Belajar Berumah Tangga dari Negeri Seberang

12196229_10153731241693679_1202522400558471331_n

First of all, pardon my language karena sudah lama sekali tidak menulis dalam bahasa Indonesia. Tulisan ini akan menggunakan bahasa yang lebih santai dan tidak formal, anggap saja seperti saya berbicara.

Anyway, sebenarnya hanya ingin sharing sih tenang rumah tangga. Walaupun saya adalah newbie di ranah ini, tapi boleh lah yaa sekedar curcol-curcol dan menyampaikan opini. Jadi, 3 bulan terakhir ini adalah periode terpanjang saya dan suami hidup bersama.

Walaupun sudah lebih dari 1 tahun menikah, kami awalnya hidup terpisah dan mengalami LDM – Long Distance Marriage. Well, setiap kondisi hidup memiliki ujiannya masing-masing, kan? We’ve succeeded going through that phase. Lalu kami harus berpindah ribuan kilometer jauhnya dari ‘rumah’ kami. A fresh start for us to build a new life. Disini, di tanah rantau di negeri orang ini, kami mulai benar-benar berumah tangga.

Beberapa tahun lalu, saya adalah pengamat. Saya tinggal di negara asing dan mengamati keluarga-keluarga Indonesia, yang boleh dibilang anti-mainstream. Kenapa? Karena kehidupan berumah tangga disini, walaupun dari sisi pengamat, memang berbeda dengan apa yang dianggap ‘normal’ di Indonesia. Yang jelas, hasil pengamatan saya saat itu membuat saya kagum. Di keluarga pelajar Indonesia, saya tidak melihat ada perilaku klise ‘ayah bekerja dan ibu memasak’. Yang ada, ‘ayah dan ibu bekerja dan keduanya juga memasak bersama’ dan karena salah satu atau salah dua dari ayah dan ibu adalah pelajar, maka mereka juga belajar. Sebagai contoh, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan saya menunjukkan bagaimana pasangan suami istri dapat bekerja sama dengan baik. Sang suami setiap hari ke kampus untuk belajar, meninggalkan istrinya yang harus mengantar anak dan kemudian bekerja paruh waktu. Siangnya, si istri yang sudah selesai bekerja harus menjemput anak. Apabila si istri bekerja lebih lama, maka suami harus menggantikan tugas menjemput anak. Lalu sorenya si istri – dan suami kalau sudah ada di rumah – memasak bersama sambil mengobrol. Kemudian mungkin malamnya mereka harus membersihkan rumah atau memasak pesanan makanan. Melihat kondisi ini, saya kagum karena kerja sama antara suami dan istri ini seperti well-oiled machine. Keduanya bekerja, keduanya berusaha tanpa mengesampingkan kewajiban dasar sebagai suami dan istri.

Dari hanya berperan sebagai pengamat, sekarang saya mengalaminya sendiri. Saya dan suami hidup berdua di negara yang jauh. Now, we call this place home. Karena kami baru berdua saja, semua memang lebih mudah, tidak se-hectic gambaran diatas. Tapi tetap saja hidup disini berbeda dengan di Indonesia. Tidak ada ‘mbak’ atau ‘bibi’ yang membantu, tidak ada juga warteg yang meringankan beban memasak. Semua harus dikerjakan sendiri. Disini, suami saya banyak menghabiskan waktu untuk belajar di kampus dan berorganisasi (iya, suami saya aktivis – nggak bisa diam maksudnyaa). Saya? Saya banyak berkegiatan dengan ibu-ibu warga Indonesia yang bermukim disini sambil melakukan usaha kecil-kecilan yang menghasilkan tambahan uang jajan. Kondisi ini membuat saya dan suami harus pintar-pintar membagi waktu dan pekerjaan sehingga hidup kami lancar. Kadang-kadang suami harus rela jajan diluar ketika saya terlambat bangun dan tidak sempat menyiapkan bekal. Kadang-kadang juga saya harus bangun hingga larut malam menunggu suami pulang dari rapat organisasinya. Untungnya, kami memahami posisi masing-masing dan menghargai pasangan kami sebagai individu. Saya tidak harus diam di rumah menunggu suami saya pulang karena kata suami saya ‘Kalau kamu dirumah terus dan nggak bersosialisasi, kamu nggak akan jadi diri kamu sendiri dan nggak akan jadi diri kamu yang aku suka’. Beberapa kali saya membantu suami saya belajar dan kemarin, saat banyak pekerjaan menumpuk, suami saya menyuapi saya saat bekerja. Mungkin kami memang belum di tahap well-oiled machine, but we’re getting there.

Seringkali saya berdiskusi dengan suami. Mungkin kalau tidak tinggal disini, kami tidak akan seperti ini ya? Mungkin saya tidak akan belajar macam-macam resep masakan. Mungkin suami saya tidak akan pernah bisa memasak. Mungkin kami tidak akan berlatih tentang kerja sama. Kondisi saat ini tentu jauh dibandingkan dengan keinginan kami sebelum menikah. Suami saya ingin istri yang tinggal di rumah dan mengurus anak-anak. Kerja dan kegiatan lain diperbolehkan asal hanya menghabiskan sedikit saja waktu di luar rumah. Suami saya akan bekerja, pergi pagi pulang malam. Kenyataannyaa? Jauh ya dari mimpi kami.

Tapi dengan begini kami belajar bahwa idealisme akan kalah dengan realita. How to cope with the reality is what important. Kami belajar bahwa intinya dalam berumah tangga kami harus bekerja sama dan saling mendukung. Masih ada beberapa bulan lagi untuk melatih kebiasaan baik tersebut dan semoga sampai di Indonesia nanti kami masih akan terus menerapkannya!

Dec 09, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s