjatamu sebelum berperang. Jadi, intinya sebelum mengajukan visa, persiapkan dengan cermat semua persyaratan formal dan biayanya. Yang juga perlu di ingat, bahwa dalam proses pengajuan visanya, pemerintah UK ini sangat hobi merubah-ubah aturan. Jadi sering-sering intip aja website resminya dan baca dengan seksama, biar tidak terlalu jantungan kalau ada kebijakan yang berubah, hehe…

Bagian selanjutnya dari artikel ini adalah mengenai proses aplikasi visa. Stay tuned.

Home Away from Home: Introduction

Home is where your heart is. Bagi banyak orang, rumah tidak sekedar tempat berteduh dari hujan. Rumah bukan hanya sebuah bangunan. Bagi banyak orang, rumah adalah tempat yang memberikan kenyamanan, dimana orang-orang tersayang berkumpul bersama. Pun sama halnya bagi kami pasangan yang telah menikah, rumah menjadi tempat, bagi suami maupun istri, dan anak-anak berada, untuk beraktivitas bersama, saling bertukar pikiran atau sekedar saling bertatap muka dan bercengkrama.

Namun, hidup penuh dengan beragam pilihan dan banyak kesempatan. Bagi kami, salah satu pilihan dan kesempatan itu muncul ketika suami kami mendapat ‘rejeki’ untuk melanjutkan pendidikan di negara yang bagi kami ‘bukan rumah’. Tentu saja kesempatan tersebut bermakna positif bagi suami, baik dalam konteks pribadi maupun kepentingan bersama. Selanjutnya, setiap kesempatan pasti memiliki konsekuensinya masing-masing. Banyak keluarga atau pasangan dengan kasus yang sama dengan yang kami alami, yaitu dihadapkan pada dua pilihan, dengan ikhlas menjalani long distance marriage atau dengan berbagai pertimbangan memutuskan ikut pindah bersama suami, membangun kembali home away from home. ‘Rumah’, yang jauh dari ‘rumah’ kami sebenarnya.

Seperti apa sih tinggal di luar negeri itu? Bagaimana kita bisa menyesuaikan dengan lingkungan di sana dengan keterbatasan yang ada dan perbedaan gaya hidup di Indonesia? Enak banget yaa bisa tinggal dan jalan-jalan di luar negeri. Mungkin, pertanyaan dan ungkapan seperti itu kerap terlintas dalam pikiran saat akan memilih untuk ikut menemani pasangan sekolah di luar negeri. Apapun yang pada akhirnya diputuskan, kami harus menjalaninya sepaket dengan konsekuensi yang ada, plus tidak boleh ada penyesalan dibalik pengambilan keputusan tersebut. Kami yang sama-sama pernah mengalami long distance marriage, memang setidaknya sudah pernah terlatih bagaimana untuk belajar lebih dewasa dalam menjalaninya. Perjalanan pernikahan jarak jauh tentu tidak mudah, apalagi kalau sudah ada anak yang menjadi tanggung jawab. Jauh dari pasangan seringkali membuat perasaan tidak enak, kesepian, sulit berkomunikasi (ya, walaupun dengan teknologi saat ini lebih mudah, tapi siapa yang bisa mengubah perbedaan waktu yang menjadi kendala?), dan lain-lain. Sedih yaa, kemana-mana harus sendiri tanpa pasangan. Apalagi kalau harus mengurus anak (yang bisa jadi lebih dari satu) sendirian. Banyak faktor yang menjadi alasan seseorang memilih untuk menjalani long distance marriage. Karir, kenyamanan, dan keuangan adalah beberapa hal yang umum dijadikan alasan. Biasanya, alasan-alasan tersebut adalah keuntungan yang didapatkan saat menjalani long distance marriage. Meninggalkan karir bukan hal yang mudah, apalagi ketika karir sedang bagus-bagusnya atau ketika baru mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Siapa sih yang mau meninggalkan kenyamanan Indonesia yang abang-abang penjaja bubur ayam dan gorengan dari pagi buta sudah berjualan, tukang nasi goreng yang mangkal di depan rumah siap melayani saat kelaparan melanda di tengah malam? Ya, Indonesia dengan segala masalah dan kesemrawutannya tetap menjadi rumah bagi kami. ‘Dipaksa’ pergi dari zona nyaman itu memang tidak mudah. Bagi sebagian orang, tetap tinggal di Indonesia untuk merasakan kenyamanan dan kemudahan itu lebih menguntungkan dan tetap menjadi pilihan dibandingkan dengan menemani pasangan belajar ke negeri orang. Lalu ada lagi faktor keuangan yang tidak bisa dipungkiri merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan ini. Mau menemani pasangan kuliah di luar negeri? Ongkosnya darimana? Belum lagi memikirkan cicilan hutang yang tak kunjung selesai. Ketika masalah keuangan yang menjadi hambatan, sebagian orang akhirnya dipaksa untuk mengikhlaskan hati (ini agak kontras ya, dipaksa kok ikhlas..hehe) untuk menjalani long distance marriage.

Saat ini, kami berada di posisi ‘susah payah ikut pindah bersama suami’. Susah apanya? Kan enak bisa honeymoon lagi? Nah, ini adalah bayangan yang biasanya ada pada orang-orang yang baru akan ikut pasangan belajar ke luar negeri atau yang memang belum pernah mengalami long distance marriage. Kenyataannya? Well, ini dia beberapa konsekuensi saat memilih untuk menemani suami atau istri belajar ke luar negeri.

Pertama, harus meninggalkan pekerjaan (kalau sebelumnya bekerja). Bagi banyak orang, meninggalkan pekerjaan tetap berarti masuk ke ‘hutan’ yang nggak jelas juntrungannya. Apalagi di zaman yang semakin kompetitif ini, kenyataan bahwa nanti pulang ke Indonesia harus cari kerja lagi bisa jadi issue cukup menakutkan bagi banyak orang. Bye, bye financial security (walaupun ya, ini bukan satu-satunya tolak ukur financial security tapi bagi kami yang awam ini, tidak bekerja itu berarti tidak ada pemasukan). Kedua, meninggalkan semua kenyamanan Indonesia. Iya loh, walaupun banyak protes dimana-mana tentang macet, polusi, mahalnya harga kebutuhan pokok, meningkatnya kriminalitas, dan lain-lain, Indonesia itu tetap super nyaman. Bagaimana tidak, lelah macet-macetan? Panggil tukang pijat. Males masak? Beli di warteg sebelah yang selain harganya ramah di dompet, menunya pun sangat beragam, tidak akan bosan karena kalau sudah jenuh di warung depan bisa pindah ke warung yang sebelahnya lagi. Pilihan makanan dengan harga yang murmer, halal, dan cita rasa yang pas dengan lidah kita selalu ada di depan mata. Mau sholat pas waktunya jalan-jalan, masjid dan musholla bertebaran di mana-mana. Males nyetir? Hello.., transportasi publik di Indonesia itu murah banget dan sangat bervariasi. Disini, mana ada abang ojek yang mangkal di depan gang? Sibuk di kantor dan tidak sempat mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tinggal teriak ‘mbaaaak’ dan rumah langsung kinclong.  Intinya, hidup di Indonesia dipenuhi dengan fasilitas ‘kemewahan’ yang tiada tara, yang hampir pasti tidak akan ditemui disini. Ketiga, memangnya murah mau ikut suami ke luar negeri? Tentu saja tidak. Kami harus putar otak dulu untuk bisa memenuhi biaya visa, tiket pesawat, sewa rumah, dan lain-lain. Beruntung bagi orang-orang yang pasangannya bisa mendapatkan sponsor, baik yang menyertakan tunjangan keluarga maupun tidak. Setidaknya, beban finansial yang harus ditanggung tidak terlalu besar. Intinya, modal yang kami keluarkan memang tidak sedikit. Butuh menabung, berhemat, dan jual ini-itu hingga akhirnya kami bisa sampai disini bersama suami.

Home Away from Home. Melalui seri tulisan ini, kami tidak ingin menghakimi orang yang ikut atau tidak ikut menemani pasangan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Kami tidak juga ingin menakut-nakuti pasangan atau keluarga yang sudah menetapkan hati untuk bersama-sama membangun rumah baru mereka di negara tujuan. Kami hanya ingin berbagi cerita, bahwa manusia sejatinya memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, berimprovisasi untuk bertahan hidup, membangun ‘rumah’ yang jauh dari kampung halaman. Siapa sih, ‘kami’ ini? Perkenalkan, Izza (www.theadventureofizzao.com) dan Alif (www.theriatheria.blogspot.com). Kami adalah istri-istri yang akhirnya memilih untuk menemani suami berkuliah di Inggris, lebih tepatnya di kota Birmingham. Kami adalah istri-istri yang iseng mencari pekerjaan sambil ingin terus memberi manfaat bagi orang lain. Sampai pada akhirnya, kami melihat adanya kebutuhan akan informasi mengenai bagaimana keluarga-keluarga Indonesia survive hidup di tanah rantau ini.

Seri artikel Home Away from Home ini akan mencakup cerita-cerita pengalaman kami sendiri, pengalaman keluarga-keluarga lain, dan berbagai tips untuk keluarga yang mencari informasi mengenai kehidupan keluarga pelajar di Inggris. Kami akan membahas mengenai aplikasi visa, persiapan keberangkatan, akomodasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, pengaturan keuangan, kehidupan sehari-hari, interaksi dengan penduduk lokal, pelayanan kesehatan, pendidikan bagi anak, serta komunitas warga Indonesia yang ada di Inggris. Mudah-mudahan, berbagai informasi yang akan kami berikan melalui tulisan di seri Home Away from Home bisa menjadi panduan bagi keluarga maupun pasangan yang berencana menemani suami atau istri melanjutkan studi di Inggris.
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya minggu depan! Next on: UK Visa Application for Dependants.